• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kata Pengantar

i

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah kita panjatkan syukur ke hadirat Allah SWT atas terbitnya Buku Panduan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK Maba) bidang kemahasiswaan, yang diharapkan akan dapat memberikan bekal, wawasan, dan pengetahuan kepada Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013-2014 tentang berbagai aspek dalam bidang kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB).

Mahasiswa sebagai anak bangsa dituntut untuk selalu berkarya inovatif, produktif, berpikir dan bernalar serta kreatif dalam meyikapi setiap perubahan yang terjadi. Sebagai salah satu unsur insan akademis, sumbangan pikiran mahasiswa akan selalu menjadi harapan masyarakat. Untuk itu, jadikanlan kampus UB menjadi universitas terkemuka seperti cahaya (nur) yang selalu konsisten menyinari masyarakat, baik secara nasional maupun internasional dengan ide-ide cemerlang secara profesional, sesuai dengan temuan-temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis potensi dasar manusia, yaitu potensi rasio (akal), potensi raga, potensi etika (seni), dan potensi hati (qolbu).

Mahasiswa diharapkan senantiasa memahami dan menyadari, bahwa dirinya adalah warga kampus yang selalu mengedepankan etika, moral dan berperilaku santun di saat mengikuti perkuliahan, saat beraktivitas hingga saat terjun ke masyarakat.

Semoga buku ini bermanfaat bagi mahasiswa, dan kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku ini, saya sampaikan ucapan terma kasih.

Billahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Malang, Juli 2013 Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan,

Ir. H. RB. Ainurrasjid, MS.

NIP.195506181981031002

(3)

Daftar Isi

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

SAMBUTAN REKTOR ... v

SAMBUTAN PRESIDEN EM UB ... vi

BAB-I : POLA PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN NASIONAL ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Masalah Umum Pengembangan Kemahasiswaan ... 2

1.3 Tujuan Pengembangan Kemahasiswaan ... 3

1.4 Sasaran Pengembangan Kemahasiswaan ... 3

1.5 Pola Pengembangan Kemahasiswaan... 4

1.6 Strategi Pengembangan Kemahasiswaan ... 5

1.7 Program Pengembangan Kemahasiswaan ... 6

a. Penalaran dan Keilmuan ... 7

b. Bakat, Minat dan Kemampuan ... 7

c. Kesejahteraan ... 7

d. Kepedulian Sosial ... 7

1.8 Kegiatan Penunjang Kemahasiswaan ... 7

BAB-II : KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA ... 9

2.1 Visi dan Misi Bidang Kemahasiswaan ... 9

2.1.1 Visi ... 9

2.1.2 Misi ... 9

2.1.3 Motto ... 9

2.2 Rencana Strategis Bidang Kemahasiswaan ... 9

2.2.1 Program Peningkatan Penalaran Ilmiah, Minat Bakat dan Kesejahteraan Mahasiswa ... 10

2.2.2 Program Pengembangan Kelembagaan Kemahasiswaan ... 10

2.2.3 Program Pengembangan Sarana Kemahasiswaan ... 10

2.2.4 Program Pengembangan Struktur Pendanaan Kemahasiswaan... 10

2.3 Kebijakan Bidang Kemahasiswaan ... 11

2.3.1 Bidang Kelembagaan ... 11

2.3.2 Bidang Penalaran ... 11

(4)

Daftar Isi

iii

2.3.3 Bidang Minat dan Kesejahteraan ... 12

2.3.4 Bidang Khusus ... 12

2.4 Pengembangan Kemahasiswaan Berbasis Soft Skills ... 12

2.5. Job Placement Center Universitas Brawijaya ... 2.5.1 Pendahuluan ... 2.5.2. Visi dan Misi ... 2.5.3. Layanan ... 2.5.4. Pengembangan Mutu Lulusan dan Peningkatan Keterserapan lulusan di Dunia Kerja ... 2.6. Lembaga kewirausahaan Mahasiswa ... 17

