• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEDUDUKAN DAN PENGATURAN HUKUM D

B. Kedaulatan Indonesia Sebagai Negara Khatulistiwa dan

3. Perangkat Hukum Khusus Bagi Pemanfaatan GSO

Sejalan dengan perkembangan dari pemanfaatan orbit geostasioner tersebut, maka masyarakat dunia internasional merasakan tentang pentingnya ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur secara khusus pemanfaatan orbit geostasioner itu.

Ada beberapa perangkat hukum khusus yang mengatur mengenai hal itu, yakni: Space Treaty 1967, Konvensi ITU 1973, Liability Convention 1976,

Convention on Registration of Launched into Outer Space 1976 dan beberapa

hasil kesepakatan internasional yang lain.

Space Treaty 1967 mengatur mengenai kepemilikan dan pemanfaatan orbit

geostasioner adalah untuk kepentingan semua negara, dan harus ditujukan untuk tujuan-tujuan damai (exclusively for peaceful purposes), serta dengan tidak dapat

dimiliki oleh negara manapun dengan cara apapun juga tanpa adanya diskriminasi tertentu.

Konvensi ITU 1973 mengatakan bahwa orbit geostasioner adalah merupakan sumber daya alam terbatas (limited natural resources), dan setiap negara memperoleh bagian yang adil dan dapat menggunakannya secara wajar (equitable access) tanpa adanya perbedaan apapun juga. Dan pemanfaatan orbit geostasioner ini haruslah secara efisien dan ekonomis yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Dalam pemanfaatan orbit geostasioner selain daripada manfaat yang diperoleh juga terdapat akibat-akibat negatif yang menyertainya. Ada dua perjanjian internasional yang memuat ketentuan-ketentuan dasar mengenai tanggung jawab yang diakibatkan oleh pemanfaatan orbit geostasioner, yaitu:53 1. Space Treaty 1967, di dalam Pasal VI dan VII, yang menetapkan bahwa

negara peluncur dan negara sponsor bertanggungjawab terhadap kegiatan- kegiatan di angkasa yang dilakukannya dan terhadap setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan tersebut.

2. Liability Convention 1972, yang berisikan tentang:

a. Penetapan ruang lingkup keadaan dimana bermacam standar pembuktian kerugian dapat diberlakukan;

b. Penentuan prinsip tanggung jawab;

c. Identifikasi pihak-pihak yang memikul tanggung jawab; d. Menetapkan pihak-pihak yang dapat mengajukan tuntutan;

53

Diederiks Verschoor, Persamaan dan Perbedaan Antara Hukum Udara dan Hukum

e. Menetapkan suatu prosedur penuntutan ganti rugi; f. Memuat prosedur-prosedur penyelesaian; dan

g. Penunjukan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam hal terjadi kerugian.

Meskipun Liability Convention 1972 masih memiliki kekurangan, namun telah diratifikasi oleh kurang lebih 62 negara (Indonesia dalam Keppres Nomor 20 Tahun 1996) termasuk Amerika Serikat dan Uni Soviet dulunya. Kekurangan dari

Liability Convention 1972 ini karena tidak memuat suatu petunjuk mengenai

bagaimana cara-cara agar keputusan atas sengketa harus dilaksanakan, dan tidak adanya ketentuan dalam konvensi ini yang mengharuskan untuk menaati keputusan atas sengketa-sengketa yang dihasilkan dalam putusan dan mengikat.

Seluruh aktifitas yang dilakukan oleh negara-negara dalam usaha pemanfaatan orbit geostasioner haruslah diketahui dan didaftarkan pada PBB melalui badan khususnya mengenai ruang angkasa yaitu UNCOPUOS. Pendaftaran ini berdasarkan ketentuan yang ada dalam Convention on

Registration of Objects Launched into Outer Space 1976, yang secara garis besar

isinya adalah:

1. Ketentuan tentang pendaftaran nasional (national registration) oleh negara peluncur objek ruang angkasa.

2. Ketentuan yang mengatur bahwa pihak pendaftar sentral (central registry) yang dilakukan oleh Sekretaris Jenderal PBB semata, bukan pada badan yang lain.

