3.1. Pendahuluan
Seperti telah dikemukakan di atas, anggaran berimbang yang dinamis disamping menyesuaikan pengeluaran dan penerimaan, harus memperhatikan peningkatan tabungan Pemerintah. Peningkatan tabungan tersebut, mengharuskan Pemerintah untuk menyisihkan sebagian dari penerimaan dalam negeri utnuk pembiayaan pembangunan. Tugas Pemerintah menjadi semakin berat karena di samping harus melaksanakan pembangunan juga harus mempertahankan kestabilan ekonomi yang telah tercapai. Makin besar pembangunan yang harus dilakukan makin besar pula keharusan untuk menciptakan public savings. Dengan demikian maka tahun demi tahun harus diusahakan agar komponen pembiayaan yang berasal dari sumber dalam negeri makin lama makin lebih besar daripada sumber pembiayaan luar negeri. Disadari sepenuhnya bahwa didalam periode PELITA pertama hal tersebut tidak mudah tercapai. Meskipun demikian akan tetap diusahakan untuk bekerja ke arah itu.
Makin bertambah besarnya anggaran pembangunan untuk tahun anggaran 1970/1971 disebabkan adanya keharusan untuk menyediakan pembiayaan pembangunan Irian Barat dan subsidi kepada kabupaten-kabupaten di samping meningkatnya “local cost” untuk bantuan proyek.
Di bidang anggaran rutin pun harus dilaksanakan pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya sukar untuk dielakkan. Pengeluaran-pengeluaran tersebut meliputi pengeluaran untuk kenaikan belanja pegawai, belanja barang, subsidi daerah otonom dan pembayaran hutang-hutang. Khusus di dalam tahun anggaran 1970/1971 pengeluaran rutin menanggung beban yang lebih berat lagi berhubung adanya keharusan untuk menyediakan pembiayaan bagi Pemilihan Umum.
Faktor-faktor tersebut diataslah yang mempengengaruhi kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah dalam tahun anggaran 1970/1971. Tabel 3.1. memuat angka-angka perbandingan antara APBN 1969/1970 dengan APBN 1970/1971.
Faktor komposisi impor yang sesuai dengan pembangunan membawa pengaruh bagi penerimaan baik yang berasal dari nilai lawan bantuan luar negeri maupun dari impor umum.
Seperti telah dikemukakan dalam Bab Umum, secara bertahap komposisi bantuan luar negeri akan beralih pada bantuan proyek dan pengurangan dalam bantuan program. Dari bantuan program yang diusahakan, maka sebagian besar diperuntukkan bagi pencukupan
bahan-bahan kebutuhan pokok yang menghasilkan nilai lawan yang tidak penuh berhubung sebagian masih harus diberikan subsidi.
Anggaran pembangunan tahun 1970/1971 akan bertambah dengan 32% jika dibandingkan dengan tahun 1969/1970. Hal ini dimungkinkan antara lain karena tabungan pemerintah dapat ditingkatkan. Dari bantuan luar negeri yang diharapkan diperoleh sebesar US$ 600 juta untuk 15 bulan, hanya US$ 200 juta yang dapat di BE-kan dan US$ 140 juta berupa bantuan pangan. Kedua-duanya menghasilkan nilai lawan yang dapat dipergunakan untuk pembiayaan pembangunan.