2.6.1. Pendahuluan ... 17

2.6.2. Landasan Program... 17

2.6.3. Tujuan :... 18

2.6.4. Manfaat ... 18

2.6.5. Konsep Program ... 18

2.6.6. Pelaksanaan ... 20

2.6.7. Penyediaan Modal Kerja: ... 20

BAB-III : PROGRAM PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA ... 21

3.1. Peningkatan Mutu Pembinaan Kemahasiswaan... 21

3.1.1. Peningkatan Mutu Pembinaan Penalaran Keilmuan dan Keprofesian Mahasiswa. ... 21

3.1.2. Peningkatan Mutu Pembinaan Minat dan Bakat Mahasiswa ... 22

3.1.3. Peningkatan Mutu Pembinaan Kesejahteraan Mahasiswa ... 22

3.1.4. Peningkatan Mutu Pembinaan Kegiatan Kemasyarakatan Mahasiswa ... 22

3.1.5. Peningkatan Mutu Organisasi Kemahasiswaan ... 23

3.2. Peningkatan Pengembangan Kemahasiswaan Mutu Pembinaan Mahasiswa ... 23

3.2.1. Upaya Peningkatan Penalaran Mahasiswa ... 23

3.2.2. Upaya Peningkatan Pelayanan Kesejahteraan Mahasiswa ... 25

BAB-IV : KEGIATAN PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN ... 30

4.1. Kalender Kemahasiswaan Universitas Brawijaya Tahun 2012/2013 ... 30

BAB-V : PROFIL LEMBAGA MAHASISWA ... 32

5.1 Lembaga Kedaulatan Mahasiswa Universitas Brawijaya (LKM-UB) ... 32

5.1.1 Lembaga-lembaga di tingkat Universitas ... 32

(5)

Daftar Isi

iv

5.1.2 Lembaga-lembaga tingkat Fakultas ... 34

5.1.3 Struktur Organisasi Lembaga Kemahasiswaan Universitas Brawijaya ... 34

BAB-VI : TATA KRAMA KEHIDUPAN KAMPUS SEBAGAI MASYARAKAT ILMIAH ... 35

6.1 Pancasila Sebagai Sumber Nilai ... 35

6.2 Pola Pikir Masyarakat Ilmiah ... 35

6.3 Nilai-nilai Etis Masyarakat Ilmiah ... 37

6.4 Tradisi dan Kebebasan Akademik ... 37

6.5. Masyarakat Ilmiah yang Berwawasan Budaya Bangsa, Bermoral Pancasila dan Berkepribadian Indonesia. ... 38

6.6 Kehidupan Masyarakat Ilmiah Diluar Kampus ... 38

6.7 Mahasiswa sebagai Warganegara ... 38

(6)

v

SAMBUTAN REKTOR

Pada Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK-MABA) Tahun 2013-2014

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saya ucapkan selamat datang di Kampus UB bagi mahasiswa baru tahun akademik 2013- 2014, dan selamat atas kesempatan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi di UB. Oleh karena itu, sudah seharusnya untuk selalu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa karena memperoleh anugerah yang tiada ternilai.

Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK Maba) Bidang Kemahasiswaan merupakan kegiatan awal perguruan tinggi yang wajib saudara ikuti, dengan harapan saudara akan dapat mengenal, memahami, menghayati dan melaksanakan etika, norma, dan interaksi di bidang kurikuler dan ekstra kurikuler di UB.

Selama berada di UB, saudara akan dibimbing dalam aspek kognitif (pikir), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) oleh para dosen yang terdidik di bidang ilmunya dengan kualitas sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing. Diharapkan nantinya saudara akan menjadi alumnus UB yang mempunyai kemampuan dan keahlian ilmiah, sikap, dan integritas terampil serta terpuji, tidak saja sebagai job seeker (pencari kerja), tetapi sebagai job creator (pencipta pekejaan).

Proses ke arah tersebut tidak akan dapat dicapai tanpa usaha yang keras dan belajar dengan giat, yang diikuti selalu memohon ridho Allah S.W.T.

Sebagai warga UB, pahami dan patuhi semua peraturan yang ada di UB. Selanjutnya saudara harus bangga menjadi warga UB.

Selamat belajar, dan semoga dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita saudara.

Semoga Tuhan Yang Mahaesa selalu memberikan bimibingan dan petunjuk-Nya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Malang, Juli 2012 Rektor,

ttd

Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito NIP. 19510122 197903 1 002

(7)

vi

SAMBUTAN PRESIDEN EM UB

Seorang kawan pernah berkata, “Mimbar mahasiswa tidak akan pernah runtuh, sekalipun negara esok akan runtuh.”

Lama saya merenungkan kalimat di atas. Dengan seksama, perlahan saya akhirnya memahami bahwa belajar itu bisa dilakukan dalam kondisi apa saja – bahkan ketika negara akan segera runtuh. Belajar itu tidak membutuhkan kondisi negara yang stabil. Bukankah Bung Karno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, RM Tirtho Adhisoerjo bisa menjadi pembelajar brilian justru ketika bangsa ini masih terjajah?

