• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN SITU KEMUNING MELALUI PENDEKATAN BERBASIS WISATA TIRTA.

Pendahuluan

Kebijakan dan peraturan tentang pengelolaan sumberdaya air telah dibuat mulai dari undang undang sampai dengan peraturan daerah, isi substansi dari kebijakan dan peraturan tersebut berusaha mengatur pengelolaan melalui tiga komponen utama pengelolaan sumberdaya air yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Selanjutnya BLK (2010) mengemukakan meskipun telah banyak kebijakan dan peraturan yang diundangkan terkait dengan pengelolaan sumberdaya air akan tetapi kenyataannya konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air terhadap sumber daya air pada danau dan waduk, situ, embung masih jauh dari harapan dan justru keadaannya semakin rusak baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Pengelolaan situ di kawasan Jabodetabek saat ini masih menghadapi permasalahan yang kompleks, karena belum terdapat pola pengaturan dan perencanaan yang terpadu. Hal ini yang menyebabkan belum ada jaminan keberlanjutan fungsi dan pemanfatan situ. Situ Kemuning salah satu situ di Kabupaten Bogor yang diatur dalam pemanfaatan kawasan wisata alam. Pemanfaatan situ sebagai wisata tidak hanya di situ Kemuning, tetapi juga terdapat di sebagian situ-situ yang ada di Jabodetabek. Mencermati potensi situ Kemuning saat ini yang meliputi: 1) Sebagai tempat parkir air di musim hujan 2) Sumber air untuk keperluan irigasi, 3) Sarana pengendali banjir, dan 4) Tempat wisata atau rekreasi. Namun, keberadaannya juga memiliki permasalahan, yang teridentifikasi antara lain: 1) Kecenderungan penyusutan luasan situ akibat aktivitas pengurukan, 2) Penurunan kondisi situ, 3) kurangnya partisipasi, 4) terbatasnya koordinasi pengelolaan. Identifikasi keterkaitan antara masalah dan potensi tersebut dimaksudkan untuk perumusan strategi action plan pengelolaan terkait dengan potensi situ sebagai tempat wisata yang alami, sehingga kegiatan menjadi tepat sasaran sesuai dengan fokus permasalahannya.

Dalam memformulasi strategi pengelolaan situ Kemuning, analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi arahan pengembangan pengelolaan situ untuk saat ini maupun akan datang, sehingga strategi yang dihasilkan dapat dijadikan problem solving dan perencanaan berjangka. Terkait dengan penggunaan analisis ini, Rangkuti (2005) menjelaskan analisis SWOT merupakan identifikasi berbagai faktor secara sistematik untuk merumuskan strategi. Hasil perumusan strategi pengelolaan situ Kemuning akan dijadikan dasar pengelolaan fungsi dan manfaat situ keberlanjutan. Selanjutkan Ilham (2011) menjelaskan strategi dasar pengelolaan situ merupakan panduan untuk perumusan rencana kegiatan penanganan permasalahan situ, yang hakekatnya merupakan penjabaran dari analisis kondisi situ, yang terkait dengan kebijakan pengelolaan situ. Pengembangan kegiatan wisata tirta situ Kemuning pada dasarnya akan bertumpu pada penggunaan sumberdaya air, maka perencanaannya harus mengacu pada prinsip-prinsip konservasi.

38

Menurut Timothy dan Boyd (2003) prinsip preservasi dan konservasi adalah kunci keberhasilan yang harus diwujudkan dan menjadi dasar pijakan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pokok program pembangunan pariwisata. Terkait dengan ekowisata situ, Damanik dan Weber (2006) menjelaskan bahwa perencanaan ekowisata terkait dengan berbagai sektor, sehingga perencanaannya juga harus diletakkan pada pendekatan multidisiplin dan menuntut pekerjaan yang bersifat kolaborasi berdasarkan mekanisme yang jelas.

Dari tinjauan pustaka yang digunakan diatas dan permasalahan secara lokal di situ Kemuning diperlukan strategi pengembangan pengelolaan situ sebagai rencana tindak pengelolaan situ terkait dengan konsep ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi strategi arahan pengembangan pengelolaan situ melalui pendekatan berbasis wisata tirta.

Bahan dan Metode

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di situ Kemuning, Kabupaten Bogor. Situ Kemuning merupakan salah satu infrastruktur sumberdaya air dan destinasi wisata. Waktu penelitian mulai bulan Februari sampai Juni 2013.

