• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Program Rumah Singgah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengelolaan Program Rumah Singgah"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

Annisa Nur Afifah

NIM: 109018200001

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

i

ABSTRAK

Annisa Nur Afifah. 109018200001. Pengelolaan Program Rumah Singgah (Studi Kasus di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok). Program Studi Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan program pengelolaan rumah singgah di rumah singgah Master yang meliputi program pembinaan dan program pelayanan. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri yang terletak di Jalan Margonda Raya No.58 Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yakni mendeskripsikan tentang fenomena-fenomena yang ada. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan pendiri rumah singgah dan menyebar angket ke 8 guru/tutor yang aktif membina anak jalanan di rumah singgah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, program pembinaan anak jalanan di rumah singgah master yang diselenggarakan Yayasan Bina Insan Mandiri, yaitu: program jalur pendidikan formal (SMP dan SMA terbuka), program jalur pendidikan nonformal (PAUD, pendidikan kesetaraan paket A, B, C), program kelas bisnis, program kelas seni (seni musik barang bekas (trashick)), lukisan gombal, batik), program kelas tahfidz, program kelas teknologi, program tambahan (program lab skill: pelatihan komputer, pelatihan teknisi HP, pelatihan automotif, menjahit, tataboga dan sablon). Kedua, program pelayanan rumah singgah Master menyesuaikan dengan program yang telah ditetapkan oleh Kementrian Sosial RI, yaitu: penjangkauan, pengkajian masalah, resosialisasi, rujukan pemberdayaan untuk anak jalanan, pemberdayaan untuk orang tua anak jalanan, terminasi (pengakhiran pelayanan). Ketiga, pelaksanaan pengelolaan rumah singgah Master menjalankan unsur-unsur perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengawasan dan monitoring) dan evaluasi.

(8)

ii

ABSTRACT

Annisa Nur Afifah. 109018200001. Management Shelter Home Program (Case study in Master Shelter Home Yayasan Bina Insan Mandiri Depok). Studies Program of Education Management. Faculty of Tarbiyah and Teaching. State Islamic University of Syarif Hidayatullah Jakarta 2014.

This study aims to know the management program of shelters home in the Master shelter homes include coaching program and service program. This research was conducted in the Master Shelter home yayasan Bina Insan Mandiri located in Jalan Margonda Raya No.58 Pancoran Mas Terminal Terpadu, Depok City. The method used in this research is descriptive qualitative, which describes about the phenomena which exist.Meanwhile, data collection techniques using observation, interviews, questionnaires and documentation. In this study, researchers conducted interviews with the founders of the Master shelter and spread questionnaires to 8 teachers / tutors who actively foster a street children in shelter homes Master.

The results of a research, showed that: First, the coaching program of street children in shelter homes master held by Yayasan Bina Insan Mandiri, namely: formal education program (junior and senior open high School), non-formal education pathway programs (Early Childhood Education/PAUD, equality education package A, B, C), business class program, a program of art classes (art music thrift (trashick)), rag painting, batik), program Tahfidz class, classroom technology program, additional courses (skills lab program: computer training, HP technician training, automotive training, sewing, cookery and screen printing). Second, service programs of shelter homes Master adjusting with a program that has been established by the Ministry of Social Affairs, namely: outreach, assessment issues, resocialization, referral for street children empowerment, empowerment for parents of street children, termination (termination of service). Third, the implementation of the Master runs shelter house management elements of planning, organizing, controlling (supervision and monitoring) and evaluation.

(9)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tiada kata yang paling indah dan bermakna selain untaian kata syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat nikmat sehat, karunia serta ridho-Nya. Shalawat dan salam penulis hanturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Penulis bersyukur karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, skripsi ini

dapat diselesaikan dengan judul “Pengelolaan Rumah Singgah dalam Membina Anak Jalanan (Studi Kasus di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan

Mandir Depok). Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Manajemen Pendidikan, Jurusan Kependidikan Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam pembuatan dan penulisan skripsi ini tak lepas dari dukungan dan dorongan serta jasa dari seluruh pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih tak terhingga kepada:

1. Kedua orangtua, Ayah (Eje, MM) dan Mamah (Nurhayati) tercinta yang tidak

lelah mendidik penulis sampai saat ini, curahan kasih sayang yang tulus, do’a

-do’a yang tiada henti mengalir, nasihat, motivasi serta dukungan moril maupun materil yang selalu diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi ini.

2. Dra. Nurlena Rifai, M. A Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(10)

iv

4. Bapak Dr. Faridal Arkam, M.Pd, selaku dosen pembimbing skrispsi yang telah memberikan motivasi dan meluangkan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk membimbing hingga terselesaikannya skripsi ini.

5. Seluruh bapak/ibu dosen program studi Manajemen Pendidikan, yang telah mendidik, mengajar, dan melatih dengan memberikan ilmu dan pengetahuannya selama perkuliahan.

6. Pimpinan Yayasan Bina Insan Mandiri Depok atau Sekolah Master Bapak Nurrokhim, para pengurus serta para tutor dan anak binaan Yabim yang telah memfasilitasi penulis dalam melakukan penelitian dan bersedia menjadi narasumber penulis hingga selesai.

7. Staff Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Kementerian Sosial RI dan Pusat Pelayanan Informasi PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) Kementerian Sosial RI yang telah memberikan andil besar dalam menyediakan bahan pustaka guna terselesaikannya penulisan skripsi ini.

8. Keluargaku tercinta, Adik semata wayang Wildan Sani Fajarudin, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu atas curahan kasih sayang dan selalu mendo’akan untuk keberhasilanku.

9. Eri Sugiarto, yang selalu menemani keseharianku, teman berbagi dalam susah dan senang, selalu menyemangati dan memberikan dukungan sampai terselesaikannya skripsi ini.

10. Teman-teman di Jurusan KI-Manajemen Pendidikan, khususnya teman-teman seperjuanganku angkatan 2009 dan teman satu pembimbing Tines Purnama yang selalu memotivasi sampai terselesaikannya skripsi ini.

11. Keluarga Besar HIMABO (Himpunan Mahasiswa Bogor). Organisasi primordial asal Bogor yang sama-sama berjuang menuntut ilmu di kampus UIN Jakarta. Semoga ikatan kekeluargaan kita akan terus terjaga.

(11)

v

13. KAPH (Kelompok Asuh Pelita Hati), ide penulisan skripsi ini berasal dari adik-adik di lapak pemulung yang didik oleh kakak-kakak KAPH.

14. Sahabat-sahabatku terkasih, Amirah, Yustia, Rahmatia yang terus saling memotivasi dan atas kebersamaannya selama ini. Penulis tak akan pernah melupakan kenangan dan masa-masa yang telah kita lalui bersama.

15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga seluruh kebaikan, jasa, dan doanya yang telah diberikan kepada penulis menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang oleh Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak.

Karya tulis yang sederhana ini tentunya masih belum sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat kontruktif penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi khazanah ilmu pengetahuan.