Belajar merupakan sebuah proses aktif dalam pencarian ilmu, ibarat lomba lari yang memiliki titik awal tetapi tidak memiliki titik akhir. Kegiatan ini tidak memiliki titik finish sebagai penanda purna-nya kegiatan tersebut. Tidak ada seorang pun yang selesai belajar hanya karena dia sudah sarjana. Atau, tidak ada satu profesor pun yang merasa menguasai seluruh ilmu yang ada di muka bumi ini, hanya karena mengkhatamkan puluhan ribu buku.

Salah satu pendiri negeri ini, Bung Hatta, memiliki cara yang berbeda dalam belajar.

Yang paling banyak orang kagumi dari dia tentu saja kegemarannya membaca buku. Konon dia punya koleksi sepuluh ribu judul buku. Dan yang paling unik, dia selalu membaca buku dengan memakai jas lengkap, sepatu yang disemir mengkilap, dan rambut yang disisir klimis. Membaca buku itu seperti berhadapan dengan seorang profesor, jadi harus berpakaian rapi ketika membaca buku – kata Bung Hatta suatu ketika. Berkaca pada contoh tersebut, kegiatan belajar harusnya menjadi kegiatan yang mendapatkan tempat terhormat, setidaknya bagi subjek pembelajar itu sendiri.

Manusia, dan mahasiswa pada khususnya, adalah makhluk pembelajar, memenuhi rasa keingin-tahuan menjadi salah satu kebutuhan yang hakiki. Pada dasarnya, status mahasiswa tidak dibutuhkan untuk belajar. Itu bukan syarat yang harus dipenuhi agar kita bisa meraih ilmu. Semua orang, dengan status apapun, bisa jadi pembelajar. Walaupun memang ada yang membedakan mahasiswa dengan pembelajar pada umumnya, yaitu:

gelar sarjana yang didapat setelah sekian tahun bergelut dengan kegiatan perkuliahan.

Bangsa ini butuh banyak orang seperti Bung Hatta, pembelajar sejati yang mencintai sepenuhnya kegiatan belajar. Baginya, belajar bukanlah masalah gelar, bukan juga alat untuk mendapat kerja. Belajar adalah pondasi untuk membangun sumber daya manusia mumpuni yang akan membangun negara ini. Bung Hatta berprinsip bahwa kita tak boleh merdeka sebelum penduduk negeri ini terdidik. Meskipun memang prinsip ini bertentangan dengan apa yang Bung Karno yakini, tapi mereka semua sepakat, penduduk bangsa ini wajib mendapat pendidikan.

Kampus ini, Universitas Brawijaya, menyediakan berbagai fasilitas belajar yang lebih dari memadai. Tapi fasilitas hanya sekedar fasilitas, tidak akan berguna ketika itu tidak digunakan, dan hanya menjadi pajangan dalam etalase di perpustakaan, atau di laboratorium. Kampus ini hanya akan mejadi bagunan megah yang tidak memiliki beda dengan hotel bintang lima, jika di dalamnya tidak ada mahasiswa yang memiliki kesadaran kuat untuk belajar, dan menggunakan fasilitas itu seoptimal mungkin.

Saat ini, keadaan jauh berbeda dengan masa Bung Hatta dulu. Mimbar mahasiswa telah dibangun dengan megah dan kokoh. Akan tetap berdiri sekalipun bencana datang.

Sekarang saat untuk mengisi mimbar tersebut dengan rasa cinta pada ilmu. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: siapkah kita untuk mengisi hari-hari kita di kampus biru dengan semangat tak kenal lelah untuk belajar?

(8)

vii

Akhir kata saya dan keluarga besar Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya periode 2012-2013 mengucapkan selamat datang di kampus biru.

Mimbar mahasiswa tidak akan pernah runtuh, sekalipun negara esok akan runtuh.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Malang, Juli 2012

Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya

Fandi Rizki Rosyari NIM. 0710223037

(9)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

1

BAB-I

POLA PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN NASIONAL

1.1 Latar Belakang

Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Berdasarkan amanat UUD 1945 itu telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dengan demikian landasan, tujuan dan arah penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia semakin menjadi jelas, lebih kokoh, lebih lengkap serta mempunyai kepastian hukum. Khusus mengenai kualitas manusia Indonesia, dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 tentang Tujuan Pendidikan Nasional, dikemukakan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.

