• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah

2.4.5 Pengelolaan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

1. Suhu yang tingi dan stabil untuk mempertahankan suhu tubuh 2. Atmosfer dengan kadar oksigen dan kelembaban tinggi

3. Pemberian minum secara hati-hati karena ada kecenderungan terisapnya susu ke paru

4. Perlindungan terhadap infeksi

5. Pencegahan kekurangan zat besi dan vitamin

19

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori Penelitian

Gambar 3.1 Kerangka Teori

BBLR Pembentukan Eritropoeietin

Asupan nutrisi & oksigen terganggu

Hb < 12gr%

Anemia Faktor Penyakit

Faktor Usia dan Kehamilan

Faktor Ibu

Faktor Janin

Faktor Lingkungan 1)Kurang gizi

2)Kurang zat besi 3)Malabsorbsi 4)Kehilangan darah yang banyak

5)Penyakit-Penyakit Kronik

20

3.2 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Anemia Pada Ibu

Hamil BBLR

21

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengambilan data secara cross-sectional untuk melihat prevalensi bayi berat lahir rendah pada ibu hamil anemia.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan data penelitian ini akan dilakukan di bagian rekam medik RSUD Pirngadi Medan mulai bulan september hingga november 2016. Rumah Sakit ini dipilih karena rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar di kota medan dan sebagai sentral rujukan sehingga banyak kasus yang dapat diperhitungkan dan dapat mewakili kasus bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah di RSUD Pirngadi Medan periode 2015.

4.3.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah 74 orang ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah di RSUD Pirngadi Medan periode 2015. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling dimana seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sampel.

22

4.3.3 Kriteria Inklusi dan Ekslusi

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian sampel ini adalah : 1. Kriteria Inklusi

a. Data rekam medis pasien ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah tahun 2015

b. Data rekam medis pasien bayi berat badan lahir rendah yang dilahirkan oleh ibu hamil anemia tahun 2015

2. Kriteria Ekslusi

a. Data rekam medis ibu hamil yang tidak anemia b. Data rekam medis bayi berat badan lahir normal c. Data rekam medis yang tidak lengkap

4.4 Definisi Operasional 1. Ibu Hamil Anemia

Ibu hamil anemia adalah keadaan dimana hemoglobin kurang dari 11g/dl dalam tubuh ibu hamil.

a. Cara ukur : Data rekam medik b. Alat ukur : Pemeriksaan Hb

c. Hasil ukur : Anemia pada ibu hamil <12g/dl d. Skala ukur : Skala nominal

2. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan.

a. Cara ukur : Data rekam medik

b. Alat ukur : Timbangan berat badan bayi

c. Hasil ukur : Bayi berat badan lahir rendah berupa : Berat badan <2500g.

d. Skala ukur : Skala nominal.

23

4.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari rekam medis Departemen Obstetri dan Ginekologi di RSUD Pirngadi Medan.

Prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu pada tawap awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Institusi Pendidikan (Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara), kemudian permohonan izin yang diperoleh akan dikirim ke bagian diklat (RSUD Pirngadi). Setelah mendapat izin, peneliti mengumpulkan data penelitian. Cara penelitian data dengan menggunakan rekam medis ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah .

4.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu dimulai dengan pengumpulan data, kemudian pengolahan data, dan penarikan kesimpulan.

Data yang diperoleh pada penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan program komputer untuk untuk menentukan Prevalensi Bayi Berat Badan Lahir Rendah pada Ibu Hamil Anemiadi RSUD DR Pirngadi Medan Periode 2015.

