• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PREVALENSI BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA IBU HAMIL ANEMIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR PIRNGADI MEDAN PERIODE 2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI PREVALENSI BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA IBU HAMIL ANEMIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR PIRNGADI MEDAN PERIODE 2015."

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PREVALENSI BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA IBU HAMIL ANEMIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

DR PIRNGADI MEDAN PERIODE 2015

Oleh :

RIAH FEBRINA BINTANG 130100220

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(2)

PREVALENSI BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA IBU HAMIL ANEMIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

DR PIRNGADI MEDAN PERIODE 2015 SKRIPSI

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh :

RIAH FEBRINA BINTANG 130100220

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(3)

i

(4)

ii

ABSTRAK

Anemia yang terjadi pada saat kehamilan merupakan salah satu masalah besar yang banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi anemia dalam kehamilan adalah sebesar 14%. Beberapa penelitian di Indonesia banyak yang menemukan angka kejadian anemia berkisar 20-80%. Prevalensi anemia pada kehamilan menurut World Health Organisation memperkirakan bahwa 41,8% dari ibu hamil di dunia berkembang menderita anemia.Tingginya angka anemia ibu hamil mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka BBLR yang diperkirakan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia di Rumah Sakit Umum Daerah DR Pirngadi Medan periode 2015.

Jenis Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengambilan data secara cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 74 sampel, menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia adalah sebesar 63,5% (47 bayi), angka mortalitas bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia adalah 14,3% (11 bayi), distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia ibu hamil terbesar adalah usia ibu 20-35 tahun yaitu terjadi BBLR sebesar 50,0% (37 bayi), distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia kehamilan terbesar adalah usia kehamilan

<37 minggu yaitu 43,2% (32 bayi).

Kata Kunci: Prevalensi, Anemia, BBLR

(5)

iii

ABSTRACT

Anemia in pregnancy is one of the major problem that is faced by developing countries, including Indonesia. Basic Health Research of the year 2007 shows the prevalence of anemia in pregnancy is 14%. Several studies in Indonesia shows that the incidence of anemia ranges from 20% to 80%. WHO estimates the prevalence of anemia in pregnancy among women in developing countries who suffer anemia is 41,8%. High rates of anemia in pregnancy contributing to the low birth weight babies incidence which estimated to reach 350,000 bbies each year.

The aim of this study is to determine the prevalence of low birth weight babies born to anemic mother in DR Pirngadi District General Hospital periode 2015.

This is a descriptive study with cross sectional methode. Total sample for this study is 74 which is determined through total sampling technique.

Prevalence of low birth weight babies born to anemic mother is 63,5% (47 babies). Mortality rate of low birth weight babies born to anemic mother is 14,3%

(11 babies). Distribution of low birth weight babies born to anemic mother based on (20-35 years old) age category of the anemic mother is 50,0% (37 babies).

Distribution of low birth weight babies born to anemic mother based on gestational age <37 weeks is 43,2% (32 babies).

Keywords : Prevalence, Anemia, Low Birth Weight Babies

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya skripsi yang berjudul “Prevalensi Bayi BBLR pada Ibu Hamil Anemia di RSUP Pirngadi Kota Medan Periode 2015” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh lulusan Sarjana Kedokteran.

Dalam penyusunan skripsi ini tentu tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Untuk kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. dr. Aldy S Rambe, SpS(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. dr. Harun Alrasyid , SpPD, SpGk, yang telah membantu dan membimbing semasa sidang proposal dalam penyusunan skripsi ini.

3. Dr.dr. Dina Kemala Sari, MG, SpGK selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Drs. Admar Jas, Apt, MSc, Selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.

5. dr. Rina Amelia, MARS Selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

6. dr. Mahyono, Sp.B, Sp.Ba Selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

7. Kedua Orang tua yang penulis hormati dan sayangi Drs. R. Zuhri Bintang, MAP dan Janiah Kudadiri, S.sos, M.Si yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral dalam penyusunan skripsi ini.

8. Kedua saudara kandung yang penulis sayangi Rizky Ananda Bintang dan Wira Abdillah Bintang yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.

9. Teman satu doping Abirami Muthukumaru yang telah membantu dan menjadi tempat bertukar pikiran selama penelitian.

(7)

v

10. Orang-orang terdekat penulis Fathiah, Defany, Citra, Grace, Zulfadli, dan Novia yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

11. Sahabat – sahabat penulis Yenny , Ella , dan Sandra yang selalu ada dalam susah senang serta selalu memberikan semangat.

12. Saudara, kerabat, dan teman-teman Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan sebagai masukan untuk penulisan selanjutnya. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat.

Medan, Desember 2016

Riah Febrina Bintang

(8)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1 Tujuan Umum ... 3

1.3.2 Tujuan Khusus... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

1.4.1 Bagi Peneliti ... 3

1.4.2 Bagi Tempat Penelitian ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Pembentukan Eritropoietin ... 5

2.2. Anemia ... 6

2.2.1 Defenisi Anemia ... 6

2.2.2 Kriteria Anemia ... 6

2.2.3 Penyebab Umum Anemia... 7

2.3. Anemia pada ibu hamil ... 9

2.3.1 Definisi Anemia pada Ibu Hamil ... 9

2.3.2 Penyebab Anemia pada Ibu Hamil ... 10

2.3.3 Klasifikasi Anemia pada Kehamilan ... 10

(9)

vii

2.3.4 Faktor Risiko dalam Kehamilan ... 12

2.3.5 Gejala dan Tanda Anemia pada Ibu Hamil ... 12

2.3.6 Akibat Anemia pada Ibu Hamil ... 12

2.3.7 Penataan Gizi Selama Kehamilan ... 13

2.3.8 Gizi pada Ibu Hamil ... 13

2.4 Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah ... 15

2.4.1 Pengetian BBLR ... 15

2.4.2 Epidemiologi BBLR ... 16

2.4.3 Tanda-tanda BBLR ... 16

2.4.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR .... 17

2.4.5 Pengelolaan Bayi Berat Badan Lahir Rendah ... 18

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP ... 19

3.1 Kerangka Teori Penelitian ... 19

3.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 20

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 21

4.1 Jenis Penelitian ... 21

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 21

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 21

4.3.1 Populasi Penelitian ... 21

4.3.2 Sampel Penelitian ... 21

4.3.3Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 22

4.4 Definisi Operasional ... 22

4.5 Metode Pengumpulan Data ... 23

4.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 23

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... . 24

5.1 Hasil Penelitian... . 24

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 24

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden ... 24

(10)

viii

5.1.3 Distribusi Bayi Berat Badan Lahir Rendah pada Ibu Hamil Anemia Di Rumah Sakit Umum Daerah

Dr Pirngadi Medan Periode 2015 ... 26

5.1.4 Distribusi Mortalitas Bayi pada Ibu Hamil Anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015 ... 29

5.2 Pembahasan ... 31

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 35

6.1 Kesimpulan ... 35

6.2 Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36 LAMPIRAN

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Angka Kecukupan Besi (Fe) Harian ... 11 2.2 Kebutuhan Nutrisi Ibu Selama Hamil ... 15 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien berdasarkan