Mahasiswa merupakan salah satu bagian dari sumberdaya manusia Indonesia dan sekaligus merupakan aset bangsa yang kelak akan menjadi generasi penerus dalam pembangunan bangsa seutuhnya. Di sisi lain, mahasiswa merupakan insan yang memiliki berbagai dimensi, yaitu sebagai bagian dari sivitas akademika dan bagian dari generasi muda yang terdidik dan terlatih sebagai pelaku yang ikut berperan dan menentukan sejarah perkembangan bangsa Indonesia.

Dalam upaya mewujudkan bangsa dan masyarakat Indonesia yang maju, mandiri dan sejahtera lahir dan batin sebagai landasan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, peranan pendidikan tinggi amat penting dan strategis.

Pendidikan tinggi melalui kegiatan penelitian dan keilmuan dapat menghasilkan berbagai pemikiran dan konsepsi untuk memajukan harkat dan martabat manusia serta budaya bangsa melalui kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta karya seni yang bermutu sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Sejarah membuktikan, perjuangan bangsa Indonesia, generasi muda mahasiswa telah berperan sebagai pelopor:

a. Pada tahun 1908 mahasiswa telah membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui Budi Utomo.

b. Pada tahun 1928 mahasiswa telah merintis kelahiran bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

c. Menjelang tahun 1945, mahasiswa turut berperan dalam mempercepat kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 atau kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Pada tahun 1946-1949 yang merupakan masa perang kemerdekaan. Para mahasiswa bergabung di dalam Tentara Pelajar (TP/TRIP) bahu membahu dengan rakyat dan TNI untuk melawan penjajahan.

(10)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

2

e. Pada tahun 1966, para mahasiswa bersama ABRI secara aktif berperan dalam melahirkan Orde Baru yang mengakhiri kehadiran Orde Lama.

f. Pada tahun 1998, para mahasiswa bersama komponen reformis lainnya, secara aktif berperan dalam melahirkan orde reformis yang mengakhiri pemerintah Orde Baru.

Mengingat mahasiswa merupakan aset nasional dan sumberdaya insani yang strategis maka perlu diberi peluang dan kesempatan seluas-luasnya untuk mengaktualisasikan diri secara utuh dan bertanggung jawab. Sebagai sivitas akademika dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, mahasiswa merupakan mitra dosen dalam proses belajar mengajar yang dialogis. Pembina kemahasiswaan berperan dalam proses pengembangan diri mahasiswa, dengan berpegang pada norma dan etika yang ada senantiasa menunjukkan sikap ulur tangan dan sedikit mungkin campur tangan. Demikian pula dalam menata organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi senantiasa berpegang pada prinsip “dari, oleh dan untuk mahasiswa”. Sebagai unsur terpelajar dari generasi muda, mahasiswa diharapkan senantiasa peka terhadap masalah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan diberi peluang untuk turut serta dalam pembangunan nasional. Sebagai warga negara yang telah dewasa mahasiswa memilki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang lainnya.

Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut, maka pengembangan kemahasiswaan merupakan tugas nasional yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Secara operasional pengembangan kemahasiswaan seyogyanya diselenggarakan dengan strategi dan pendekatan yang tepat yaitu dengan memperhatikan sasaran, materi, metode, sarana, dan kelembagaan.

1.2 Masalah Umum Pengembangan Kemahasiswaan

Pada umumnya, kebijakan yang ada di berbagai perguruan tinggi saat ini mencerminkan keadaan yang relatif sama yaitu belum adanya keterpaduan antara kegiatan kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kondisi ini jelas kurang kondusif untuk mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan aktualisasi diri mahasiswa.

1.2.1 Secara kuantitatif, masih sedikit mahasiswa yang berminat pada program pengembangan penalaran dan keilmuan; minat-bakat, dan kemampuan;

kesejahteraan; kepedulian sosial; dan kegiatan penunjang. Keadaan ini antara lain dilatarbelakangi oleh tingginya biaya perkuliahan yang mengakibatkan mereka ingin cepat selesai dan segera mencari pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Oleh karena itu untuk dapat lebih banyak lagi melibatkan mahasiswa, maka kegiatan kemahasiswaan selain ditujukan untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa, sebaiknya juga ditujukan untuk mengembangkan keahlian/keterampilan yang mendukung mereka sehingga memudahkan dalam mencari kerja dan menciptakan pekerjaan.

1.2.2 Mahasiswa yang berpartisipasi dalam organisasi mahasiswa (Ormawa) intra perguruan tinggi jumlahnya relatif kecil, akan tetapi ketika terjadi peristiwa yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, mahasiswa dengan cepat menunjukkan sikapnya melalui protes yang cenderung reaktif dan sporadis.

Keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas semacam ini, di satu sisi bernilai positif karena mereka menunjukkan tingkat kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi.

Tetapi disisi yang lain bernilai negatif karena dalam mengekspresikan protes cenderung mengabaikan kaidah-kaidah akademik yang dijunjung tinggi di perguruan tinggi.

1.2.3 Keterlibatan organisasi ekstra perguruan tinggi secara langsung di dalam kampus akan dapat berdampak pada pengkotak-kotakan mahasiswa yang

(11)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

3

selanjutnya dapat mengakibatkan perpecahan dan konflik dikalangan mahasiswa. Keterlibatan semacam ini jelas bertentangan dengan Kepmendikbud Nomor 155/U/1998, tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi dan Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Nomor 26/Dikti/Kep/2002, tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus.

1.2.4 Mahasiswa cenderung menafsirkan Kepmendikbud Nomor 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, sebagai pemberian kebebasan seluas-luasnya kepada mahasiswa tanpa memperhatikan kedudukan, fungsi dan tanggung jawab. Kesalahan tafsir ini terjadi karena adanya kalimat dalam Kepmendikbud pasal 2, bahwa: "Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa". Padahal pada pasal 6 Kepmendikbud tersebut diatur bahwa "Derajat kebebasan dan mekanisme tanggungjawab organisasi kemahasiswaan intra-perguruan tinggi terhadap perguruan tinggi ditetapkan melalui kesepakatan antara mahasiswa dengan pimpinan perguruan tinggi, dengan tetap berpedoman bahwa pimpinan perguruan tinggi merupakan penanggungjawab segala kegiatan di perguruan tinggi dan atau yang mengatasnamakan perguruan tinggi".

1.2.5 Kesalahan pengertian semacam ini, berdampak pada sikap mahasiswa yang merasa berhak untuk mengabaikan wewenang pimpinan perguruan tinggi untuk mengatur Ormawa di kampus. Kesalahpengertian ini perlu segera diatasi melalui berbagai kegiatan yang difasilitasi oleh pimpinan perguruan tinggi.

1.3 Tujuan Pengembangan Kemahasiswaan

Tujuan pengembangan kemahasiswaan di UB adalah sebagai berikut:

(1) Mengembangkan kegiatan kemahasiswaan sesuai dengan visi dan misi pendidikan tinggi.

(2) Mengembangkan penalaran dan keilmuan; penelusuran bakat, minat, dan kemampuan; kesejahteraan; kepedulian sosial; dan kegiatan penunjang, berlandaskan pada kaidah akademis, moral, dan etika ilmu pengetahuan serta kepentingan masyarakat.

(3) Mengembangkan dan meningkatkan kualitas program dan sarana penunjangnya.

1.4 Sasaran Pengembangan Kemahasiswaan

Sebagian besar mahasiswa masih belum mencerminkan sikap sebagai insan akademis, yaitu memahami etika, tatacara berkomunikasi, penggunaan nalar dalam bertindak, pemahaman terhadap hak, tanggungjawab, dan kewajiban sebagaimana yang diharapkan, baik sebagai bagian dari masyarakat kampus maupun sebagai warga negara Indonesia. Dalam menanggapi berbagai peristiwa sosial baik di tingkat lokal maupun nasional mahasiswa selayaknya berperan sebagai warga masyarakat akademik, sehingga citranya mantap sebagai komponen sivitas akademika. Mahasiswa hendaknya lebih tampil sebagai kekuatan moral (moral force) yang menyuarakan nurani masyarakat (social conscience). Citra ini yang perlu dikukuhkan oleh perilaku mahasiswa umumnya, bukan sekadar citra sebagai demonstran yang menyuarakan sikap tidak setuju atau menentang tanpa menawarkan alternatif pemecahannya. Dalam mengungkapkan ketidaksetujuan atau penolakan, mahasiswa sebaiknya menyarankan pula hasil pemikirannya dalam bentuk alternatif jalan keluar pemecahan masalah.

Sebagai akibat dari globalisasi, pada saat sekarang ini terjadi perubahan yang sangat cepat di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan menganalisis dan mengantisipasi perubahan yang terjadi ini, melalui

(12)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

4

berbagai forum akademik seperti pelatihan, lokakarya (workshop) ataupun seminar- seminar dengan pembicara tingkat nasional maupun internasional. Melalui kegiatan seminar diharapkan terjadi pengkayaan pemahaman terhadap masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini maupun di masa depan. Selain itu diharapkan terjadi peningkatan ketajaman analisis terhadap dampak globalisasi pada bangsa Indonesia serta masa depan bangsa.

