• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP WALI DALAM HUKUM ISLAM

C. Hak dan Kewajiban Perwalian 1. Hak-hak wali

4. Pengawasan perwalian

Dalam pelaksanaan perwalian itu, seorang wali selalu diawasi oleh anggota masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitarnya apakah ia telah memelihara anak dan mengurus harta yang berada dalam perwaliannya dengan baik. Apabila wali tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka anggota masyarakat atau keucik akan menegur, dan bahkan dapat menggantikannya dengan orang lain untuk menjadi wali.

Penjelasan dan beberapa ketentuan hukum, jika seorang anak kecil adalah ayahnya yang mengawasi hartanya jika ayahnya itu adil. Apabila ayahnya tidak ada atau ada akan tetapi layak untuk mengawasi hartanya, maka pengawasannya dilimpahkan kepada kakek (dari pihak ayah) jika kakeknya itu orang yang adil karena perwalian ini

127 Nasron Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 206.

berkaitan dengan hak anak kecil maka didahulukan keduanya daripada yang lain seperti dalam perwalian nikah.

Jika ayahnya mewasiatkan kepada seseorang untuk menjaga harta anaknya dan di sana juga terdapat kakek yang juga layak untuk mengawasi harta tersebut, dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama (pendapat yang kuat dalam mazhab) bahwa wasiat tersebut tidak layak baginya dan pengawasan harta diserahkan kepada kakeknya. Kedua, disebutkan di dalam kitab al-Ibānah dan pendapat ini juga yang diutarakan oleh Abū Hanīfah: Dalam surat al-Nisa’

ayat 6 menunjukkan bahwa tidak boleh mengurus harta sendiri (hajr) atas anak-anak yatim, sehingga mereka mengumpulkan dua perkara: dewasa dan cerdik.128

Pengaturan mengenai pengelolaan terhadap harta anak yatim telah dilegitimasikan oleh Allah dalam firman-firmannya secara tegas dalam Alquran. Bahkan ketika anak mencapai usia dewasa di saat wali harus melepaskan kekuasaan kewaliannya dan segala tanggung jawab yang dibebankan sebelumnya kepadanya harus dipersaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Hal ini mengindikasikan bahwa pengawasan terhadap pengelolaan dan pengembangan terhadap harta si anak mendapatkan perhatian dengan baik.

Karena bila tidak ditegaskan demikian, akan memudahkan para wali melaksana-kan aksi jahatnya untuk menguasai seluruh harta anak.

Dalam surah al-Nisa’ ayat 6, Allah Swt.

memerintahkan penyerahan harta kepada anak setelah mencapai bulūgh dan rusyd. Berdasarkan ayat tersebut imam al-Syāfi‘ī berpendapat bahwa Allah mensyaratkan dua

128 Nasron Haroen, Fiqh Muamalah..., hlm. 88.

orang saksi yang adil merdeka, dan adil. Oleh karena itu penulis memahami bahwa Imam al-Syāfi‘ī menekankan adanya dua orang saksi yang adil, merdeka dan muslim, bukan hanya sebagai saksi namun juga sebagai pengawas untuk memastikan penggunaan dan pengembalian dari keutuhan harta tersebut, sehingga tidak ada penyelewengan terhadap harta anak yatim. Dengan ada pengawasan yang baik semakin besar kemungkian akan terpelihara harta dan hak-hak anak yatim dari walinya.

Orang yang mengawasi harta anak kecil adalah ayahnya kemudian baru kakeknya karena hal tersebut merupakan perwalian pada hak anak kecil, maka di dahulukan ayah dan kakek dari pada selain keduanya sama seperti perwalian dalam akad nikah. Jika ayah dan kakek tidak ada maka hartanya dijaga oleh orang yang mendapatkan wasiat sebagai pengganti ayah dan kakek, dan jika orang yang mendapatkan wasiat juga tidak ada, maka dilimpahkan kepada hakim, hal ini dikarenakan perwalian dari pihak kerabat tidak ada. Oleh karena itu hakimlah yang menjadi walinya sama seperti perwalian pada nikah.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surah al-Isra’ ayat 34 dan Surah al-Nisa’ ayat 2:

ُهَّدُشَأ َغُلْبَي ىَّتَح ُنَسْحَأ َيِه يِتَّلاِب َّلاِإ ِميِتَيْلا َلاَم اوُب َرْقَت َلا َو :ءارسلإا( ًلاوُئْسَم َناَك َدْهَعْلا َّنِإ ِدْهَعْلاِب اوُف ْوَأ َو 34

)

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil,

kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (QS. al-Isra’ [17]: 34)

Surah al-Nisa’ ayat 2:

اوُلُكْأَت َلا َو ِبِّيَّطلاِب َثيِبَخْلا اوُلَّدَبَتَت َلا َو ْمُهَلا َوْمَأ ىَماَتَيْلا اوُتَآ َو :ءاسنلا( ا ًريِبَك اًبوُح َناَك ُهَّنِإ ْمُكِلا َوْمَأ ىَلِإ ْمُهَلا َوْمَأ 2

)

Hai semua orang yang berhubungan dengan pengurusan harta seseorang yang meninggal berikanlah harta anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa besar.

