BAB II PENGELOLAAN SUMBER DAYA
2.5 Realisasi Anggaran dan Akuntabilitas Keuangan
12
No. Nama Barang Jumlah Barang
48 Modem 6
2.5. REALISASI ANGGARAN DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN
Pada tahun 2020 Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang memperoleh anggaran sebesar Rp. 8.371.652.000,-, dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 8.358.255.035,- Dengan demikian, persentase realisasi terhadap pagu adalah 99,84%. Realisasi anggaran terhadap pagu setiap kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2020
Tabel 2.4 Realisasi Anggaran Kegiatan Terhadap Pagu Tahun 2020
Sasaran Strategis
Nama Indikator
Target Realisasi Persentase Capaian
Rp.370.190.000 Rp. 369.884.227 99,92
Jumlah Kab/Kota
Rp. 517.270.811 99,59
`
`
14 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI PANGAN RISIKO RENDAH DAN SEDANG
Di tingkat produksi pangan, pada tahun 2020 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.744 sarana. Pemeriksaan sarana produksi ini difokuskan pada penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan kepatuhan terhadap perundang-undangan, antara lain bahwa produk pangan yang diproduksi telah memiliki surat persetujuan pendaftaran.
Gambar 3.1. Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Tahun 2020 Hasil pemeriksaan sarana industri pangan MD memperlihatkan bahwa 1.753 sarana (63,88%) sudah menerapkan CPPOB, sedangkan 899 sarana (32,76%) belum menerapkan CPPOB secara konsisten dan 92 sarana (3,36 %) Tutup atau Tidak Dapat diperiksa. Ketidaksesuaian CPPOB untuk industri MD antara lain pencegahan serangga, burung, tikus dan binatang lain tidak efektif;
pertemuan antara dinding dan dinding tidak mudah dibersihkan; tidak ada program pengecekan Kesehatan karyawan; konstruksi tidak sesuai persyaratan teknik sanitasi dan higiene (tidak rata,tidak kuat, retak atau licin); pelatihan pekerja dalam hal sanitasi dan higiene tidak cukup; tidak ada program sanitasi yang efektif di unit pengolahan; dan tidak ada program pemantauan untuk membuang wadah dan peralatan yang sudah rusak/tidak digunakan. Terhadap hasil pemeriksaan yang belum menerapkan CPPOB tersebut telah dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan, peringatan tertulis sampai dengan sanksi administratif.
1753
HASIL PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN TAHUN 2020
Memenuhi Ketentuan Tidak Memenuhi Ketentuan
`
Hasil pemeriksaan IRTP diketahui bahwa 400 (26,01%) sarana telah menerapkan CPPOB dan 1125 (73,15%) sarana belum menerapkan CPPOB dan 13 (0,85 %) tutup atau tidak dapat diperiksa. Ketidaksesuaian CPPOB untuk IRTP antara lain adalah belum adanya sistem dokumentasi yang memadai; Fasilitasi dan implementasi higene dan sanitasi sarana yang masih kurang; personal higiene karyawan yang kurang baik; Konstruksi sarana IRTP yang belum sesuai dengan aspek GMP dan Sistem Quality Assurance/ Quality Control yang belum optimal.
