• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konservasi dan pembangunan bisa berjalan harmonis seperti dua sejoli. Jika dampak dari pembangunan menurunkan kwalitas lingkungan bukan berarti pembangunan adalah lawan dari upaya konservasi. Yang menjadi fokus adalah melaksanakan pembangunan yang ikut mendukung peningkatan kwalitas lingkungan hidup (Soemarwoto 2008). Dalam kawasan perairan kepulauan Wakatobi secara konsepsional antara Balai TNW dan Pemda Wakatobi menyadari hal tersebut sehingga kesepakatan revisi zoanasi dan revisi perencanaan jangka panjan TNW maupun RPJP Kabupaten Wakatobi meletakkan pembangunan daerah dan konservasi saling menunjang. Konservasi kawasan TNW salah satu tujuannya adalah menjamin daya dukung kawasan bagi perikanan masyarakat dan pembangunan daerah berkelanjutan (TNW 2008).

Hakikat dari pengelolaan sumberdaya adalah mengelola hubungan manusia dengan lingkungan dan sumber daya alam sebagai proses pengelolaan konflik (Mitchel et al 2007). Pengelolaan sumberdaya laut adalah mengelola hubungan

masyarakat (nelayan) dengan sumberdaya perikanan. Pengelolaan integral sumberdaya laut dengan perikanan tidak lepas dari kondisi wilayah pesisir yang rapuh terhadap berbagai tumpang tindih kepentingan berbagai pihak berpeluang menimbulkan konflik pengelolaan. Menyadari hal itu pengelolaan pesisir harus mengembangkan kerangka kelembagaan dan aturan yang memilah penggunaan sumberdaya dan pengaturan akses dan berbagai hak masyarakat untuk menghindari konflik (Widodo dan Suadi 2006).

Sumberdaya laut seperti perikanan adalah input kegiatan ekonomi masyarakat dan daerah. Mekipun sumberdaya ini terkategori sumberdaya yang dapat terbaharukan yakni ketersediaannya dapat diregenerasi melalui proses reproduksi (proses biologi) tetapi jika maksimum kapasitasnya sudah melampauhi ambang kritis maka bisa berubah menjadi tidak terbaharukan (Fauzi 2006).

Sehubungan dengan batas kritis kemampuan sumberdaya tersebut dikembangkan pendekatan pembangunan berkelanjutan sebagaimana dijelaskan Mitchel et al (2007) sebagai pembangunan yang memasukkan pertimbangan lingkungan dalam hitungan nilai ekonomi. Secara pasti apa yang dimaksud pembagunan berkelanjutan memungkinkan berbeda pendekatan. Contoh dapat dilihat pada Provinsi Manitoba, Kanada, dimana secara spesifik mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Di Provinsi Bali, pembangunan berkelanjutan tidak hanya keberlanjutan sumberdaya alam, tetapi juga keberlanjutan budaya (dari nilai-nilai dan legenda ke upacara keagamaan dan struktur), serta tidak hanya keberlanjutan produksi tetapi juga keberlanjutan budaya itu sendiri (Michel et al 2007).

Dahuri et al (2004) menegaskan keunikan pengelolaa pesisir dan laut.

Terdapat anekaragam, tingkat produktivitas dan jasa lingkungan serta kemudahan pada kawasan pesisir menyebabkan wilayah ini menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pembangunan paling intensif. Selain memiliki potensi pembangunan, kawasan pesisir sangat rentan terhadap berbagai dampak negatif pembangunan yang berlangsung dipesisir, laut lepas maupun darat, juga rentan bencana seperti tsunami

dan angin topan, terutama pada kawasan yang tidak memiliki sisitem perlindungan alamiah seperti mangrove, terumbu karang dan pasir pantai.

Peningkatan jumlah penduduk dan intensitas pembangunan ekonomi paralel dengan tekanan lingkungan terhadap wilayah pesisir. Konflik pemanfaatan ruang dan sumberdaya serta ancaman pencemaran semakin dan kemungkinan dampak pemanasan global berupa naiknnya permukaan laut menyebabkan pengelolaan secara sektoral tidak memadai menjawab tantangan pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

Untuk mengatasi permasalahan itu diperlukan pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (PWTL), karena sistem sumberdaya dapat pulih harus dikelola untuk menyediakan hasil pada tingkat berkelanjutan (Dahuri et al 2004).

