• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Proteksi Radiasi

Dalam dokumen Proteksi Radiasi dalam Pekerjaan (Halaman 38-73)

Tujuan

5.1. Program proteksi radiasi (PPR) mungkin berhubungan pada semua fase unjuk kerja atau pada umur dari fasilitas seperti dari rancang bangun hingga proses dekomisioning. Penekanan diberikan dalam bab ini pada aspek operasional PPR. Tujuan umum dari PPR adalah untuk merefleksikan aplikasi dari tanggung jawab manajemen untuk proteksi radiasi dan keselamatan melalui adopsi struktur manajemen, kebijakan, prosedur, dan pengaturan organisasi yang sebanding dengan sifat dan besarnya risiko.

5.2. Meskipun PPR mungkin termasul proteksi pada pekerja dan masyarakat, bab ini fokus hanya pada aspek-aspek yang berkaitan dengan proteksi pada pekerja. Pada banyak unjuk kerja dosis yang diterima oleh pekerja adalah jauh di bawah batasan yang ditetapkan pada BSS, dan hanya sebagian kecil dari tenaga kerja akan dipengaruhi oleh prinsip-prinsip batasan. Penerapan dari prinsip optimasi seharusnya menjadi tenaga pendorong utama dibelakang keberadaan dan penerapan PPR, termasuk dalam banyak kasus menekan untuk menghidari atau mengurangi potensi paparan dan untuk mengantisipasi konsekuensi dari kecelakaan.

5.3. Karakteristik dari keadaan paparan mungkin sangat bervariasi tergantung pada tipe instalasi concerned (mulai dari “instalasi yang sederhana” seperti peralatan inspeksi bagasi di bandara, hingga “instalasi yang rumit” seperti pabrik pemrosesan ulang bahan nuklir), dan pada tahap aktivitas (kontruksi, operasi, perawatan dan dekomisioning). Penting untuk menyakinkan bahwa PPR beradaptasi dengan bagus pada situasi. Maka, langkap awal menuju definisi PPR adalah menampilkan evaluasi radiologi sebelumnya (prior) dari practice atau instalasi. Dalam evaluasi ini, kedua normal dan potesi paparan perlu dipertimbangkan.

Evaluasi Radiologi Dan Pengkajian Keselamatan

5.4. Tujuan dari evaluasi radiologi awal adalah menggambarkan, sepresisi mungkin, situasi yang melibatkan paparan kerja, sebagai langkah awal dari pengembangan PPR. Tingkat usaha, formalitas dan detail evaluasi, dan scrutiny pada apa yang dimasudkan, harus dihubungkan dengan besaran dari paparan rutin dan paparan potensial dan kebolehjadian dari paparan yang berpotensi ini.

5.5. evaluasi radiologi awalharus termasuk, untuk seluruh aspek operasi:

(a) Identifikasi paparan rutin dan paparan potensial

(b) Estimasi yang realistis pada dosis yang relevan dan kebolehjadiannya, (c) Identifikasi dari batasan proteksi radiologi yang diperlukan untuk

memenuhi prinsip optimasi.

5.6. Evaluasi awal akan membantu menentukan apa yang dapat dicapai pada tahap desain untuk menetapkan kondisi kerja yang memuaskan hingga penggunaan dari fitur terekayasa. Beberapa contoh seperti penyediaan penahan, pengungkung, ventilasi dan interlock. Pertimbangan ini harus bertujuan “meminimalkan keperluan yang bergantung pada kontrol administratif dan perlengkapan protektif personal untuk proteksi dan keselamatan selama operasi normal” (ref. [2], para.1.29). Pertimbangan subsequent dapat diberikan pada prosedur dan batasan operasi tambahan yang dapat diimplementasikan untuk mengontrol lebih lanjut paparan yang diterima pekerja. Hanya jika measures ini tidak cukup untuk mencegah semampunya dosis kepada pekerja, evaluasi awal akan jalan terus mempertimbangkan penggunaan alat khusus, peralatan protektif personel dan tugas yang spesifik yang berhubungan dengan pelatihan.