24 pendidikan, status rumah sakit Swadana 11 pebruari 1998, Akreditasi dasar tanggal 14 april 2000 dan akreditasi lengkap tanggal 16 desember 2006, alamat jln. Prof. H.M Yamin, S.H no. 47 Medan. RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan adalah suatu unit pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kota Medan yang letaknya sangat strategis, merupakan segitiga emas di tengah kota Medan yang dibatasi oleh Jalan Prof. H.M Yamin SH, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan H.M Thamrin.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Pasien

Gambaran karakteristik pasien dalam penelitian adalah usia ibu hamil, usia kehamilan, HB ibu dan berat badan bayi lahir. Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia Ibu Hamil Frekuensi Persentase

1 <20 tahun 5 6.8

2 20-35 tahun 57 77.0

3 >35 tahun 12 16.2

Total 74 100.0

Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa ibu hamil anemia dengan usia <20 tahun ada 5 orang (6,8%), usia 20-35 tahun sebanyak 57 orang (77,0%) dan usia >35 tahun sebanyak 12 orang (16,2%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil anemia di RSUD Dr.Pirngadi Medan usia 20 sampai 35 tahun yaitu sebanyak 57 orang (77%).

25

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan usia kehamilan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Kehamilan

No Usia Kehamilan Frekuensi Persentase

1 <37 minggu 54 73.0 Dr.Pirngadi Medan adalah <37 bulan yaitu sebanyak 54 orang (73%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan Hb ibu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu Frekuensi Persentase

1 Normal 3 4.1

2 Anemia 71 95.9

Total 74 100.0

Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa ibu hamil dengan Hb normal sebanyak 3 orang (4,1%) dan anemia sebanyak 71 orang (95,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil dengan anemia di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 71 orang (95,9%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan berat badan bayi lahir dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Berat Badan Bayi Lahir

No Berat Badan Bayi Lahir Frekuensi Persentase

1 Normal 12 16.2

2 Rendah 47 63.5

3 Sangat Rendah 15 20.3

Total 74 100.0

26

Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa berat badan bayi lahir normal sebanyak 12 orang (16,2%), rendah sebanyak 47 orang (63,5%), dan sangat rendah sebanyak 15 orang (20,3%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu memiliki bayi dengan berat badan bayi lahir rendah di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 47 orang (63,5%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan mortalitas bayi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Mortalitas Bayi

No Mortalitas Bayi Frekuensi Persentase

1 Hidup 63 85.1

2 Meninggal 11 14.9

Total 74 100.0

Dari tabel 5.5 dapat dilihat bahwa ibu hamil dengan anemia memiliki mortalitas bayi hidup sebanyak 63 orang (85,1%) dan mortalitas bayi meninggal sebanyak 11 orang (14,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil dengan anemia memiliki mortalitas bayi hidup di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 63 orang (85,1%).

5.1.3 Distribusi Bayi Berat Badan Lahir Rendah pada Ibu Hamil Anemia Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015

Distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015 berdasarkan usia ibu hamil, usia kehamilan ibu, Hb ibu, berat badan bayi lahir dan mortalitas bayi dapat dijelaskan sebagai berikut:

5.1.3.1 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Ibu Hamil Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

27

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia ibu

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

Dari tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari 5 orang ibu hamil anemia dengan usia <20 tahun tidak ada bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 3 orang (4,1%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari 57 orang ibu hamil dengan usia 20-35 tahun sebanyak 11 orang (14,9%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 37 orang (50%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 9 orang (12,2%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari 12 orang ibu hamil dengan usia >35 tahun ada 1 orang (1,4%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 7 orang (9,5%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 4 orang (5,4%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,377, artinya tidak ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan usia ibu hamil di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.3.2 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Kehamilan Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan usia kehamilan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Kehamilan Ibu Normal Rendah Sangat

Rendah

28

Dari tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dari 54 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan <37 bulan sebanyak 7 orang (9,5%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 32 orang (43,2%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 20 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan 37-42 bulan sebanyak 5 orang (6,8%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan tidak ada bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,024, artinya ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan usia kehamilan ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.3.3 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Hb Ibu

Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan Hb ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