Ditingkat daerah, perencanaan terpadu dengan melibatkan stakeholdes pembangunan melalui mekanisme botton up dimulai dari tingkat desa melalui Musyawarah Pembangunan Desa (Musbangdes). Bappeda memiliki fungsi startagis dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk mensinergikan perencanaan meskipun dalam tahap implementasi tetap merupakan kewenangan instansi secara sektoral (Dahuri et al 2004).

2.4 Kolaborasi Management

Dalam banyak kasus kita bisa melihat bahwa upaya pengelolaan dengan berbagai instrumen dan teknologi moderen memerlukan biaya yang mahal harganya dan sukar diterapkan karena keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memahaminya. Adopsi kearifan tradisional untuk pengelolaan merupakan pilihan alternatif untuk mengatasi mahalnya teknologi, keterbatasan kemampuan masyarakat memahami dan juga untuk menghindari dampak negatif dari teknologi baru (Arafah dan Manan 2000).

Ruang akomodasi kearifan lokal hanya mungkin dilakukan dengan kolaborasi pengelolaan sumberdaya. Pendekatan kolaborasi membuka peluang partisipasi masyarakat mengingat peran masyarakat masih terbatas sentralisasi pengelolaan (DEPHUT 2005). Solihin et al (2005) menggaris bawahi partsisipasi masyarakat

sebagai unsur penting dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya laut karena paradigma sentralisik dimasa lalu terbukti gagal dan dengan era otonomi daerah saat ini dipandang sebagai peluang untuk mewujudkan pengelolaan yang partisipatif atau sebuah peluang untuk meredefinisi pembangunan perikanan dan kelautan. Rezim property rights harus mengalami banyak perubahan untuk mewujudkan communal property rights. Kewajiban pemerintah meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menggerakkan institusi lokal dalam sistem tradisional mereka. Desentralisasi membuka peluang partsipasi masyarakat untuk terlibat dalam proses perencanaan dan aktualisasi pengelolaan sumberdaya laut yang diyakini mengurangi resiko gagal pengelolaan karena proses dan tujuan telah dikuasai masyarakat sejak awal.

Hak-hak ulayat di laut (HUL) menurut Solihin et al (2005) menjadi kunci mengatasi pergeseran KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) antara pengusaha, penguasa dan politisi dari pusat ke daerah yang menjadi duri bagi pengelolaan sumberdaya selama ini, ketika mengusung desentralisasi. Penguatan HUL juga mencegah terjadinya konflik pengelolaan antara nelayan lokal dan nelayan luar, penggunaan alat tangkap tidak ramah seperti bom, bius. Sebagai contoh pemberlakuan sistem tradisional awig-awig yang direkonstruksi dari adat budaya lokal di Lombok Utara sebagai model pengelolaan sumber daya laut secara kolaboratif (Co-Management) terbukti mengurangi secara drastis ilegal fishing dan destruktif fishing serta meningkatkan partsisipasi masyarakat.

Menurut Widodo dan Suadi (2006) pengelolaan kolaboratif adalah pengelolaan yang menekankan pembagian tugas dan tanggung jawab pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam pendekatan pengelolaan kolaborasi yang tidak boleh berubah adalah kewenangan pengelolaan tetap ditangan pemerintah mengingat kawasan konservasi merupakan public domain (DEPHUT 2005).

BAB III

DESKRIPSI KAWASAN LOKASI PENELITIAN

3.1 Karakteristik Fisik 3.1.1 Letak dan Aksesibilitas

Kepulauan Wakatobi berada pada jazirah tenggara Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Banda.

- Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores.

- Sebelah Barat berbatasan dengan perairan Kabupaten Buton.

Gambar 2 : Lokasi Penelitian di Kompleks Pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

Sumber : TNC-WWF Joint Program Wakatobi

Wakatobi dapat dijangkau dengan kapal laut selama 9 jam, dengan pesawat terbang selama 30 menit dari Kendari ke Pulau Wangi-Wangi ibukota Kabupaten Wakatobi. Selain itu dari Kota Bau-Bau kapal pelayaran rakyat setiap hari berlayar menuju tiap pulau dengan waktu tempuh tercepat 9 jam dan terlama 16 jam atau dengan pesawat terbang selama 15 menit.