1.5 Pola Pengembangan Kemahasiswaan

Pengelolaan pendidikan tinggi negeri dengan paradigma baru telah mengalami perubahan sistem yakni semula bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Meskipun perguruan tinggi di Indonesia mempunyai latar belakang sejarah serta visi dan misi, pengorganisasian, dan model kepemimpinan yang berbeda satu sama lain, namun tetap terikat pada satu tujuan, yakni mencapai pengelolaan perguruan tinggi yang sehat, sehingga mampu berkontribusi pada daya saing bangsa. Sehubungan dengan itu, maka perguruan tinggi memegang peranan penting dalam mengembangkan mahasiswa sebagai aset bangsa, yang pada hakikatnya mencakup:

(1) Pengembangan kemampuan intelektual, keseimbangan emosi, dan penghayatan spiritual mahasiswa, agar menjadi warga negara yang bertanggungjawab serta berkontribusi pada daya saing bangsa.

(2) Pengembangan kemampuan moral dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society) yang demokratis, berkeadilan dan berbasis pada partisipasi publik.

Untuk pencapaian pengembangan kemahasiswaan dibutuhkan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat dalam bentuk: peraturan, keterlibatan staf pengajar, kepedulian pimpinan, fasilitas pendukung kegiatan, dan pendanaan. Keterlibatan staf pengajar perlu mendapat perhatian khusus, karena keterlibatan mereka sebagai pembimbing atau pendamping kemahasiswaan yang dulu berperan sebagai regulator dan eksekutor, kini berubah menjadi pemberdaya, fasilitator dan motivator.

Dalam rangka memenuhi peran perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswa disusunlah pola pengembangan kemahasiswaan yang merupakan rujukan bagi para pembuat kebijakan dan para pembimbing atau pendamping kemahasiswaan.

Keberadaan rujukan ini menjadi penting, karena sejak bergulir reformasi ketatanegaraan yang disertai dengan euphoria kebebasan yang berlebihan dan cenderung tidak berkesudahan mengakibatkan sendi-sendi pola pengembangan kemahasiswaan di perguruan tinggi terabaikan.

Euphoria kebebasan yang berlebihan ini, antara lain, terlihat dari sejumlah mahasiswa yang secara terbuka melakukan kegiatan di kampus dengan menggunakan atribut organisasi politik ataupun organisasi ekstra-perguruan tinggi, tanpa sepengetahuan atau izin pimpinan perguruan tinggi. Kegiatan semacam ini jelas merupakan pengabaian terhadap Kepmendikbud Nomor 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaaan di Perguruan Tinggi dan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 26/DIKTI/Kep/2002, tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus. Bila kondisi semacam ini terus berlangsung, maka dalam jangka panjang dikhawatirkan kampus tidak lagi merupakan sumber kekuatan moral, tetapi lebih merupakan sumber kekuatan politik praktis.

Pengembangan kemahasiswaan di perguruan tinggi yang merupakan bagian integral dari pembangunan pendidikan tinggi secara menyeluruh harus merujuk pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dengan demikian, kegiatan mahasiswa di dalam kampus harus mencakup pengembangan

(13)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

5

organisasi mahasiswa yang sehat, pembinaan sumberdaya manusia yang berkualitas yang mencerminkan otonomi dalam bidang pendidikan.

Pengembangan kemahasiswaan adalah suatu upaya yang dilakukan dengan penuh kesadaran, berencana, teratur, terarah, dan bertanggung jawab dalam mendukung kegiatan kurikuler melalui organisasi kemahasiswaan. Berdasarkan pola pikir tersebut, maka pola pengembangan kemahasiswaan di Indonesia diselenggarakan untuk mencapai sasaran umum dan sasaran khusus.

Sasaran umum pola pengembangan kemahasiswaan di Indonesia meliputi membentuk manusia yang berjiwa Pancasila, berjiwa kepemimpinan yang baik, berdedikasi dan kepeloporan dalam pembangunan, serta memiliki ketahanan fisik dan mental yang tangguh. Para mahasiswa sebagai warga negara Indonesia perlu dididik agar berjiwa Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa serta berbudi luhur, berwawasan kebangsaan yang luas, terbuka dan mampu bermusyawarah serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Para mahasiswa sebagai generasi muda diberikan peluang untuk mengembangkan dirinya melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan, kegiatan komunikasi dan pelatihan manajemen yang terarah dalam rangka memantapkan sikap, wawasan dan kemampuan kepemimpinan sebagai generasi penerus di masa depan. Para mahasiswa diberi peluang untuk mengembangkan kemandirian guna memperoleh dedikasi dan kepeloporan dalam pembangunan melalui kagiatan-kegiatan yang kreatif dan inovatif serta produktif dengan mengamalkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni bagi pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Para mahasiswa dididik dan dilatih untuk dapat memiliki ketahanan fisik dan mental yaitu sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap serta memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin tinggi yang pada gilirannya akan dapat menunjang ketahanan nasional.

