BAB II TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN
C. Pengembangan hipotesis
1. Pengaruh Karakteristik Demografis pada Sikap terhadap Profesi TKW PLRT
a. Pengaruh Usia pada Sikap terhadap Profesi TKW PLRT
Cieri et al. (2009) menyatakan bahwa identifikasi terhadap generasi memiliki dampak terhadap attitude toward behavior yang menentukan adanya minat untuk kembali ke negara asal dari ekspatriat (tenaga kerja sektor formal). Perbedaan generasi memunculkan adanya perbedaan dalam sikap mereka terhadap pembentukan perilaku dalam bekerja, seperti antara generasi X dan generasi Y (Arsenault, 2003).
Generasi X mulai masuk ke dunia kerja pada tahun 1980an menuju awal tahun 1990, dalam masa transisi dari restrukturisasi perekonomian pasca krisis moneter yang menghadirkan tantangan dalam dunia kerja dan kehidupan sosial (Bogdanowicz dan Bailey, 2002). Generasi ini menurut Cieri et al. (2009) memiliki kecenderungan untuk bersikap fleksibel dan siap untuk menerima perubahan yang terjadi secara konstan, dengan di picu oleh
kebutuhan untuk bertahan hidup (need for survival). Generasi Y yang hadir di era berikut nya berada di dunia kerja yang lebih ―nyaman‖ di bandingkan dengan Generasi X, sehingga pemicu kebutuhan berubah dari kebutuhan untuk bertahan hidup menjadi pencarian kemapanan (sense of comfort). Generasi di era ini memiliki rasa optimistic dan kepercayaan diri yang lebih tinggi dibandingkan generasi di era sebelum nya, dengan diikuti oleh pilihan pengembangan karier yang lebih beragam (Salt dalam Cieri
et al., 2009). Perbedaan karakteristik antara kedua generasi tersebut
menunjukkan ada nya perbedaan cara pandang (dalam hal ini bisa didefinisikan sebagai attitude toward behavior) terhadap suatu pekerjaan dari tingkatan usia yang berbeda. Hasil penelitian Paas & Halapuu (2012) menunjukkan bahwa usia berpengaruh negatif pada sikap terhadap migrasi, hal ini berarti seseorang yang berusia lebih muda memiliki sikap yang lebih baik tentang profesi menjadi TKW dibandingkan dengan seseorang yang berusia lebih tua. Dengan demikian, hipotesis yang dirumuskan adalah:
H1: Usia berpengaruh negatif pada sikap terhadap profesi TKW PLRT.
b. Pengaruh Status Pernikahan dan Jumlah Tanggungan pada Sikap terhadap Profesi TKW PLRT
Penelitian yang dilakukan oleh Leonard dan Cronan (2005) dalam konteks perilaku etis dalam penggunaan sistem informasi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
menunjukkan bahwa lingkungan personal (yang dipengaruhi oleh faktor keluarga, teman, maupun kolega) serta nilai personal (yang meliputi pengalaman dan pencapaian nya di masa lalu) merupakan faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap yang mengarah pada perilaku tertentu. Pengalaman untuk bekerja ke luar negeri menurut Cieri et al., (2009) seringkali menarik minat bagi mereka yang belum memiliki keterikatan secara personal. Hal ini disebabkan adanya potensi untuk pengembangan karier yang lebih optimal. Pekerja yang sudah terikat perkawinan di sisi lain seringkali menyukai kestabilitasan dalam bekerja dan bermasyarakat. Logika yang sama juga berlaku bagi mereka yang memiliki tanggungan keluarga untuk dinafkahi (Pringle dan Mallon, 2003). Seseorang yang telah menikah dan mempunyai anak akan cenderung memilih untuk tetap bekerja di tempat yang dekat dengan keluarga. Hasil kajian dari beberapa literatur tersebut mendasari pengukuran pengaruh faktor jumlah tanggungan keluarga dan status perkawinan pada pembentukan sikap dalam penelitian ini. Penjelasan tersebut menghasilkan hipotesis sebagai berikut:
H2: Status pernikahan berpengaruh negatif pada sikap terhadap profesi TKW PLRT.