Teknik Pengumpulan data

Penelitian merupakan studi kasus (case study), yaitu penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Nazir, 1999). Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dengan tokoh pemerintah desa, pengawas situ dan atau pengelola atraksi wisata, dan stakeholder dari instansi Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane dan Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor, studi komparasi di situ Pengasinan di Kota Depok dan observasi lapangan dilakukan untuk menilai kondisi objek yang selanjutnya dijadikan bagian dari identifikasi faktor. Data sekunder dikumpulkan dari sumber jurnal dan dokumen- dokumen penunjuang tujuan dari instansi terkait.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data kondisi fisik lingkungan situ, data inventaris situ, RTRW Kabupaten Bogor, interaksi dan aktivitas masyarakat dengan lingkungan situ dan persepsi stakeholder terhadap pengelolaan situ. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan teknik analisis SWOT, yang dijabarkan menjadi enam tahapan, yaitu:

1. Tahab identifikasi faktor internal dan faktor eksternal 2. Tahab penentuan bobot tiap variabel

3. Tahab rating

4. Tahab pembuatan matrik SWOT

5. Tahab Pembuatan rangking alternatif stratrgi 6. Tahab penentuan posisi strategi (Rangkuti, 2005).

Output tujuan penelitian ini adalah arahan strategi prioritas pengembangan pengelolaan situ melalui pendekatan berbasis wisata tirta.

39 Hasil

Faktor-faktor yang berperan mempengaruhi pengelolaan dan pengembangan situ Kemuning adalah faktor internal yang meliputi unsur kekuatan (strenght) dan unsur kelemahan (weakness), dan faktor eksternal yang meliputi unsur peluang (Opportunity) dan unsur ancaman (Threat). Terdapat 16 faktor yang berperan mempengaruhi pengelolaan dan pengembangan situ Kemuning saat ini dan masa datang. Hasil identifikasi faktor-faktor tersebut adalah, sebagai berikut:

Faktor Kekuatan (S)

1. Sesuai pemanfaatan ruang RTRW kabupaten

2. Daerah operasi objek dan daya tarik wisata alamnya mendukung

3. Penyediaan dan pemanfaantan RTH untuk konservasi dan sosial ekonomi 4. Persepsi dan dukungan masyarakat

Faktor Kelemahan (W)

1. Hak kepemilikan lahan di sekitar situ

2. Terbatasnya anggaran dan koordinasi pengelolaan fungsi dan manfaat situ. 3. Sumber daya manusia belum memadahi

4. Sempadan situ yang sempit Faktor Peluang (O)

1. Co-manajemen (masyarakat dengan pemerintah)

2. Optimalisasi pengembangan RTH kawasan kota di area situ 3. Pathnership

4. Multiplier effect terhadap nilai konservasi dan manfaat situ Faktor ancaman (T)

1. Sedimentasi dan pendangkalan

2. Okupasi sempadan dan penyusutan luasan situ 3. Potensi buangan limbah

4. Pendirian konstruksi bangunan rumah tidak terkontrol di area situ

Berdasarkan pembobotan variabel dan rating terhadap faktor-faktor internal dan (Lampiran 4 dan Lampiran 5). Evaluasi terhadap faktor internal dihasilkan jumlah skor untuk unsur kekuatan (S) dengan besaran 1.88 dan jumlah skor unsur kelemahan (W) dengan besaran 0.85 sehingga diperoleh nilai P adalah 1.03. Nilai P dinterprestasikan bahwa nilai unsur kekuatan lebih besar dari pada unsur kelemahan. Sedangkan evaluasi terhadap faktor eksternal dihasilkan jumlah skor unsur peluang (O) dengan besaran 0.93 dan jumlah skor unsur kelemahan (T) dengan besaran 1.11 dan diperoleh nilai Q adalah -0.18. Nilai Q diinterprestasikan bahwa nilai unsur ancaman lebih besar dari pada unsur peluangnya.