5.7. Dimana authorisasi dengan pendaftaran atau lisensi diperlukan, para, 2.13 pada ref. [2] mensyaratkan person yang akan mendaftar untuk authorisasi membuat kajian dari sifat, besaran dan kemungkinan paparan dan , jika perlu, membuat kajian keselamatan. Kajian keselamatan harus memberikan kontribusi pada desain PPR. Paragraf IV.4-IV.6 pada BSS (Ref. [2[) menyatakan bahwa:

“Kajian keselamatan harus termasuk review yang kritis pada:

(a) sifat dan besaran dari potensi paparan dan kemungkinan kejadiannya; (b) batasan-batasan dan kondisi teknis untuk pengoperasi sumber;

(c) cara dimana struktur, sistem, komponen dan prosedur yang berhubungan dengan proteksi radiasi atau keselamatan dapat gagal, secara sendirian atau kombinasi, atau kebalikan menuju pada potensi paparan, dan konsekuensi dari kegagalan itu.

(d) Cara dimana perubahan pada lingkungan dapat mempengaruhi proteksi atau keselamatan;

(e) Cara dimana prosedur operasi yang berhubungan dengan proteksi atau keselamatan dapat di erroneous, dan konsekuensi dari kesalahan; dan (f) Implikasi dari proteksi dan keselamatan dari beberapa modifikasi yang

diajukan.”

5.8. “Pendaftar atau pemegang lisensi harus mempertimbangkan dalam kajian keselamatan:

(a) faktor-faktor yang dapat memisahkan satu pelepasan bahan radioaktif yang substansial dan ukuran yang tersedia mencegah atau mengontrol pelepasan tersebut, dan aktivitas maksimum bahan radioaktif yang, pada kejadian kegagalan pengungkung, dapat dilepaskan ke atmosfir;

(b) faktor-faktor yang dapat memisahkan pelepasan bahan radioaktif yang lebih kecil tetapi bersifat kontinu dan ukuran yang tersedia mencegah atau mengontrol pelepasan tersebut;

(c) faktor-faktor yang dapat memberikan peningkatan pada operasi yang tidak diinginkan pada berkas radiasi dan ukuran yang tersedia mencegah, mengidentifikasi dan mengontrol kejadian tersebut;

(d) ukuran pada bentuk keselamatan berbeda dan redundan, independen satu sama lainnya sehingga kegagalan salah satu tidak menghasilkan kegagalan lainnya, dalam rangka melarang kebolehjadian dan besarnya potensi paparan.”

5.9. “Kajian Keselamatan harus didomentasikan dan, jika sesuai, direview secara independen dengan program jaminan kualitas yang relevan. Review tambahan harus dilakukan seperlunya untuk meyakinkan bahwa spesifikasi teknik atau kondisi penggunaan terus dipenuhi kapapun:

(a) modifikasi yang signifikan pada sumber atau pembangkit sumber atau pengoperasian sumber atau prosedur perawatan divisualisasikan;

(b) Pengalaman operasi, atau informasi lainnya tentang kecelakaan, kegagalan, kesalahan atau kejadian lainya yang dapat menuju pada potensi paparan menindikasikan bahwa kajian saat ini mungkin tidak valid; dan

(c) Perubahan yang signifikan dalam aktivitas, atau perubahan yang relevan dalam petunjuk atau standar, divisualisasikan atau telah dibuat.”

Cakupan Dan Struktur Dari Program Proteksi Radiologi

5.10. PPR meliputi elemen-elemen utama yang meberi kontribusi pada proteksi dan keselamatan, dan maka PPR adalah faktor kunci untuk pengembangan suatu budaya keselamatan, “mendorong suatu perilaku pembelajaran dan keingintahuan pada proteksi dan keselamatan dan menghilangkan kepuasan sendiri” (Ref. [2], para. 2.28). Pengembangan suatu budaya keselamatan tergantung pada komitmen manajemen.