Usia Ibu Hamil ... 24 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien berdasarkan

Usia Kehamilan ... 25 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan

Hb Ibu ... 25 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan

Berat Badan Bayi Lahir ... 25 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan

Mortalitas Bayi ... 26 5.6 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir

berdasarkan Usia Ibu Hamil ... 27 5.7 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir

berdasarkan Usia Kehamilan Ibu ... 27 5.8 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir

berdasarkan Hb Ibu ... 28 5.9 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir

berdasarkan Mortalitas Bayi ... 29 5.10 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia

Ibu Hamil ... 30 5.11 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia

Kehamilan Ibu ... 30 5.12 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Hb

Ibu ... 31

(12)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 Ethical Clearance

Lampiran 3 Surat Izin Penelitian Fakultas Kedokteran USU

Lampiran 4 Surat Permohonan Izin Penelitian RSUD Dr Pirngadi Medan Lampiran 5 Surat Selesai Penelitian

Lampiran 6 Output Spss Lampiran 7 Master Data

(13)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil disebut “ Potensial danger to mother and child ” (potensial membahayakan ibu dan anak). Kadar hemoglobin merupakan indikator biokimia untuk mengetahui status gizi ibu hamil. WHO 2013 merekomendasikan kadar hemoglobin ibu hamil ideal adalah ≥ 11 gr/dl dan tidak dibawah 10,5 gr/dl pada trimester II kehamilan.

Tinggi rendahnya kadar hemoglobin selama kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat bayi lahir karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin di dalam kandungan.1

Anemia yang terjadi saat kehamilan merupakan salah satu masalah besar yang banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. RISKESDAS 2007, prevalensi anemia dalam kehamilan adalah sebesar 14%. Beberapa penelitian di Indonesia banyak yang menemukan angka kejadian anemia berkisar 20-80%. Hal ini tentunya dapat memberikan sumbangan besar terhadap angka kematian ibu bersalin maupun angka kematian bayi, dimana berdasarkan survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 angka tersebut masih cukup tinggi, yaitu angka kematian ibu (AKI) 228 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran hidup.1

Anemia pada kehamilan secara langsung disebabkan oleh malnutrisi, kurang zat besi, malabsorpsi, dan penyakit kronis (TB, malaria, cacingan dan lain-lain). Secara tidak langsung dapat diakibatkan oleh umur ibu waktu hamil, pengetahuan tentang anemia pada kehamilan, paritas dan lain sebagainya. Ibu hamil yang menderita anemia beresiko terhadap gangguan tumbuh kembang janin bahkan berisiko terhadap persalinan. Oleh karena itu dengan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia dapat ditentukan tindakan

(14)

2

yang tepat untuk mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan.2 Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.3

Tingginya angka anemia ibu hamil mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka BBLR yang diperkirakan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya. Oleh karena itu, penanggulangan anemia defisiensi zat besi menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dilaksanakan pemerintah sejak pembangunan jangka panjang pertama.4 Zat besi yang dibutuhkan ibu hamil agar terhindar dari anemia (kurang darah), banyak terdapat pada sayuran hijau (seperti bayam, kangkung, daun singkong, daun papaya), daging dan hati. Jika kebutuhan kalsium ibu hamil tidak tercukupi, maka kekurangan kalsium akan diambil dari tulang ibunya. Susu juga mengandung banyak vitamin, seperti vitamin A, D, B2, B3 dan vitamin C.5

Prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2 % tahun 2013. Variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara (7,2%) sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%). Sedangkan Prevalensi anemia pada kehamilan menurut World Health Organisation (WHO,2015) memperkirakan bahwa 41,8% dari ibu hamil di dunia berkembang menderita anemia. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1% dan proporsi pada ibu hamil di perkotaan 36,4% hampir sama dengan proporsi ibu hamil di perdesaan 37,8%.6

Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Prevalensi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia di RSU DR Pirngadi Medan periode 2015”.

(15)

3

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi permasalahannya adalah berapa besar prevalensi bayi berat badan lahir rendah dengan kejadian anemia pada ibu hamil di RSUD DR Pirngadi Medan periode 2015.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia di RSUD DR Pirngadi Medan periode 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui angka mortalitas bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia.

2. Untuk mengetahui distribusi (sebaran) bayi berat berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia ibu hamil anemia.

3. Untuk mengetahui distribusi (sebaran) bayi berat berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia berdasarkan usia kehamilan ibu hamil anemia.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti

1. Sebagai bahan masukan atau sebagai sumber informasi yang berguna bagi peneliti mengenai hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah.

2. Hasil penelitian ini merupakan pengalaman ilmiah yang dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan tentang bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia.

3. Mendapatkan pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian klinis.

(16)

4

1.4.2 Bagi tempat penelitian

1. Sebagai bahan masukan tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR yang dapat dijadikan evaluasi dan pengambilan kebijakan di rumah sakit dalam rangka menurunkan angka BBLR .

2. Sebagai bahan masukan kepada pihak rumah sakit sehingga dapat melakukan konseling dengan baik kepada ibu hamil mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan dini sebagai deteksi pada ibu hamil yang beresiko tinggi dalam rangka mencegah bayi lahir BBLR.

(17)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembentukan Eritropoietin

Faktor utama yang dapat merangsang produksi sel-sel darah merah adalah hormon di dalam sirkulasi yang disebut sebagai eritropoietin, yang merupakan suatu glikoprotein dengan berat molekul kira-kira 40.000. Bila eritropoietin tidak ada, maka keadaan hipoksi tidak akan berpengaruh atau pengaruhnya sedikit dalam perangsangan produk sel darah merah. Pada faktor lain, bila sistem eritropoietin fungsional, maka hipoksi akan dengan nyata meningkatkan produksi eritropoietin dan eritropoietin selanjutnya akan mempertinggi produksi sel-sel darah merah sampai keadaan hipoksinya tertanggulangi. Pengaruh eritropoietin terhadap pembentukan sel-sel darah merah dapat ditentukan jika pengaruh eritropoietin sebenarnya adalah merangsang produksi eritroblas dari sel-sel stem hemopoetik di dalam sumsum tulang. Sebagai tambahan, begitu terbentuk proeritoblas, maka eritropoietin ini akan menyebabkan sel-sel ini juga akan dengan cepat melalui tahap berbagai jenis eritroblastik ketimbang keadaan normal dan juga akan melampaui batas kecepatann produksi sel-sel baru. Cepatnya produksi sel-sel ini terus berlangsung selama seseorang tersebut tetap berada ditempat dengan keadaan kadar oksigen yang rendah atau sampai sel-sel darah merah yang dibentuk tersebut cukup dapat mengangkut jumlah oksigen yang memadai ke jaringan-jaringan walaupun kadar oksigen yang saat itu rendah. Pada saat ini kecepatan produksi eritropoietin akan menurun sampai pada suatu kadar tertentu yang akan menjaga kestabilan jumlah sel-sel darah merah yang dibutuhkan, namun tidak sampai berlebihan. Dan pada keadaan dimana sesungguhnya eritropoietin tidak terbentuk, maka dalam sumsum tulang hanya sedikit dibentuk sel-sel darah merah. Serta pada keadaan lain dimana jumlah eritropoietin tersebut banyak sekali terbentuk, maka kecepatan pembentukan sel- sel darah merah dapat meningkat sampai sepuluh kali lipat atau bahkan juga dapat berlebihan.7

