IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3. Pengelolaan Populasi
4.1.3.1. Sejarah Keberadaan Labi-labi di Desa Belawa
Awal mula keberadaan labi-labi di Desa Belawa banyak dipercaya masyarakat merupakan jelmaan dari Alquran yang disobek-sobek oleh santri yang sedang kecewa. Pada awalnya mitos ini menceritakan adanya seseorang yang memiliki wajah dengan dua warna yaitu hitam dan merah sehingga pemuda tersebut berguru di pesantren di desa ini. Oleh gurunya agar wajahnya dapat normal maka diperintahkan untuk banyak membaca Alquran. Pada saat gurunya pergi santri tersebut membaca di atas batu yang sebelahnya terdapat sumur. Setelah lama membaca ternyata wajah santri tersebut tidak berubah dan akhirnya Alquran tersebut disobek-sobek dan dibuang ke air. Menurut mitos sobekan Alquran tersebut berubah menjadi labi-labi kecil yang banyak dan wajah santri tersebut telah berubah menjadi normal.
55,74% 31,15% 1,64% 6,56% 3,28% 1,64% Orang Tua Kakek/Nenek Paman Teman Sesepuh Desa Internet
Gambar 17 Persentase sumber penyebaran cerita adanya labi-labi di Desa Belawa. Ada mitos lain yang juga dipercaya oleh masyarakat bahwa keberadaan labi- labi di Desa Belawa merupakan jelmaan Alquran kecil yang dibuang oleh seorang Kyai. Kyai tersebut membuang Alquran yang sering dipakai untuk mengajarkan ilmu kepada santri-santrinya. Suatu hari sang Kyai membuang Alquran kecil tersebut karena telah hafal Alquran dan tidak memerlukannya dalam mendidik murid-muridnya. Alquran kecil tersebut dipercaya berubah menjadi labi-labi.
Keberadaan labi-labi di Desa Belawa dipercaya merupakan jelmaan dari Alquran yang disobek-sobek. Cerita ini diketahui oleh sebanyak 62,89% masyarakat desa. Di sisi lain, terdapat 37,11% masyarakat desa yang tidak mengetahuinya. Cerita adanya labi-labi di Desa Belawa diketahui masyarakat dari orang tua, teman, sesepuh desa, kakek/nenek, paman dan internet. Persentase sumber informasi penyebaran cerita adanya labi-labi di Desa Belawa disajikan pada Gambar 17 .
Masyarakat tidak mengetahui secara pasti kapan mulai adanya labi-labi di Desa Belawa. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat dan sesepuh desa bahwa sejak mereka kecil sudah terdapat labi-labi di desa tersebut. Menurut informasi dari kepala desa Belawa yang bertanya kepada orang yang paling tua di desa tersebut sejak lahirnya yakni pada tahun 1900-an sudah ada labi-labi di Desa Belawa. Kepercayaan bahwa labi-labi keramat membuat labi-labi tidak dimanfaatkan dan banyak pengunjung yang mencari berkah dengan minum air sumur yang dipercaya keberadaan labi-labi putih.
Labi-labi hidup di daerah Cikuya baik di kolam Cikuya, kolam-kolam masyarakat atau sungai. Labi-labi yang berada di kolam masyarakat hidup berdampingan dengan ikan-ikan peliharaan masyarakat sedangkan yang di sungai hidup dan makan dari sisa-sisa makanan orang. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung, labi-labi hidup di kolam-kolam ikan masyarakat dan tidak memakan ikan yang dipelihara. Labi-labi makan makanan yang diberikan pemilik kolam untuk ikannya seperti pellet, nasi sisa makanan orang, limbah manusia serta ikan-ikan yang hampir mati ataupun sudah mati.
Jumlah labi-labi pada tahun 1980-an masih melimpah bahkan labi-labi sering datang menghampiri masyarakat ketika mereka sedang mencuci makanan seperti ubi, ayam dan makanan lainnya. Jika ada yang memotong ayam, banyak labi-labi yg berada di kolam akan naik karena mencium bau darah. Pada saat panen ikan di kolam, labi-labi yang berada di kolam juga ikut makan ikan-ikan kecil yang sudah tidak berenang karena tidak ada airnya. Berdasarkan informasi dari masyarakat, pada tahun 1950 hingga 1980-an banyak labi-labi di Desa Belawa yang memiliki panjang lengkung karapas (PLK) hingga 1 meter. Labi- labi yang besar dijadikan hewan mainan yang dapat dinaiki oleh anak usia 6
tahun. Jumlah labi-labi pada masa tersebut sangat banyak dan bertelur di lahan- lahan penduduk. Diinformasikan pula bahwa karena terlalu banyaknya jumlah labi-labi di Desa Belawa, satwa ini berpindah-pindah hingga ke jalan raya dan banyak labi-labi yang tertabrak mobil.