3. Ketentuan yang mengatur tambahan tata cara bagi negara peserta konvensi untuk mengidentifikasi objek ruang angkasa.

Isi dari konvensi mengenai pendaftaran objek ruang angkasa yang telah dan yang akan diluncurkan ini menjadi penting, karena dengan pendaftaran itu dapat diketahui segala informasi menyangkut objek-objek ruang angkasa yang telah didaftarkan. Masalah tanggung jawab (liability) juga sangat erat berhubungan dengan pendaftaran objek ruang angkasa ini, sebab dengan adanya informasi yang lengkap mengenai setiap objek ruang angkasa yang telah didaftarkan, maka dapat diketahui secara pasti kepada pihak mana pertanggungjawaban dapat dimintakan oleh pihak yang merasa dirugikan disebabkan kerusakan, pencemaran ataupun kerugian yang ditimbulkan oleh objek ruang angkasa yang telah terdaftar tersebut. Dan Indonesia sebagai salah satu negara anggota PBB telah meratifikasi Convention on Registration of Objects

Launched into Outer Space 1976 ini dalam Keppres Nomor 5 Tahun 1997.

Selain daripada beberapa perjanjian internasional yang secara khusus mengatur mengenai pemanfaatan orbit geostasioner, ada pula beberapa kesepakatan internasional melalui pembicaraan dalam forum internasional maupun PBB yang berkaitan dengan hal ini. Di dalam pertemuan di Quito (Ekuador) tahun 1982, negara-negara khatulistiwa memformulasikan suatu sikap bersama guna memperjuangkan kepentingan mereka atas orbit geostasioner. Perbedaan pandangan mengenai taktik perjuangan mewarnai jalannya pertemuan. Di satu pihak, Kolombia mendesak agar pertemuan dapat menghasilkan suatu resolusi yang menggambarkan sikap negara-negara khatulistiwa, namun

pertemuan Quito ini tidak berhasil membuat sebuah deklarasi. Namun yang dihasilkan hanyalah final minutes yang terdiri dari enam prinsip, antara lain menyatakan bahwa tuntutan negara-negara khatulistiwa terhadap orbit geostasioner merupakan tuntutan “hak-hak kelangsungan hidup” (rights of self

preservation) khususnya bagi negara-negara khatulistiwa dan negara-negara

berkembang pada umumnya. Hak-hak tadi harus dilaksanakan melalui penerapan prinsip hukum “sui generis” bagi orbit geostasioner. Dan ditekankan pula pentingnya kerjasama di antara sesama negara khatulistiwa maupun dengan negara-negara lainnya, baik secara global maupun regional, secara langsung atau melalui organisasi internasional yang berwenang megatur pemanfaatan orbit geostasioner secara rasional dan efisien.

Konferensi PBB tahun 1982 yang kedua mengenai pemanfaatan ruang angkasa untuk maksud-maksud damai (atau dikenal dengan Unispace 82) yang diselenggarakan di Wina juga secara khusus mempertimbangkan implikasi pemanfaatan orbit geostasioner, kebutuhan dan kemungkinan mengoptimalkan penggunaannya dan menetapkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kesempatan itu negara-negara khatulistiwa kembali mengusulkan pembentukan rezim hukum “sui generis” bagi orbit geostasioner di bawah pengaturan PBB atau ITU serta diberikannya hak-hak berdaulat (sovereignity rights) atas orbit geostasioner bagi negara-negara khatulistiwa. Dan usulan tersebut mendapat perhatian yang besar dari PBB sehingga kepentingan negara-negara berkembang dan khususnya negara-negara

khatulistiwa dapat dituangkan dalam satu deklarasi tentang GSO oleh negara- negara yang tergabung dalam kelompok 77 pada Sidang Unispace kedua.

Kelanjutan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pertemuan Unispace kedua tahun 1982, masalah delimitasi ruang angkasa yang dikaitkan dengan masalah orbit geostasioner kembali hangat dibicarakan dalam Sidang ke-22 Sub Komite Hukum UNCOPUOS pada tahun 1983. Saat itu berkembang pembicaraan mengenai hasil usul pembentukan suatu kelompok kerja GSO, namun negara- negara besar menganggap kelompok kerja tersebut sebaiknya dibentuk setelah masalah teknisnya selesai, yakni mengenai Apriori Planning (perencanaan yang memungkinkan adanya kesempatan yang sama bagi semua negara) dalam pemanfaatan orbit geostasioner.