5.11. Apapun situasinya, struktur dasar PPR harus dokumen, dengan suatu suatu tingkat yang rinci:

Pelimpahan tanggungjawab untuk proteksi radiasi dan keselamatan kerja pada tingkatan manajemen yang berbeda, termasuk pengaturan organisasi yang saling berhubungan dan, jika dapat diterapkan (sebagai contoh, dalam kasus pekerja yang berpindah-pindah), alokasi tanggungjawab antara pekerja, pendaftar dan pemegang lisensi;

(a) Penentuan daerah terkontrol dan supervised;

(b) Peraturan lokal untuk pekerja mengikuti dan supervisi kerja;

(c) Pengaturan untuk memonitor pekerja dan tempat kerja, termasuk akuisisi dan perawatan instrumen proteksi radiasi;

(d) Sistem untuk merekam dan melaporkan seluruh informasi yang relevan terkait pada kontrol paparan, keputusan berkaitan dengan ukuran standar untuk proteksi radiasi kerja dan keselamatan, dan pemantauan perorangan;

(e) Program pendidikan dan pelatihan pada sifat bahaya, proteksi dan keselamatan;

(g) Rencana yang harus diimplementasikan dalam kejadian intervensi (didiskusikan pada Section 6);

(h) Program surveillance kesehatan (didiskusikan pada Section 7);

(i) Persyaratan untuk jaminan kualitas dan peningkatan proses seperti digambarkan pada paragraf 5.101 – 2.111.

Pelimpahan TANGGUNGJAWAB

5.12. Untuk memenuhi tanggung jawab mereka mengenai penetapan dan implementasi dari standard teknik dan organisasi yang diperlukan untuk memastikan proteksi dan keselamatan, pemegang lisensi dan registrant “boleh menunjuk orang lain menyelesaikan tindakan atau pekerjaan terkait dengan tanggung jawab ini, tetapi mereka harus menjaga tanggung jawab untuk tindakan dan pekerjaan mereka. Registrant dan pemegang lisensi harus menindentifikasi secara khusus orang yang bertanggung jawab untuk memastikan penerapan standar (Ref. [2], para 2.15). Tanggung jawab untuk implementasi PPR dalam suatu organisasi harus dialokasi oleh manajemen pada staf yang sesuai. Pertanggung jawaban setiap level hirarkhi, dari top manajer hingga pekerja, sesuai setiap aspek PPR harus dijelaskan secara gamblang dan didokumentasikan dalam pernyataan kebijakan tertulis untuk memastikan bahwa semua sadar akan hal itu. Petugas proteksi radiasi harus ditunjuk, bila perlu oleh badan regulasi, ntuk mengecek aplikasi persyaratan regulasi.

5.13. Struktur organisasi harus merefleksikan pemindahan tanggung jawab, dan komitmen organisasi pada proteksi radiasi dan keselamatan. Struktur manejemen harus memfasilitasi kerjasama antara beberapa perorangan yang terlibat. PPR harus didesain dalam cara tertentu bahwa informasi relevan disediakan pada perorangan yang berfungsi beberpa aspek pekerjaan.

5.14. Dalam rangka koordinasi pembuatan kebijakan perihal pemilihan standar/measures proteksi, mungkin sesuai, tergantung pada ukuran organisasi, membuat saru komite khusus denag wakil-wakil dari department yang berkaitan dengan paparan kerja. Peran utama dari komite ini akam memberikan saran kepada manajer PPR senior. Maka anggota komite harus termasuk staf manajemen dari departemen dan pekerja yang sesuai dengan

pengalaman lapangan. Fungsi dari komite harus menjelaskan tujuan utama PPR secara umum, dan proteksi radiasi secara operasi khususnya, mensyahkan sasaran proteksi, membuat proposal berkenaan dengan pemilihan measures proteksi dan memberikan rekomendasi kepada manajemen berkaitan dengan sumber daya, metode dan alat yang harus ditetapkan untuk memenuhi PPR.

