Kesesuaian putusan pengadilan dengan peraturan persetujuan tindakan kedokteran pada keadaan darurat dapat dibuktikan melalui putusan-putusan pengadilan yang penulis ambil sebagai bahan analisa dalam tulisan ini. Putusan-putusan tersebut yakni Putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/Pid.B/2011/PN.MDO; Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor 365K/Pid/2012; Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor 79PK/Pid.2013. Putusan-putusan tersebut merupakan putusan dari suatu kasus yang terjadi di salah satu rumah sakit yang berada di Kota Manado. Di mana seorang pasien yang bernama Siska Makatey meninggal dunia setelah menjalani operasi Cito Secsio Sesaria. Operasi Cito Secsio Sesaria merupakan operasi darurat yang bersifat segera untuk dilaksanakan.
Pembuktian mengenai kesesuaian putusan-putusan pengadilan terhadap peraturan persetujuan tindakan kedokteran pada keadaan darurat dapat dilihat dari pertimbangan-pertimbangan hakim sebelum memutus perkara. Berikut pertimbangan-pertimbangan hakim yang berasal dari keterangan para saksi dan ahli, terkait dengan persetujuan tindakan kedokteran dalam hal kegawatdaruratan : 1. Putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/PID.B/2011/PN.MDO
Sebelum menjatuhkan putusan, Majelis Hakim telah menyampaikan berbagai pertimbangan. Ada pun pertimbangan Majelis Hakim yang berkaitan dengan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan darurat dalam perkara pidana tersebut, yakni mengenai penjelasan terkait persetujuan
68
dilaksanakannya operasi. Hal tersebut dapat dilihat dalam ketentuan Undang-Undang Praktik Kedokteran Pasal 45 yang pada pokoknya mengatur bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan dari pasien atau keluarganya, setelah pasien mendapat penjelasan mengenai kondisi kesehatannya secara lengkap.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut menurut Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum tidak dapat membuktikan kebenaran dalil dakwaannya tentang hal para Terdakwa tidak pernah menyampaikan kepada pihak keluarga tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk termasuk kematian yang dapat terjadi jika operasi Cito Secsio Sesaria dilakukan terhadap diri korban. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan para Terdakwa bahwa dr.Hendy Siagian (Terdakwa III) telah menyerahkan surat persetujuan tindakan khusus dan persetujuan pembedahan dan anestesi kepada korban Siska Makatey untuk ditandatangani oleh korban yang disaksikan oleh dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani dari jarak kurang lebih 7 (tujuh) meter, dr. Hendry Simanjuntak, dan saksi dr. Helmi.
Selain itu, terdapat juga bukti bahwa korban (Siska Makatey) telah dimintai persetujuan tindakan kedokteran yakni dengan adanya tanda tangan korban dalam surat persetujuan tindakan khusus dan persetujuan pembedahan dan anestesi yang diserahkan oleh dr. Hendy Siagian. Yang mana tanda tangan korban tersebut menimbulkan masalah tersendiri karena berbeda dengan tanda tangan korban yang berada di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Askes.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik pada tanggal 9 Juni
69
2010 Nomor Lab. : 509/DTF/2011, Labolatorium Kriminalistik menyatakan bahwa tanda tangan atas nama Siska Makatey alias Julia Fransiska Makatey pada dokumen bukti adalah tanda tangan karangan atau “Spurious Signature“.
Selanjutnya, Majelis Hakim mempertimbangkan apakah para Terdakwa sebagai dokter yang melaksanakan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap diri korban telah melakukan suatu kelalaian yakni dengan tidak melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan jantung, foto rontgen dada, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dalam hal ini, pertimbangan Majelis Hakim didasarkan pada beberapa keterangan saksi atau ahli yang pada pokoknya menyatakan bahwa operasi Cito Secsio Sesaria merupakan operasi yang pelaksanaannya bersifat segera (darurat) sehingga tidak memerlukan pemeriksaan pendukung, tetapi untuk pemeriksaan darah harus tetap dilakukan. Pada operasi darurat juga tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
Keterangan para saksi atau ahli tersebut sesuai dengan PERMENKES Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 4 yang menyatakan bahwa dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. Sehingga menurut Majelis Hakim, para Terdakwa sebagai dokter yang bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap diri korban tidak melakukan suatu kelalaian.
2. Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 365K/Pid/2012
Sebelum menjatuhkan putusan, Majelis Hakim telah menyampaikan berbagai pertimbangan. Ada pun salah satu pertimbangan Majelis Hakim yang
70
berkaitan dengan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan darurat dalam perkara pidana tersebut yakni suatu pendapat dari Majelis Hakim sendiri. Majelis Hakim berpendapat bahwa para Terdakwa sebelum melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap diri korban, tidak menyampaikan kepada pihak keluarga korban tentang kemungkinan yang dapat terjadi sebagai risiko apabila operasi dilakukan.
3. Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 79PK/Pid.2013
Setelah memperhatikan Memori Peninjauan Kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana I, II dan III dan tanggapan Jaksa/Penuntut Umum atas Memori Peninjauan Kembali, dihubungkan dengan putusan Mahkamah Agung Nomor 365 K/PID/2012 tanggal 18 September 2012 serta putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/Pid.B/2011/PN.MDO tanggal 15 September 2011, terkait dengan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan darurat dalam perkara pidana tersebut, Majelis Hakim
berpendapat bahwa kejadian yang jarang terjadi dalam kondisi pasien secara umum tidak bisa diantisipasi. Antisipasi bisa dilakukan dalam operasi terencana, masuknya udara dalam bilik jantung korban dalam perkara ini di luar dugaan.
Kematian korban tidak ada hubungannya dengan tindakan operasi yang dilakukan oleh Para Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana I, II dan III.
Operasi Cito Secsio Sesaria merupakan operasi yang bersifat darurat sehingga untuk melakukannya tidak diperlukan persetujuan dari pasien atau keluarganya, serta tidak memerlukan pemeriksaan penunjang, kecuali
71
pemeriksaan darah. Keterangan Ahli yang merupakan bagian dari pertimbangan hakim telah sesuai dengan PERMENKES Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 4 dan Penjelasan UU Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (1) yang menyatakan bahwa dalam keadaan gawat darurat untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan. Namun setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan.
Meski demikian, berdasarkan pertimbangan Judex Facti atas keterangan saksi dr. Helmi, Anita Lengkong, Dr. Hermanus J. Lalenoh, Sp.An. yang dihubungkan dengan keterangan Terdakwa I, Terdakwa II dan Terdakwa III, Majelis Hakim berpendapat bahwa para Terdakwa sebelum melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban (Siska Makatey) telah menyampaikan kepada
pihak keluarga mengenai kemungkinan terburuk termasuk kematian yang dapat terjadi terhadap diri korban jika operasi Cito Secsio Sesaria tersebut dilakukan.
Pendapat Majelis Hakim tersebut dikuatkan dengan adanya keterangan dari Saksi Yulin Mahengkeng (Ibu korban) yang menerangkan bahwa sebelum dioperasi saksi telah menandatangani surat persetujuan dan saksi meminta agar korban segera dioperasi sehingga bayi dari korban dapat diselamatkan.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka pertimbangan dari Judex Facti yakni Pengadilan Negeri Manado telah tepat dan benar bahwa :
a. dalam keadaan gawat darurat untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran;
b. tindakan para Pemohon Peninjauan Kembali (Terpidana I, II dan III) tidak bertentangan dengan Standard Operasional Prosedur;
72
c. dalam tindakan operasi Cito (darurat) tidak harus dilakukan pemeriksaan penunjang terhadap pasien in casu korban Siska Makatey. Sehingga para Pemohon Peninjauan Kembali (Terpidana I, II dan III) tidak dapat dikatakan melakukan suatu kelalaian. Oleh karenanya, tidak ada hubungan kausalitas antara tindakan para Pemohon Peninjauan Kembali (Terpidana I, II dan III) dengan kematian korban.
Namun selain pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim tersebut, dalam musyawarah Majelis Hakim terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinion) dari Hakim Anggota yang memeriksa dan memutus perkara yaitu Prof. Dr. Surya Jaya, S.H., M.Hum. (Pembaca I). Hakim Pembaca I berpendapat bahwa alasan-alasan peninjauan kembali dari para Pemohon Peninjauan Kembali (Terpidana I, II dan III) tersebut tidak dapat dibenarkan. Berkaitan dengan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan gawat darurat, hakim tersebut berpendapat bahwa sangat penting untuk mengetahui kondisi pasien ketika masuk rumah sakit, apakah berada dalam keadaan gawat atau genting sehingga membutuhkan tindakan medis yang bersifat ”darurat/emergensi” atau berada dalam kondisi biasa. Hal ini penting karena berkaitan dengan penangan dan tindakan terhadap pasien. Pasien yang berada dalam keadaan tidak gawat berbeda penanganan dengan pasien dalam keadaan gawat.