Labi-labi yang kini masih hidup di kolam masyarakat serta sungai-sungai di Desa Belawa merupakan sisa-sisa labi-labi yang dulu hidup secara alami di kolam-kolam masyarakat. Pada tahun 2008 kuya-kuya yang ada di kolam-kolam masyarakat dikumpulkan di satu kolam Cikuya. Kolam ini merupakan kolam yang dikeramatkan sehingga masyarakat tidak akan berani mengambilnya. Labi- labi yang terkumpul berjumlah 117 ekor. Selain labi-labi lokal, pada kolam ini dimasukkan juga kura-kura Brasil (Trachemys scripta elegans) dan labi-labi Cina (Pelodiscus sinensis).
Keberadaan labi-labi di kolam Cikuya dijadikan sebagai obyek wisata yang banyak dikunjungi pengunjung. Para pengunjung sering member makanan berupa kerupuk dan ikan asin kepada labi-labi. Kios-kios makanan banyak dibangun di dekat kolam untuk melayani pengunjung. Untuk menambah ramainya obyek wisata maka didekat kolam Cikuya dibangun kandang-kandang satwa lainnya seperti beruk, monyet, ular dan beberapa jenis burung.
Berdasarkan data yang ada di POKMASWAS (Kelompok Masyarakat Pengawas) Kuya Asih Mandiri, pada bulan Pebruari 2010 terjadi kematian labi- labi sebanyak 212 individu yang disebabkan oleh serangan jamur dan bakteri (Tabel 6). Kematian massal tersebut diduga disebabkan oleh bakteri Aeromonas
hydrophila, Edwardsiella tarda, Saprolegnia sp. dan Aspergilus sp. Labi-labi yang paling banyak mati adalah kelas umur tukik. Labi-labi yang masih hidup yaitu sebanyak 30 ekor dipindahkan ke kolam masyarakat. Dari 30 ekor labi-labi yang dipindahkan hanya 9 ekor saja yang dapat bertahan. Akibat serangan dan jamur tersebut, kolam Cikuya dikeringkan selama 3 bulan. Pengisian labi-labi ke kolam Cikuya dilakukan secara bertahap. Mula-mula kolam diisi dengan 1 ekor labi-labi, setelah labi-labi tersebut tidak mati secara bertahap labi-labi yang ada di kolam-kolam masyarakat dikumpulkan kembali. Pada saat ini labi-labi yang ada di kolam Cikuya berjumlah 37 ekor. Pada saat terjadinya wabah penyakit, tukik yang tersisa berjumlah 39 ekor yang terdiri 25 ekor tukik sakit yang ditebar ke
kolam-kolam masyarakat dan 14 ekor tukik sehat yang saat ini berada di kolam pembesaran 3.
Berdasarkan keterangan dari pengelola bahwa pada tahun 2011, labi-labi yang bertelur di kolam cikuya sedikit dan hanya ada 9 ekor tukik. Tukik-tukik tersebut dilepas ke kolam-kolam masyarakat karena ada indikasi terserang jamur. Labi-labi remaja yang ditemukan di sungai-sungai diduga merupakan labi-labi yang dulu dilepas pada tahun 2010 dan 2011.
Tabel 6 Kematian labi-labi akibat wabah penyakit pada tahun 2010 Kelas Umur Labi-labi Perkiraan Umur
(tahun) Banyaknya Kematian (ind.) Dewasa > 80 7 Produktif 3-20 80 Tukik 0-1 125 Jumlah: 212
*Data diambil dari catatan Dadan Hendrawan (Pengurus POKMASWAS)
Selain labi-labi lokal (Amyda cartilaginea) ditemukan juga labi-labi jenis lain yakni labi-labi Cina (Pelodiscus sinensis) sebanyak satu individu. Labi-labi ini memiliki Panjang Lengkung Karapas (PLK) 22,9 cm dan Lebar Lengkung Karapas (LLK) 19,9 cm. Labi-labi Cina ditemukan di salah satu kolam masyarakat yang berdekatan dengan kolam Cikuya. Berdasarkan informasi dari masyarakat labi-labi Cina tersebut merupakan labi-labi yang dulu pernah dipelihara oleh pengelola namun telah dibuang ke parit.
