BAB IV HASIL PENELITIAN
D. Pengelolaan Rumah Singgah Master
Pengelolaan pembinaan rumah singgah sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara keseluruhan dan kajian administrasi yang harus direncanakan, diorganisasikan, dikendalikan, dan dievaluasi dengan baik sehingga memberikan layanan pendidikan yang memuaskan.
Pengelolaan yang diterapkan dalam Rumah Singgah Master menggunakan manajemen terbuka dan bersifat partisipatif, jadi semua mengetahui tentang pengelolaan disini. Semua unsur yang ada pada organisasi ini diharapkan dapat bersifat pastisipatif, baik mulai dari jajaran kepengurusan paling tinggi sampai jajaran paling bawah termasuk sasaran binaan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri. Pengelolaan meliputi unsur-unsur manajemen yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengawasan dan monitoring) dan evaluasi.
a. Perencanaan
Perencanaan dapat dikatakan sebagai kunci sukses dalam pelaksanaan berbagai aktivitas kegiatan, karena dalam pelaksanaan inilah ditetapkan tujuan-tujuan yang hendak di capai serta ditetapkan berbagai kebijakan yang akan menjadi arah pelaksanaan dalam program pembinaan anak jalanan di rumah singgah. Dengan adanya perencanaan yang lebih matang, diharapkan nantinya setiap unsur yang terlibat di dalamnya dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan
secara konsisten, dengan berbagai tujuan dan prosedur pilihan. Perencanaan program pembinaan di rumah singgah telah disusun oleh kepala rumah singgah bersama para pembina agar memperoleh hasil yang maksimal.
Perencanaan sebagai tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang mengerjakannya.15 Setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam proses perencanaan. Ketiga kegiatan itu adalah:
1) Perumusan tujuan yang ingin dicapai
2) Pemilihan program untuk mencapai tujuan itu
3) Identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas.16 Saat merancang program biasanya disusun bersama dalam Raker (Rapat kerja) yang dilaksanakan secara terbuka. Berbagai pihak yang dilibatkan dalam penyusunan program pembinaan adalah kepala rumah singgah, dan seluruh pembina rumah singah Master.
Perencanaan kegiatan ini merupakan tahap awal sebelum program pembinaan anak jalanan dilaksanakan. Beberapa kegiatan yang dilakukan sekolah dalam penyusunan rencana atau program antara lain berkaitan dengan:
1) Perumusan tujuan dan sasaran program, 2) Proses penyusunan program,
3) Perencanaan pembina dan pengelola, 4) Perencanaan waktu kegiatan,
5) Perencanaan fasilitas dan anggaran program pembinaan.
1) Merumuskan Tujuan dan Sasaran Yayasan Bina Insan Mandiri
Berikut ini akan dipaparkan hasil temuan yang berkaitan dengan perumusan tujuan, sasaran, dan strategi program pembinaan anak jalanan. Sebelum menyusun perencanaan program pembinaan, langkah awal yang
15
Nanang Fattah, op.cit., h. 49.
dilakukan oleh pihak Yayasan Bina Insan Mandiri adalah merumuskan tujuan terlebih dahulu. Adapun tujuan dari Yayasan Bina Insan Mandiri adalah:
a) Tujuan Pelayanan
Tujuan Umum
Meningkatkan kecerdasan bangsa menuju masyarakat yang mandiri dan berbudi pekerti
Tujuan Khusus
1) Menyiapkan masyarakat yang mandiri
2) Menyiapkan insan yang handal melalui keterampilan tepat guna dan berhasil.
b) Sasaran Pelayanan
1) Para pemuda potensial yang memiliki keinginan untuk belajar
2) Masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah yang belum tersentuh dan sadar akan pentingnya pendidikan baik formal mapupun non formal.
