• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kemahasiswaan Berbasis Soft Skills

Dalam rangka pengembangan dan pembinaan kemahasiswaan sebagaimana dimaksud dalam rencana strategis Universitas Brawijaya beserta issu utamanya, maka seluruh program pengembangan kemahasiswaan dibangun di atas basis pengembangan soft skills mahasiswa dengan tahapan sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut ini.

TAHAP PERTAMA: Tahap Pembentukan Jati Diri (Self Image Stage) (Semester I – II)

Tujuan tahap ini adalah untuk mengantarkan mahasiswa menemukan jati dirinya sebagai manusia seutuhnya yang memiliki beragam potensi sekaligus kelemahan yang patut dikelola untuk peningkatan kualitas serta mempersiapkan mereka untuk dapat

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

13

menjadi bagian dari masyarakat intelektual yang ingin dibangun melalui perguruan tinggi.

Target pencapaian:

(a) Terjadi perubahan mind-set mahasiswa baru khususnya dalam budaya belajar dan bersikap di lingkungan kehidupan kampus;

(b) Mahasiswa mampu mengetahui dengan baik analisa SWOT atas dirinya dan mampu membangun konsep diri bagi pengembangan dirinya ke depan;

(c) Mahasiswa mengenal talenta dirinya dengan baik;

(d) Mahasiswa semenjak awal dapat merancang pencapaian target/tujuan dirinya (life mapping – blue print) di masa yang akan datang.

Fokus peningkatan soft skills pada tahap ini adalah:

Terjadinya perubahan cara pandang/berpikir (mind-set paradigm), pembentukan konsep diri mahasiswa concept), pembangunan kesadaran diri mahasiswa (self-awareness), kemampuan identifikasi diri (self-identification), memiliki keterampilan motivasi pengembangan diri (motivation achievement), memiliki kemampuan pemetaan hidup (life mapping).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skill Tahap Pertama:

(1) Mind-Set Paradigm, yang mencakup:

(a) mengetahui cara berpikir/belajar bagi orang dewasa (andragogi); dan

(b) pengenalan budaya baru di perguruan tinggi dan mengetahui etika kehidupan kampus.

(2) Self-Concept/Awareness/Identification, yang mencakup:

(a) mampu mengetahui talenta, kelebihan/keunggulan dan kekurangan dirinya;

(b) mampu menemukan jati dirinya dalam menatap masa depan.

(3) Motivation achievement, yang mencakup:

(a) mampu menilai tingkat kebutuhan pengembangan diri; dan

(b) memiliki semangat untuk mengembangkan diri dan menjadi seorang pembelajar yang baik.

(4) Life Mapping, yang mencakup:

(a) mampu membuat perencanaan pencapaian hidup/cita-cita dalam bentuk peta hidup (life mapping)

(b) mampu membuat rencana agenda tahunan, bulanan dan harian.

Program Kerja Tahap Pertama:

(a) Pemetaan potensi dan kemampuan mahasiswa baru melalui berbagai kegiatan sejak penerimaan dan orientasi mahasiswa baru.

(b) Pengenalan budaya kehidupan akademis dan budaya kemahasiswaan melalui kegiatan Student Day.

(c) Pelaksanaan berbagai kegiatan pengembangan diri tingkat dasar bagi mahasiswa baru antara lain: Pelatihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Achievement Motivation Training;

(d) Peningkatan kesadaran dan spiritualitas mahasiswa melalui kegiatan mentoring, ESQ.

(e) Pelaksanaan Lomba Program Kreativitas Mahasiswa Baru (PKM-Maba).

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

14

TAHAP KEDUA: Tahap Penciptaan Kondisi (Conditioning Stage) (Semester III –IV)

Tujuan pada tahap ini adalah mempersiapkan dan menciptakan suatu kondisi bagi mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Target pencapaian:

(a) Setiap mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungannya (baik di tingkat fakultas maupun universitas).

