BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Pengawasan Account Representative (AR)
Tugas yang dilakukan oleh Account Representative (AR) dalam mengawasi adanya penyampaian SPT Tahunan yang tidak tepat waktu adalah sebagai berikut:
1) Account Representative (AR) melaksanakan bimbingan/himbauan mengenai ketentuan perpajakan kepada Wajib Pajak (WP) mengenai perundang-undangan peraturan perpajakan yang berlaku serta menginformasikan mengenai perubahan peraturan perpajakan sehingga Wajib Pajak (WP) mengetahui batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh dan Wajib Pajak (WP) dapat menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh dengan tepat waktu.
2) Account Representative (AR) melakukan konsultasi perpajakan kepada Wajib Pajak (WP), apabila Wajib Pajak (WP) belum memahami atau kurang memahami mengenai batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh
3) Account Representative (AR) meneliti dan memproses SPT Tahunan PPh apabila terdapat keterlambatan penyampaian/pembayaran SPT diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP).
Berikut uraian penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP):
1) Berdasarkan data pembayaran, pelaporan sistem menghasilkan data sanksi-sanksi yang akan diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) sesuai dengan ketentuan yang mengatur tentang dasar penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP).
2) Account Representative memilih kasus yang akan diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP), menginput data Surat Tagihan Pajak (STP), dan mengirimkannya ke Case Management.
3) Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan melakukan persetujuan (approve) penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP).
4) Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak Surat Tagihan Pajak (STP) yang telah disetujui.
5) Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan Surat Tagihan Pajak (STP) dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.
6) Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan menandatangani Surat Tagihan Pajak (STP) yang sudah dicetak.
Berdasarkan Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) No. 24 tahun 2007 menjelaskan bahwa pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) sebaiknya dilakukan tepat pada waktunya atau sebelum jatuh tempo agar tidak diberikan sanksi berupa denda. Meskipun begitu tetapi masih ada wajib pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan-nya tepat pada waktunya/terlambat.
Adapun data mengenai keterlambatan pelaporan SPT Tahunan PPh yang terkait dengan identifikasi masalah yang dibahas dalam penelitian ini. Berikut ini adalah data
mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh tahun 2010 s/d 2013 pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara.
Tabel 1
Pelaporan SPT Tahunan PPh tidak disampaikan tepat waktu
Tahun jumlah SPT SPT yang dilaporkan persentase SPT yang dilaporkan tidak tepat waktu Disampaikan
tidak tepat waktu
2010 43.794 3.520 8%
2011 28.140 4.276 15%
2012 47.971 6.341 13%
2013 50.157 7.631 15%
(Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Makassar Utara)
Berdasarkan data di atas pelaporan surat pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif. Pada tahun 2010 SPT yang dilaporkan tidak tepat waktu sebesar 3.520 dari jumlah SPT yang masuk jika dipersentasekan sebesar 8% mengalami peningkatan tahun 2010 ke 2011 yaitu sebesar 4.276 dengan persentase sebesar 15% sedangkan dari tahun 2011 ke 2012 mengalami peningkatan sebesar 6.341 dengan persentase sebesar 13%. Dan dari tahun 2012 ke 2013 meningkat menjadi 7.631. Pengawasan yang dilakukan oleh Account Representative (AR) atas pelaporan SPT Tahunan PPh dari tahun 2010 s/d 2013 yang dilaksanakan sudah optimal karena berdasarkan rata-rata pelaporan surat pemberitahuan (SPT) yang dilaporkan kurang dari 50% dari jumlah SPT yang dilaporkan.
Jumlah Wajib pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) tidak tepat waktu meningkat setiap tahunnya, padahal hal ini telah melanggar Undang-undang perpajakan yang berlaku. Ketika Wajib Pajak yang terlambat menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) maka akan diberikan sanksi administrasi berupa denda. Sanksi ini diberikan apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya atau batas waktu perpanjangan penyampaian surat pemberitahuan (SPT).
Adapun besaran denda, sebagai berikut:
1) Rp100.000 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya,
2) Rp1.000.000 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan PPh wajib pajak badan,
3) Rp100.000 (seratus ribu rupaih) untuk SPT Tahunan PPh wajib pajak orang pribadi.