Pada pertemuan Sub Komite UNCOPUOS tahun 1984, kertas kerja yang diajukan oleh negara-negara khatulistiwa berhasil dimasukkan ke dalam agenda pertemuan. Di dalamnya terkandung prinsip-prinsip yang antara lain mengenai rezim hukum “sui generis” bagi orbit geostasioner, juga mengenai hak-hak negara khatulistiwa serta kemungkinan diberikannya hak-hak preferensial (preferential

rights) bagi negara-negara khatulistiwa. Pendekatan yang digunakan oleh negara-

negara khatulistiwa untuk mencapai tujuannya itu yakni dengan tidak lagi mendasarkan tinjauan fisik terhadap orbit geostasioner argumentasi tuntutan, tetapi lebih menekankan pentingnya pengaturan orbit geostasioner melalui rezim hukum “sui generis” mengingat sifat kekhususan yang ada padanya.

Analogi terhadap rezim hukum Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dalam Hukum Laut juga dicoba dilakukan sebagai bahan perbandingan dalam tuntutan

bagi pelembagaan suatu rezim hukum “sui generis” bagi orbit geostasioner itu. Dan negara-negara Kelompok 77 menanggapi secara positif usul yang diajukan oleh negara-negara khatulistiwa, karena dianggap cukup mendukung bagi adanya kesempatan yang sama (equitable access) pada pemanfaatan orbit geostasioner. Sebaliknya beberapa negara maju yang sejak semula menentang tuntutan negara- negara khatulistiwa serta pengaturan khusus atas orbit geostasioner, beranggapan bahwa dengan adanya Apriori Planning dalam pemanfaatan orbit geostasioner akan dapat diakomodasikan, karena Apriori Planning sendiri merupakan perencanaan yang memungkinkan setiap negara memperoleh kesempatan untuk menempatkan satelitnya di orbit geostasioner.

Sementara itu, dalam pembahasan Sub Komite Hukum UNCOPUOS pada tahun 1985, kertas kerja yang diajukan oleh negara-negara khatulistiwa telah dimasukkan ke dalam agenda pertemuan. Demikian pula kelompok kerja mulai membahas prinsip-prinsip hukum (umum) yang mengatur orbit geostasioner secara paragraf demi paragraf.

Selama berlangsungnya Sidang ke-26 Sub Komite Hukum UNCOPUOS tahun 1987, telah diadakan pertemuan konsultasi antara negara-negara khatulistiwa yang dihadiri oleh Ekuador, Kolombia, Kenya dan Indonesia. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membicarakan langkah-langkah bersama guna menghadapi pembahasan masalah orbit geostasioner pada Sub Komite Hukum maupun pada kelompok kerja. Kemudian diajukan rumusan penjabaran

preferential rights yang mencerminkan posisi maksimal dan minimal negara-

Di dalam Sidang Sub Komite Hukum, negara-negara maju memandang tidak perlu adanya rezim hukum khusus (specific legal regime) karena tidak sesuai dengan ketentuan Space Treaty 1967, dan sebagian negara maju yang lain mempertanyakan dasar tuntutan preferential rights yang diajukan oleh negara- negara khatulistiwa mengingat bahwa orbit geostasioner tidak tunduk pada pemilikan secara nasional (national apropriation). Pendekatan yang berlangsung pada Sub Komite Hukum itu sendiri lebih menitikberatkan hal-hal yang bersifat filosofis. Sedangkan pada kelompok kerja telah melanjutkan pembahasan dengan meningkat pada prinsip-prinsip tertentu atas kerta kerja Republik Federasi Jerman maupun terhadap kertas kerja negara-negara khatulistiwa, disebabkan oleh adanya beberapa unsur bersama (common elements) maka diperoleh kesepakatan antara lain:

1. Pengakuan bahwa orbit geostasioner merupakan sumber daya alam yang terbatas karenanya di dalam pemanfaatan orbit geostasioner haruslah rasional dan bertumpu pada kepentingan semua negara, termasuk negara-negara berkembang dan negara-negara dengan keadaan geografi yang khusus.

2. Pemanfaatan orbit geostasioner harus berguna bagi pembangunan semua bangsa terutama negara-negara berkembang.

3. Perlu adanya penetapan suatu rezim bagi orbit geostasioner yang bertumpu pada sifat fisiknya yang khas.

4. Menekankan bahwa orbit geostasioner harus dimanfaatkan untuk maksud- maksud damai bagi tujuan kemanusiaan melalui peningkatan kerjasama dan saling pengertian secara internasional.