• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. LIA AGUSTINA / Akt. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. LIA AGUSTINA / Akt. Oleh"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

(STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

TESIS

Oleh

LIA AGUSTINA 137017044 / Akt

MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015

(2)

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

(STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains

dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

Oleh

LIA AGUSTINA 137017044 / Akt

MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015

(3)

Judul Tesis :

Nama Mahasiswa : Lia Agustina Nomor Pokok : 137017044 Program Studi : Akuntansi

Menyetujui Komisi Pembimbing,

Tanggal Lulus : 29 Juni 2015

(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis,MAFIS,MBA,CPA) Ketua

(Drs.Firman Syarif,M.Si,Ak,CA) Anggota

Ketua Program Studi,

(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis,MAFIS,MBA,CPA)

Dekan,

(Prof.Dr.Azhar Maksum,M.Ec,Ac,Ak,CA) PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

(4)

PERNYATAAN

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

(STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul : “PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)” adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.

Medan, 29 Juni 2015 Yang Membuat Pernyataan,

Lia Agustina

(5)

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

(STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusiasecara parsial dan simultan terhadap kualitas laporan keuangan 2) pengawasan keuangan daerah mampu menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang lokasi penelitiannya dilakukan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk periode tahun 2014 dengan waktu penelitian pada bulan April 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 130 responden di bidang akuntansi/bagian keuangan dari 46 SKPK di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui teknik purposive sampling. Untuk analisis data dilakukan dengan uji reliabilitas dan validitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda serta uji residualdengan bantuan program SPSS.Hasil dari penelitian ini adalah 1) pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia secara parsial dan simultan berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan, dan 2) pengawasan keuangan daerah mampu menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Kata Kunci: Pengendalian intern, teknologi informasi, sumber daya manusia, pengawasan, laporan keuangan.

(6)

THE INFLUENCE OF INTERN CONTROL, THE USE OF INFORMATION TECHNOLOGY AND THE COMPETENCE OF HUMAN RESOURCES

ON THE QUALITY OF FINANCIAL STATEMENT WITH REGIONAL FINANCIAL CONTROL AS

MODERATING VARIABLE

(A CASE STUDY IN ACEH TAMIANG DISTRICT ADMINISTRATION)

ABSTRACT

The objective of the study was to find out 1) the influence of intern control, the use of information technology, and competence of human resources, partially and simultaneously, on the quality of financial statement, regional financial control was able to become moderating variable for the correlation of intern control, the use of information technology, and the competence of human resources with the quality of financial statement. The research used quantitative method. It was conducted at Aceh Tamiang District Admistration for the period of 2014 in April, 2015. The data were gathered by distributing questionnaires to 130 respondents in the Accounting/Finance departement from 46 SKPK in Aceh Tamiang District Administration, using purposive sampling technique. The data were analyzed by using reliability and validity tests, classic assumption test, multiple linear regression tests, and residual test with an SPSS software program.

The results of the research showed that 1) intern control, the use of information technology, and competence of human resources, partially and simultaneously, had positive and significant influence the quality of financial statement, and 2) regional financial control was able to become moderating variable for the correlation of inten control, the use of information technology, and competence of human resources with the quality of financial statement in Aceh Tamiang District Administration.

Keywords: Intern Control, Information Technology, Human Resources, Control, Financial Statement.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Pengendalian Intern, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Dengan Pengawasan Keuangan Daerah Sebagai Variabel Pemoderasi (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang)” sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Selama penelitian tesis ini, peneliti telah banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Sublihar, MA, Ph.D, selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M. Ec, Ac, Ak, CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, selaku Ketua Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara sekaligus Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan masukan kepada peneliti dalam penelitian tesis ini.

4. Bapak Drs. Firman Syarif, M. Si, Ak, CA, selaku Komisi Pembimbing yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan masukan kepada peneliti dalam penelitian tesis ini.

5. Bapak Dr. HB. Tarmizi, SU, selaku Komisi Pembanding yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada peneliti dalam penelitian tesis ini.

6. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M. Si, Ak, CA,selaku Komisi Pembanding yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada peneliti dalam penelitian tesis ini.

(8)

7. Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak, CA, selaku Komisi Pembanding yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada peneliti dalam penelitian tesis ini.

8. Suami peneliti, Al Bittar, ST, yang telah setia mendampingi, memberi dukungan semangat, cinta dan doanya di segala kondisi yang peneliti hadapi.

9. Kedua Orang Tua peneliti, Papa H. Firzal Arifin dan Ibu Hj. Warnery Azhar, Kedua Mertua peneliti, (Alm.) Abah Thamrin Dja’far dan Mamak Hj. Siti Maryam serta seluruh Keluarga Besar yang telah banyak memberikan limpahan doa, motivasi, semangat serta kasih sayang yang tak ternilai.

10. Rekan-rekan seperjuangan, Kak Citra Dewi, Kak Derita, seluruh rekan-rekan mahasiswa di magister ekonomi, atasan dan rekan-rekan kerja di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Aceh Tamiang, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah berjasa membantu peneliti selama menyelesaikan pendidikan di Magister Akuntansi FEB Universitas Sumatera Utara. Tanpa kehadiran kalian semua, mungkin peneliti tidak akan mampu mencapai tahapan sejauh ini.

Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna, sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Akhir kata peneliti mengharapkan semoga Allah SWT melimpahkan rezeki dan karunia-Nya, sehingga tesis ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan pembaca dan peneliti.

Medan, 29 Juni 2015 Peneliti,

Lia Agustina

(9)

RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Lia Agustina

2. Tempat, Tanggal Lahir : Lhokseumawe, 9 Agustus 1982 3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Agama : Islam 5. Orang Tua

a. Ayah : H. Firzal Arifin b. Ibu : Hj. Warnery Azhar

6. Alamat : Dusun Damai, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru,

Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

7. Pendidikan

a. Tahun 1987-1988 : Taman Kanak-kanak II Taman Siswa LNG Arun Lhokseumawe, Aceh.

b. Tahun 1988-1994: SD Taman Muda II Taman Siswa LNG Arun Lhokseumawe, Aceh.

c. Tahun 1994-1997: SMP Taman Dewasa II Taman Siswa LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh.

d. Tahun 1997-1999 : SMA Taman Madya Taman Siswa LNG Arun Lhokseumawe, Aceh.

e. Tahun 1999-2000 : SMAN 1 Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

f. Tahun 2000-2005 : S 1 Akuntansi,Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Bandung (UNISBA), Jawa Barat.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah... 9