Penyusunan faktor-faktor strategis pengelolaan dianalisis dalam bentuk matrik SWOT berdasarkan integrasi faktor internal dan faktor esksternal (Tabel 4.1), melalui matrik tersebut dapat menggambarkan arah strategi kegiatan pengelolaan yang akan diterapkan. Analisis menggunakan matrik SWOT ini menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi. Pilihan alternatif strategi ditentukan dengan hasil analisis situasi dan nilai faktor eksternal dan faktor internal yang berperan mempengaruhi pengelolaan dan pengembangan situ Kemuning saat ini

40

Tabel 4.1 Matrik analisis SWOT sebagai alat fomulasi strategi pengembangan

EFE IFE Faktor Kekuatan (S)  Sesuai pemanfaatan ruang RTRW Kabupaten

 Daerah operasi objek dan daya tarik wisata alamnya mendukung

 Penyediaan dan Pemanfaantan RTH untuk konservasi dan sosial ekonomi

 Persepsi dan dukungan Masyarakat

Faktor Kelemahan (W) Hak kepemilikan lahan

di sekitar situ

Terbatasnya anggaran dan koordinasi

pengelolaan fungsi dan manfaat situ.

Sumber daya manusia belum memadahi

Sempadan situ yang sempit.

Faktor Peluang (O)  Co-manajemen

(Masyarakat dengan Pemerintah)

 Optimalisasi fungsi RTH kawasan di area situ.

 Menejemen pathnership

 Multiplier effect dari nilai konservasi situ dan manfaatnya

Strategi S-O  Mengembangkan

menejemen kolaboratif untuk penguatan kelambagaan tata kelola situ berkelanjutan

 Meningkatkan pemahaman bersama tentang nilai konservasi situ dan multiplier efectnya

Strategi W-O Mengembangkan

potensi dengan pathnership melalui pengelolaan fungsi dan manfaat situ Membangun kelembagaan lokal Faktor ancaman (T)  Sedimentasi dan Pendangkalan situ

 Okupasi sempadan dan penyusutan luasan situ

 Potensi buangan limbah ke badan air situ

 Pendirian konstruksi bangunan rumah tidak terkontrol

Strategi S-T  Merevitalisasi situ dan

strukturisasi pengaturan pemanfaatan ruang potensial sebagai model penataan situ terpadu.

 Sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberdayaan dan pelajar melalui pendidikan lingkungan di sekolah  Membangun area konservasi situ berbasis RTH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi masyarakat

Strategi W-T Koordinasi dalam

mengatasi masalah sumberdaya situ dan ancamannya

Mendorong kesaradan dan partisipasi

masyarakat dalam upaya pelestarian situ

41 Hasil analisis matrik SWOT di atas dijadikan acuan menentukan prioritas strategi utama dalam pengelolaan situ berbasis wisata tirta. Selanjutnya berdasarkan besaran nilai P (1.03) dan nilai Q (-0.18), secara diagram SWOT terbentuk posisi untuk strategi pengembangan pengelolaan situ yang diilustrasikan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Diagram posisi analisis SWOT untuk strategi pengembangan pengelolaan situ berbasis wisata tirta

Diagram posisi menunjukkan strategi berada di kuadran IV, artinya strategi arahan pengelolaan saat ini dan pengembangannya ke depan adalah menggunakan strategi S-T yang dapat diinterprestasikan dengan cara mengatasi ancaman saat ini dengan menggunakan kekuatan internal yang dimiliki, strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Penentuan prioritas strategi arahan pengembangan pengelolaan situ dilakukan dengan menganalisis saling keterkaitan lintas faktor. Rangking prioritas strategi arahan pengembangan pengelolaan diperoleh setelah menjumlahkan skor saling keterkaitan lintas faktor mulai dari jumlah skor terbesar sampai jumlah skor yang terkecil. Jumlah skor terbesar merupakan skala prioritas utama yang akan menjadi rekomendasi

Empat prioritas utama dihasilkan sebagai rekomendasi alternatif strategi arahan pengembangan pengelolaan situ yang perlu ditindak lanjuti dalam penataan dan pengelolaan situ berbasis wisata tirta terpadu melalui pemanfaatan ruang potensial untuk saat ini dan masa depan, yaitu:

1. Merevitalisasi situ dan strukturisasi pengaturan pemanfaatan ruang potensial sebagai model penataan situ terpadu.

2. Sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberdayaan dan pelajar melalui pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

3. Mengembangkan menjemen kolaboratif untuk penguatan kelambagaan tata kelola situ yang berkelanjutan.

4. Membangun area konservasi situ berbasis RTH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Kuadran IV (S-T) P(1.03), Q(-0.18)

42

Pembahasan

Strategi prioritas pengembangan pengelolaan situ Kemuning sebagai landasan penyusunan program pengelolaan situ dalam rangka upaya konservasi dan pendayagunaan situ saat ini dan masa depan, adalah sebagai berikut:

1. Merevitalisasi situ dan strukturisasi pengaturan pemanfaatan ruang potensial sebagai model penataan situ terpadu.

2. Sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberdayaan dan pelajar melalui pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

3. Mengembangkan menjemen kolaboratif untuk penguatan kelambagaan tata kelola situ yang berkelanjutan.

4. Membangun area konservasi situ berbasis RTH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Merevitalisasi situ dan strukturisasi pengaturan pemanfaatan ruang potensial sebagai model penataan situ terpadu.

