• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Pemetaan Kesenian di Daerah Kecamatan Dukun Potensi Seni Tradisi di Kecamatan Dukun Kabupaten

3. Pengelolaan dan Pengembangan 1 Pengelolaan

a. Jatilan

Setiap kelompok kesenian Jatilan di daerah Kecamatan Dukun dikelola dengan baik. Setiap kelompok kesenian pasti terdapat kepengurusan yang mengelola kesenian tersebut. Dalam tiap kelompok dapat dipastikan ada penasehat, ketua,

50

sekertaris, bendahara, dan seksi lain demi kelancaran dalam berkesenian.

Pemasukan dan pengeluaran dana tiap-tiap kelompok dikelola dengan baik. Setiap ada pemasukan dan pengeluaran dana akan dicatat dan akan dilaporkan saat ada rapat anggota. Dengan demikian, dana yang dimiliki akan terkelola dengan baik. Pengelolaan juga dilakukan dalam saat latihan. Walaupun latihan tidak dilakukan dalam tempo yang pasti, namun setiap akan ada pentas selalu diadakan latihan. Latihan biasa dilakukan dua bulan sebelum pentas. Namun, jika jarak pentas terlalu dekat, maka latihan akan menyesuaikan waktu yang ada.

b. Reog

Pengelolaan tiap-tiap kelompok kesenian Reog di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sangat baik. Organisasi setiap kelompok kesenian ini dibentuk dan berjalan sesuai dengan tugas masing-masing. Pengelolaan keluar masuk dana juga dikelola dengan baik. Hampir setiap keluar dan masuk dana dicatat di buku kas.

c. Ketoprak

Pengelolaan kelompok kesenian Ketoprak di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah tidak terlaksana dengan baik. Keanggotaan kelompok-kelompok kesenian Ketoprak telah menurun dan sudah jarang diadakan pertemuan untuk membahas berkembangnya kesenian. Keorganisasian tiap-tiap kelompok seni tersebut masih ada, namun sudah tidak aktif. Hal tersebut disebabkan kesenian Ketoprak sudah sangat jarang pentas.

Latihan kesenian Ketoprak, entah itu kelompok teater maupun kelompok kerawitan pengiring kesenian ketoprak sudah

51

tidak rutin dilakukan. Hal tersebut disebabkan kesenian Ketoprak yang jarang ada permintaan untuk pentas.

d. Kerawitan

Saat ini kelompok kesenian Kerawitan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tidak terkelola dengan baik. Keorganisasian masih ada, namun sudah tidak aktif lagi. Keorganisasian tersebut tinggal data kepengurusannya saja. Latihan kesenian sudah sangat jarang di lakukan.

e. Campursari

Saat ini pengelolaan kesenian Campursari di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah menurun jika dibanding dengan jaman dahulu. Hal itu disebabkan oleh kesenian campursari yang sudah jarang pentas.

f. Macapatan

Saat ini kesenian Macapatan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tidak terkelola dengan baik. Dahulu organisasi kesenian ini tertata terkelola dengan baik. Namun, paska recovery bencana gunung Merapi kesenian ini tidak berjalan.

g. Gasir Ngenthir

Kelompok kesenian Gasir Ngenthir di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang dikolola dengan baik. Setiap kelompok kesenian dibentuk keorganisasian demi kelancaran dalam berkesenian. Dalam organisasi tersebut terdapat penasehat, ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris, dan seksi-seksi yang akan menjalankan tugas masing-masing.

h. Topeng Ireng

Setiap kelompok kesenian Topeng Ireng di daerah Kecamatan Dukun dikelola dengan baik. Setiap kelompok

52

kesenian pasti terdapat kepengurusan yang mengelola kesenian tersebut. Tiap-tiap kelompok terdapat penasehat, ketua, sekertaris, bendahara, dan seksi lain demi kelancaran dalam berkesenian.

Pengelolaan keuangan tiap-tiap kelompok dikelola dengan baik. Setiap ada pemasukan dan pengeluaran dana akan dicatat dan akan dilaporkan saat ada rapat anggota. Dengan demikian, dana yang dimiliki akan terkelola dengan baik.