Ciputat, 22 Januari 2014

(12)

vi

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

LEMBAR PENGESAHAN UJI REFERENSI SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

ABSTRAK ………. i

ABSTRACT .……… ii

KATA PENGANTAR ……….... iii

DAFTAR ISI ………... vi

DAFTAR TABEL ……….. ix

DAFTAR GAMBAR……….. x

DAFTAR LAMPIRAN ………. xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………... 1

B. Identifikasi Masalah……….... 9

C. Pembatasan Masalah……….….. 9

D. Perumusan Masalah………. 10

E. Tujuan Penelitian……….. 10

F. Manfaat Penelitian……… 10

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori 1. Rumah Singgah a. Pengertian Rumah Singgah………...… 12

b. Latar Belakang Berdirinya Rumah Singgah………….… 12

c. Prinsip-Prinsip Rumah Singgah……… 15

d. Program Rumah Singgah……….. 18

1) Tahap Pelayanan Rumah Singgah……….. 19

(13)

vii

2. Pengelolaan Rumah Singgah………...… 23

a. Pengertian Pengelolaan ……….... 23

b. Tujuan Pengelolaan …….………. 25

c. Strategi Pengelolaan ………. 26

1) Perencanaan……… 26

2) Pengorganisasian………...…. 27

3) Pengendalian……….. 29

4) Evaluasi……….. 30

B. Penelitian yang Relevan………... 31

C. Kerangka Berfikir………. 33

D. Pertanyaan Penelitian……… 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ...……… 35

B. Metode Penelitian………. 36

C. Sumber Data ……… 37

D. Teknik Pengumpulan Data ……….. 37

E. Teknik Analisis Data ………... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umun Objek Penelitian 1. Sejarah Singkat Rumah Singgah Master ……… 42

2. Identitas Lembaga Yayasan Bina Insan Mandiri ………...… 45

3. Visi dan Misi Rumah Singgah Master …...……… 45

4. Keadaan Guru dan Siswa ………... 46

a. Keadaan Guru ……….. 46

b. Keadaan Siswa ………. 48

5. Kurikulum Pembelajaran……… 48

B. Strategi Pembinaan Anak Jalanan ……….…….. 50

C. Program Rumah Singgah Master……… ………. 51

(14)

viii

1) Program Akademis ………….………. 51

a. Program Jalur Pendidikan Formal ……….………… 52

b. Program Jalur Pendidikan Nonformal ….………….. 52

2) Program Kelas Bisnis …………..……… 54

3) Program Kelas Seni ………..………... 55

4) Program Kelas Tahfidz ………..………. 55

5) Program Kelas Teknologi ….……….……. 56

6) Program Tambahan ………...………. 56

2. Program Pelayanan Rumah Singah Master ……….. 59

D. Pengelolaan Rumah Singgah Master ..……… 59

a. Perencanaan ……….. 59

b. Pengorganisasian ……….. 67 c. Pengendalian ……… 75

d. Evaluasi ……… 76

E. Analisis Data ……….. 78

F. Ulasan ……….…… 86

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ……….... 88

B. Saran ……….. 90

(15)

ix

[image:15.595.115.533.110.447.2]

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : Waktu Kegiatan Penelitian ………. 35

Tabel 3.2 : Kisi-Kisi Instrumen Wawancara ……… 38

Tabel 3.3 : Kisi-Kisi Instrumen Angket ………... 39

Tabel 4.1 : Jumlah Tutor Tetap dan Relawan di Yayasan Bina Insan

Mandiri………..…. 46

Tabel 4.2 : Tingkat Pendidikan Terakhir Tutor Yayasan Bina Insan

Mandiri ……….. 46

Tabel 4.3 : Jadwal Belajar PKBM Yayasan Bina Insan Mandiri ………… 49 Tabel 4.4 : Sarana dan Prasarana Yayasan Bina Insan Mandiri ………….. 64

Tabel 4.5 : Sarana dan Prasarana ………. 78

Tabel 4.6 : Karakteristik Anak Jalanan ………... 82

(16)

x

[image:16.595.116.539.115.453.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 : Jumlah Anak Terlantar (6-18 Tahun) Tahun 2009 dan 2011 ..… 3

Gambar 2.1 : Tahap-Tahap dan Program Pelayanan ………... 19

Gambar 2.2 : Proses Pengorganisasian ………...………. 28

Gambar 4.1 : Tahap-Tahap dan Program Pelayanan ………..…. 57

Gambar 4.2 : Proses Pengorganisasian ………...………. 69

(17)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Pengesahan Proposal Skripsi ………... 95

LAMPIRAN 2 Surat Bimbingan Skripsi ……...………... 96

LAMPIRAN 3 Surat Permohonan Izin Observasi Study Dokumentasi ke Kemensos..………... 97 LAMPIRAN 4 Surat Tanda Bukti Penyerahan Informasi Publik

Kementrian Sosial RI ………... 98

LAMPIRAN 5 Surat Permohonan Izin Observasi ke Yayasan Bina Insan

Mandiri Depok..……… 99

LAMPIRAN 6 Surat Permohonan Izin Penelitian ……….. 100

LAMPIRAN 7 Surat Keterangan Penelitian dari Yayasan Bina Insan

Mandiri Depok ………... 101

LAMPIRAN 8 Lembar Uji Referensi ………. 102

LAMPIRAN 9 Foto Dokumentasi Penelitian ………. 110

LAMPIRAN 10 Pedoman Wawancara ………....…………. 114

LAMPIRAN 11 Pedoman Angket ……….………... 119

LAMPIRAN 12 Hasil Wawancara……….... 122

LAMPIRAN 13 Surat Rekomendasi SMPN 10 Depok……..………….. 131

LAMPIRAN 14 Daftar Prestasi dan Mitra Kerjasama Yayasan Bina Insan

Mandiri Depok ………...……….... 132 LAMPIRAN 15 Data Anak Jalanan PKSA Binaan Yayasan Bina Insan

Mandiri Depok ……….….. 133

LAMPIRAN 16 Daftar Tutor PAUD ………... 148

LAMPIRAN 17 Daftar Tutor Paket A/SD ………... 149

LAMPIRAN 18 Daftar Tutor Paket B/SMP .……….... 150

LAMPIRAN 19 Daftar Tutor Paket C/SMA. ………... 151

LAMPIRAN 20 Formulir Monitoring Anak Jalanan ……… 152

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak sebagai tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Oleh sebab itu, anak perlu disiapkan dengan sebaik-baiknya agar dapat tumbuh kembang dan berkembang secara wajar.

Negara kesatuan RI menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan sosial terhadap anak yang merupakan hak azasi manusia. Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia.

Dalam kenyataannya masih banyak ditemukan anak-anak yang terlantar yang hidup di jalanan. Keberadaan anak jalanan merupakan akibat kondisi yang kurang baik di dalam keluarga seperti ekonomi keluarga rendah, tindak kekerasan terhadap anak, disorganisasi keluarga, anak kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, dan faktor lainnya yang mendorong anak terpaksa berada di jalanan. Munculnya fenomena anak jalanan ini merupakan bukti tidak terpenuhinya perlindungan dan kebutuhan baik jasmani, rohani, maupun sosial yang menjadi hak anak Seperti yang tercantum dalam konvensi hak-hak anak yang disadur dalam UU PBB, yang selanjutnya tertuang dalam Undang-Undang perlindungan anak Republik Indonesia. Seperti disebutkan dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945

disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.1 Pasal ini pada dasarnya merupakan hak konstitusional warga miskin dan

1

(19)

anak terlantar. Dalam UUD 45 merupakan payung hukum bagi warga negara, dan menjadi kewajiban bagi negara untuk tidak mengabaikan keberadaan fakir miskin dan anak terlantar.2 Dalam penjelasan UUD adalah Negara bertanggung jawab untuk melindungi dan memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Dalam kata lain, dipelihara bukan dibiarkan untuk terus ada. Pemerintah sendiri sesungguhnya tidak menutup mata akan persoalan anak-anak jalanan yang bisa di kategorikan sebagai anak terlantar yang bukan hanya dijumpai di jalan-jalan, tetapi juga ditempat keramaian lainnya, seperti pusat perbelanjaan atau pasar, terminal, stasiun, dan lainnya.

Anak jalanan harus diberikan pendidikan guna pengembangan mental dan kecerdasan. Terkait dengan masalah pendidikan, UU tersebut juga pada Pasal 9 ayat 1 menyatakan bahwa: “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya

sesuai dengan minat dan bakatnya.”3

Anak jalanan sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Pada dasarnya mereka memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran sesuai minat dan bakatnya. seperti anak-anak lainnya. Untuk itu, pendidikan harus diberikan kepada masyarakat tanpa memandang status sosial, ekonomi, jenis kelamin dan lain sebagainya termasuk anak jalanan.