(QS. al-Nisa’ [4]: 2)

Beberapa ayat tersebut di atas lebih mempertegas bahwa pengawasan sangat dipentingkan. Tentang pengawasan dalam kitab syafi’i tidak dijelaskan secara khusus, namun penjelasannya itu dapat dibaca dalam pasal yang menjelaskan yang menjelaskan tentang wali itu sendiri misalnya dalam penjelasan di atas tentang mengenai orang yang mengawasi harta anak kecil adalah ayahnya kemudian baru kakeknya, karena hal tersebut merupakan perwalian pada anak kecil. Oleh karena penulis memahami orang yang mengawasi harta anak kecil adalah walinya itu sendiri yaitu ayah atau kakek.

D. Penetapan Perwalian Menurut Mazhab al-Syāfi‘ī 1. Waktu penetapan wali

Pembahasan mengenai waktu penetapan wali mempunyai keterkaitan dengan orang-orang yang akan ditempatkan di bawah perwaliannya. Dalam ajaran Islam tidak semua orang berada di bawah perwalian orang lain yang bertindak segala perbuatan hukum untuk dirinya. Akan tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang harus diwakili oleh orang lain dalam kehidupannya untuk bertindak atas nama orang yang berada di bawah penguasaannya, seperti anak kecil, orang gila anak sāfīh. Dengan demikian dapat dipahami bahwa penetapan wali bagi seseorang adalah di saat orang tersebut tidak sanggup melakukan perbuatan hukum untuk dirinya oleh karena keterbatasan kemampuannya (wilāyat al-adā’), dan tidak cakap hukum untuk melakukan perbuatan hukum. Setelah ia mampu melakukan perbuatan hukum terhadap dirinya dan telah mampu menilai setiap perbuatan yang bermanfaat dan merugikannya, maka wali diharuskan memberikan kembali segala harta yang berada dalam penguasaannya selama proses perwalian berlangsung.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa waktu penetapan wali itu merupakan konsekuensi dari adanya larangan dari syara’ untuk menggunakan harta. Larangan penggunaan harta dalam fikih disebut dengan istilah hajr yang bermakna al-man‘. Dinamakan demikian karena orang yang dicegah (mahjūr alayh/anak kecil, idiot, sāfīh) dilarang untuk bertindak/mengatur dengan kehendak sendiri.129 Oleh

129 Al-Mawardī, al-Hāwī…, jld. VIII, hlm. 339.

karena ia tidak boleh menggunakan terhadap hartanya sendiri, maka pada saat itulah diharuskan orang lain mengurusi dan mengola segala harta kekayaan yang ditinggalkan oleh keluarganya.

Menurut ketentuan syarak, dilarang menggunakan harta kepada empat golongan orang yang disebabkan oleh empat faktor, yaitu gila, masih kecil (kanak-kanak), sāfīh (idiot) dan bangkrut:

a. Orang Gila

Orang gila dilarang menggunakan hartanya berdasarkan nash dan ijmak, baik karena selalu gila, maupun gila pada waktu-waktu tertentu (temporal).

Bentuk gila temporal ini, keadaannya tidak menentu.

Adakalanya ia dalam keadaan gila sehingga segala tindakannya tidak berpengaruh, sedangkan bila ia melaksanakan tindakannya dalam keadaan sehat, maka tindakan tersebut dapat dibenarkan atau sah. Sedangkan bila tidak diketahui secara pasti pada saat tindakan yang dilakukannya, apakah dilakukan dalam keadaan sehat atau dalam keadaan gila maka tindakan tersebut dinyatakan tidak sah (invalid).130

b. Anak Kecil

Para ulama mazhab sepakat bahwa anak kecil dilarang menggunakan harta. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang pembelanjaan harta yang dilakukan anak yang pandai. Kalau akad yang mereka lakukan telah

130 Al-Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab…, hlm. 683.

sempurna dan usia baligh telah tiba, maka anak tersebut dianggap telah dewasa, sehingga semua tindakannya dalam menggunakan harta dinyatakan berlaku.

Imāmiyyah dan Imam al-Syāfi‘ī menyatakan bahwa apabila seorang anak telah mencapai usia sepuluh tahun, maka wasiatnya dalam hal kebajikan dan kebaikan dinyatakan sah. Sementara itu, lebih dari seorang ulama Imāmiyyah menyatakan bahwa berdasarkan berbagai riwayat, talak yang dijatuhkan anak usia sepuluh tahun itu pun sah.131

c. Sāfīh (idiot)

Seorang sāfīh dibedakan dari anak kecil dalam hal kebaligannya, dan dari orang gila dalam hal berakalnya.

Dengan demikian, ke-sāfih-an itu bisa saja menyatu dengan nalar dan kepandaian. Sebab yang dinamakan orang sāfīh adalah orang yang tidak cakap mengelola harta dan membelanjakannya secara baik, baik dia mempunyai kecakapannya namun tidak menggunakannya, maupun tidak memiliki kecakapan sekali.

