Tujuan Pengawasan Kesehatan
7.1 Paragraf I.43 dari BSS (ref [2]) menyatakan bahwa: “Program pengawasan kesehatan harus:
(a) berdasarkan pada prinsip umum kesehatan kerja; dan
(b) didisain untuk mengawasi kebugaran awal dan kesinambungan kebugaran para pekerja untuk tugas yang dibebankan kepada mereka.” 7.2 Tujuan selanjutnya dari pengawasan kesehatan adalah untuk menyediakan informasi awal yang dapat digunakan dalam kasus secara tak sengaja terkena paparan bahan beracun atau penyakit kerja yang memungkinkan mengenainya, dan untuk mendukung pengelolaan pekerja yang terkena dosis berlebih.
Tanggung Jawab Atas Pengawasan Kesehatan
7.3 Paragraf I.41 dari BSS (Ref [2]) mempersyaratkan bahwa “pengusaha instalasi, pendaftar dan pemegang lisensi harus mengelola kegiatan pengawasan kesehatan secara baik dalam rangka pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh otoritas regulasi.” Jasa internal atau konsultan eksternal mungkin dapat dimanfaatkan.
7.4 BSS (ref [2], paragraf I.42) menyatakan bahwa:
“Bila seseorang atau lebih dari seorang pekerja ditugaskan dalam suatu pekerjaan yang menggunakan atau mungkin mengunakan paparan dari sumber radiasi yang tidak dibawah kendali pengusaha instalasi mereka, pendaftar atau pemegang lisensi yang bertanggung jawab terhadap sumber tersebut harus melakukan pengaturan khusus pengawasan kesehatan dengan para pekerja untuk memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh otoritas regulasi.
Pemeriksaan Kesehatan Pekerja
7.5 Pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang terkena paparan kerja harus mengikuti prinsip umum pengobatan kerja. Harus ada pemeriksaan kesehatan sebelum mulai bekerja dan pengkajian secara berkala.
7.6 Pemeriksaan awal harus meneliti kesehatan pekerja dan kebugarannya untuk melakukan suatu tugas, dan juga mengidentifikasi para pekerja yang membutuhkan tindakan pencegahan khusus selama bekerja. Sangatlah jarang bahwa komponen radiasi dalam lingkungan kerja sangat mempengaruhi penilaian terhadap kebugaran pekerja dalam melaksanakan tugasnya dengan radiasi, atau mempengaruhi kondisi umum pelayanan.
7.7 Tiga situasi yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan kesehatan awal dan dalam pemeriksaan ulang berikutnya:
(a) Kebugaran pekerja untuk menggunakan peralatan proteksi pernafasan (bila pekerja tersebut terlibat dalam pekerjaan yang menggunakan peralatan itu);
(b) Kesehatan pekerja terhadap penyakit kulit, seperti eksema atau penyakit kulit kronis (bila pekerjaannya memerlukan penanganan sumber terbuka);
(c) Kesehatan pekerja yang diketahui mempunyai gangguan psikologi untuk bekerja dengan sumber radiasi.
7.8 Pemeriksaan ulang berkala harus difokuskan pada konfirmasi tidak adanya kondisi klinis yang dapat menimbulkan prasangka buruk tentang kesehatan pekerja ketika bekerja dengan radiasi. Item pemeriksaan ulang harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukannya, pada usia dan staus kesehatannya, dan kemungkinan kebiasaan buruk pekerja (seperti kebiasaan merokok). Pemeriksaan secara normal dilakukan dengan frekuensi sebagaimana program pengawasan kesehatan kerja yang lain. Frekuesi harus tergantung pada status kesehatan dan jenis pekerjaan, tetapi biasanya setiap satu atau dua tahun. Bila karakteristik pekerjaan dapat menyebabkan potensi kerusakan kulit setempat akibat iradiasi, khususnya pada tangan, kulit harus diperiksa secara berkala.
7.9 Catatan pengawasan kesehatan merupakan dokumen rahasia, dan dipelihara dengan cara yang disetujui oleh otoritas regulasi. Waktu minimum penyimpanan catatan adalah selama masa kerja masing-masing pekerja. Meskipun begitu, karena adanya kemungkinan tuntutan pengadilan maka disarankan untuk menyimpannya dalam waktu yang lebih panjang (lihat paragraf 5.90).
7.10 Dalam penentuan kebugaran dalam pemakaian peralatan proteksi pernafasan, pemeriksaan harus mencakup integritas fungsi paru-paru. Dalam kasus pekerja mempunyai penyakit kulit, keputusan kesehatannya harus berdasarkan pada jenis, tingkat keparahan dan evolusi penyakitnya dan jenis pekerjaannya. Pekerja yag mempunyai penyakit sejeis itu tidak harus dihentikan dari pekerjaan yang menggunakan bahan radioaktif terbuka bila tingkat aktivitasnya rendah dan melakukan langkah pencegahan yang sepadan, seperti membalut bagian tubuh yang terserang penyakit. Dalam kasus pekerja yang mempunyai gangguan psikologi, keputusan kesehatannya harus memperhatikan implikasi keselamatan dari gejala penyakit tersebut. Harus menjadi perhatian apakah pekerja itu dapat menimbulkan bahaya bagi mereka sendiri atau bagi orang lain.
