• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Label Selama Beredar

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.6 Pengawasan Label Selama Beredar

Gambar 3.10 Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi pada Produk Pangan Olahan Tahun 2017–2019

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) dan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) mengamanatkan pengawasan terhadap jaminan produk halal. Tugas Pokok dan Fungsi Badan POM yang beririsan dengan Undang-Undang Jaminan Produk Halal dalam hal pengawasan post-market adalah melakukan pengawasan sampling dan pengujian produk (pangan) dan pengawasan kesesuaian antara label yang telah disetujui di pre-market. Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang melakukan koordinasi dengan lintas sektor seperti Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan Pakar dari Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) khususnya dalam rangka menindaklanjuti dispute terkait hasil uji produk mengandung DNA Babi. Beberapa tindak lanjut telah disepakati antara lain merekomendasikan harmonisasi pengujian DNA Babi, uji bersama dengan Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia/Lembaga Pemeriksa Halal (LPPOM MUI/LPH) untuk produk yang telah bersertifikasi atau berbahan baku halal.

3.6 PENGAWASAN LABEL SELAMA BEREDAR

Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas dan lengkap baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukan terkait pangan yang beredar di pasaran. Informasi pada label pangan sangat diperlukan bagi masyarakat agar masing-masing individu secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi. Untuk mengantisipasi hal

89% 96% 87% 94%

11% 4% 13% 6%

2017 2018 2019 2020

Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi

MS TMS

`

24

tersebut, Badan POM melakukan pengawasan label produk pangan sesuai dengan amanat dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Pada tahun 2020 pengawasan label pangan dilakukan terhadap 12.319 produk pangan yang terdiri dari 985 produk yang terdaftar sebagai MD/ML dengan rincian sebanyak 919 label (93.30%) MK dan sebanyak 66 label (6,70%) TMK serta 2259 produk yang terdaftar sebagai PIRT dengan rincian Sebanyak 1095 (48, 45%) MK dan sebanyak 1164 label (51,55%) TMK. Dengan TMK pelanggaran terbanyak adalah Tidak mencantumkan Kode Produksi.

Gambar 3.11 Data Pengawasan Label PIRT Tahun 2020 3.7 INTENSIFIKASI PENGAWASAN PANGAN MENJELANG RAMADHAN DAN

IDUL FITRI TAHUN 2020

Dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang Tidak Memenuhi Ketentuan, khususnya menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2020, BPOM dan melalui seluruh UPT Badan POM di Kab/Kota di seluruh Indonesia melakukan perkuatan pengawasan untuk menjamin pangan aman selama Bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020. Perkuatan pengawasan post market tersebut, dilakukan melalui Intensifikasi Pengawasan Pangan Selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020 yang bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan.

Intensifikasi Pengawasan dilaksanakan serentak diseluruh wilayah Indonesia oleh perwakilan UPT BPOM dengan target pengawasan yaitu:

1. Importir/ Distributor/ Hypermarket yang memiliki track record pelanggaran/

temuan TIE

1095

1164

MEMENUHI KETENTUAN TIDAK MEMENUHI KETENTUAN Jumlah Produk n = 2259

Hasil Pengawasan Label PIRT Tahun 2020

`

2. Toko/ Supermarket, pasar tradisional dan para pembuat/ penjual atau Sarana Distribusi yang paling banyak diwilayahnya

3. Produk Pangan Olahan Terkemas Fokus pada pangan tanpa izin edar (TIE), kedaluwarsa, dan rusak

4. Jajanan Buka Puasa/ Takjil Sampling dan Uji Cepat

Target utama pengawasan adalah produk pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE), kedaluwarsa dan rusak di sisi hulu rantai distribusi produk pangan seperti importir dan distributor. Namun, pengawasan di sarana ritel (pasar tradisional, toko, supermarket, hypermarket), juga dilakukan upaya preventif berupa KIE kepada masyarakat dan pelaku usaha, baik secara langsung maupun menggunakan media sosial dan leaflet.

Pengawasan dilakukan sejak 2 minggu sebelum Ramadhan dan dimulai pada tanggal 27 April 2020 hingga 22 Mei 2020. Pelaporan dilakukan setiap minggu dalam 4 tahap, yaitu pada tanggal 4, 11, 18 dan 22 Mei 2020.

Telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.419 sarana ritel dan distribusi pangan dengan hasil pemeriksaan masih terdapat 1.448 sarana distribusi (59,86%) TMK karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa, dan pangan TIE. Jumlah total temuan produk pangan TMK sebanyak 349.422 kemasan.

1) Rincian hasil pemeriksaan di sarana peredaran

Total temuan produk di sarana ritel sebanyak 349.422 kemasan. Rincian temuan produk sebagaimana terlihat pada Tabel 3.3

Tabel 3.3 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran

Jenis Temuan Jumlah (Kemasan)

Presentase Temuan (%)

TIE 48.263 13,81

Kedaluwarsa 282.996 80,99

Rusak 18.163 5,20

`

26

Gambar 3.12 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran

Pemeriksaan dilakukan terhadap 2.419 sarana distribusi pangan sejak tahap I sampai dengan tahap IV dengan hasil masih terdapat 971 (40,14%) sarana distribusi yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa,dan pangan TIE. Sarana distribusi yang diperiksa terdiri dari gudang distributor/importir dan sarana ritel. Dari sejumlah 483 gudang distributor/importir yang diperiksa, terdapat sebanyak 59 sarana (12,22%) gudang distributor/importir TMK dan dari sejumlah 1.936 sarana ritel yang diperiksa, terdapat sebanyak 912 sarana (47,11%) ritel TMK. Dalam hal ini sarana ritel lebih berisiko, karena pada kondisi pandemik Covid-19 ini dengan panjangnya rantai distribusi dan sarana ritel pada umumnya berada di daerah perifer, sedangkan masyarakat tetap membutuhkan pangan olahan terkemas sementara pasokan pangan tidak sebesar demand. Rincian hasil temuan produk pada gambar 3.17

Gambar 3.13 Profil Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan di Sarana Peredaran Pangan

`

Dari sejumlah 971 sarana distribusi yang TMK, ditemukan 349.422 pcs produk pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan, terdiri dari 80,99% (282.996 pcs) pangan kedaluwarsa, 13,81% (48.263 pcs) pangan TIE dan 5,20% (18.163 pcs) pangan rusak. Produk pangan kedaluwarsa masih menempati proporsi terbesar temuan TMK. Temuan tersebut diperoleh di gudang distributor/importir sebanyak 272.354 pcs dengan sebaran lokasi temuan terbesar terdapat di Palu, Batam, Jayapura, Manado, dan Bengkulu. Temuan produk pangan Tidak Memenuhi Ketentuan di sarana ritel sebanyak 77.068 pcs dengan sebaran lokasi temuan terbesar terdapat di Jayapura, Yogyakarta, Ambon, Kupang, dan Medan. Terdapat perbedaan profil temuan antara gudang distributor/importir dan sarana ritel, yang disebabkan oleh beberapa hal berikut:

- Distributor/importir biasanya menyimpan stok untuk kebutuhan 3-4 bulan ke depan. sehingga pada sekitar bulan Januari/Februari ketika pandemi Covid-19 belum ditetapkan sebagai Status Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Covid-19, pelaku usaha masih menyimpan stok dalam jumlah normal.

Ketika masa pandemi, dimana demand menurun akibat penurunan daya beli masyarakat dan banyaknya ritel yang tutup mengakibatkan produk dengan masa simpan pendek berisiko menjadi kedaluwarsa dan tidak sempat diedarkan.

- Di sarana ritel profil temuan didominasi oleh produk yang TIE yang diikuti dengan produk kedaluwarsa. Hal ini salah satunya disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi sampai ke lokasi ritel tersebut dan pelaku pelanggaran memanfaatkan situasi tersebut untuk mengedarkan produk Tanpa Izin Edar (TIE). Selain itu banyak daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga jangkauan dan mobilitas petugas pengawas Badan POM

2) Dari sisi nilai ekonomi, temuan produk pangan TMK sampai tahap ke IV tersebut secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp 1.090.900.000,- (Satu Miliar Sembilan Puluh Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah).