Para ulama mazhab, kecuali Abū Hanīfah sepakat bahwa orang sāfīh harus dicegah dari membelanjakan hartanya. Sama halnya seperti anak kecil dan orang gila, kecuali bila memang dalam membelanjakan hartanya itu dia memperoleh izin dari walinya. Akan tetapi dia memiliki kebebasan mutlak dalam bertindak selain yang berhubungan dengan harta. Orang sāfīh tidak akan lepas

131 Al-Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab…, hlm. 684.

dari penahanan haknya itu, hingga ia menjadi dewasa dan mengerti. Pendapat demikian dikemukakan oleh Imāmiyyah, al-Syāfi‘ī, Mālikī, Hanbalī, Abū Yūsuf dan Muhammad berdasarkan Alquran Surah al-Nisa’ ayat 5-6. Sementara Abū Hanīfah mengatakan bahwa kedewasaan bukanlah merupakan persyaratan bagi penyerahan harta kepada pemiliknya, dan tidak pula bagi sahnya tindakan-tindakan hukum yang berkaitan dengan harta benda. Kalau seseorang mencapai usia balig dan dia mengerti lalu mengalami ke-sāfih-an, maka tindakannya dinyatakan sah, dan tidak dibenarkan menghalang-halangi bahka seandainya usianya belum menginjak dua puluh lima tahun. Demikian pula halnya bila seseorang mencapai usia balig tetapi belum mengerti (sāfīh), di mana ke-sāfih-annya merupakan bawaan dari sejak masa kecil.132

Para ulama sepakat (kecuali mazhab Zāhirī) bahwa jika anak kecil mencapai balig dalam keadaan lemah akalnya, maka hartanya tidak diserahkan kepadanya. Landasan yang dijadikan pegangan oleh mereka dalam mengeluarkan ketentuan hukum tersebut adalah Firman Allah Swt. Sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nisa’ ayat 5:

اًماَيِق ْمُكَل ُ َّاللَّ َلَعَج يِتَّلا ُمُكَلا َوْمَأ َءاَهَفُّسلا اوُت ْؤُت َلا َو ْمُهوُق ُز ْرا َو اًفو ُرْعَم ًلا ْوَق ْمُهَل اوُلوُق َو ْمُهوُسْكا َو اَهيِف

:ءاسنلا(

5 )

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai

132 Al-Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab…, hlm. 688-689.

pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka dengan kata-kata yang baik.” (QS. al-Nisa’ [4]: 5)

Ketika kita melihat dan melakukan perbandingan secara umum sebagaimana yang ada dalam sistem hukum adat di Indonesia, pada sistem hukum adat matrilineal, jika bapaknya meninggal dunia, maka ibunya meneruskan kekuasaannya terhadap anak-anaknya yang masih belum dewasa itu. Jika ibunya yang meninggal dunia, maka anak-anak dimaksud tetap berada pada kerabat ibunya serta dipelihara seterusnya oleh keluarga pihak ibunya yang bersangkutan, sedangkan hubungan antara bapak dengan keluarga ibu anak-anaknya dapat terus dipelihara oleh si bapak. Sedangkan patrilineal jika bapaknya meninggal dunia, ibunya meneruskan memelihara anak-anaknya dalam lingkungan keluarga bapaknya. Jika janda itu ingin pulang ke lingkungan sendiri ataupun ingin kawin lagi, maka ia dapat meninggalkan lingkungan keluarga almarhum suaminya, tetapi anak-anaknya tetap tinggal dalam kekuasaan keluarga almarhum suaminya.

Ketentuan-ketentuan dalam keluarga yang bersusun unilateral, selanjutnya mengalami pengaruh-pengaruh yang lambat laun menyebabkan adanya penyimpangan-penyimpangan. Misalnya apabila hubungan keluarga antara anak–ibu–bapak itu berhubung dengan satu dan lain hal menjadi jauh lebih erat dari pada dalam keadaan biasa, maka lazimnya, apabila ada salah satu dari orangtuanya meninggal dunia, demi

kepentingan anak-anaknya kekuasaan orang tua terhadap anak-anak tersebut dilakukan oleh orang tua yang masih hidup dalam suasana kehidupan kekeluargaan yang sudah biasa mereka alami hingga sampai saat itu. Ini berarti, bahwa dalam keluarga yang berasal dari masyrakat patrilineal, apabila bapaknya meninggal dunia, anak-anak yang masih belum dewasa, demi kepentingan mereka, pengasuhnya sampai menjadi dewasa dapat terus dilakukan oleh ibunya dan anak-anak itu dengan ibunya tetap merupakan suatu keluarga yang berdiri sendiri.

Akhirnya apabila dalam keluarga yang bersusun unilateral itu kedua-dua orangtua itu meninggal dunia, maka kekuasaan orang tua terhadap anak-anak yang ditinggalkan selanjutnya berada pada keluarga pihak bapak, jika keluarga tersebut keluarga patrilineal: dan berada pada keluarga pihak ibu jika keluarga tersebut keluarga matrilineal.