Dokter atau tenaga medis lainnya dalam melakukan tindakan kedokteran wajib memberi informasi kepada pasien mengenai kondisi yang sebenar-benarnya dari pasien dan tindakan apa yang akan dilakukan untuk menyembuhkan pasien dan/atau menyelamatkan hidup pasien beserta dengan resiko-resiko yang dapat timbul akibat dari tindakan kedokteran yang dilakukan. Pemberian informasi oleh dokter atau tenaga medis lainnya kepada pasien atau keluarganya bertujuan untuk meminta persetujuan pasien atau keluarganya sebelum dilakukan tindakan kedokteran terhadap diri pasien.
Meski demikian, dalam hal kegawatdaruratan di atur secara khusus mengenai persetujuan tindakan kedokteran (informed consent). Dalam dunia medis, gawat darurat merupakan suatu keadaan di mana pasien membutuhkan pertolongan segera untuk menyelamatkan nyawanya. Karena sifatnya yang segera atau mendesak (darurat) maka persetujuan tindakan kedokteran tidak diperlukan.
Namun, setelah dilakukan tindakan kedokteran, dokter atau tenaga medis lainnya tetap wajib memberi informasi kepada pasien atau keluarganya mengenai tindakan yang telah dilakukan terhadap pasien. Hal ini sesuai dengan aturan tentang persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan darurat, yang termuat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya di Negara Indonesia.
Berikut peraturan perundang-undangan yang terkait dengan persetujuan tindakan kedokteran pada keadaan darurat :
63
a. UU Praktik Kedokteran Pasal 51 huruf d yang menyatakan bahwa dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban untuk melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya;
b. Penjelasan UU Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (1) yang menyatakan bahwa dalam keadaan gawat darurat untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan. Namun setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan.
c. UU Tenaga Kesehatan Pasal 59 ayat (1) yang menyatakan bahwa tenaga kesehatan yang menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan pertolongan pertama kepada penerima pelayanan kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan/atau pada bencana untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan;
d. UU Rumah Sakit Pasal 29 ayat (1) huruf c yang menyatakan bahwa rumah sakit mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
e. PERMENKES Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 4 yang menyatakan bahwa dalam keadaan darurat, untuk menyelamatkan
64
jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan terhadap tindakan kedokteran;
f. PERMENKES Pelayanan Kegawatdaruratan Pasal 1 angka 1 yang menyatakan bahwa pelayanan kegawatdaruratan adalah tindakan medis yang dibutuhkan oleh pasien gawat darurat dalam waktu segera untuk menyelamatkan nyawa dan pencegahan kecacatan.
Pasal 3 juga telah mengatur kriteria pelayanan kegawatdaruratan yakni yang meliputi: mengancam nyawa, membahayakan diri dan orang lain/lingkungan; adanya gangguan pada jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi; adanya penurunan kesadaran; adanya gangguan hemodinamik; dan/atau memerlukan tindakan segera.
Pelaksanaan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) dipengaruhi oleh keadaan pasien, apakah pasien dalam keadaan darurat atau non darurat. Pasien dalam keadaan darurat membutuhkan pertolongan segera untuk menyelamatkan nyawanya dan mencegah kecacatan. Oleh sebab itu, persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) dapat dikesampingkan. Hal ini sesuai dengan peraturan PERMENKES Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 4 dan Penjelasan Pasal 45 ayat (1) UU Praktik Kedokteran yang menyatakan bahwa dalam keadaan darurat untuk menyelamat nyawa dan mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. Namun, setelah pasien sadar atau sudah dalam kondisi baik maka dokter atau tenaga medis lainnya wajib memberi penjelasan mengenai tindakan kedokteran yang telah diberikan kepada pasien serta membuat persetujuan.
65
Pada kasus yang menimpa korban Siska Makatey, dapat diketahui bahwa korban Siska Makatey merupakan pasien dalam keadaan darurat. Korban Siska Makatey tiba di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou Malalayang Kota Manado dengan keadaan pecah ketuban sehingga Ia membutuhkan pertolongan segera untuk menyelamatkan nyawanya dan bayinya serta mencegah kecacatan.
Keadaan korban tersebut dapat mengesampingkan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent). Oleh karenanya, para dokter (para Terdakwa) tidak perlu meminta persetujuan atas tindakan kedokteran yang akan diberikan kepada korban. Ahli yang dihadirkan dalam persidangan juga berpendapat bahwa operasi Cito Secsio Sesaria merupakan operasi darurat yang sifatnya segera untuk dilaksanakan, sehingga untuk pelaksanaannya tidak membutuhkan persetujuan dari pasien atau keluarganya.
Meskipun demikian, dalam pembuktian di persidangan terdapat bukti bahwa sebelum dilaksanakan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap diri korban, para terdakwa telah meminta persetujuan tindakan khusus pembedahan dan anastesi kepada korban. Bukti tersebut berupa adanya tanda tangan korban pada surat persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) yang diserahkan oleh Terdakwa Dr. Hendy Siagian (Terdakwa III) kepada korban serta keterangan dari saksi Yulin Mahengkeng (Ibu korban) bahwa sebelum dilaksanakannya operasi, saksi telah menandatangani surat persetujuan. Hal tersebut membuktikan bahwa para Terdakwa tetap meminta persetujuan pasien dan/atau keluarganya untuk melaksanakan tindakan operasi Cito Secsio Sesaria, walaupun sebenarnya persetujuan tersebut dapat dikesampingkan.
66
Dalam pertimbangan putusan, terkait dakwaan mengenai keberadaan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) atas tindakan kedokteran yang diberikan kepada korban Siska Makatey. Maka sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku mengenai persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) dalam hal kegawatdaruratan serta keterangan saksi dan ahli,
Majelis Hakim berpendapat bahwa para terdakwa dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang dokter atau tenaga medis lainnya tidak melakukan suatu kelalaian seperti yang didakwakan.
Berdasarkan fakta dalam persidangan dan pertimbangan Majelis Hakim atas putusan kasus yang menimpa korban Siska Makatey tersebut, penulis berpendapat bahwa peraturan-peraturan mengenai persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) khususnya pada keadaan darurat sudah ada dan mengatur secara jelas, bersifat tegas, serta mengikat dalam pelaksanaannya. Para dokter dan/atau tenaga medis lainnya ataupun pasien dan/atau keluarganya wajib mematuhi peraturan tersebut. Karena dengan adanya peraturan mengenai persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan darurat, maka hak-hak dokter atau tenaga medis lainnya dan pasien dapat terlindungi.
Khususnya, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti : kecacatan atau kematian yang dialami pasien sebagai akibat dari tindakan kedokteran yang diterimanya.
67
3.2.2. Putusan Hakim Terkait Peraturan Informed Consent pada Keadaan