Terhadap sarana yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) tersebut, telah dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan dan atau peringatan tertulis dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
Gambar 3.2. Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Distribusi Produk Pangan Tahun 2020
Di tingkat distribusi pangan, pada tahun 2020 telah dilakukan pemeriksaan secara rutin terhadap 7239 sarana distribusi pangan, dengan hasil 4929 (68,09%) sarana MK dan 2302 (31,80%) sarana TMK terhadap penerapan Cara Ritel Pangan yang Baik (CRPB). Ketidaksesuaian CRPB yang sering ditemukan pada sarana distribusi antara lain penyimpanan produk pangan yang masih tercampur dengan produk non pangan ataupun pangan kedaluarsa, sanitasi sanitasi dan kebersihan sarana yang kurang baik, pencegahan binatang pengerat yang tidak efektif, tidak dilakukan monitoring suhu penyimpanan dingin dan penyimpanan produk pangan yang masih menempel dinding/lantai. Selain itu juga, pelanggaran yang ditemukan pada saat pemeriksaan antara lain adanya produk rusak, kemasan rusak atau penyok, kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar, repacking dan pangan mengandung Bahan Berbahaya/Bahan Tambahan Pangan mengandung Bahan Berbahaya
4929
Jumlah Sarana n = 7239
Hasil Pemeriksaan Sarana Distribusi Tahun 2020
Memenuhi Ketentuan
Tidak Memenuhi Ketentuan
`
16
Gambar 3.3 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Importir Produk Pangan Tahun 2020
Hasil pemeriksaan sarana importir diketahui bahwa 45 (76,27%) sarana importir telah memenuhi ketentuan dan 7 (11,86%) sarana Tidak Memenuhi Ketentuan pada formulir pemeriksaan sarana distribusi (form B), selain itu 7 (11,85%) sarana tidak dapat dinilai. Pelanggaran yang ditemukan antara lain adanya produk rusak, kemasan rusak atau penyok, kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar atau habis masa izin edar dan TMK label. Pelanggaran terhadap produk yang tidak mempunyai izin edar dan produk yang Tidak Memenuhi Ketentuan label dilakukan pemusnahan dengan disaksikan oleh importir dan petugas Badan POM.
3.2 SAMPLING DAN PENGUJIAN PANGAN OLAHAN RISIKO RENDAH DAN SEDANG
Kegiatan sampling dan pengujian pangan yang dilakukan Badan POM merupakan bagian dari upaya pengawasan keamanan dan mutu produk pangan di peredaran, baik dalam rangka surveilan untuk melihat pemenuhan persyaratan (compliance) terhadap regulasi maupun tindak lanjut penanganan kasus pelanggaran pangan. Selain itu juga dapat dilakukan di sarana produksi, baik dalam rangka penerimaan dan verifikasi lot sebelum diedarkan, verifikasi terhadap pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), termasuk keamanan kemasan pangan, klaim halal, dan kesesuaian penandaan, serta tindak lanjut penanganan pelanggaran pangan. Kegiatan sampling dan pengujian juga ditujukan untuk fasilitasi UMKM dalam rangka pendaftaran.
Pengawasan pangan melalui kegiatan sampling dan pengujian pangan dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pengawasan kesesuaian penandaan/label dan pengawasan keamanan dan mutu pangan melalui uji laboratorium, dengan
45
Jumlah Sarana n = 59
Hasil Pemeriksaan Sarana Importir Produk PanganTahun 2020
Memenuhi Ketentuan Tidak Memenuhi Ketentuan TA (Tutup, Tidak dapat diperiksa)
`
parameter uji yang diprioritaskan berdasarkan kajian risiko. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada tahun 2018 terdapat restrukturisasi organisasi di Badan POM yang berdampak pada kebijakan sampling dan pengujian tahun anggaran 2020. Oleh karena itu, sampling dan pengujian terhadap pangan dilakukan secara menyeluruh.
Dalam rangka pengawasan keamanan dan mutu produk pangan yang beredar di masyarakat, selama tahun 2020 dilakukan pengambilan sampel dan pengujian laboratorium sejumlah 17.763 sampel pangan olahan yang terdaftar di Badan POM (MD/ML), termasuk sampel pangan PIRT, dan pangan tidak terdaftar.