Pengelolaan juga dilakukan saat latihan, sebelum pentas, saat pentas, dan setelah pentas. Walaupun latihan tidak dilakukan dalam tempo yang pasti, namun setiap akan ada pentas selalu diadakan latihan. Latihan biasa dilakukan dua bulan sebelum pentas. Namun, jika jarak pentas terlalu dekat, maka latihan akan menyesuaikan waktu yang ada. Sebelum pentas anggota kesenian akan mempersiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan saat pentas. Saat pentas, yaitu keadaan panggung, penonton, dan segala yang berhubungan oleh pentas akan dikondisikan oleh anggota yang tidak ikut pentas. Demikian pula setelah pentas selesai. Segala yang berhubungan dengan pentas, entah itu properti, alat musik, kostum, dan lain sebagainya akan dikemas oleh anggota.

i. Angguk

Kelompok kesenian Angguk di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang walaupun sudah jarang pentas, namun kesenian ini masih di kelola dengan baik. Pengelolaan tersebut dilakukan dengan cara mempertahankan adanya keorganisasian dalam kelompok seni. Dengan hal tersebut, sewaktu-waktu ada yang menginginkan kesenian ini pentas maka tetap dapat memenuhi.

53 j. Hadroh

Kelompok kesenian Hadroh di daerah Kecamatan Dukun Kabupeten Magelang dikelola dengan baik. Kesenian tersebut dikelola oleh remaja masjid/takmir masjid di mana kesenian itu berdiri. Perawatan dan penyimpanan perlengkapan dan peralatan kesenian tersebut berada di Masjid.

k. Wayang Wong/Wayang Orang

Pengelolaan kesenian Wayang Wong/Wayang Orang di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah tidak terlaksana dengan baik. Keanggotaan elompok-kelompok kesenian Wayang Wong/Wayang Orang telah menurun dan sudah jarang diadakan pertemuan untuk membahas berkembangnya kesenian. Keorganisasian tiap-tiap kelompok seni tersebut masih ada, namun sudah tidak aktif. Hal tersebut disebabkan kesenian Wayang Wong/Wayang Orang sudah sangat jarang pentas.

Latihan kesenian Wayang Wong/Wayang Orang, entah itu kelompok teater maupun kelompok kerawitan pengiring kesenian Wayang Wong/Wayang Orang sudah tidak rutin dilakukan. Hal tersebut disebabkan kesenian Wayang Wong/Wayang Orang yang jarang ada permintaan untuk pentas.

l. Pekbung

Kesenian Pekbung masih dikelola dengan baik meskipun kesenian ini jarang pentas. Hal tersebut disebabkan pengelolaan kesenian ini dikelola oleh anggota kelompok Jatilan yang berada di Dusun Dukuh, yaitu dusun di mana kesenian Pekbung berdiri. Anggota pengelola kesenian Pekbung di Dusun Dukun tidak hanya mengelola kesenian Pekbung, namun juga mengelola

54

kesenian lain yang ada di dusun tersebut. Kesenian lain itu adalah Campursari, Ketoprak, Jatilan, dan Karawitan.

m. Soreng

Kelompok kesenian Soreng di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang dikelola dengan baik. Pengelolaan tersebut dengan cara pembentukan organisasi dalam masing-masing kelompok kesenian. Adanya organisasi tersebut, maka dalam berkesenian dan semua yang berhubungan dengan berkesenian akan dapat terlaksana dengan baik.

n. Tari-tarian

Kesenian Tari-tarian berkembang di Dusun Dukuh, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Kesenian Tari-tarian itu dikelola dengan baik. Pelatih kesenian ini adalah seorang seniman di daerah tersebut, yaitu Heni Astanto.

o. Kobra Siswa

Kelompok kesenian Kobra Siswa di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten magelang dikelola dengan baik. Keluar masuk keuangan dikelola dengan baik, sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam pengelolaan keuangan. Organisasi dibentuk dengan sangat baik. Dengan demikian, kesenian tersebut dapat berjalan dengan baik.

Saat latihan, akan pentas, dan saat pentas dikelola oleh anggota dengan baik. Jadwal latihan ditentukan hari-hari tertentu sesuai dengan kebutuhan. Saat akan pentas semua perlengkapan dan peralatan dipersiapkan, sehingga persiapan saat pentas akan lebih tertata.