Fenomena anak yang berada di jalanan semakin meningkat, terutama banyak ditemukan di kota-kota besar seperti di wilayah Jabodetabek, bukan hanya dari aspek kuantitas tetapi aktivitas yang mereka lakukan. Peningkatan ini bukan hanya saat Indonesia mengalami krisis tetapi beberapa tahun sebelumnya juga sudah terlihat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantara faktor kemiskinan, pendidikan dan keluarga.

Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik Republik Indonesia pada bulan Maret 2013, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,07 juta

2Ibid

, h. 8.

3

(20)

orang atau 11,37% dari jumlah penduduk di Indonesia.4 Kemiskinan mengakibatkan rendahnya daya beli, keluarga miskin tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial dasar, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan. Dengan kata lain, keluarga miskin tidak mempunyai dana yang cukup untuk membeli makanan, menyekolahkan anak dan memelihara serta meningkatkan status kesehatannya.

[image:20.595.113.541.111.504.2]

Dampak dari kemiskinan menimbulkan berbagai masalah sosial. Kesejahteraan keluarga semakin menurun sehingga menimbulkan banyak anak-anak yang terpisah dari orang tuanya.

Gambar 1.1

Sumber: Data Susenas BPS5

Berdasarkan tabel hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2009 memperlihatkan bahwa jumlah anak terlantar secara nasional berjumlah 3.176.462 anak. Dua tahun kemudian, tahun 2011, angka tersebut mengalami penurunan 60.685 anak menjadi 3.115.777 anak. Sedangkan anak jalanan yang sudah di tampung di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) berjumlah 10.126 anak dari 88 LKS. Pada tahun yang

4

Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2013 (Berita Resmi Statistik No. 47/07/Th. XVI, 1 Juli 2013), h. 1.

5

(21)

sama anak yang tergolong rawan menjadi anak terlantar berjumlah 7.175.189 anak dari populasi anak Indonesia yaitu 58.171.746 anak anak usia 6 - 18 tahun.

Sedangkan jumlah anak terlantar di DKI Jakarta tahun 2012 sebanyak 60.336 anak. Panti Sosial Asuhan Anak yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat berjumlah 30 panti dengan daya tampung 5.989 anak, sedangkan 54.347 anak belum tersentuh pelayanan pemerintah maupun organisasi sosial atau LSM.

Angka tersebut menunjukan bahwa kualitas hidup anak kita memprihatinkan yang mengancam masa depan mereka, padahal mereka adalah aset, investasi Sumber Daya Manusia dan sekaligus tumpuan masa depan bangsa.

Pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang ekonominya lemah, sehingga para orang tua tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya. Selain itu juga dikarenakan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan tidak adanya kepedulian orang tua terhadap nasib pendidikan anak-anaknya, sehingga banyak anak turun ke jalan untuk membantu orang tuanya dalam mempertahankan hidup.

Pada umumnya permasalahan anak dikategorikan menjadi tiga yaitu,

Pertama, Perlakuan Salah Terhadap Anak atau PSTA (child abuse atau child maltreatment), yaitu penyiksaan anak baik secara fisik, psikis dan seksual. Kedua,

penelantaran anak (child neglect), yaitu sikap dan perlakuan orang tua yan tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya anak dikucilkan, diasingkan dari keluarga, atau tidak diberikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak. Ketiga, Eksploitasi anak (child exploitation) eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yang dilakukan oleh keluarga atau masyarakat. Contohnya memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi kepentingan ekonomi seperti memaksa anak untuk mengamen di jalan dan lain sebagainya.6

Kebutuhan pendidikan merupakan hal sangat penting, karena pendidikan merupakan hal mendasar bagi seseorang untuk mengetahui berbagai macam

6

(22)

pengetahuan, tetapi tidak sedikit juga orang yang masih tidak mementingkan pendidikan.

Berkaitan dengan pernyataan di atas Allah SWT berfirman di dalam

Al-Qur’an Surat An-nisa: 9

























“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang

benar”. (QA. Annisa:9)7

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa manusia hendaklah khawatir bila meninggalkan keturunan yang lemah, baik dalam pekerjaan, intelektual dan kompleksitas hidup. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan yang baik sebagai bekal untuk generasi berikutnya.

Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran serta masyarakat, baik melalui lembaga pelayanan dan perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media masa, dan lembaga pendidikan, dengan program-program yang mendukung dan sesuai dengan kebutuhan anak, seperti memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif.

Dari kondisi tersebut, diperlukan suatu tempat atau lembaga untuk menampung dan memberikan pemenuhan kebutuhan pendidikan. Dalam khasanah penanganan anak jalanan dikenal tiga pendekatan, yakni street based (berpusat di jalanan), centre based (berpusat di panti), dan community based (berpusat di

7

(23)

masyarakat). Setiap pendekatan tersebut mempunyai ciri khas dari segi pelayanan, strategi, dan sasaran programnya.

Pendekatan rumah singgah ini mulai berkembang akhir-akhir ini di berbagai Negara untuk melengkapi pendekatan yang sudah ada. Keunikannya adalah mampu digunakan untuk memperkuat tiga pendekatan diatas. Jika ditempatkan di wilayah yang dekat banyak anak jalanan, dapat dipandang sebagai

street based yang menjadi pusat kegiatan anak jalanan. Jika ditempatkan di suatu wilayah dimana banyak anak warga tersebut menjadi anak jalanan, dapat dipandang sebagai pusat kegitan pula atau pintu masuk untuk menangani anak jalanan dengan melibatkan warga masyarakat. Rumah Singgah pada umumnya berupa rumah yang dikontrak juga dipandang sebagai panti (center) baik untuk berlindung maupun sebagai pusat kegiatan.

Rumah Singgah merupakan Lembaga Sosial Masyarakat (LSK) memberikan solusi alternatif dengan memberikan pelayanan sosial kepada anak-anak yang kurang beruntung. Dimana bagi mereka disediakan rumah penampungan dan pendidikan yang berfungsi sebagai tempat bernaung dan media pendidikan non formal yang dapat membawa perubahan bagi anak jalanan. selain itu mempertahankan kemampuan anak dimana penanganannya berdasarkan aspirasi dan potensi yang dimiliki anak. Para pekerja sosial dalam bekerja lebih banyak berprinsip perkawanan dalam pendampingan yang sejajar sebagai seorang sahabat. Penyediaan rumah singgah merupakan upaya agar hak-hak anak dari para anak jalanan dapat terpenuhi, hal mana akan mendorong kelancaran proses tumbuh kembang, yang pada gilirannya dapat ikut serta dalam pembangunan nasional dengan melaksanakan peran dan tugas sebagai anak.

Sebelum pihak pemerintah dan swasta aktif berpartisipasi, sebenarnya sudah banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berupaya menjawab kebutuhan anak jalanan dengan mendirikan yayasan sosial, contohnya Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Sekolah

(24)

memperoleh pelayanan sosial di bidang pendidikan. Rumah Singgah di Yayasan

Bina Insan Mandiri disebut “Rumah Singgah Master”. Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) sebagai lembaga sosial yang melakukan pembinaan melalui pendidikan luar sekolah memiliki peran penting bagi kehidupan anak-anak jalanan. Sesuai dengan fungsinya antara lain sebagai tempat terbuka bagi anak jalanan untuk berlindung, beristirahat dan belajar. Rumah Singgah Master juga berupaya mengembalikan anak-anak jalanan itu kembali pada kehidupan normal seperti anak-anak lain yang sebaya dengan mereka.

Upaya penanganan anak jalanan melalui Rumah Singgah di Kota Depok khususnya yang dilakukan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM), salah satu yayasan yang berperan di bidang sosial, yang peduli dengan permasalahan sosial anak jalanan dengan melalui pendidikan luar sekolah, didalamnya memuat berbagai kegiatan antara lain: pembinaan keterampilan, sekolah terbuka, pendidikan nonformal, bimbingan mental dan spiritual dan lain sebagainya. Pembinaan seperti ini merupakan pemenuhan hak anak dalam memperoleh pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar pendidikan anak-anak, namun terkadang kebutuhan itu tidak dapat terpenuhi dan banyak anak putus sekolah karena faktor kemiskinan sehingga anak di tuntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, situasi ini membawa konsekuensi banyak diantara mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan.

Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri merupakan salah satu bentuk usaha kesejahteraan sosial dalam konteks penelitian ini adalah anak jalanan, dimana mengacu pada program, pembinaan serta berbagai kegiatan secara konkrit berusaha menjawab kebutuhan atau masalah sosial yang dihadapi anak jalanan seperti:

a. Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupan.

(25)

c. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan formal.

Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri adalah salah satu lembaga sosial yang berada di wilayah Depok yang peduli terhadap nasib anak-anak jalanan, fakir, miskin dan dhuafa dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan hidup anak jalanan. Yayasan ini sudah memiliki ciri-ciri yayasan sosial pada umumnya visi, misi, program, pengurus, serta sarana dan prasarananya yang mendukung pembinaan yang dilakukan Rumah Singgah Master.

Layanan pendidikan yang di berikan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri kepada anak jalanan ini akan sangat berguna bagi masa depan mereka. Anak jalanan tersebut akan dibina agar memiliki masa depan yang lebih baik, karena mereka pun memiliki hak yang sama dengan anak-anak pada umumnya yaitu berhak untuk berprestasi, mengembangkan potensi dan mengasah bakat yang dimiliki. Seperti beberapa anak binaan Yayasan Bina Insan Mandiri yang mampu memberikan prestasi antara lain: Juara I lomba menulis surat untuk Presiden RI BAZNAS (2005), juara I dan II olimpiade matematika setara SD Jabodetabek (2006), juara III Cerdas Cermat Paket C setara SMU 2008 dan lain-lain.8 Selain itu, output atau lulusan dari Yayasan Bina Insan Mandiri ini banyak yang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi negeri maupun swasta bahkan beberapa ada yang memperoleh beasiswa sampai ke luar negeri. Hal ini merupakan bukti bahwa mereka juga memiliki hak untuk berprestasi layaknya anak-anak pada umumnya.

Dari latar belakang diatas, peneliti akan mengkaji pelaksanaan pengelolaan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri dalam membina anak jalanan bagi anak-anak wilayah Depok dan sekitarnya. Peneliti berasumsi bahwa mereka layak mendapatkan hak-hak mereka, seperti terpenuhinya kebutuhan mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya.

8

(26)

Di Indonesia telah banyak Rumah Singgah yang didirikan oleh masyarakat yang peduli terhadap nasib pendidikan anak jalanan diantaranya adalah Yayasan Keluarga Anak Langit yang berada di daerah karawaci kota Tangerang Banten, Sanggar Kartini yang berada di wilayah Jakarta Utara, Yayasan Akur Kurnia yang berada di Kramat Jati Jakarta Timur, dan Rumah Singgah yang akan jadi tempat penelitian ini yaitu Rumah Singgah Master di bawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri yang berada di Jalan Margonda Raya No. 58 Kelurahan Depok Kecamatan Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis memilih untuk memfokuskan dan memperdalam kajian tentang pelaksanaan pengelolaan Rumah Singgah dalam membina anak jalanan, yang kemudian penulis tuangkan dalam sebuah penelitian dengan judul: “PENGELOLAAN PROGRAM RUMAH SINGGAHStudi Kasus di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dapat diidentifikasi masalah-masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Belum efektifnya pelaksanaan pengelolaan rumah singgah Master dalam membina anak jalanan.

2. Belum maksimalnya program pembinaan anak jalanan di rumah singah Master untuk memenuhi hak anak dalam memperoleh pendidikan.

3. Adanya faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan rumah singgah Master.

C. Pembatasan Masalah

(27)

peluang-peluang yang ada yang dapat dilaksanakan oleh Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM).

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan mudah, terarah, tidak meluas dan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan, maka perlu adanya pembatasan masalah.

Berdasarkan uraian diatas penulis membatasi persoalan dalam penelitian ini adalah tentang Pengelolaan Program Rumah Singgah.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, penulis mencoba meneliti, mengkaji dan merumuskan penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan pengelolaan rumah singgah Master dalam membina anak jalanan?

2. Bagaimana program pembinaan anak jalanan di rumah singah Master untuk memenuhi hak anak dalam memperoleh pendidikan?

3. Faktor pendukung dan penghambat apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan rumah singgah Master?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan Rumah Singgah dalam membina anak jalanan di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) Depok.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis kepada berbagai pihak sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

(28)

sosial, khususnya yang berfokus di bidang pengelolaan program rumah singgah.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi yayasan, sebagai bahan masukan bagi pengelola Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) dan pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan Rumah Singgah.

b. Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi mengenai pengelolaan Rumah Singgah dalam membina anak jalanan dan dapat memberikan kontribusi pengembangan khazanah ilmu.

(29)

12

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Rumah Singgah

a. Pengertian Rumah Singgah

Rumah Singgah merupakan sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut.1

Sedangkan menurut Departemen Sosial RI Rumah Singgah didefinisikan sebagai suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka.2 Rumah Singgah merupakan proses informal yang memberikan suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap system nilai dan norma di masyarakat. Rumah Singgah merupakan tahap awal bagi seorang anak untuk memperoleh pelayanan selanjutnya, oleh karenanya penting menciptakan Rumah Singgah sebagai tempat yang aman, nyaman, menarik, dan menyenangkan bagi anak jalanan.3

b. Latar Belakang Berdirinya Rumah Singgah

Secara umum tujuan dibentuknya Rumah Singgah adalah membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sedangkan secara khusus tujuan Rumah Singgah adalah:4

1

Armai Arief, Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan, 2013

(http://anjal.blogdrive.com/archive/ 11. html)

2

Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, (Jakarta: Direktorat Bina Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2002)., h. 6.

3

Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, (Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 1999), h. 5.

4Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah

(30)

a) Membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

b) Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau ke panti dan lembaga pengganti jika diperlukan.

c) Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dibentuknya rumah singgah yaitu untuk mengembalikan sikap dan perilaku anak jalanan sesuai dengan norma, mengupayakan agar anak kembali ke rumah, ke keluarga atau lembaga pengganti serta menyiapkan masa depan melalui berbagai alternatif pelayanan pemberdayaan.

Dalam buku “Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah”, Rumah Singgah memiliki fungsi sebagai berikut:5

1. Tempat penjangkauan pertama kali dan pertemuan pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan, kekeluargaan, dan mencari jalan keluar dari kesulitan mereka.

2. Tempat membangun kepercayaan antara anak dengan pekerja sosial dan latihan meningkatkan kepercayaan diri berhubungan dengan orang lain. 3. Perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, seks, ekonomi, dan bentuk

lainnya yang terjadi di jalanan.

4. Tempat menanamkan kembali dan memperkuat sikap, perilaku, dan fungsi sosial anak sejalan dengan norma masyarakat.

5. Tempat memahami masalah yang dihadapi anak jalanan dan menemukan penjaluran kepada lembaga-lembaga lain sebagai rujukan.

6. Sebagai media perantara antara anak jalanan dengan keluarga/lembaga lain, seperti panti, keluarga pengganti, dan lembaga pelayanan sosial lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak terus-menerus bergantung kepada

5Ibid.,

(31)

Rumah Singgah, melainkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih abik melalui atau setelah proses yang dijalaninya.

7. Tempat informasi berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus keterampilan, dll.

Sedangkan dalam buku “Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak

Jalanan Melalui Rumah Singgah”, fungsi Rumah Singgah antara lain:6

1. Tempat pertemuan (meeting point) pekerja sosial dan anak jalanan. Dalam fungsi ini, Rumah Singgah merupakan tempat bertemu antara pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan,

assessment/diagnosa,dan melakukan kegiatan program. 2. Pusat assessment dan rujukan.