`

28 3) Sebaran temuan produk TMK

Tabel 3.4 Sebaran Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan Jenis Temuan 5 besar UPT BPOM

wilayah tempat

Minuman Serbuk, Permen, Minuman berperisa, Susu, Tepung Bumbu Berperisa, Susu, Daging Kaleng, Permen

4) Hasil pengawasan pangan buka puasa (takjil) selama bulan Ramadhan sebagai berikut :

− Jenis pangan yang disampling dan dilakukan pengujian, antara lain:

kudapan, makanan ringan, mie, es, lauk pauk, bubur, jelly/agar-agar, minuman berwarna/sirup, dan bakso.

− Parameter yang diuji meliputi formalin, boraks, pewarna yang dilarang (rhodamin B dan methanyl yellow). Pengujian dilakukan secara cepat (on the spot) dengan menggunakan rapid test kit.

− Hasil pengawasan sebagai berikut :

a. Jumlah sampel total pangan buka puasa/takjil yang diperiksa sebanyak 10.669 sampel dengan hasil sebagai berikut :

− 10.499 sampel (98,41%) Memenuhi Syarat (MS)

− 170 sampel (1,59%) Tidak Memenuhi Syarat (TMS) karena mengandung Bahan Berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan yang terdiri dari :

• Rhodamin B : 70 sampel (39,77%) dari total parameter TMS

• Formalin : 69 sampel (39,20%) dari total parameter TMS

• Boraks : 36 sampel (20,45%) dari total parameter TMS

• Methanyl Yellow : 1 sampel (0,57%) dari total parameter TMS

`

Dari 170 sampel takjil yang TMS, terdapat 6 sampel yang diuji dengan 2 parameter bahan berbahaya dengan rincian : 5 sampel mengandung Bahan berbahaya Boraks dan Formalin dan 1 sampel mengandung bahan berbahaya Boraks dan Rhodamin B.

b. Beberapa jenis pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) antara lain:

kudapan, mie, lauk pauk, minuman berwarna, dan makanan ringan.

- Profil Hasil pengawasan pangan Buka Puasa (Takjil) Tahun 2020 sampai dengan tahap IV sebagaimana tertera pada diagram berikut:

Gambar 3.14 Profil Hasil pengawasan pangan Buka Puasa (Takjil) Tahun 2020 3.8. INTENSIFIKASI PENGAWASAN PANGAN MENJELANG NATAL 2020 DAN

TAHUN BARU 2021 1. Pelaksanaan

Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru dilaksanakan sejak tanggal 23 November 2020 sampai dengan 8 Januari 2020 oleh 73 UPT Badan POM di Kabupaten/Kota dan dilaporkan dalam 5 (lima) tahap. Kegiatan intensifikasi pengawasan pangan dilaksanakan melalui pemeriksaan sarana distribusi pangan (ritel dan gudang importir/distributor) dengan hasil sebagai berikut:

a. Telah dilakukan pemeriksaan terhadap 4.000 sarana distribusi pangan (3964 sarana diperiksa secara onsite dan 45 sarana secara online) dengan hasil masih terdapat 1.500 sarana distribusi (37,50%) Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK), karena menjual produk pangan rusak (penyok, kaleng berkarat, rusak, dan bolong/bocor), pangan kedaluwarsa, dan pangan Tanpa Izin Edar (TIE). Jumlah total temuan produk pangan TMK sebanyak 6.956 item (131.973 kemasan)

`

30

b. Rincian data sarana distribusi yang diperiksa

Sebanyak 77 sarana (14,37%) dari 536 gudang distributor/ importir yang diperiksa ditemukan TMK dan 1.423 sarana (41,08%) dari 3.464 sarana ritel yang diperiksa ditemukan TMK. Sementara itu, seluruh sarana yang diperiksa secara online Memenuhi Ketentuan (MK).

Rincian jumlah sarana yang diperiksa sebagaimana terlihat pada Tabel 3.7

Tabel 3.15 Rincian Total Sarana diperiksa pada Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Distribusi Retail c. Rincian data temuan produk

Dari total sarana distribusi TMK (1.500 sarana), ditemukan 131.973 bungkus (pieces) dari 6.956 item produk TMK dengan rincian 64,72%

pangan kedaluwarsa (85.411 bungkus (pieces)); 29,92% pangan TIE (39.486 bungkus (pieces)), dan 5,36% pangan rusak (7.076 bungkus (pieces)). Produk kedaluwarsa menempati proporsi terbesar yaitu 85.413 kemasan atau 64,72 %. Dengan rincian sebagaimana tabel 3.8:

Temuan Jumlah (Kemasan) Temuan (%)

Kedaluwarsa 85.413 64,72

TIE 39.486 29,92

Rusak 7.074 5,36

Tabel 3.16 Temuan Produk pada Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Peredaran Pangan

`

Gambar 3.17 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Peredaran Pangan

Rincian temuan produk per sarana yaitu Gudang distributor/ Importir dan sarana ritel sebagaimana gambar berikut:

Gambar 3.18 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Peredaran Pangan Sofifi merupakan wilayah dengan temuan produk kedaluwarsa di sarana ritel yang paling banyak, yaitu sebesar 17,08% dari total temuan produk kedaluwarsa di sarana ritel. Sementara untuk produk TIE paling banyak ditemukan di sarana ritel di wilayah Baubau, yaitu sebesar 16,96% dari total temuan produk TIE di sarana ritel. Produk rusak ditemukan terbanyak di sarana ritel di wilayah Sorong, yaitu sebesar 7,87% dari total temuan produk rusak di sarana ritel. Telah dilakukan pengamanan, retur dan/atau pemusnahan terhadap seluruh temuan tersebut.

Berdasarkan evaluasi terhadap asal negara produsen dari 39.486 bungkus

`

32

(pieces) produk TIE, diketahui persentase produk TIE lokal (87,75%) lebih besar daripada produk TIE impor (12,25%). Produk TIE lokal terbanyak berupa makanan ringan dan BTP, sedangkan produk TIE impor terbanyak berupa biskuit dan minuman cokelat paduan.

Terhadap seluruh temuan baik sarana dan produk, telah dilakukan tindak lanjut berupa penurunan dari lemari pajang/display, pengamanan setempat, pemusnahan produk dan pemberian sanksi administratif berupa peringatan, bila perlu ditingkatkan ke dalam proses pro-justitia

d. Sebaran temuan produk TMK

Tabel 3.6 Sebaran Temuan Produk TMK Jenis Temuan 5 Besar Wilayah

Temuan Jenis Pangan TMK

1. TIE Baubau, Surakarta,

Tangerang, Jakarta, dan Bengkulu

Makanan ringan, BTP, Minuman serbuk kopi, Permen/kembang gula, dan Cuka

2. Kedaluwarsa Baubau, Bengkulu, Sofifi, Manggarai Barat, dan Banda Aceh

Biskuit, Makanan ringan,

Minuman jelly,

Dari sisi nilai ekonomi, temuan produk pangan TMK tersebut diperkirakan mencapai Rp 2.771.328.000,- dengan rincian sebagai berikut:

− Pangan kedaluwarsa senilai Rp 1.793.631.000,-

− Pangan TIE senilai Rp 829.101.000,-

− Pangan rusak senilai Rp 148.596.000,-

f. Tren Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2016 – 2020

`

Gambar 3.24 Persentase Sarana Distribusi Tidak Memenuhi Ketentuan yang Diperiksa oleh UPT BPOM di Kabupaten/Kota tahun 2016 – 2020

Sarana distribusi yang Tidak Memenuhi Ketentuan masih menunjukkan persentase yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu antara 35 – 44 %. Untuk tahun 2020, jumlah sarana yang diperiksa mengalami penurunan dikarenakan kondisi pendemi Covid-19 yang menyebabkan terhambatnya pemeriksaan sarana onsite karena adanya pengurangan mobilitas. Namun hal tersebut dapat disisati dengan pemeriksaan sarana secara online. Kegiatan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru ini dilaksanakan dengan protocol kesehatan yang ketat dan dengan tetap mengedepankan upaya pembinaan kepada para pelaku usaha. Peningkatan upaya pembinaan pada sarana distribusi pangan, diharapkan dapat menekan temuan pangan pada periode selanjutnya.