Tabel 3.1. Data Hasil Sampling dan Pengujian Tahun 2020 (data 19/03/2021)
No Keterangan Hasil Pengujian
(jumlah sampel) Kesimpulan 1. Sampel Rutin (Total) 12.319
●
e. TIE 37 TMS
●
f. Kedaluwarsa 23 TMS
●
g. Rusak 13 TMS
● h
h. Baik 12.246
h.1. TMK Label 1.863 TMS
h.2. MK Label 10.383 MS
h.2.1. MS Pengujian 9.816 MS
h.2.1. TMS Pengujian 567 TMS
2. Sampel Bertarget (Total) 5.444
a. MS Pengujian 3.852 MS
b. TMS Pengujian 1.592 TMS
Teknik sampling pangan dibagi menjadi 2 (dua) sesuai dengan tujuan sampling, yaitu:
a. Random Sampling
Random sampling adalah metode pengambilan sampel dilakukan secara random/acak pada tahapan pengambilan sampel paling akhir (pemilihan merek), baik produk MD/ML/PIRT/TIE/rusak atau kedaluwarsa, terhadap sampel pangan rutin. Dalam perhitungan persentase pangan yang memenuhi syarat dengan metode random sampling, hasil evaluasi penandaan berpengaruh terhadap kesimpulan
`
18 MS/TMS produk pangan.
Berdasarkan data yang masuk melalui pelaporan SIPT pada tahun 2020, jumlah sampel baik yang masuk dalam proses pengujian adalah 12.246 sampel rutin. Dari seluruh data sampel baik yang masuk ke pengujian, sebanyak 15,21% (1.863 sampel) yang labelnya Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK). Berikut persentase sampel pangan dengan metode random sampling yang Memenuhi Persyaratan (MS) dan Tidak Memenuhi Persyaratan (TMS) tahun 2020:
n = 12.319
•
Gambar 3.4 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (Sampel Rutin) Tahun 2020
b. Targeted sampling
Targeted sampling adalah metode pengambilan sampel dilakukan secara sengaja/non-random terhadap produk pangan yang diduga tidak memenuhi syarat atau ketentuan yang berlaku. Pada tahun 2020, berdasarkan data yang masuk melalui pelaporan SIPT, jumlah sampel yang telah selesai dilakukan pengujian sebanyak 5.444 sampel.
Hasil perhitungan persentase pangan yang memenuhi syarat dengan metode targeted sampling sebagai berikut:
n = 5.444
Gambar 3.5 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (sample targeted) Tahun 2020
`
Perhitungan sampel pangan MS dan TMS sampel purposive (targeted sampling) dapat dilihat dari gambar 4.57 Proporsi sampel pangan dari 5.444 sampel yang telah diuji, diketahui bahwa sampel pangan MS sebesar 71% (3.852 sampel) sedangkan sampel pangan TMS sebesar 29% (1.592 sampel).
Targeted sampling ditujukan untuk mengakomodir pelaksanaan kegiatan sampling dan pengujian dalam rangka pengawasan dengan prioritas khusus seperti pengawalan pangan yang ditetapkan dalam program nasional, penelusuran kasus, pengawalan mutu dan keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah, pengawasan terhadap pangan yang diduga mengandung DNA Porcine, dll.
Selain dalam hal pengawasan, targeted sampling juga mengakomodir pelaksanaan kegiatan sampling dan pengujian dalam rangka pembinaan seperti pendampingan UMKM. Hal ini sebagai bentuk dukungan sesuai dengan Misi Badan POM yaitu mendorong kapasitas dan komitmen pelaku usaha khususnya UMKM. Pada kegiatan sampling dan pengujian produk pangan dalam rangka pembinaan UMKM, Balai Besar/Balai/Loka POM dapat melakukan pengambilan dan pengujian sampel pangan UMKM yang di bawah binaannya yang mana selanjutnya hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai data dukung proses pendaftaran pangan di Direktorat Registrasi Pangan Olahan Badan POM.
3.3 SAMPLING DAN PENGUJIAN KEMASAN PANGAN
Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan dalam rangka pengawasan keamanan kemasan pangan, dengan mengacu pada Pedoman Sampling Obat dan Makanan Tahun 2019 dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 16 Tahun 2014 dan terakhir diubah menjadi Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.
Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan terhadap kemasan pangan dari produk pangan terdaftar dan kemasan pangan produk wajib SNI yaitu peralatan makan minum melamin dan keramik. Jumlah sampel kemasan pangan sebanyak 80 sampel, yang terdiri 6 sampel kemasan pangan dari produk pangan
`
20
terdaftar, dan 74 sampel kemasan pangan produk wajib SNI yaitu sampel peralatan makan minum melamin dan keramik. Kemasan pangan dari produk pangan terdaftar terdiri dari 1 sampel polikarbonat dan 5 sampel polipropilena, sedangkan 74 sampel kemasan pangan produk wajib SNI terdiri dari 30 sampel keramik dan 44 sampel melamin. Hasil pengujian terhadap 80 sampel tersebut seluruhnya memenuhi syarat.
Gambar 3.6. Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2020 Perbandingan hasil pengawasan kemasan pangan tahun 2018-2020 dapat dilihat pada Gambar 4.90. Hasil sampling dan pengujian kemasan pangan tersebut menunjukkan trend peningkatan kemasan pangan yang memenuhi syarat, dimana pada tahun 2020 seluruh sampel memenuhi syarat.
Gambar 3.7. Perbandingan Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2018-2020
3.4 SAMPLING DAN PENGUJIAN PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS)
Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan dalam rangka
Melamin; 44 Keramik; 30
Polipropilen; 5
polikarbonat; 1
HASIL SAMPLING DAN PENGUJIAN KEMASAN PANGAN TAHUN 2020
n = 80
97% 98,2% 100%
3% 1,8% 0%
2018 2019 2020
n = 109
Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2018-2020
MS TMS
n = 80 n = 123
`
pengawasan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), dengan mengacu pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.02.02.1.22.02.20.58 Tahun 2020 tentang Pedoman Sampling dan Pengujian Obat dan Makanan Tahun Anggaran 2020.
Gambar 3.8 Profil Hasil Pengujian Pangan Jajanan Anak Sekolah Tahun 2020 Pada tahun 2020, telah dilakukan sampling dan pengujian terhadap 1378 sampel PJAS, dengan hasil sampel PJAS yang memenuhi persyaratan sebanyak 310 sampel (82,45%), sedangkan sampel PJAS yang Tidak Memenuhi Syarat sebanyak 66 sampel (17,55%). Adapun 4 jenis pangan dengan TMS terbanyak pada produk Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) adalah Es, Jeli/ Agar, Bakso/Pentol/Siomay/Batagor/Cilok dan Minuman Berwarna. Sedangkan 4 parameter pengujian TMS terbanyak adalah adanya cemaran mikroba seperti e.coli, bacillus cereus s. aureus, Salmonella Sp, Kapang Khamir; Cemaran Logam berat Pb; BTP berlebih seperti siklamat, sakarin, benzoat; dan Bahan berbahaya:
Rhodamin B, Methanyl yellow, formalin dan boraks.
3.5 PENGUJIAN DNA BABI
Badan POM dan Balai Besar POM/Balai POM di seluruh Indonesia melakukan sampling dan pengujian laboratorium terhadap pangan yang dicurigai mengandung DNA babi. Sampel diambil berdasarkan prioritas sampling yang telah ditetapkan.
Selama tahun 2020 dan telah dilakukan uji sebanyak 120 produk dari jenis pangan berikut:
310
66
0 50 100 150 200 250 300 350
Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat
Jumlah Sampel n = 376
Hasil Pengujian PJAS Tahun 2020
`
22
Tabel 3.2 Sampel yang Dicurigai Mengandung DNA Babi
Olahan Daging Mie Instan Kembang gula lunak
Mie/bihun kering
Bakso Daging Bumbu Gelatin Sosis Daging
Cokelat dan olahannya
Dendeng Daging Permen lunak Kornet Daging
Hasil pengujian terhadap parameter uji Fragmen DNA Babi menunjukkan bahwa dari 120 sampel yang diuji (Gambar 4.81), terdapat sebanyak 7 sampel (6%) mengandung fragmen DNA Babi yaitu produk kembang gula lunak dan olahan daging.