Menurut ahli, operasi Cito Secsio Sesaria adalah operasi darurat, sehingga tidak perlu pemeriksaan penunjang karena sifatnya segera operasi. Sedangkan operasi elektif adalah operasi yang terencana. Mengacu pada pendapat ahli
73
tersebut, Pembaca I berpendapat bahwa yang dimaksud sifat segera operasi yaitu tidak membutuhkan jangka waktu yang panjang, tetapi harus ”segera”, tidak perlu membutuhkan waktu berjam-jam hingga kurang lebih 12 jam sejak pasien masuk rumah sakit hingga operasi dilaksanakan. Berdasarkan fakta persidangan, pasien Siska Makatey masuk rumah sakit sejak pukul 09.00 WITA sedangkan operasi di mulai pada pukul 20.50 WITA, ini berarti terdapat rentang waktu kurang lebih 12 jam pasien menunggu tindakan operasi. Sehingga terjadi fakta bahwa pasien meminta dirinya untuk segera dioperasi, namun para Terpidana belum melakukannya.
Karena adanya fakta tersebut, maka disimpulkan bahwa terdapat kesalahan atau kelalaian para Terpidana dalam menentukan sikap dan keputusan untuk mengambil tindakan operasi padahal pasien sudah berada dalam keadaan harus segera operasi. Kalau sekiranya operasi dilakukan lebih awal atau lebih cepat setelah pasien masuk rumah sakit, hasilnya bisa berbeda. Keterlambatan dan ketidaktepatan para Terpidana dalam mengambil tindakan dan keputusan mengakibatkan pasien Siska Makatey meninggal dunia.
Meski demikian, Majelis Hakim yang memutus perkara di tiap-tiap tingkat pengadilan tersebut memiliki pendapat yang berbeda. Majelis Hakim pada tingkat Pengadilan Biasa (Pengadilan Negeri Manado) dan Majelis Hakim pada tingkat Peninjauan Kembali (Mahkamah Agung) berpendapat bahwa para Terdakwa telah memberikan informasi kepada pihak keluarga tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk termasuk kematian yang dapat terjadi jika operasi Cito Secsio Sesaria dilakukan terhadap diri korban. Sedangkan, Majelis Hakim pada tingkat Kasasi
74
(Mahkamah Agung) berpendapat bahwa para terdakwa sebelum melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap diri korban, tidak memberikan informasi kepada pihak keluarga korban tentang kemungkinan yang dapat terjadi sebagai resiko apabila operasi dilakukan.
Ketiga putusan pengadilan tersebut memiliki dasar pertimbangan yang sama yakni keterangan saksi dan ahli. Saksi dan ahli menyatakan bahwa dalam keadaan darurat tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran dan pemeriksaan penunjang. Menurut PERMENKES Pelayanan Kegawatdaruratan Pasal 1 angka 3, gawat darurat adalah keadaan klinis yang membutuhkan tindakan medis segera untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan. Pasal 3 ayat (2) peraturan perundang-undangan yang sama juga telah menentukan kriteria kegawatdaruratan, yakni mengancam nyawa, membahayakan diri dan orang lain/lingkungan; adanya gangguan pada jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi;
adanya penurunan kesadaran; adanya gangguan hemodinamik; dan/atau memerlukan tindakan segera.