Dari timur, pintu masuk dari Kota Ambon dengan kapal PELNI selama 12 jam, dengan kapal pelayaran rakyat Wakatobi selama 24 jam. Dari utara melalui Ternate dengan kapal rakyat selama 30 jam, dari arah lewat Flores dengan kapal pelayaran rakyat selama 8 jam. Dari pulau Wangi-Wangi, pulau-pulau dalam kawasan dapat ditempuh setiap hari, waktu terdekat 30 menit yakni pulau Kapota, terjauh 10-12 jam untuk pulau Runduma (freqwensi tergantung cuaca dan muatan).

3.1.2 Topografi Pulau dan Laut

Pulau-pulau dalam gugusan Kepulauan Wakatobi memiliki topografi datar sampai berbukit. Empat pulau utama, berpenghuni dan memiliki ukuran lebih besar memiliki variasi ketinggian :

- Pulau Wangi-Wangi, topografi lebih rendah di sebelah selatan dibanding bagian utara. Puncak tertinggi ± 225 m dpl.

- Pulau Kaledupa, topografi lebih rendah di bagian utara dibanding bagian selatan, memiliki puncak tertinggi ± 200 m dpl.

- Pulau Tomia, topografi rendah dibagian barat, dan lebih tinggi di pantai timur, memiliki puncak tertinggi ± 250 m dpl.

- Pulau Binongko, topografi lebih rendah dibagian timur, lebih tinggi pada bagian barat, memiliki puncak tertinggi ± 225 m dpl.

Topografi laut umumnya datar di lepas pantai, dan di luar karang tepi dan daerah gosong merupakan tubir terjal. Dari hasil citra landsat dasar perairan laut merupakan gabungan jurang dan gunung-gunung bawah laut dengan variasi kedalaman 250 – 5000 meter, masuk perairan laut Banda (TNW 2008).

3.1.3 Kondisi Hidrogeologis

Sebagaimana karakter pulau-pulau atol, pulau-pulau di Wakatobi kekurangan sumber air tawar. Sumber air tawar berada didalam gua-gua atau celah batu dan sumur gali yang umumnya mengalami infiltrasi air laut pada saat pasang surut.

Pulau-Wang-Wangi memiliki sumber air gua alam terbanyak. Sumber air lainnya adalah sungai Tindoi, sungai musiman di pulau Wangi-wangi. Pulau yang memiliki sumber air paling minim adalah Pulau Binongko, Runduma, Tomia dan Tolandona.

Secara keseluruhan kepulauan ini terdiri dari 39 pulau, 3 gosong dan 5 atol.

Terumbu karang di kepulauan ini terdiri dari karang tepi (fringing reef), gosong karang (patch reef) dan atol. Empat pulau utama memiliki luas sebagai berikut :

- Pulau Wangi-wangi 156,5 km2 - Pulau Kaledupa 64,8 km2; - Pulau Tomia 52,4 km2, - Pulau Binongko 98,7 km2.

Dari proses pembentukannya, atol yang berada di sekitar kepulauan Wakatobi terbentuk oleh adanya penenggelaman dari lempeng dasar. Dimulai dari kemunculan beberapa pulau, kemudian diikuti pertumbuhan karang mengelilingi pulau. Terumbu karang yang ada di sekeliling pulau terus tumbuh ke atas sehingga terbentuk atol seperti beberapa atol yang terlihat sekarang, antara lain Atol Kaledupa, Atol Kapota, Atol Tomia (TNW 2008).

3.2 Gambaran Keanekaragaman Hayati 3.2.1 Jenis Spesies Dilindungi

Beberapa spesies terlindungi dapat ditemukan pada kawasan ini, antara lain penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), lumba-lumba (Delphi nusdelphis, Stenella longiotris, Tursiops truncatus), ikan napoleon (Cheilinus undulatus) kima (Tridacna sp), Lola (Trochus sp), ketan kenari (Birgus latro). Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) dijumpai pada daerah karang yang kondisinya relatif baik. Kepiting kenari dijumpai pada lubang-lubang batu di Pulau Oroho (Kompona

One), Simpora, Kapota, Hoga, Lentea Tomia, Runduma, Wangi-Wangi, Tomia, Binongko. Kondisi tekstur tanah didominasi batu-batu cadas merupakan habitat dari hewan ini dan memiliki sumber makanan yakni kelapa. Kepiting kenari melimpah pada musim penghujan dan bulan gelap (TNW 2008).

