• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Pendekatan Ekosistem

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Pendekatan Ekosistem

Pengelolaan sumberdaya perikanan sesuai dengan Petunjuk Teknis yang disusun oleh FAO (Cochrane 2002) merupakan proses yang terintegrasi atas

pengumpulan informasi, analisa, perencanaan, konsultasi, pengambilan

keputusan, alokasi sumberdaya serta perumusan dan implementasi, dengan penegakan peraturan yang diperlukan untuk memastikan produktivitas berkelanjutan dari suatu sumberdaya dan penyelesaian sasaran lain dalam perikanan. Dalam Code of Conduct, Paragraph 7.2.1 disebutkan bahwa tujuan utama dari manajemen perikanan adalah penggunaan sumberdaya perikanan yang tepat dalam jangka panjang. Pada garis besarnya, tujuan manajemen perikanan ini dapat dibagi dalam 4 tujuan: biologi, ekologis, ekonomis, dan sosial, dimana sosial termasuk politik dan tujuan budaya (Cochrane 2002). Contoh dari setiap tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

- Sasaran biologi, yaitu untuk memelihara spesies target sama dengan atau

diatas tingkatan yang diperlukan untuk memastikan kelangsungan produktivitasnya.

- Sasaran ekologi, untuk meminimumkan dampak penangkapan terhadap

lingkungan fisik dan pada spesies tangkapan non target (by catch), dan jenis lain yang berhubungan.

- Sasaran ekonomi, untuk memaksimalkan pendapatan bersih dari nelayan

27

- Untuk memaksimalkan peluang ketenagakerjaan bagi mereka yang hidupnya

tergantung pada perikanan, merupakan sasaran sosial.

Untuk mencapai semua tujuan tersebut sekaligus tidak mudah. Sebagai contoh untuk mengurangi dampak perikanan terhadap ekosistem sekaligus memaksimalkan pendapatan bersih adalah sulit. Meningkatkan peluang ketenagakerjaan berarti membiarkan sebanyak mungkin kegiatan perikanan yang mungkin secara ekonomis tidak efisein (Cochrane 2002). Oleh karena itu perlu menetapkan sasaran operasional, misalnya menjaga jumlah stok terus menerus diatas 50% tidak dieksploitasi (sasaran biologi).

Sasaran operasional ini dapat digunakan sebagai titik acuan (reference point)

bagi pengelola perikanan yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk

membuat strategi pengelolaan. Pendekatan hasil maksimum lestari (Maximum

Sustainable Yield, MSY) sebagai tujuan pengelolaan perikanan berarti meletakkan

target pengelolaan yang secara bersama mempertahankan keberlanjutan biologi dan memaksimumkan hasil. Katsuwaka (2004) menyatakan bahwa manajemen perikanan demikian merupakan manajemen perikanan tradisional dengan target titik acuan tunggal (spesies tunggal).

Pengelolaan perikanan dengan spesies tunggal berkaitan dengan pernyataan Gulland (1974) bahwa semua stok ikan terbatas besarnya, hanya dapat diambil terbatas banyaknya, walaupun dalam keadaan optimum sekalipun. Oleh karena itu perlu diketahui informasi mengenai stok yang bersangkutan. Berkaitan dengan pengelolaan variabel tunggal tersebut dinyatakan bahwa dalam pengelolaan sumberdaya perikanan terdapat tiga pertanyaan mendasar berkaitan dengan masalah-masalah pengelolaan yang harus dicari jawabannya yaitu:

1. Berapa besarnya stok dan berapa banyak dapat diambil setiap tahun supaya stok lestari?

2. Jika potensinya diketahui, bagaimana cara memanfaatkannya agar negara memperoleh keuntungan sebesar-besarnya?

3. Tindakan-tindakan apa yang perlu diambil untuk mencapai tujuan seperti tertera pada poin 2?

Uraian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan dengan variabel tunggal lebih banyak didasarkan pada pertimbangan biologi. Sebagaimana

dikemukakan dalam aksioma Russel yang dirujuk oleh Cochrane (2002) bahwa dalam keseimbangan populasi, rata-rata pertambahan angka pertumbuhan dan reproduksi adalah sama dengan kerugian akibat angka total kematian. Dalam suatu populasi yang tidak dieksploitasi, total kematian hanya berasal dari angka kematian alami, seperti predasi, penyakit, atau perubahan drastis dari lingkungan. Dalam populasi yang ditangkap, total angka kematian berasal dari kematian alami ditambah dengan kematian tangkapan. Pengelolaan perikanan dalam hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa angka kematian akibat penangkapan tidak melebihi jumlah dimana populasi dapat bertahan, sebagai tambahan terhadap angka kematian alami, tanpa perusakan terhadap produktivitas populasi tersebut. Oleh karena itu tidak hanya total populasi yang harus dijaga kelimpahannya atau biomasasnya, tetapi struktur umur populasi juga harus dipertahankan pada status dimana populasi tersebut bisa mempertahankan tingkatan reproduksi, sehingga terjadi rekrutmen untuk mengganti kematian.