Dalam fungsi ini,Rumah Singgahmenjadi tempat melakukan

assessmentatau diagnosis terhadap kebutuhan dan masalah anak jalanan serta melakukan rujukan (referal) pelayanan sosial bagi anak jalanan. 3. Fasilitator (media perantara dengan keluarga/lembaga lain)

Dalam fungsi ini, Rumah Singgah merupakan media perantara antara anak di jalanan dengan keluarga, keluarga pengganti, dan lembaga lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak terus menerus bergantung kepada Rumah Singgah, melainkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui atau setelah proses yang dijalaninya.

4. Perlindungan

Rumah Singgah dipandang sebagai tempat berlindung dari kekerasan/penyalahgunaan seks, ekonomi, dan bentuk-bentuk lainnya yang terjadi di jalanan.

5. Pusat informasi

Rumah Singgah menyediakan informasi berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus keterampilan, dll.

6Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah

(32)

6. Kuratif dan rehabilitatif (mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak)

Dalam fungsi ini, para pekerja sosial diharapkan mampu mengatasi permasalahan anak jalanan dan membetulkan sikap dan perilaku sehari-hari yang akhirnya akan mampu menumbuhkan keberfungsisosialan anak. Cara-cara atau intervensi professional dilakukan untuk fungsi ini termasuk menggunakan konseloryang sesuai dengan masalahnya.

7. Akses terhadap pelayanan

Sebagai persinggahan, Rumah Singgahmenyediakan akses kepada berbagai pelayanan sosial. Pekerja sosial membantu anak mencapai pelayanan tersebut.

8. Resosialisasi

Lokasi Rumah Singgah yang berada ditengah-tengah lingkungan masyarakat sebagai upaya mengenalkan kembali norma, situasi dan kehidupan bermasyarakat bagi anak jalanan. Pada sisi lain mengarah pada pengakuan, tanggung jawab dan upaya warga masyarakat terhadap penanganan masalah anak jalanan.

Dari uraian diatas, secara ringkas fungsi rumah singgah dapat disimpulkan sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan prilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya, sebagai tempat rehabilitasi yaitu mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak, dan sebagai akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai persinggahan sementara anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dll.

c. Prinsip-Prinsip Rumah Singgah

Prinsip-prinsip Rumah Singgah disusun sesuai dengan karakterik pribadi maupun kehidupan anak jalanan. Prinsip-prinsip Rumah Singgah mendasari fungsi-fungsi dan proses pelaksanaan kegiatan yang meliputi:7

7Ibid.,

(33)

1. Semi institusional

Dalam bentuk semi institusional ini anak jalanan sebagai penerima pelayanan boleh bebas keluar masuk baik untuk tinggal sementara maupun hanya mengikuti kegiatan.Sebagai perbandingan, dalam bentuk institutional (panti) anak-anak ditempatkan dalam panti dalam suatu jangka waktu tertentu.Dalam bentuk non institutional, anak-anak tinggal dengan orang tuanya dan pemberi pelayanan mendatangi mereka atau anak mendatangi lembaga.

2. Pusat kegiatan

Rumah Singgah merupakan tempat kegiatan, pusat informasi, dan akses seluruh kegiatan yang dilakukan di dalam maupun di luar Rumah Singgah. 3. Terbuka 24 jam

Rumah Singgah terbuka 24 jam bagi anak. Mereka boleh datang kapan saja, siang hari maupun malam hari terutama bagi anak jalanan yang baru mengenal Rumah Singgah. Anak-anak yang sedang dibina atau dilatih datang pada jam yang telah ditentukan, misalnya paling malam jam 22.00 waktu setempat. Hal ini memberikan kesempatan kepada anak jalanan untuk memperoleh perlindungan kapanpun.Para pekerja sosial siap dikondisikan untuk menerima anak dalam 24 jam tersebut, oleh karena itu harus ada pekerja sosial yang tinggal di Rumah Singgah.

4. Hubungan informal (kekeluarga)

(34)

5. Bebas terbatas untuk apa saja bagi anak

Di Rumah Singgah anak dibebaskan untuk melakukan apa saja, seperti tidur, bermain, bercanda, bercengkrama, mandi, dsb. Tetapi anak dilarang untuk perilaku yang negatif seperti berjudi, merokok, minuman keras, dan sejenisnya. Dengan cara ini diharapkan anak-anak betah dan terjaga dari pengaruh buruk. Peraturan dibuat dan disepakati oleh anak-anak.

6. Persinggahan dari jalanan ke rumah atau ke alternatif lain

Rumah Singgah merupakan persinggahan anak jalanan dari situasi jalanan menuju situasi lain yang dipilih dan ditentukan oleh anak, misalnya kembali ke rumah, mengikuti saudara, masuk panti, kembali bersekolah, alih kerja di tempat lain, dsb.Pengertian persinggahan dari jalanan ke rumah singgah atau alternatif lainnya adalah sebagai berikut:

 Anak jalanan boleh tinggal sementara untuk tujuan perlindungan, misalnya karena tidak punya rumah, ancaman di jalanan, ancaman/kekerasan dari orang tua, dll. Biasanya hal ini dihadapi anak yang hidup di jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal.

 Pada saat tinggal sementara mereka memperoleh intervensi yang intensif dari pekerja sosial untuk menemukan situasi-situasi seperti tertera di atas, sehingga mereka tidak tergantung terus kepada Rumah Singgah.

 Anak jalanan datang sewaktu-waktu untuk bercakap-cakap, istirahat bermain, mengikuti kegiatan, dll.

 Rumah Singgah tidak memperkenankan anak jalanan untuk tinggal selamanya, misalnya karena tidak bayar.

(35)

membutuhkan Rumah Singgah sebagai tempat tinggal sementara, seperti kelompok anak yang hidup di jalanan.

7. Partisipasi

Kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Singgah didasarkan pada prinsip partisipasi dan kebersamaan.Pekerja sosial dengan anak jalanan memahami masalah, merencanakan, dan merumuskan kegiatan penanganan. Dengan cara ini anak dilatih belajar mengatasi masalahnya dan merasa memiliki atau memikirkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

8. Belajar bermasyarakat

Anak jalanan seringkali menunjukan sikap dan perilaku yang berbeda dengan norma masyarakat karena lamanya mereka tinggal di jalanan. Rumah Singgah ditempatkan di tengah-tengah masyarakat agar mereka kembali belajar norma dan menunjukan sikap dan perilaku yang berlaku dan diterima masyarakat.

Dalam operasionalnya Rumah Singgah mempunyai prinsip-prinsip yang sesuai dengan karakteristik pribadi anak jalanan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan prinsip-prinsip tersebut adalah anak boleh keluar masuk (semi institusional), pusat informasi dan pusat kegiatan, terbuka 24 jam, hubungan bersifat kekeluargaan (informal), bermain dan belajar, tempat persinggahan dari situasi jalanan ke situasi lain yang dipilih dan terbaik untuk anak, partisipasi serta belajar bermasyarakat.

d. Program Rumah Singgah

Tahap-tahap pelayanan rumah singgah meskipun digambarkan secara linear, tidak berarti setiap anak mengikuti tahap-tahap tersebut seluruhnya. Secara praktis, mengacu pada kemampuan anak, proses yang mereka lewati dapat lebih cepat atau lambat. Tahap-tahap pelayanan rumah singgah dan program pelayanan dapat dilihat dalam gambar berikut:8

8

(36)
[image:36.595.105.546.107.522.2]

Gambar 2.1

Tahap-Tahap dan Program Pelayanan

Tahap-Tahap Kondisi Anak Pelayanan

1) Tahap Pelayanan Rumah Singgah

Pelayanan rumah singgah terbagi menjadi beberapa tahap berikut ini:9 1. Tahap I: Penjangkauan

a. Secara intensif berlangsung pada tiga bulan pertama dan selanjutnya sesuai kebutuhan dan dapat menggunakan anak-anak jalanan lainnya. b. Para petugas turun ke jalanan/kantong sasaran, bertemu dan

berkenalan dengan anak jalanan.

c. Membuat pemetaan wilayah dan gambarkan keadaan anak jalanan.