Dengan adanya sanksi ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berharap mampu meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan tepat waktu. Namun kenyataannya meskipun sudah ada sanksi terhadap keterlambaatan pelaporan SPT tidak memberikan efek jera kepada Wajib Pajak, bahkan setiap tahun mulai 2010 s/d 2013 jumlah wajib pajak yang terlambat menyampaikan SPT meningkat. Hal ini disebabkan karena pada Kantor Pelayanan Pajak Makassar Utara tidak memberikan sanksi berupa denda kepada wajib pajak yang terlambat.
Menurut salah satu karyawan Kantor Pelayanan Pajak Makassar Utara mengatakan “Tidak semua wajib pajak dikenakan sanksi administrasi pajak berupa denda atas keterlambatan menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) , wajib pajak terlambat menyampaikan SPT karena beberapa hal diantaranya yaitu :
a. Wajib pajak baru yang mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak Makassar utara yang seharusnya wajib menyampaikan SPT masa setiap bulannya karena ketidaktahuannya mereka tidak menyampaiakan.
b. Pegawai/karyawan meskipun gaji mereka telah dipotong oleh perusahaan dimana tempat mereka bekerja tetapi mereka tetap harus menyampaikan surat pemberitahuan (SP)T karena ketidaktahuan, maka mereka terlambat bahkan tidak menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) sama sekali.
c. Wajib pajak yang terlambat menyusun laporan keuangan sehingga pelaporan pajaknya juga terlambat.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka pihak Account repsentative (AR) pada seksi pengawasan dan konsultasi memberikan kebijakan tidak memberikan sanksi administrasi berupa denda kepada wajib pajak. Meskipun hal ini bertentangan dengan Undang-undang Ketentuan dan tata cara Perpajakan tetapi masih tetap diterapkan karena pihak dari Direktorat Jendral Pajak khususnya Kantor Pelayanan Pajak Makassar Utara merasa karena Kurangnya sosialisasi tentang pelaporan Surat Pemberitahun (SPT) Tahunan secara tepat waktu sehingga wajib pajak kurang atau tidak mengetahui sama sekali tentang pelaporan SPT tersebut. Namun tidak semua
wajib pajak diberikan penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa denda karena nantinya akan bertambah banyak wajib pajak yang akan melanggar tata tertib perpajakan. Yang tidak diberikan penghapusan sanksi denda yaitu bagi wajib pajak yang melanggar ketentuan dalam undang-undang seperti ketika wajib pajak yang terlambat menyampaikan surat pemberitahuan dan pihak fiskus telah memberikan surat teguran kepada wajiib pajak namun tidak diindahkan dan tetap tidak menyampaiakan atau terlambat menyampaikan maka akan dikenahkan sanksi perpajakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku
2. Upaya yang Dilakukan dalam Mengawasi Pelaporan SPT Tahunan PPh
Upaya yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara dalam mengatasi kendala dalam pengawasan SPT Tahunan PPh dengan cara melakukan penyuluhan. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilaksanakan berdasarkan standar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Standarisasi penyuluhan perpajakan ini membagi tahapan penyuluhan perpajakan menjadi :
1) Tahap pertama adalah tahap analisa rencana penyuluhan yang disajikan berupa panduan data awal keadaan Wajib Pajak, kepatuhan serta penerimaan pajak.
2) Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan penyuluhan. Pelaksanaan penyuluhan harus dilaksanakan berdasarkan analisa rencana penyuluhan yang telah disusun oleh masing-masing KPP. Metode penyuluhan secara langsung ataupun penyuluhan secara tidak langsung.
3) Tahap yang terakhir adalah tahap evaluasi. Evaluasi yang dilakukan terhadap penyuluhan perpajakan pada umumnya dilakukan terhadap pelaksanaan penyuluhan seperti evaluasi terhadap materi yang disampaikan atau performance petugas yang memberikan penyuluhan.
Selain melakukan penyuluhan, upaya yang dilakukan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara yaitu dengan melakuan pendataan atau penyisiran ini merupakan salah satu dari upaya yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dengan cara melakukan pencarian data baik melalui data internal maupun langsung penyisiran di lapangan. Untuk menangulangi keterbatasan jumlah Account Representative (AR) dalam mengatasi kurangnya ratio pengawasan oleh Account Representative (AR) atas pemenuhan kewajiban Wajib Pajak yaitu dengan cara menambah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten guna untuk meringankan beban kerja Account Representative (AR). Dengan upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi kendala-kendala yang ada bahkan dapat mengatasi kendala-kendala yang ada. Sehingga pelaksanaan pengawsan pelaporan SPT pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara dapat berjalan dengan baik memberikan pelayanan baik dan pengawasan yang dilakukan oleh Account Representative (AR) bisa membantu bagi Wajib Pajak dalam memahami peraturan perpajakan dan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak sehingga penerimaan atas pajak dapat menjadi lebih optimal.
