BAB II. LANDASAN TEOR
2.3. Pengeluaran Pemerintah
2.3.1. Pengertian Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah adalah rencana keuangan tahuna APBD ditetapkan denga tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.
Di Indonesia pengeluaran pemerintah dapat dibedakan menurut dua klasifikasi yaitu :
1. Pengeluaran rutin yaitu pengeluaran untuk pemeliharaan atau penyelenggaraan roda pemerintahan sehari-hari meliputi belanja pegawai, belanja barang, berbagai macam subsidi(subsidi daerah dan harga barang) angsuran dan bunga utang pemerintah, serta jumlah pengeluaran lain. Anggaran belanja rutin memegang peranan yang penting untuk menunjang kelancaran mekanisme sistem pemerintahan serta upaya peningkatan efisiensi dan produktivitas yang pada gilirannya akan menunjang tercapainya sasaran dan tujuan setiap tahap pembangunan.
2. Pengeluaran Pembangunan yaitu pengeluaran yang bersifat menambah modal masyarakat dalam bentuk pembangunan baik prasarana dan non fisik. Pengeluaran pembangunan merupakan pengeluaran yang bertujuan untuk membiayai program- program pembangunan sehingga anggarannya selalu disesuaikan dengan dana yang berhasil dimobilisasi.
Alokasi anggaran pemerintah untuk bidang pendidikan dan kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kebijakan anggran (Rosen, 2004). Kebijakan ini dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai penyedia barang publik. Dampak eksternalitas dari alokasi kebijakan anggaran untuk kedua bidang tersebut tentunya diharapkan berpengaruh pada peningkatan tingkat pendidikan dan kesehatan bila anggaran yang digunakan sesuai dengan yang diharapkan.
APBD terdiri atas:
1. Anggaran pendapatan, terdiri atas
lain-lain Bagian dana hibah atau
2. Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah.
3. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.
Belanja pembangunan adalah belanja modal (capital investment), yaitu kegiatan (proyek) yang bersifat non reccuring capital expenditure yang penyelesaiannya dalam periode waktu tertentu biasanya sampai enam tahun (Curria,1979).
Pengeluaran pemerintah dapat dinilai dari berbagai apek sehingga dapat dibedakan menjadi :
1. Pengeluaran itu merupakan investasi yang menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi dimasa-masa yang akan datang
2. Pengeluaran itu langsung memberikan kesejahteraan dan kegembiraan bagi masyarakat
3. Merupakan penghematan pengeluaran yang akan datang
4. Menyediakan kesempatan kerja lebih banyak dan tenaga beli yang lebih luas
Berdasarkan atas penilaian ini maka kita dapat membedakan bermacam-macam pengeluaran negara seperti :
1. Pengeluaran yang self liquiditing sebagian atau seluruhnya, artinya pengeluaran pemerintah mendapatkan pembayaran kembali dari masyarakat yang menerima barang-barang atau jasa-jasa yang bersangkutan. Misalnya pengeluaran untuk jasa- jasa perusahaan negara atau untuk proyek-proyek produktif barang ekspor
2. Pengeluaran yang reproduktif, artinya mewujudkan keuntungan-keuntungan ekonomis bagi masyarakat. Dengan naiknya tingkat penghasilan dan sasaran pajak yang lain akhirnya akan menaikkan penerimaan pemerintah. Misalnya pengeluaran untuk bidang pengairan, pertanian, pendidikan, dan kesehatan masyarakat
3. Pngeluaran yang tidak self liquiditing maupun yang tidak reproduktif yaitu pengeluaran yang langsung menambah kegembiraan dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya untuk bidang-bidang rekreasi, pendirian monumen, objek-objek tourisme dan sebagainya.
4. Pengeluaran yang secara langsung tidak produktif dan merupakan pemborosan. Misalnya untuk pembiayaan pertahanan/perang meskipun pada saat pengeluaran terjadi penghasilan perorangan yang menerimanya akan naik.
5. Pengeluaran yang merupakan penghematan di masa yang akan datang. Misalnya pengeluaran untuk anak-anak yatim piatu. Jika hal ini tidak dijalankan sekarang maka kebutuhan pemeliharaan bagi mereka di masa mendatang pada waktu usia lanjut pasti akan lebih besar
Selain itu ada tiga pos utama pada sisi pengeluaran yaitu : 1. Pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa 2. Pengeluaran pemerintah untuk gaji pegawainya
3. Pengeluaran pemerintah untuk pembayaran transfer (transfer payment)
2.3.2 Teori Pengeluaran Pemerintah
Rostow dan Musgrave (2003) mengembangkan teori yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dan tahap-tahap pembangunan ekonomi. Pada tahap awal perkembangan ekonomi persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar sebab pemerintah harus menyediakan prasarana seperti pendidikan, kesehatan, prasarana transportasi, dan sebagainya.Tahap menengah investasi pemerintah mulai menurun sedangkan investasi swasta sudah semakin membesar. Akan tetapi
peranan pemerintah dalam menyediakan barang dan jasa publik masih sangat diperlukan. Pada tahap lanjut aktifitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran untuk aktifitas sosial sepeti program kesejahteraan hari tua dan program pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Wagner dan Hyman (2005) mengembangkan teori dimana perkembangan persentase pengeluaran pemerintah yang semakin besar terhadap Produk Domestik Bruto. Dalam suatu perekonmian, apabila pendapatan perkapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintah akan meningkat terutama pengeluaran pemerintah untuk mengatur hubungan dalam masyarakat seperti hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya.