Gambar 3.9 Hasil Sampling dan Pengujian DNA Babi Tahun 2020
Terhadap pelaku usaha yang ditemukan produknya mengandung DNA babi tersebut, kemudian dilakukan penerbitan surat peringatan dan perintah untuk melakukan penarikan terhadap bets produk yang terdeteksi mengandung DNA babi, merekomendasikan pelaku usaha untuk mengekspor atau mereekspor produk ke negara yang tidak mewajibkan ketentuan halal, dan atau memusnahkan produk.
Untuk produk impor dilakukan penghentian impor produk untuk bets yang bermasalah dan meminta pelaku usaha untuk memberikan jaminan bahwa produk serupa yang akan diimpor telah memenuhi persyaratan.
Berdasarkan tabel perbandingan hasil pengujian kandungan DNA babi tahun 2017-2020, dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 terjadi penurunan produk yang ditemukan mengandung DNA Babi yaitu menjadi sebesar (6%) dibandingkan tahun 2019 (13%). Sedangkan, hasil pengujian tahun 2020 memiliki kemiripan dengan hasil pengujian tahun 2018.
`
Gambar 3.10 Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi pada Produk Pangan Olahan Tahun 2017–2019
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) dan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) mengamanatkan pengawasan terhadap jaminan produk halal. Tugas Pokok dan Fungsi Badan POM yang beririsan dengan Undang-Undang Jaminan Produk Halal dalam hal pengawasan post-market adalah melakukan pengawasan sampling dan pengujian produk (pangan) dan pengawasan kesesuaian antara label yang telah disetujui di pre-market. Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang melakukan koordinasi dengan lintas sektor seperti Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan Pakar dari Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) khususnya dalam rangka menindaklanjuti dispute terkait hasil uji produk mengandung DNA Babi. Beberapa tindak lanjut telah disepakati antara lain merekomendasikan harmonisasi pengujian DNA Babi, uji bersama dengan Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia/Lembaga Pemeriksa Halal (LPPOM MUI/LPH) untuk produk yang telah bersertifikasi atau berbahan baku halal.
3.6 PENGAWASAN LABEL SELAMA BEREDAR
Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas dan lengkap baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukan terkait pangan yang beredar di pasaran. Informasi pada label pangan sangat diperlukan bagi masyarakat agar masing-masing individu secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi. Untuk mengantisipasi hal
89% 96% 87% 94%
11% 4% 13% 6%
2017 2018 2019 2020
Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi
MS TMS
`
24
tersebut, Badan POM melakukan pengawasan label produk pangan sesuai dengan amanat dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
Pada tahun 2020 pengawasan label pangan dilakukan terhadap 12.319 produk pangan yang terdiri dari 985 produk yang terdaftar sebagai MD/ML dengan rincian sebanyak 919 label (93.30%) MK dan sebanyak 66 label (6,70%) TMK serta 2259 produk yang terdaftar sebagai PIRT dengan rincian Sebanyak 1095 (48, 45%) MK dan sebanyak 1164 label (51,55%) TMK. Dengan TMK pelanggaran terbanyak adalah Tidak mencantumkan Kode Produksi.
Gambar 3.11 Data Pengawasan Label PIRT Tahun 2020 3.7 INTENSIFIKASI PENGAWASAN PANGAN MENJELANG RAMADHAN DAN
IDUL FITRI TAHUN 2020
Dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang Tidak Memenuhi Ketentuan, khususnya menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2020, BPOM dan melalui seluruh UPT Badan POM di Kab/Kota di seluruh Indonesia melakukan perkuatan pengawasan untuk menjamin pangan aman selama Bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020. Perkuatan pengawasan post market tersebut, dilakukan melalui Intensifikasi Pengawasan Pangan Selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020 yang bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan.