Dari tabel 5.8 dapat dilihat bahwa dari 3 orang ibu hamil dengan Hb normal ada 1 orang (1,4%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan tidak ada bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 71 orang ibu hamil dengan Hb ibu anemia ada 11 orang (14,9%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 45 orang (60,8%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan sebanyak 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,548, artinya tidak ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan Hb ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

29

5.1.3.4 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Mortalitas Bayi Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan Mortalitas Bayi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Mortalitas Bayi Normal Rendah Sangat

Rendah

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa dari 63 orang ibu hamil dengan mortalitas bayi hidup ada 12 orang (16,2%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 45 orang (60,8%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 6 orang (8,1%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 11 orang ibu hamil dengan mortalitas bayi meninggal tidak ada bayi lahir dengan berat badan normal, ada 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan sebanyak 9 orang (12,2%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,000, artinya ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan mortalitas bayi di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4 Distribusi Mortalitas Bayi pada Ibu Hamil Anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015

Distribusi mortalitas bayi pada ibu hamil anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015 berdasarkan usia ibu hamil, usia kehamilan ibu, dan Hb ibu dapat dijelaskan sebagai berikut:

5.1.4.1 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Ibu Hamil

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini

30

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia Ibu

Dari tabel 5.10 dapat dilihat bahwa dari 5 orang ibu hamil anemia dengan usia

<20 tahun sebanyak 4 orang (5,4%) mortalitas bayi hidup dan ada 1 orang (1,4%) mortalitas bayi meninggal. Dari 57 orang ibu hamil dengan usia 20-35 tahun sebanyak 49 orang (66,2%) mortaltias bayi hidup dan ada 8 orang (10,8%) mortalitas bayi meninggal. Dan dari 12 orang ibu hamil dengan usia >35 tahun sebanyak 10 orang (13,5%) mortalitas bayi hidup dan ada 2 orang (2,7%) mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,920, artinya tidak ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan usia ibu hamil di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4.2 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Kehamilan Ibu

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan usia kehamilan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Kehamilan Ibu

31

bayi hidup dan tidak ada mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,029, artinya ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan usia kehamilan ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4.3 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Hb Ibu

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan Hb ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu

Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa dari 3 orang ibu hamil dengan Hb normal sebanyak 2 orang (2,7%) mortalitas bayi hidup dan ada 1 orang (1,4%) mortalitas bayi meninggal. Dan dari 71 orang ibu hamil dengan Hb ibu anemia sebanyak 61 orang (82,4%) mortalitas bayi hidup dan ada 10 orang (13,5%) mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,359, artinya tidak ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan Hb ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.2 Pembahasan

Prevalensi anemia ibu hamil di dunia dari WHO (2008) yaitu sebesar 41,8%, prevalensi anemia asia tenggara sebesar 48,2% dan laporan Riskesdas (2007) perihal anemia ibu hamil di Indonesia sebesar 14% serta berdasarkan acuan SK Menkes sebesar 24,5%. 17

Kadar Hb ibu menjelang persalinan digunakan sebagai indikator untuk menentukan adanya anemia seorang ibu hamil. Anemia saat ibu hamil dapat berakibat buruk pada janin merupakan ibu dengan risiko tinggi terhadap BBLR.

32

Berdasarkan pada data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Pirngadi Kota Medan pada tahun 2015 ditemukam bahwa angka kejadian ibu hamil anemia pada kadar Hb <12 gram/dl yaitu sebanyak 71 orang.