3.2.2 Keanekaragaman dan Kesehatan Terumbu Karang

Laporan Rapid Ecological Assesment (REA) 2003, ditemukan 396 spesies karang scleractinia hermatipic, terbagi dalam 68 genus dan 15 famili, dimana rataan setiap stasiun pengamatan berkeragaman 124 spesies. Sebanyak 10 spesies karang keras non scleractinia atau ahermatipic dan 28 genera karang lunak juga berhasil dicatat. Tingkat keragaman ini termasuk relatif tinggi bila dihubungkan dengan keragaman habitat yang disurvei yang cenderung rendah keragamannya dan ini merupakan sebuah indikasi dimana Wakatobi terletak di pusat keanekaragaman hayati terumbu karang (TNW 2008).

3.2.3 Keanekaragaman Ikan

Berdasarkan penelitian The Nature Conservancy (TNC), sebanyak 590 spesies ikan dari 52 famili ditemukan di perairan TNW. Famili-famili paling beragam spesiesnya antara lain jenis-jenis wrase (Labridae), damsel (Pomacentridae), kerapu (Serranidae), kepe-kepe (Chaetodontidae), surgeon (Acanthuridae), kakatua (Scaridae), cardinal (Apogonidae), kakap (Lutjanidae), squirrel (Holocentridae), dan angel (Pomacanthidae). Kesepuluh famili ini meliputi hampir 70% dari total hewan yang tercatat REA 2003.

Hampir lebih dari 80% lokasi yang disurvei selama REA berada pada peringkat yang menunjukkan satu tingkat keragaman yang tinggi dari seluruh lokasi yang disurvei dan menempatkan wilayah ini pada posisi dua tertinggi dari 33 daerah yang telah lebih dulu disurvei untuk informasi yang sama (TNW 2008).

3.2.4 Keanekaragaman Karang-karang Fungi dan Genus Scleractinia

REA 2003 mencatat sebanyak 31 spesies karang fungi (mushroom) dari 29 sampai 31 lokasi sampel. Walaupun Wakatobi adalah pusat dari keanekaragaman hayati, wilayah ini tidak cukup kaya akan karang fungi. Satu faktor pembatas keragaman karang fungi di Wakatobi adalah keragaman habitat yang relatif rendah;

dibandingkan dengan daerah lain seperti Kepulauan Spermonde di Sulawesi Barat Daya, setidaknya dua tipe habitat yang berbeda yang secara umum kumpulan karang fungi berkumpul (terumbu berpasir di kedalaman dan terumbu yang dipengaruhi aliran air tawar dari sungai) tidak terlalu banyak. Spesies fungi yang ditemui di Wakatobi mencakup sebagian besar yang biasanya ditemukan di lokasi lepas pantai di area dengan suatu landas kontinen seperti Spermonde. Sebagai perbandingan kumpulan fungi ini mirip dengan yang ada di Sulawesi Utara dan Kepulauan Togian dimana keduanya jarang terdapat habitat terumbu berpasir di kedalaman.

Terkait dengan jenis karang scleractinia, secara umum walaupun agak beragam, tidak menunjukkan adanya sesuatu yang unik – bisa jadi karena rendahnya tingkat keragaman habitat yang ada. Meskipun begitu REA 2003 mencatat beberapa temuan yang cukup menarik, yaitu adanya suatu kumpulan karang di area hamparan padang lamun (seperti Catalaphyllia Jardineri, Fungia (Cycloseris) sinensis dan F.

(C.) cyclolites- dimana pada umumnya ada di kedalaman). Ada juga, suatu perubahan warna yang tidak biasa pada Hydrocoral Distichopora Violacea (dimana cabang yang diamati mempunyai suatu pita putih di bawah ujung berwarna) ditemukan dan mungkin merupakan suatu subspesies endemik Sulawesi Tenggara (TNW 2008).