(18)

6

2.2 Anemia

2.2.1 Definisi Anemia

Anemia adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Anemia menggambarkan kondisi dimana jumlah sel darah merah rendah. Sel darah merah diproduksi melalui serangkaian tahapan yang kompleks dan spesifik. Sel ini dibuat didalam sumsum tulang (bagian dalam darah), dan ketika semua tahap yang tepat dalam pematangan sel selesai, maka sel darah dilepaskan ke dalam aliran darah. Meskipun sel-sel darah merah (eritrosit) dibuat di dalam sumsum tulang, banyak faktor lain yang terlibat dalam produksinya. Misalnya, besi (Fe++) merupakan komponen yang sangat penting dan molekul hemoglobin, dan hormon eritropoietin, hormon yang dikeluarkan oleh ginjal, merangsang pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Anemia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika jumlah sel darah merah (eritrosit) dan jumlah hemoglobin yang ditemukan dalam sel-sel darah merah menurun di bawah normal.

Sel darah merah dan hemoglobin yang terkandung di dalamnya diperlukan untuk transportasi dan pengiriman oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.8

2.2.2 Kriteria Anemia

Menurut WHO penentuan anemia pada seseorang tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal, yaitu9:

1. Laki-laki dewasa : Hemoglobin < 13g/dl.

2. Wanita dewasa tidak hamil : Hemoglobin <12g/dl 3. Wanita hamil : Hemoglobin <11g/dl 4. Anak umur 6-14 tahun : Hemoglobin <12g/dl 5. Anak umur 6 bulan - 6 tahun : Hemoglobin <11g/dl Secara klinis, kriteria anemia di Indonesia umumnya adalah : 1. Hemoglobin < 10g/dl

2. Hematokrit < 30%

3. Eritrosit < 2,8 juta/mm

(19)

7

2.2.3 Penyebab Umum Anemia

Penyebab umum dari anemia meliputi8: 1. Anemia dari Perdarahan Aktif

Kehilangan darah melalui perdarahan menstruasi berat atau luka dapat menyebabkan anemia. Ulkus gastrointerstinal atau kanker seperti kanker usus besar mungkin secara perlahan juga dapat menyebabkan anemia.

2. Anemia Defisiensi Besi

Kebutuhan besi pada sumsum tulang untuk membuat sel-sel darah merah. Iron memainkan peranan penting dalam struktur yang tepat dari molekul hemoglobin. Jika asupan besi terbatas atau tidak memadai karena asupan diet yang buruk, anemia dapat terjadi.

3. Anemia oleh karena Penyakit Kronis

Kondisi medis jangka panjang dapat menyebabkan anemia. Setiap berlangsung lama, dan kondisi medis yang berkelanjutan seperti infeksi kronis atau kanker dapat menyebabkan anemia.

4. Anemia Pernisiosa

Masalah dalam perut atau usus dapat menyebabkan gangguan penyerapan vitamin B12. Hal ini dapat menyebabkan anemia karena kekurangan vitamin B12.

5. Anemia Sel Sabit

Pada beberapa individu, masalahnya mungkin berhubungan dengan produksi molekul hemoglobin abnormal. Dalam kondisi ini maslah hemoglobin kualitatif atau fungsional. Molekul hemoglobin abnormal dapat menyebabkan masalah pada integritas struktur sel darah merah dan menjadi berbentuk bulan sabit (sel sabit).

6. Thalasemia

Thalasemia merupakan penyakit yang diwariskan, tetapi dapat menyebabkan kelainan hemoglobin kuantitatif, yang berarti jumlah cukup dari tipe molekul hemoglobin yang benar dibuat. Biasanya sering terjadi pada orang-orang Afrika, Mediterania dan Asia Tenggara.

(20)

8

7. Alkoholisme

Kekurangan gizi, vitamin dan mineral berhubungan dengan alkoholisme.

Alkohol juga dapat menjadi racun bagi sumsum tulang dan dapat memperlambat produksi sel darah merah. Kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan anemia pada pecandu alkohol.

8. Anemia Aplastik

Beberapa infeksi virus parah dapat mempengaruhi sumsum tulang dan secara signifikan mengurangi produksi semua sel-sel darah. Kemoterapi (obat kanker) dan beberapa bahan-bahan farmasi dapat menimbulkan masalah yang sama.

9. Anemia Hemolitik

Bentuk sel darah merah yang normal penting untuk fungsinya. Anemia Hemolitik adalah jenis anemia dimana sel-sel darah merah pecah (dikenal sebagai hemolisis) dan menjadi disfungsional. Beberapa bentuk anemia hemolitik bias turun temurun dengan kehancuran konstan dan cepat reproduksi sel darah merah (misalnya, seperti dalam spherocytosis turun-temurun, elliptocytosis turun-temurun dan dehidrogenase glukosa-6-fosfat atau kekurangan G6GD). Jenis kerusakan juga mungkin terjadi pada normal sel-sel darah merah dalam kondisi tertentu, misalnya dengan katup jantumg yang abnormal merusak sel-sel darah atau obat-obat tertentu yang mengganggu struktur sel darah merah.

10. Anemia yang berhubungan dengan Penyakit Ginjal

Ginjal mengeluarkan hormone yang disebut eritropoietin yang membantu sumsum tulang untuk membuat sel darah merah. Pada orang dengan penyakit ginjal kronis (jangka panjang), produksi hormon ini berkurang dan ini pada gilirannya mengurangi produksi sel darah merah, menyebabkan anemia.

11. Anemia yang berkaitan dengan Gizi Buruk

Banyak vitamin dan mineral diperlukan untuk membuat sel-sel darah merah.

Selain zat besi, vitamin C, vitamin B12 dan folat diperlukan untuk produksi hemoglobin yang tepat. Kekurangan dalam salah satu dapat menyebabkan anemia karena kurangnya produksi sel darah merah.

(21)

9

12. Anemia terkait Sumsum Tulang

Anemia mungkin berhubungan dengan penyakit yang melibatkan sumsum tulang. Beberapa kanker darah seperti leukemia atau limfoma dapat mengubah produksi sel darah merah dan menyebabkan anemia.

13. Anemia yang Berhubungan dengan Kehamilan

Peningkatan kadar cairan plasma selama kehamilan mengencerkan darah (hemodilusi), yang dapat tercermin sebagai anemia.

2.3 Anemia pada Ibu Hamil

2.3.1 Definisi Anemia pada Ibu Hamil

Anemia pada ibu hamil adalah keadaan dimana terjadi kekurangan darah merah dan menurunnya hemoglobin kurang dari 11g/dl dalam tubuh ibu hamil.

Tubuh mengalami perubahan yang signifikan saat hamil. Jumlah darah dalam tubuh meningkat sekitar 20-30%, sehingga memerlukan peningkatan kebutuhan pasokan besi dan vitamin untuk membuat hemoglobin. Pada saat hamil, tubuh tubuh membuat lebih banyak darah untuk berbagi dengan bayinya. Tubuh memerlukan darah hingga 30% lebih banyak daripada ketika tidak hamil.