3) Para kaum dhu’afa yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan
pelayanan kesehatan yang baik, kegiatan ekonomi yang memadai serta kebutuhan sosial yang menyangkut hajat umat islam.17
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Yayasan Bina Insan Mandiri, tujuan dari didirikannya Yayasan Bina Insan Mandiri adalah memberikan layanan pendidikan gratis yang Insyaallah berkualitas agar bisa menampung orang-orang yang tidak bisa sekolah. Yayasan ini melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau, jadi kita sebagai fasilitator kaum marginal, membantu orang-orang yang tidak bisa mengakses layanan pendidikan dan kesehatan.18
17
Profil Yayasan Bina Insan Mandiri
18
2) Proses Penyusunan Program
Setelah penetapan tujuan langkah selanjutnya adalah melakukan proses perencanaan, merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Suatu kegiatan akan berjalan dengan baik dan lancar serta terencana apabila ada perencanaan yang telah dipersiapkan sebelumnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Perencanaan merupakan proses terpenting karena perencanaan sangat menentukan keberhasilan dari suatu program.
Berikut ini adalah hasil temuan yang berkaitan dengan penyusunan dan pihak yang terlibat dalam program pembinaan. Dalam prosedur penyusunan program sesuai dengan hasil wawancara bahwa dalam penyusunan rencana program pembinaan anak jalanan hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, visi, misi dan tujuan pembinaan perumusannya dilakukan di awal tahun oleh seluruh pembina melalui rapat dan musyawarah dengan melibatkan kepala yayasan, staff dan para koordinator divisi.
Pengelolaan pembinaan rumah singgah adalah seluruh proses yang direncanakan dan diusahakan secara terorganisir mengenai kegiatan rumah singgah untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki warga binaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Yayasan Bina Insan Mandiri bagaimana proses penyusunan pembinaan anak jalanan. Pengelolaan kegiatan Yayasan Bina Insan Mandiri ini dikelola oleh Praktisi, akademisi, beberapa keluarga besar para alumninya yang mengabdi disini dan beberapa aktivis mahasiswa untuk program-program pengabdian masyarakat. Pemilihan kegiatan pembinaan pun juga tidak langsung ditentukan oleh tutor-tutor tersebut, melainkan terdapat beberapa tahapan, seperti jejak pendapat, masukan dari siswa dan analisis lingkungan.
Setiap program pembinaan yang akan dilaksanakan memiliki program kerja setiap semesternya yang nanti akan menjadi acuan bagi pembina dan pelatih untuk menyiapkan materi yang akan diberikan kepada warga binaan. Selain itu
absensi hadir, jadwal kegiatan, dan penilaian juga dipersiapkan demi lancarnya program pembinaan yang akan dilaksanakan oleh Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri.
3) Perencanaan Pembina dan Pengelola Pembinaan
Penyediaan tenaga pendidik untuk kegiatan pembinaan rumah singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri telah melakukan perekrutan, penugasan, pengawasan, di awal tahun dengan tujuan untuk mengisi tenaga pendidik yang kosong, dan dilaksanakan oleh kepala yayasan, dibantu koordinator divisi pendidikan dan koordinator divisi sosial. Memanfaatkan tenaga pendidik yang menguasai keterampilan dibidang masing-masing tetapi penugasan dan pengawasan dilakukan oleh kepala rumah singgah.
4) Perencanaan Waktu Pelaksanaan
Apabila program telah di susun dengan baik dan pasti, yayasan dapat merencanakan alokasi waktu. Penjadwalan merupakan salah satu kegiatan administrasi di yayasan. Jadwal ini dimaksudkan untuk mengatur program belajar, praktik, program lapangan dapat terselenggara secara tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia dengan segala keterbatasannya. Fungsi utama adanya penjadwalan tersebut adalah untuk pegangan bagi para pelaksana program dan sekaligus pengontrol pelaksanaan program pembinaan anak jalanan.