(b) Mahasiswa memiliki keterampilan dasar dalam berorganisasi di lembaga kemahasiswaan (fakultas maupun universitas)

(c) Mahasiswa memiliki motivasi untuk aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Fokus peningkatan soft skill pada tahap ini adalah:

Kemampuan mahasiswa dalam berorganisasi (organizational capabilities), kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim (team work), mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi (adaptability), kemampuan dalam menjalin hubungan antarpribadi (interpersonal relationship), mahasiswa memiliki dasar-dasar kreativitas (creativity).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills:

(1) Organizational capabilities, yang mencakup:

(a) mengenal lembaga/organisasi mahasiswa (tingkat fakultas/universitas);

(b) mengenal budaya organisasi di dunia kemahasiswaan UB.

(2) Team work, yang mencakup:

(a) mampu bekerja sama dengan orang lain;

(b) bersedia memahami, empati dan peduli terhadap orang lain.

(3) Adaptability, yang mencakup:

(a) mampu menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain (tingkat fakultas/universitas) dan mampu beradaptasi dengan keragaman/perbedaan;

(b) bersedia menghargai pendapat orang lain yang berbeda.

(4) Creativity, yang mencakup:

(a) berpikir komprehensif dari sudut pandang multi dimensi;

(b) memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif.

Program Kerja Tahap Kedua:

(a) Pelaksanaan orientasi kemahasiswaan dan pengenalan budaya keorganisasian mahasiswa.

(b) Pembinaan kemampuan mahasiswaan dalam berorganisasi melalui pelaksanaan program magang pada organisasi kemahasiswaan (baik tingkat fakultas dan universitas)

(c) Peningkatan kemampuan berpikir kreatif melalui program pengembangan kreativitas mahasiswa dibidang penalaran.

(d) Optimalisasi program interaksi bersama mahasiswa baik tingkat fakultas maupun universitas.

TAHAP KETIGA: Tahap Pelibatan Organisasi (Organizational Stage) (Semester V –VI)

Tujuan pada tahap ini adalah mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif baik sebagai pengurus atau anggota dalam berbagai kegiatan dan organisasi

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

15

kemahasiswaan baik ditingkat fakultas maupun universitas sehingga mahasiswa terlatih untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan keterampilan interaksi antapersonal lainnya.

Target pencapaian:

(a) Mahasiswa terlibat dalam organisasi kemahasiswaan yang ada sesuai dengan kemampuan dan minat bakat.

(b) Mahasiswa memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan segala aspek (verbal, presentasi, protokoler)

Fokus peningkatan soft skill pada tahap ini adalah:

Peningkatan kemampuan kepemimpinan mahasiswa (leadership), peningkatan kemampuan keterampilan komunikasi mahasiswa (communications).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills Tahap Ketiga:

(1) Leadership, yang mencakup:

(a) mampu memimpin organisasi kemahasiswaan;

(b) mengetahui teknik mempengaruhi orang lain (influence to others);

(c) mampu menemukan berbagai solusi atas persoalan organisasi (problem solving).

(2) Communication, yang mencakup:

(a) memiliki kemampuan public speaking yang baik dan memiliki kemampuan meyakinkan orang lain;

(b) mampu melakukan presentasi yang efektif; dan (c) memahami mekanisme keprotokoleran di UB.

Program Kerja Tahap Ketiga:

(a) Pelibatan dalam keorganisasian mahasiswa baik tingkat fakultas maupun universitas.

(b) Interaksi bersama pengurus organisasi melalui orientasi keorganisasian (visioning)tingkat universitas bagi seluruh pengurus organisasi kemahasiswaan.

(c) Pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa tingkat lanjut.

(d) Pelaksanaan berbagai pelatihan peningkatan soft skills mahasiswa yang berfokus pada leadership dan keterampilan komunikasi seperti: public relations, public opinion.

TAHAP KEEMPAT: Tahap Kepemimpinan Komunitas (Community Leader Stage) (Semester VII –VIII)

Tujuan pada tahap ini yang merupakan tahap terakhir dari proses pembinaan mahasiswa adalah mewujudkan kepemimpinan mahasiswa secara nyata melalui kepemimpinan pada kelompok-kelompok mahasiswa berdasarkan minat bakatnya.