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke sel- sel lain dalam tubuh. Banyak wanita mengalami defisiensi besi pada trimester kedua dan ketiga. Ketika tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi dibandingkan yang telah tersedia, maka dapat berpotensi terjadinya anemia. Selain itu, jika secara signifikan terjadi anemia selama dua trimester pertama, maka berisiko lebih besar untuk memiliki bayi premature atau berat badan bayi lahir rendah. Penyebab paling umum dari anemia pada kehamilan adalah kekurangan zat besi. Hal ini penting dilakukan untuk pemeriksaan anemia pada kunjungan pertama kehamilan.

Bahkan jika tidak mengalami anemia pada saat kunjungan pertama, masih mungkin terjadi anemia pada kehamilan lanjutannya.8

(22)

10

2.3.2 Penyebab Anemia pada Ibu Hamil

Secara umum, penyebab anemia pada ibu hamil meliputi9 :

1. Kebutuhan zat besi dan asam folat yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan darah ibu dan janinnya.

2. Penyakit tertentu seperti : penyakit ginjal, jantung, pencernaan dan diabetes mellitus.

3. Asupan gizi yang kurang.

4. Cara mengolah makanan yang kurang tepat.

5. Kebiasaan mengkonsumsi obat penenang dan alkohol.

2.3.3 Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan 1. Anemia Defisiensi Besi

Sekitar 95% kasus anemia selama kehamilan adalah karena kekurangan zat besi (defisiensi besi). Penyebabnya biasanya karena asupan makanan tidak memadai (terutama pada anak perempuan remaja), kehamilan sebelumnya, atau kehilangan normal secara berulang zat besi dalam darah haid (yang mendekati jumlah tertentu, biasanya berlangsung setiap bulan dan dengan demikian mencegah penyimpanan zat besi.8

a. Test Diagnostik 9

1) Konsentrasi Hb < 10 g/dl 2) Hematokrit < 30 %

3) Keadaan sel darah merah mikrositik

4) Meningkatnya kemampuan total mengikat zat besi ( iron binding capacity) hingga 350-500 m/dl

5) Serum besi < 50-60 mg/100ml 6) Saturasi transferring <15-16 b. Penatalaksanaan9

1) Mengatasi penyebab anemia seperti penyakit , perdarahan, cacingan.

2) Pemberian nutrisi/makanan yang banyak mengandung unsurzat besi, diantaranya daging hewan, telur, ikan, sayuran hijau.

3) Pemberian tablet zat besi selama kehamilan.

(23)

11

Tabel 2.1 Angka Kecukupan Besi (Fe) Harian10

Wanita (mg/hari) Pria (mg/hari)

19 tahun dan lebih 18 8

Kehamilan 27

Menyusui 9

2. Anemia Defisiensi Folat

a. Sekitar 24-60% wanita diberbagai Negara mengalami defisiensi asam folat, karena kandungan asam folat dalam makanan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan wanita hamil. Kebutuhan asam folat selama hamil bertambah dua kali lipat dari sebelum hamil. Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang dibutuhkan selama hamil. Asam folat berfungsi untuk metabolism makanan menjadi energi, sintesis DNA, pematangan sel darah merah, pertumbuhan sel janin dan plasenta. Pada wanita hamil terjadi peningkatan menjadi 200-400mg/hari, peningkatan kebutuhan ini diakibatkan meningkatnya sintesis jaringan pada ibu dan janinnya. Pada anemia defisiensi asam folat, karakteristik sel darah merah lebih besar dan tidak matur, sehingga disebut megaloblastosis.9

b. Tanda dan Gejala9 1) Pucat

2) Diare 3) Depresi 4) Cepat lelah 5) Gangguan tidur

6) Perlambatan Frekuensi nadi

c. Akibat dari anemia asam folat pada ibu hamil 9 1) Berat badan lahir rendah

2) Ablasio Plasenta

3) Kelainan bawaan/cacat lahir seperti spina bifida d. Penatalaksanaan9

1) Pemberian diet tinggi asam folat seperti ayam, hati, ikan, daging, telur, brokoli, bayam , asparagus air jeruk, kacang-kacangan.

(24)

12

2) Pemberian suplemen folat pada trimester I : 280mg/hari, trimester II : 660mg/hari dan trimester III : 470mg/hari.

3) Hindari faktor-faktor yang dapat mengurangi penyerapan asam folat seperti alkohol, kopi, kontrasepsi oral, aspirin, obat-obat penenang dan obat anti kejang.

2.3.4 Faktor Risiko dalam Kehamilan

Tubuh berada pada risiko tinggi untuk menjadi anemia selama kehamilan jika pada kondisi berikut, yaitu8:

1. Mengalami kehamilan yang berdekatan 2. Hamil dengan lebih dari satu anak

3. Sering mual dan muntah karena sakit pagi hari 4. Tidak mengkonsumsi cukup zat besi

5. Mengalami menstruasi berat sebelum kehamilan 6. Hamil saat masih remaja

7. Kehilangan banyak darah (misalnya akibat dari cedera atau selama operasi)

2.3.5 Gejala dan Tanda Anemia pada Ibu Hamil Gejala dan Tanda anemia pada ibu hamil yaitu9: 1. Pucat pada mata

2. Kekuningan pada mata

3. Cepat lelah, sering pusing dan sakit kepala 4. Sering terjadi kram kaki

5. Terjadi sariawan, peradangan gusi, peradangan pada lidah dan peradangan pada sudut mulut

6. Pemeriksaan Hemoglobin <9,5 g/dl 7. Tekanan darah Turun

2.3.6 Akibat Anemia pada Ibu Hamil Akibat anemia pada ibu hamil yaitu9 : 1. Pada ibu menjadi penyulit persalinan

(25)

13

2. Resiko syok waktu persalinan

3. Mudah terjadi penyakit selama kehamilan 4. Keguguran, lahir prematur

5. Bayi lahir dengan berat badan rendah 6. Kelainan bawaan atau cacat pada janin

2.3.7 Penataan Gizi Selama Kehamilan Tujuan penataan gizi pada ibu hamil yaitu11 :

1. Mempersiapkan cukup kalori, protein yang bernilai tinggi, vitamin, mineral dan cairan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ibu, janin, serta plasenta.

2. Makanan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan tubuh bukan lemak.

3. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat baku selama hamil.

4. Perencanaan perawatan gizi yang memungkinkan ibu hamil untuk memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal sehingga dapat menjalani kehamilan dengan aman dan berhasil, melahirkan bayi dengan potensi fisik dan mental yang baik dan memperoleh cukup energi untuk menyusui.

5. Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau menghilangkan reaksi seperti mual dan muntah.

6. Perawatan gizi yang dapat membantu pengobatan penyulit yang terjadi selama kehamilan.

7. Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk mengembangkan kebiasaan pola makan yang baik.

2.3.8 Gizi Pada Ibu Hamil

Hal terpenting pada masa kehamilan adalah pemenuhan gizi ibu hamil.