5.15. Paragraf 2.31 dalam BSS (Ref. [2]) menyatakan bahwa “Ahli yang memenuhi kulifikasi harus diindetifikasi dan tersedia untuk memberikan saran pada observant standar.” Khusunya, ahli yang berkualitas dalam proteksi radiasi harus didentifikasi dan bersedia memberikan saran pada berbagai isu, termasuk optimasi proteksi dan keselamatan.

Akuntabilitas sumber radioaktif

5.16. BSS (Ref. [2], para .IV.17) menyatakan bahwa:

“Registrant” dan pemegang lisensi harus menjaga sistem akuntabilitas yang termasuk rekaman-rekaman:

(a) lokasi dan diskripsi setiap sumber dimana mereka bertanggung jawab; dan

(b) aktivitas dan form setiap bahan radioaktif dimana mereka bertanggung jawab.”

Tambahan, pertimbangan perlu diberikan pada rekaman yang sedang disimpan pada instruksi khusus untuk setiap bahan radioaktif yang dipegang dan detai penyimpanan sumber.

KLASIFIKASI AREA

5.17. Manajemen harus mempertimbangkan pengklasifikasi area kerja kapanpun ada paparan okupsi radiasi. Area ini harus didefinisikan dengan jelas sebagai bagiab dari PPR, dan klaifikasinya harus hasil dari evaluasi radiologi awal yang tertera di atas. Dua tipe area dapat didefinisikan: area terkontrol dan area termonitor.

Area terkontrol/Pengendalian

5.18. BSS {Ref. [2], para.1.21) menyatakan bahwa:

“Registrant dan pemegang lisensi harus menentukan area terkontrol, area dimana aturan pencegahan dan pernyataan keselamatan diperlukan untuk:

(a) pengendalian paparan normal atau pencegahan penyebarab contaminasi saat kondisi kerja normal, dan

(b) Pencegahan atau pembatasan pada perluasan potensi paparan. 5.19. BSS {Ref. [2], para.1.22) menyatakan bahwa:

“Dalam menentukan batas area terkontrol, pemegang lisensi harus menentukan besaran dari paparan normal yang diharapkan, kemungkinan dan besarnya potensi paparan, dan karakter dan perluasan prosedur proteksi dan prosedur keselamatan yang ditentukan.”

5.20. Dalam keadaan khusus, suatu area ditentukan sebagai area terkontrol jika manajemen menganggap bahwa ada satu kepentingan mengadopsi kontrol secara prosedur untuk memastikan tingkat optimasi proteksi dan tindakan yang sesuai dengan batasan dosis yang relevan. Penentuan area adalah terbaik berdasarkan pada pengalaman operasional dan keputusan yang objektif. Dalam area dimana problem contaminasi oleh bahan radioaktif terbuka tidak ada, area yang ditentukan (terkontrol) dapat kadang-kadang digambarkan dalam term laju dosis di batas area. Nilai laju dosis yang berdasarkan pada bagian dari batas dosis yang relevan sering digunakan pada masa lalu untuk menggambarkan batas-batas dari area terkontrol. Suatu pendekatan mungkil masih sesuai, tetapi itu tidak digunakan tanpa evaluasi yang hati-hati. Sebagai contoh, ketentuan harus diambil jangka waktu untuk area yang laju dosis tetap pada atau diatas level yang ditentukan dan risiko fari potensi paparan.

5,21. Bekerja dengan sumber terbuka dapat menyebabkan contaminasi di udara dan permukaan, dan unu dapat menyebabkan masuknya bahan radioaktif kedalam tubuh pekerja. Suatu kontaminasi secara umum akan berhenti dan muncul lagi, dan secara normal tidak akan mungkin mengendalikan masuknya bahan radaioaktif dengan hanya bergantung pada

desain fitur, khususnya dalam kejadian kecelakaan. Maka prosedur operasional perlu untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan masuknya bahan radioaktif, dan area terkontrol/pengendalian akan perlu ditetapkan.