Upaya revitalisasi situ Kenuning saat ini sangat diperlukan terkait dengan peningkatan penyusutan luas area genangan air yang tinggi, sedimentasi dan masuknya limbah domestik secara indikatif telah mempengaruhi perubahan kualitas perairan yang berakibat pedangkalan dasar situ, kondisi ini telah berdampak pada peningkatan potensi banjir dan lama waktu genangan. Potensi limbah organik dari kawasan pemukiman yang terbawa oleh aliran permukaan juga telah meningkatkan kesuburan air situ, terlihat adanya gulma air (8.71%) yang menutupi sebagian area perairan. Revitalisasi situ di sini dimaksudkan untuk mengatasi dan mengendalikan faktor ancaman yang mempengaruhi keberlanjutan fungsi situ dengan menggunakan faktor-faktor kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Sehingga diperlukan instrumentasi kebijakan, Ilham (2011) menjelaskan kebijakan pengelolaan situ ditetapkan dengan tujuan untuk 1) Perlindungan dan peningkatan fungsi situ, 2) Penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan dan 3) Pemulihan pencemaran dan kerusakan situ.

Situ Kemuning merupakan bagian dari sistem daerah aliran sungai atau DAS Ciliwung dengan DTA situ Kemuning situ meliputi kali Kemuning yang bersumber dari sub aliran kali Pesanggrahan, maka pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu, input membuat sumur resapan di kawasan pemukiman yang berada di DTA situ Kemuning sangat direkomendasikan untuk mengurangi laju aliran permukaan pada waktu musim hujan. Optimalisasi struktur pengaturan pemanfaatan ruang secara potensial di area sempadan situ menjadi bagian dari revitalisasi situ untuk memperkuat fungsi dan manfaat situ Kemuning.

Revitalisasi ekologi situ-situ dapat berarti melakukan aktivitas pemaksimalan atau pengembalian kembali fungsi situ-situ, membuat kondisi situ- situ tersebut kembali kepada kehidupan normal dan dimaksimalkan fungsinya agar dapat menguntungkan bagi komponen ekologisnya serta tetap dalam kerangka proses ekologis. Dalam konteks arsitektur bentang alam (landscape architecture), merevitalisasi situ-situ diartikan mendesain suatu fungsi yang terencana dan terukur sehingga dapat dimaksimalkan penggunaannya, mempunyai nilai tambah untuk pemanfaatan manusia maupun kebutuhan untuk pelestarian alam dan keberlanjutan proses ekologis di dalamnya (Anonim, 2008)

43 Sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberdayaan dan pelajar melalui pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Masyarakat merupakan komponen yang secara langsung akan menerima manfaat dan dampak dari keberadaan situ. Strategi pemberdayaan masyarakat menjadi strategi prioritas utama dalam pengelolaan situ Kemuning untuk mendukung kelestarian dan konservasi air. Perlu adanya kesepahaman bersama bahwa situ harus dipandang sebagai sumberdaya alam yang mempunyai fungsi dan manfaat baik secara lingkungan maupun sosial ekonomi dan dikelola dengan pemberdayaan potensi sekaligus menjadi media sosialisasi pendidikan lingkungan bagi masyarakat sendiri dan generasi (remaja usia didik).

Pemberdayaan masyarakat dan sosialisasi pelajar melalui pendidikan lingkungan di satuan pelaksana pendidikan, menjadi bagian dari proses pengembangan institusi lokal yang merupakan suatu kemendesakan. Kelembagaan tersebut secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan lingkungan situ. Proses sosialisasi tidak hanya dilakukan di tingkat instansi tetapi juga harus dilakukan sampai tingkat lokal. Pemberdayaan masyarakat diupayakan untuk mendorong peningkatan peran serta masyarakat, sebagai mana hal ini telah dimuat dalam kebijakan nasional pengelolaan sumberdaya air yang meliputi peran serta masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan.