Dengan mendapatkan gizi yang seimbang, ibu hamil dapat mengurangi risiko kesehatan pada janin dan ibu tersebut. Berikut ini adlah zat makanan yang termasuk gizi ibu hamil12:

(26)

14

1. Kalori diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kalori dapat diperoleh dari makanan yang merupakan sumber karbohidrat dan lemak.

Misalnya, nasi umbi-umbian dan susu.

2. Protein sebagai zat pembangun yang diperlukan bagi tumbuh kembang janin.

Protein terdapat pada daging, ikan, telur dan kacang-kacangan.

3. Zat besi selain mengurangi terjadinya anemia juga berperan dalam pembentukan hemoglobin (yang mengangkut oksigen dalam tubuh). Zat besi terdapat pada daging, ikan dan hati.

4. Asam folat dibutuhkan ibu hamil untuk perkembangan janin dan mencegah kecacatan pada otak, tulang belakang dan mencegah janin lahir prematur.

Asam folat banyak terdapat pada sayuran hijau, jus jeruk, kacang-kacangan dan juga gandum.

5. Kalsium berperan pada proses pembentukan tulang dan gigi janin. Produsen kalsium terbaik adalah susu, keju, yoghurt.

6. Vitamin C dibutuhkan dibutuhkan oleh ibu hamil karena mengandung banyak antioksidan yang berguna melindungi jaringan organ tubuh dari kerusakan dan mengirimkan sinyal kimia ke otak.

7. Vitamin A berfunsi pada imunitas, penglihatan dan tumbuh kembang janin.

Vitamin A terdapat pada sayuran berwarna kuning atau hijau serta pada kuning telur.

8. Selain itu gizi ibu hamil lainnya yang dibutuhkan antara lain adalah vitamin B1, B2, Asam pantotenat, niasin (vitamin B3 yang larut air), serta vitamin B6 dan B12 yang berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah, DNA dan metabolisme asam amino.

(27)

15

Tabel 2.2 Kebutuhan Nutrisi Ibu Selama Hamil13

Nutrisi Tidak

Hamil

Hamil Trimester I

Hamil Trimester II

Hamil Trimester

III

Energi (kkal) 1900 +180 +300 +300

Protein (g) 50 +17 +17 +17

Vitamin A (RE) 500 + 300 + 300 +300

Vitamin D (μg) 5 +0 +0 +0

Vitamin E (mg) 15 +0 +0 +0

Vitamin K (μg) 55 +0 +0 +0

Tiamin (mg) 1 +0,3 +0,3 +0,3

Riboflavin (mg) 1,1 +0,3 +0,3 +0,3

Niasin (mg) 14 +4 +4 +4

Asam folat (μg) 400 +200 +200 +200

Piridoksin (mg) 1,3 +0,4 +0,4 +0,4

Vitamin B12(μg) 2,4 +0,2 +0,2 +0,2

Vitamin C (mg) 75 +10 +10 +10

Kalsium (mg) 800 +150 +150 +150

Fosfor (mg) 600 +0 +0 +0

Magnesium (mg) 240 +30 +30 +30

Besi (mg) 26 +0 +0 +0

Iodium (μg) 150 +50 +50 +50

Zink (mg) 9,3 +1,7 +1,7 +1,7

Selenium (μg) 30 +5 +5 +5

Mangan (mg) 1,8 +0,2 +0,2 +0,2

2.4 Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 2.4.1 Pengertian BBLR

Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Dahulu neonates dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pembagian menurut berat badan ini sangat mudah tetapi tidak memuaskan, sehingga lambat laun diketahui bahwa tingkat morbiditas dan mortalitas pada neonatus tidak hanya bergantung pada berat badan saja, tetapi juga pada tingkat maturitas bayi itu sendiri. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir disebut Low Birth Weight Infants (BBLR). Sedangkan pada tahun 1970, kongres European Perinatal Medicine II yang diadakan di London juga diusulkan definisi untuk mendapatkan keseragaman tentang maturitas bayi , yaitu sebagai berikut14:

(28)

16

1. Bayi kurang bulan, adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 mingu (259 hari).

2. Bayi cukup bulan, adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai 42 mingu (259-293 hari).

3. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).

2.4.2 Epidemiologi BBLR

Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% - 38% dan lebih sering terjadi di negara- negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di Negara berkembang dan angka kematiannya 35kali lebih tinggi disbanding pada bayi dengan berat badan lahir lebih dari 2500gram. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9% - 30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2,1% – 17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%.15

2.4.3 Tanda - tanda BBLR

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah mempunyai ciri-ciri14: 1. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu

2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram

3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46cm, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30cm

4. Rambut Lanugo masih banyak

5. Jaringan Lemak subkutan tipis atau kurang

6. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya 7. Tumit mengkilap dan telapak kaki halus

(29)

17

8. Genitalia belum sempuna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora, klitoris menonjol (pada bayi perempuan). Testis belum turun ke dalam skrotum, pigmentasi dan rugue pada skrotum kurang (pada bayi laki-laki) 9. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah 10. Fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemah

11. Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang

12. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit bila ada

2.4.4 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Terjadinya BBLR

Penyebab terjadinya bayi BBLR secara umum bersifat multifaktorial, sehingga kadang mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan pencegahan. Namun , penyebab terbanyak terjadinya bayi BBLR adalah kelahiran prematur. Semakin muda usia kehamilan semakin besar risiko jangka pendek dan jangka panjang dapat terjadi. Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan bayi BBLR secara umum yaitu sebagai berikut14 :

1. Faktor Ibu : a. Penyakit

b. Usia ibu dan usia kehamilan c. Keadaan Sosial Ekonomi d. Perokok dan Peminum alkohol e. Faktor lingkungan

2. Faktor Janin

a. Kelainan Kromosom (trisomy autosomal)

b. Infeksi Janin Kronik (Inklusi sitomegali, Rubella bawaan) c. Disautonomia Familial

d. Radiasi

e. Kehamilan ganda (kembar) f. Aplasia pancreas

3. Faktor Plasenta

a. Berat plasenta berkurang atau berongga

(30)

18

b. Luas permukaan berkurang

c. Plasentitis vilus (bakteri, virus dan parasit) d. Infark

e. Tumor ( korioangioma, mola hidatidosa) f. Plasenta yang lepas

g. Sindrom plasenta yang lepas

h. Sindrom transfuse bayi kembar (sindrom parabiotik) 4. Faktor Lingkungan

a. Bertempat tinggal di dataran tinggi b. Terkena radiasi

c. Terpapar zat beracun

2.4.5 Pengelolaan Bayi Berat Badan Lahir Rendah Semua bayi berat lahir rendah memerlukan16 :

1. Suhu yang tingi dan stabil untuk mempertahankan suhu tubuh 2. Atmosfer dengan kadar oksigen dan kelembaban tinggi

3. Pemberian minum secara hati-hati karena ada kecenderungan terisapnya susu ke paru

4. Perlindungan terhadap infeksi

5. Pencegahan kekurangan zat besi dan vitamin

(31)

19

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori Penelitian

Gambar 3.1 Kerangka Teori

BBLR Pembentukan Eritropoeietin

Asupan nutrisi & oksigen terganggu

Hb < 12gr%

Anemia Faktor Penyakit

Faktor Usia dan Kehamilan

Faktor Ibu

Faktor Janin

Faktor Lingkungan 1)Kurang gizi

2)Kurang zat besi 3)Malabsorbsi 4)Kehilangan darah yang banyak 5)Penyakit-

Penyakit Kronik

(32)

20

3.2 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Anemia Pada Ibu

Hamil BBLR

(33)

21

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengambilan data secara cross-sectional untuk melihat prevalensi bayi berat lahir rendah pada ibu hamil anemia.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan data penelitian ini akan dilakukan di bagian rekam medik RSUD Pirngadi Medan mulai bulan september hingga november 2016. Rumah Sakit ini dipilih karena rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar di kota medan dan sebagai sentral rujukan sehingga banyak kasus yang dapat diperhitungkan dan dapat mewakili kasus bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah di RSUD Pirngadi Medan periode 2015.