5.22. Tetapi area pengendalian mungkin tidak perlu ditetapkan dimana hanya sangat sedikit bahan radioaktif terbuka digunakan, serti untuk studi tracer di laboratorium penelitian. Area pengendalian mungkin juga tidak perlu bila hanya bahan dengan konsentrasi aktivitas rendah dari radionuklida alam (lihat para. 2.27) digunakan.

5.23 BSS {Ref. [2], para.1.22) menyatakan bahwa: “Registrant dan Pemegang lisensi harus:

(a) menetapkan area pengendalian dengan cara fisik atau, dimana ini tidak dapat diterapkan, dengan beberapa cara yang cocok;

(b) dimana sumber radiasi dipakai dalam operasi hanya secara tidk terus menerus atau dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, menetapkan area pengendalian yang sesuai dengan cara yang semestinya karena kondisi dan menentukan waktu paparan;

(c) menempelkan simbul peringatan, seperti yang direkomendasikan oleh International Organization for Srandardization (ISO) dan instruksi yang tepat pada pintu masuk dan lokasi lain yang di dalam area pengendalian;

(d) menetapkan aturan proteksi dan keselamatan untuk pekerja, termasuk aturan dan prosedur lokal yang tepat untuk area pengendalian;

(e) membatasi akses ke area pengendalian dengan cara prosedur administrasi, seperti penggunaan izin kerja, dan dengan rintangan fisik, yang termasuk lock dan interlock; tingkat pembatasan yang biasa disepakati dengan besar dan kemungkinan paparan yang diantisipasi; (f) menyediakan, setepat mungkin, pada pintu masuk area pengendalian:

(i) Pelaratan dan pakaian proteksi; (ii) Peralatan pemantauan; dan

(iii) Ruang penyimpanan untuk pakaian personel;

(g) menyediakan, setepat mungkin, pada pintu kelua area pengendalian (i) peralatan untuk pemantauan kontaminasi kulit dan pakaian;

(ii) peralatan untuk pemantauan kontaminasi barang yang dipindahkan dari area;

(iii) fasilitas cuci dan mandi;

(iv) Ruang penyimpanan untuk pakaian proteksi dan perlatan yang terkontaminasi; dan

(h) mereview secara periodik kondisi untuk menentukan kebutuhan yang mungkin untuk merevisi aturan proteksi dan keselamatan, atau batas-batas area pengendalian.

5.24. Tanda pada pintu masuk area pengendalian harus dipakai untuk memberikan indikasi kepada karyawan, khususnya staf perawatan, bahwa prosedur khusus berlaku di dalam area dan sumber radiasi kemungkinan ada.

5.25. Dalam merangcang area pengendalian, manajemen dapat menggunakan batas-batas fisik yang telah ada, seperti tembok ruangan atau gedung. Dapat berarti bahwa area akan lebih besar dari yang diperlukan pada dasar pertibangan proteksi radiasi saja.

Area pengawasan

5.26. BSS {Ref. [2], para.1.24) menyatakan bahwa:

“Registrant dan pemegang lisensi harus menentukan sebagai area pengawas, area yang tidak ditentukan sebagai area pengendalian tetapi dimana kondisi paparan terhadap pekerja perlu dijaga dibawah yang ditentukan meskipun aturan proteksi dan keselamatan yang spesifik secara normal tidak diperlukan.

5.27. BSS {Ref. [2], para.1.25) menyatakan bahwa:

“Registrant dan pemegang lisensi harus menentukan karakter dan perluasan bahaya radiasi di dalam area pengawasan:

(a) Menetukan area pengawasan dengan sarana yang memadai;

(b) Menunjukkan tanda-tanda yang telah disetujui pada pintu akses yang tepat pada area pengawasan; dan

(c) Mereview secara periodik kondisi untuk menetukan adanya kebutuhan untuk sarana proteksi dan provisi keselamatan atau perubahan pada batas-batas area pengawas