Gambar 4.2 Flowchart Hasil Produksi Data dan Pengawasan di KPP
Pelaksana Kepala Seksi Terkait Kepala KPP Kepala seksi
penglahan data dan informasi
Merekam data yang akan di produksi ke sistem computer dengan menggunakan aplikasi input data dan meneruskan data dalam bentuk fisik ke kepala bidang terkait untuk dilakukan pengesahan
Data dalam bentuk fisik
Mengirimkan formulir pengesahan hasil produksi data (F.7-088/003) yang sudah ditandatangani bersama dengan dokumen data keunit penyimpangan data.
Menentukan data yang akan di produksi dari pelaksanaan tugas pokok berkaitan dengan kegiatan
pengamatan,penyisiran(canvaccing), penelitian, pengawasan kemudian menugaskan pelaksanaan di seksi masing-masing melalui proses perekaman data ke sistem computer.
Melihat hasil produksi data pada layar computer dan membandingkannya dengan fisik data.
Melakukan pengesahan dengan melakukan No identitas pribadi (NIP) atas data yang mudah dinyatakan valid.
memproduksi data dalam rangka pembangunan basis data sebagai hasil pelaksanaan tugas pokok
berkaitan dengan
3. Tata Cara Hasil Produksi Data dan Pengawasan di KPP 1. Prosedur Kerja
a. Kepala KPP menugaskan Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi atau Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk memproduksi data dalam rangka pembangunan Basis Data sebagai hasil dari pelaksanaan tugas pokok yang berkaitan dengan kegiatan pengamatan, penyisiran (canvassing), penelitian, pengawasan
b. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi atau Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menentukan data yang akan diproduksi dari pelaksanaan tugas pokok yang berkaitan dengan kegiatan pengamatan, penyisiran (canvassing), penelitian, pengawasan kemudian menugaskan Pelaksana di Seksi masing-masing untuk melakukan proses perekaman data ke sistem computer.
c. Pelaksana di Seksi Pengawasan dan Konsultasi atau di Seksi Ekstensifikasi Perpajakan merekam data yang akan diproduksi ke sistem komputer dengan menggunakan aplikasi Input Data kemudian meneruskan data dalam bentuk fisik ke Kepala Seksi masing-masing untuk dilakukan pengesahan.
d. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi atau Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan melakukan pengesahan terhadap data yang sudah direkam ke dalam Aplikasi Input Data oleh Pelaksana dengan cara sebagai berikut:
1. Melihat hasil produksi data pada layar komputer dan membandingkannya dengan fisik data
2. Melihat hasil produksi data pada layar komputer dan membandingkannya dengan fisik data.
3. Melakukan pengesahan dengan memasukkan Nomor Identitas Pribadi (Personal Identification Number, PIN) atas data yang sudah dinyatakan valid.
4. Mencetak dan menandatangani formulir Pengesahan Hasil Produksi Data (F.7.0.88.03) kemudian menggabungkannya dengan dokumen data awal, kemudian menugaskan Pelaksana masing-masing untuk melakukan transfer data ke Basis Data.
e. Pelaksana di Seksi Pengawasan dan Konsultasi atau di Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mengirimkan Formulir Pengesahan Hasil Produksi Data (F.7.0.88.03) yang sudah ditandatangani bersama dengan dokumen data ke unit terkait yang menyimpan data.
f. Proses selesa
b. Pengendalian Pelaporan dalam Account Representative (AR) terhadap Tingkat Kenaikkan Kepatuhan Wajib Pajak.
Di Indonesia salah satu penerimaan negara yang sangat penting, artinya bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional serta bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat adalah pajak. Oleh karenanya, pajak perlu dikelola secara seksama dengan meningkat kepatuhan Wajib Pajak dan peran serta seluruh lapisan masyarakat dan dari aparat perpajakan sendiri.
