BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
2. Pengelompokan
a. Pengertian Pengelompokan
1) Sherif dan Sherif menyatakan bahwa :
“Kelompok adalah suatu unit sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu yang khas bagi kelompok itu”.
2) Menurut Roland Freedman
“Kelompok adalah organisasi terdiri atas 2 (dua) atau lebih individu-individu yang tergantung oleh ikatan-ikatan suatu sistem ukuran-ukuran kelakukan yang diterima dan disetujui oleh semua anggota-anggotanya”.
3) Menurut Park dan Burgess :
“Kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki kegiatan yang konsisten”.15
Dari pengertian diatas dari beberapa para ahli mengenai kelompok dapat disimpulkan bahwa kelompok yaitu suatu organisasi yang terbentuk dari dua orang atau lebih yang memiliki tujuan atau keingin yang sama untuk dapat memenuhi atau mewujudkan suatu tujuan bersama.
b. Timbulnya Kelompok
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi. Terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain, sama-sama memiliki motif dan tujuan. Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam suatu hubungan fungsional satu sama lain inilah yang akan membentuk suatu kelompok. “Suatu kelompok yang telah terbentuk cenderung untuk memiliki ciri-ciri tertentu.”16
Masuknya seorang ke dalam kelompok itu disebabkan karena
15 Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta, PT. MELTON PUTRA, 1991)edisi revisi,hal:94 16
1. Paksaan : tahanan, narapidana, dan sebagainya.
2. Otomatis atau dengan sendirinya : sebagai anggota keluarga, kelompok seks yang sejenis dan sebagainya.17
Sebab seseorang masuk dalam kelompok terdiri dari dua yaitu akibat dari paksaan dan otomatis. Sebab dari paksaan yaitu dapat diartikan bahwa seseorang masuk kedalam kelompok tersebut karena paksaan orang lain atau pun paksaan dari hasil perbuatan mereka yang dilakukan. Sedangkan sebab seseorang masuk ke dalam kelompok karena otomatis yaitu seseorang masuk kedalam kelompok tersebut karena memang keinginan mereka dan sesuai dengan tujuan mereka.
c. Sebab-sebab pembentukan kelompok
Dengan adanya unsur sistem nilai yang banyak menentukan jalan interaksi sosial, maka jelaslah bahwa pembentukan setiap kelompok ditentukan oleh beberapa faktor lain pula, yaitu faktor : 1) Waktu dan zaman
2) Sebab dan tujuan pembentukannya 3) Sifat dari anggota-anggotanya
4) Cara pembentukan kelompok (dengan paksaan, kebetulan ataupun sukarela)
Bierens De Haan mengatakan, bahwa suatu kelompok memperoleh bentuknya dari kesadaran akan keterikatan yang ada pada anggota-anggotanya.
“kelompok tidak merupakan jumlah anggota-anggotanya saja melainkan adalah suatu kenyataan yang ditentukan oleh datang-perginya anggota-anggotanya... kenyataan kelompok ditentukan oleh nilai-nilai yang dihayati bersama, oleh fungsi kelompok
sebagaimana disadari anggotanya”
17
Nyatalah bahwa suatu kelompok bukan merupakan jumlah anggotanya saja, akan tetapi mempunyai suatu ikatan psychologis. Pemikiran dahulu bahwa kelompok terbentuk karena manusia sadar tak dapat menyelesaikan ataupun mencapai tujuannya sendiri, ternyata terlalu melihat segi rasionalnya manusia. Kemajuan Ilmu Jiwa Sosial membuktikan, bahwa adalah suatu kebutuhan psycologis manusia untuk mempunyai dan digolongkan
pada suatu kelompok, tempat ia “berlindung” dan merasa aman.18
3. Ilmu Pengetahuan Alam
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Pengertian ilmu pengetahuan alam ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiyahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus ilmu pengetahuan alam atau sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa “sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu”. Sains
merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “real Science is both product and process, inseparably joint” Sains
sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhirnya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Kedudukan ilmu pengetahuan alam adalah ilmu berkembang dengan pesat, yang pada dasarnya ilmu berkembang dari dua cabang utama yaitu filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi menjadi dua kelompok yaitu ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences).
Ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan ilmu hayat mempelajari
18 Phill Astrid S.Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung, Binacipta, 1977)cet 1, hal:46
makhluk hidup didalamnya. Ilmu alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika(mempelajari masa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit dan ilmu bumi)(the earth sciences) yang mempelajari bumi kita.19
Jadi dapat disimpulkan pengertian dari Ilmu Pengetahuan Alam yaitu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar serta gejala-gejala alam.