Intensifikasi Pengawasan dilaksanakan serentak diseluruh wilayah Indonesia oleh perwakilan UPT BPOM dengan target pengawasan yaitu:
1. Importir/ Distributor/ Hypermarket yang memiliki track record pelanggaran/
temuan TIE
1095
1164
MEMENUHI KETENTUAN TIDAK MEMENUHI KETENTUAN Jumlah Produk n = 2259
Hasil Pengawasan Label PIRT Tahun 2020
`
2. Toko/ Supermarket, pasar tradisional dan para pembuat/ penjual atau Sarana Distribusi yang paling banyak diwilayahnya
3. Produk Pangan Olahan Terkemas Fokus pada pangan tanpa izin edar (TIE), kedaluwarsa, dan rusak
4. Jajanan Buka Puasa/ Takjil Sampling dan Uji Cepat
Target utama pengawasan adalah produk pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE), kedaluwarsa dan rusak di sisi hulu rantai distribusi produk pangan seperti importir dan distributor. Namun, pengawasan di sarana ritel (pasar tradisional, toko, supermarket, hypermarket), juga dilakukan upaya preventif berupa KIE kepada masyarakat dan pelaku usaha, baik secara langsung maupun menggunakan media sosial dan leaflet.
Pengawasan dilakukan sejak 2 minggu sebelum Ramadhan dan dimulai pada tanggal 27 April 2020 hingga 22 Mei 2020. Pelaporan dilakukan setiap minggu dalam 4 tahap, yaitu pada tanggal 4, 11, 18 dan 22 Mei 2020.
Telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.419 sarana ritel dan distribusi pangan dengan hasil pemeriksaan masih terdapat 1.448 sarana distribusi (59,86%) TMK karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa, dan pangan TIE. Jumlah total temuan produk pangan TMK sebanyak 349.422 kemasan.
1) Rincian hasil pemeriksaan di sarana peredaran
Total temuan produk di sarana ritel sebanyak 349.422 kemasan. Rincian temuan produk sebagaimana terlihat pada Tabel 3.3
Tabel 3.3 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran
Jenis Temuan Jumlah (Kemasan)
Presentase Temuan (%)
TIE 48.263 13,81
Kedaluwarsa 282.996 80,99
Rusak 18.163 5,20
`
26
Gambar 3.12 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran
Pemeriksaan dilakukan terhadap 2.419 sarana distribusi pangan sejak tahap I sampai dengan tahap IV dengan hasil masih terdapat 971 (40,14%) sarana distribusi yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa,dan pangan TIE. Sarana distribusi yang diperiksa terdiri dari gudang distributor/importir dan sarana ritel. Dari sejumlah 483 gudang distributor/importir yang diperiksa, terdapat sebanyak 59 sarana (12,22%) gudang distributor/importir TMK dan dari sejumlah 1.936 sarana ritel yang diperiksa, terdapat sebanyak 912 sarana (47,11%) ritel TMK. Dalam hal ini sarana ritel lebih berisiko, karena pada kondisi pandemik Covid-19 ini dengan panjangnya rantai distribusi dan sarana ritel pada umumnya berada di daerah perifer, sedangkan masyarakat tetap membutuhkan pangan olahan terkemas sementara pasokan pangan tidak sebesar demand. Rincian hasil temuan produk pada gambar 3.17
Gambar 3.13 Profil Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan di Sarana Peredaran Pangan
`
Dari sejumlah 971 sarana distribusi yang TMK, ditemukan 349.422 pcs produk pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan, terdiri dari 80,99% (282.996 pcs) pangan kedaluwarsa, 13,81% (48.263 pcs) pangan TIE dan 5,20% (18.163 pcs) pangan rusak. Produk pangan kedaluwarsa masih menempati proporsi terbesar temuan TMK. Temuan tersebut diperoleh di gudang distributor/importir sebanyak 272.354 pcs dengan sebaran lokasi temuan terbesar terdapat di Palu, Batam, Jayapura, Manado, dan Bengkulu. Temuan produk pangan Tidak Memenuhi Ketentuan di sarana ritel sebanyak 77.068 pcs dengan sebaran lokasi temuan terbesar terdapat di Jayapura, Yogyakarta, Ambon, Kupang, dan Medan. Terdapat perbedaan profil temuan antara gudang distributor/importir dan sarana ritel, yang disebabkan oleh beberapa hal berikut:
- Distributor/importir biasanya menyimpan stok untuk kebutuhan 3-4 bulan ke depan. sehingga pada sekitar bulan Januari/Februari ketika pandemi Covid-19 belum ditetapkan sebagai Status Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Covid-19, pelaku usaha masih menyimpan stok dalam jumlah normal.