9Ibid., h. 21-23. Tahap I Outreach/ Penjangkauan Tahap II Pengkajian Masalah Tahap III Persiapan Pemberdayaan Tahap IV Pemberdayaan Tahap V Terminasi Anak Masih di Jalanan Masuk Rumah Singgah Sikap dan Perilaku Normatif Proses Mandiri dan Produktif Anak Keluar dari Rumah Singgah

Kunjungan lapangan, pemeliharaan hubungan, pembentukan kelompok, konseling, advocacy, mendampingi

anak.

Induksi peranan, pengisian file anak dan monitoring

kemajuan anak

Resosialisasi, bimbingan sosial, penyuluhan, permainan dan rekreasi

Pemberdayaan anak: Beasiswa, modal usaha, pelatihan keterampilan.

Orang Tua: Modal Usaha

Mandiri/produktif/alih kerja, menyatu dengan keluarga,

(37)

d. Mengidentifikasi mereka secara kelompok seperti jenis kegiatan, asal daerah, kebiasaan dijalanan, dll.

e. Membentuk kelompok-kelompok, memilih ketuanya dan anggota dengan jelas.

f. Mensosialisasikan manfaat rumah singgah

g. Menambahkan kepercayaan kepada pekerja sosial. 2. Tahap II: Mengkaji Permasalahan Anak

a. Induksi peranan anak jalanan di rumah singgah b. Mengisi file anak

c. Mendiskusikan permasalahan anak

d. Mambahas perkembangan kemajuan anak sesuai perubahan-perubahan yang terjadi pada anak.

3. Tahap III: Persiapan Pemberdayaan

a. Membuat rumah singgah sebagai suatu keluarga yang terbuka dan mau mendengar nasehat

b. Membuat peraturan yang menyenangkan dan tidak memaksa anak c. Memberikan bimbingan sosial baik kasus maupun perilaku sehari-hari

dengan cara dan metode yang menyenangkan

d. Membuat jadwal pemeriksaan kesehatan setiap bulan

e. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan anak seperti permainan, olahraga, kesenian, dll.

f. Membagi penanganan anak jalanan oleh pekerja sosial. File untuk itu dapat dimintakan kepada petugas administrasi.

g. Membuat persiapan-persiapan pada diri anak terhadap kegiatannya 4. Tahap IV: Rujukan Pemberdayaan

a. Mengidentifikasi anak secara satu persatu berdasarkan kebutuhan pelayanan

b. Menghubungi sumber-sumber yang diperlukan dan mendorong anak mendayagunakannya

(38)

e. Mengantar anak memperoleh pelayanan

f. Mendorong anak bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan dan menerima pelayanan tersebut

g. Memantau kemajuan anak selama memperoleh pelayanan dan membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi.

5. Tahap V: Pengakhiran (Terminasi)

Tahap pengakhiran berarti anak selesai menerima pelayanan. Ada beberapa keadaan akhir pada fase ini, yakni:

a. Mandiri/ produktif/ alih kerja

b. Anak kembali kepada keluarganya, panti atau lembaga pengganti. c. Anak masih di jalanan

d. Masuk boarding house

e. Anak masih dijalanan, namun mendapat pekerjaan yang lebih baik f. Peningkatan pendapatan bagi orang tuanya.

2) KegiatanRumah Singgah

1. Penjangkauan dan pendampingan di jalanan, meliputi:10 a. Kunjungan lapangan dan perkenalan

b. Pemeliharaan hubungan dengan anak c. Pembentukan kelompok di jalanan 2. Pengkajian Masalah, meliputi:

a. Pengisian file profil anak

b. Pengisian file monitoring perkembangan anak c. Pembahasan kasus

3. Resosialisasi, meliputi:

a. Pengenalan peranan anggota rumah singgah b. Kegiatan keagamaan

c. Pengajaran dan diskusi tentang norma sosial d. Permainan, pertunjukan seni dan olahraga

10Ibid.,

(39)

e. Membaca buku, majalah dan menonton televisi f. Bimbingan sosial perilaku sehari-hari

g. Bimbingan sosial kasus h. Pemeliharaan kesehatan

i. Penyatuan kembali dengan keluarga

j. Surat-menyurat dan kunjungan rumah kepada orang tua anak jalanan k. Pertemuan dengan warga sekitar rumah singgah secara rutin maupun

kegiatan bersana

4. Rujukan Pemberdayaan untuk Anak Jalanan

a. Pendidikan melalui sekolah-sekolah seperti beasiswa, alat sekolah, bimbingan belajar, kejar paket A dan B, ujian persamaan

b. Pelatihan anak jalanan untuk membekali anak berbagai hal dijalanan dan mendidiknya mampu mengatasi persoalan dan ancaman dijalanan.

c. Pelatihan-pelatihan untuk tingkatan remaja

d. Pelayanan keterampilan kerja melalui lembaga pelatihan keterampilan seperti perbekalan, menjahit, sablon, mengemudi, elektro dan lainnya yang disesuaikan keadaan wilayah.

e. Bantuan modal dan bimbingan usaha bagi anak baik di daerah asal maupun di kota secara perorangan atau berkelompok (KUBE)

f. Membantu anak menemukan pekerjaan lain. Para pekerja sosial berhubungan dengan berbagi sumber dan membuka kesempatan kepada anak untuk memperoleh pekerjaan.

5. Pemberdayaan untuk Orang Tua Anak Jalanan, meliputi:

a. Bimbingan dan penyuluhan melalui kunjungan rumah, surat menyurat, mengundang mereka datang atau pada saat mereka datang kerumah singgah. Kegiatan ini dilakukan perorangan atau berkelompok. Materi yang diberikan mengenai pengasuhan anak, nilai anak, cara mengatasi masalah anak, dll.

(40)

6. Terminasi (Pengakhiran Pelayanan)

Terminasi dilakukan untuk mengakhiri proses penanganan anak jalanan. Setelah dapat di normalisasi di rumah singgah. Palayanan lanjutan untuk anak-anak sesudah terminasi adalah sebagai berikut:

a. Kunjungan rumah, untuk tujuan: 1) Berkenalan dengan orang tua anak 2) Mengidentifikasikan mereka

3) Memantau anak-anak yang sudah pulang

4) Memberikan modal usaha kepada anak dan orang tua jika diperlukan

b. Pemantauan, terhadap:

1) Anak yang masih mengikuti kursus keterampilan 2) Anak yang bersekolah

3) Anak yang alih kerja

4) Anak yang melakukan usaha

5) Orang tua yang telah memperoleh bantuan modal 6) Rujukan ke panti.

2. Pengelolaan Rumah Singgah a. Pengertian Pengelolaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengelolaan berasal dari kata

“kelola” yaitu mengendalikan, menyelenggarakan, mengurus.11 Didefinisikan juga pengelolaan adalah langkah-langkah yang dilakukan dengan cara apapun yang mungkin, guna untuk membuat data yang dapat dipergunakan bagi suatu maksud tertentu.12 Pengelolaan mempunyai arti:13

11

Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 623

12

Aliminsyah, Kamus Istilah Manajemen Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris.

(Bandung: CV Yrama Widya, 2004), h. 232

13

(41)

a. Proses, cara, perbuatan mengelola.

b. Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakan tenaga orang lain.

c. Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi. d. Proses yang membalikkan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam

pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.

Pengelolaan juga berarti proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakan tenaga orang lain. Kegiatan-kegiatan itu adalah antara lain menentukan kebijakan, membuat rencana, membagi-bagi tugas, menyusun aturan pelaksanaan, mengawasi dan membimbing pelaksanaan dan penilaian yang menuju kepada keberhasilan dari suatu usaha.