5.28. Maka tujuan utama dari area pengawasan adalah menentukan bagian-bagian dari tempat kerja yang harus menjasi subjek pada review reguler dari kondisi radiologi untuk menetukan akapah status area harus diubah atau tidak –sebagi hasil dari lingkungan yang tidak diketahui dalan evaluasi radiologi awal– atau apakah ada beberapa penguraian kontrol, apakah di dalam desain fitur atau dalam prosedur yang beroperasi pada sebelah area pengendalian. Secara normal, review kondisi radiologi akan terdiri atas program pemantauan regular pada area dan, dalam beberapa kasus, perorangan yang bekerja di dalamnya. Tidak secara otomatis perlu membuat area pengawasan disekitar area pengendalian, sebagaimana disyaratkan yang berlaku di dalam area pemgendalian yang telah ditentukan mungkin lebih dari cukup.

5.29. Sebagaimana dengan area pengendalian, definisi area pengawasan adalah terbaik berdasarkan pada pengalaman operasional dan keputusan yang tepat tetapi, sekali lagi, pemggunaan laju dosis sipakai sebagai penentu batas area. Sasaran yang sesuaiakan memastikan bahwa pekerja yang terkena paparan diluar area yang telah ditentukan harus menerima tingkat proteksi yang sama sebagaimana mereka adalah masyarakat umum. Ini akan mengindikasikan penggunaan laju dosis berdasarkan pada dosis efektif 1 mSv dalam satu tahun sebagai sarana menentukan batas luar area pengawasan. Lebih lanjut, sebagaimana dengan area pengendalian, mungkin tepat menggunakan batas-batas fisik yang telah ada bila menentukan area pengawasan (lihat para. 5.25).

5.30. Meskipun mungkin tepat untuk batas-batas area pengawasan ditandai dengan tanda-tanda, ini mungkin tidak selalu perlu atau produktif. Sebagai contoh, mungkin perlu menentukan area pengawasan in beberpa bagian rumah sakit yang mana masyarakat mempunyai akses; tanda-tanda pada pintu masuk area tersebut mungkin menimbulkan perhatian yang tidak perlu.

5.31. Kondisi di dalam area pengawasan harus sedemikian rupa bahwa karyawan dapat masuk dengan jumlah formalitas yang minimum.

ATURAN LOKAL, SUPERVISI AND PERALATAN PROTEKSI

PERORANGAN

5.32. Aturan lokal, yang menggambarkan struktur organisasi dan prosedur harus diikuti di dalam area pengendalian, harus dibuat oleh manajemen dan tertulis. Aturan harus dipajang atau mudah dibaca di dalam tempat kerja. Secara spesifik (Ref. [2], paras I.26 dan I.27):

“Penguasaha, registrant dan pemegang lisensi harus, dalam konsultasi dengan pekerja, melalui perwakilannya jika ada:

(a) menetapkan secara tertulis aturan lokal dan prosedur tertentu sesuai keperluan untuk memastikan tingkat-tingkat yang mencukupi dari proteksi dan keselamatn pekerja dan orang lain;

(b) memasukkan dalam aturan dan prosedur lokal, nilai-nilai pada tingkat investigasi yang relevan atau tingkat yang telah disyahkan, dan prosedur yang harus diikuti dalam kejadian yangmana nilai tertenti terlewati;

(c) membuat aturan dan prosedur lokal dan aturan protektif dan keselamatan provisi yang diketahui oleh pekerja yang menggunakan dan orang lain yang mungkin terkena efeknya;

(d) memastikan bahwa pekerjaan yang menyebagkan paparan kerja harus diawasi secara baik dan mengambil langkah-langkah yang wajar untuk memastikan bahwa aturan, prosedur, sarana proteksi dan provisi keselamatan diikuti; dan

bila diperlukan oleh badan regulasi, ditunjuk petugas proteksi radiasi.”