Sedangkan pada penelitian Melisa (2013) yang dilakukan di Puskesmas Paal Lima kota Jambi prevalensi anemia pada ibu hamil yaitu sebesar 51,5%18 dan Pada penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan sebesar 59,9%.19 Menurut Wiknjosastro (2007), dari beberapa faktor penyebab BBLR salah satunya adalah usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara fisik dan emosional belum matang. Pada ibu yang sudah tua meskipun telah berpengalaman tetapi kondisi badannya serta kesehatannya mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi menyebabkan BBLR.20

Dari hasil penelitian yang diperoleh di RSUP Pirngadi Kota Medan pada tahun 2015 terdapat ibu hamil anemia tertingi pada usia 20-35 tahun yaitu 77,0%

dengan jumlah BBLR sebanyak 77,0% pada usia 20-35 tahun, 16,2% pada usia

<35 tahun dan 6.8% pada usia <20 tahun . Besarnya kejadian BBLR pada kelompok usia ibu 20-35 tahun dikarenakan pada usia tersebut merupakan usia reproduksi optimal bagi seorang ibu. Dibawah atau diatas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinannya.21 Penelitian ini sebanding dengan penelitian Asyirah (2012) di Puskesmas Bajeng Kabupaten Goa yang menyatakan bahwa usia ibu hamil tertinggi pada usia 20 atau <35 tahun dimana mereka meiliki resiko anemia yang tinggi pada saat hamil.22

Tingginya usia perkawinan pada kelompok usia tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang semakin baik tentang reproduksi.

Masyarakat secara umum sudah mulai mengerti masa perkawinan yang ideal sesuai dengan kematangan berbagai aspek, seperti reproduksi, mental, sosial dan berbagai aspek lain. Hal ini sejalan dengan penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan bahwa jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi juga pada usia ibu 20-35 tahun yaitu 79,2%19, pada penelitian Melisa (2013) di Puskesmas Paal Lima Kota Jambi dengan jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia 20-35 tahun yaitu 79,4%17 dan pada penelitian Aisyah (2013) yang dilakukan di

33

RSUD Samarinda dengan jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia ibu 25-29 tahun yaitu 31,5%.22

Prevalensi bayi berat badan lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%-38% sering terjadi di negara-negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9%-30%.(Depkes RI,2010).23

Faktor penyebab BBLR tidaklah berdiri sendiri, antara lain adalah faktor ibu, meliputi: riwayat persalinan prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung/penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi dan trauma dan lain-lain. Faktor janin meliputi cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini.

Kejadian BBLR juga disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi yang rendah dan faktor kebiasaan seperti pekerjaan yang melelahkan dan merokok.20

Dari hasil penelitian di RSUP Pirngadi Medan tahun 2015 bahwa kelompok terbesar adalah berat badan bayi lahir < 2500 gram yaitu sebanyak 67 orang (63,5%) dan berat badan bayi lahir sangat rendah yaitu sebanyak 15 0rang (20,3%). Hal ini tidak sependapat dengan penelitian Nelly (2008) di BPRSU Rantauprapat terdapat sebanyak 33 orang (20,4%) bayi BBLR.

Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil terus meningkat sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan, salah satu nya zat besi. Seiring bertambahnya usia kehamilan maka kebutuhan zat besi juga meningkat dan jika asupan zat besi tidak seimbang dengan peningkatan kebutuhan maka akan terjadi kekurangan zat besi.22 Faktor usia kehamilan juga merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian bayi dengan BBLR, karena semakin pendek usia kehamilan , maka semakin kurang sempurna pertumbuhan organ-organ tubuh bayi tersebut sehingga akan turut mempengaruhi berat badan sewaktu lahir.

Dari hasil penelitian ditemukan angka kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia kehamilan <37 minggu (73%) sebanyak 54 orang. Hal ini sesuai dengan penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan bahwa yaitu ditemukan angka kejadian bayi BBLR pada usia kehamilan <37 minggu (79,2%).18 Hal ini juga

34

sesuai dengan penelitian sebelumnya dari Dermawan (2002) di Kabupaten Lampung Utara tahun 2002 terdapat angka kejadian bayi BBLR pada usia kehamilan <37 minggu sebesar (58,6%).22

Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi. Angka Kematian Bayi tertinggi di Indonesia terletak pada kejadian asfiksia dan urutan kedua terletak pada kejadian BBLR. Kejadian BBLR dapat disebabkan oleh kelahiran prematur dan pertumbuhan janin terhambat.Persalinan prematuritas kejadian berbahaya karena potensial meningkatkan kematial perinatal yaitu sebesar 65-75 %. Salah satu penyebab kematian neonatus tersering adalah BBLR20.