1.3 Tujuan Penelitian... 10

1.4 Manfaat Penelitian... 10

1.5 Originalitas... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 13

2.1 Landasan Teori... 13

2.1.1 Pengendalian Intern... 13

2.1.2 Pemanfaatan Teknologi Informasi... 17

2.1.3 Kompetensi Sumber Daya Manusia... 19

2.1.4 Pengawasan Keuangan Daerah………... 24

2.1.5 Kualitas Laporan Keuangan... 29

2.2 Review Peneliti Terdahulu (Theoritical Mapping)…..… 34

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS... 40

3.1 Kerangka Konsep... 40

3.2 Hipotesis... 41

BAB IV METODE PENELITIAN... 43

4.1 Jenis Penelitian... 43

4.2 Lokasi Penelitian dan Jadwal Penelitian... 43

4.3 Populasi dan Sampel... 44

4.4 Metode Pengumpulan Data... 46

4.5 Definisi Operasional dan Metode PengukuranVariabel... 47

4.6 Metode Analisis Data... 52

4.6.1 Uji Validitas dan Reliabilitas... 52

4.6.2 Uji Asumsi Klasik... 53

4.6.3 Uji Hipotesis... 54

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 57

5.1 Hasil Penelitian... 57

5.1.1 Karakteristik Data Penelitian... 57

5.1.2 Karakteristik Responden Penelitian... 58

5.1.3 Statistik Deskriptif... 62

(11)

5.1.4.1 Hasil Uji Validitas

Instrumen Penelitian... 63

5.1.4.2 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian... 65

5.1.5 Uji Asumsi Klasik... 66

5.1.5.1 Uji Normalitas... 66

5.1.5.2 Uji Multikolonieritas... 67

5.1.5.3 Uji Heteroskedastisitas... 68

5.1.6 Uji Hipotesis…... 69

5.1.6.1 Hasil Uji Hipotesis Pertama... 70

5.1.6.2 Hasil Uji Hipotesis Kedua... 72

5.1.7 Pembahasan Hasil Penelitian... 73

5.1.7.1 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis Pertama... 73

5.1.7.2 Pembahasan Uji Hipotesis Kedua... 77

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 79

6.1 Kesimpulan... 79

6.2 Keterbatasan... 80

6.3 Saran... 81

DAFTAR PUSTAKA……… 83

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Opini Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tamiang... 8

Tabel 2.2 Review Penelitian Terdahulu (Theoritical Mapping)... 36

Tabel 4.3 Data Sampel Penelitian... 45

Tabel 4.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel... 50

Tabel 5.1.1 Pengumpulan Data... 57

Tabel 5.1.2 Karakter Data Penelitian... 58

Tabel 5.1.3 Hasil Uji Deskriptif... 62

Tabel 5.1.4.1 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian... 64

Tabel 5.1.4.2 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian... 65

Tabel 5.1.5.1 Uji Normalitas... 66

Tabel 5.1.5.2 Uji Multikolonieritas... 68

Tabel 5.1.6.1 Pengujian Goodness of Fit... 69

Tabel 5.1.6.1.1 Uji F... 70

Tabel 5.1.6.1.2 Uji t... 71

Tabel 5.1.6.2.1 Uji Residual (Pemoderasi) - Z... 72

Tabel 5.1.6.2.2 Uji Residual (Pemoderasi) - │e│... 72

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1.a Kerangka Konsep Sebelum Uji Faktor... 40 Gambar 3.1.b Kerangka Konsep Setelah Uji Faktor... 41 Gambar 5.1.5.1 Normal Probability Plot of Regression

Standarized Residual... 67 Gambar 5.1.5.3 Scatterplot Uji Heteroskedastisitas... 69

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Daftar Populasi dan Sampel SKPK Pemkab. Aceh Tamiang... 88

Lampiran 2 Daftar Rincian Jumlah Responden yang Berkaitan dengan Pengumpulan Data Kuesioner Pemkab. Aceh Tamiang Tahun 2015………... 90

Lampiran 3 Uji Faktor Sebelum Penelitian……….. 92

Lampiran 4 Statistik Deskriptif……… 95

Lampiran 5 Uji Validitas………... 96

Lampiran 6 Uji Reliabilitas………...……… 101

Lampiran 7 Uji Asumsi Klasik…....………... 104

Lampiran 8 Uji Hipotesis I...……….... 107

Lampiran 9 Uji Hipotesis II...……….. 108

Lampiran 10 Tabel r Product Moment………... 110

Lampiran 11 Tabel t Product Moment………... 111

Lampiran 12 Kuesioner Penelitian………. 112

(15)

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN, PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA

TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

(STUDI PADA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG)

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusiasecara parsial dan simultan terhadap kualitas laporan keuangan 2) pengawasan keuangan daerah mampu menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang lokasi penelitiannya dilakukan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk periode tahun 2014 dengan waktu penelitian pada bulan April 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 130 responden di bidang akuntansi/bagian keuangan dari 46 SKPK di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui teknik purposive sampling. Untuk analisis data dilakukan dengan uji reliabilitas dan validitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda serta uji residualdengan bantuan program SPSS.Hasil dari penelitian ini adalah 1) pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia secara parsial dan simultan berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan, dan 2) pengawasan keuangan daerah mampu menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Kata Kunci: Pengendalian intern, teknologi informasi, sumber daya manusia, pengawasan, laporan keuangan.

(16)

THE INFLUENCE OF INTERN CONTROL, THE USE OF INFORMATION TECHNOLOGY AND THE COMPETENCE OF HUMAN RESOURCES

ON THE QUALITY OF FINANCIAL STATEMENT WITH REGIONAL FINANCIAL CONTROL AS

MODERATING VARIABLE

(A CASE STUDY IN ACEH TAMIANG DISTRICT ADMINISTRATION)

ABSTRACT

The objective of the study was to find out 1) the influence of intern control, the use of information technology, and competence of human resources, partially and simultaneously, on the quality of financial statement, regional financial control was able to become moderating variable for the correlation of intern control, the use of information technology, and the competence of human resources with the quality of financial statement. The research used quantitative method. It was conducted at Aceh Tamiang District Admistration for the period of 2014 in April, 2015. The data were gathered by distributing questionnaires to 130 respondents in the Accounting/Finance departement from 46 SKPK in Aceh Tamiang District Administration, using purposive sampling technique. The data were analyzed by using reliability and validity tests, classic assumption test, multiple linear regression tests, and residual test with an SPSS software program.

The results of the research showed that 1) intern control, the use of information technology, and competence of human resources, partially and simultaneously, had positive and significant influence the quality of financial statement, and 2) regional financial control was able to become moderating variable for the correlation of inten control, the use of information technology, and competence of human resources with the quality of financial statement in Aceh Tamiang District Administration.

Keywords: Intern Control, Information Technology, Human Resources, Control, Financial Statement.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, pola perkembangan wilayah mulai mengalami perubahan sejak bergulirnya era reformasi pada tahun 1998. Pemekaran wilayah yang terjadi pada daerah tingkat dua maupun pada tingkat provinsi, semakin marak terjadi sejak kebijakan desentralisasi digulirkan pada tahun 1999. Dari 316 kabupaten/kota sebelum reformasi, hingga tahun 2012 pemerintahan kabupaten/kota bertambah sebanyak 205 wilayah. Dilihat dari prosentasenya berarti jumlah kabupaten/kota bertambah sebesar 65 persen (Tenrini, 2013).