4.1.3.2. Struktur Organisasi Pengelola
Labi-labi (Amyda cartilaginea) yang kerap disebut kura-kura belawa ditetapkan sebagai fauna identitas Kabupaten Cirebon berdasarkan Surat Keputusan Bupati No.522.51/SK.29-PEREK/1993 tentang Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah Kabupaten Tingkat II Cirebon. Kabupaten Cirebon berkeinginan untuk melindungi keanekaragaman dan keunikan labi-labi di Desa Belawa sehingga melalui Peraturan Daerah Kabupaten Tingkat II Cirebon nomor 13 tahun 1997 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menetapkan Desa Belawa sebagai Kawasan Suaka Margasatwa.
Pengelolaan labi-labi di Desa Belawa dilakukan oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Kuya Asih Mandiri. Kelompok ini dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati Cirebon Nomor 523/Kep.596-Dislakan/2008 tentang Pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Susunan pengurus POKMASWAS Kuya Asih Mandiri disajikan pada Gambar 18. Tujuan pembentukan kelompok ini adalah sebagai pelaksana pengawasan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan khususnya labi-labi, menampung usulan dan membina kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian labi-labi serta untuk mengelola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan jenis labi-labi.
Gambar 18 Struktur organisasi Kelompok Masyarakat Pengawas Kuya Asih Mandiri.
Pengurus Pokmaswas menjalankan tugas-tugasnya antara lain dengan meningkatkan fungsi kolam Cikuya sebagai tempat wisata labi-labi hingga tahun 2010 . Masyarakat juga menyewa kios-kios yang dibangun oleh pengelola. Para pengunjung yang masuk ke kawasan Cikuya dikenakan tarif retribusi sebesar Rp
Pembina:
Kadin Kelautan & Perikanan Kab. Cirebon
Muspika Lemah Abang Kuwu Belawa Ketua: Dudi Fathurohman Bendahara: Dadan Hendarman Sekretaris: Oo Sugiartu Bidang Pengawasan: Koordinator: Eya DS Anggota : Kartim Saryam Nano S Adih Bidang Pelestarian: Koordinator: Kusna Anggota : Abidin Yayat Darnya Riki Bidang Usaha: Koordinator: Asep D. Anggota : Yayat S. Ahyadi Iman N. Irfan Dedi
2.000,00. Pada tahun 2010 kegiatan wisata di desa ini terhenti akibat jumlah populasi labi-labi yang menajdi obyek wisata turun drastis akibat serangan penyakit. Pengurus Pokmaswas juga tidak semuanya aktif lagi.
Pada saat ini hanya 3 orang pengurus POKMASWAS yang masih aktif yaitu Dadan, Kusna dan Riki. Kepedulian mereka kepada pelestarian labi-labi sangat tinggi. Riki bertugas untuk merawat labi-labi yang ada di kolam Cikuya dan menarik retribusi kepada pengunjung, Kusna bertugas melakukan survey labi-labi di kolam-kolam masyarakat dan Dadan sebagai pengambil kebijakan jika ada permasalahan terkait pengelolaan labi-labi.
Pencarian labi-labi di kolam-kolam masyarakat dan parit dilakukan pengelola secara kontinyu. Labi-labi yang ditemukan akan ditangkap dan dimasukan ke kolam-kolam di kawasan Cikuya. Pengelola juga akan melakukan survey jika ada masyarakat yang melaporkan keberadaan labi-labi di tempat lain. Pokmaswas Kuya Asih Mandiri dibawah binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon. Dua orang pengurus yaitu Dadan dan Kusna mendapatkan honor setiap bulannya sebesar Rp 150.000,00 dan bantuan pemberian pakan labi-labi sebanyak Rp 400.000,00 per bulan. Pengelola mencari tambahan dana pengelolaan melalui penarikan tiket retribusi.