Gambar 3.19 Tren Temuan Produk TMK Tahun 2016 – 2020

2016 2017 2018 2019 2020

TIE 1.129.061 764.327 222.071 172.238 39.486

Kedaluwarsa 100.550 29.588 107.289 586.837 85.413

Rusak 25.549 7.138 13.662 15.309 7.074

200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000

Total Temuan (Kemasan)

Tren Temuan Produk TMK pada Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2016-2020

2016, n:3.313 2017, n: 2897 2018, n: 3.538 2019, n: 4.939 2020, n: 1500

`

34

Tabel 3.7 Lima besar wilayah tempat temuan tahun 2018 - 2020

Jenis Temuan 2018 2019 2020

1. Kedaluwarsa Mamuju, Ende, Sofifi,

Tabel 3.8 Lima besar jenis pangan Tidak Memenuhi Ketentuan

Jenis Temuan 2018 2019 2020

1. Kedaluwarsa Makanan ringan, bumbu,

`

3.9 KETERANGAN IMPOR (SKI), SURAT KETERANGAN EKSPOR (SKE) PANGAN OLAHAN, DAN SERTIFIKASI SARANA PRODUKSI

Dalam rangka ikut mendorong ekspor produk pangan,selama tahun 2020 Badan POM telah menerbitkan 19.051 SKE untuk 54.652 item produk yang diekspor. Adapun pencapaian timeline rata-rata dalam proses penerbitan SKE pada tahun 2020 adalah 4.21 jam kerja dengan SLA 16 jam.

Ekspor (SKE) Bulan Januari – Desember 2020

No. Bulan Jumlah

`

36

8 Agustus 1.474 4.233 4.45

9 September 1.748 4.886 4.38

10 Oktober 1.515 4.401 4.11

11 November 1.895 5.643 5.32

12 Desember 1.606 5.981 5.17

Total 19.051 54.652 4.21 Tabel 3.9 Rekapitulasi Jumlah dan PencapaianTimeline

Surat Keterangan Ekspor

Berikut ini 10 jenis pangan yang paling banyak diekspor dan 10 negara tujuan ekspor dengan jumlah ekspor tertinggi data sebagai berikut:

Negara Tujuan Jumlah

Rekomendasi Jenis Produk Total

Malaysia 11408 Makanan Ringan

15372

China 10906 Biskuit 8996

Viet Nam 2835 Mie Instan 5726

Philippines 2700 Bumbu Instant 2470

United Arab Emirates 2337 Topping

1637

Saudi Arabia 1817 Lemak Nabati /

Korstvet

1446

Myanmar 1811 Kembang Gula /

Beraroma 1276

Brunei Darussalam 1506 Perisa 1241

Nigeria 1213 Es Krim 1085

Papua New Guinea 1211 Pemanis Rendah

Kalori

1079

Tabel 3.10 Jenis Pangan dan Tujuan Ekspor Tertinggi

Selain itu, pada tahun 2020 Badan POM telah menerbitkan 7 (tujuh) SKE kemasan pangan untuk 18 (delapan belas) item produk yang diekspor. Adapun pencapaian rata-rata timeline per bulan dalam proses penerbitan SKE kemasan pangan pada tahun 2020 adalah 15.04 jam kerja dengan SLA 16 jam.

`

Tabel 3.11 Rekapitulasi Surat Keterangan Ekspor Kemasan Pangan Bulan Januari - Desember 2020

Badan POM telah menerbitkan 48.890 SKI untuk 139.182 item produk, meliputi 20.370 SKI untuk 32.530 item bahan pangan, 12.476 SKI untuk 41.698 item BTP, 13.981 SKI untuk 62.371 item produk pangan, serta 2.063 SKI untuk 2.583 item produk Non Pangan. Adapun pencapaian rata-rata timeline per bulan dalam proses penerbitan SKI pada tahun 2020 adalah 3,87 jam dengan target SLA 8 jam dari Januari hingga Juni dan 6 jam dari Juli-Desember dikarenakan terbitkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 14 tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 29 Tahun 2017 tentang Pengawasan Pemasukan Bahan Obat dan Makanan ke dalam Wilayah Indonesia dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 15 tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pengawasan Pemasukan Obat dan Makanan ke dalam Wilayah Indonesia. Adapun data Rekapitulasi Surat Keterangan Impor (SKI) Pangan melalui National Single Window (NSW) Bulan Januari – Desember 2020

No. Bulan Jumlah Surat Jumlah Item Produk

Pencapaian Timeline (Jam)