Jumlah Persen Jumlah Persen Persen
I. Pengeluaran Rutin
1. Belanja Pegawai/Pensiun 93,4 45,8 119,4 42,2 + 26,0 32,8
2. Belanja Barang 50,5 24,7 69,4 24,5 + 18,9 22,0
3. Subsidi Daerah Otonom 41,4 20,3 53,2 18,8 + 11,8 14,9
4. Bunga/cicilan Hutang 16,5 8,1 31,4 11,0 + 14,9 18,9
5. Pemilihan Umum 1,0 0,5 10,0 3,5 + 9,0 11,4
6. Lain-lain 1,2 0,6
Jumlah 204,0 100,0 283,4 100,0 + 79,4 100,0
II. Tabungan Pemerintah 24,0 37,1 + 13,1
Jumlah I + II : 228,0 100,0 320,5 100,0 + 92,5 100,0 III. Penerimaan Rutin
1. Pajak Langsung 42,5 55,6 + 13,1
2. Pajak Tak Langsung 120,2 167,2 + 47,0
3. Minyak 62,8 95,1 + 32,3
4. Non-Tax 2,5 2,6 + 0,1
Jumlah III : 228,0 320,5 + 92,5
Sumber : Departemen Keuangan RI
Tabel 3.1
PERBANDINGAN ANGGARAN RUTIN DARI APBN 1969/1970 DENGAN APBN 1970/1971
( Dalam Milyar Rupiah )
Anggaran APBN 1969/70 APBN 1970/71 Kenaikan
Jumlah
46
Penyediaan “local cost” bagi bantuan proyek untuk tahun anggaran 1970/1971 akan sangat meningkat dibandingkan dengan tahun anggaran 1969/1970. Hal ini disebabkan karena perkiraan daripada disbursement dari bantuan proyek jauh lebih besar daripada tahun anggaran yang lalu.
Tabel 3.2. di bawah ini memperlihatkan keseluruhan RAPBN 1970/1971 :
I. Penerimaan Rutin 320,583 I. Pengeluaran Rutin 283,475
A. Pajak Langsung 117,120 1. Belanja Pegawai dan Pensiun 119,439
1. Pajak Pendapatan 13,250 a. Tunjangan Beras 30,734
2. Pajak Perseroan 21,250 b. Gaji/Upah/Pensiun 51,938
3. P. Ps. Minyak 61,470 c. Kenaikan Gaji 50% 21,584
4. MPO 20,900 d. Lain-lain Belanja Pegawai DN 10,992
5. Lain-lain 0,250 e. Belanja Pegawai LN 4,191
B. Pajak Tidak Langsung 200,810 2. Belanja Barang 69,443
1. Pajak Penjualan 19,000
2. P.Pn. Impor 19,500 3. Subsidi/Perimbangan Keuangan 53,219
3. Cukai 39,460
4. Bea Masuk 78,000 4. Bunga/Cicilan Hutang 31,374
5. Pajak Devisa Ekspor 7,000
6. Penerimaan Minyak lainnya 33,600 5. Pemilu 10,000
7. Lain-lain 4,250
C. Penerimaan Non-Tax 2,653
II. Penerimaan Pembangunan 124,316 II. Pengeluaran Pembangunan 161,424
1. Kredit Luar Negeri 78,676 A. Bidang Ekonomi 81,644
2. Bantuan Proyek 45,640 B. Bidang Sosial 21,612
C. Bidang Umum 12,528
115,784
D. Bantuan Proyek 45,640
Jumlah 444,899 Jumlah 444,899
Sumber : Departemen Keuangan RI
Tabel 3.2
RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 1970/1971 (Dalam Milyar Rupiah)
Pengeluaran
Jumlah Jumlah
Penerimaan
3.2. Anggaran Rutin 3.2.1. Penerimaan Rutin
Di dalam memperkirakan penerimaan rutin untuk tahun anggaran 1970/1971 ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh Pemerintah :
(1) Karena kebutuhan pembiayaan baik untuk pengeluaran rutin maupun untuk pengeluaran pembangunan makin meningkat di dalam tahun kedua (1970/1971) PELITA, maka penerimaan rutin harus lebih ditingkatkan lagi daripada apa yang dapat dihasilkan di dalam tahun anggaran 1969/1970.
(2) Untuk lebih meningkatkan pemasukan daripada penerimaan rutin tersebut, maka selain fasilitas-fasilitas dan perangsang-perangsang fiskal yang telah diberikan kepada industri-industri baru dalam rangka Undang-undang Penanaman Modal dan kepada industri-industri yang sudah ada (existing industries), akan diberikan pula perangsang-perangsang (incentives) yang cukup berarti yang mendorong kegiatan produksi dalam negeri.