Sistem self assessment memberikan kepercayaan penuh kepada Wajib Pajak, maka
selayaknya diimbangi dengan adanya pengawasan yang diberikan tidak disalah gunakan.
Tugas pokok Direktorat Jenderal Pajak dalam hal ini khususnya yang sangat menonjol sesuai dengan fungsinya adalah melakukan pembinaan, penelitian, pengawasan, dan pelayanan dalam hubungan dengan pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakan dari Wajib Pajak, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang berlaku. Fungsi Pengawasan sebagai salah satu tugas pokok Direktorat Jenderal Pajak pada dasarnya meliputi kegiatan penelitian dan pemeriksaan di bidang perpajakan. Apabila ditinjau dari segi pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang berkaitan satu sama lainnya, terutama dalam hubungannya dengan usaha penegakan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
Account Representative (AR) sangat perpengaruh dalam melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak. Dengan melakukan pendataan-pendataan atau penyisiran ini merupakan salah satu dari upaya yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dengan cara melakukan pencarian data baik melalui data internal maupun langsung penyisiran di lapangan, melakukan penyisiran terhadap tempat atau jalan utama yang diduga menjadi pusat bisnis serta mendata masyarakat yang diduga memiliki tambahan kemampuan ekonomis berdasarkan harta kekayaan yang dimiliki.
Pengendalian yang digunakan Account Representative (AR), Sebaiknya dapat meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya penyampaian SPT dan besarnya sanksi yang akan dibayarkan ketika tidak atau terlambat disampaikan.
Untuk mengangulangi keterbatasan jumlah Account Representative (AR) dalam mengatasi kurangnya ratio pengawasan oleh Account Representative (AR) atas pemenuhan kewajiban Wajib Pajak yaitu dengan cara menambah SDM yang berkompeten guna untuk meringankan beban kerja Account Representative (AR).
Pemungutan pajak di suatu Negara, menurut Gunadi (1997: 1), dianggap sukses apabila terdapat enam kondisi pendukung, yaitu:
1. Sebagian besar aktifitas ekonomi dilaksanakan dalam transaksi uang.
2. Tingkat iliterasi (buta huruf) masyarakat rendah.
a. Adanya praktek pembukuan (administrasi) yang sehat dan dapat diprecaya (reliable).
3. Tingkat kepatuhan dan disiplin yang tinggi.
a. Tersedianya jaringan dan akses terhadap informasi serta komunikasi yang efektif dengan sedikit (menghilangkan) kerahasiaan (untuk tujuan perpajakan).
b. Rendahnya tingkat sektor (ekonomi) informal (underground, black market economy).
Sejak diterapkannya sistem self assessment dalam undang-undang perpajakan Indonesia, peranan positif Wajib Pajak dalam memenuhi seluruh kewajiban perpajakannya (tax compliance) menjadi semakin mutlak diperlukan. Agar sistem self assessment berjalan secara efektif, keterbukaan dan pelaksanaan penegak hukum merupakan hal yang paling penting. Penegakan hukum ini dapat dilakukan dengan adanya pemeriksaan/penyidikan pajak dan penagihan pajak. Pemeriksanaan pajak merupakan instrumen yang baik untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, baik formal maupun material dari peraturan perpajakan, yang tujuannya untuk menguji dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, kepatuhan ini akan sangat berdampak baik secara langsung maupun tak langsung pada penerimaan perpajakan.
1. Kendala yang Dihadapi dalam Pengawasan Pelaporan SPT Tahunan PPh
Pengawasan perpajakan sering terjadi kendala-kendala yang dihadapi oleh KPP dalam mengawasi pelaporan SPT Tahunan PPh. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaannya diantaranya sebagai berikut:
1) Beragamnya pemahaman wajib Pajak atas peraturan pajak yang berlaku. Wajib pajak terdiri dari wajib pajak yang memahami pajak, wajib pajak yang tidak paham benar dengan pajak, dan wajib pajak yang tidak paham sekali dengan pajak. Dengan beragamnya sifat wajib pajak tersebut terutama dari wajib pajak yang belum memahami benar tentang tata cara pelaporan ataupun perhitungan
SPT Tahunan PPh sering kali terjadi perbedaan pendapat antara wajib pajak dengan fiskus.
2) Keterbatasan jumlah Account Representative (AR), dimana seorang Account Representative (AR) harus mengawasi satu hingga tiga kelurahan, hal ini tidak sebanding dengan jumlah wajib pajak yang tersebar di setiap kelurahan.
Kendala yang terjadi dalam pelaksanaan dalam mengawasi pelaporan SPT Tahunan PPh terletak pada wajib Pajak dan sumber daya manusia pada Kantor Pelayanan Pajak. Dimana beragamnya pemahaman wajib Pajak atas peraturan pajak yang berlaku Wajib Pajak masih kurang pengetahuan dan kesadaran dalam melaporkan SPT. Dengan beragamnya sifat wajib pajak tersebut terutama dari wajib pajak yang belum memahami benar tentang tata cara pelaporan ataupun perhitungan SPT Tahunan PPh sering kali terjadi perbedaan pendapat antara wajib pajak dengan fiskus. Inilah yang menjadi tugas bagi fiskus untuk memberikan informasi, memberikan pelayanan secara langsung, edukasi, mendorong dan mengawasi pemenuhan hak dan kewajiban wajib pajak.
Selain itu, keterbatasan jumlah Account Representative (AR), dimana seorang Account Representative (AR) harus mengawasi satu hingga tiga kelurahan, hal ini tidak sebanding dengan jumlah wajib pajak yang tersebar di setiap kelurahan.
Sehingga beban mereka terlalu besar untuk mengawasi seluruh wajib pajak yang berada dalam wilayah kerja Account Representative (AR) tersebut. Jumlah Account Representative (AR) pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara sebanyak 20 orang sedangkan jumlah Wajib Pajak yang terdaftar sebanyak 106.828. sehingga
setiap Account Representative (AR) harus mengawasi kurang lebih 5.341 Wajib Pajak (WP). Sehingga tidak semua Wajib Pajak yang ada dalam wilayah pengawasan Acoount Representative mereka kunjungi.
Hal ini menyebabkan belum optimalnya pengawasan pelaporan SPT pada KPP Pratama Makassar Utara maka diperlukan adanya upaya untuk mengatasi kendala yang ada pada KPP Pratama Makassar Utara.
2. Bagan Alur Kerja (Flowchart) Penerimaan dan Pengelolaan SPT tahunan 1. Petugas penerima SPT pada TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box bertugas:
a. Menerima SPT tahunan/e-SPT Tahunan yang disampaikan langsung oleh wajib pajak dalam amplop tertutup yang dilekati lembar informasi amplop SPT Tahunan yang berisi data Nama wajib pajak, NPWP, Tahun pajak, Status SPT (nihil/kurang bayar/lebih bayar), jenis SPT (SPT tahunan/SPT pembetulan ke-…), perubahan data (ada/tidak ada), nomor telepon, pernyataan dan Tanda Tangan Wajib Pajak.
b. Menuliskan NPWP wajib pajak pada lembar “ untuk wajib pajak” membubuhkan stempel KPP, tanggal permintaan, Nama, NIP dan tanda tangan pada tanda terima SPT sebagaimana pada (lampiran 1)
c. Memneri tanda terima (bagian untuk wajib pajak) kepada wajib pajak, dan menempelkan untuk bagian lain (bagian untuk ditempelkan pada amlop) pada amplop SPT wajib pajak. Bagian arsip disimpan untuk diserahkan kepada kepala seksi pelayanan.
d. Memisahkan antara SPT Tahunan/e-SPT Tahunan wajib pajak yang terdaftar pada KPP sendiri dengan wajib pajak (orang pribadi dan badan).
e. Membuat berita acara serah terima berkas penerimaan SPT melalui TPT/pojok pajak/mobil pajak/Drop Box senagaimana pada (lampiran 2)
f. Menyerahkan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang diterima dan berita acara serah terima berkas penerimaan SPT kepada petugas TPT.
g. Menerima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang disampaikan oleh wajib pajak melalui pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir yang diserahkan oleh sub bagian umum kemudian melakukan:
1. Melakukan langkah pada nomor 2
2. Menempelkan tanda terima SPT Tahunan pada amplop SPT 3. Melakukan langkah pada nomor 4,5 dan 6 diatas.
2. Petugas TPT bertugas :
a. Menerima dan meneliti SPT dan berita acara serah terima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari petugas penerima SPT, selanjutnya meneruskannya ke kepala seksi pelayanan untuk ditandatangani.