Target Pencapaian:

(e) Setiap mahasiswa (kelompok mahasiswa) mampu menjadi leader / mampu membentuk kelompok-kelompok pengembangan minat, profesi berdasarkan kemampuannya masing-masing (internal community) ataupun melakukan pendampingan dalam kelompok masyarakat (external community)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

16

(f) Mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai kelompok masyarakat diberbagai bidang kegiatan (bisnis, politik, LSM, profesional dll).

(g) Mahasiswa memiliki keterampilan membangun hubungan (jaringan) dengan berbagai pihak baik lokal/internasional untuk beragam bidang (bisnis, politik, pengembangan masyarakat, profesional, dll.).

(h) Mahasiswa mampu menjadi seorang enterpreneur muda saat masih menjadi mahasiswa.

Fokus peningkatan soft skills pada tahap ini adalah:

Kemampuan keterampilan sosial (social skills), peningkatan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship), kemampuan membangun dan mengoptimalkan jaringan (networking skills), peningkatan derajat kesadaran berpolitik (political awareness).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills:

(1) Social skills, yang mencakup:

(a) kepedulian pada sosial (beragam kelompok masyarakat bawah);

(b) keterlibatan dalam beragam kelompok/organisasi/komunitas masyarakat (bisnis, politik, LSM, profesional, dll).;

(c) memiliki kemampuan untuk mengembangkan kelompok/komunitas dalam masyarakat (internal / eksternal UB); dan

(d) mampu menjadi katalisator sebuah perubahan.

(2) Enterpreneurship, yang mencakup:

(a) kemampuan membaca peluang dan merespon perubahan eksternal;

(b) berani mengambil risiko;

(c) kemampuan menghimpun dan mengerahkan sumberdaya sosial dan ekonomi untuk mencapai tujuan;

(d) mampu merancang berbagai alternatif usaha.

(3) Networking Skills, yang mencakup:

(a) kemampuan membentuk jaringan berdasarkan kompetensi keilmuan, profesi dan bakat minatnya masing-masing (baik tingkat nasional maupun internasional);

(b) mampu menunjukkan eksistensinya dalam setiap jaringan tersebut dan

(c) kemampuan mengoptimalkan jaringan bagi kepentingan pengembangan kemahasiswaan.

(4) Political awareness, yang mencakup:

(a) berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengambilan keputusan organisasi;

(b) memiliki tingkat responsitas yang baik terhadap berbagai isu politik (mahasiswa maupun realitas sosial lainnya).

Program Kerja Tahap Keempat:

(a) Peningkatan kemampuan mahasiswa dalam program pengembangan masyarakat melalui kemampuan pendampingan masyarakat, manajemen

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

17

dinamika kelompok, dan kemampuan kepemimpinan kelompok (community leader).

(b) Peningkatan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship) mahasiswa dalam berbagai bentuk kegiatan kewirausahaan praktis.

(c) Pengembangan kemampuan membangun jaringan dengan mengoptimalkan berbagai potensi melalui pemanfaatan jaringan internet.

2.5 Lembaga Kewirausahaan Mahasiswa

2.5.1. Pendahuluan

Kondisi akhir-akhir ini sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih dari pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini bisa jadi disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana penyiapan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan. Di samping itu, aktivitas kewirausahaan (Enterpreneurial Activity) yang relatif masih rendah.

Enterpreneurial Activity diterjemahkan sebagai individu aktif dalam memulai bisnis baru dan dinyatakan dalam persen total penduduk aktif bekerja. Semakin tinggi indek Enterpreneurial Activity maka semakin tinggi enterpreneurship suatu negara (Boulton dan Turner, 2005).

Untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan menciptakan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja dari pada pencari kerja, maka diperlukan suatu usaha nyata. Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Coopertive Education (Co-op) telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil karya inovasi mahasiswa melalui PKM potensial untuk ditinjaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks). Kebijakan dan program penguatan kelembagaan yang mendorong peningkatan aktivitas berwirausaha dan percepatan pertumbuhan wirausaha-wirausaha baru dengan basis IPTEKS sangat diperlukan.