4.1.3.3. Pengelolaan Kolam 4.1.3.3.1. Kolam Cikuya
Kolam Cikuya adalah kolam pemeliharaan yang dibangun oleh Yayasan Bina Lingkungan pada tahun 1997. Pembangunan kolam pemeliharaan ditujukan agar labi-labi tidak berkeliaran serta untuk menjaga keamanannya. Labi-labi yang ada di kolam-kolam masyarakat mulai dikumpulkan dan dimasukkan dalam kolam ini. Pengumpulan labi-labi dimulai tahun 2008 hingga akhirnya terjadi kematian masal pada tahun 2010. Pengumpulan labi-labi dilakukan kembali setelah terjadinya wabah penyakit.
Kolam ini berbentuk segi enam dengan luas total 192,75 m² yang terdiri dari luas daratan 71,11 m² dan luas perairan 121,64 m² (Gambar 19). Kolam ini dikelilingi oleh pohon-pohon yang besar sehingga kolam menjadi teduh. Kolam Cikuya dialiri air secara langsung dari mata air didekat kolam tersebut. Pada sisi
kolam lainnya terdapat saluran pembuangan sehingga air tetap mengalir. Ditengah-tengah kolam terdapat daratan seperti taman dalam kolam yang berbentuk lingkaran yang berfungsi untuk tempat berjemur labi-labi dan lokasi bertelur. Vegetasi yang menyusun taman kolam meliputi beringin (Ficus
benjamina) sebanyak sebanyak 3 batang, Srirejeki (25 batang), talas (3 batang), talas hitam (1 batang) dan tanaman padi-padian 1 (batang).
Kolam Pemeliharaan Cikuya merupakan kolam utama dalam pelestarian labi-labi di Desa Belawa. Pengelolaan kolam ini meliputi pembersihan sampah dan serasah yang masuk ke kolam, pembersihan tempat peneluran dari rumput- rumputan serta penggantian air kolam. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh pengurus Pokmaswas Kuya Asih Mandiri, namun dalam intensitas yang tidak pasti. Selain itu, pengelola juga memberikan pakan kepada labi-labi secara rutin.
Gambar 19 Rancangan kolam Cikuya Desa Belawa.
Pemberian pakan dilakukan sehari sekali berupa ayam sebanyak 0,5 kg per hari. Pemberian pakan biasanya dilakukan pada sore hari jam 17.00 atau pada pagi hari jam 07.00. Selain itu, diberikan pula singkong sebagai pakan tambahannya. Hal ini dilakukan karena anggaran untuk pemberian pakan sebanyak Rp 400.000 per bulan.
4.1.3.3.2. Kolam Penangkaran
Kolam penangkaran adalah kolam yang dibangun oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon pada tahun 2009. Kolam ini berfungsi untuk memelihara labi-labi yang berumur 0-3 tahun. Kolam penangkaran terdiri dari 3 kolam yang saat ini 2 kolam untuk pembesaran tukik yang berumur 0-1 tahun dan 1 kolam untuk pembesaran labi-labi berumur 2-3 tahun.
Ukuran bagian dalam ketiga kolam tersebut adalah 285 cm x 22 cm. Kolam 1 dan 2 digunakan untuk pemeliharaan tukik. Kolam ini terdiri dari 3 bagian yaitu pasir yang tidak tergenang air (tinggi pasir lebih tinggi dari tinggi air), pasir yang terendam air dan bagian yang hanya berisi air. Bagian yang berisi pasir yang tidak tergenang berukuran 175 cm x 78 cm sedangkan yang tergenang berukuran 230 cm x 47 cm (Gambar 20).
Gambar 20 Rancangan kolam penangkaran tukik usia 0-1 tahun.
Ketinggian air di kolam 1 dan 2 adalah 6,3 cm. Ketinggian pasir di bagian yang terendam air adalah 4,3 cm dan yang tidak terendam adalah 7,2 cm. Bagian kolam yang berisi pasir yang tidak terendam ditujukan untuk tempat berjemur labi-labi sedangkan yang terendam air untuk tempat berlumpur. Ketiga kolam tersebut ternaungi atap asbes dan tidak terdapat sinar matahari yang langsung ke kolam tersebut.
Pembersihan atau penggantian air di kolam penangkaran dilakukan rata-rata 1 minggu sekali agar air terbebas dari jamur dan bakteri, namun bila terdapat
tukik yang teridentifikasi terserang jamur atau bakteri, maka dilakukan pembersihan dan penggantian air. Pembersihan kolam biasanya hanya mengganti air namun jika ada labi-labi yang terserang jamur, maka kolam dikuras dan dibersihkan dengan menggunakan pembasmi kuman. Pembersihan kolam dan penggantian air memerlukan waktu yang cukup lama yaitu hingga 2 jam. Hal ini disebabkan saluran pembuangan air kolam yang kecil sehingga air tidak cepat habis.
Tukik yang sakit atau terserang jamur dan bakteri dibersihkan dan direndam dalam PK (Pembasmi Kuman) yang telah dicampur dengan air. Pembasmi kuman yang digunakan adalah Kalium Permanganat. Tukik-tukik yang terserang jamur atau bakteri dijadikan satu kolam untuk dikarantinakan atau dipisah dari yang sehat. Biasanya pengelola memisahkannya di bak plastik dan membawanya pulang. Hal ini dikarenakan tidak adanya tempat/kolam untuk karantina. Selain itu, bila dirumah dapat dilakukan penanganan secara intensif.
Gambar 21 Gejala kematian tukik; a) luka berwarna putih, b) luka berwarna kemerahan, b) tukik direndam dalam larutan air dan pembasmi kuman.
Kematian tukik terjadi setiap tahunnya dan pada tahun 2012 terdapat 35 ekor tukik yang mati. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Cirebon bahwa pada tukik yang mati terdapat serangan jamur Saprolegniaceae serta bakteri Citrobacter freundii dan Aeromonas hydrophila. Gejala adanya luka-luka di tubuhnya, luka berlendir dengan warna luka putih dan kemerahan, aktivitas lemah dan sering berada di darat (Gambar 21).
Kolam Penangkaran 3 merupakan kolam pembesaran labi-labi yang berumur 2-3 tahun. Kolam 3 ini berisikan pasir yang dicampur dengan tanah sebagai dasar kolam. Ketinggian lumpur di kolam 3 adalah 6,2 cm dan ketinggian air 7,3 cm.
Pembersihan dan penggantian air di kolam 3 tidak dilakukan dalam jangka waktu yang pasti. Penggantian air dilakukan hanya ketika dirasa air sudah kotor dan berbusa.
4.1.3.3.3. Penanganan Telur Labi-labi
Labi-labi bertelur di kolam Cikuya (kolam induk) yakni di daratan kolam yang berisi campuran pasir dan tanah. Telur labi-labi yang ada di kolam Cikuya dibawa ke tempat penetasan. Tempat penetasan telur labi-labi merupakan ruangan yang tertutup dimana dalam ruangan tersebut terdapat 3 bak penetasan yang berukur 64 cm x 56 cm. Bak penetasan tersebut berisikan ember/baskom berdiameter 50 cm yang berisikan pasir yang digenagi air. Ember tempat meletakkan telur berdiameter 37 cm yang berisikan pasir murni dengan ketinggian pasir 20,8 cm (Gambar 22).
Gambar 22 Tempat penetasan telur labi-labi di Desa Belawa.
Pengambilan telur labi-labi dilakukan secara langsung jika pengelola mengetahui adanya labi-labi yang bertelur, namun bila telur tersebut baru diketahui keesokan harinya maka telur tersebut dibawa pada hari disaat ditemukannya telur. Pengelola membawa telur-telur labi-labi dengan menggunakan ember yang berisi pasir atau keresek untuk diletakkan di ember tempat penetasan telur. Telur-telur tersebut dimasukkan kedalam ember yang telah diisi pasir kemudian ditata secara memutar dan ditutupi pasir yang tipis.
Setelah tertutup, kemudian pasir tersebut disirami air untuk menjaga kelembaban. Penyiraman pasir penetasan telur dilakukan 2 hari sekali yang dilakukan pada sore atau pagi hari menggunakan botol air mineral yang telah dilubangi bagian atasnya. Pada bagian atas ember penetasan diterangi dengan lampu 5 watt untuk memberikan suhu yang diinginkan. Suhu pasir pada bak penetasan adalah 27,9 °C.
Labi-labi bertelur tidak dalam waktu yang bersamaan, sehingga bila terdapat labi-labi yang menetas lagi maka telur-telur tersebut diletakkan di sebelah telur yang lama. Telur-telur yang lama dirapatkan agar dapat menampung telur yang baru. Pada bak penetasan terdapat 3 ember penetasan dan jika banyak telur-telur yang baru, maka telur-telur yang lama disatukan dalam satu ember. Hal ini bertujuan agar telur-telur yang akan menetas berada dalam satu ember sehingga akan mudah diketahui ember mana yang telurnya akan menetas. Pengelola secara rutin yaitu setiap hari akan memonitor bak penetasan.