55 3.2 Pengembangan

a. Jatilan

Kesenian Jatilan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang masih sangat digemari oleh masyarakat. Hal tersebut terbukti dari antusias warga, entah itu pemain/pelaku seni maupun penonton. Pelaku seni sangat antusias/memiliki semangat yang tinggi untuk latihan dan ikut pentas meskipun mereka tidak mendapatkan upah/bayaran dalam mereka berkesenian. Pelaku seni berkesenian tidak mencari nafkah, namun mereka mempunyai rasa untuk melestarikan budaya dan kesenian tradisi peninggalan nenek moyang. Di sisi lain, pelaku seni dalam berkesenian didorong oleh jiwa seni yang melekat pada diri masing-masing. Jika mereka pentas, ada kepuasan tersendiri dan merasa bangga. Hal tersebut mendorong pelaku seni untuk tetap berkesenian dan kesenian Jatilan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tetap lestari hingga saat ini.

Kesenian Jatilan di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang waktu demi waktu tidak ada penurunan/tidak ada tanda-tanda akan punah, namun justru sebaliknya. Waktu demi waktu kesenian ini makin berkembang. Perkembangan tersebut terlihat dari beberapa bukti, yaitu 1) penonton yang selalu membludak/selalu ramai jika ada pementasan Jatilan. 2) Pada jaman dahulu tarian dalam Jatilan dapat dikatakan monoton, namun kini selalu ada perkembangan, entah itu dalam gerakan tari, pola lantai, maupun kekompakan para pemain. 3) Kostum yang dikenakan juga berkembang. Jika jaman dahulu kesenian Jatilan hanya mengenakan kostum yang seadanya, saat ini kostum yang dikenakan sangat megah dan menarik. Sering kali

56

ada penambahan kostum untuk memperindah penampilan saat pentas dan sering pula pengadaan kostum baru agar saat pentas para pemain tidak jenuh dengan kostum yan dikenakan. 4) Tata rias kesenian Jatilan pada jaman dahulu sangat sederhana, namun kini kelihatan lebih menarik dan lebih berkarakter. Bahan yang digunakan juga sangat berbeda. Jika dahulu hanya menggunakan perlengkapan rias yang seadanya, kini telah menggunakan perlengkapan rias yang tidak jauh berbeda dengan perlengkapan di salon rias wajah.

5) Iringan musik pada jaman dahulu hanya monoton, namun sekarang telah diolah sedemikian rupa sehingga musik pengiring Jatilan dapat lebih menarik dan meriah. Jika jaman dahulu alat musik yang digunakan mungkin hanya bendhe, kempul, gong, dan kendhang, kini telak dikolaborasikan dengan alat musik modern seperti bas, gitar, orgen, drum, ketipung, angklung, dan lain-lainnya. Bahkan untuk memeriahkan pertunjukan, banyak kesenian Jatilan yang diiringi dengan musik dangdut. 6) Dahulu anggota kesenian tidak ada keorganisasian, jika ada hanya sederhana. Namun, kini organisasi kesenian Jatilan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sangat tertata. 7) Kesenian Jatilan sangat sering pentas di dalam maupun di luar daerah. Hal di atas menunjukkan bahwa kesenian Jatilan di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang selalu berkembang waktu demi waktu.

b. Reog

Sama halnya dengan kesenian Jatilan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, kesenian Reog di daerah tersebut juga berkembang waktu demi waktu. Awal mula ada kesenian Reog di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang hanya

57

meniru gerakan Reog Ponorogo dalam VCD. Namun, kini ada yang menggeluti gerakan Reog dan seluk beluk tentang Reog hingga kini menjadi pelatih kesenian tersebut. Tarian kesenian Reog tidak begitu banyak perkembangan, hanya pola lantai yang dikembangkan.