Fenomena maraknya pemekaran wilayah merupakan konsekuensi dari perubahan kebijakan sentralisasi menjadi desentralisasi (otonomi daerah).

Kebijakan ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang kemudian diganti berkali-kali dengan undang-undang tentang pemerintahan daerah sejak tahun 2004 hingga yang terbaru saat ini yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah dan diubah kembali dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Sebelumnya, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah pun menyebutkan bahwa Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, dapat

(18)

disimpulkan bahwa secara garis besar cita-cita dari kebijakan desentralisasi tak lain adalah agar dapat menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia yang selaras dengan amanat UUD 1945.

Menurut Berber (2014) dalam Mustaqim (2015), pemerintah daerah sebenarnya dapat lebih gesit dan efektif karena keuntungan kedekatan dengan masyarakat dan sifat kepragmatisan. Pemerintah daerah diuntungkan berkat kedekatan mereka baik secara geografis, sosial, dan emosional kepada masyarakat yang mereka pimpin sehingga membuat mereka lebih paham kondisi riil yang berkembang di masyarakat yang, sebagai konsekuensi, mengizinkan mereka untuk dapat mendesain program yang tepat sasaran.

Di lain pihak, semangat reformasi yang menjalar hingga ke daerah bagaikan dua sisi mata uang yang satu dasawarsa lalu juga pernah menimbulkan kekhawatiran, padahal bersamaan dengan hadirnya implementasi otonomi daerah, reformasi manajemen keuangan pemerintah sudah sewajibnya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Bahkan reformasi keuangan pemerintah daerah semakin mendesak dilakukan mengingat masih terbatasnya kemampuan manajemen keuangan di kalangan pemerintah daerah di satu sisi, dan semakin banyaknya anggaran pembangunan dan pelayanan publik yang mengalir ke daerah menyusul implementasi otonomi daerah di sisi lain. Gejala-gejala KKN dalam manajemen keuangan daerah, proses tender yang tidak terbuka, dan praktek-praktek manipulatif lainnya kini sudah semakin merebak di daerah. Muncul pula keluhan bahwa implementasi otonomi daerah hanya memindahkan borok permasalahan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah justru ketika masyarakat semakin mengharapkan kondisi kehidupan dan kesejahteraan yang semakin baik. Fasilitasi

(19)

yang dilakukan oleh World Bank bekerjasama dengan BAPPENAS, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Keuangan RI dalam skema program Initiatives for Local Governance Reform (ILGR) adalah dalam kerangka penegakan transparansi

dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara itu (Setiawan, 2004).

Berkaitan dengan tugas untuk menjalankan transparansi dan akuntabilitas finansial tersebut, khususnya di daerah, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mempublikasikan laporan keuangan kepada pemangku kepentingannya (stakeholder). Governmental Accounting Standards Board (1999) dalam Concepts Statement No. 1 tentang Objectives of Financial Reporting menyatakan bahwa

akuntabilitas merupakan dasar pelaporan keuangan di pemerintahan yang didasari oleh adanya hak masyarakat untuk mengetahui dan menerima penjelasan atas pengumpulan sumber daya dan penggunaannya.

Berkaca dari pernyataan di atas, sejatinya selama ini tuntutan penegakan transparansi dan akuntabilitasi pengelolaan keuangan telah pula dilaksanakan yaitu dengan berpedoman pada undang-undang tentang pemerintahan daerah, yang penjabarannya lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang “Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada pemerintah, laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD, dan ringkasan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat” serta penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang merupakan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, khususnya pasal 42 ayat (1) yang menjabarkan tugas dan wewenang gubernur dan bupati/walikota. Pertanggungjawaban pemerintah daerah tersebut merupakan unsur penting bagi pengawasan pemerintahan yang

(20)

mempunyai pengertian sebagai penilaian dan analisis dari pelaksanaan berbagai urusan pemerintahan di daerah agar dapat berjalan sesuai dengan standar dan kebijakan pemerintah yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan memberikan rekomendasi perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan terhadap pejabat yang berwenang.

Dalam tesis ini, peneliti melakukan penelitian pada salah satu daerah otonom baru yaitu Kabupaten Aceh Tamiang yang dimekarkan dari kabupaten induk, Kabupaten Aceh Timur, melalui Undang–Undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4179). Sebagai daerah yang masih relatif muda, banyak hal yang harus dipersiapkan dan dibenahi oleh kabupaten ini untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain di Indonesia yang telah lebih dulu terbentuk dan berkembang, salah satunya melalui pembenahan pada pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Pengelolaan keuangan pemerintah daerah harus dilakukan berdasarkan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance government), yaitu pengelolaan keuangan yang dilakukan secara transparan dan akuntabel, yang memungkinkan para pemakai laporan keuangan untuk dapat mengakses informasi tentang hasil yang dicapai dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, informasi yang terdapat di dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) harus bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan para pemakai (Arfianti, 2011).

(21)

LKPD sendiri merupakan produk akhir dari proses akuntansi yang telah dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku entitas akuntansi dan dikonsolidasikan oleh Pejabat Penatausahaan Keuangan Daerah (PPKD) selaku entitas pelaporan. Perkembangan akuntansi sektor publik yang semakin pesat menimbulkan tuntutan yang lebih besar terkait dengan dilakukannya transparansi dan akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga sektor publik (Mardiasmo, 2005).

Dari sisi akuntansi, volume transaksi keuangan pemerintah daerah dari tahun ke tahun menunjukkan kuantitas yang semakin besar dan dinamis, sehingga proses penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan akan semakin rumit dan kompleks. Kewajiban pemanfaatan teknologi informasi oleh Pemerintah Daerah dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, agar mampu menyalurkan informasi keuangan daerah yang berkualitas sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada publik.

Dalam mengatur tata kelola keuangan pemerintah daerah, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006, sebagai dasar pengelolaan teknis keuangan daerah mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 memberikan masa transisi untuk perubahan dari cash basis ke accrual basis dalam waktu 5 tahun (sampai tahun 2008). Maka itu, pemerintah pun mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005, yaitu Standar

(22)

Akuntansi Pemerintahan (SAP) dengan basis modifikasian cash towards accrual (CTA) atau kas menuju akrual. Basis ini mengharuskan penyajian akun aset, kewajiban dan ekuitas dengan basis akrual, sedangkan akun pendapatan, belanja dan pembiayaan menggunakan basis kas. Selanjutnya pada tahun 2010, pemerintah pusat mengeluarkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang SAP Berbasis Akrual.

Dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 terdapat 2 buah lampiran. Lampiran I merupakan SAP Berbasis Akrual yang akan dilaksanakan selambat-lambatnya tahun 2015, sedangkan Lampiran II merupakan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual yang hanya berlaku hingga tahun 2014. Lampiran II ini berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum siap untuk menerapkan SAP Berbasis Akrual.

