• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit 40

Dalam dokumen P D R B Produk Domestik Regional Bruto (Halaman 46-57)

Bab II Metodologi

3.2 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit 40

Lembaga Non Profit (LNP) sebagai lembaga independen perkembangannya sampai saat ini terus bermunculan berbagai jenis LNP, baik yang didirikan oleh perorangan, kelompok masyarakat, pemerintah, maupun oleh kalangan dunia usaha dengan berbagai motivasi yang melatarbelakanginya. Beberapa lembaga yang didirikan atas dasar kemanusiaan, seperti Bulan Sabit Merah Indonesia, Dompet Dhuafa, dan Yayasan Kanker Indonesia. Sebagian lembaga didirikan dengan tujuan untuk menyejahterakan kelompok masyarakat yang membutuhkan, seperti lembaga penyelenggara panti, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga keagamaan. Adapun lembaga lainnya didirikan dengan motivasi untuk meningkatkan daya tarik kelompok tertentu dalam bidang bisnis maupun politik, seperti asosiasi bisnis, organisasi kemasyarakatan dan partai politik.

Pada umumnya lembaga ini selalu mendapat dukungan dari pemerintah dan berbagai lembaga donor nasional dan internasional. Pada periode 2009-2012 kontribusi pengeluaran konsumsi Lembaga Non Profit terhadap PDRB Kota Bandung merupakan yang paling kecil dibandingkan dengan komponen lainnya, yaitu sekitar 0,31 – 0,34 persen dari nilai total PDRB. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun pemerintah selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang dikembangkan oleh lembaga ini namun perkembangannya belum mampu mendongkrak perkembangan ekonomi Kota Bandung secara agregat jika dibandingkan dengan komponen-komponen penyusun PDRB yang lain.

Sepanjang periode 2009-2011 nilai pengeluaran konsumsi LNP selalu di bawah 300 miliyar rupiah dengan laju pertumbuhan di bawah 7,5 persen, sedangkan pada tahun 2012 nilainya merupakan yang paling tinggi yaitu mencapai 348,04 miliyar rupiah dengan laju pertumbuhan 14,97 persen. Hal ini dikarenakan pada tahun 2012 partai-partai politik mulai menggerakan seluruh mesin politik sehingga banyak mengeluarkan dana untuk kegiatan sosialisasi menyambut Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat serta pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bandung periode 2013-2018 yang akan berlangsung pada tahun 2013.

Tabel 4.Agregat PDRB Komponen Pengeluaran Konsumsi LNP Kota Bandung Tahun 2009 - 2012

Uraian 2009 2010 2011*) 2012**)

[1] [2] [3] [4] [5]

1. Pengeluaran Konsumsi LNP atas dasar harga

berlaku (milyar rupiah) 241,33 262,77 298,98 348,04 2. Distribusi Konsumsi LNP

Terhadap PDRB (%) 0,34 0,32 0,31 0,31 3. Pengeluaran Konsumsi

LNP atas dasar harga

konstan (milyar rupiah) 155,02 163,95 175,96 202,29 4. Pertumbuhan Pengeluaran

Konsumsi LNP (%) 3,35 5,77 7,32 14,97

Sumber : BPS Kota Bandung *) Angka Perbaikan

3.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

Pengeluaran konsumsi pemerintah berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah. Ketika pemerintah menetapkan suatu kebijakan untuk pengadaan barang dan jasa, maka konsumsi pemerintah merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Disamping itu dalam menjalankan kegiatan sehari-hari pemerintah membutuhkan anggaran yang digunakan untuk keperluan belanja rutin pegawai dan keperluan pembiayaan pembangunan. Besar kecilnya pengeluaran konsumsi Pemerintah dipengaruhi oleh komponen belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal serta belanja pemerintah lainnya. Peran yang dimiliki oleh pemerintah ini digunakan terutama untuk membiayai kegiatan-kegiatan pelayanan yang tidak dapat dilakukan oleh pihak swasta. Jumlah pengeluaran pemerintah ini merupakan salah satu komponen penting dari PDRB.

Selama periode tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 pengeluaran pemerintah secara nominal semakin membesar dari tahun ke tahunnya sesuai dengan peningkatan pada APBD dan APBN. Kontribusi Konsumsi Pemerintah terhadap PDRB Kota Bandung pada periode tersebut terus mengalami peningkatan, tahun 2009 kontribusinya sebesar 7,69 persen kemudian naik menjadi 8,32 persen pada tahun 2010. Pada tahun 2011 dengan pengeluaran sebesar 8.720,53 miliyar rupiah, konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 9,12 persen terhadap PDRB Kota Bandung dan pada tahun 2012 kontribusinya mencapai 9,95 persen dengan nilai 11.055,74 miliyar rupiah.