1 Januari 0 0 0

2 Februari 3 14 10.98

3 Maret 0 0 0

4 April 0 0 0

5 Mei 0 0 0

6 Juni 3 3 3.58

7 Juli 0 0 0

8 Agustus 0 0 0

9 September 3 14 10.98

10 Oktober 0 0 0

11 November 0 0 0

12 Desember 1 1 30.58

Total 7 18 15.04

`

Tabel 3.12 Rekapitulasi Surat Keterangan Impor (SKI) per komoditi Bulan Januari – Desember 2020

No. Bulan Jumlah Total (SKI) Pangan Bulan Januari – Desember 2020

`

Berikut ini 10 jenis pangan yang paling banyak diimpor dan 10 negara asal importir dengan jumlah impor tertinggi:

Negara Asal Jumlah

Rekomendasi Jenis Produk Total

Singapore 25711 Perisa 19884

Malaysia 17801 Essence / Penyedap

Rasa 17774

China 14237 Makanan Ringan 3875

United States 10806 Keju 3828

Thailand 9252 Coklat 3533

South Korea 6567 Biskuit 3264

Japan 5930 Kembang

Gula/Beraroma 3058

Australia 5498 Kentang Beku 2475

France 5292 Mie Instan 2318

Italy 3645 Pewarna Makanan 1944

Tabel 3.14 Rekapitulasi Pencapaian Timeline Surat Keterangan Impor (SKI) Pangan Bulan Januari – Desember 2020

Selama tahun 2020, Badan POM juga telah menerbitkan 17 surat keterangan higiene dan sanitasi untuk 7 sarana produksi pangan, dengan rincian 5 sarana produksi memperoleh nilai A (masa berlaku surat keterangan 12 bulan) dan yang lainnya mendapat nilai B

Tabel 3.15 Rekapitulasi Surat Keterangan Higiene & Sanitasi Bulan Januari – Desember 2020

`

Tabel 3.17 Rekapitulasi Penerbitan SKI/SKE di 12 Balai Besar/Balai POM Tahun 2020

No Balai

Jumlah

Surat Produk Impor Ekspo

Balai Besar POM Bandar

Lampung 138 39 Tabel 3.16 Rekapitulasi Sertifikasi CPPOB Januari – Desember Tahun 2020

`

13 Balai Besar POM Denpasar 10 0 0 0 0

14 Balai Besar POM Mataram 0 0 0 0 0

16 Balai Besar POM Pontianak 7 0 0 0 0

17 Balai POM Palangkaraya 0 0 0 0 0

18 Balai Besar POM Banjarmasin 0 0 0 0 0

19 Balai Besar POM Samarinda 0 0 0 0 0

20 Balai Besar POM Manado 47 1 1 0 1

21 Balai POM Palu 11 0 0 0 0

22 Balai POM Kendari 0 0 0 0 0

23 Balai POM Ambon 0 0 0 0 0

24 Balai Besar POM Jayapura 0 0 0 0 0

25 Balai POM Batam 186 1295 35 14 1269

26 Balai POM Pangkal Pinang 0 0 0 0 0

27 Balai Besar POM Makassar 0 0 0 0 0

28 Balai POM Gorontalo 0 0 0 0 0

29 Balai POM Sofifi 0 0 0 0 0

30 Balai POM Manokwari 0 0 0 0 0

Jumlah 14.667 14.965 4.176 6.380 1.294

Selain kewenangan tersebut di atas, Badan POM juga menerbitkan Surat Rekomendasi Pemasukan (SRP) Produk Pangan Olahan Asal Hewan. Surat rekomendasi ini menjadi salah satu acuan dalam penentuan kuota Persetujuan Impor (PI) untuk produk olahan hewan di Kementerian Perdagangan. Selama tahun 2020 Badan POM telah mengeluarkan 1.983 SRP Produk Pangan Olahan Asal Hewan, dengan rincian per bulan sebagai berikut:

Tabel 3.18 Penerbitan Surat Rekomendasi Pemasukan (SRP) Produk Pangan Olahan Asal Hewan