Dengan kata lain, Lampiran II merupakan lampiran yang memuat kembali seluruh aturan yang ada pada PP Nomor 24 Tahun 2005 tanpa perubahan sedikit pun agar pembaca nantinya tidak mengalami kebingungan atas perubahan-perubahan yang terjadi karena lebih mudah memahami perubahannya dibandingkan jika langsung beranjak dari penyesuaian atas International Public Sector of Accounting Standards (IPSAS) yang diacu oleh KSAP (Yon, 2012). Hal tersebut dilakukan karena variabel yang diuji yaitu kualitas laporan keuangan, masih berdasarkan pada sumber daya manusia, pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi yang ada pada waktu sebelum tahun 2015.

Kriteria dan unsur-unsur pembentuk kualitas laporan keuangan pemerintah yang mempunyai nilai atau manfaat, disebutkan dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan (PP Nomor 71 Tahun 2010) sebagai berikut:

(a) relevan, (b) andal, (c) dapat dibandingkan, dan (d) dapat dipahami.

(23)

Permasalahan laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil pemeriksaan BPK dalam rentang waktu tahun 2007 sampai tahun 2014, LKPD Kabupaten Aceh Tamiang pernah berada pada posisi opini terendah (disclaimer) hingga opini prestisius (unqualified). Pada tahun 2007, BPK pernah memberikan opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) atau disclaimer terhadap LKPD Kabupaten Aceh Tamiang karena telah terjadi peristiwa banjir bandang pada akhir tahun 2006 yang menyebabkan daerah tersebut berada dalam kategori kondisi force majeur dan 6 tahun berturut-turut hanya meraih Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Terakhir, pada tahun 2014, laporan keuangan Pemkab Aceh Tamiang meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI. Hal ini dituturkan langsung oleh Kepala BPK RI Perwakilan Provinsi Aceh, Maman Abdurrahman, pada acara penyerahan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Aceh Tahun 2014 oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, tanggal 31 Maret 2015, yang menyatakan bahwa Kabupaten Aceh Tamiang telah lebih dahulu menyerahkan laporan keuangan APBK pada 26 Januari 2015 dan terdaftar sebagai daerah yang pertama serta paling cepat se-Indonesia menyerahkan laporan keuangan. Tanggal 25 Maret BPK menyerahkan hasil audit ke Pemkab Aceh Tamiang serta memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian/WTP (http://www.acehbesmart.com, 2015). Hal tersebut ditunjukkan dengan Laporan Hasil Pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam tabel berikut:

(24)

Tabel 1.1 Opini Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tamiang

No. Tahun Opini BPK

1. 2007 Tidak Memberikan Pendapat 2. 2008 Wajar Dengan Pengecualian 3. 2009 Wajar Dengan Pengecualian 4. 2010 Wajar Dengan Pengecualian 5. 2011 Wajar Dengan Pengecualian 6. 2012 Wajar Dengan Pengecualian 7. 2013 Wajar Dengan Pengecualian 8. 2014 Wajar Tanpa Pengecualian

Sumber: Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Perwakilan Provinsi Aceh (2007–2014)

Untuk menyusun laporan keuangan yang berkualitas, tentu sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten dalam melaksanakannya, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman, dan lain sebagainya. Sebab sejatinya, di luar berbagai paket kebijakan yang sudah bagus, diperlukan satu langkah lagi yang sangat menentukan yaitu peningkatan kapasitas aparat, baik yang berhubungan langsung dengan pengelolaan anggaran maupun tidak langsung. Kunci keberhasilan reformasi manajemen keuangan daerah tidak hanya terletak pada kebijakan yang didesain dengan baik tetapi juga pada SDM yang akan mengimplementasikan (Setiawan, 2014).

Oleh sebab itu, kurangnya tenaga pengelolaan keuangan yang mumpuni dapat menjadi unsur negatif bagi upaya menerapkan prinsip-prinsip good governance di lingkungan pemerintahan. Pada saat ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang masih kekurangan tenaga profesional pengelola keuangan daerah.

Tercatat hingga pada akhir bulan Februari tahun 2015, dari 5143 orang PNSD di

(25)

terdapat sekitar 61 orang berlatarbelakang pendidikan Akuntansi (tidak termasuk guru dan tenaga administrasi sekolah), yang mana tidak semua lulusan Akuntansi tersebut bekerja di bidang akuntansi ataupun bagian keuangan SKPK (SAPK BKN, 2015). Hal ini menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh pemerintah kabupaten Aceh Tamiang dan sedang diupayakan untuk mencari solusinya karena berkaitan pula dengan ditetapkannya moratorium penerimaan CPNS sejak tahun 2011, sehingga cukup sulit untuk menjaring lebih banyak CPNS berlatarbelakang pendidikan Akuntansi untuk dijadikan tenaga profesional dalam bidang pengelolaan keuangan daerah.

Berkaitan dengan hal-hal yang dipaparkan di atas, maka peneliti tertarik mengkaji bagaimana Pemkab Aceh Tamiang sebagai salah satu daerah pemekaran di Indonesia, tepatnya di Provinsi Aceh, mampu mengatasi berbagai permasalahan dari kondisi terburuk akibat bencana hingga mencapai prestasi tertinggi dalam pengelolaan keuangan daerah. Komponen-komponen pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia, pengawasan keuangan daerah dan kualitas laporan keuangan akan menjadi variabel yang dikupas oleh peneliti, sehingga diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang demi tetap mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian di masa yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

(26)

1. Apakah pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang?

2. Apakah pengawasan keuangan daerah dapat menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang?

1.3 Tujuan Penelitian

Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menguji pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan secara parsial dan simultan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

2. Untuk mengetahui dan menguji pengawasan keuangan daerah mampu menjadi variabel pemoderasi bagi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Instansi:

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui laporan keuangan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten yang berkualitas dengan didukung oleh pengendalian intern dan teknologi informasi yang memadai.

(27)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan dapat menjadi acuan dalam membuat kebijakan di masa yang akan datang.

3. Bagi Pengembangan Ilmu (Akademisi):

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang akuntansi, khususnya di sektor pemerintahan.

1.5 Originalitas

Penelitian ini merupakan replika penelitian sebelumnya, yaitu Primayana, et.al (2014) dengan judul Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pengendalian Intern Akuntansi, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Keterandalan Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng).

Perbedaan penelitian dengan penelitian sebelumnya:

1. Variabel Penelitian

Penelitian Primayana, et.al (2014) mengamati 3 variabel independen, yaitu pengendalian intern akuntansi, pemanfaatan teknologi informasi, pengawasan keuangan daerah, dan 1 variabel dependen yaitu keterandalan pelaporan keuangan pemerintah daerah. Sedangkan, penelitian ini mengamati 3 variabel independen yaitu pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia, 1 variabel dependen yaitu kualitas laporan keuangan dan 1 variabel pemoderasi yaitu pengawasan keuangan daerah.