Tabel 5.Agregat PDRB Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Kota Bandung Tahun 2009 – 2012

Uraian 2009 2010 2011*) 2012**)

[1] [2] [3] [4] [5]

1. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah atas dasar harga berlaku (milyar

rupiah) 5.404,46 6.822,23 8.720,53 11.055,74 2. Distribusi Konsumsi

Pemerintah Terhadap

PDRB (%) 7,69 8,32 9,12 9,95 3. Pengeluaran Konsumsi

Pemerintah atas dasar harga konstan (milyar

rupiah) 2.993,23 3.432,05 3.858,22 4.569,21 4. Pertumbuhan Pengeluaran

Konsumsi Pemerintah

(%) 8,01 14,66 12,42 18,43

Sumber : BPS Kota Bandung *) Angka Perbaikan

**) Angka Sementara

Laju pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah secara riil

pada periode 2009-2012 cukup berfluktuatif. Pada tahun 2009 laju

pertumbuhannya sekitar 8,01 persen, kemudian meningkat pada tahun

2010 menjadi 14,66 persen. Pada tahun 2011 pertumbuhan konsumsi

pemerintah mengalami perlambatan yaitu menjadi 12,42 persen, hal ini

merupakan salah satu dampak dari adanya moratorium PNS oleh

pemerintah pada tahun 2011. Pada tahun 2012 laju pertumbuhan

pengeluaran konsumsi pemerintah kembali mengalami peningkatan

hingga mencapai 18,43 persen.

2009 2010 2011 2012 8,01 14,66 12,42 18,43 laju pertumbuhan 2009 2010 2011 2012 7,69 8,32 9,12 9,95 Share

Tabel 5. Agregat PDRB Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Kota Bandung Tahun 2009-2012

Uraian 2009 2010 2011*) 2012**) [1] [2] [3] [4] [5] 1. PMTB atas dasar harga berlaku (milyar rupiah) 19.406,93 23.788,69 27.955,84 33.841,28 2. Distribusi PMTB Terhadap PDRB (%) 27,61 29,01 29,24 30,45 3. PMTB atas dasar harga konstan (milyar rupiah) 8.425,72 8.947,92 9.668,89 10.757,20 4. Pertumbuhan PMTB (%) 4,95 6,20 8,06 11,26

Sumber : BPS Kota Bandung *) Angka Perbaikan

**) Angka Sementara

Nilai PMTB pada periode 2009-2012 selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 senilai 19.406,93 miliyar rupiah, kemudian naik tahun 2010 senilai 23.788,69 miliyar rupiah. Pada tahun 2011 kembali mengalami peningkatan menjadi 27.955,84 miliyar rupiah dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan cukup besar hingga mencapai 33.841,28 miliyar rupiah. Jika dilihat dari laju pertumbuhannya riilnya, selama periode 2009-2012 PMTB Kota Bandung terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 laju pertumbuhannya sebesar 4,95 persen, kemudian pada tahun 2010 meningkat menjadi 6,20 persen, tahun 2011 kembali meningkat menjadi 8,06 persen dan pada tahun 2012 laju pertumbuhannya mencapai 11,26 persen. Hal ini terjadi karena pada tahun 2012 banyak terjadi pembangunan fisik di Kota Bandung seperti

13,09 8,27 11,72 8,87 Laju Pertumbuhan Bangun an 51,33% Mesin 16,18% Transp ortasi 11,43% Lainnya 21,06%

memiliki kontribusi sebesar 16,18 persen dan 11,43 persen terhadap PMTB Kota Bandung.

Pada tahun 2012 terjadi kenaikan laju pertumbuhan investasi pada semua jenis barang modal. Laju pertumbuhan pada investasi bangunan mengalami kenaikan sebesar 13,09 persen dan merupakan yang paling tinggi di antara barang modal lainnya. Laju pertumbuhan pada investasi transportasi sebesar 11,72 persen, mesin sebesar 8,27 persen dan laju pertumbuhan barang modal lainnya sebesar 8,87 persen.