Dengan latar belakang tersebut di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengembangkan sebuah Program Mahasiswa Wirausaha (Student Enterpreneur Program) yang merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya (PKM, Co-op, KKU) untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis riil melalui fasilitas star-up business. Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), sebagai bagian dari strategi pendidikan di Perguruan Tinggi, dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan umtuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang dipelajarinya.

Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausaaan magang, penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Program ini diharapkan mampu mendukung visi-misi pemerintah dalam mewujudkan kemandiriian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UKM.

2.5.2. Landasan Program

Pengertian Kewirausahaan adalah semangat, sikap, prilaku kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatana yang mengarah pada

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

18

upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Kewirausahaan adalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai risiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan.

Kewirausahaan itu dapat dipelajari walaupun ada juga orang-orang tertentu yang mempunyai bakat dalam hal kewirausahaan.

Inti kewirausahaan adalah adanya cara berpikir kreatif dan inovatif. Cara tersebut dapat dituangkan dalam berbagai hal termasuk pemilihan jenis usaha, mengelola produksi, mengembangkan pemasaran, meningkatkan pengelolaan keuangan dan permodalan, pengorganisasian dan pengelolaan kelompok usaha, pengembangan jalinan kemitraan usaha.

2.5.3. Tujuan

a. Meningkatkan kecakapan dan keterampilan para mahasiswa khususnya sense of businesssehingga akan tercipta wirausaha-wirausaha muda potensial

b. Menumbuh-kembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi

c. Menciptakan unit bisnis baru berbasis IPTEKS

d. Membangun jejaring bisnis antara pelaku bisnis antara wirausaha pemula dengan para pengusaha yang sudah mapan

2.5.4. Manfaat

a. Bagi mahasiswa:

 Memberikan kesempatan untuk peningkatan kemampuan soft skill mahasiswa dengan terlibat langsung pada kondisi dunia kerja.

 Memberikan kesempatan langsung untuk terlibat dalam UKM dan mengasah jiwa wirausaha.

 Menumbuhkan jiwa bisnis sehingga memiliki keberanian dengan untuk memulai usaha didukung dengan modal yang diberikan dan pendampingan secara terpadu.

b. Bagi Perguruan Tinggi

 Penguatan kelembagaan Perguruan Tinggi dalam pengembangan program pendidikan kewirausahaan.

 Membuka kesempatan untuk melaksanakanTri Dharma Perguruan Tinggi.

 Mempererat hubungan antara dunia akademis dengan dunia usaha

 Memungkinkan untuk penyesuaian kurikulum yang dapat lebih aplikatif pada dunia usaha.

 Menghasilan wirausaha-wirausaha muda pencipta lapangan kerja dan calon pengusaha sukses masa depan.

2.5.5. Konsep Program

Untuk mendorong pertumbuhan usaha berbasis IPTEKS, maka hasil-hasil kegiatan mahasiswa seperti hasil-hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), program Co-op atau program kewirausahaan lain (KKU) yang telah dilakukan/dikembangkan di Perguruan Tinggi akan diprioritaskan sebagai input

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

19

dalam Program Mahasiswa Wirausaha ini. Kriteria mahasiswa yang dapat mengikuti program ini adalah mereka yang telah menyelesaikan kuliah 4 semester (duduk di semester 5) atau minimal telah menempuh 80 sks untuk para mahasiswa dari Universitas, sedangkan mahasiswa dari Akademi atau Politeknik telah menyelesaikan kuliah 3 semester (duduk di semester 4) atau minimal telah menempuh 60 SKS. Di samping itu, mereka mempunyai minat dan bakat kewirausahaan yang dapat dibuktikan dengan pengalaman berwirausaha yang pernah dilakukan sebelumnya.