(3) Di dalam usaha untuk lebih meningkatkan lagi penerimaan rutin 1970/1971, Pemerintah tetap menjaga agar kestabilan moneter yang telah dicapai di dalam tahun 1969/1970 terus dipelihara dan lebih dimantapkan lagi. Hanya perlu ditekankan di sini bahwa kestabilan yang dimaksud bukanlah kestabilan yang statis, tetapi merupakan kestabilan yang dinamis. Artinya di dalam usahanya untuk tetap memelihara kestabilan moneter tersebut, maka Pemerintah melalui kebijaksanaan anggaran harus dapat melaksanakan kegiatan pembangunan yang makin besar.
(4) Harus dapat dipertahankan peningkatan penerimaan yang berasal dari sektor perdagangan internasional, meskipun pola daripada impor harus disesuaikan dengan kegiatan pembangunan yang lebih terarah kepada barang-barang modal, bahan-bahan baku dan bahan-bahan penolong yang sebenarnya tidak menghasilkan bea masuk yang besar.
Berdasarkan faktor-faktor seperti disebutkan di atas, maka dalam tahun anggaran 1970/1971 Pemerintah akan menjalankan beberapa tindakan pelaksanaan sebagai berikut :
(1) Intensifikasi pemungutan dan ekstensifikasi pengenaan pajak akan terus ditingkatkan, baik mengenai pajak langsung maupun mengenai pajak-pajak tidak langsung.
48
(2) Dalam rangka memberikan fasilitas dan perangsang (incentives) kepada dunia usaha maka Pemerintah merencanakan mengajukan beberapa RUU Perpajakan tentang perubahan dan tambahan atas ordonansi-ordonansi pajak pendapatan, pajak perseroan dan pajak dividen. Dengan adanya perubahan dan tambahan (tax reform) tersebut, maka diharapkan dunia usaha akan memperoleh peluang dan kesempatan yang lebih besar untuk memperkembangkan usaha-usahanya.
Berarti aktivitas perekonomian akan lebih hidup dan lebih maju lagi dari masa sebelumnya, sehingga pada akhirnya penerimaan pajak-pajak pun diharapkan dapat lebih ditingkatkan. “Tax Reform” tersebut mencakup penurunan dan penyederhanaan tarif, peningkatan batas minimum kena pajak, penambahan dan penyempurnaan lapisan-lapisan pendapatan (income brackets), penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap badan usaha, penghapusan yang dipercepat (accelerated depreciation), perangsang penanaman modal baru, kemungkinan kompensasi kerugian inisial (carry forward of initial losses), perpanjangan jangka waktu untuk kompensasi kerugian nominal, dan lain-lain lagi yang semuanya diharapkan dapat mendorong kemajuan dan perluasan dunia industri dan perusahaan.
(3) Juga terhadap Undang-undang No.1 tahun 1967 (Penanaman Modal Asing) dan Undang-undang No.6 tahun 1968 (Penanaman Modal Dalam Negeri) akan diadakan beberapa perubahan-perubahan dan tambahan. Hal ini dilakukan sebagai akibat perubahan-prubahan dan tambahan-tambahan yang diadakan atas Ordonansi Pajak Perseroan 1925 itu sendiri. Dengan demikian diharapkan prinsip keseragaman dapat dipegang teguh. Dari perubahan-perubahan dan tambahan atas kedua Undang-undang tersebut di atas diharapkan penanaman modal pada umumnya dapat lebih berkembang lagi.