Dibawah ember penetasan terdapat baskom yang lebih besar berisikan pasir dan air agar tukik labi-labi yang baru menetas dapat langsung bersentuhan dengan air. Bila pada keesokan harinya telah diketahui menetas maka tukik dipindahkan ke kolam tukik yang berukuran 68 cm x 56 cm hingga plasenta yang menempel pada tukik terlepas. Setelah plasenta terlepas tukik-tukik tersebut dipindahkan ke kolam penangkaran.
Kegiatan penetasan telur labi-labi biasanya dilakukan di rumah-rumah pengelola, namun sejak adanya kolam penetasan yang dibangun pada tahun 2011 penetasan telur dilaksanakan di areal Cikuya. Pada tahun ini labi-labi mulai bertelur pada bulan Agustus sampai februari dengan jumlah total telur labi-labi sebanyak 187 butir. Telur-telur yang berhasil menetas sebanyak 115 butir.
4.1.4. Persepsi Masyarakat
Masyarakat Desa Belawa mengetahui keberadaan labi-labi atau yang sering disebut kuya atau kura-kura secara langsung. Seluruh responden yang berjumlah 97 responden pernah melihat labi-labi secara langsung. Mereka melihat labi-labi di kolam baik kolam masyarakat maupun kolam Cikuya. Terdapat 3,09 % yang pernah melihat labi-labi di kolam dan parit/sungai yang ada di Desa Belawa.
Masyarakat Desa Belawa mempunyai kepercayaan bahwa labi-labi merupakan satwa yang dikeramatkan. Namun berdasarkan hasil quisioner sebanyak 5,15 % masyarakat pernah mengkonsumsi daging labi-labi. Mereka memperolehnya dari sungai/parit, kolam dan diberi neneknya sewaktu masih kecil.
Selain itu mereka juga ada yang pernah mengkonsumsi telur labi-labi. Masyarakat yang pernah mengkonsumsi telur labi-labi adalah sebanyak 10,31%. Mereka mendapatkan telur labi-labi dari kolam atau kebun mereka sendiri. Selain itu ada pula yang membelinya dari teman atau tetangga dengan harga yang bervariasi yakni berkisar antara Rp 2.000,00 hingga Rp 15.000,00 per butir.
Masyarakat Desa Belawa sangat mempercayai manfaat mengkonsumsi telur labi-labi. Manfaat atau khasiat yang paling dipercayai adalah dapat meningkatkan stamina dan vitalitas. Selain itu khasiat yang lain adalah dapat menyuburkan kandungan, menghilangkan pegal-pegal dan sakit pinggang serta berkhasiat sebagai obat untuk segala macam penyakit.
Keberadaan labi-labi di Desa Belawa dirasakan masyarakat telah membawa manfaat bagi masyarakat desa. Adanya labi-labi di Desa Belawa telah menjadikan desa mereka banyak dikunjungi pendatang, sehingga suasana desa menjadi ramai. Manfaat lain yang dirasakan adalah terciptanya peluang usaha di Desa belawa yaitu dapat berdagang untuk memenuhi kebutuhan pengunjung serta dapat meningkatan pendapatan desa.
Labi-labi di Desa Belawa ada yang hidup di kolam-kolam masyarakat. Mereka (62,51%) lebih banyak bersikap untuk membiarkannya berada di kolam mereka. Ada pula masyarakat yang ingin mengeluarkan dari kolam mereka (29,17%) dan ada pula yang akan menyerahkan ke pengelola untuk dimasukkan ke kolam Cikuya (8,33%).
Sikap masyarakat desa bila menemukan labi-labi di kolam orang lain atau di parit/sungai sangat bervariasi. Sebagian besar mereka memilih untuk membiarkannya. Selain itu ada pula yang akan menangkapnya untuk dipelihara atau diserahkan ke pengelola. Ada pula sikap masyarakat yang memilih untuk melaporkan saja ke pengelola yakni POKMASWAS Kuya Asih Mandiri. Masyarakat tidak ada yang berkeinginan untuk menjualnya.
Seluruh masyarakat menghendaki agar keberadaan labi-labi di Desa Belawa dapat dipertahankan. Sebanyak 93,81 % menghendaki adanya aturan untuk melindungi labi-labi dari pemanfaatan telur dan daging labi-labi, sedangkan 5,15% tidak setuju adanya aturan tersebut. Mereka berkeinginan agar labi-labi