Perguruan Tinggi pelaksana program melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa dan UKM mitra sebagai calon pendamping dan lokasi magang, melakukan indentifikasi dan seleksi mahasiswa, pembekalan kewirausahaan, penyusunan rencana bisnis dan penempatan magang ke UKM bagi yang lolos seleksi. Salah satu kriteria seleksi untuk mendapatkan dukungan permodalan adalah kelayakan usaha bisnis yang diajukan.

Dalam implementasi program, perguruan tinggi bekerjasama dengan para pengusaha (UKM). Pengusaha dilibatkan secara aktif untuk memberikan praktis wirausaha, mulai dari pendidikan dan pelatihan, magang maupun penyusuna rencana bisnis (Business Plan) dan pendampingan terpadu. Untuk menghin dari kompetisi UKM sebagai pendamping dengan calon Mahasiswa Wirausaha, jenis usaha yang dikembangkan oleh Mahasiswa harus bersifat komplementer dengan usaha yang sudah ada di UKM (misalnya membuka usaha dibidang pemasokan bahan baku, keagenan, pemasaran, franchise).

Skema program terangkum dalam gambar dibawah ini:

Setelah perserta program menjalankan kegiatan magang di UKM, kecuali mahasiswa alumni program Coop, peserta mendirikan unit bisnis baru sesuai dengan rencana bisnisnya dan mendapatkan bimbingan usaha. Khusus untuk mahasiswa alumni program Coop karena pernah magang di UKM selama 3 bulan sehingga tidak diwajibkan melalui tahapan magang. Pendirian usaha baru dapat dilakukan secara individual maupun secara berkelompok. Apabila berkelompok, jumlah anggota kelompok maksimal 5 orang per kelompok.

Jumlah modal kerja yang disediakan untuk pendirian usaha maksimal 8 juta/mahasiswa. Pelaksanaan pendampingan pasca magang dilakukan baik oleh UKM pendamping maupun Perguruan Tinggi pelaksana selama kurang

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

20

lebih 9 bulan. Setelah masa pendamping telah dihasilkan wirausaha baru dan unit/usaha baru.

2.5.6. Pelaksanaan

Pelaksanaan program dirancang untuk jangka waktu satu tahun (12 bulan) yang dibagi menjadi 3 tahapan yaitu tahapan persiapan, pembekalan dan pelaksanaan program. Sebelum pelaksanaan program DIKTI mengadakan pertemuan dengan Perguruan Tinggi pelaksana program berkaitan dengan teknis pelaksanaan dan pemanfaatan dana.

Tahap Persiapan meliputi (1-2 bulan):

 Sosialisasi program kepada para mahasiswa

 Identifikasi dan Seleksi mahasiswa peserta program

 Penyiapan tim pelaksana dan materi pembekalan Tahap Pembekalan (2-3 bulan):

 Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan

 Penyusunan Rencana Bisnis (Business Plan)

 Seleksi Rencana Bisnis yang dilakukan dengan melibatkan pihak ke tiga (perbankan, perusahaan)

 Magang ke UKM

Tahap Pelaksanaan (6-9 bulan):

 Mahasiswa atau kelompok mahasiswa memulai bisnis (Star-up business) baru yang dipilih sesuai dengan rencana bisnisnya

 Pencairan modal kerja

 Pendampingan terpadu oleh tim Pembina/Pembimbing dari perguruan tinggi dan UKM guna membantu berbagai kesulitan yang dihadapi.

 Monitoring dan Evaluasi program.

2.5.7. Penyediaan Modal Kerja

Penyediaan modal kerja untuk memulai bisnis (start-up business) yang besarnya maksimum 8 juta/mahasiswa, atau kelompok yang terdiri dari 3-5 orang/kelompok. Besarnya dana tergantung pada jenis usaha dan rencana Bisnis yang diajukan mahasiswa serta aturan yang berlaku.

Berdasarkan jenis usaha yang dipilih maka bisnis dapat dilakukan secara individual maupun berkelompok. Jika bisnis dilakukan secara berkelompok maka jumlah maksimal anggota per kelompok 5 orang. Dengan demikian, dana yang dialokasikan untuk permodalan dapat menjangkau minimal 18 kelompok usaha baru. Namun demikian, setiap Perguruan Tinggi dituntut untuk lebih kreatif dalam pemanfaatan dan secara efektif dan efisien.

