PELAKSANAAN APBN 1969/1970
2.3. Anggaran Pembangunan 1. Penerimaan Pembangunan
2.3.2. Pengeluaran Pembangunan
Prosedur Pembiayaan Pembangunan
Dalam tahun anggaran 1969/1970, prosedur pembiayaan pembangunan mengalami perubahan jika dibandingkan dengan prosedur pembiayaan pembangunan dalam tahun sebelumnya. Prosedur pembiayaan yang berlaku dalam tahun-tahun anggaran 1969/1970 ini adalah sebagai berikut :
(1) Departemen-departemen mengajukan Daftar Isian Proyek (DIP) kepada Departemen Keuangan dan Bappenas. Daftar Isian Proyek memuat program dan rencana biayanya untuk satu proyek/sub-proyek guna keperluan satu tahun, diperinci per triwulan. Untuk tiap proyek/su-proyek dibuat DIP tersendiri.
(2) Departemen Keuangan bersama-sama dengan Bappenas mengadakan penelaahan mengenai DIP yang diajukan oleh Departemen-departemen.
(3) DIP yang telah disetujui disahkan oleh Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas dan dikirimkan aslinya kepada Menteri yang bersangkutan, sedangkan copynya dikirimkan kepada Kantor Bendahara Negara di daerah lokasi proyek.
(4) Setelah menerima DIP yang telah disahkan, Menteri yang bersangkutan mengeluarkan SKO (Surat Keputusan Otorisasi) yang aslinya dikirimkan kepada Kantor Bendahara Negara yang bersangkutan, sedangkan copynya dikirimkan kepada pelaksana proyek.
(5) Pelaksana proyek mengajukan permintaan uang kepada Kantor Bendahara Negara setempat.
(6) Setelah ditelaah, Kantor Bendahara Negara memberikan uang kepada pelaksana proyek menurut kebutuhan.
(7) Untuk proyek-proyek yang dibiayai melalui Bank, pelaksana proyek mengajukan permintaan kredit kepada Bank yang akan membiayai proyeknya. Setelah ditelaah dan memenuhi ketentuan-ketentuan bank, maka bank yang bersangkutan memberikan kreditnya.
Prosedur pembiayaan pembangunan yang baru ini berbeda dengan prosedur yang terdahulu dalam hal-hal sebagai berikut :
(1) Untuk tiap-tiap proyek/sub-proyek, pembiayaannya harus didasarkan pada DIP.
Dengan DIP ini paling sedikit telah ada rencana proyek-proyek baik mengenai fisik maupun keuangannya. Selanjutnya dengan DIP ini dapat disusun pula perencanaan penyediaan biaya menurut daerah-daerah lokasi proyek. DIP tersebut juga akan dapat dipergunakan sebagai alat pengawasan, baik secara preventif oleh Kantor-kantor Bendahara Negara, yaitu sebelum mengeluarkan uang, maupun secara represif oleh unit-unit pengawasan, yaitu untuk meneliti apakah rencana telah dilaksanakan sebagaimana mestinya.
(2) Penerbitan SKO lebih disederhanakan. Kalau dalam tahun-tahun yang lalu untuk menerbitkan otorisasi guna pembiayaan pembangunan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Departemen Keuangan, cq. Direktorat Jenderal Anggaran, maka dengan prosedure yang baru ini masing-masing Departemen dapat menerbitkan SKO atas dasar DIP yang telah disahkan olehMenteri Keuangan dan Ketua Bappenas, tanpa pengesahan lagi dari Direktorat Jenderal Anggaran. Dengan begini diharapkan bahwa pelaksanaan pembiayaan dapat lebih diperlancar karena satu mata rantai telah dikurangi.
(3) Dengan adanya DIP dan otorisasi yang diterbitkan sendiri oleh masing-masing Departemen, maka pembiayaan pembangunan dapat disesuaikan menurut kebutuhan pada tiap-tiap triwulan. Pelaksana-pelaksana proyek dapat menerima pembiayaan pada Kantor-kantor Bendahara Negara di daerah lokasi proyeknya.
Realisasi Pembiayaan Pembangunan
Anggaran induk untuk belanja pembangunan tahun anggaran 1969/1970 berjumlah Rp 123,4 milyar, diantaranya Rp 36,2 milyar berupa bantuan
40
proyek/bantuan teknis dan Rp 87,2 milyar terdiri dari nilai lawan bantuan luar negeri yang di BE-kan dan dari tabungan Pemerintah.