7.11 Tidak ada alasan bahwa pekerja yang telah menjalani radiotherapi sebelumnya harus tidak diterima dalam pekerjaan dengan radiasi. Setiap kasus harus dievaluasi secara tersendiri, perlu memperhatikan kualitas pengobatannya, dugaan umum dan pertimbangan kesehatan lainnya, pengertian dan keinginan pekerja, dan jenis pekerjaan.
Informasi dan Pelatihan bagi Dokter
7.12 Dokter yang bertugas dalam program pengawasan kesehatan pekerja harus mempunyai jalur informasi yang berkaitan dengan kondisi kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, dan pada catatan dosis individu setiap pekerja. Dokter juga harus memahami jenis dan kondisi kerja, pekerjaan dan tugas khusus, yang paling mempengaruhi dalam keputusan kesehatan seseorang pada suatu pekerjaan. Informasi tersebut perlu diatukan dengan catatan medis perorangan, yang bersifat rahasia. Walaupun begitu – untuk
menjaga proteksi kebebasan pribadi, dan dalam kondisi bahwa informasi paparan kerja tidak digunakan untuk keperluan diskriminasi atau prasangka lain – pihak yang terkait harus mempunyai jalur informasi yang relevan terhadap proteksi radiasi, khususnya yang menyangkut keadaan dan tingkat paparan berlebih, pelaksanaan tindakan penanggulangan, dan pengalaman, termasuk cara untuk mencegah terulangnya kembali.
7.13 Agar mampu untuk mendiskusikan keselamatan kerja, memperhatikan dan perlakuan yang berkaitan dengan radiasi, dokter kerja harus sudah menerima pelatihan secukupnya di bidang proteksi radiasi, dan pengetahuan ini harus secara berkala disegarkan. Pelatihan tersebut harus memberikan pengertian tentang efek biologi karena radiasi (stokasik dan deterministik) dan risiko yang dapat ditimbulkan oleh paparan, yang berasal dari operasi rutin dan sebagai konsekuensi suatu kecelakaan [22]. Risiko tersebut harus ditempatkan sebagai masalah risiko kerja. Sebagai tambahan, dokter harus memahami tindakan pencegahan dan prosedur untuk memproteksi pekerja.
Penyuluhan
7.14 Penyuluhan khusus oelh dokter kerja, kadang-kadang didukung oleh spesialis, harus ada untuk pekerja dengan kategori sebagai berikut:
(a) Wanita yang sedang atau mungkin sedang hamil, atau sedang menyusui;
(b) Pekerja yang telah atau mungkin telah terkena paparan yang melebihi batas dosis;
(c) Pekerja yang mencemaskan paparan radiasi yang telah mengenainya; (d) Pekerja yang meminta penyuluhan.
7.15 Dokter kerja harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang efek biologi akibat paparan radiasi agar mampu memberi informasi kepada pekerja risiko radiasi yang terkait dengan situasi di atas. Dokter kerja juga harus mampu memberi nasihat kepada manajemen atas kebutuhan tindakan pencegahan atau prosedur khusus yang berkaitan dengan wanita hamil, dan
pencegahan yang harus mereka lakukan. Dalam kasus paparan tak terduga atau paparan berlebih, dokter kerja bekerja sama dengan manajemen untuk menjamin dilaksanakannya semua pengaturan yang diperlukan untuk melakukan evaluasi tingkat keparahan akibat paparan.
Pengelolaan Pekerja yang Terkena Paparan Berlebih
7.16 Berkaitan dengan kondisi otorisasi, manajemen harus menyusun rencana formal untuk menghadapi situasi dimana pekerja mungkin terkena paparan berlebih. Rencana tersebut harus menitik beratkan pada pengelolaan pekerja yang terkena paparan berlebih dan konsekuensi kesehatan yang mengkin timbul. Rencana tersebut menyatakan tindakan yang perlu dilakukan, manajemen harus menyediakan sumber daya untuk melaksanakan tindakan tersebut. Panduan yang berkaitan dengan tindakan medis dalam kecelakaan dan kedaruratan radiologi dapat ditemukan pada dua Safety Report IAEA [23, 24].
7.17 Bila paparan berlebih yang substansial terjadi, maka manajemen harus segera melaksankan investigasi untuk mengukur dosis yang diterima para pekerja, Investigasi harus mencakup pembacaan dosimeter perorangan dan instrumen pengukur lain, dan dalam kasus paparan internal, pengukuran in vivo dan in vitro.
7.18 Hasil pengukuran dosis yang mendekati nilai batas dosis jarang sekali menyebabkan kegiatan lain kecuali investigasi penyebab kejadian, sehingga dapat mengambil pengalaman. Hanya dosis yang sangat melampaui batas dosis (misalnya 0,2 – 0,5 Sv atau lebih tinggi) akan memerlukan investigasi dosis secara khusus mencakup dosimetri biologi (analisis abrasi kromosom di sel somatik, terutapa limposit) dan diagnosis lanjutan yang lebih luas atau pengobatan medis mungkin sudah diperlukan. Pengobatan secara medis kepada pekerja yang terkena paparan tinggi radiasi eksterna harus memperhatikan efek yang merusak kesehatan, khususnya efek deterministik.