No. Bulan Jumlah Total SRP

1 Januari 167

2 Februari 87

3 Maret 120

4 April 39

5 Mei 185

6 Juni 382

7 Juli 169

8 Agustus 54

9 September 88

`

42

10 Oktober 26

11 Nopember 349

12 Desember 317

1.983

3.10 REVIEW PEDOMAN SAMPLING PANGAN DAN KEMASAN PANGAN TAHUN 2020

Kegiatan sampling dan pengujian pangan yang dilakukan Badan POM merupakan bagian dari upaya pengawasan keamanan dan mutu produk pangan di peredaran, baik dalam rangka surveilan untuk melihat pemenuhan persyaratan (compliance) terhadap regulasi maupun tindak lanjut penanganan kasus pelanggaran pangan. Selain itu, sampling juga dilakukan di sarana produksi, baik dalam rangka penerimaan dan verifikasi lot sebelum diedarkan, verifikasi terhadap pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), termasuk keamanan kemasan pangan, klaim halal, dan kesesuaian label, serta tindak lanjut penanganan pelanggaran pangan. Kegiatan sampling dan pengujian juga ditujukan untuk fasilitasi UMKM dalam rangka pendaftaran.

Pengawasan pangan dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pengawasan kesesuaian label dan pengawasan keamanan dan mutu pangan melalui uji laboratorium berdasarkan kajian risiko. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada tahun 2018 terdapat restrukturisasi organisasi di Badan POM yang berdampak pada kebijakan sampling dan pengujian Tahun Anggaran 2020. Oleh karena itu, sampling dan pengujian terhadap pangan dilakukan secara menyeluruh termasuk kemasan pangan. Sampel kemasan pangan yang dilaporkan terdiri dari kemasan pangan terdaftar dan kemasan wadah yang dipersyaratkan wajib SNI.

Penetapan prioritas jenis pangan dan kemasan pangan yang akan disampling dilakukan berdasarkan pendekatan analisis risiko, yaitu melalui kajian risiko terhadap kesehatan konsumen dan pangan yang paling berisiko. Kajian risiko tersebut mempertimbangkan tingkat paparan pangan terhadap masyarakat, hasil sampling dan pengujian tahun sebelumnya, keadaan daerah, jumlah dan jenis sarana produksi dan distribusi pangan, kemampuan pengujian seluruh UPT Badan POM dari aspek peralatan, Sumber Daya Manusia (SDM), maupun ketersediaan baku pembanding.

Pada tanggal 2-3 November 2020 juga telah dilaksanakan Forum Koordinasi Pusat dan Balai dalam rangka Manajemen Sampling tahun 2021 di Hotel Grand Hyatt.

`

Berdasarkan hasil pembahasan Manajemen Sampling dan rapat pembahasan pedoman sampling yang telah dilakukan beberapa kali, didapatkan penambahan pada draft pedoman sampling tahun 2021. Beberapa point yang perlu menjadi perhatian adalah :

a. Pangan yang disampling secara purposive adalah jenis pangan yang merupakan prioritas khusus, antara lain:

• Pangan yang ditetapkan dalam program nasional, yaitu pangan fortifikasi (garam konsumsi, tepung terigu, dan minyak goreng sawit)

• Pangan spesifik lokal masing-masing daerah

• Sebagai tindak lanjut kasus pelanggaran pangan/masalah produk, adanya laporan atau informasi

• Pangan dari UMKM yang mendapat pendampingan dengan ketentuan telah memenuhi ketentuan CPPOB untuk memperoleh NIE dari Badan POM

• Sampling dan pengujian laboratorium air, sebagai data dukung pengembangan laboratorium air

• Produk pangan dalam negeri maupun impor yang dicurigai mengandung atau dicurigai tercemar unsur porcine

• PJAS yang sering dan diduga mengandung bahan tambahan yang dilarang digunakan pada pangan, seperti menggunakan BTP dalam jumlah melebihi batas maksimal yang diijinkan dan atau tercemar, yaitu produk es, minuman berwarna dan sirup, jeli/agar, dan bakso/pentol/siomay/batagor/ cilok.

• Sampling secara purposive juga dilakukan pada kemasan pangan b. Untuk pangan yang disampling secara random,tidak semua jenis pangan di

sampling. Jenis pangan yang disampling merupakan pangan olahan yang berdasarkan analisis risiko dikategorikan berisiko tinggi, dengan memperhitungkan kriteria sebagai berikut:

• Pangan yang dikonsumsi masyarakat dalam jumlah banyak, dalam skala nasional maupun skala daerah.

• Pangan yang sering dan diduga mengandung bahan berbahaya yang

• Pangan yang sering dan diduga mengandung bahan berbahaya yang

Dokumen terkait