3.2.5 Foraminifera

Selama REA, 31 spesies dari foraminifera berhasil dikoleksi dimana 9 diantaranya belum dapat diidentifikasi atau memerlukan pengamatan lebih lanjut untuk menentukan jenis taksonomi yang tepat. Ini merupakan jumlah yang tinggi dibandingkan dengan keragaman di lain tempat di Indo-West Pacific yang pernah diamati (seperti Cebu, Kepulauan Spermonde di Sulawesi, dan Bali). Secara umum

tiga kelompok foraminifera dapat diidentifikasi : hamparan terumbu (reef flat), dan bagian dalam laguna dan terumbu miring. Hamparan terumbu yang meluas di daerah ini, sebagian besar ditutupi padang lamun, merupakan habitat penting bagi foraminifera, seperti halnya di bagian dalam laguna atol – keduanya merupakan rumah bagi sejumlah spesies foraminifera yang unik. Keragaman yang tinggi, pembagian habitat yang tinggi dan densitas yang tinggi (dikombinasi dengan densitas yang rendah dari foraminifera yang non simbiose) menunjukkan bahwa kondisi pertumbuhan terumbu di wilayah ini sangat baik (TNW 2008).

3.2.6 Stomatopoda

Terdapat 34 spesies dari 8 famili dan 16 genus yang telah diobservasi REA 2003. Dua spesies yang terkumpul belum dapat diidentifikasi, dari genus Gonodactylopsis dan genus Chrosquilla yang ditemukan pada kedalaman 20 meter pada dinding vertikal. Seperti yang diharapkan, spesies-spesies yang ditemukan di Wakatobi mencerminkan spesies-spesies yang dominan di perairan jernih tipikal dari terumbu yang menghadap ke laut dalam atau laut lepas.

Koleksi yang ada menambah jumlah spesies stomatopoda terumbu yang sudah diketahui, menempatkan Wakatobi sejajar dengan Kepulauan Raja Ampat yang memiliki jumlah tertinggi untuk spesies stomatopoda yang berasosiasi dengan terumbu. Jelas bahwa TNW merupakan tempat yang memiliki keanekaragaman stomatopoda yang berasosiasi dengan terumbu yang memperkuat arti penting kawasan konservasi ini bagi pelestarian keanekaragaman hayati (TNW 2008).

3.2.7 Ikan Target Komersial

Ditemukan sejumlah 647 ekor Serranidae dan 29 ekor Napoleon Wrasse Chelinus undulatus. Dari kerapu yang dicatat, hanya 100 ekor (kurang dari 1/6) merupakan spesies yang memiliki nilai tinggi dalam perdagangan ikan karang hidup (umumnya spesies Epinephelus dan Plectropomus). Bahkan bila kita secara konservatif menduga hanya 50% dari species target yang ada yang tercatat, total

sejumlah 260 target spesies dalam waktu observasi selama 20 jam menunjukkan bahwa densitas yang relatif rendah dan ini menunjukkan telah terjadi tekanan dari usaha perikanan yang tinggi pada spesies ini (TNW 2008).

3.2.8 Tumbuhan Lamun

Terdapat 9 jenis lamun ditemukan di perairan Wakatobi dari 12 jenis yang ada di Indonesia. Penelitian CRITC COREMAP-LIPI (2001) menyatakan bahwa secara umum padang lamun di perairan Wakatobi didominasi oleh Thalassodendron ciliatum, dengan persentase tutupan 66%, kerapatan 738,2 tegakan/m2 dan total biomassa 236,21 gram berat kering/m2 (TNW 2008).

3.2.9 Cetaceans

Dari monitoring bersama BTNW dan joint program TNC-WWF sampai tahun 2006 tercatat 11 jenis cetacean ditemukan antara lain paus sperma (sperm whale), paus pemandu (pilot whale), paus bongkok (humpback whale), paus biru (blue whale), lumba-lumba hidung panjang (spinner dolphin) dan lumba-lumba hidung botol (bottle-nosed dolphin) (TNW 2008).

3.2.10 Penyu

Dua jenis penyu yakni penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas) ditemukan di perairan Wakatobi. Monitoring BTNW dan TNC-WWF menemukan 5 lokasi dominan tempat peneluran penyu, yaitu Pulau Runduma, Anano, Kentiole, Tuwu-Tuwu (Cowo-Cowo) dan Moromaho (TNW 2008).