Penggunaan dari anggaran belanja pembangunan tahun 1969/1970 tersebut diats direncanakan untuk proyek bidang ekonomi sebanyak Rp 94,4 milyar (76,5%), bidang sosial sebanyak Rp 19,6 milyar (15,9%), dan bidang umum sebesar Rp 9,4 milyar (7,6%).
Dari jumlah biaya pembangunan Rp 87,2 milyar yang pembiayaannya diperoleh dari bantuan luar negeri yang di BE-kan dan dari tabungan pemerintah tersebut di ats, direncanakan Rp 73,3 milyar disalurkan melalui Kantor-kantor Bendahara Negara, Rp 4,0 milyar untuk pembangunan bidang Hankam, Rp 7,3 milyar disalurkan melalui bank-bank Pemerintah dan Rp 2,6 milyar untuk subsidi (bantuan) desa yang penyalurannya melalui Bank Rakyat Indonesia.
Berdasarkan angka-angka sementara, realisasi anggaran belanja pembangunan selama semester I (April sampai dengan September 1969) tahun anggaran 1969/1970 dapat disimpulkan sebagai berikut (dalam milyar Rp) :
(1) Pembiayaan melalui KBN-KBN 21,0 (2) Pembiayaan pembangunan Hankan 2,0 (3) Pembiayaan pembangunan yang
disalurkan melalui perbankan 3,0
(4) Subsidi desa 2,0
(5) Lain-lain pengeluaran dan pengeluaran
yang berasal dari tahun anggaran yang lalu 2,6 Jumlah 30,6
Angka-angka tersebut di atas adalah untuk anggaran pembangunan yang dibiayai dari nilai lawan bantuan luar negeri yang di BE-kan dan dari tabungan pemerintah.
Angka realisasi pembiayaan pembangunan melalui KBN-KBN tersebut di atas adalah berdasarkan realisasi pengeluaran SPM (Surat Perintah Membayar) yang dikeluarkan oleh KBN-KBN dan yang dilaporkan sampai dengan akhir September 1969.
SKO-SKO (Surat Keputusan Otorisasi) yang diterima oleh KBN-KBN selama semester I tahun anggaran 1969/1970 ini telah mencapai jumlah kira-kira Rp 26,8 milyar.
Pelaksanaan anggaran pembangunan di dalam tahun anggaran yang lalu telah mengalami beberapa kelambatan yang disebabkan oleh beberapa faktor :
(1) Penyusunan daripada program yang harus dinyatakan di dalam DIP (Daftar Isian Proyek) merupakan hal yang baru. Hal ini telah memerlukan waktu yang agak lama sehingga baru dapat diselesaikan di dalam triwulan I daripada tahun anggaran 1969/1970.
(2) Di dalam pelaksanaan daripada dropping uang yang telah dipergunakan prosedur baru dengan tujuan untuk mempercepat pembiayaan dan pencapaian ketepatan (doelmatigheid) yang sebesar-besarnya. Inipun memerlukan waktu untuk penyesuaiannya.
(3) Pelaksanaan daripada proyek-proyek pada umumnya dilaksanakan dengan sistim tender dan voorfinanciering, artinya pelaksanaan proyek-proyek terlebih dahulu ditawarkan secara terbuka kepada kontraktor-kontraktor dan bila telah disetujui, pembiayaannya dilakukan lebih dahulu oleh kontraktor. Pembayaran oleh proyek-proyek baru dilakukan bila pekerjaan seluruhnya atau sebagian telah selesai.
(4) Berhubung banyaknya proyek-proyek yang harus dilakukan di daerah-daerah di mana ada kemungkinan tidak terdapatnya kontraktor-kontraktor yang memenuhi syarat atau tidak terdapatnya bahan-bahan yang diperlukan menurut program yang telah ditentukan, maka biasanya terpaksa dicarikan kontraktor-kontraktor dari daerah lain yang kemungkinan besar jauh letaknya dari tempat/lokasi proyek.
Dengan sendirinya keadaan ini memerlukan waktu yang lebih lama di dalam pelaksanaannya.
Kalau diperhatikan perkembangan pembiayaan pembangunan melalui KBN-KBN dalam triwulan I dan triwulan II tahun anggaran 1969/1970, maka terlihat bahwa pembiayaan pembangunan dalam triwulan II tahun 1969/1970 mencapai kira-kira tiga kali lebih banyak daripada pembiayaan dalam triwulan I tahun 1969/1970.
Jadi telah menunjukkan perkembangan yang berarti.
Jika dilihat angka-angka mengenai pelaksanaan pembiayaan pembangunan melalui KBN-KBN, maka dapat disimpulkan bahwa dari realisasi pembiayaan pembangunan selama semester I tahun 1969/1970 sebesar Rp 21,0 milyar tersebut di atas (tidak termasuk subsidi desa), Rp 16,6 milyar (79,2%) adalah untuk proyek-proyek di bidang ekonomi, Rp 3,1 milyar (14,7%) adalah untuk proyek-proyek-proyek-proyek di bidang sosial dan Rp 1,3 milyar (6,1%) adalah untuk proyek-proyek di bidang umum.
42
Kalau angka-angka realisasi pembiayaan pembangunan selama semester I tahun anggaran 1969/1970 tersebut di atas dibandingkan dengan anggaran pembangunan induk tahun 1969/1970 (di luar bantuan proyek dan bantuan teknis), maka untuk masing-masing bidang dapat diperoleh gambaran sebagai berikut :
(1) Pembiayaan melalui KBN-KBN :
- Bidang Ekonomi, telah dikeluarkan 33% dari anggaran induk 1969/1970 - Bidang Sosial, telah dikeluarkan 17% dari anggaran induk 1969/1970 - Bidang Umum, telah dikeluarkan 25% dari anggaran induk 1969/1970
(2) Pembiayaan pembangunan Hankam, telah dikeluarkan 50% dari anggaran induk 1969/1970.
(3) Pembiayaan yang disalurkan melalui perbankan telah dikeluarkan 43% dari anggaran induk 1969/1970.
(4) Subsidi Desa, telah dikeluarkan 77% dari anggaran induk 1969/1970.
Dari angka-angka tersebut di atas dapat dilihat bahwa realisasi pembiayaan pembangunan selama semester I tahun anggaran 1969/1970 ini telah diarahkan sebagian terbesar pada bidang ekonomi sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun dan dalam APBN 1969/1970.
Dengan berhasilnya PEPERA, maka khusus untuk daerah Irian Barat Pemerintah telah menyediakan pembiayaan pembangunan sebesar Rp 3,1 milyar.
I. Penerimaan Rutin 113,0 228,0
A. Pajak Langsung 41,3 91,2
1. Pajak Pendapatan 5,7 15,5
2. Pajak Perseroan 8,1 15,0
3. Pajak Perseroan Minyak 20,1 48,7
4. MPO 1) 7,3 11,5
5. Lain-lain 0,1 0,5
B. Pajak Tidak Langsung 70,3 134,3
1. Pajak Penjualan 7,2 12,0
2. Pajak Penjualan Impor 7,5 10,0
3. Cukai 15,1 28,2
4. Bea Masuk 28,0 60,0
5. Pajak Devisa Ekspor 3,8 7,0
6. Penerimaan minyak lainnya 7,0 14,1
7. Lain-lain 1,7 3,0
C. Penerimaan non-tax 1,4 2,5
II. Penerimaan Pembangunan 25,02) 99,4
1. Kredit Luar Negeri 25,0 63,2
2. Bantuan Proyek p.m 3) 36,2
Jumlah Penerimaan 138,0 327,4
Sumber : Departemen Keuangan RI
1) Sudah termasuk hasil MPO yang dipungut oleh pabean Jenis Penerimaan Semester I
(Realisasi)
APBN 1969/1970 Tabel 2.1
REALISASI DAN PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA APBN 1969/1970
(Milyar Rupiah)
I. Rutin 102,2 204,0 1. Belanja Pegawai/Pensiun 38,4 93,4
Tunjangan beras in natura 6,1 26,5
Tunjangan beras dalam uang 5,5 12,0
Gaji/Upah/Pensiun 23,1 48,5
Pengeluaran dalam negeri lainnya 2,1 2,0
Pengeluaran luar negeri 1,6 4,4
2. Belanja Lauk Pauk 5,2 13,8
3. Belanja Barang 19,9 36,7
Pengeluaran Dalam Negeri 16,9 27,4
Pengeluaran Luar Negeri 3,0 9,3
4. Subsidi Daerah Otonom 28,8 41,4
Irian Barat 4,9 8,0
Daerah Otonom lainnya 23,9 33,4