Menurut Suharsimi Arikunto pengelolaan merupakan terjemahan dari kata

management”. Terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut ke dalam Bahasa Indonesia, istilah Inggris tersebut lalu di Indonesiakan menjadi

“manajemen” atau “menejemen”14

Lebih rinci lagi menurut Winarno Hamiseno yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto, pengelolaan adalah substantifa dari mengelola. Sedangkan mengelola berarti suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data, merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian. Dijelaskan selanjutnya bahwa pengelolaan menghasilkan sesuatu dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya.15

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah suatu pekerjaan menyelenggarakan, mengurus, mengatur pekerjaan sehingga terlaksana dengan efektif dan efisien guna mencapai tujuan tertentu. Pengelolaan berfungsi sebagai acuan rumah singgah dalam mengukur, mengevaluasi dan merevisi kegiatan-kegiatan yang dianggap perlu. Pada pengelolaan rumah singgah didalamnya memerlukan perencanaan,

14

Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. IV, h. 7.

15

(42)

pengorganisasian, pengendalian (pengawasan dan monitoring) dan pengevaluasiansegala upaya dalam mendayagunakan sumber daya manusia dan non manusia agar dapat tercapai tujuan secara efektif dan efisien.

Abdul Malik mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Warren Bennis & Robert Townsend bahwa Mengelola suatu organisasi atau lembaga sangat ditentukan oleh kepercayaan dalam kepemimpinan.Saling percaya dapat mengikat pemimpin dan yang dipimpin menjadi satu.Kepercayaan tidak bisa diberi atau diperintahkan, tetapi tumbuh secara alamiah.Yang dapat dilakukan adalah menampakkan kepercayaan tersebut melalui empati, wawasan dan fokus yang jelas, memberikan kekuasaan dan wewenang.16

Profesionalisme pengelolaan suatu organisasi/lembaga sosial dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi pengelolaan itu sendiri bukan pada kegiatan pelayanan terhadap sasaran walaupun pada akhirnya profesionalitas pengelolaan akan memberikan pelayanan prima pada sasaran.

b. Tujuan Pengelolaan

Tujuan pengelolaan adalah agar segenap sumber, peralatan atausarana yang ada dalam suatu organisasi dapat digerakan sedemikian rupa sehingga dapat menghindarkan dari segenap pemborosan waktu, tenaga,materi guna mencapai tujuan yang diinginkan.17Pengelolaan dibutuhkan dalam semua organisasi,karena tanpaadanya pengelolan atau manajemen semua usaha akan sia-sia danpencapaian tujuan akan lebih sulit.

Disini ada 3 alasan diperlukannya pengelolaan:18

1. Untuk mencapai tujuan. Disini pengelolaan dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi.

2. Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Pengelolaan dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan

16

Abdul Malik, “Manajemen Sosial Rumah Singgah”, Tesis pada Pascasarjana UI, Jakarta, 2001, h. 164, tidak dipublikasikan

17

Rochmatun, Tujuan Pengelolaan Pembelajaran, 2012 (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2258046-tujuan-pengelolaan-pembelajaran)

(43)

antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan- kegiatan yang saling bertentangan dari pihak yang berkepentingan dalam suatuorganisasi ataupun sekolahan. Seperti kepala sekolah, guru, siswa, pegawai dan wali murid.

3. Untuk mencapai efisien dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapatdiukur dengan banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang umumyaitu efisien dan efektivitas.

c. Strategi Pengelolaan

Menurut hasil penelitian Dwi Astuti dalam penelitian Manajemen Rumah Singgah se-Jawa Timur, dalam hal pelaksanaan pengelolaan rumah singgah harus menjalankan unsur perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan evaluasi.19 Adapun fungsi pengelolaan yang dapat digunakan dalam pengelolaan Rumah Singgah, yaitu:

1) Perencanaan (Planning)

Salah satu definisi klasik tentang perencanaan yang di tulis oleh Sondang P. Siagian mengatakan bahwa perencanaan pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan sekarang tentang hal-hal yang akan di kerjakan di masa depan.20 Ada yang merumuskan dengan sangat sederhana, misalnya perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.21

Sedangkan Nanang Fattah mengemukakan bahwa “perencanaan pendidik

sebagai keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan selama waktu tertentu (sesuai dengan jangka waktu perencanaan) agar penyelenggaraan sistem

19

Dwi Astuti, Penelitian Rumah Singgah Se-Jawa Timur,

(www.damandiri.or.id/file/dwiastututiunairbab2.pdf)

20

Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 41.

21

(44)

pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien, serta menghasilkan lulusan yang

lebih bermutu, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.”22

Dari beberapa definisi menurut para ahli yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa perencanaan merupakan langkah awal yang di tempuh oleh sebuah lembaga pendidikan agar penyelenggaraan sistem pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien.perencanaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Maka dari itu sebuah lembaga atau organisasi harus melaksanakan perencanaan yang matang sebelum melaksanakan fungsi manajemen yang lainnya, agar hasil yang di dapatkan maksimal dan efisien sesuai dengan tujuan organisasi.

Selanjutnya Nanang Fattah juga menyebutkan bahwa dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam proses perencanaan. Ketiga kegiatan itu adalah:23

a. Perumusan tujuan yang ingin dicapai

b. Pemilihan program untuk mencapai tujuan itu

c. Identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas.

2) Pengorganisasian (Organizing)

Setelah perencanaan dilakukan tahap yang berikutnya adalah pengorganisasian, pengorganisasian adalah suatu gerak langkah menuju kearah pelaksanaan rencana yang telah disusun sebelumnya.

Menurut Husaini Usman bahwa yang disebut organisasi ialah proses kerjasama dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.24

Sedangkan menurut Manullang pengorganisasian dapat dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang

22

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), cet. XI, h. 50.

23

Nanang Fattah, op.cit., h. .49

24Husaini Usman, “Manajemen, Teori, Praktik & Riset Pendidikan

(45)

serta penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.25

Sudjana mengemukakan bahwa pengorganisasian pendidikan luar sekolah adalah kegiatan bersama orang lain dan/atau melalui orang lain, untuk memilih dan menyusun sumber daya manusia dengan dukungan fasilitas, alat dan biaya, yang mampu melaksanakan program yang telah direncanakan.26

[image:45.595.121.539.195.503.2]

Ernest Dale memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian itu digambarkan sebagai berikut:27

Gambar 2.2 Proses Pengorganisasian

Pengorganisasian merupakan faktor yang sangat menentukan dan erat kaitannya dengan perencanaan yang telah menjadi patokan untuk pencapaian tujuan yang telah di tetapkan.

Meskipun para ahli manajemen memberikan definisi yang berbeda-beda tentang organisasi, namun intisarinya sama yaitu bahwa organisasi merupakan proses kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

25

M. Manullang, op. cit., h. 10.

26

D. Sudjana, Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Bandung: Penerbit Falah Production, 2000), h. 9.

27

Nanang Fatah, op.cit., h. 71-72.

2. Pembagian Kerja

3. Penyatuan Pekerjaan

4. Koordinasi Pekerjaan

5. Monitoring dan Reorganisasi

(46)

3) Pengendalian

Dalam buku “Pedoman Pelayanan Sosial Anak Jalanan”, pengendalian

merupakan proses dari serangkaian kegiatan serta kontrol yang dimulai dari penyusunan kebijakan.28Sedangkan dalam buku “Pedoman Pelayanan Sosial Anak Terlantar”, pengendalian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus terhadap keseluruhan kegiatan pemberian pelayanan sosial terhadap anak terlantar berbasis keluarga dan masyarakat.29

Sistem pengendalian Rumah Singgah terdiri dari supervisi dan monitoring:30

1) Supervisi

Dalam buku Sudjana dikemukakan bahwa supervisi merupakan upaya untuk membantu pembinaan dan peningkatan kemampuan pihak yang disupervisi agar mereka dapat melaksanakan tugas kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif.31 Sedangkan supervisi rumah singgah adalah kegiatan untuk membimbing dan mengarahkan para pelaksana rumah singgah mengenai proses dan tugas sehari-hari baik dalam administrasi kantor maupun pelayanan.32

Dapat disimpulkan bahwa supervisi rumah singgah adalah kegiatan untuk membimbing dan mengarahkan para pelaksana rumah singgah agar mereka dapat melaksanakan tugas kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif serta dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

28

Pedoman Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, (Jakarta: Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2007), h. 39.