5.33 “Pengusaha instalasi, bekerjasama dengan registrant dan pemegang lisensi, harus:

(a) menyediakan informasi yang memadai kepada seluruh pekerja tentang risiko kesehatan karena paparan untuk pekerja, apakah paparan normal atau potensi paparan, instruksi dan pelatihan yang memadai tentang proteksi dan keselamatan, dan informasi yang memadai tentang signifikansi proteksi dan keselamatan dari kegiatan mereka;

(b) menyediakan pada pekerja wanita yang dapat memasuki area pengendalian atau pengawasan informasi yang memadai pada:

(ii) penting for pekerja wanita memberitahu pengusaha instalasi secepat mungkin dia mengira bahwa dia hamil; dan

(iii) resiko thd bayi yang mengisap bahan radioaktif melalui air susu ibu;

(c) menyediakan kepada pekerja yang dapat terpengaruh oleh rencana kedaruratan informasi yang memadai, instruksi dan pelatihan; dan

(d) menyimpan rekaman pelatihan yang diberikan kepada pekerja secara perorangan.”

Manajemen harus mengalihkan pertanggungjawaban untuk supervisi pekerjaan. Supervisi ini harus dicoba untuk memastikan bahwa semua aturan proteksi dan keselamatan yang diperlukan telah diterapkan saat bekerja.

5.34 Bila kontrol terekayasa dan operasional adalah tidak cukup untuk memberikan tingkat optimasi proteksi untuk tugas-tugas yang harus dijalankan, peralatan proteksi personel harus dipakai. Bila aturan pengurangan paparan yang menggunakan peralatan proteksi akan dipertimbangkan, perhatian harus diambil thd kemungkiman paparan yang bertambah karena penundaan atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh penggunaan peralatan (Ref. [2], para. I.28):

“Pengusaha instalasi, pemegang lisensi harus memastikan bahwa:

(a) pekerja dilengkapi dengan peralatan proteksi personil yang memadai yang memenuhi standard atau spesifikasi yang ditentukan, termasuk se tepat mungkin:

(i) pakaian proteksi;

(ii) peralatan pernafasan yang ptotektif yang mana karakteristik proteksi diberitahukan kepada pengguna; dan

(iii) apron dan sarung tangan proteksi serta penahan untuk organ; (b) bila memungkinkan, pekerja menerima instruksi yang memadai dalam

penggunaan yang benar dari peralatan proteksi pernafasan, termasuk pengetesan untuk kenyamanan;

(c) tugas yang memerlukan penggunaan beberapa peralatan proteksi personel yang khusus harus diberikan hanya kepada pekerja, yang berdasarkan saran medis, mampu bertahan secara aman perlu usaha ekstra;

(d) seluruh peralatan proteksi personel dijaga dalam kondisi yang sesuai dan bila perlu dicoba setiap interval waktu tertentu;

(e) peralatan proteksi personel yang sesuai dijaga dari penggunaan dalam kejadian intervensi; dan

5.35 Jika penggunaan peralatan proteksi personel dipertimabangkan untuk tugas yang diberikan, kehati-hatian harus diambil dari paparan tambahan yang dapat menghasilkan kekurangan/hutang pada tambahan waktu dan ketidaknyamanan, dan tambahan resiko non-radiologi yang mungkin berkaitan/berbarengan dengan menjalankan tugas sambil menggunakan peralatan proteksi,”

PERENCANAAN KERJA DAN PERIZINAN KERJA RADIASI

5.36. Bila suatu operasi harus dilaksanakan saat dimana radiasi yang signifikan atau level kontaminasi mungkin dihadapi, atau omplementasi dari kompleks (melibatkan beberapa kelompok dan banyak aktivitas), perencanaan kerja lebih awal adalah salah satu sarana terpenting dalam mencapai optimasi proteksi. Petuga proteksi radiasi harus mengambil bagian dalam perencanaan suatu aktivitas yang melibatkan paparan yang signifikan, dan harus memberikan saran pada kondisi yang mana pekerjaan dapat diolakukan dalam area pengendalian. Situasi dimana garansi penggunaan rencana kerja yang detail dan izin kerja unumnya dihadapi dalam industri nuklir, tetapi mungkin juga ditemui dalam industri non-nuklir (seperti dalam perawatan atau pembongkaran

Dalam dokumen Proteksi Radiasi dalam Pekerjaan (Halaman 38-73)

Dokumen terkait