(4) Di bidang impor, maka Peraturan Pemerintah No.6 tahun 1969 yang mengatur kembali pengenaan bea masuk akan terus disempurnakan sehingga pengarahan impor menjadi lebih baik lagi, tetapi tetap memperhatikan keseimbangan yang harus dicapai diantara kepentingan penerimaan Pemerintah, kepentingan produsen (baik berupa perangsang maupun dalam bentuk proteksi) dan kepentingan rakyat banyak (konsumen terbesar).
Dengan memperhitungkan faktor-faktor dan tindakan-tindakan pelaksanaan seperti disebutkan di atas, maka Pemerintah memperkirakan bahwa penerimaan rutin 1970/1971 akan berjumlah Rp 320,5 milyar yang terdiri dari pajak langsung
Rp 117,1 milyar, pajak tidak langsung Rp 200,8 milyar dan penerimaan non tax Rp 2,6 milyar. Perincian lebih lanjut dari penerimaan rutin 1970/1971 dapat dibaca dalam Lampiran 1 dari Nota Keuangan ini.
3.2.2. Pengeluaran Rutin
Pengeluaran rutin 1970/1971 diperkirakan lebih besar daripada yang dikeluarkan di dalam tahun anggaran 1969/1970 disebabkan oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang hendak dijalankan Pemerintah seperti di bawah ini :
(1) Khusus dalam tahun anggarn 1970/1971 maka anggaran rutin harus menanggung beban yang berat yang disebabkan keharusan penyediaan pembiayaan Pemilihan Umum.
(2) Sebagai salah satu usaha untuk memperbaiki taraf hidup pegawai negeri dan ABRI, maka Pemerintah bermaksud menaikkan gaji pegawai.
(3) Pemeliharaan peralatan (maintenance) Pemerintah akan dipertinggi tarafnya. Juga secara kuantitatif hal tersebut harus dilakukan karena makin meningkatnya volume pembangunan sesuai penahapan di dalam PELITA. Termasuk pula di dalam hubungan ini peningkatan aktivitas-aktivitas Pemerintah dalam bidang pengawasan.
(4) Subsidi daerah otonom juga akan lebih meningkat antara lain sebagai akibat kenaikan gaji pegawai.
(5) Guna mengembalikan kepercayaan dunia internasional akan kemampuan dan kesungguhan Indonesia untuk memenuhi kewajiban-kewajiban internasionalnya sesuai dengan perjanjian-perjanjian antaranegara yang telah disetujuinya, maka di dalam tahun anggaran 1970/1971 Pemerintah tetap akan memenuhi kewajiban pembayaran hutang-hutangnya yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagaimana disebutkan diatas, maka pengeluaran rutin 1970/1971 diperkirakan akan berjumlah Rp 283,4 milyar dengan pembagian sebagai berikut :
50
Rp miliar
1. Belanja Pegawai/Pensiun 119,4
2. Belanja Barang 69,4
3. Subsidi Daerah Otonom 53,2
4. Bunga/cicilan hutang 31,4
5. Pemilihan Umum 10,0
Jumlah : 283,4 Keterangan-keterangan selanjutnya adalah sebagai berikut : ad. 1. Belanja Pegawai/Pensiun
Di samping kenaikan berkala (naruurlijk acc-res) sudah selayaknyalah kepada pegawai negeri diberikan kenaikan gaji tambahan. Namun mengingat kemampuan keuangan negara dan mengingat beban yang harus ditanggung oleh Pemerintah dalam bidang lainnya maka diperkirakan bahwa gaji baru dapat dinaikkan dengan 50%.
Tunjangan beras tetap diberikan dalam bentuk natura maupun dalam bentuk uang menurut peraturan-peraturan yang berlaku.
Perincian Jumlah
1. Tunjangan Beras 30,734
2. Gaji/Upah/Pensiun 51,938
3. Kenaikan Gaji 50% 21,584
4. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 10,992
5. Belanja pegawai luar negeri 4,191
Jumlah 119,439
Sumber : Departemen Keuangan RI Tabel 3.3.
PERINCIAN BELANJA PEGAWAI/PENSIUN 1970/1971