Antusias warga di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang untuk menonton pertunjuka Reog sangat besar. Walaupun kini hiburan telah banyak yang lebih praktis, misal radio, televisi, game online, dan lainnya, namun tiap kali ada pementasan tetap saja dipenuhi penonton. Rasa semangat yang dimiliki pemain juga amat tinggi. Mereka tetap semangat latihan dan ikut pentas meskipun harus menyita waktu mereka untuk istirahat. Hal tersebut disebabkan waktu latihan dan pentas kesenian ini hampir selalu di malam hari. Pelaku seni tidak mendapatkan upah dari berkesenian, namun mereka tetap semangat.

Sumber dana awal yang dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan latihan dan pentas, yaitu untuk pembelian kostum, gamelan/alat musik, perlengkapan tat arias, dan lain-lain diperoleh dari hasil iyuran anggota. Kini karena sering pentas, pendanaan diperoleh dari hasil pentas tersebut. Hasil pentas seluruhnya masuk ke dalam kas dan sama sekali tidak digunakan untuk membayar pemain. Pendapatan yang diperoleh dari pentas dipergunakan untuk memperbaiki kostum yang rusak, membeli kostum baru, membeli perlengkapan rias, dan lainnya. Selain dari hasil pentas, pendanaan juga sering kali mendapat bantuan dari dinas melalui pengajuan proposal.

58 c. Ketoprak

Perkembangan Ketoprak di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tidak seperti Jatilan dan Reog. Kesenian ini kadang kala masih pentas, namun tidak sesering pertunjukan Jatilan dan Reog. Meskipun demikian, tiap kali ada pementasan Ketoprak di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tetap saja banyak warga yang menyaksikan.

Latihan Ketoprak yang dilakukan oleh anggota-anggota kesenian telah menurun. Jika dahulu dilakukan setiap seminggu atau dua minggu sekali, kini hanya dilakukan sebulan atau dua bulan sebelum pementasan. Kesenian ketoprak jaman dahulu dengan jaman sekarang ada perubahan dalam sisi cerita. Pada jaman dahulu cerita yang dipertunjukkan sangan mengikuti pakem/tanpa ada pemenggalan cerita, namun sekarang hanya diambil inti ceritanya dan banyak pemangkasan cerita. Saat ini justru banyak disisipi guyon oleh pelawak. Guyonan oleh pelawak ditujukan untuk menarik minat penonton.

d. Kerawitan

Kesenian Kerawitan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah tidak begitu digemari masyarakat. Itu terbukti kesenian Kerawitan yang sudah sangat jarang pentas tunggal atau pentas yang bukan sebagai pengiring wayang, ketoprak, atau pengiring kesenian lain. Latihan Kerawitan juga sudah tidak teratur, sebulan sekali saja sudah tidak pasti diadakan latihan.

e. Campursari

Pementasan campursari di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah tidak sesering pada jaman dahulu. Hal tersebut mungkin disebabkan adanya grup orgen tunggal

59

yang lebih sederhana dan lebih murah meriah. Walaupun demikian, campursari di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tetap ada hingga saat ini dan tidak sedikit orang yang mempunyai hajat mendatangkan grup campursari untuk memeriahkan acaranya.

Grup campursari di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tetap dapat memenuhi permintaan konsumen meskipun jadwal latihan kesenian ini telah tidak rutin dilakukan. Latihan hanya dilakukan saat ada panggilan pentas. Namun, anggota tetap akan hadir latihan dengan semangat jika diadakan latihan untuk persiapan pentas. Tiap kali diminta untuk pentas tetap berusaha menampilkan yang terbaik dengan penggarapan lagu-lagu baru yang sedang popular.

Keorganisasian anggota kesenian Campursari di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang tetap masih ada. Pengelolaan pemasukan dana juga di kelola dengan baik. Setiap ada pentas dan mendapatkan upah, upah tersebut akan dimasukkan ke dalam kas anggota yang dipegang oleh bendahara. Upah pentas seluruhnya masuk kas anggota dan tidak ada yang dibagikan kepada anggota/pelaku seni.

f. Macapatan

Macapatan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang masih ada hingga saat ini. Sebelum terjadi recovery bencana alam gunung Merapi tahun 2011 Macapatan rutin dilakukan setiap selapan/35 hari sekali. Namun, pasca recovery bencana alam gunung Merapi Macapatan di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah tidak begitu aktif. Hal tersebut mungkin disebabkan para warga terlena dengan