4.3.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah 74 orang ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah di RSUD Pirngadi Medan periode 2015. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling dimana seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sampel.

(34)

22

4.3.3 Kriteria Inklusi dan Ekslusi

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian sampel ini adalah : 1. Kriteria Inklusi

a. Data rekam medis pasien ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah tahun 2015

b. Data rekam medis pasien bayi berat badan lahir rendah yang dilahirkan oleh ibu hamil anemia tahun 2015

2. Kriteria Ekslusi

a. Data rekam medis ibu hamil yang tidak anemia b. Data rekam medis bayi berat badan lahir normal c. Data rekam medis yang tidak lengkap

4.4 Definisi Operasional 1. Ibu Hamil Anemia

Ibu hamil anemia adalah keadaan dimana hemoglobin kurang dari 11g/dl dalam tubuh ibu hamil.

a. Cara ukur : Data rekam medik b. Alat ukur : Pemeriksaan Hb

c. Hasil ukur : Anemia pada ibu hamil <12g/dl d. Skala ukur : Skala nominal

2. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan.

a. Cara ukur : Data rekam medik

b. Alat ukur : Timbangan berat badan bayi

c. Hasil ukur : Bayi berat badan lahir rendah berupa : Berat badan <2500g.

d. Skala ukur : Skala nominal.

(35)

23

4.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari rekam medis Departemen Obstetri dan Ginekologi di RSUD Pirngadi Medan.

Prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu pada tawap awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Institusi Pendidikan (Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara), kemudian permohonan izin yang diperoleh akan dikirim ke bagian diklat (RSUD Pirngadi). Setelah mendapat izin, peneliti mengumpulkan data penelitian. Cara penelitian data dengan menggunakan rekam medis ibu hamil anemia yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah .

4.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu dimulai dengan pengumpulan data, kemudian pengolahan data, dan penarikan kesimpulan.

Data yang diperoleh pada penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan program komputer untuk untuk menentukan Prevalensi Bayi Berat Badan Lahir Rendah pada Ibu Hamil Anemiadi RSUD DR Pirngadi Medan Periode 2015.

(36)

24

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUD Dr. Pirngadi kota Medan didirikan pada tanggal 11 agustus 1928, pemilik pemerintah kota Medan sejak 27 desember 2001, kualifikasi kelas B pendidikan, status rumah sakit Swadana 11 pebruari 1998, Akreditasi dasar tanggal 14 april 2000 dan akreditasi lengkap tanggal 16 desember 2006, alamat jln. Prof. H.M Yamin, S.H no. 47 Medan. RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan adalah suatu unit pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kota Medan yang letaknya sangat strategis, merupakan segitiga emas di tengah kota Medan yang dibatasi oleh Jalan Prof. H.M Yamin SH, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan H.M Thamrin.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Pasien

Gambaran karakteristik pasien dalam penelitian adalah usia ibu hamil, usia kehamilan, HB ibu dan berat badan bayi lahir. Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia Ibu Hamil Frekuensi Persentase

1 <20 tahun 5 6.8

2 20-35 tahun 57 77.0

3 >35 tahun 12 16.2

Total 74 100.0

Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa ibu hamil anemia dengan usia <20 tahun ada 5 orang (6,8%), usia 20-35 tahun sebanyak 57 orang (77,0%) dan usia >35 tahun sebanyak 12 orang (16,2%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil anemia di RSUD Dr.Pirngadi Medan usia 20 sampai 35 tahun yaitu sebanyak 57 orang (77%).

(37)

25

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan usia kehamilan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Kehamilan

No Usia Kehamilan Frekuensi Persentase

1 <37 minggu 54 73.0

2 37-42 minggu 20 27.0

Total 74 100.0

Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa usia kehamilan ibu anemia <37 bulan sebanyak 54 orang (73%) dan usia kehamilan 37-42 bulan ada 20 orang (27%).

Dapat disimpulkan bahwa mayoritas usia kehamilan ibu anemia di RSUD Dr.Pirngadi Medan adalah <37 bulan yaitu sebanyak 54 orang (73%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan Hb ibu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu Frekuensi Persentase

1 Normal 3 4.1

2 Anemia 71 95.9

Total 74 100.0

Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa ibu hamil dengan Hb normal sebanyak 3 orang (4,1%) dan anemia sebanyak 71 orang (95,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil dengan anemia di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 71 orang (95,9%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan berat badan bayi lahir dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Berat Badan Bayi Lahir

No Berat Badan Bayi Lahir Frekuensi Persentase

1 Normal 12 16.2

2 Rendah 47 63.5

3 Sangat Rendah 15 20.3

Total 74 100.0

(38)

26

Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa berat badan bayi lahir normal sebanyak 12 orang (16,2%), rendah sebanyak 47 orang (63,5%), dan sangat rendah sebanyak 15 orang (20,3%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu memiliki bayi dengan berat badan bayi lahir rendah di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 47 orang (63,5%).

Distribusi frekuensi karakteristik pasien berdasarkan mortalitas bayi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Berdasarkan Mortalitas Bayi

No Mortalitas Bayi Frekuensi Persentase

1 Hidup 63 85.1

2 Meninggal 11 14.9

Total 74 100.0

Dari tabel 5.5 dapat dilihat bahwa ibu hamil dengan anemia memiliki mortalitas bayi hidup sebanyak 63 orang (85,1%) dan mortalitas bayi meninggal sebanyak 11 orang (14,9%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil dengan anemia memiliki mortalitas bayi hidup di RSUD Dr.Pirngadi Medan yaitu sebanyak 63 orang (85,1%).

5.1.3 Distribusi Bayi Berat Badan Lahir Rendah pada Ibu Hamil Anemia Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015

Distribusi bayi berat badan lahir rendah pada ibu hamil anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015 berdasarkan usia ibu hamil, usia kehamilan ibu, Hb ibu, berat badan bayi lahir dan mortalitas bayi dapat dijelaskan sebagai berikut:

5.1.3.1 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Ibu Hamil Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

(39)

27

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia ibu

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

f % f % f % f %

1 <20 tahun 0 0 3 4,1 2 2,7 5 6,8

0,377 2 20-35 tahun 11 14,9 37 50,0 9 12,2 57 77,0

3 >35 tahun 1 1,4 7 9,5 4 5,4 12 16,2 Total 12 16,2 47 63,5 15 20,3 74 100

Dari tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari 5 orang ibu hamil anemia dengan usia <20 tahun tidak ada bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 3 orang (4,1%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari 57 orang ibu hamil dengan usia 20-35 tahun sebanyak 11 orang (14,9%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 37 orang (50%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 9 orang (12,2%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari 12 orang ibu hamil dengan usia >35 tahun ada 1 orang (1,4%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 7 orang (9,5%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 4 orang (5,4%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,377, artinya tidak ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan usia ibu hamil di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.3.2 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Kehamilan Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan usia kehamilan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Usia Kehamilan Ibu

No Usia Kehamilan

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

f % f % f % f %

1 <37 minggu 7 9,5 32 43,2 15 20,3 54 73,0

0,024 2 37-42

minggu

5 6,8 15 20,3 0 0 20 27,0

Total 12 16,2 47 63,5 15 20,3 74 100

(40)

28

Dari tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dari 54 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan <37 bulan sebanyak 7 orang (9,5%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 32 orang (43,2%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 20 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan 37-42 bulan sebanyak 5 orang (6,8%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan tidak ada bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,024, artinya ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan usia kehamilan ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.3.3 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Hb Ibu

Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan Hb ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

f % f % f % f %

1 Normal 1 1,4 2 2,7 0 0,0 3 4,1

0,548 2 Anemia 11 14,9 45 60,8 15 20,3 71 95,9

Total 12 16,2 47 63,5 15 20,3 74 100

Dari tabel 5.8 dapat dilihat bahwa dari 3 orang ibu hamil dengan Hb normal ada 1 orang (1,4%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan tidak ada bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 71 orang ibu hamil dengan Hb ibu anemia ada 11 orang (14,9%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 45 orang (60,8%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan sebanyak 15 orang (20,3%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,548, artinya tidak ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan Hb ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

(41)

29

5.1.3.4 Distribusi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Mortalitas Bayi Distribusi Berat badan bayi lahir berdasarkan Mortalitas Bayi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Berat Badan Bayi Lahir berdasarkan Mortalitas Bayi

No Mortalitas Bayi

Berat Badan Bayi Lahir

Jumlah

P-value Normal Rendah Sangat

Rendah

f % f % f % f %

1 Hidup 12 16,2 45 60,8 6 8,1 63 85,1

0,000 2 Meninggal 0 0,0 2 2,7 9 12,2 11 14,9

Total 12 16,2 47 63,5 15 20,3 74 100

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa dari 63 orang ibu hamil dengan mortalitas bayi hidup ada 12 orang (16,2%) bayi lahir dengan berat badan normal, sebanyak 45 orang (60,8%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan ada 6 orang (8,1%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dan dari 11 orang ibu hamil dengan mortalitas bayi meninggal tidak ada bayi lahir dengan berat badan normal, ada 2 orang (2,7%) bayi lahir dengan berat badan rendah, dan sebanyak 9 orang (12,2%) bayi lahir dengan berat badan sangat rendah. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,000, artinya ada pengaruh berat badan bayi lahir berdasarkan mortalitas bayi di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4 Distribusi Mortalitas Bayi pada Ibu Hamil Anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015

Distribusi mortalitas bayi pada ibu hamil anemia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan Periode 2015 berdasarkan usia ibu hamil, usia kehamilan ibu, dan Hb ibu dapat dijelaskan sebagai berikut:

5.1.4.1 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Ibu Hamil

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan usia ibu hamil dapat dilihat pada tabel di bawah ini

(42)

30

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Ibu Hamil

No Usia Ibu Hamil

Mortalitas Bayi

Jumlah

P-Value Hidup Meninggal

f % f % f %

1 <20 tahun 4 5,4 1 1,4 5 6,8

0,920

2 20-35 tahun 49 66,2 8 10,8 57 77,0

3 >35 tahun 10 13,5 2 2,7 12 16,2

Total 63 85,1 11 14,9 74 100.0

Dari tabel 5.10 dapat dilihat bahwa dari 5 orang ibu hamil anemia dengan usia

<20 tahun sebanyak 4 orang (5,4%) mortalitas bayi hidup dan ada 1 orang (1,4%) mortalitas bayi meninggal. Dari 57 orang ibu hamil dengan usia 20-35 tahun sebanyak 49 orang (66,2%) mortaltias bayi hidup dan ada 8 orang (10,8%) mortalitas bayi meninggal. Dan dari 12 orang ibu hamil dengan usia >35 tahun sebanyak 10 orang (13,5%) mortalitas bayi hidup dan ada 2 orang (2,7%) mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,920, artinya tidak ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan usia ibu hamil di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4.2 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Kehamilan Ibu

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan usia kehamilan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Usia Kehamilan Ibu

No Usia

Kehamilan

Mortalitas Bayi

Jumlah

P-Value Hidup Meninggal

f % f % f %

1 <37 minggu 43 58,1 11 14,9 54 73,0

0,029

2 37-42 minggu 20 27,0 0 0,0 20 27,0

Total 63 85,1 11 14,9 74 100.0

Dari tabel 5.11 dapat dilihat bahwa dari 54 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan <37 bulan sebanyak 43 orang (58,1%) mortalitas bayi hidup dan ada 11orang (14,9%) mortalitas bayi meninggal. Dan dari 20 orang ibu hamil anemia dengan usia kehamilan 37-42 bulan sebanyak 20 orang (27%) mortalitas

(43)

31

bayi hidup dan tidak ada mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,029, artinya ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan usia kehamilan ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.1.4.3 Distribusi Mortalitas Bayi berdasarkan Hb Ibu

Distribusi mortalitas bayi berdasarkan Hb ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi Mortalitas Bayi berdasarkan Hb Ibu

No Hb Ibu

Mortalitas Bayi

Jumlah

P-Value Hidup Meninggal

f % f % f %

1 Normal 2 2,7 1 1,4 3 4,1

0,359

2 Anemia 61 82,4 10 13,5 71 95,9

Total 63 85,1 11 14,9 74 100.0

Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa dari 3 orang ibu hamil dengan Hb normal sebanyak 2 orang (2,7%) mortalitas bayi hidup dan ada 1 orang (1,4%) mortalitas bayi meninggal. Dan dari 71 orang ibu hamil dengan Hb ibu anemia sebanyak 61 orang (82,4%) mortalitas bayi hidup dan ada 10 orang (13,5%) mortalitas bayi meninggal. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,359, artinya tidak ada pengaruh mortalitas bayi berdasarkan Hb ibu di RSUD Dr.Pirngadi Medan.

5.2 Pembahasan

Prevalensi anemia ibu hamil di dunia dari WHO (2008) yaitu sebesar 41,8%, prevalensi anemia asia tenggara sebesar 48,2% dan laporan Riskesdas (2007) perihal anemia ibu hamil di Indonesia sebesar 14% serta berdasarkan acuan SK Menkes sebesar 24,5%. 17

Kadar Hb ibu menjelang persalinan digunakan sebagai indikator untuk menentukan adanya anemia seorang ibu hamil. Anemia saat ibu hamil dapat berakibat buruk pada janin merupakan ibu dengan risiko tinggi terhadap BBLR.