4. Ilmu Pengetahuan Sosial
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu pengetahuan sosial merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi yang
identik dengan istilah “social studie” dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara-negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat.20 Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkaan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya). IPS atau studi sosial merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.21
IPS sebagai ilmu pengetahuan baru mulai diketengahkan dalam kurikulum sekolah tahun 1975 (SMP-SMA) dan tahun 1976 (SPG). Mata pelajaran ini berperan memfungsionalkan dan merealisasikan ilmu-ilmu sosial yang bersifat teoritik ke dalam dunia kehidupan nyata di masyarakat. Melalui pembelajaran IPS
19
http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmu_alam diunduh 4 Agustustus 2014,08:45WIB 20
Sapriya, Konsep Dasar IPS,(Bandung: UPI PRESS,2006)Cet.1,hal.3
21 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu:Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam KTSP,(Jakarta:Bumi Aksara,2011),Cet. Ketiga,h.172.
siswa mampu membawa dirinya secara dewasadan bijak dalam kehidupan nyata di masyarakat sebagai insan sosial.22
IPS merupakan padanan dari sosial Studies dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat. Istilah tersebut pertama kali digunakan di AS pada tahun 1913 mengadopsi nama lembaga Sosial Studies yang mengembangkan kurikulum di AS . Kurikulum pendidikan IPS tahun 1994 sebagaimana yang dikatakan oleh Hamid Hasan (1990), merupakan difusi dari berbagai disiplin ilmu.23
Rumusan tentang pengertian IPS telah banyak dikemukakan oleh para ahli IPS atau social studies. Disekolah-sekolah Amerika pengajaran IPS dikenal dengan sosial studies. Jadi istilah IPS merupakan terjemahan sosial studies. Dengan
demikian IPS dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat.” Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat
melakukan kajian dari berbagai prespektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang IPS, maka penting untuk dikemukakan beberapa pengertian social studies dan IPS menurut para ahli.
1) Edgar B Wesley menyatakan bahwa “social studies are the social sciences simplified for paedagogieal purposes in school. The social studies consist of geografy history, economic, sociology, civics and various combination of these subjects”.
2) Jihn Jarolimek mengemukakan bahwa The social studies as part of elementary school curriculum draw subject-matter content from the social science, history, sociology, political
22
Sapriya, Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS, (Bandung: UPI PRESS,2006) cet.1,hal.3
23 Etin Solihatin, dan Raharjo, Cooperative Learning (Analisis Model Pembelajaran IPS),(Jakarta: Bumi Aksara,2008), Ed 1, Cet. 3,h.14
science, social psychology, philosophy, antropology, and
economic. The social studies have been defined as “those
portion of the social science... selected for instructional
purposes”24
b. Pendekatan yang digunakan Dalam Pembelajaran IPS
Adapun pendekatan-pendekatan yang dipergunakan dalam pembelajaran IPS baik dalam mengembangkan program maupun metode pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1) Siswa sentris, dimana faktor siswa yang diutamakan.
2) Kemasyarakatan sentris, (Community Oriented), dimana masalah kehidupan nyata (rill) dan masyarakatan yang dijadikan sumber dan bahan serta tempat pembelajaran. 3) Ekosistem, dimana faktor lingkungan baik fisik maupun
budayanya selalu dijadikan pertimbangan dalam pembelajaran IPS.
4) Bersifat meluas (Komprehensif – Broadfield, Multidimensional) dengan pola pengorganisasian bahan yang terpadu (integrated).25
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan dalam pembelajaran IPS disini meliputi siswa sentris yaitu dimana siswa dijadikan yang utama untuk memperoleh pengetahuan siswalah yang dituntut untuk mencari jawaban dari masalah yang ada, tidak terpaku sumbernya dari guru saja. Jadi siswa ikut aktif dalam pembelajaran. Kemudian kemasyarakatan sentris yaitu masyarakat yang dijadikan sumber dan bahan untuk pembelajaran. Dengan mencari fakta yang nyata dari kehidupan bermasyarakat. Lalu ekosistem yang dilibatkan langsung baik fisik maupun budayanya dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pembelajaran IPS. Dan yang terakhir yaitu bersifat meluas, dalam artian pola pengorganisasiannya yang meluas.
24
Nadir, dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial 1, (Surabaya: Amanah Pustaka, 2009),Edisi Pertama h.1-9
25