60

pemulihan kondisi ekonomi masing-masing dan belum ada penggerak kembali untuk menghidupkan/mengaktifkannya lagi. g. Gasir Ngenthir

Dari sisi pengembangan musik, kesenian ini mengalami kemajuan dalam bidang nyanyian yang dimainkan tidak hanya terbatas lagu Sholawatan, tetapi sudah masuk pada lagu-lagu campursari dan langgam.

h. Topeng Ireng

Saat ini Topeng Ireng sedang digemari oleh masyarakat di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Kesenian ini sangat sering pentas, baik di dalam maupun di luar daerah. Di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang perkembangan kesenian ini sangan pesat. Anggota kesenian baru banyak bermunculan di dusun-dusun yang belum mempunyai kesenian ini. Kesenian-kesenian baru ada yang meniru gerakan tari dan iringan musik dari VCD kesenian lain atau ada juga yang mendatangkan pelatih dari anggota kesenian luar daerah.

Seiring perkembangan jaman, gerak tarian Topeng Ireng juga berkembang. Gerakan demi gerakan selalu ada perubahan setiap kali latihan. Pola lantai juga digarap sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang indah. Costum Topeng Ireng juga selalu berkembang waktu demi waktu. Jika jaman dahulu kelihatan sederhana, kini nampak lebih megah dan mewah. Dahulu rumbai-rumbai yang terdapat pada pinggang terbuat dari raffia, namun kini telah dibuat menggunakan kain warna-warni sehingga lebih menarik. Krincing pada kaki juga nampak lebih banyak, sehingga bunyi yang dihasilkan juga lebih.

Sumber pendanaan kesenian Topeng Ireng dulu hanya berasal dari iyuran anggota. Kini pendanaan berasal dari hasil

61

pentas. Semua hasil pentas dimasukkan ke dalam kas anggota dan tidak ada yang dibagikan kepada anggota. Dulu untuk membeli perlengkapan pentas, para pemain harus iyuran. Saat ini dana diperoleh dari hasil pentas. Seringnya pentas, maka untuk memenuhi kebutuhan pentas tidak perlu iyuran lagi. Jika ada pakaian atau atribut pentas yang rusak, maka menggunakan uang kas hasil dari pentas.

i. Angguk

Angguk di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang masih diminati oleh masyarakat. Kesenian ini masih sering pentas di daerah tersebut. Kesenian ini di daerah Dukun memang sudah tidak rutin dilakukan, namun jika diminta untuk pentas oleh seseorang tetap dapat memenuhi. Kesenian ini melakukan latihan saat akan ada pentas, karena para pemain telah hafal gerakan dan telah menghayati gerak dan lagu.

Jika dilihat/diamati kesenian Angguk pada jaman dahulu dengan jaman sekarang telah banyak perbedaan. Jika Angguk pada jaman dahulu menggunakan pakaian yang sederhana dan apa adanya, kini telah menggunakan pakaian yang lebih megah dan indah. Iringan musik juga telah berkembang. Dahulu iringan musik hanya monoton dan lagu yang digunakan untuk mengiringi musik merupakan kata-kata dari kitab Tlodo, namun kini telah disesuaikan dengan jaman. Lirik lagu kini juga menggunakan bahasa Jawa danindonesia yang memiliki suatu ajaran-ajaran kebaikan.

Kesenian Angguk di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelaang terorganisasi dengan baik. Dalam setiap kelompok kesenian terdapat organisasi yang tertata sehingga kesenian dapat berjalan dengan baik. Di setiap kelompok kesenian

62

memiliki penasehat, ketua, bendahara, sekretaris, dan seksi-seksi lain demi majunya kesenian.

j. Hadroh

Hadroh di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sering pentas di acara-acara pengajian, syukuran, pernikahan, dan acara lainnya. Anggota kesenian ini biasanya para pemuda masjid. Berpakaian muslim dengan mengenakan sarung, serta berkopyah warna putih para pelaku seni Hadroh memainkan terbangnya. Mereka memainkan terbang sambil duduk simpuh di atas tikar/karpet.