Menurut Gonku1 (2013) melalui diskusi dan wawancara dalam hal ini menjelaskan bahwa saat ini sangat diperlukan pembinaan secara khusus bagi lembaga pengelola situ yang ada agar bisa lebih aktiv dalam upaya pelestarian situ dan pemberdayaan sehingga bisa mendorong swadaya masyarakat, karena secara menyeluruh pemerintah sudah melakukan revitalisasi dan pelestarian situ.

Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada manusia merupakan landasan wawasan dalam pengelolaan sumberdaya lokal sehingga terbentuk mekanisme perencanaan yang menekankan pada teknik pembelajaran sosial dan strategi program bersama masyarakat (Nasution et al. 2007). Kegiatan pemberdayan di sini dimaksudkan sebagai kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap konservasi dan pemanfaatan air.

Peningkatan pendidikan pengetahuan lingkungan hidup di satuan pendidikan juga dinilai penting sebagai strategi untuk membentuk dan sosialisasi prilaku sadar lingkungan. Waryono (2005) mengatakan peranan masyarakat (remaja) juga memiliki pengetahuan yang ada di lingkungannya (kearifan lokal), sehingga dapat saling berbagi pengetahuan. Remaja yang masih dalam jenjang pendidikan adalah modal dasar pembangunan di masa mendatang, pembekalan awal akan memacu kepedulian positif, khususnya terhadap lingkungan.

Mengembangkan menejemen kolaboratif untuk penguatan kelambagaan tata kelola situ yang berkelanjutan.

Menejemen kolaboratif merupakan peluang yang sangat mungkin untuk dimanfaatkan dalam strategi pengelolaan situ (situ Kemuning). Menejemen kolaboratif di dalam konteks ini diartikan sebagai pendelegasian sebagian kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan masyarakat lokal. Mengingat kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya air permukaan berada di pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Infrastruktur sumberdaya air berupa situ keberadaanya menyangkut kepentingan lintas sektor, hal ini terlihat dari bentuk-bentuk pemanfaatn situ oleh masyarakat, seperti pemanfaatan untuk kegiatan pertanian, perikanan, wisata tirta.

1)

Seorang penggiat lingkungan yang melakukan upaya konservasi situ melalui penataan dan pengelolaan sempadan situ-situ di Kota Depok.

44

Beberapa institusi yang terlibat langsung dalam pengelolaan situ Kemuning saat ini terdiri dari: Balai Pengelolaan Sumberdaya Air wilayah sungai ciliwung cisadane sebagai pengelola dengan menempatkan tenaga operasional lapangan di loksi situ, Dinas Bina Marga dan Pengairan (bersifat koordinasi dan pemeliharaan terkait dengan pemanfaatan situ sebagai daerah irigasi) dan di tingkat lokal ada pemerintah desa yang mempunyai aturan main. Dari beberapa institusi tersebut terbentuk arena aksi pengelolaan dan pemanfaatan situ sampai pada di tingkat lokal yang diilustrasikan pada Gambar 4.2.

Secara normatif dan prosedural perlu adanya izin pemanfaatan situ kepada pemerintah pusat sebagai institusi yang berwenang, walaupun keberadaan situ ada di wilayah administrasi pemerintah daerah (Kabupaten/Kota). Maka strategi menejemen kolaboratif sebagai penguatan kapasitas kelembagaan digunakan untuk mengendalikan dan mencegah kerusakan sumberdaya situ dari eksploitasi atau pemanfaatan situ secara illegal (tanpa disertai izin) di tingkat lokal yang menyebabkan kondisi situ (data saat saat ini) cenderung mengalami penurunan fungsi dan beralih fungsi bahkan ada yang tidak teridentifikasi lagi.