Tabel 6. PMTB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Jenis Investasi di Kota Bandung Tahun 2009-2012 (Milyar Rupiah)

Uraian 2009*) 2010*) 2011*) 2012**)

[1] [2] [3] [4] [5]

Atas Dasar Harga Berlaku

1. Bangunan 9.567,34 11.883,04 14.075,14 17.371,09 2. Mesin 3.215,18 4.030,65 4.624,28 5.476,92 3. Angkutan 2.377,13 2.818,86 3.197,54 3.867,82 4. Lainnya 4.247,28 5.056,15 6.058,88 7.125,45 Total PMTB 19.406,93 23.788,69 27.955,84 33.841,28

Atas Dasar Harga Konstan

1. Bangunan 4.226,60 4.488,86 4.879,24 5.517,70 2. Mesin 1.411,39 1.492,83 1.5293,15 1.724,90 3. Angkutan 1.060,93 1.124,91 1.211,19 1.353,14 4. Lainnya 1.725,64 1.841,32 1.985,30 2.161,46 Total PMTB 8.425,72 8.947,92 9.668,89 10.757,20

Sumber : BPS Kota Bandung *) Angka Perbaikan

3.5 Perubahan Stok

Perubahan stok merupakan salah satu pendukung utama dalam proses produksi, dimana ketika tidak ada pemantauan terhadap jumlah stok dapat mengakibatkan berhentinya proses produksi. Namun di sisi lain, jika stok terlalu banyak juga akan mempengaruhi besarnya biaya stok yang harus dikeluarkan.

Gambar 5: Perubahan Stok Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan Tahun 2009-2012 (Miliyar Rupiah)

Pada tahun 2009 nilai perubahan stok Kota Bandung sebesar 2.876,48 miliyar rupiah, kemudian meningkat menjadi 3.030,85 miliyar rupiah pada tahun 2010. Nilai perubahan stok pada tahun 2011 sebesar 3.269,31 miliyar rupiah dan 3.563,93 miliyar rupiah pada tahun 2012. Pada periode 2009-2012 meskipun terjadi peningkatan pada nilai

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 2009 2010 2011 2012 ADHB ADHK

perubahan stok, kontribusi perubahan stok terhadap PDRB Kota Bandung cenderung mengalami penurunan yaitu 4,09 persen pada tahun 2009 menjadi 3,70 persen pada tahun 2010, 3,42 persen pada tahun 2011 dan hanya 3,21persen pada tahun 2012.

Ditinjau dari laju pertumbuhannya, selama periode 2009-2012 perubahan stok terus mengalami percepatan. Pada tahun 2009 laju pertumbuhannya hanya 1,08 persen, tahun 2010 meningkat sebesar 3,74 persen. Pada tahun 2011 laju pertumbuhannya kembali meningkat menjadi 4,87 persen dan mencapai 5,78 persen pada tahun 2012.

3.6 Ekspor dan Impor

Dalam perekonomian dengan sistem terbuka memungkinkan terjadinya transaksi perdagangan antar wilayah. Demikian juga halnya dengan perekonomian Kota Bandung. Setiap transaksi yang dilakukan oleh penduduk Kota Bandung di luar wilayah Kota Bandung tergolong impor (mengimpor barang dan jasa ke Kota Bandung), sedangkan transaksi yang dilakukan oleh penduduk luar Kota Bandung di wilayah Kota Bandung termasuk sebagai ekspor (mengekspor barang dan jasa ke luar Kota Bandung). Untuk menilai transaksi ekspor impor antar wilayah Kabupaten dengan Kota Bandung relatif sulit untuk dilakukan, karena sampai saat ini belum ada pencacatan untuk transaksi ini. Adapun data ekspor impor yang cukup tersedia datanya adalah ekspor impor untuk antar negara, yaitu dari Kota Bandung ke luar negeri atau impor dari luar negeri ke Kota Bandung.

Gambar 6: Laju Pertumbuhan Ekspor dan Impor Kota Bandung Tahun 2009-2012 (Persen)

Nilai ekspor dan impor Kota Bandung dari tahun 2009 hingga tahun 2012 memiliki tren impor lebih besar daripada ekspor, sehingga net ekspor selalu bernilai negatif. Nilai ekspor dan impor yang dimaksud dalam publikasi ini termasuk nilai transaksi yang terjadi antar kabupaten/kota dengan Kota Bandung.

Dari Gambar 6 terlihat bahwa laju pertumbuhan antara ekspor dan impor berjalan beriringan. Laju pertumbuhan ekspor dan impor selama periode 2009-2012 cukup berfluktuatif. Pada tahun 2009 laju ekspor sebesar 4,85 persen dan laju impor 2,39 persen, kemudian mengalami perlambatan pada tahun 2010 yaitu ekspor 1,14 persen dan impor 2,16 persen. Laju pertumbuhan ekspor dan impor terus mengalami peningkatan hingga tahun 2012 mencapai 4,66 persen untuk ekspor dan 7,20 persen untuk impor.

4,85 1,14 2,97 4,66 2,39 2,16 4,68 7,20 2009 2010 2011 2012 Ekspor Impor

Dalam dokumen P D R B Produk Domestik Regional Bruto (Halaman 46-57)

Dokumen terkait