• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Keuangan Daerah

Dalam dokumen TESIS. LIA AGUSTINA / Akt. Oleh (Halaman 40-45)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4 Pengawasan Keuangan Daerah

Menurut Terry (2003), pengertian pengawasan (controlling) dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan bilamana perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras dengan standar. Secara khusus, pengawasan keuangan pada manajemen publik didefinisikan sebagai pengawasan keuangan daerah yang merupakan proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintahan daerah berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2010). Secara lebih terperinci, maka kegiatan pengawasan dilakukan dengan melaksanakan penilaian terhadap ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan; efisiensi dan kehematan dalam penggunaan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan organisasi (SKPD); dan efektivitas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Melalui pengawasan diharapkan dapat tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan, sejauh mana kebijakan pimpinan dijalankan, dan sampai sejauh mana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.

Dalam kaitannya dengan akuntabilitas publik, pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah pengawasan terhadap kinerja

pemerintah daerah dan kinerja DPRD, sebab pengawasan merupakan salah satu cara untuk membangun dan menjaga legitimasi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dengan menciptakan suatu sistem pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern (internal control) maupun pengawasan ekstern (external control).

Menurut Arfianti (2011), jenis-jenis pengawasan yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah sebagai berikut:

a. Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.

Pengawasan intern dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control), atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh Inspektorat Jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.

b. Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini, di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun.

Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah.

Berkaitan dengan penjabaran di atas, pelaksana pengawasan intern di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dilakukan oleh Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang selaku pengawas/auditor internal, sedangkan

pengawasan ekstern dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Aceh.

Selain jenis pengawasan di atas, terdapat pula sifat-sifat dari pengawasan yang berkaitan dengan waktu pelaksanaannya, antara lain:

a. Pengawasan preventif merupakan pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan negara/daerah yang akan membebankan serta merugikan negara/daerah lebih besar.

Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan mulai dari perencanaan dan beriringan dengan pelaksanaan kegiatan, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal.

b. Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu selesai dilakukan. Pengawasan ini biasanya dilakukan pada akhir tahun anggaran. Pada saat itu, anggaran telah selesai direalisasikan dan disampaikan laporan pertanggungjawabannya, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dan pengawasan yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.

Menurut Mardiasmo (2005), terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak di luar eksekutif, yaitu masyarakat, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Lembaga lain baik di pusat maupun daerah untuk mengawasi kinerja pemerintahan. Pengendalian (control) adalah mekanisme yang dilakukan

oleh eksekutif untuk menjamin bahwa sistem dan kebijakan manajemen dilaksanakan dengan baik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Sedangkan pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki independensi dan memiliki kompetensi profesional untuk memeriksa apakah hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Dalam menjalankan pengawasan keuangan daerah berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparatur Pengawasan Intern Pemerintahan, pengawas atau auditor dituntut untuk memiliki pemahaman atas sistem pengendalian intern auditi dan mempertimbangkan apakah prosedur-prosedur sistem pengendalian intern telah dirancang dan diterapkan secara memadai. Pemahaman atas rancangan sistem pengendalian intern digunakan untuk menentukan saat dan jangka waktu serta penentuan prosedur yang diperlukan dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, auditor harus memasukkan pengujian atas sistem pengendalian intern auditi dalam prosedur auditnya.

Tak terlepas dari sistem pengendalian intern pemerintahan yang berpedoman pada PP No.60 Tahun 2008 tentang pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi juga menjadi fungsi penting dalam target pengawasan keuangan daerah. Seperti yang tercantum pada pasal 21, kegiatan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi dilakukan untuk memastikan akurasi dan kelengkapan informasi. Kegiatan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi itu sendiri meliputi:

a. pengendalian umum, yang terdiri dari: pengamanan sistem informasi, pengendalian atas akses, pengendalian atas pengembangan dan perubahan

perangkat lunak aplikasi, pengendalian atas perangkat lunak sistem, pemisahan tugas dan kontinuitas pelayanan.

b. pengendalian aplikasi, terdiri dari: pengendalian otorisasi, pengendalian kelengkapan, pengendalian akurasi, pengendalian terhadap keandalan pemrosesan dan file data.

Semua hal mengenai pengendalian terhadap pemanfaatan teknologi informasi di atas seyogiyanya memiliki tujuan agar sumber daya yang ada yaitu berupa fasilitas teknologi yang menunjang proses pengelolaan keuangan dapat digunakan secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan laporan keuangan yang akurat, handal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengawasan keuangan daerah juga erat kaitannya dengan komitmen dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia, sebab dengan menempatkan aparat pengelola keuangan daerah yang tepat, maka akan berdampak besar pula pada kinerja pemda secara keseluruhan, terutama dalam pengelolaan keuangan daerah. Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, bahwa sumber daya manusia merupakan penggerak sistem yang akan menentukan berkualitas atau tidaknya suatu output. Pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi harus ditunjang oleh kompetensi sumber daya manusia yang memadai. Hal tersebut juga tidak terlepas dari sasaran pengawasan keuangan daerah, tercantum dalam PP No.60 Tahun 2008 yaitu pada pasal 6 yang menyatakan bahwa komitmen terhadap kompetensi dilakukan dengan:

a. mengidentifikasi dan menetapkan kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan fungsi pada masing-masing posisi dalam Instansi Pemerintah;

b. menyusun standar kompetensi untuk setiap tugas dan fungsi pada masing-masing posisi dalam Instansi Pemerintah;

c. menyelenggarakan pelatihan dan pembimbingan untuk membantu pegawai mempertahankan dan meningkatkan kompetensi pekerjaannya; dan

d. memilih pimpinan Instansi Pemerintah yang memiliki kemampuan manajerial dan pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan Instansi Pemerintah.

Berdasarkan beberapa teori dan peraturan yang berkaitan erat dengan pengawasan keuangan daerah di atas, maka peneliti pun dapat mengemukakan hipotesis bahwa pengawasan keuangan daerah dapat menjadi variabel pemoderasi yang mampu mempengaruhi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan.

Dalam dokumen TESIS. LIA AGUSTINA / Akt. Oleh (Halaman 40-45)

Dokumen terkait