Landau mencoba untuk melihat hubungan antara investasi di bidang pendidikan dan kesehatan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi di 84 negara non komunis yang dikategorikan sedang membangun. Landau menemukan bahwa ada pengaruh nyata antara peningkatan tingkat pendidikan yang diukur dari rata-rata lama sekolah dai SD, SMP, dan SMA dan peningkatan derajat kesehatan yang diukur dari usia harapan hidup dengan laju pertumbuhan ekonomi.
Teori Rodenstein-Rodan memberi tekanan pada pembangunan pada semua sektor ekonomi agar tercapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Untuk ini diperlukan suatu kerangka teori yang komprehensif tentang proses pembangunan tersebut. Kerangka analistis yang memenuhi karakteristik pembangunan sebagai proses yang holistik ini diberikan oleh para pakar (a.l. Garry Jacobs, Harlan Cleveland, dan Robert MacFalane daei International Center for Peace and Development) dalam bentuk”teori pembangunan sosial.”
Beberapa pokok pikiran dari teori pembangunan sosial ini adalah sebagai berikut: 1. Proses pembangunan terjadi oleh terciptanya tingkat organisasi yang semakin
tinggi dalam masyarakat yang memungkinkan dihasilkannya kegiatan yang lebih besar dengan menggunakan energi sosial secara lebih efisien;
2. Masyarakat berkembang dengan mengorganisir segala pengetahuan, energi manusia serta sumber daya materiil yang dimiliki masyarakat tersebut untuk mencapai aspirasinya;
3. Pembangunan memerlukan empat jenis infrastruktur dan sumber daya (resources), yaitu yang fisik, sosial, mental dan psikologis. Hanya yang fisik ketersediaannya terbatas;
4. Paling penting dalam proses pembangunan ini adalah menusia yang dengan kemampuan berpikirnya yang semakin meningkat dapat menciptakan sumber daya yang dibutuhkan untuk pembangunan. Penetrapan dari intelegensia manusialah yang dapat merubah suatu sumber daya alam (substance) menjadi suatu sumber daya ekonomi (resource). Karenanya kemampuan berpikir manusia merupakan sumber daya yang paling utama.
Menurut teori pembangunan sosial ini, hakekat dari pembangunan adalah pembangunan manusia itu sendiri. Terus meningkatnya kemampuan manusia untuk membentuk (conceive), mendesain, merencanakan, mengalokasikan, mensistemasir, menstandardisir, mengkoordinasi, dan mengintegrasikan berbagai kegiatan, sistem, organisasi serta pengetahuan, kedalam suatu tatanan produksi yang lebih luas dan lebih rumit, merupakan penyebab utama dari terjadinya proses pembangunan sosial.
2.3.3. Akibat Ekonomis dari Pengeluaran Pemerintah
Pengusahaan kegiatan ekonomis oleh pemerintah berupa pengeluaran pemerintah serta pemindahan tenaga beli dari satu kelompok orang ke kelompok orang lainnya secara potensial dapat mempunyai pengaruh yang berarti terhadap sektor swasta dan rumah tangga dalam perekonomian antara lain :
1. efek yang bersifat alokasi dan efisiensi, secara sadar pemeintah mengalokasikan kembali sumber-sumber ekonomi dari berbagai barang ke barang lainnya atau jasa- jasa dngan memproduksi barang-barang umum atau jasa yang mempunyai keuntungan eksternal. Kegiatan alokasi ini merubah pengalihan sumber-sumber ekonomi karena pemberi dan penerima masing-masing mempunyai pola pengeluaran yang berlainan
2. Efek yang menyangkut penyediaan faktor-faktor produksi, pemerintah dapat mempengaruhi tingkat GNP riil dengan mengubah persediaan dari berbagai faktor yang dapat dipakai dalam produksi melalui program-program pengeluaran seperti pendidikan, peningkatan sumber daya manusia, dan lain-lain.
3. Efek menyangkut retribusi/pembagian pendapatan dari pendapatan nasional. Pemerintah mempengaruhi pola distribusi pendapatan riil melalui penyediaan keuntungan di salah satu pihak dan pengurangan pendapatan riil dari sektor swasta maupun rumah tangga di lain pihak.
4. Efek mengenai stabilisasi dan pertumbuhan. Program pengeluaran serta pembiayaan akan mempengaruhi tingkat pencapaian full employment dengan mengubah pengeluaran total dalam perekonomian dan juga mampu mengubah tingkat GNP serta mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi.