BAB III KEDUDUKAN DAN PENGATURAN HUKUM D
A. Pemanfaatan Wilayah Udara dan Ruang Angkasa Nasional
1. Pengaturan Hukum Tentang Pemanfaatan Udara dan
dicapai dewasa ini telah membawa perubahan terhadap aktifitas manusia dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya ruang angkasa. Pemanfaatan sumber tenaga nuklir (nuclear power source - NPS) bagi kegiatan di ruang angkasa merupakan salah satu kemajuan yang telah membawa beberapa keuntungan. Betapa tidak, jika dibandingkan dengan sumber tenaga yang konvensional seperti sel surya dan baterai yang dipergunakan oleh objek ruang angkasa sebelumnya, maka keuntungan yang diperoleh bagi pemanfaatan NPS antara lain yaitu masa hidup (life time) dari objek ruang angkasa akan lebih lama, konstruksinya pun sangat ringkas serta dapat bekerja tanpa radiasi matahari.
Dengan kelebihan yang dimiliki tersebut, maka misi ruang angkasa akan nampak lebih menguntungkan dan jangkauan dari eksplorasi ke benda-benda langit seperti Jupiter, Saturnus dan Uranus akan lebih mudah. Hal inilah yang
telah memungkinkan pula bagi kedua space power yakni Amerika Serikat dan Rusia untuk makin giat melakukan eksplorasi di ruang angkasa.
Akan tetapi, patut untuk disadari bahwa di samping membawa keuntungan bagi kegiatan di ruang angkasa, maka pemanfaatan NPS tersebut secara langsung maupun tidak telah menimbulkan kecemasan bagi masyarakat bangsa-bangsa di permukaan bumi. Hal ini disebabkan pemanfaatan NPS bagi kegiatan ruang angkasa tersebut dapat menimbulkan bahaya radiasi terhadap manusia beserta wilayah huninya, yaitu terjadinya pencemaran terhadap bumi, udara dan di ruang angkasa.
Dalam kegiatan ruang angkasa, kecelakaan yang sering terjadi adalah masuknya kembali pesawat ruang angkasa ke atmosfir karena tidak dapat dikendalikan. Ada tiga kemungkinan kondisi yang dapat dialami pesawat ruang angkasa pada saat re-entry. Pertama, pesawat terbakar habis di atmosfir dan dapat menimbulkan kontaminasi radioaktif secara global seperti pada Satelit SN AP 9 A
Transit BN – 3 milik Amerika Serikat yang masuk kembali ke atmosfir pada tahun
1964 dan terbakar habis di lautan sebelah timur Afrika. Diakui bahwa selama re-
entry, bahan bakar nuklir yang terdapat pada satelit tersebut telah berpencaran dan
tersebar ke seluruh penjuru dunia walaupun dari penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dikatakan tidak menimbulkan bahaya apapun. Kedua, terbakarnya sebagian pesawat NPS dan berakibat jatuhnya bahan-bahan radioaktif ke bumi seperti kasus Satelit Cosmos 954 mengandung zat radioaktif yang cukup membahayakan manusia dan tersebar di daerah yang cukup luas. Kondisi ketiga
adalah kemungkinan jatuhnya pesawat NPS ke bumi dalam keadaan utuh dan dapat menjadi sumber radiasi ekstern.43
Pada umumnya delegasi yang turut serta di persidangan Sub Komite Hukum UNCOPUOS menyatakan pentingnya perumusan prinsip-prinsip hukum yang mengatur penggunaan NPS di ruang angkasa yang selanjutnya dituangkan ke dalam ketentuan Hukum Internasional. Disepakati pula bahwa yang dipakai
Melihat betapa seriusnya akibat yang dapat ditimbulkan dari pemanfaatan sumber tenaga nuklir tersebut maka permasalahan pemanfaatan NPS bagi kegiatan ruang angkasa dijadikan salah satu topik yang dibahas oleh Komite PBB tentang pemanfaatan ruang angkasa untuk maksud damai (United Nations Committee on
The Peaceful Uses of Outer Space, UNCOPUOS).
