• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Pengolahan

Dalam dokumen BUKU PERSYARATAN INDIKASI GEOGRAFIS (Halaman 130-135)

VII . KETERUNUTAN PRODUKSI

X. PENGAWASAN DAN PEMBINAAN

10.2. Pengawasan Internal

10.2.2. Pengawasan Pengolahan

10.2.2.1. Pengawasan Mandiri Pabrik Pengolahan Teh

Manajemen Pabrik Pengolahan Teh menunjuk petugas khusus yang bertugas mengontrol proses pengolahan untuk memastikan bahwa proses yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan Buku Persyaratan. Petugas tersebut melakukan pengawasan terhadap proses pengolahan setiap hari untuk memastikan bahwa produk teh yang dihasilkannya telah sesuai dengan standar Indikasi Geografis (IG) Teh Java Preanger.

10.2.2.2. Pengawasan oleh MPIG

MPIG TJP mengecek kesesuaian proses yang dilakukan Pabrik Pengolahan Teh dengan ketentuan-ketentuan Buku Persyaratan. Waktu kunjungan ke Pabrik Pengolahan Teh tersebut selama 1 (satu) hari untuk melaksanakan pengawasan internal. MPIG TJP juga memeriksa proses pelabelan, pengemasan, penyimpanan dan penjualan teh.

Bila didapati bahwa Buku Persyaratan tidak sepenuhnya ditaati, maka MPIG TJP memutuskan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan yang antara lain dapat berupa pemberian saran perbaikan, peringatan tertulis, sampai penonaktifan sementara sampai ketentuan Buku Persyaratan dipenuhi kembali.

10.2.2.3. Pengawasan Mutu

Pengawasan Mutu TJP dilakukan oleh Tim Penguji Mutu yang dibentuk oleh MPIG TJP. Tim Penguji Mutu melakukan pengujian mutu produk Teh Java Preanger baik Teh Hijau Steaming, Teh Hijau Pan Firing, dan Teh putih yang akan

116

dipasarkan dengan menggunakan tanda IG TJP yang berupa label serta Kode Keterunutan. Pengujian mutu yang dilakukan oleh Tim Penguji Mutu MPIG TJP dilakukan atas permintaan pengolah terhadap produk yang akan diberi tanda IG dan Kode Keterunutan. Pengujian dilakukan terhadap kualitas fisik, organoleptik dan kejelasan asal usul bahan baku. Produk yang tidak melalui pengujian mutu oleh Tim Penguji Mutu MPIG TJP tidak diperkenankan menggunakan tanda IG TJP dan Kode Keterunutan. Tim Penguji Mutu mencatat hasil pengujian yang dilakukan dan melaporkan hasil pengujian kepada MPIG TJP setiap kali selesai melakukan pengujian mutu.

117

PENUTUP

Teh Java Preanger adalah teh premium; yang berasal dari pucuk berkualitas baik yang ditanam di pegunungan wilayah geografis Provinsi Jawa Barat; yang masing-masing lokasi kebun/tanaman tehnya mempunyai kekhasan taste/aroma tersendiri; yang pada akhir abad ke XIX menempati posisi kualitas terbaik dan mendapatkan harga terbaik di dunia apple to apple; yang dikenal sebagai Teh Java Preanger dan juga disebut sebagai “komoditas emas” yang mampu merubah wilayah geografis Priangan (Preanger) menjadi wilayah

“emas hijau”; yang mampu memberikan keuntungan berlimpah ruah bagi pelaku usahanya, sehingga para pengusahanya mampu membangun Kota Bandung sampai mendapat julukan “Parijs van Java” dan bisa mendermakan sebagian hartanya untuk kepentingan orang banyak; yang sampai saat ini tanaman tersebut dipelihara dan dikembangkan dengan standar Good Agriculture Practices (GAP) dan pucuknya diolah dengan standar Good Manufacturing Practices (GMP).

Teh Java Preanger berasal dari berbagai pegunungan di wilayah geografis Priangan (Preanger) yang masing-masing mempunyai ke-khas-an sendiri-sendiri. Sebagai contoh sama-sama teh hitam dari Pegunungan Gunung Malabar akan berbeda taste-nya dibanding dengan teh hitam dari Pegunungan Gunung Tilu Rancabolang. Perbedaan taste produk teh itulah yang disebut dengan ke-khas-an Indikasi Geografis (IG). Oleh karena itu guna melindungi keberlangsungan teh java preanger tersebut, maka MPIG Teh Java Preanger akan menetapkan standar mutu dan keamanan produk IG Teh Java Preanger guna menghindari kemungkinan penduplikasiannya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Teh Java Preanger yang bernilai sejarah, bernilai ekonomi, bernilai sosial budaya, dan bernilai pelestarian lingkungan yang tinggi, merupakan kekayaan Intelektual yang harus dilindungi keberlangsungan (sustainability)-nya dengan strategi, taktik, dan teknik operasional yang cepat dan tepat yang dilakukan secara sistematis, programatis, dan berkelanjutan.

Secara Strategis

 Secara ekonomi pengusahaan perkebunan teh harus dijaga agar terus menguntungkan (Economically Viable/Profit).

 Secara sosial pengusahaan perkebunan teh harus dapat mensejahterakan pelaku usaha, pekerjanya, dan masyarakat disekitarnya (Socially Acceptable/People).