Salah satu risiko anemia pada ibu hamil terhadap kesehatan janin yaitu dapat menyebabkan mortalitas (kematian) bayi. Dari hasil penelitian bahwa angka mortalitas (kematian) bayi BBLR pada ibu hamil anemia di RSUP Dr Pirngadi Medan periode 2015 sebanyak 11 bayi (14,3%) sedangkan bayi yang hidup sebanyak 63 bayi (85,1%).

35

1. Prevalensi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia adalah sebesar 63,5% (47 bayi)

2. Angka mortalitas bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia adalah 14,3% (11 bayi)

3. Distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia ibu hamil terbesar adalah usia ibu 20-35 tahun yaitu terjadi BBLR sebesar 50,0% (37 bayi)

4. Distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia kehamilan terbesar adalah usia kehamilan <37 minggu yaitu 43,2% (32 bayi)

6.2 Saran

1. Perlunya penyuluhan dari instansi terkait khususnya dari tenaga kesehatan mengenai bahaya dan dampak anemia pada saat kehamilan sehingga dapat meminimalisir terlahirnya bayi berat badan lahir rendah.

2. Perlunya peningkatan penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil sehingga mengetahui tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan untuk mencegah terjadinya BBLR.

3. Perlunya peningkatan pengetahuan melalui penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil agar secara rutin memeriksakan kandungannya untuk mendeteksi secara dini keadaan kesehatan ibu dan janinnya.

4. Perlunya Penyuluhan yang lebih effisien dan efektif dari pihak Rumah Sakit kepada ibu hamil mengenai konsumsi sediaah suplemen yang mengandung zat besi.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. Setiawa. A, Liposto.N.I, Izzah.A.Z. Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III Dengan Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman. 2012

http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/64 Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil. [internet] . 2003. 2(1). p

http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jgizi/article/view/754/808

4. Labir.K, Widarsa.T, Suwiyoga.K. Anemia ibu hamil trimester I dan II meningkatkan risiko kejadian berat bayi. Public Health and Preventive Medicine Archive. 2013 juli 1.

http://ojs.unud.ac.id/index.php/phpma/article/view/6627

5. Maulana.M. Memahami Pola Makan Ibu Hamil. Dalam : Penyakit Kehamilan dan Pengobatannya. Jogjakarta: Katahati ; 2008. p. (160-61).

6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Riset Kesehatan Dasar 2013(RISKESDAS) [Internet]. 2013 [Cited : 2016 April 17] p.255-256.

http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%20 2013.pdf

7. Guyton A.C. Sel-Sel Darah Merah, Anemia, dan Polisitemia. Dalam : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Jakarta: EGC;1993. p. (52-56)

8. Proverawati.A. Anemia. Dalam : Anemia dan Anemia Kehamilan. Edisi I.

Yogyakarta: Nuha Medika ; 2011.p. (1-2)

9. Tarwoto. Wasnidar. Konsep Dasar Anemia . Dalam : Buku Saku Anemia pada Ibu Hamil Konsep dan Penatalaksanaannya. Edisi II. Jakarta: Trans Info Media ; 2015.p. (30-31)

10. Grober.U. Profil Mikronutrien. Dalam : Mikro-nutrien Penyelarasan Metabolik, Pencegahan, dan Terapi. Jakarta: EGC;2013. p.122

37

11. Arisman. Gizi Ibu Hamil. Dalam : Buku Ajar Ilmu Gizi dalam Daur

11. Arisman. Gizi Ibu Hamil. Dalam : Buku Ajar Ilmu Gizi dalam Daur

Dokumen terkait