29

Pedoman Pelayanan Sosial Anak Terlantar, (Jakarta: Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2008), h. 45.

30

Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah,op.cit.,h. 60.

31

D. Sudjana, op. cit., h. 237.

32

(47)

2) Monitoring

Monitoring adalah pengawasan secara terus menerus terhadap pelaksanaan suatu kegiatan yang berusaha menjamin bahwa penyediaan input, jadwal kerja, output yang ditargetkan dan hal-hal lain yang diperlukan berjalan sesuai rencana.33 Hasil monitoring dimaksudkan untuk memperingatkan manajemen akan masalah-masalah dalam pelaksanaan proyek, khususnya yang bersifat fisik.34

Dengan demikian monitoring memberikan gambaran tentang perkembangan baik dalam pelaksanaan program maupun kemajuan anak jalanan dan membuat prediksi sejauhmana program tersebut dilaksanakan.

4) Evaluasi

Evaluasi adalah suatu proses menetapkan atau menilai secara sistematis dan subjektif mungkin relevansi, efektivitas dan dampak dari kegiatan-kegiatan. Evaluasi adalah suatu proses belajar dan alat manajemen yang berorientasi pada tindakan dan merupakan proses dalam organisasi untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang masih dalam proses atau untuk perencanaan di masa mendatang atau untuk keperluan pengambilan keputusan.35

Evaluasi merupakan kegiatan penting untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai, apakah pelaksanaan program sesuai dengan rencana, dan/ atau dampak apa yang terjadi setelah program dilaksanakan. Tujuan penilaian program berfungsi sebagai pengarah kegiatan penilaian dan sebagai acuan untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas kegiatan penilaian program.36

33

Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, (Jakarta: Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2006),

h. 20.

34Ibid,.

h. 21.

35

D. Sudjana, op. cit.,h. 20.

36Ibid.,

(48)

Setiap pelayanan yang diberikan perlu diadakan evaluasi agar dapat diketahui hasil yang telah dicapai, dan untuk selanjutnya dapat disusun rencana tindak lanjut. Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka evaluasi adalah:37

1) Menyusun rencana evaluasi, termasuk menyusun format evaluasi.

2) Melaksanakan evaluasi sesuai rencana dari segi waktu, pelaksanaan maupun cakupannya.

3) Merumuskan hasil evaluasi dan membahasnya dengan semua unsur yang terlibat dalam upaya pelayanan, guna merumuskan rencana tindak lanjut.

B. Penelitian yang Relevan

Terdapat beberapa penelitian yang relevan mengenai rumah singgah, yaitu sebagai berikut:

Pertama, dalam penelitian yang dilakukan oleh Abdul Malik yang berjudul Manajemen Sosial Rumah Singgah. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa pengelolaan Rumah Singgah dipengaruhi beberapa unsur yang saling terkait satu sama lainnya. Unsur-unsur tersebut meliputi: latar belakang LSK sebagai lembaga yang mendirikan Rumah Singgah, model manajemen yang dikembangkan, tenaga pengelola sebagai pelaksana, komunitas dan sumber-sumber setempat, serta pedoman atau petunjuk teknis yang ditetapkan. Berdasarkan hasil dan temuan penelitian tersebut penulis mengajukan suatu model pengembangan Rumah Singgah yang berbasis komunitas lokal. Komunitas lokal dapat terlibat mulai dari gagasan pendirian Rumah Singgah, persiapan-persiapan pelaksanaan sampai pada tahap pengawasan dan pengendalian, serta ikut bertanggung jawab akan kelangsungan dimasa yang akan datang. Diharapkan dengan model ini rumah singgah mempunyai basis yang kuat untuk melaksanakan misinya dan tidak terbatas pada proyek yang bersifat jangka pendek.38

Kedua, dalam penelitian yang dilakukan oleh Alwi Alimuddin yang berjudul Peranan Rumah Singgah dalam Membina Anak Jalanan di DKI Jakarta. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa berdasarkan pembentukannya,

37

Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, op.cit., h. 11.

38

(49)

Rumah Singgah Insan Mandiri telah berhasil mencapai tujuan dari apa yang diharapkan dalam rangka pembinaan anak jalanan, 26 orang sudah tidak dijalan lagi, ada 5 orang dibina ke panti sosial Bambu Apus, 4 orang dibina ke Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama Lima Duren Sawit, 34 orang sedang mengikuti pelatihan. Keberadaan Rumah Singgah Insan Mandiri dapat mendidik dan mengembangkan moral anak jalanan menjadi warga masyarakat yang produktif dan berguna sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap ketahanan wilayah DKI Jakarta.39

Ketiga, dalam penelitian yan dilakukan oleh Siti Aminatun Istianah yang berjudul Pendidikan Nonformal Sebagai Alternatif Pembinaan Anak Jalanan (Studi Kasus di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa: pertama, terdapat tiga cara atau strategi yang digunakan oleh YABIM dalam pembinan anak jalanan, yaitu: Melalui Rumah Singgah, Turun langsung ke jalan dan melibatkan masyarakat dala menyelenggarakan program pendidikan dan keterampilan. Kedua, program pendidikan yang diselenggarakan di YABIM, yaitu jalur pendidikan formal terdapat jenjang SMP dan SMA dan jalur pendidikan nonformal dengan mengusung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai satuan pendidikannya menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kesetaraan (Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA). Selain itu, pendidikan kecakapan hidupnatau lifeskill seperti: sablon, elktro dan service handphone. Ketiga, tingkat keberhasilan YABIM dalam melakukan pembinaan terhadap anak jalanan tidak hanya dapat dilihat melalui study lanjut, jumlah prestasi yang pernah diraih dan keterserapan di dunia kerja melainkan perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik, seperti: melakukan sholat 5 waktu, pola hidup bersih da

Gambar

Tabel 3.1 : Waktu Kegiatan Penelitian ……………………………………. 35 Tabel 3.2 : Kisi-Kisi Instrumen Wawancara ……………………………… 38
Gambar 1.1 : Jumlah Anak Terlantar (6-18 Tahun) Tahun 2009 dan 2011 Gambar 2.1 ..… 3 : Tahap-Tahap dan Program Pelayanan ………………………..
Gambar 1.1
Gambar 2.1 Tahap-Tahap dan Program Pelayanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah anak jalanan tidak banyak memanfaatkan Rumah Singgah Caritas dan program Rumah Singgah Caritas PSE Medan kurang

Proyek Rumah Singgah Anak Jalanan yang akan dibangun di Yogyakarta ini bertujuan untuk mewujudkan rancangan yang dapat membuat anak jalanan dapat berinteraksi dengan pendamping

Rumah singgah adalah suatu perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang. akan membantu

Ruang interaktif pada rumah singgah anak jalanan berupa tatanan ruang yang.. dapat mengajak anak jalanan mengikuti proses kegiatan pembinaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran Rumah Singgah dalam Upaya Peningkatan Pendidikan Akhlak Anak Jalanan dapat dilihat melalui kegiatan- kegiatan yang

Rumah singgah Rumah Kasih Serambi Salomo melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) menjangkau anak-anak jalanan dengan ekonomi lemah atau keluarga tidak

Maksud diadakannya kegiatan penyuluhan kepada anak-anak jalanan di Rumah Singgah Anak Mandiri adalah untuk memberikan pelayanan dan pembinaan kepada anak-anak

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembinaan anak jalanan melalui rumah singgah yayasan nurma di Kabupaten Sidoarjo..