7.19 Langkah untuk menurunkan dosis mungkin diperlukan dalam kejadian seorang pekerja menderita akibat masukan bahan radioaktif cukup banyak. Pekerja tersebut harus diberi peringatan sebelumnya kemungkinan tindakan
intervensi untuk mengurangi pemasukan dosis pada situasi tertentu. Tindakan yang harus dilakukan tergantung pada pada jenis radionuklidanya, tingkat dosis ekivalen terikat pada organ yang relevan, dan efisiensi dan risiko yang berkaitan dengan langkah proteksi. Tindakan tersebut hanya dilakukan bila pengurangan dosisnya sebanding dengan efek sampingnya. Contoh terapi seperti ini adalah meningkatkan pengeluaran aktinida dari tubuh dengan cara pengobatan DTPA (diethylenatriamine pentaacetic acid), yang memaksa
diuresis setelah pemasukan tritium, dan operasi pemotongan tulang yang
terkontaminasi.
7.20 Investigasi rinci dari kecelakaan, keadaannya dan konsekuensinya harus melibatkan spesialis dari berbagai bidang, khususnya dokter dan fisika kesehatan. Seharusnya terdapat hubungan yang baik antara para spesialis tersebut untuk menjamin semua tindakan yang akan dilakukan untuk memberikan pengobatan medis terkoordinasi dengan benar. Bila diduga dosis yang diterima telah mendekati atau melampaui dosis ambang efek deterministik, investigasi harus menentukan seakurat mungkin dosis serap dan distribusinya di seluruh tubuh, dan harus mencakup pemeriksaan kesehatan yang memedau terhadap pekerja yang menjadi korban.
Daftar Pustaka
[1] FOOD AND AGRICULTURE ORGANIZATION OF THE UNITED NATIONS, INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, INTERNATIONAL LABOUR ORGANISATION, OECD NUCLEAR ENERGY AGENCY, PAN AMERICAN HEALTH ORGANIZATION, WORLD HEALTH ORGANIZATION, Radiation Protection and the Safety of Radiation Sources, Safety Series No. 120, IAEA, Vienna (1996).
[2] FOOD AND AGRICULTURE ORGANIZATION OF THE UNITED NATIONS, INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, INTERNATIONAL LABOUR ORGANISATION, OECD NUCLEAR ENERGY AGENCY, PAN AMERICAN HEALTH ORGANIZATION, WORLD HEALTH ORGANIZATION, International Basic Safety Standards for Protection against Ionizing Radiation and for the Safety of Radiation Sources, Safety Series No. 115, IAEA, Vienna (1996).
[3] INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, INTERNATIONAL LABOUR OFFICE, Assessment of Occupational Exposure due to External Sources of Radiation, Safety Standards Series No. RS-G-1.3, IAEA, Vienna (1999).
[4] INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, INTERNATIONAL LABOUR OFFICE, Assessment of Occupational Exposure due to Intakes of Radionuclides, Safety Standards Series No. RS-G-1.2, IAEA, Vienna (1999).
[5] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIOLOGICAL PROTECTION, General Principles for the Radiation Protection of Workers, Publication No. 75, Pergamon Press, Oxford and New York (1997).
[6] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIOLOGICAL PROTECTION, 1990 Recommendations of the International Commission on Radiological Protection, Publication No. 60, Pergamon Press, Oxford and New York (1991).
[7] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIOLOGICAL PROTECTION, INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIATION UNITS AND MEASUREMENTS, Conversion Coefficients for Use in Radiological Protection Against External Radiation, Report of the Joint Task Group, ICRP Publication No. 74, ICRU Rep. No. 57, Pergamon Press, Oxford and New York (1997).
[8] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIATION UNITS AND MEASUREMENTS, Quantities and Units in Radiation Protection Dosimetry, Rep. No. 51, ICRU, Bethesda, MD (1993).
[9] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIATION UNITS AND MEASUREMENTS, Measurement of Dose Equivalents from External Photon and Electron Radiations, Rep. No. 47, ICRU, Bethesda, MD (1992).
[10] INTERNATIONAL LABOUR OFFICE, Radiation Protection of Workers (ionising radiations), and ILO Code of Practice, ILO, Geneva (1987).
[11] INTERNATIONAL COMMISSION ON RADIOLOGICAL PROTECTION, Protection Against Radon-222 at Home and at Work, Publication No. 65, Pergamon Press, Oxford and New York (1993).
[12] UNITED NATIONS SCIENTIFIC COMMITTEE ON THE EFFECTS OF ATOMIC RADIATION, Sources and Effects of Ionizing Radiation: 1993 Report to the General Assembly with Scientific Annexes, United Nations, New York (1993).