Masalah NPS mulai dibicarakan di UNCOPUOS pada tahun 1978 dalam Sidang ke-15 Sub Komite Ilmiah dan Teknik, tetapi baru pada Sidang ke-16 tahun 1979 masalah ini masuk ke dalam agenda sidang berdasarkan Resolusi Majelis Umum No. 26/16 paragraf 8. Sedangkan dalam Sub Komite Hukum masalah ini mulai dibahas pada Sidang ke-19 tahun 1980 berdasarkan Resolusi Majelis Umum No. 34/66. Masalah pokok yang dibahas dalam Sidang UNCOPUOS adalah bahwa ketentuan Hukum Internasional yang ada dipandang belum dapat menampung seluruh masalah hukum yang berkaitan dengan penggunaan NPS sehingga masih perlu diadakan amandemen atau suplemen terhadap perjanjian- perjanjian internasional yang ada atau bila perlu membentuk perjanjian internasional yang khusus mengatur masalah NPS.
sebagai dasar pembahasan adalah kertas kerja Kanada yang telah diterima dalam sidang.
Negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan juga negara-negara barat dan sosialis, terutama Amerika Serikat dan Rusia pada prinsipnya dapat menerima kertas kerja Kanada sebagai bahan dasar pembahasan untuk mencapai kesepakatan dalam membahas prinsip-prinsip yang berkenaan dengan penggunaan
NPS dalam kegiatan di ruang angkasa.
Pembahasan tentang prinsip-prinsip hukum penggunaan NPS dalam Sidang-sidang Sub Komite Hukum UNCOPUOS tidak mengalami kemulusan. Bahkan dalam Sidang ke-28 dari Sub Komite Hukum yang dilaksanakan di New York pada tanggal 20 Maret sampai 7 April 1989, malah menjadi masalah yang paling lama diperdebatkan.
Mengenai ketentuan hukum berkenaan dengan penggunaan NPS yang perlu dikemukakan adalah:44
1. Masalah notifikasi dan informasi
Bahwa dalam meluncurkan benda-benda yang menggunakan NPS ke ruang angkasa perlu adanya notifikasi atau informasi negara peluncur kepada Sekretaris Jenderal PBB, baik sebelum peluncuran maupun sesudah benda bertenaga nuklir tersebut memasuki atmosfir bumi. Informasi tersebut antara lain: jenis sumber tenaga yang digunakan, tipe dan sifat NPS, jumlah radioaktif yang dipakai, perkiraan masa hidup satelit, daerah lintasan, perkiraan mengenai daerah yang mungkin terkena jatuhan jika benda tersebut
44
jatuh kembali ke bumi, akhirnya mengenai data kerusakan dari benda angkasa tersebut juga perlu untuk diinformasikan.
Mengenai informasi ini bagi negara kolong yang diperkirakan bakal terkena akibat jatuhan benda bermuatan nuklir adalah sangat penting guna melakuka n persiapan upaya-upaya penanggulangan kelak.
2. Masalah pemberian bantuan
Jadi, dalam hal adanya informasi akan masuknya ke atmosfir bumi sebuah benda angkasa yang bermuatan nuklir, maka diperlukan suatu persiapan, baik persiapan itu dilakukan oleh negara peluncur maupun oleh negara-negara yang memiliki kemampuan dalam rangka penanggulangan guna memberikan bantuan terhadap negara yang diramalkan akan tertimpa pecahan benda angkasa yang bermuatan nuklir tersebut.
Juga setelah benda itu masuk atmosfir bumi, maka negara peluncur harus segera menawarkan suatu bantuan kepada negara yang terkena runtuhan benda angkasa bermuatan nuklir guna memberikan bantuan sesegera mungkin guna membersihkan lokasi dari akibat-akibat yang berbahaya.
3. Masalah tanggung jawab
Berdasarkan draft prinsip tanggung jawab berkenaan dengan pemanfaatan sumber daya nuklir di ruang angkasa sebagaimana tersebut di atas maka negara-negara peluncur benda-benda angkasa baik peluncuran itu dilakukan oleh suatu badan pemerintah maupun oleh kelompok bukan pemerintah, maka pihak yang meluncurkan tersebut bertanggungjawab secara internasional
terhadap segala sesuatu akibat yang ditimbulkan oleh benda-benda angkasa yang diluncurkannya.
Juga negara peluncur harus menjamin bahwa aktifitas nasional yang dilakukannya di ruang angkasa termasuk mengenai penggunaan NPS dan jaminan tersebut harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang tertuang di dalam ketentuan hukum mengenai penggunaan NPS serta sesuai dengan norma Huku m Internasional.
Jika benda-benda yang diluncurkan dengan bermuatan NPS tersebut telah mengakibatkan kerugian terhadap negara ketiga di permukaan bumi, maka negara peluncur wajib bertanggungjawab mengeluarkan ganti rugi akibat kerusakan pada benda-benda, lingkungan, kematian maupun kerusakan pada kesehatan yaitu berupa kompensasi.
2. Sistem Transportasi Ruang Angkasa dalam Hukum Udara dan Ruang