 Secara lingkungan pengusahaan perkebunan teh harus dapat menjamin kelestarian lingkungannya (Environmently Sustainable/ Planet).

Secara Taktik dan Teknik Operasional

 Harus sesegera mungkin diberikan perlindungan hukum bagi perkebunan teh yang sudah dapat mencapai standar Indikasi Geografis (IG) Teh Java Preanger dengan melaksanakan sertifikasi IG ke Ditjen HKI Kementerian Hukum dan HAM.

118

 Paralel dengan itu harus sesegera mungkin melaksanakan peningkatan intensitas promosi, edukasi, dan pemasaran guna meningkatkan image dan harga jual Teh Java Preanger agar secara ekonomi dapat senantiasa memperoleh keuntungan. Untuk itu perlu segera dibangun Museum, Pusat Promosi, Pusat Edukasi, dan Pusat Pemasaran Online yang mampu menjangkau pelanggan/konsumen dan calon pelanggan di dalam maupun di luar negeri. Pembangunannya secara Online ini pada saatnya harus dilanjutkan dengan pembangunannya secara fisik berupa Tea House yang didalamnya terdapat museum, pusat promosi, pusat edukasi, dan pusat pemasaran Teh Java Preanger.

 Harus sesegera mungkin dilakukan peningkatan intensitas kegiatan intensifikasi dan rehabilitasi tanaman teh agar dapat dicapai tanaman yang produktivitasnya tinggi yang mampu menghasilkan pucuk yang berkualitas baik serta mampu menjaga kelestraian lingkungan. Hal ini telah mulai dilaksanakan dengan bantuan dana GPATN sebesar Rp. 48 milyar untuk tanaman seluas 3.200 hektar pada tahun 2014/2015. Program ini akan terus dilanjutkan pada tahun 2015/2016 seluas 5.000 hektar, 2016/2017 seluas 5.000 hektar, dan seterusnya.

 Sesegera mungkin melaksanakan pembangunan pabrik yang lebih efisien, lebih efektif, dan yang lebih dapat menjamin perolehan mutu dan keamanan produk teh yang dihasilkannya; yakni produk teh yang dapat dikatagorikan sebagai salah satu the best quality and the cleanest tea in the world. Pabrik ini akan berstandar Internasional (State of the Art) yang pada saat ini diperkirakan bernilai Rp. 8,5 milyar per unit pabrik. Pada tahap pertama akan dilaksananakan pembangunan pabrik state of the art sebanyak 2 (dua) unit sebagai pabrik state of the art percontohan yang akan dimiliki oleh BUMP (Badan Usaha Milik Petani)/Koperasi/Gapoktan di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur guna mengolah pucuk yang dihasilkan dari tanaman teh-nya seluas 1.100 hektar yang telah mendapat bantuan dana GPATN sebesar Rp. 17 milyar untuk program Intensifikasi dan Rehabilitasi tanamannya tersebut dari total tanaman teh seluas 3.200 hektar yang mendapat dana bantuan GPATN sebesar Rp. 48 milyar di Provinsi Jawa Barat. Pada tahap selanjutnya akan dibangun Pabrik State of the art sebanyak 10 (sepuluh) unit pada tahun 2016/2017, dan seterusnya.

 Harus sesegera mungkin dilaksanakan peningkatan intensitas riset yang berkenaan dengan perbaikan standar kualitas IG Teh Java Preanger dan peningkatan intensitas pelatihan tentang tanaman dan pabrik pengolahan guna percepatan pencapaian perkebunan teh rakyat yang berstandar IG Teh Java Preanger

Sesuai dengan perkembangan tuntutan pelanggan dan dalam rangka melestarikan teh java preanger, maka MPIG Teh Java Preanger selain akan menetapkan standar mutu dan keamanan produk IG Teh Java Preanger juga pada saatnya akan menerapkan standar kualitas keamanan produk sesuai standar HACCP, ISO 22000, dan FSSC (ISO 22000 dan PAS) sebagai satu kesatuan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari standar mutu dan keamanan produk IG Teh Java Preanger. Selain itu teh java preanger juga akan diproduksi dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan/petani serta kelestarian

119

lingkungan hidup sesuai standar Sustainable Agriculture Network (SAN) dan standar UTZ.

Untuk itu MPIG Teh Java Preanger memerlukan dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Organisasi Masyarakat Pertehan, Manajemen Perkebunan BUMN Teh, Manajemen Perkebunan Besar Swasta (PBS) Teh, dan Koperasi/BUMP/Gapoktan – Perkebunan Teh Rakyat.

Teh Java Preanger adalah produk teh yang berasal dari tanaman teh yang dihasilkan dari wilayah geografis Provinsi Jawa Barat. Namun dalam penyusunan Buku Persyaratan Indikasi Geografis Teh Java Preanger ini akan dibatasi terlebih dahulu pada wilayah geografis Kabupaten Bandung saja; khususnya yang bersangkutan dengan wilayah geografis Perkebunan Teh PPTK Gambung, Perkebunan Teh Rakyat disekitar Gambung, dan Perkebunan Teh Kanaan.

Sedangkan Pendaftaran Indikasi Geografis Teh Java Preanger yang dihasilkan selain dari perkebunan-perkebunan tersebut diatas yang berlokasi di wilayah geografis Jawa Barat akan disampaikan kemudian.

120

Dalam dokumen BUKU PERSYARATAN INDIKASI GEOGRAFIS (Halaman 130-135)

Dokumen terkait