5) Perencanaan Fasilitas dan Anggaran Program Pembinaan a) Perencanaan Fasilitas
Faktor lain yang turut mendukung keberhasilan program pembinaan anak jalanan adalah tersedianya sarana prasarana yang diperlukan dan pembiayaan yang cukup. Dalam perencanaan program pembinaan juga memuat tentang fasilitas dan biaya yang diperlukan.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sarana adalah fasilitas-fasilitas berupa fisik yang digunakan dalam kegiatan pembinaan. Proses
pembinaan anak jalanan di rumah singgah Master akan berjalan dengan lancar apabila ditunjang dengan sarana yang memadai, baik jumlah, keadaan, maupun kelengkapannya. Yang dimaksud jumlah disini adalah keberadaan dan banyak sedikitnya sarana yang dimiliki. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan.19
Berdasarkan hasil observasi bahwa sarana prasarana rumah singgah master Yayasan Bina Insan Mandiri masih dalam tahap pengembangan ke arah yang lebih baik. Penyediaan sarana prasarana dilakukan dengan perencanaan kebutuhan yang melibatkan kepala rumah singgah dan seluruh staff dan coordinator.
Terkait dengan fasilitas pendukung yang tersedia di rumah singgah MasterYayasan Bina Insan Mandiri, agar semua kegiatan berjalan dengan lancar, efektif dan efisien, maka disediakan sarana dan prasarana sebagai fasilitas penunjang, antara lain:
Tabel 4.4
Sarana dan Prasarana Yayasan Bina Insan Mandiri20
No Jenis Jumlah Keterangan
1 Ruang Kelas
15
Ruang kelas ini digunakan oleh anak-anak asuh dalam menerima materi dari tutor. Anak-anak yang belajar tidak berseragam dan duduk dilantai dengan sejumlah meja kecil untuk meletakkan buku.
Ruang kelas tersebut ada yang terbuat dari kontainer, ada juga yang berbentuk saung dari papan dan triplek. Sebagian berlantaikan ubin keramik dan papan, beratapkan seng dan asbes.
2 Ruang Guru 4 Baik
19
Kamus Besar Bahasa Indonesia, op.cit., h. 784.
20
3 Perpustakaan
1 Terdapat berbagai macam buku bacaan dari tingkat TK, SD s/d SMA dan umum.
4 Ruang Tata Usaha 1 Baik
5 Ruang Lab-Skill
2
Digunakan untuk keterampilan sablon, percetakan dan otomotif. Ruang ini digunakan untuk latihan praktek keterampilan.
6 Lapangan Olahraga 1 Baik
7 Asrama Laki-Laki 1 3 Ruang
8 Asrama Perempuan 1 2 Ruang
9 Kamar mandi/WC 16 Baik
10 Masjid 1 Baik
11 Ruang Komputer
1
Di ruang komputer ini terdapat 10 unit komputer yang dikhususkan untuk kursus para siswa dan anak binaan.
12 Ruang Kesehatan 2 Baik
b) Perencanaan Anggaran
Pengelolaan anggarannya dilakukan oleh bendahara yayasan untuk mengatur keluar masuknya keuangan. Pengelolaan anggaran yayasan mencangkup biaya operasional dan mitra kerja. Adapun uraian dari pembiayaan operasional dan dan mitra kerja adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan Operasional
Untuk mencapai misi yang dijalankan Yayasan Bina Insan Mandiri, diperlukan daya dukung yang memadai, karena Yayasan Bina Insan Mandiri tentu memerlukan dana guna membiayai semua bentuk biaya operasional. Dana operasional dalam menjalankan roda organisasi Yayasan Bina Insan Mandiri
didapat dari hasil kerjasama dan bantuan dari Corporate Social Responsibility
(CSR) perusahaan, Badan Amil Zakat, para donator dan lain-lain.21
Adapun yang menjadi pokok sumber pendanaan dari rumah singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri, antara lain:
a. Swadaya Masyarakat
Dalam realitas eksistensi Yayasan Bina Insan Mandiri selama ini di kota Depok, adanya partisipasi masyarakat memegang peranan yang penting terhadap pendanaan Yayasan Bina Insan Mandiri. Sebagian besar pembiayaan Yayasan Bina Insan Mandiri bersumber dari biaya sumbangan swadaya masyarakat disekitar kota Depok. Baik dari masyarakat maupun para supir angkutan kota (Angkot) turut serta menjadi donator tetap untuk pendanaan operasional Yayasan Bina Insan Mandiri.
b. Pemerintah
Selama ini pendanaan dari pemerintah pusat dikeluarkan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia, dalam bentuk dana segar setiap bulan yang diperuntukkan bagi uang jajan anak jalanan. Selain itu juga dari Pemda kota Depok juga memberikan bantuan dalam bentuk dana maupun bantuan bahan baku bacaan. Namun hingga saat ini bantuan dari Pemda Kota Depok dianggap masih sangat kurang dan hanya bisa membiayai sekitar 20% dari biaya operasional keseluruhan. Oleh karena itu, guna menutupi total 100% pengeluaran anggarannya Yayasan Bina Insan Mandiri harus bekerjasama dengan berbagai perusahaan.
c. Corporate Social Responsibility (CSR)
Yayasan Bina Insan Mandiri harus bekerjasama dengan berbagai perusahaan guna mendapatkan dana segar, hal ini secara kode etik perusahaan memudahkan mereka memenuhi kewajibannya melakukan CSR. Bagi Yayasan Bina Insan Mandiri bentuk kejasama ini merupakan simbiosis satu sisi perusahaan bisa dengan mudah memenuhi persyaratan terkait dengan CSR, sisi lain bagi Yayasan Bina Insan Mandiri bisa menutupi pengeluaran
21
dana Operasional. Terdapat beberapa perusahaan dan departemen pemerintah yang turut serta bekerjasama dengan Yayasan Bina Insan Mandiri Depok, antara lain: PT. Excelcomindo Pratama Tbk, Departemen Komunikasi dan Informatika, Darma Wanita Persatuan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang merupakan bantuan berupa balai pengobatan dan dokter keluarga kepada anak jalanan dan masyarakat sekitar terminal Depok. Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH Masyarakat) yang memberikan bantuan advokasi hukum kepada anak jalanan dan masyarakat sekitar berupa penyuluhan dan pendampingan hukum.
d. Pengelolaan Sektor Rill
Pendanaan juga berasal dari sektor rill yang dikelola oleh para alumni Yayasan Bina Insan Mandiri. Banyak diantara lulusan Yayasan Bina Insan Mandiri yang meneruskan usaha sektor rill Yayasan Bina Insan Mandiri, antara lain usaha jahit dan percetakan yang semuanya dilakukan oleh para alumni dan masyarakat sekitar. Perolehan dana tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari meliputi biaya konsumsi makan, uang jajan anak jalanan dibawah 14 tahun, transportasi tutor, kesekretariatan dan lain sebagainya.
2. Mitra Kerja
Untuk mempermudah pelaksanaan pengelolaan rumah singgah dalam pembinaan anak jalanan, Yayasan Bina Insan Mandiri berkerjasama dengan beberapa instansi pemerintah dan institusi swasta lainnya. Berdasarkan hal tersebut Nurrohim mengatakan:
“Kita membangun kemitraan dengan pihak praktisi, akademisi, lintas sektor, dengan dinas terkait dengan kalangan pengusaha, bagaimana ini kita jadikan isu bersama dan problem kita semua, sehingga orang tergerak untuk berpartisipasi untuk memberikan solusi masalah, sehingga dengan kebersamaan ini akan mudah dan lebih cepat untuk proses berkembangnya dan semakin banyak orang-orang yang terlayani. Supaya ini gratis tapi bisa berkualitas karena ditangani sama-sama dan orang yang memberikan kontribusi bukan hanya memberikan materi, tetapi berupa ide, bisa saran.”22
22
Banyak peserta didik Yayasan Bina Insan Mandiri yang berkualitas, sehingga banyak instansi yang menawarkan kerjasama dengan Yayasan Bina Insan Mandiri di bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Nurrohim:
“Yayasan ini tidak mencari dana. Banyak peserta didik berkualitas, banyak mendapatkan juara dimana-mana, akhirnya banyak media yang ke yayasan untuk mencari berita kesini. Ketika di blow up di media, banyak perusahaan yang mengadakan program CSR kemanusiaan, bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan pada datang untuk meminta kerjasama. Beberapa NGO luar yang bekerjasama dengan kita hampir 10, seperti: hope our children, program education jepang, save children, ILO,
word education, dll.”23
Kemitraan yang dilaksanakan dengan Yayasan Bina Insan Mandiri sifatnya tidak menentu dan tidak mengikat. Hal tersebut diungkapkan Nurrohim:
“Biasanya per program Ada yang 3 bulan dan 6 bulan, mereka lebih ke
program SDM dan manajemen. Ada yang Cuma sekali aja diundang ada semacam forum diskusi, seminar, semacam kerjasama lintas jaringan aja. Kerjasama di program forum rumah singgah, forum PKBM, BNKS, perguruan tinggi swasta. Pusat kegiatan masyarakat untuk penguatan
kapasitas SDM dan kelembagaan.”24 b. Pengorganisasian
Setelah perencanaan maka kegiatan selanjutnya adalah pengorganisasian. Untuk melaksanakan program pembinaan yang telah disusun tentu perlu orang/tenaga. Orang tersebut harus diorganisasikan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Jadi, mengorganisasikan berarti melengkapi program yang telah disusun dengan susunan organisasi pelaksanaannya. Struktur organisasi ini dibentuk agar pengurus mengetahui tugas-tugasnya tersebut. Dengan struktur organisasi yang ada, jelas siapa yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan program kegiatan pembinaan ataupun terhadap jenis kegiatan pembinaan tertentu yang akan di laksanakan.
Ernest Dale memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian itu digambarkan sebagai berikut:
23
Wawancara dengan Nurrohim, Hasil wawancara lengkap lihat lampiran 12, h.129
24
Gambar 4.2 Proses Pengorganisasian
Tahap pertama, yang harus dilakukan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.
Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseoranagan atau perkelompok. Disini perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang akan diserahi tugas harus didasarkan pada kualifikasi, tidak dibebani terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan.
Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara yang rasional, efisien. Pengelompokan tugas yang saling berkaitan, jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Penyatuan kerja ini biasanya disebut departementalisasi.
Tahap keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan perkerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis. Pada saat setiap orang dan setiap bagian melaksanakan pekerjaan/aktivitas, kemungkinan timbul konflik diantara anggota, dan mekanisme pengkoordinasian memungkinkan setiap anggota organisasi untuk tetap bekerja efektif.
Tahap kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektifitas. Karena pengorganisasian merupakan suatu proses yang berkelanjutan, diperlukan penilaian ulang terhadap keempat langkah sebelumnyasecara terprogram/berkala, untuk menjamin konsistensi, efektif, dan efisien dalam
memenuhi kebutuhan”.25
25
Nanang Fattah, op.cit., h. 71-73.
2. Pembagian Kerja 3. Penyatuan Pekerjaan 4. Koordinasi Pekerjaan 5. Monitoring dan Reorganisasi 1. Pemerincian pekerjaan
Berdasarkan teori di atas penulis menyesuaikan dengan pengorganisasian yang terjadi di Yayasan Bina Insan Mandiri. Kegiatan pengorganisasian dalam program pembinaan di Yayasan Bina Insan Mandiri meliputi:
1) Pemerincian pembagian kerja 2) Penyusunan pengurus khusus
3) Koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
1) Pemerincian Pembagian Pekerjaan Program Pembinaan
Membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok. Disini perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang akan diserahi tugas harus didasarkan pada kualifikasi, tidak dibebani terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.
Pengorganisasian yang berkaitan dengan pemilihan personil diputuskan berdasarkan rapat dengan kriteria-kriteria tertentu, peran masing-masing personil sesuai dengan struktur organisasinya, kepala madrasah sebagai penanggung-jawab, pembina yang menjalankan program pembinaan sebagai pelaksana dalam hal memberikan pengajaran dan pelatihan.