(28)

2. Waktu Penelitian

Primayana, et.al (2014) memiliki tahun amatan antara tahun 2007-2011, sedangkan penelitian ini tahun amatannya tahun 2014.

3. Tempat Penelitian

Primayana, et. al (2014) melakukan penelitian di Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng Provinsi Bali, sedangkan penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh.

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengendalian Intern

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008, Sistem Pengendalian Intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi, dan dipatuhinya kebijakan pimpinan.

Tujuan sistem pengendalian internal berdasarkan definisi tersebut adalah

(30)

untuk:

1. Menjaga kekayaan organisasi

2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi 3. Mendorong efisiensi

4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Menurut tujuannya Sistem Pengendalian Internal dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1. Pengendalian Internal Akuntansi

Pengendalian ini meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan organisasi serta mengecek ketelitian data akuntansi. Pengendalian internal akuntansi yang baik akan menjamin keamanan dari kekayaan para investor dan kreditor dengan menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya. Sebaliknya, pengendalian intern yang lemah menyebabkan tidak dapat terdeteksinya kecurangan/ketidakakuratan proses akuntansi sehingga bukti audit yang diperoleh dari data akuntansi menjadi tidak kompeten (Noviyanti, 2004).

2. Pengendalian Internal Administratif

Pengendalian ini meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan, terutama efisiensi dan kepatuhan atas kebijakan pimpinan.

Inti dasar dari Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 adalah terciptanya suatu Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang dapat mewujudkan suatu praktek-praktek good governance. Langkah pertama yang diamanahkan di dalam PP ini adalah memahami terlebih dahulu konsep dasar pengendalian intern.

(31)

yang menginduk kepada COSO. Konsep ini menekankan kepada 5 unsur pengendalian intern, yakni:

1. Lingkungan Pengendalian (Environment Control) 2. Penilaian Resiko (Risk Valuation)

3. Pengendalian Aktifitas (Activity Control)

4. Informasi dan Komunikasi (Communication and Information) 5. Pemantauan (Monitoring)

Berkaitan dengan pengaruh pengendalian intern terhadap kualitas laporan keuangan, pengaruh pengendalian intern secara langsung ataupun tidak langsung akan terpapar dalam laporan keuangan. Jika pengendalian intern suatu organisasi baik, maka akan baik pula yang hasil yang didapat, namun jika pengendalian internnya buruk maka akan buruk pula hasilnya. Hal tersebut selaras dengan yang ditulis oleh Tuanakotta (2012) dalam buku Audit Berbasis ISA (International Standar on Auditing) yang menyatakan bahwa pengendalian intern bertujuan

membuat laporan keuangan bebas dari salah saji yang material, yang disebabkan oleh kesalahan (error) maupun kecurangan (fraud).

Meskipun laporan keuangan hanya merupakan output dari sebuah proses pelaporan keuangan, namun laporan keuangan dapat dikatakan sebagai representasi kinerja manajemen publik selama tahun berjalan dan tahun-tahun sebelumnya, sebab sejatinya di dalam pengendalian intern terdapat proses, kebijakan dan prosedur yang dirancang oleh manajemen publik untuk memastikan pelaporan keuangan yang andal dan pembuatan laporan keuangan sesuai dengan kerangka standar akuntansi pemerintahan yang berlaku.

(32)

Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, terdapat lima unsur penting di dalam pengendalian intern. Dari kesemua komponen di atas, lingkungan pengendalian (environment control) merupakan dasar dari semua komponen, karena pengaruhnya yang mendalam dan menyeluruh (pervasif). Meski tidak berpengaruh langsung pada laporan keuangan, namun komponen ini dapat mempengaruhi komponen lainnya dalam menentukan kualitas laporan keuangan.

Dalam penilaian risiko (risk valuation), perlu dilakukan pengidentifikasian risiko yang menyangkut salah saji material, bisa disebabkan oleh kesalahan (error) ataupun kecurangan (fraud).

Sebagai contoh, jika laporan keuangan dibuat oleh SDM aparatur yang tidak berkompeten maka bisa menimbulkan risiko terjadinya salah saji material, yang dapat mempengaruhi nilai dan akurasi dari laporan keuangan secara spesifik ataupun pervasif. Menurut Tuanakotta (2012), kesalahan-kesalahan yang berisiko terjadi yakni laporan keuangan yang tidak andal (risiko pervasif), salah saji ketika menyiapkan laporan keuangan (risiko pervasif), dan transaksi yang tidak diolah atau dicatat dengan akurat.

Selanjutnya, komponen pengendalian intern yang ketiga adalah sistem informasi dan komunikasi (information and communication). Menurut Modul Program Non Gelar Auditor Sektor Publik STAN (2007), komponen pengendalian sistem informasi merupakan pengendalian yang diarahkan pada proses pengolahan data hingga menjadi informasi, meliputi aktivitas pengumpulan data/dokumen, pemilahan/sortasi data, pengelompokan, pencatatan, perlindungan terhadap dokumen dan catatan, pengikhtisaran, penyusunan laporan dan pendistribusiannya. Sistem pengelolaan data tersebut dapat dilakukan secara tulis

(33)

tangan (manual) atau dengan alat bantu mekanis seperti komputer (komputerisasi). Maka, secara garis besar, informasi dan komunikasi mengandung arti dalam setiap organisasi harus mengidentifikasikan seluruh informasi yang dibutuhkan, lalu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan sesuai kewenangannya.

Aktivitas pengendalian (activity control) merupakan komponen keempat dari pengendalian intern. Aktivitas pengendalian ada pada setiap tingkatan dan fungsi dari instansi pemerintahan, yang mencakup berbagai jenis aktivitas seperti, mekanisme persetujuan, otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, evaluasi kinerja, pengelolaan keamanan, dan pembentukan dan penyelenggaraan pencatatan- pencatatan atau dokumentasi-dokumentasi sebagai bukti pelaksanaan aktivitas- aktivitas ini (Murwanto, et.al, 2011).

Komponen terakhir dari pengendalian intern adalah pemantauan (monitoring). Pemantauan pengendalian intern harus menilai kualitas kinerja dengan cara :

a. Pemantauan secara terus menerus, dibangun dalam kegiatan normal instansi, yang meliputi aktivitas pembinaan, manajemen, dan tindakan lain yang dilakukan pegawai dalam menjalankan tugasnya.

b. Evaluasi khusus, yang cakupan dan frekuensinya bergantung pada penilaian risiko dan efektifitas dari pemantauan terus-menerus.

2.1.2 Pemanfaatan Teknologi Informasi

Dalam menunjang penerapan good governance, pemerintah perlu mengoptimalisasi pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dengan jalan membangun jaringan sistem informasi dan proses kerja yang memungkinkan

(34)

pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan akses antar unit kerja. Saat ini, pemanfaatan teknologi informasi telah menjadi suatu kebutuhan pokok yang dapat diandalkan dalam melaksanakan tugas harian PNSD secara optimal, akurat dan tepat waktu.