(44)

32

Berdasarkan pada data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Pirngadi Kota Medan pada tahun 2015 ditemukam bahwa angka kejadian ibu hamil anemia pada kadar Hb <12 gram/dl yaitu sebanyak 71 orang.

Sedangkan pada penelitian Melisa (2013) yang dilakukan di Puskesmas Paal Lima kota Jambi prevalensi anemia pada ibu hamil yaitu sebesar 51,5%18 dan Pada penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan sebesar 59,9%.19 Menurut Wiknjosastro (2007), dari beberapa faktor penyebab BBLR salah satunya adalah usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara fisik dan emosional belum matang. Pada ibu yang sudah tua meskipun telah berpengalaman tetapi kondisi badannya serta kesehatannya mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi menyebabkan BBLR.20

Dari hasil penelitian yang diperoleh di RSUP Pirngadi Kota Medan pada tahun 2015 terdapat ibu hamil anemia tertingi pada usia 20-35 tahun yaitu 77,0%

dengan jumlah BBLR sebanyak 77,0% pada usia 20-35 tahun, 16,2% pada usia

<35 tahun dan 6.8% pada usia <20 tahun . Besarnya kejadian BBLR pada kelompok usia ibu 20-35 tahun dikarenakan pada usia tersebut merupakan usia reproduksi optimal bagi seorang ibu. Dibawah atau diatas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinannya.21 Penelitian ini sebanding dengan penelitian Asyirah (2012) di Puskesmas Bajeng Kabupaten Goa yang menyatakan bahwa usia ibu hamil tertinggi pada usia 20 atau <35 tahun dimana mereka meiliki resiko anemia yang tinggi pada saat hamil.22

Tingginya usia perkawinan pada kelompok usia tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang semakin baik tentang reproduksi.

Masyarakat secara umum sudah mulai mengerti masa perkawinan yang ideal sesuai dengan kematangan berbagai aspek, seperti reproduksi, mental, sosial dan berbagai aspek lain. Hal ini sejalan dengan penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan bahwa jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi juga pada usia ibu 20-35 tahun yaitu 79,2%19, pada penelitian Melisa (2013) di Puskesmas Paal Lima Kota Jambi dengan jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia 20- 35 tahun yaitu 79,4%17 dan pada penelitian Aisyah (2013) yang dilakukan di

(45)

33

RSUD Samarinda dengan jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia ibu 25- 29 tahun yaitu 31,5%.22

Prevalensi bayi berat badan lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%-38% sering terjadi di negara- negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9%-30%.(Depkes RI,2010).23

Faktor penyebab BBLR tidaklah berdiri sendiri, antara lain adalah faktor ibu, meliputi: riwayat persalinan prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung/penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi dan trauma dan lain-lain. Faktor janin meliputi cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini.

Kejadian BBLR juga disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi yang rendah dan faktor kebiasaan seperti pekerjaan yang melelahkan dan merokok.20

Dari hasil penelitian di RSUP Pirngadi Medan tahun 2015 bahwa kelompok terbesar adalah berat badan bayi lahir < 2500 gram yaitu sebanyak 67 orang (63,5%) dan berat badan bayi lahir sangat rendah yaitu sebanyak 15 0rang (20,3%). Hal ini tidak sependapat dengan penelitian Nelly (2008) di BPRSU Rantauprapat terdapat sebanyak 33 orang (20,4%) bayi BBLR.

Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil terus meningkat sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan, salah satu nya zat besi. Seiring bertambahnya usia kehamilan maka kebutuhan zat besi juga meningkat dan jika asupan zat besi tidak seimbang dengan peningkatan kebutuhan maka akan terjadi kekurangan zat besi.22 Faktor usia kehamilan juga merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian bayi dengan BBLR, karena semakin pendek usia kehamilan , maka semakin kurang sempurna pertumbuhan organ-organ tubuh bayi tersebut sehingga akan turut mempengaruhi berat badan sewaktu lahir.

Dari hasil penelitian ditemukan angka kejadian bayi BBLR tertinggi pada usia kehamilan <37 minggu (73%) sebanyak 54 orang. Hal ini sesuai dengan penelitian Irma (2006) yang dilakukan di RS Elisabeth Medan bahwa yaitu ditemukan angka kejadian bayi BBLR pada usia kehamilan <37 minggu (79,2%).18 Hal ini juga

(46)

34

sesuai dengan penelitian sebelumnya dari Dermawan (2002) di Kabupaten Lampung Utara tahun 2002 terdapat angka kejadian bayi BBLR pada usia kehamilan <37 minggu sebesar (58,6%).22

Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi. Angka Kematian Bayi tertinggi di Indonesia terletak pada kejadian asfiksia dan urutan kedua terletak pada kejadian BBLR. Kejadian BBLR dapat disebabkan oleh kelahiran prematur dan pertumbuhan janin terhambat.Persalinan prematuritas kejadian berbahaya karena potensial meningkatkan kematial perinatal yaitu sebesar 65-75 %. Salah satu penyebab kematian neonatus tersering adalah BBLR20.

Salah satu risiko anemia pada ibu hamil terhadap kesehatan janin yaitu dapat menyebabkan mortalitas (kematian) bayi. Dari hasil penelitian bahwa angka mortalitas (kematian) bayi BBLR pada ibu hamil anemia di RSUP Dr Pirngadi Medan periode 2015 sebanyak 11 bayi (14,3%) sedangkan bayi yang hidup sebanyak 63 bayi (85,1%).

Gambar

Tabel 2.1 Angka Kecukupan Besi (Fe) Harian 10
Tabel 2.2 Kebutuhan Nutrisi Ibu Selama Hamil 13
Gambar 3.1  Kerangka Teori
Gambar 3.2 Kerangka Konsep Anemia Pada Ibu

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Gambar 5.8 menunjukkan distribusi proporsi Ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan jarak kehamilan yang terbesar adalah kelahiran anak pertama sampai kurang

2) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu hamil untuk merawat dan memeriksakan kehamilan dengan baik dan teratur dan mengkonsumsi makanan yang

Memberi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat terutama ibu hamil tentang hubungan antara peningkatan berat badan ibu pada kehamilan trimester III dengan berat

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara asupan energi, asupan protein dan asupan zat besi (Fe) ibu hamil dengan panjang bayi lahir di Puskesmas Bendosari

Ibu hamil yang kurang mendapatkan asupan zat besi dari makanan akan sangat rentan terkena anemia .Untuk itu asupan zat besi pada ibu hamil harus ditambah dengan tabet

Didapatkan OR=8,5 berarti asupan zat gizi protein yang kurang pada ibu hamil memiliki 8,5 kali faktor resiko untuk melahirkan bayi dengan BBLR, secara statistik nilai

Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan, paritas dan penyakit kehamilan mempunyai hubungan yang bermakna dengan nilai p &lt; 0,05 dengan variabel bebas (depressive

Kehamilan dan persalinan pada usia remaja putri serta wilayah tempat tinggal dengan akses pelayanan medis sangat terbatas atau tidak tersedia menimbulkan