Berdasarkan hasil temuan di lapangan, divisi-divisi yang menjadi konsen utama di Yayasan Bina Insan Mandiri ada 4, yaitu: divisi pendidikan, divisi layanan sosial dan hukum, kesehatan, dan ekonomi.26
Divisi pendidikan Yayasan Bina Insan Mandiri mengusung dua jalur pendidikan yaitu jalur pendidikan formal dan nonformal. Disebut pendidikan formal atau pendidikan terbuka, karena Yayasan Bina Insan Mandiri bekerjasama dengan SMP 10 dan SMA 05 Sawangan Depok27 sebagai tempat induk/ pusat Yayasan Bina Insan Mandiri dalam penyelenggaraan Ujian Nasional. Di Yayasan Bina Insan Mandiri memiliki tingkat SMP dan SMA terbuka dimana kegiatan
26
Profil Yayasan Bina Insan Mandiri
27
Dokumen lengkap tentang Daftar Surat Rekomendasi SMPN 10 Depok lihat Lampiran 13, h.131.
proses belajar mengajarnya tetap berada di Yayasan Bina Insan Mandiri dan hanya pada saat Ujian Nasional berlangsung para siswa datang ke sekola tersebut. Sedangkan jalur pendidikan nonformal mengusung satuan pendidikan PKBM yang lebih menekannkan pada pemberian wadah bagi masyarakat untuk tetap mengenyam pendidikan dan pemberian keterampilan agar dapat digunakan sebagai bekal dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik. Adapun program pendidikan nonformal yang diterapkan di Yayasan Bina Insan Mandiri adalah sebagai berikut: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Kesetaraan (Paket A setara SD, Paket B setarara SMP dan Paket C setara SMA). Selain itu, pendidikan kecakapan hidup atau life skill meliputi: sablon, salon, Event Organizer (EO), desain grafis, elektro/service HP, komputer, bengkel, musik, membuat kue dan lain sebagainya.28
Selain itu, ada divisi sosial, hukum dan kesehatan dimana melalui divisi tersebut yayasan dapat memberikan layanan bagi orang yang tidak terlayani seperti kaum miskin, anak jalanan, anak terlantar dan anak putus sekolah. Karena ini merupakan gerakan sosial sehingga untuk melakukan kegiatannya juga secara sukarela demi membantu bersama. Tugas dari divisi ini adalah menjaring atau mengurus orang-orang atau anak-anak jalanan dan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan sampai yang tidak memiliki tempat tinggal. Untuk itu, yabim menyediakan rumah singgah sehingga dapat digunakan untuk menampung anak-anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal dan keluarga untuk dilakukan pembinaan agar mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Divisi advokasi hukum untuk membantu anak jalanan agar tetap terlindungi dari tindak kekerasan dan diskriminasi hukum. Mengingat tidak sedikit dan tidak jarang pula anak jalanan yang berurusan dengan pihak berwajib, seperti: terlibat tawuran, tidak memiliki KTP, Kartu Keluarga dan ada yang diciduk oleh anggota satpol PP karena tidur di emperan toko atau trotoar jalan, sehingga apabila permasalahan itu terjadi, tidak sedikit dari mereka yang meminta bantuan ke Yayasan Bina Insan Mandiri.
28
Divisi advokasi kesehatan dibentuk untuk memberikan layanan kesehatan gratis. Tidak sedikit masyarakat yang memberikan stigma negatif pada anak jalanan sehingga rumah sakit atau layanan kesehatan tidak menerima mereka pada saat mereka ada yang sakit. Bukan hanya warga Yayasan Bina Insan Mandiri yang dapat menerima layanan kesehatan gratis ini, tetapi kepada siapapun yang membutuhkan layanan kesehatan agar tidak terjadi diskriminasi terhadap masyarakat miskin lagi.
2) Penyusunan Pengurus Program Pembinaan
Dalam mengorganisasikan rumah singgah, kepala rumah singgah harus mengetahui kemampuan dan karakteristik tutor dan staf lainnya sehingga dapat menempatkan mereka pada posisi/tugas yang sesuai. Juga harus diketahui tugas apa yang sedang dikerjakan, sehingga tidak terjadi beban tugas yang berlebihan.
Mengingat suatu program biasanya terdiri dari beberapa bagian yang mungkin sekali dikerjakan oleh orang yang berbeda, maka dalam pengorganisasian harus jelas bagaimana hubungan antar bagian tersebut dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan.
Berdasarkan studi dokumentasi mengenai penyusuan pengurus, yaitu