Pemanfaatan teknologi informasi adalah penggunaan komputer, software/perangkat lunak, dan lainnya yang sejenis secara optimal. Teknologi informasi meliputi komputer (mainframe, mini, micro), perangkat lunak (software), database, jaringan (internet, intranet), electronic commerce, dan jenis lainnya yang berhubungan dengan teknologi (Wilkinson et. al, 2000).

Sejak tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menggunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) dari BPKP sebagai teknologi informasi yang mampu menunjang pengelolaan keuangan di seluruh SKPD yang selanjutnya disebut Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).

Hanya dengan menggunakan jaringan internet, aplikasi SIMDA secara on line sudah dapat dirasakan manfaatnya hingga ke pelosok ibukota kecamatan yang relatif jauh.

Melalui PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD), Pemerintah telah mengamanatkan pelaksanaan SIKD baik pusat maupun daerah dalam rangka menunjang perumusan kebijakan fiskal secara nasional serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan desentralisasi. Penyelenggaraan SIKD diharapkan dapat menghasilkan data yang berkualitas yaitu, relevan, akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengertian relevan adalah data yang digunakan dalam pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan data yang akurat adalah data yang diperoleh

(35)

menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Tepat waktu artinya data yang dibutuhkan tersedia sesuai dengan jadwal perumusan kebijakan (http://www.djpk.depkeu.go.id, 2014).

Berkaitan dengan pengaruh pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan, jelas sangat nyata sejak awal proses penganggaran hingga pertanggungjawaban laporan keuangan. Pemanfaatan teknologi informasi yang dimaksud seperti penggunaan komputer dan perangkat lunak secara optimal, akan berdampak pada pemrosesan transaksi yang lebih cepat dan perhitungannya juga akan memiliki tingkat keakurasiaan yang tinggi sehingga akan berujung pada peningkatan kualitas pelaporan keuangan yang lebih andal karena pemanfaatan teknologi akan mengurangi kesalahan yang bersifat material (Primayana et.al, 2014).

Selain pernyataan di atas, Istianingsih dan Wijanto (2008) juga telah membuktikan bahwa penggunaan teknologi informasi dalam akuntansi dapat mempengaruhi kepuasaan pengguna laporan keuangan karena kualitas, kecepatan dan keakuratan data yang terdapat dalam laporan keuangan bersangkutan.

Dengan memanfaatkan segala teknologi informasi yang terdiri dari hardware, software, database, jaringan dan lain sebagainya yang semakin canggih

dan dapat menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sistem informasi kian mampu membantu meminimalisir setiap faktor salah saji material mulai dari proses transaksional sampai pada penyajian laporan, sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang tepat waktu, akurat dan andal.

2.1.3 Kompetensi Sumber Daya Manusia

(36)

Sumber daya manusia dapat dikatakan sebagai komponen paling penting dalam membentuk dan menggerakkan suatu sistem, sebab manusia merupakan sumber inovasi dan pengembang ilmu pengetahuan. Secara definisi, Sumber Daya Manusia adalah kemampuan baik dalam tingkatan individu, organisasi/kelembagaan, maupun sistem untuk melaksanakan fungsi-fungsi atau kewenangannya untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien (GTZ &

USAID/CLEAN Urban, 2001).

Dalam dunia kerja, sumber daya manusia selama ini telah diakui sebagai aset yang tak kalah pentingnya dengan segala modal finansial maupun sarana- prasarana. Tracey (2003) dalam bukunya yang berjudul The Human Resources Glossary, mengungkapkan istilah sumber daya manusia sebagai staf-staf yang

mengoperasikan sebuah organisasi, yang berbeda dengan sumber daya keuangan dan peralatan dari suatu organisasi. Sumber daya manusia juga merupakan fungsi organisasi yang berhubungan dengan orang-orang dan isu-isu yang berkaitan dengan orang-orang seperti kompensasi, perekrutan, manajemen kinerja, dan pelatihan. Sebuah sumber daya manusia adalah satu orang atau karyawan dalam organisasi anda.

Kompetensi merupakan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada individu (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009). Menurut Tjiptoherijanto (2001) dalam Alimbudiono dan Fidelis (2004), untuk menilai kinerja dan kualitas sumber daya manusia dalam melaksanakan suatu fungsi, termasuk akuntansi, dapat dilihat dari level of responsibility dan kompetensi sumber daya tersebut. Tanggung jawab dapat dilihat dalam deskripsi jabatan. Deskripsi jabatan merupakan dasar untuk

(37)

melaksanakan tugas dengan baik. Tanpa adanya deskripsi jabatan yang jelas, sumber daya tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kompetensi sumber daya manusia dapat dilihat dari latar belakang pendidikan, pelatihan-pelatihan dan dari keterampilan yang dinyatakan dalam pelaksanaan tugas.

Sumber daya manusia pemerintah daerah adalah aparatur pegawai negeri sipil daerah (PNSD). Dalam menjalankan fungsi pemerintahan daerah, dibutuhkan PNSD berkompeten yang akan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara tuntas sesuai standar dan target kinerja yang telah ditetapkan.

Aparatur negara, SDM pemerintah, yang profesional bukan hanya dituntut untuk memiliki kapasitas keahlian, tanggung jawab moral (responsibility) yang tinggi melainkan pelayanan terhadap masyarakat, serta memiliki dan dapat memadukan dalam dirinya kecakapan teknis (technical skills) yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan (Thalib, 2008).

Untuk dapat melaksanakan pengelolaan keuangan daerah dan pelayanan yang baik kepada publik, maka Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang membutuhkan PNSD yang mempunyai kompetensi di bidang akuntansi (keuangan) yang mampu menyusun laporan keuangan sesuai SAP. Penerapan SAP membutuhkan kompetensi PNSD agar laporan keuangan yang disusun memenuhi kualifikasi informasi yang berkualitas dan bermanfaat.

Berkaitan dengan teori-teori di atas yang mengemukakan secara jelas tentang pentingnya komponen SDM, BPK pun pernah melakukan penelitian mengenai kompetensi SDM pengelola keuangan pada 6 kementerian negara/lembaga, 20 pemerintah daerah serta 12 perguruan tinggi. Hal ini

(38)

diungkapkan pada halaman blog STAR BPKP di bulan Juni 2014 dalam tulisan berjudul ‘Sumber Daya Manusia Pengelola Keuangan Daerah’ yang dikutip dari makalah Triani (2013). Tujuan penelitian BPK tersebut adalah untuk memperoleh gambaran umum kekuatan dan kelemahan SDM pemerintah dalam mengimplementasikan keuangan negara pada tahun 2004 - 2008 (5 tahun). Hasil penelitian menunjukkan adanya kondisi berikut:

1) Kekurangan SDM yang mengelola keuangan negara, khususnya yang berlatarbelakang akuntansi. Pihak manajemen telah mengajukan usulan tentang formasi personil yang dibutuhkan kepada Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, tetapi usulan formasi tersebut dirubah/direvisi untuk disesuaikan dengan rencana strategi pemerintah pusat.