1. Merekam tanda terima dan lembar informasi amplop SPT Tahunan ke dalam aplikasi drop box.
2. Dalam hal terdapat perubahan wajib pajak dan wajib pajak menempelkan formulir perubahan data pada amplop SPT Tahunan, maka petugas TPT merekam perubahan data tersebut ke dalam aplikasi drop box.
3. Mengelompokkan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan (termasuk SPT yang diterima dari KPP lain) berdasarkan tempat wajib pajak terdaftar.
4. Dari hasil mengelompokkan SPT pada angka 4, diatas SPT Tahunan/e-SPT Tahunan sendiri maka petugas TPT membuat daftar nominatif pengirim SPT wajib pajak sendiri sebagaimana terdapat pada lampiran 12 kemudian menyerahkan daftar nominal tersebut beserta SPT-nya kepada pelaksana seksi pelayanan dua untuk dilakukan penelitian kelengkapan SPT.
5. Dari hasil pengelompokan SPT pada angka 4, atas SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang tidak terdaftar di KPP sendiri maka petugas TPT membuat daftar nominative pengiriman SPT sebagaimana lampiran 5.
6. Meneruskan daftar nominatif pegiriman SPT beserta SPT-nya kepada pelaksana seksi pelayanan satu untuk selanjutnya dilakukan pencetakan konsep surat pengiriman berkas SPT sebagaimana lampiran 5.
7. Menerima SPT Tahunan SPT/e-SPT Tahunan, surat pengiriman dan daftar nominatif SPT dari KPP lain yang diserahkan oleh sub bagian umum.
8. Menandai surat pengiriman SPT dari KPP lain, daftar nominatif pengiriman SPT dari KPP lain beserta SPT-nya kemudian mencetak daftar nominatif pengiriman SPT wajib pajak sendiri sebagaimana dimaksud pada angka 5 diatas.
9. Atas respon surat permintaan kelengkapan SPT
10. Dalam NPWP yang tertulis dalam amplop SPT Tahunan tidak valid sehinggah tidak dapat direkam pada aplikasi drop box maka;
1. Petugas menyerahkan SPT tersebut kepada petugas khusus yang ditunjuk oleh kasi pelayanan untuk menangani SPT Tahunan dengan NPWP yang tertulip dalam amplop SPT Tahunan yang valid.
2. Petugas khusus melakukan penelusuran NPWP berdasarkan SPT Tahunan dan lampiran-lampirannya.
3. Petugas khusus memasukkan kembali SPT Tahunan dan lampiran-lampirannya ke dalam amplop SPT tahunan dengan format sebagaimana
terdapat pada lampiran 18 dan membuat berita acara pembukaan amplop SPT Tahunan dengan format sebagaimana pada lampiran 19.
4. Jika berdasarkan penelusuran tersebut ditemukan NPWP yang vilid maka dilakukan perekaman tanda terima SPT Tahunan pada aplikasi drop box dengan menggunakan NPWP yang valid.
5. Jika berdasarkan penulusuran tidak ditemukan NPWP yang valid maka dilakukan perekaman pada menu perekaman tanda terima SPT Tahunan dengan NPWP tidak valid pada aplikasi drop box, kemudian SPT tahunan dengan NPWP tidak valid tersebut disimpan di seksi pelayanan. Data SPT tahunan dengan NPWP tidak valid akan ditampilkan dalam monitoring SPT tahunan dengan NPWP tidak valid sehingga KPP-KPP yang lain dapat terlihat data tersebut dan dapat menelusurinya.
3. Pelaksana Seksi Pelayanan Satu bertugas ;
a. Menerima berita acara serah terima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang telah ditandatangani oleh kasi pelayanan selanjutnya menomori dan merekam berita acara serah terima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan kedalam aplikasi drop box.
b. Menerima daftar nominatif pengirim SPT beserta SPT-nya dari petugas TPT, selanjutnya mencetak konsep surat pengiriman berkas SPT sebagaimana lampiran 5.
c. Meneruskan daftar nominatif pengiriman SPT dan konsep surat pengiriman berkas SPT kepada kepala seksi pelayanan untuk diparaf, selanjutnya meneruskannya kepada kepala KPP untuk disetujui dan ditandatagani.