Kementrian Pekerjaan Umum Direktoriat Jendral PSDA

BBWS

Pemerintah Daerah Propinsi Dinas PSDA

Balai PSDA-WS (Sundawapan)

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Dinas Bina Marga dan Pengairan/SDA*

Balai Data dan Informasi

SDA

Infrastruktur SDA (SITU) (Fungsi dan Manfaat Situ)

User/Pemanfaat/Okupasi tingkat lokal

PT/ Peneliti dan Pemerhati (Fungsi dan Manfaat Situ)

Pemerintah Pusat: terkait kewenangan pengelolaan

Pengelolaan sumberdaya air di tingkat Provinsi

(berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Barat No 45 tahun 2010)

Koordinasi terkait pemanfaatan dan pemeliharaan infrastruktur sumberdaya air

* pemanfaatan dan pemeliharaan terkait jaringan irigasi/pengairan

Pelaksana teknis Perencanaan program Pemeliharaan dan pemantauan

Gambar 4.2 Arena aksi pengelolaan dan pemanfaatan situ sebagai infrastruktur sumberdaya air

Pemanfaatan dan ekspolitasi situ tidak terkontrol

Ijin Manfaat

Tenaga OP lapangan

Pengelolaan bersama merupakan suatu pengaturan kemitraan dalam tanggungjawab dan kewenangan antara pelaku kunci atau pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam yaitu masyarakat lokal dan pemerintah (KLH, 2007). Selanjutnya Sanim (2011) menjelaskan keterlibatan dan partisipasi masyarakat adalah pendekatan yang terpenting sedangkan pemerintah diharapkan menjadi pihak bertanggungjawab secara langsung terhadap operasionalisasi pelestarian sumberdaya air.

45 Membangun area konservasi situ berbasis RTH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Strategi ini merupakan strategi prioritas utama ke empat dari beberapa strategi yang telah dibahas. Keberadaan situ Kemuning yang strategis sebagai daerah operasi dan objek wisata alam yang didukung oleh kesesuaian rencana tata ruang wilayah pemerintah daerah menjadi kekuatan untuk mengatasi faktor-faktor yang mengancam kelestarian situ. Penataan dan pengelolaan situ dengan strategi membangun area konservasi dengan memadukan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan sosial ekonomi masyarakat menjadi dapat pilihan untuk penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, sebagai mana hal ini telah dibuat pedoman dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 dan telah disosialisasikan oleh Dinas Tata Ruang dan Pertanahan (DTRP) Kabupaten Bogor.

Upaya pelestarian situ Kemuning yang memiliki fungsi dan manfaat potensial perlu modifikasi dan rekayasa lingkungan melalui penataan struktur pemanfaatan ruang potensial situ sebagai pengejawantahan dari integrasi fungsi lingkungan dan sosial ekonomi. Pembangunan RTH dengan konsep wisata berbasis konservasi air adalah strategi pilihan pengembangan pengelolaan situ.

Sebagai contoh adalah studi kasus situ Pengasinan, Kota Depok. Upaya konservasi situ yang dilakukan oleh Gonku (penggiat lingkungan) dengan pendekatan swadaya, partisipasi dan kelembagaan pemerintah melalui pengelolaan pemanfaatan sempadan situ sebagai ruang terbuka hijau dengan desain estetika landscape dan pemanfatan untuk kegiatan nursery telah memberikan nilai manfaat dari sempadan situ seperti: 1) Menunjang kegiatan konservasi tanah dan air, 2) Manfaat untuk ekowisata, 3) Meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar yang tergabung sebagai anggota koperasi Maju Bersama dengan penghasilan rata-rata berkisar antara 2-3 juta/bulan, 4) Kawasan wisata situ Pengasinan juga menjadi ladang penghasilan baru bagi masyarakat, nilai manfaat yang merupakan multiplier effect tersebut juga terdapat nilai tambah lain yaitu dijadikan lokasi syuting oleh beberapa media (Gonku, 2013).

Simpulan

Faktor kekuatan yang dominan adalah persepsi dan dukungan masyarakat dan kesesuaian dengan RTRW Kabupaten. Sedangkan faktor ancaman pengembangan pengelolaan situ Kemuning adalah berasal dari prilaku eksploitasi alih fungsi oleh masyarakat yang tidak terkontrol dan pendangkalan (sedimentasi). Formulasi strategi arahan pengembangan pengelolaan yang perlu ditindak lanjuti dalam penataan situ berbasis wisata tirta terpadu melalui pemanfaatan ruang potensial untuk saat ini dan masa depan, yaitu: 1) Merevitalisasi situ dan strukturisasi pengaturan pemanfaatan ruang potensial sebagai model penataan situ terpadu, 2) Sosialisasi kepada masyarakat melalui pemberdayaan dan pelajar melalui pendidikan lingkungan hidup di sekolah, 3) Mengembangkan menejemen kolaboratif untuk penguatan kelambagaan tata kelola situ yang berkelanjutan dan 4) Membangun area konservasi situ berbasis RTH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

46

Dokumen terkait