Sebagai bahan evaluasi berkelanjutan dukungan program dari pemerintah untuk tahun-tahun berikutnya, perguruan tinggi yang paling efisien dalam penggunaan dana dan dengan jumlah mahasiswa peserta program yang lebih banyak terlibat akan mendapat nilai lebih dan prioritas.

Skema penyediaan modal dan mekanisme pencairan dana kepada para mahasiswa akan diatur secara tersendiri oleh perguruan tinggi pengelola program. Untuk menunjang keberlanjutan program dan modal kerja yang telah diberikan, maka setelah bulan ke-7 mahasiswa peserta program diwajibkan memulai melaporkan perkembangan usahanya secara lebih terperinci kepada perguruan tinggi pengelola program.

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

21

BAB-III

PROGRAM PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

3.1. Peningkatan Mutu Pembinaan Kemahasiswaan

Pembinaan mahasiswa sebagai insan akademik dan profesional merupakan upaya mengembangkan mahasiswa menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa serta insan pengembang, pendukung kesatuan dan persatuan, budaya serta kemajuan bangsa. Berbagai kegiatan dapat dijadikan wahana pembinaan mahasiswa dalam ranah keimanan, ranah intelektual, profesional, sosial dan budaya yang kesemuannya diselenggarakan dengan meyakini bahwa mahasiswa adalah orang dewasa muda yang perlu mengembangkan diri pribadi serta wawasan kebangasaan dan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam berorganisasi, berprakarsa, bertanggungjawab, serta berkomunikasi.

Tujuan umum dari kegiatan peningkatan mutu pembinaan kemahasiswaan adalah:

1) Membangun pribadi mahasiswa yang berjiwa Pancasila, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berbudi pekerti luhur dan menjunjung nilai mulia kemanusiaan, berwawasan kebangsaan yang luas, terbuka dan mampu bermusyawarah, serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.

2) Mengembangkan insan masyarakat berpandangan luas yang menjunjung etika karya, berdisiplin dan memiliki rasa tanggungjawab, tangguh jasmaniah dan ruhaniah, rasional dan berbudaya, memiliki prakarsa serta mampu memimpin.

3.1.1. Peningkatan Mutu Pembinaan Penalaran Keilmuan dan Keprofesian Mahasiswa Di dalam lingkungan masyarakat akademik daya nalar mahasiswa dikembangkan agar mampu menelaah gejala-gejala perkembangan masyarakat dan teknologi menurut cara yang lazim digunakan dalam disiplin ilmu yang dituntutnya. Untuk mencapai hal tersebut lembaga pendidikan tinggi senantiasa mendukung proses pengembangan daya nalar.

Salah satu cara mengembangkan iklim dan budaya ilmiah yang mengembangkan daya nalar dikalangan mahasiswa adalah penyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler keilmuan dan keahlian khusus bagi mahasiswa, dalam forum yang diselenggarakan mahasiswa dengan melakukan diskusi ilmiah dan memahami jenis pertemuan ilmiah dan prosedur diskusi.

Tujuan peningkatan mutu pembinaan penalaran keilmuan dan profesi mahasiswa adalah:

a. Menanamkan sikap ilmiah mahasiswa dengan menumbuhkan sifat ingin tahu dan kegemaran studi, meningkatkan daya analisis, membangun kejujuran dan tanggungjawab ilmiah, mengembangkan keterbukaan terhadap beda pendapat dan kritik, menegakkan sikap bebas dari prasangka, menumbuhkan sikap menghormati nilai, kaidah dan norma, mengembangkan karakter mahasiswa, serta membangun orientasi ke masa depan.

b. Menanamkan sikap profesional mahasiswa dengan menegakkan sikap yang menjunjung etika karya, menumbuhkan hasrat untuk senantiasa menghasilkan karya atau memberikan layanan dengan standar tinggi

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

22

menurut profesi, membangun keinginan untuk selalu meningkatkan kemampuan dan kemahiran profesional, serta mengembangkan rasa tanggung jawab atas pelaksanaan kerja profesinya terhadap klien dan masyarakat.