Keorganisasian kesenian ini biasanya mengikuti organisasi masjid di mana kesenian itu dibentuk. Pelatih Hadroh biasanya salah seorang lulusan pondok pesantren yang telah menguasai dalam memainkan terbang. Jika akan ada pentas, biasanya dua bulan atau tiga bulan sebelum pentas, para pemain Hadroh berlatih bersama bertempat di masjid.

k. Wayang Wong/Wayang Orang

Wayang Wong/Wayang Orang adalah wayang yang diperagakan oleh manusia yang memakai kostum atau pakaian sesuai dengan tokoh wayang yang diperankannya. Wayang Orang tidak dimainkan oleh dalang, karena setiap tokoh dalam wayang orang bisa bergerak dan berdialog sendiri. Dalam kesenian ini, dalang berperan sebagai sutradara yang mengarahkan para pemain. Cerita yang dikisahkan, yaitu Mahabharata dan Ramayana.

Setiap gerakan Wayang Wong diwujudkan dengan gerakan tari dan disesuaikan dengan iringan musik yang dihasilkan dari Gamelan. Ini merupakan salah satu ciri khas dari kesenian

63

Wayang Wong. Hal tersebut bertujuan untuk menambah estetika pertunjukan dan bernilainya suatu kesenian.

Kesenian Wayang Wong di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah sangat jarang dipentaskan. Meskipun demikian, setiap kelompok kesenian ini masih terorganisasi dengan baik. Kesenian ini tidak banyak ditemukan di daerah tersebut. Tidak semua kelompok kesenian Wayang Wong di daerah Dukun memiliki perlengkapan pentas secara lengkap. Biasanya hanya kelompok kesenian besar yang memiliki perlengkapan pentas secara lengkap.

Jika dilihat dari gerak tarian, kesenian Wayang Wong dari dahulu hingga sekarang tidak begitu banyak perubahan. Perubahan-perubahan gerakan tari hanya terdapat dalam adegan perang. Dalam adegan perang sering digarap sedemikian rupa agar nampak kompak, lincah, dan menarik.

l. Pekbung

Pekbung memang sangat jarang pentas. Namun, hingga saat ini kesenian Pekbung masih tetap ada. Walaupun kini tidak pernah latihan secara rutin, namun tiap kali ada masyarakat yang meminta untuk pentas, para pelaku seni tetap siap dan tetap menampilkan yang terbaik. Mereka hanya latihan setiap ada permintaan untuk pentas.

m. Soreng

Perkembangan kesenian Soreng lumayan pesat. Banyak masyarakat yang mengundang kesenian ini untuk memeriahkan hajadnya. Setiap kesenian ini pentas, penonton dapat dipastikan akan membludak.

Dilihat dari sisi busana dan properti, pertumbuhan kesenian Soreng tahun demi tahun semakin meningkat. Busana

64

dan properti kesenian ini selalu berkembang. Setiap kelompok kesenian selalu menambah dan memperbarui busana dan properti keseniannya demi menarik penonton saat keseniannya pentas.

n. Tari-tarian

Kesenian tari-tari digunakan untuk mengawali pertunjukan. Di masa sekarang tari-tari menjadi materi yang diwajibkan pada pelatihan yang diadakan oleh tokoh seni di Dusun tersebut, yaitu Heni Astanto dan Sumardi. Dewasa ini peserta pelatihan adalah para siswa SD yang secara rutin diadakan seminggu sekali.

o. Kobra Siswa

Kobra Siswa di daerah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang makin menarik dan makin meriah jika dilihat dari pakaiannya. Gerakan dan pola lantai juga lebih kreatif jika dibandingkan dengan kesenian jaman dahulu. Iringan musik juga lebih menarik dan meriah. Lagu-lagu pengiringnya kini disesuaikan dengan perkembangan jaman.

65 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Semua dusun di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang rata-rata memiliki kesenian tradisional. Adapun kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang adalah Jatilan, Reog, Ketoprak, Kerawitan, Campursari, Macapatan, Gangsir Ngenthir, Pekbung, Angguk, Hadroh, Wayang Wong, Soreng, Tari-tarian, Kobra Siswa, dan Topeng Ireng. Kesenian tradisi tersebut

Dokumen terkait