Ketika masa pandemi, dimana demand menurun akibat penurunan daya beli masyarakat dan banyaknya ritel yang tutup mengakibatkan produk dengan masa simpan pendek berisiko menjadi kedaluwarsa dan tidak sempat diedarkan.
- Di sarana ritel profil temuan didominasi oleh produk yang TIE yang diikuti dengan produk kedaluwarsa. Hal ini salah satunya disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi sampai ke lokasi ritel tersebut dan pelaku pelanggaran memanfaatkan situasi tersebut untuk mengedarkan produk Tanpa Izin Edar (TIE). Selain itu banyak daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga jangkauan dan mobilitas petugas pengawas Badan POM
2) Dari sisi nilai ekonomi, temuan produk pangan TMK sampai tahap ke IV tersebut secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp 1.090.900.000,- (Satu Miliar Sembilan Puluh Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah).
`
28 3) Sebaran temuan produk TMK
Tabel 3.4 Sebaran Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan Jenis Temuan 5 besar UPT BPOM
wilayah tempat
Minuman Serbuk, Permen, Minuman berperisa, Susu, Tepung Bumbu Berperisa, Susu, Daging Kaleng, Permen
4) Hasil pengawasan pangan buka puasa (takjil) selama bulan Ramadhan sebagai berikut :
− Jenis pangan yang disampling dan dilakukan pengujian, antara lain:
kudapan, makanan ringan, mie, es, lauk pauk, bubur, jelly/agar-agar, minuman berwarna/sirup, dan bakso.
− Parameter yang diuji meliputi formalin, boraks, pewarna yang dilarang (rhodamin B dan methanyl yellow). Pengujian dilakukan secara cepat (on the spot) dengan menggunakan rapid test kit.
− Hasil pengawasan sebagai berikut :
a. Jumlah sampel total pangan buka puasa/takjil yang diperiksa sebanyak 10.669 sampel dengan hasil sebagai berikut :
− 10.499 sampel (98,41%) Memenuhi Syarat (MS)
− 170 sampel (1,59%) Tidak Memenuhi Syarat (TMS) karena mengandung Bahan Berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan yang terdiri dari :
• Rhodamin B : 70 sampel (39,77%) dari total parameter TMS
• Formalin : 69 sampel (39,20%) dari total parameter TMS
• Boraks : 36 sampel (20,45%) dari total parameter TMS
• Methanyl Yellow : 1 sampel (0,57%) dari total parameter TMS
`
Dari 170 sampel takjil yang TMS, terdapat 6 sampel yang diuji dengan 2 parameter bahan berbahaya dengan rincian : 5 sampel mengandung Bahan berbahaya Boraks dan Formalin dan 1 sampel mengandung bahan berbahaya Boraks dan Rhodamin B.
b. Beberapa jenis pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) antara lain:
kudapan, mie, lauk pauk, minuman berwarna, dan makanan ringan.
kudapan, mie, lauk pauk, minuman berwarna, dan makanan ringan.