• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teoritik 1. Pendidikan Inklusi

1. Pengelolaan Kelas

a. Pengertian Pengelolaan Kelas

Proses pendidikan akan dapat berjalan dengan lancar apabila seorang guru mampu mengeksplor segala kemampuan dan keahlian untuk dapat mengelola kelas dengan tepat sehingga guru dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara optimal dalam kegiatan pembelajaran.

Pengelolaan kelas adalah salah satu bagian dari kegiatan penting dalam dunia pendidikan. Hal ini karena tanpa pengelolaan kelas yang baik maka pembelajaran tidak akan dapat berjalan dengan lancar dan sulitnya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.Berkaitan dengan pengelolaan kelas, beberapa pakar mendefenisikan makna dari pengelolaan kelas, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno menjelasakan pengertian pengelolaan kelas yaitu upaya mendayagunakan seluruh potensi kelas, baik sebagai komponen utama pembelajaran maupun komponen pendukungnya.42 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain juga mendefenisikan bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mangajar.43

Sejalan dengan pernyataan di atas, Burhanuddin dkk juga memberikan penjelasan tentang pengertian dari pengelolaan kelas yaitu sebuah proses upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.44

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah upaya ataupun usaha yang sengaja dilakukan oleh seorang guru dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien demi mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam mengelola kelas seorang pendidik juga harus cerdas, tanggap dan cekatan dalam memperhatikan kondisi siswa serta keadaan yang terjadi saat proses pembelajaran akan dimulai, sedang dilakukan hingga sampai berakhir

42Pupuh Fathurrohman dan Sobby Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman

Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung, Refika Aditama, 2009), hlm. 104.

43

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain,Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006),hlm. 177.

44Burhanuddinn dkk., Manajemen Pendidikan, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2003), hlm. 44.

pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat lebih nyaman dan menyenangkan serta tidak menjenuhkan siswa dalam belajar.

b. Tujuan Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas sangatlah penting untuk dilakukan oleh seorang guru, sehingga guru tidak mengajarkan materi pembelajaran secara tiba-tiba kepada peserta didik ataupun sesuka hati mengajarkan ilmu tanpa memahami situasi, kondisi ataupun karakteristik siswa. Sebab jika guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik, maka kelas akan menjadi tidak kondusif dan siswa tidak akan mampu memahami ilmu yang disampaikan secara optimal.

Selain itu, tujuan diadakannya pengelolaan kelas menurut Suharsimi Arikunto adalah agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah: (a) Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang berhenti karena tidak tahu akan tugas yang diberikan padanya, (b) setiap anak harus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya tiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.45

Berdasarkan hal tersebut, maka menurut Pupuh Fathurrohman dan Sobby Sutikno pengelolaan kelas memiliki tujuan yang bermanfaat bagi terciptanya pembelajaran yang berkualitas. Secara umum, tujuan pengelolaan kelas adalah

untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran akan tercapai, jika tercapai tujuan pembelajaran.46

Dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah untuk dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan berkualitasnya hasil belajar siswa, baik dari segi pengaturan ruangan yang nyaman untuk belajar, pemenuhan segala fasilitas yang dibutuhkan dalam belajar, pengontrolan terhadap siswa dalam belajar sehingga tidak menimbulkan keributan ataupun masalah antar siswa serta penyampaian materi pelajaran yang mudah dipahami siswa.

c. Model Pengelolaan Kelas Inklusi

Sekolah inklusi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila khususnya aspek Bhinneka Tunggal Ika. Di Indonesia, terdapat beberapa sekolah yang sudah menggalakkan program pendidikan inklusi dan sampai saat ini sekolah-sekolah inklusi yang ada di Indonesia berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Pengajaran.

Implementasi pendidikan inklusi bukanlah sesuatu yang mudah, oleh karena itu sekolah-sekolah yang siap menyelenggarakan pendidikan inklusi juga harus mampu untuk mengelola pembelajaran agar berjalan dengan optimal demi tercapai tujuan pembelajaran, salah satunya adalah pengelolaan model kelas di sekolah inklusi.

Menurut Geniofam, model pengelolaan kelas di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan beberapa model, diantaranya adalah sebagai berikut: 47

46

Pupuh Fathurrohman dan Sobby Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman

Konsep Umum dan Konsep Islami,hlm. 104.

47Geniofam, Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus(Jogjakarta: Garailmu, 2010), hlm. 64-65.

1. Kelas Reguler

Pada model ini, ABK belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.

2. Kelas Reguler dengan Cluster

Dalam model ini, anak berkelainan belajar bersama dengan anak lain di kelas reguler dalam kelompok khusus.

3. Kelas Reguler dengan Pull Out

Anak berkelainan belajar dengan anak lain di kelas reguler, namun dalam waktu-waktu tertentu mereka ditarik dari kelas tersebut ke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru pembimbing khusus.

4. Kelas Reguler dengan Cluster dan Pull Out

Dalam model ini, ABK belajar bersama anak lain di kelas reguler dalam kelompok khusus. Dalam waktu-waktu tertentu, mereka ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus. 5. Kelas Khusus dengan Berbagai Pengintegrasian

ABK belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler.

6. Kelas Khusus Penuh

Pada model ini, anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

Dari beberapa model kelas di sekolah inklusi, dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus tidak selalu belajar bersama di kelas reguler bersama

dengan teman-temannya yang normal, sebagian dari anak berkebutuhan ada yang perlu diberikan bimbingan dan terapi di kelas khusus bersama dengan Guru Pendamping Khusus (GPK) sesuai dengan jenis kebutuhannya. Namun, jika ABK tersebut memang memiliki tingkat kelainan yang sangat besar dan tidak mungkin bisa dididik di sekolah inklusi, maka lebih dianjurkan untuk mendapatkan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).48

Pemahaman terhadap tingkat kelainan anak berkebutuhan haruslah benar-benar dipahami oleh seorang pendidik, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran. Oleh karena itu, sekolah inklusi berupaya untuk menganalisis kategori siswa dengan tingkat kelainannya sehingga guru dapat memberikan penanganan yang tepat untuk anak berkebutuhan di kelas inklusi tersebut.

d. Sasaran Pengelolaan Kelas

Sasaran pengelolaan kelas adalah objek penting yang harus diperhatikan dalam upaya untuk dapat menciptakan kelas yang kondusif. Pengelolaan kelas dibagi menjadi dua yaitu pengelolaan kondisi fisik dan pengelolaan siswa (perilaku siswa).