Korban Siska Makatey merupakan seorang pasien darurat yang mendapat penanganan antarfasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam PERMENKES Pelayanan Kegawatdaruratan Pasal 4 ayat (1) huruf c. Penanganan antarfasilitas merupakan tindakan rujukan terhadap pasien dari suatu fasilitas pelayanan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan lain yang lebih mampu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam dakwaan bahwa korban Siska Makatey merupakan pasien yang dirujuk oleh Puskesmas Bahu ke Rumah Sakit Umum Kandou Malalayang
75
Manado untuk melahirkan anaknya yang kedua. Korban dirujuk ke rumah sakit dalam keadaan darurat untuk mendapat fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Meskipun ketiga putusan tersebut memiliki dasar pertimbangan yang sama, namun pada akhirnya Majelis Hakim memiliki pendapat dan putusan yang berbeda. Terlepas dari ketiga dalil putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut. Penulis memperhatikan bahwa dalam putusan kasasi terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinion) dari Hakim Anggota yang memeriksa dan memutus perkara yaitu Prof. Dr. Surya Jaya, S.H., M.Hum. (Pembaca I).
Hakim Pembaca I berpendapat bahwa alasan-alasan peninjauan kembali dari para Pemohon Peninjauan Kembali (Terpidana I, II dan III) tersebut tidak dapat dibenarkan.
Berkaitan dengan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) pada keadaan gawat darurat. Menurut Hakim Pembaca I, sangat penting untuk mengetahui kondisi pasien ketika masuk rumah sakit, apakah berada dalam keadaan gawat atau genting sehingga membutuhkan tindakan kedokteran yang bersifat ”darurat" atau berada dalam kondisi biasa. Hal ini penting untuk pengambilan keputusan terkait penangan dan tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien.
Penulis memiliki pendapat yang sama dengan Hakim Pembaca I yakni kondisi pasien sangat berpengaruh pada keputusan dokter untuk mengambil tindakan penanganan. Pasien dengan keadaan gawat memiliki prosedur penanganan yang berbeda dari pasien non-gawat. Pasien dalam keadaan gawat
76
membutuhkan pertolongan segera untuk menyelamatkan nyawanya dan mencegah kecacatan.
Jika dilihat dari kronologinya, korban Siska Makatey masuk ke rumah sakit dalam keadaan darurat karena pecah ketuban pada pukul 09.00 WITA tetapi baru dilakukan tindakan operasi terhadap dirinya pukul 20.50 WITA. Ini berarti terdapat rentang waktu kurang lebih 12 jam korban menunggu tindakan operasi.
Karena adanya fakta tersebut, maka menurut penulis para Terdakwa telah lalai dalam menentukan sikap dan keputusan untuk mengambil tindakan operasi padahal pasien sudah berada dalam keadaan harus segera operasi. Sehingga mengakibatkan korban Siska Makatey meninggal dunia pasca operasi.
Adanya keterlambatan dalam pelaksanaan tindakan kedokteran merupakan suatu kelalaian dari para Terdakwa yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Di mana dalam peraturan perundang-undangan telah disebutkan bahwa dokter atau tenaga medis lainnya mempunyai kewajiban untuk mengobati pasien, mencegah penyakit, dan meningkatkan kesehatan. Dokter atau tenaga medis lainnya (dalam kasus ini adalah para terdakwa) seharusnya mengambil langkah terbaik untuk menyelamatkan jiwa pasien. Terlebih, korban Siska Makatey merupakan pasien darurat yang membutuhkan pertolongan segera untuk menyelamatkan nyawanya dan bayinya.
Menurut penulis, ketiga putusan Majelis Hakim atas perkara kasus yang menimpa korban Siska Makatey terhadap tiga dokter dari Rumah Sakit Umum Kandou Malalayang Kota Manado yakni para terdakwa : dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani (Terdakwa I), dr. Hendry Simanjuntak (Terdakwa II), dan dr. Hendy
77
Siagian (Terdakwa III) adalah tidak tepat. Putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/Pid.B/2011/PN.MDO memutuskan bahwa para Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor 365K/Pid/2012 memutuskan bahwa para Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Dan, Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor 79PK/Pid.2013 memutuskan bahwa para Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan.
Ketidaktepatan putusan tersebut dapat dilihat dari dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara. Dalam mempertimbangkan putusannya, Majelis Hakim tidak memperhatikan aturan perundang-undangan lain yang terkait. UU Praktik Kedokteran Pasal 39 menyatakan bahwa praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban, salah satunya adalah melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya (Pasal 51).
Selain itu, Majelis Hakim juga kurang memperhatikan PERMENKES Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 4, yang mana menyebutkan bahwa dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan
78
tidak diperlukan persetujuan terhadap tindakan kedokteran. Padahal dalam UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 50 telah disebutkan bahwa putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.