3.2.11 Mangrove

Beberapa jenis mangrove yang ditemukan di TNW tercatat 22 jenis dari 13 famili mangrove sejati, antara lain : Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Osbornia octodonta, Ceriops tagal, Xylocarpus moluccensis, Scyphiphora hydrophyllacea, Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia marina, Pemphis acidula, dan Avicennia

officinalis. Monitoring BTNW dan joint program TNC-WWF tahun 2006 menjelaskan kondisi mangrove sedang sampai baik. Pulau dengan mangrove terluas adalah Pulau Kaledupa, meliputi hampir seluruh garis keliling pulau. Tekanan manusia cukup tinggi atas mangrove di Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia.

Sedangkan untuk Binongko kondisi mangrove relatif terjaga, karena status mangrove di Binongko kebanyakan adalah hutan adat (TNW 2008).

3.3 Gambaran Masyarakat 3.3.1 Demografi dan Populasi

Jumlah penduduk kabupaten Wakatobi 100 ribu jiwa (BAPPEDA Wakatobi 2008). Penduduk asli kepulauan ini adalah suku Buton (Hidayat 1997), meliputi sekitar 90 ribu populasi. Selain penduduk asli, tinggal dalam kawasan ini pendatang dari suku-suku lain di Nusantara seperti suku Bajo, Bugis, Selayar, Muna dan Jawa.

3.3.2 Ekonomi dan Pangan

Dewasa ini kegiatan perikanan dan budidaya rumput laut merupakan sumber utama ekonomi. Pada masa lalu mata pencaharian tersebut tidak menjadi sumber ekonomi, memungut hasil laut di perairan pesisir malah lebih banyak dikerjakan perempuan untuk pemenuhan konsumsi rumah tangga. Para perempuan ini mengelola kebun jagung dan singkong di daratan serta mencari kerang, kepiting, ikan pada daerah pesisir setelah suami mereka merantau dan berlayar mencari sumber ekonomi di daerah lain.

Kombinasi pekerjaan sebagai petani, nelayan, kerajinan anyaman pandan, merantau dan pedagang antara pulau merupakan kegiatan mayoritas masyarakat.

Kegiatan pertanian umumnya budidaya tanaman pangan yakni ubikayu (singkong), kacang merah dan jagung. Masa panen tanaman ubi kayu 1 – 3 tahun, ditanam pada tanah yang berada di sela-sela batu cadas. Dalam kegiatan perikanan, alat tangkap yang digunakan umumnya jaring, bubu, sero, pancing, jala, tombak, pengait.

Suku Buton adalah pelaut, mereka mengangkut dagangan dengan perahu ke wilayah-wilayah Nusantara bagian timur. Kebiasaan merantau atau berpindah ke daerah lain seperti Maluku, Irian dan Kalimantan bermotif ekonomi karena peluang ekonomi di kampung kurang. Migrasi musiman ke Maluku dilakukan untuk panen cengkeh (Schoorl 2003).

Perdagangan antar pulau dilakukan dengan kapal-kapal rakyat yang dimiliki secara individu atau kelompok keluarga. Armada-armada dagang tersebut mengangkut hasil bumi baik flora dan fauna dari kawasan timur Indonesia untuk diperdagangkan ke Singapura, Malaysia, Makassar dan Jawa. Dan sebaliknya mengangkut barang-barang pabrik untuk didistribusikan di Wakatobi dan pulau-pulau kawasan timur Indonesia. Pada rantai perdagangan ini selama dekade 1980 – 2000 menjadi mata rantai suplai bahan baku bom ikan dari Singapore atau Malaysia ke Wakatobi. Dari Wakatobi bahan baku bom tersebut diperdagangkan ke pulau-pulau di bagian timur, selatan dan tenggara Sulawesi serta Maluku, Papua, Nusa Tenggara.

Dengan kondisi lahan pulau-pulau kecil yang didominasi bebatuan, sumber pangan tidak sepenuhnya tercukupkan dari hasil bumi dalam kawasan tetapi dari kegiatan pertanian masyarakat Wakatobi yang dilakukan di pulau-pulau terdekat seperti pulau Buton, Buru, Seram, Taliabo, Halmahera dan pulau-pulau kecil lainnya di Maluku dan Maluku Utara. Suku Bajo dengan populasi bisa mencapai 8000 dan pendatang musiman dari Sulawesi Selatan, Kendari, Flores, Madura, Bali mendominiasi 60 % penggunaan sumberdaya laut (TNC/WWF Joint Program Wakatobi 2008). Sekitar 50 orang Bajo merupakan penambang batu karang yang aktif atau rutin sebagai mata pencaharian dan sekitar 170 jiwa tidak masif.

3.3.3 Sosial Budaya

Suku Buton atau orang Buton (disebut juga Butung) adalah suku bangsa perantau (Hidayat 1997) merupakan salah satu suku lokal Sulawesi Tenggara disamping suku Moronene, Tolaki, Mekongga, dan Muna. Orang Buton sendiri

menyebar pada beberapa tempat yakni, pulau Buton, pulau Muna, dan kepulauan Wakatobi, terdiri dari ratusan sub antropologis (Hidayat 1997). Suku Buton yang menghuni Wakatobi sering disebut Orang Pulo, artinya orang Buton dari kepulauan.

Bahasa yang digunakan disebut bahasa Liwuto Pasi (Abubakar 2000). Liwuto artinya kampung sedangkan pasi artinya karang.

Kelompok bahasa yang digunakan penduduk Wakatobi terdiri dari beberapa dialek. Di Wangi-Wangi terdapat dialek Liya, Mandati, Wanci, dan Kapota. Di Pulau Kaledupa terdiri dari dialek Langge, Buranga dan Peropa. Di pulau Tomia terdiri dari dialek Timu, Tongano dan Waha. Sedangkan di pulau Binongko terdapat dialek Kaumbeda dan bahasa Cia-Cia. Kelompok bahasa Cia-cia sebenarnya merupakan bahasa yang dipergunakan penduduk di wilayah selatan dan timur pulau Buton.

Antara dialek dalam kelompok bahasa Pulo terdapat perbedaan beberapa suku kata.

Sebagaimana wilayah kesultanan Buton lainnya, masyarakat Wakatobi mengenal sistem pelapisan sosial masyarakat yang terdiri dari bangsawan kaomu dan walaka serta golongan papara atau masyarakat biasa. Golongan bangsawan kaomu dicirikan dengan pemakaian awalan La Ode (untuk laki-laki) dan Wa Ode (untuk perempuan) didepan nama. Golongan bangsawan walaka dan paparara dicirikan dengan pemakaian nama depan La (untuk laki-laki) dan Wa (untuk perempuan).

Dimasa itu golongan kaomu adalah golongan masyarakat yang dapat menduduki peran-peran pemerintahan seperti jabatan Sultan, Sapati dan pangkat pemimpin kadie yakni Lakina atau Bobato. Jabatan untuk bangsawan walaka diantaranya Bonto Ogena (dikenal sebagai Sultan masyarakat biasa), Siolimbona yang berperan mengangkat, memberhentikan sultan.

Dalam kadie golongan walaka juga menjadi Bonto (pemimpin kadie, ada juga bonto yang hanya mengepalai urusan tertentu) termasuk pangalasa yang bertugas memilih sara. Kaum papara adalah golongan profesional seperti ahli bangunan, pengrajin, nelayan dan petani yang diberi hak menguasai sumberdaya alam, hak yang tidak diberikan oleh sistem adat kepada kaomu dan walaka. Secara keseluruhan

penduduk asli Wakatobi menganut agama Islam (Undang-Undang Murtabat Tujuh Kesultanan Buton 1578-1615, Saidi 2000).

Kelompok masyarakat adat subjek penelitian ini adalah kelompok adat Liya, Mandati, Wanci dan Kapota terletak pada kompleks pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Pulau-pulau dalam kompleks ini terdiri dari Pulau Wangi-Wangi dimana pada bagian utara pulau dihuni kelompok adat Wanci, sekarang meliputi 19 desa total

Kelompok masyarakat adat subjek penelitian ini adalah kelompok adat Liya, Mandati, Wanci dan Kapota terletak pada kompleks pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Pulau-pulau dalam kompleks ini terdiri dari Pulau Wangi-Wangi dimana pada bagian utara pulau dihuni kelompok adat Wanci, sekarang meliputi 19 desa total