Sasaran khusus pola pengembangan mahasiswa adalah membangun sikap ilmiah dan sikap profesional. Para mahasiswa dididik dan dilatih agar memiliki sikap ilmiah yang meliputi: a) hasrat ingin tahu, dan belajar terus menerus; b) daya analisis yang kritis dan tajam; c) jujur; d) rasa tanggung jawab yang tinggi; e) terbuka terhadap pendapat baru, pendapat yang berbeda dan kritik; f) sikap bebas dari prasangka; g) berorientasi ke masa depan; h) sikap menghargai nilai, norma, kaidah dan tradisi keilmuan. Para mahasiswa perlu diberi motivasi agar memiliki sikap profesional yang meliputi: a) keinginan untuk mencapai tingkat keahlian yang lebih tinggi; b) kemandirian dan kemahiran sesuai minat ilmu, bakat dan kemampuan serta arah profesi; c) etika profesi yang tinggi; d) kesejawatan yang tinggi.

1.6 Strategi Pengembangan Kemahasiswaan

(1) Perlu disusun dan disosialisasikan secara terus-menerus aturan yang jelas mengenai hak dan kewajiban mahasiswa, yakni Kepmendikbud Nomor 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di PerguruanTinggi, tatacara penggunaan sarana kampus, maupun tata cara melakukan kegiatan di kampus dan sebagainya.

(2) Terhadap hak dan kewajiban mahasiswa, pemberian fasilitas dan dukungan serta pembimbingan dan pendampingan oleh dosen dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

(3) Kepedulian pimpinan perguruan tinggi dan dosen terhadap kegiatan kemahasiswaan. Permasalahan dan kegiatan pengembangan kemahasiswaan bukan hanya merupakan tanggungjawab pimpinan perguruan tinggi saja.

Keberhasilan atau kemajuan yang dicapai dalam pengembangan kemahasiswaan tergantung pada seberapa besar keterlibatan pimpinan perguruan tinggi serta para staf pengajar dari perguruan tinggi tersebut dalam kegiatan pengembangan

(14)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

6

kemahasiswaan. Didalamnya termasuk peranan staf pengajar dalam penyampaian pesan moral terhadap sikap dan perilaku seorang mahasiswa di kampus, memotivasi dan membangkitkan kreativitas. Mengembangkan komunikasi yang intensif di antara pimpinan perguruan tinggi dengan para aktivis mahasiswa dari berbagai Ormawa yang diakui eksistensinya di kampus untuk menghindari adanya miskomunikasi dan untuk meningkatkan saling pengertian.

(4) Melakukan pergeseran paradigma dari program kemahasiswaan yang didominasi oleh wawasan politik menuju ke program kemahasiswaan yang mengutamakan atau berfokus pada mempersiapkan mahasiswa agar mandiri dalam memasuki dunia kerja serta tangguh menghadapi tantangan di masa depan.

(5) Melakukan dan mendorong berbagai kegiatan unggulan yang mencakup kegiatan penalaran dan keilmuan, pembangkitan semangat kewirausahaan, peningkatan daya saing, kepekaan sosial, dan, keagamaan.

(6) Membentuk suasana yang kondusif agar mahasiswa tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis sehingga mahasiswa tidak menjadi terkotak-kotak. Hal ini antara lain dengan tidak memberi izin organisasi ekstra-perguruan tinggi maupun organisasi lainnya yang merupakan onderbouw dari parpol untuk mempunyai eksistensi di dalam kampus.

(7) Perguruan tinggi mengangkat staf pengajar sebagai pembimbing dan pendamping kegiatan kemahasiswaan bagi setiap UKM (Unit Kegiatan Kemahasiswaan) dengan menjalankan peran sebagai pemberdaya, fasilitator dan motivator.

Diharapkan dengan adanya pembimbing dan pendamping kemahasiswaan ini, kegiatan Ormawa tidak sekedar merupakan kegiatan yang statis-rutin, tetapi merupakan kegiatan yang dinamis-kreatif, terencana, dan berkesinambungan.