Dua pendekatan yang umum digunakan dalam studi penelolaan sumberdaya perikanan adalah:

1. Pendekatan Struktural, yaitu pendekatan dengan cara mencoba

menjelaskan sistem sumberdaya perikanan melalui komponen- komponen yang membentuk sistem tersebut. Komponen-komponen tersebut adalah penambahan, pertumbuhan dan mortalitas. Pendekatan ini adalah yang paling ideal sampai saat ini, tetapi juga adalah yang paling mahal dan membutuhkan waktu yang cukup lama, karena untuk dapat memahami setiap komponen tersebut diperlukan penelitian- penelitian khusus yang sangat banyak macam ragamnya, mulai dari aspek-aspek biologinya secara kualitatif sampai dengan berbagai aplikasi model-model kuantitatif sebagai alat bantu studi. Bagi negara- negara maju seperti Eropa Barat, pendekatan ini merupakan pilihan yang tepat melalui kerjasama penelitian antar negara yang sama-sama memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan yang sama disamping pendekatan lain sebagai pembanding.

2. Pendekatan Global, yang mencoba menjelaskan sistem sumberdaya

29

membentuknya, melainkan berdasarkan data dan informasi yang paling mudah dikumpulkan, seperti data tangkapan, upaya tangkap, produksi dan nilai produksi serta data dan informasi lain yang dapat diperoleh melalui sistem pelaporan setiap kegiatan armada perikanan di perlabuhan-pelabuhan lapor khusus atau Tempat Pelelangan Ikan atau tempat-tempat lain yang telah ditentukan oleh negara yang bersangkutan. Kelemahan pendekatan ini adalah pada mekanisme pelaporan itu sendiri, karena manipulasi angka dapat sangat mungkin terjadi dan permasalahan ini bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah masalah klasik yang semakin dicoba memahaminya bahkan semakin rumit.

Cochrane (2002) menyatakan adanya pergeseran perhatian beberapa tahun terakhir ini dari pengelolaan perikanan dimana terpusat yang utama pada variabel tunggal atau perikanan tunggal ke pengelolaan dengan orientasi ekosistem

(Ecosystem Based Fisheries Management, EBFM). Hal ini didasari adanya

dampak dari usaha perikanan (penangkapan) terhadap ekosistem, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung penangkapan berpengaruh, baik terhadap ikan target maupun non target. Dampak langsung penangkapan terhadap ikan non target, secara tidak langsung akan mempengaruhi organisme lainnya melalui rantai makanan yang dapat berakibat adanya perubahan jumlah mangsa, pemangsa maupun pesaing dan selanjutnya berakibat ketidakseimbangan dalam ekosistem. Pemahaman tentang pengaruh tidak langsung dari penangkapan terhadap hubungan mangsa-pemangsa diperlukan untuk pengembangan model

multispesies yang valid dan untuk menentukan faktor-faktor yang mengatur

struktur komunitas ikan pada skala yang lebih besar (Jennings & Polunin 1997).

Tugas utama pengelola adalah menyusun strategi yang memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan jangka panjang, dan mencegah overfishing biologi dan ekonomi termasuk meminimalkan gangguan terhadap ekosistem (King 1995). Oleh sebab itu pengelolaan perikanan dengan berorientasi pada ekosisitem merupakan prinsip yang tidak bisa dipisahkan dalam manajemen perikanan. Pengaruh penangkapan terhadap suatu populasi akan mempengaruhi populasi yang lain dan dalam skala ruang dan waktu yang luas akan mempunyai pengaruh

terhadap lingkungan. Orientasi ekosistem dalam pengelolaan perikanan dapat digunakan untuk menguji ekosistem sebagai suatu keseluruhan dan dapat

diterapkan pada berbagai kondisi yang bersifat tidak dalam keseimbangan (no-

steady-state), atau bisa disebut sebagai model dengan orientasi modern.

Pendekatan ekosistem merupakan pendekatan yang mengikut sertakan keseluruhan komponen utama ekosistem dan berbagai jasa yang diberikannya dalam perhitungan untuk memperoleh suatu upaya pengelolaan perikanan secara

berkelanjutan (Jennings et al. 2003; Widodo dan Suadi 2006), serta dapat

diterapkan pada perikanan multi jenis. Pendekatan tersebut memadukan berbagai informasi yang tersedia seperti produktivitas primer, sumberdaya ikan, dan berbagai pola hubungan makan memakan atau rantai dan jaring makanan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh dari proses dinamis yang terjadi pada ekosistem perairan. Pengelolaan dengan pendekatan ekosistem membutuhkan informasi mengenai struktur sistem jaringan makanan untuk menentukan

keterkaitannya dengan produktivitas perairan dan perikanan. Menurut Garcia et

al. (2003), suatu pendekatan ekosistem mempertimbangkan interaksi antara

komponen fisik, biologis dan manusia yang dapat menjamin kesehatan setiap komponen termasuk di dalamnya keberlanjutan spesies yang dikelola.

Untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi kesehatan dan kondisi ekosistem,

Badan Penelitian dan Manajemen Perikanan berdasarkan Ekosistem

menganjurkan dan mendukung penggunaan model ekologi (NRC 1999; ICES

2000 in Robinson & Frid 2003). Terdapat beberapa alat yang bertujuan

memberikan penjelasan tingkatan ekosistem dan memberikan gambaran yang baik dan mewakili semua komponen ekosistem,yang dipengaruhi oleh kegiatan penangkapan ikan baik langsung ataupun tidak langsung. Penggunaan model ekosistem dinamik (dinamika ekosistem) berpotensi untuk membuat pengukuran dan prediksi yang benar tentang pengaruh kegiatan penangkapan ikan pada

ekosistem dengan perkiraan yang menyeluruh (Robinson & Frid 2003).

Pendekatan ekosistem dapat juga dilakukan dengan menduga perubahan spektrum trofik level fitoplankton melalui perubahan nutrien. Berdasarkan hasil kajian benthos melalui perubahan predasi dan persaingan, atau ikan sebagai hasil langsung mortalitas penangkapan dan secara tidak langsung oleh buangan hasil

31

samping (by cacth) dan perubahan predator-prey. Berdasarkan predator tingkat

tinggi melalui persediaan dan mortalitas langsung dari burung laut dan melalui mortalitas langsung dan perubahan sumberdaya makanan dari mamalia laut ataupun ikan.

Model-model dinamika akosistem menyediakan suatu peluang untuk dapat mengevaluasi status suatu ekosistem dan juga membuat penaksiran tentang ekosistem dibawah berbagai skenario penangkapan. Model ini juga memungkinkankan suatu pengujian dari tingkah laku matriks ekosistem seperti perubahan aliran energi atau rata-rata trofik level, agar dapat dengan mudah

diterjemahkan ke dalam reference point (poin-poin acuan) yang mudah dipahami.

Melalui pemodelan sistem memungkinkan untuk memperoleh suatu pemahaman menyangkut efek tidak langsung dan untuk mengembangkan matriks ekosistem sebagai dasar dari poin-poin acuan yang diperlukan dalam pengelolaan.

Berdasarkan berbagai literatur, terdapat 33 model terapan multispesies

ekosistem laut. ICES Working Group in Robinson & Frid (2003)

mengkategorikan model berdasarkan pengaruh penangkapan terhadap ekosistem menjadi tujuh kategori model seperti berikut:

1. Model berdasarkan habitat, meliputi penjelasan bagaimana kegiatan

penangkapan merubah total ukuran habitat. Model berdasarkan pada matrik komunitas. Model ini menggambarkan bagaimana matriks tingkat komunitas berubah sebagai respon terhadap penangkapan.

2. Model single-species dengan variabel mangsa-pemangsa, yaitu reaksi umpan

balik trofik searah pada model single-species dinamis akibat suatu gangguan

perikanan.

3. Model produksi multispesies, yang menunjukkan bagaimana penangkapan

terhadap predator atau prey akan berpengaruh pada kelimpahan masing-

masing.

4. Model multispesies dinamik, dapat menggabungkan dinamika spasial atau

struktur umur/ukuran populasi ke dalam perubahan dalam interaksi predator-

5. Model agregat ekosistem, bagian dari jejaring makanan dan pembelanjaan energi, menggambarkan perubahan energi, karbon atau biomasa fungsi agregat kelompok spesies.

6. Model ekosistem dengan struktur umur/ ukuran. Berbeda dengan model

agregat ekosistem dimana fungsi kelompok individu secara umum dikurangi aggregat dan disini memiliki penyelesaian temporal terbesar dalam dinamika.

Berdasarkan penggolongan model aplikasi tersebut, Robinson & Frid (2003) melakukan penilaian dan mendapatkan sembilan kelompok fungsional penting dalam pengkajian dampak ekologi dari kegiatan penangkapan. Sembilan kelompok fungsional tersebut adalah detritus, nutrien, produser primer, bentos, ikan target, ikan non taget, elasmobranchi, burung laut, dan mamalia laut. Model- model tersebut juga dikaji dengan menambahkan beberapa faktor yang menjadi dasar aturan dalam ekosistem laut dan dalam penggolongan peranan prediksi proses ekologi (contoh simulasi, ruang, hasil perikanan/kematian).

Berdasarkan analisa yang dilakukan, disebutkan bahwa model Ecopath with

Ecosim (EwE) yang merupakan perluasan model Beverton dan Holt sangat sesuai

untuk membantu investigasi secara lebih mendalam. Metode ini didasarkan pada

keseimbangan biomasa (biomass balance). Dengan mengetahui kelompok-

kelompok yang menjadi bagian suatu ekosistem, dapat diestimasi alur biomasa dari rantai makanan dalam ekosistem tersebut. Asumsi model ini adalah bahwa antara produksi (penambahan) dan mortalitas (pengurangan) biomasa di dalam suatu ekosistem, terdapat suatu keseimbangan. Secara umum dalam Ecopath diperlukan input 4 parameter, yaitu biomasa (B), perbandingan produksi/biomasa

(P/B), perbandingan konsumsi/biomasa (Q/B) dan efisiensi ecothropic (EE), pada

3 METODE PENELITIAN