3.1.2. Peningkatan Mutu Pembinaan Minat dan Bakat Mahasiswa

Mahasiswa program vokasi dan strata pertama yang umumnya berumur antara 19 sampai 24 tahun dalam psikologi perkembangan tergolong insan usia dewasa muda yang masih berada pada tingkat pertumbuhan baik fisik maupun jiwanya. Oleh karena itu bentuk minat dan kegemaran mahasiswa sangat beragam, tercermin dari banyaknya unit kegiatan mahasiswa di lembaga-lembaga pendidikan tinggi.

Pembinaan yang baik di bidang minat dan kegemaran mahasiswa, umpamanya dalam olahraga, kesenian, penulisan, kepramukaan dan sebagainya, niscaya akan menunjang pertumbuhan ruhaniah dan jasmaniah mahasiswa. Mengaktualisasikan minat dan kegemaran serta mengembangkan bakat untuk menunjang pertumbuhan rohaniah dan jasmaniah mahasiswa.Tolok ukur dari kegiatan ini adalah jumlah mahasiswa yang berkesempatan mengaktualisasikan minatnya dalam kegiatan ekstrakurikuler di bidang olahraga, kesenian, penulisan, kepramukaan dan sebagainya di lembaga pendidikan tinggi.

3.1.3. Peningkatan Mutu Pembinaan Kesejahteraan Mahasiswa

Analisis kegiatan kesejahteraan untuk memenuhi keperluan di bidang kerohanian, pelayanan kesehatan, keperluan akan buku dan alat tulis tempat tinggal, bimbingan dan konselling, serta hajat hidup lainnya, diperlukan untuk membantu mahasiswa dalam menyamankan hidup dan meringankan biaya hidup selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa yang memerlukan layanan yang dimaksudkan di atas memungkinkan penyelengaraan kegiatan mandiri terorganisasi untuk memenuhi barang keperluan hajat hidup yang lebih terjangkau, umpamanya melalui kegiatan koperasi. Di samping memenuhi hajat hidup, kegiatan yang di kelola secara mandiri sebagai kegiatan terorganisasi dapat menjadi ajang pelatihan dalam berprakarsa, berusaha, berorganisasi dan berkomunikasi.

Tujuan dari kegiatan peningkatan mutu pembinaan kesejahteraan mahasiswa adalah menyelenggarakan kegiatan untuk memenuhi keperluan akan layanan dan barang hajat hidup untuk menyamankan hidup dan meringankan biaya hidup mahasiswa. Kegiatan yang termaksud dalam kelompok ini adalah: kerohanian/keagamaan, kesehatan fisik, bimbingan dan konseling, beasiswa, bantuan tempat tinggal, koperasi/bursa, poliklinik, asuransi, dan fasilitas/peralatan.

3.1.4. Peningkatan Mutu Pembinaan Kegiatan Kemasyarakatan Mahasiswa

Sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa pasti memiliki kepedulian dan kepekaan sosial serta hasrat untuk berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya.Sebagai warga Negara muda, mahasiswa memiliki tanggungjawab sesuai usianya dan di dalam interaksi itu wajib memenuhi peraturan dan ketentuan umum yang berlaku.Dengan pandangan seperti ini, kepada mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri secara luas dan menyelenggarakan sendiri kegiatan kemasyarakatan atas prakarsanya secara bertanggungjawab. Kegiatan kemasyarakatan berbentuk bakti sosial yang antara lain dapat berupa penyuluhan, kerja bakti, upaya meringankan penderitaan korban bencana, donor darah dan sebagainya.

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

23

Tujuan dari peningkatan mutu pembinaan kegiatan kemasyarakatan

Tujuan dari peningkatan mutu pembinaan kegiatan kemasyarakatan

Dokumen terkait