H3: Jumlah tanggungan berpengaruh negatif pada sikap terhadap profesi TKW PLRT.
c. Pengaruh Pendapatan dan Status Pekerjaan pada Sikap terhadap Profesi TKW PLRT
Menurut Lee (1966) faktor utama yang melatarbelakngi migrasi tenaga kerja kesuatu daerah tujuan adalah faktor makro atau kontekstual yang seringkali dilihat sebagai faktor daya tarik dari
negara tujuan dan daya dorong dari negara asal (push dan full
factor). Secara umum faktor-faktor pendorong dapat terjadinya perpindahan penduduk dari satu daerah kedaerah lain terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya lapangan kerja yang hampir tidak ada dan pendapatan yang rendah. Penelitian Vadlun (2010) menunjukkan hasil bahwa faktor-faktor yang mendorong
wanita untuk melakukan migrasi adalah karena (1) kebutuhan yang
sangat mendesak, (2) ingin memperbaiki rumah atau membangun rumah, (3) untuk kebutuhan pendidikan anak-anak, (4) ingin memberangkatkan orang tua naik haji, (5) karena alasan suami tidak punya pekerjaan, tidak memberi nafkah, suami kawin lagi, anak-anak tidak tahan dengan ibu tiri. Hasil penelitian Wirawan (2006) menunjukkan bahwa pendapatan dan status pekerjaan sebelum jadi TKW berpengaruh negatif pada keputusan untuk menjadi TKW. Seseorang yang belum bekerja akan cenderung memiliki sikap yang positif terhadap profesi TKW. Demikian juga dengan tingkat pendapatan, semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang, mereka akan memilih tetap berada di negara asal atau dengan kata lain seseorang dengan pendapatan lebih rendah akan memiliki sikap yang
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
lebih baik terhadap profesi TKW. Menurut Azjen (2005), secara umum background factors, termasuk karakteristik demografis (usia, jenis kelamin, etnis, ras, pendidikan, penghasilan, dan agama) dapat berpengaruh pada niat dan perilaku, tetapi pengaruhnya dimediasi oleh sikap yang lebih spesifik tentang perilaku yang diinginkan. Penjelasan tersebut menghasilkan hipotesis sebagai berikut:
H4: Pendapatan sebelum jadi TKW PLRT berpengaruh negatif pada sikap terhadap profesi TKW PLRT.
H5: Status pekerjaan sebelum jadi TKW PLRT berpengaruh negatif pada sikap terhadap profesi TKW PLRT.
2. Pengaruh Norma Subyektif, Sikap terhadap Profesi TKW PLRT dan Persepsi Pengendalian Perilaku pada Niat untuk menjadi TKW PLRT
Ajzen (1991) menjelaskan bahwa niat adalah fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu sikap, norma subjektif, dan persepsi pengendalian perilaku (PBC). Sikap terhadap perilaku mencerminkan evaluasi positif atau negatif seseorang tentang perilaku tertentu (Ajzen, 1991). Dalam penelitian ini berkaitan dengan tingkat evaluasi positif atau negatif seseorang mengenai gagasan menjadi TKW. Norma subyektif didefinisikan sebagai persepsi seseorang akan tekanan sosial untuk menunjukkan atau tidak menunjukkan suatu tingkah laku dengan pertimbangan tertentu (Ajzen, 2005). Dalam penelitian ini berkaitan dengan persepsi seseorang mengenai pandangan orang – orang di
sekitarnya (misalnya, keluarga, teman) tentang TKW dan dapat memotivasi orang tersebut untuk menjadi TKW. Persepsi pengendalian perilaku didefinisikan sebagai persepsi seseorang mengenai kesulitan atau kemudahan untuk melaksanakan suatu perilaku (Ajzen, 1991). Dalam penelitian ini berkaitan dengan kesulitan atau kemudahan untuk menjadi TKW.
Theory of planned behavior (TPB) telah diaplikasikan dalam
berbagai bidang kajian, antara lain untuk memprediksi niat beli (Alam & Sayuti, 2011; Kim & Chung, 2011; Albayrak et al., 2013), perilaku untuk melakukan permainan online (Lee, 2009), keterlibatan karyawan (Tang et al., 2010), perilaku berbagi pengetahuan (Tohidinia dan Mosakhoni, 2010), serta niat berwirausaha (Solesvik, 2013). Hasil berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa sikap, norma subyektif dan persepsi pengendalian perilaku berpengaruh pada niat berperilaku. Hal ini menunjukkan bahwa TPB sangat fleksible untuk digunakan dalam berbagai bidang kajian. Fenomena yang ingin dijelaskan dalam penelitian ini adalah niat seseorang untuk menjadi TKW PLRT dipengaruhi oleh sikap terhadap profesi TKW PLRT, norma subyektif, dan persepsi pengendalian perilaku. Penjelasan tersebut menghasilkan beberapa hipotesis sebagai berikut:
H6: Sikap terhadap profesi TKW PLRT berpengaruh positif pada niat untuk menjadi TKW PLRT.
H7: Norma subyektif berpengaruh positif pada niat untuk menjadi TKW PLRT.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
H8: : Persepsi pengendalian perilaku berpengaruh positif pada niat untuk menjadi TKW PLRT.