2) Penempatan SDM yang keliru. Biasanya ada kebijakan yang tidak tepat dari pimpinan dalam penempatan tersebut,

3) Tingkat pemahaman dasar staf mengenai administrasi keuangan negara masih lemah. Walaupun SDM tersebut bukan berlatarbelakang pendidikan Akuntansi, akan tetapi mereka dianggap mampu menjalankan/melaksanakan tugas dengan modal diklat dan bimbingan,

4) Reward system yang belum tepat,

5) Sarana dan prasarana serta proses pendidikan di perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan akuntansi sektor publik masih membutuhkan perbaikan mutu.

Atas permasalahan-permasalahan tersebut dibutuhkan komitmen dari seluruh pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk meningkatkan kompetensi SDM pengelola keuangan negara, karena pada hakekatnya, pengelolaan keuangan

(39)

negara yang meliputi keseluruhan dari kegiatan-kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah, wajib dilaksanakan dengan tepat, transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.

Berkaitan dengan kompetensi sumber daya manusia yang dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan, dalam prosesnya, tentu saja pemerintah daerah sangat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang mumpuni dan moral yang baik dalam mengelola keuangan daerah sehingga mampu menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas pula. Sebab jika organisasi memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, maka unsur pengendalian yang lain dapat dikurangi sampai batas yang minimum dan organisasi tetap mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diandalkan.

Karyawan yang jujur dan ahli di bidang yang menjadi tanggungjawabnya akan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan efisien dan efektif (BPKP, 2014).

Dalam pengimplementasiannya pada Pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang, penggunaan teknologi yang semakin kompleks dan komprehensif kian menuntut SDM pengelola keuangan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam, agar dapat lebih tanggap dalam menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat dan perubahan secara global. Keterampilan, penyampaian informasi dan pengetahuan mengenai teknologi yang digunakan sangat dibutuhkan agar pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu dalam menyajikan informasi dari pelaporan keuangan tidak sia-sia.

Kompetensi SDM yang memadai dari segi kuantitas dan kualitas akan

(40)

meningkatkan nilai informasi LKPD sehingga dapat bermanfaat bagi pengguna informasi pemerintah daerah.

2.1.4 Pengawasan Keuangan Daerah

Menurut Terry (2003), pengertian pengawasan (controlling) dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan bilamana perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras dengan standar. Secara khusus, pengawasan keuangan pada manajemen publik didefinisikan sebagai pengawasan keuangan daerah yang merupakan proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintahan daerah berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2010). Secara lebih terperinci, maka kegiatan pengawasan dilakukan dengan melaksanakan penilaian terhadap ketaatan terhadap peraturan perundang- undangan; efisiensi dan kehematan dalam penggunaan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan organisasi (SKPD); dan efektivitas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Melalui pengawasan diharapkan dapat tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan, sejauh mana kebijakan pimpinan dijalankan, dan sampai sejauh mana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.

Dalam kaitannya dengan akuntabilitas publik, pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah pengawasan terhadap kinerja

(41)

pemerintah daerah dan kinerja DPRD, sebab pengawasan merupakan salah satu cara untuk membangun dan menjaga legitimasi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dengan menciptakan suatu sistem pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern (internal control) maupun pengawasan ekstern (external control).

Menurut Arfianti (2011), jenis-jenis pengawasan yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah sebagai berikut:

a. Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.

Pengawasan intern dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control), atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh Inspektorat Jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.

b. Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini, di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun.

Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah.

Berkaitan dengan penjabaran di atas, pelaksana pengawasan intern di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dilakukan oleh Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang selaku pengawas/auditor internal, sedangkan

(42)

pengawasan ekstern dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Aceh.

Selain jenis pengawasan di atas, terdapat pula sifat-sifat dari pengawasan yang berkaitan dengan waktu pelaksanaannya, antara lain:

a. Pengawasan preventif merupakan pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan negara/daerah yang akan membebankan serta merugikan negara/daerah lebih besar.

Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan mulai dari perencanaan dan beriringan dengan pelaksanaan kegiatan, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal.

b. Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu selesai dilakukan. Pengawasan ini biasanya dilakukan pada akhir tahun anggaran. Pada saat itu, anggaran telah selesai direalisasikan dan disampaikan laporan pertanggungjawabannya, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dan pengawasan yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.

Menurut Mardiasmo (2005), terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak di luar eksekutif, yaitu masyarakat, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Lembaga lain baik di pusat maupun daerah untuk mengawasi kinerja pemerintahan. Pengendalian (control) adalah mekanisme yang dilakukan

(43)

oleh eksekutif untuk menjamin bahwa sistem dan kebijakan manajemen dilaksanakan dengan baik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Sedangkan pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki independensi dan memiliki kompetensi profesional untuk memeriksa apakah hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Dalam menjalankan pengawasan keuangan daerah berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparatur Pengawasan Intern Pemerintahan, pengawas atau auditor dituntut untuk memiliki pemahaman atas sistem pengendalian intern auditi dan mempertimbangkan apakah prosedur-prosedur sistem pengendalian intern telah dirancang dan diterapkan secara memadai. Pemahaman atas rancangan sistem pengendalian intern digunakan untuk menentukan saat dan jangka waktu serta penentuan prosedur yang diperlukan dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, auditor harus memasukkan pengujian atas sistem pengendalian intern auditi dalam prosedur auditnya.

Tak terlepas dari sistem pengendalian intern pemerintahan yang berpedoman pada PP No.60 Tahun 2008 tentang pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi juga menjadi fungsi penting dalam target pengawasan keuangan daerah. Seperti yang tercantum pada pasal 21, kegiatan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi dilakukan untuk memastikan akurasi dan kelengkapan informasi. Kegiatan pengendalian atas pengelolaan sistem informasi itu sendiri meliputi:

a. pengendalian umum, yang terdiri dari: pengamanan sistem informasi, pengendalian atas akses, pengendalian atas pengembangan dan perubahan

(44)

perangkat lunak aplikasi, pengendalian atas perangkat lunak sistem, pemisahan tugas dan kontinuitas pelayanan.

b. pengendalian aplikasi, terdiri dari: pengendalian otorisasi, pengendalian kelengkapan, pengendalian akurasi, pengendalian terhadap keandalan pemrosesan dan file data.

Semua hal mengenai pengendalian terhadap pemanfaatan teknologi informasi di atas seyogiyanya memiliki tujuan agar sumber daya yang ada yaitu berupa fasilitas teknologi yang menunjang proses pengelolaan keuangan dapat digunakan secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan laporan keuangan yang akurat, handal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengawasan keuangan daerah juga erat kaitannya dengan komitmen dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia, sebab dengan menempatkan aparat pengelola keuangan daerah yang tepat, maka akan berdampak besar pula pada kinerja pemda secara keseluruhan, terutama dalam pengelolaan keuangan daerah. Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, bahwa sumber daya manusia merupakan penggerak sistem yang akan menentukan berkualitas atau tidaknya suatu output. Pengendalian intern dan pemanfaatan teknologi informasi harus ditunjang oleh kompetensi sumber daya manusia yang memadai. Hal tersebut juga tidak terlepas dari sasaran pengawasan keuangan daerah, tercantum dalam PP No.60 Tahun 2008 yaitu pada pasal 6 yang menyatakan bahwa komitmen terhadap kompetensi dilakukan dengan:

a. mengidentifikasi dan menetapkan kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan fungsi pada masing-masing posisi dalam Instansi Pemerintah;

(45)

b. menyusun standar kompetensi untuk setiap tugas dan fungsi pada masing- masing posisi dalam Instansi Pemerintah;

c. menyelenggarakan pelatihan dan pembimbingan untuk membantu pegawai mempertahankan dan meningkatkan kompetensi pekerjaannya; dan

d. memilih pimpinan Instansi Pemerintah yang memiliki kemampuan manajerial dan pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan Instansi Pemerintah.

Berdasarkan beberapa teori dan peraturan yang berkaitan erat dengan pengawasan keuangan daerah di atas, maka peneliti pun dapat mengemukakan hipotesis bahwa pengawasan keuangan daerah dapat menjadi variabel pemoderasi yang mampu mempengaruhi hubungan pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan kompetensi sumber daya manusia dengan kualitas laporan keuangan.

2.1.5 Kualitas Laporan Keuangan

Kualitas menurut Bastian (2006) didefinisikan sebagai karakteristik kualitatif yang merupakan ciri khas informasi dalam laporan keuangan yang berguna bagi pemakai. Selanjutnya, untuk mendefinisikan laporan keuangan, Masmudi (2003) memaparkan bahwa laporan keuangan sektor publik, pada hakekatnya, merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat atas pengelolaan dana publik baik dari pajak, retribusi atau transaksi lainnya. Selanjutnya, menurut Bastian (2006), laporan keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik.

(46)

Dari definisi-definisi di atas, maka kualitas laporan keuangan pemerintah terangkum sebagai suatu ciri khas informasi yang menjadi representasi proses transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode, sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat atas pengelolaan dana publik.

Komponen-komponen yang terdapat dalam suatu set laporan keuangan pokok adalah:

a) Laporan Realisasi Anggaran;

b) Neraca;

c) Laporan Arus Kas; dan

d) Catatan atas Laporan Keuangan.

Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas, baik entitas akuntansi (SKPK) maupun entitas pelaporan (Pemerintah Daerah), kecuali komponen Laporan Arus Kas yang hanya disajikan oleh entitas pelaporan.

Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:

1. Relevan;

Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa

(47)

lalu. Dengan demikian, informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya.

Informasi yang relevan:

(a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)

Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.

(b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value)

Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini.

(c) Tepat waktu

Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan.

(d) Lengkap

Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin, mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dengan memperhatikan kendala yang ada.

Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.

2. Andal;

Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat

(48)

diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan.

Informasi yang andal memenuhi karakteristik:

(a) Penyajian Jujur

Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.

(b) Dapat Diverifikasi (verifiability)

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh.

(c) Netralitas

Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu.

3. Dapat dibandingkan; dan

Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada

(49)

kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan.

4. Dapat dipahami.

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud.

Seperti yang telah diungkapkan oleh teori-teori di atas, menunjukkan bahwa masing-masing komponen pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi, dan kompetensi sumber daya manusia mampu mempengaruhi kualitas dari sebuah laporan keuangan secara simultan. Berpengaruh langsung atau pun tidak langsung, komponen-komponen ini pun telah saling bersinergi dan mendukung dalam proses melahirkan nilai-nilai informasi dari laporan keuangan yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, pengendalian aplikasi teknologi informasi yang memastikan kelengkapan transaksi dapat langsung berhubungan dengan laporan keuangan. Di lain sisi, pengendalian akses yang ada di dalam aplikasi tersebut atau dalam sistem pendukungnya, seperti database, jaringan dan sistem operasi, sama pentingnya, meski tidak secara langsung berhubungan dengan laporan keuangan.

Menurut Sarbanes-Oxley (2004), pengendalian umum teknologi informasi yang meliputi pengendalian perubahan dan pengendalian keamanan merupakan kunci laporan keuangan yang dapat diandalkan, sedangkan pengendalian

Gambar

TABEL r PRODUCT MOMENT  N  Taraf Signif  N  Taraf Signif  N  Taraf Signif  5%  1%  5%  1%  5%  1%  3  0.997  0.999  27  0.381  0.487  55  0.266  0.345  4  0.950  0.990  28  0.374  0.478  60  0.254  0.330  5  0.878  0.959  29  0.367  0.470  65  0.244  0.317
TABEL t  PRODUCT MOMENT  DF  SIGNIFIKANSI LEVEL one-tail = 0,05 0,025  0,005  0,0005 two-tail = 0,10 0,05 0,01 0,001  1  6,314  12.706  63.357  636.619  2  2,920  4.303  9.925  31.598  3  2.353  3.182  5.841  12.941  4  2.132  2.776  4.604  8.610  5  2,015
TABEL r PRODUCT MOMENT  N  Taraf Signif  N  Taraf Signif  N  Taraf Signif  5%  1%  5%  1%  5%  1%  3  0.997  0.999  27  0.381  0.487  55  0.266  0.345  4  0.950  0.990  28  0.374  0.478  60  0.254  0.330  5  0.878  0.959  29  0.367  0.470  65  0.244  0.317
TABEL t  PRODUCT MOMENT  DF  SIGNIFIKANSI LEVEL one-tail = 0,05 0,025  0,005  0,0005 two-tail = 0,10 0,05 0,01 0,001  1  6,314  12.706  63.357  636.619  2  2,920  4.303  9.925  31.598  3  2.353  3.182  5.841  12.941  4  2.132  2.776  4.604  8.610  5  2,015

Referensi

Dokumen terkait

Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Pengendalian Intern akuntansi, Faktor Eksternal baik secara parsial maupun secara bersama-sama

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini akan meneliti hubungan antara kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengendalian intern akuntansi

"Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Sistem Pengendalian Intern, Dan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap

Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Sistem Pengendalian Intern

Variabel bebas yaitu variabel kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengendalian intern secara simultan berpengaruh signifikan terhadap

Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Akuntansi, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Kualitas Laporan

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini akan meneliti hubungan antara kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengendalian intern akuntansi

sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, dan sistem pengendalian intern secara simultan berpengaruh terhadap keterandalan pelaporan keuangan