(8) Dalam rangka pengembangan sikap dan jati diri mahasiswa sebagai insan akademis, perlu dilakukan kegiatan peningkatan wawasan dan kualitas mahasiswa melalui berbagai kegiatan terstruktur seperti seminar, diskusi, lokakarya dan lain- lain.

(9) Perguruan tinggi mengalokasikan anggaran untuk mengembangkan kegiatan kemahasiswaan.

(10) Perguruan tinggi memberikan penghargaan kepada mahasiswa dan pembimbing dan pendamping kemahasiswaan yang menunjukkan prestasi dan pengabdiannya, baik dalam bentuk materi maupun bentuk penghargaan lainnya.

(11) Perguruan tinggi memberikan sangsi kepada mahasiswa, pembimbing dan pendamping kemahasiswaan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan yang berlaku.

1.7 Program Pengembangan Kemahasiswaan

Pada dasarnya mahasiswa adalah insan akademis, oleh karena itu citra yang harus ditampilkan oleh mahasiswa adalah citra yang mencerminkan kemampuan intelektualnya. Citra ini antara lain tampil dalam perwujudan daya nalar dan daya analisis yang kuat terutama dalam menuangkan gagasan untuk penyusunan program dan kegiatan kemahasiswaan yang realistis dan berkualitas. Program pengembangan kemahasiswaan disusun mengacu pada kondisi mahasiswa saat ini serta berpedoman pada strategi pengembangan kegiatan kemahasiswaan. Sebagai catatan perlu diingatkan bahwa dunia kemahasiswaan selalu mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu.

Bagi para penyusun program pengembangan kemahasiswaan di perguruan tinggi diperlukan pemahaman terhadap masalah kemahasiswaan yang ada pada saat tertentu.

Dinamika kehidupan kemahasiswaan dipengaruhi oleh baik faktor internal yang ada di perguruan tinggi bersangkutan, maupun faktor eksternal yang ada di tingkat lokal,

(15)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

7

regional maupun nasional serta internasional. Pemahaman akan kondisi internal dan ekstemal ini diharapkan menjadi dasar acuan untuk merencanakan, mengembangkan dan melaksanakan program dan kegiatan kemahasiswaan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini di masing-masing perguruan tinggi.

Kegiatan dalam program pengembangan kemahasiswaan pada dasarnya dapat dikelompokan atas beberapa bidang sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

a. Penalaran dan Keilmuan

Program dan kegiatan kemahasiswaan yang bertujuan menanamkan sikap ilmiah, merangsang daya kreasi dan inovasi, meningkatkan kemampuan meneliti dan menulis karya ilmiah, pemahaman profesi, dan kerjasama mahasiswa dalam tim, baik pada perguruan tingginya maupun antar perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri.

Kegiatan ini dapat berbentuk; Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional (PIMNAS);

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM); Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (Mawapres); Co-operative education, GemasTIK (Pagelaran Mahasiswa bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi), Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/On-MIPA), Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Jembatan Indonesia (KJI), Kontes Bangunan Bertingkat (KGB), Kontes Muatan Roket Indonesia (Komurindo), dan kegiatan lain yang sejenis.

b. Bakat, Minat dan Kemampuan

Program dan kegiatan kemahasiswaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam manajemen praktis, berorganisasi, menumbuhkan apresiasi terhadap olahraga dan seni, kepramukaan, belanegara, cinta alam, jurnalistik, dan bakti sosial. Kegiatan ini dapat berbentuk: Pelatihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), POM ASEAN, Universiade; Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas); Pramuka Mahasiswa; Resimen Mahasiswa; Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala); Penerbitan Kampus; Korps Sukarela Mahasiswa; Debat Bahasa Inggris (NUEDC);

Kewirausahaan; dan kegiatan lain yang sejenis.

c. Kesejahteraan

Program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan fisik, mental, dan kerohanian mahasiswa. Kegiatan ini dapat berbentuk: Beasiswa; Asrama Mahasiswa;

Kantin Mahasiswa; UKM Koperasi; Poliklinik; Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Mahasiswa; Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi); Bimbingan dan Konseling (Guidance and Counseling); Job on Campus; dan kegiatan lain yang sejenis.

d. Kepedulian Sosial

Program yang bertujuan untuk meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, menumbuhkan kecintaan kepada tanah air dan lingkungan, kesadaran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang bermartabat. Kegiatan ini dapat berbentuk; Pelatihan Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dan Pencegahan Penyebarluasan HIV/AIDS;

Pengembangan Desa Binaan; Pelayaran Kebangsaan; Dialog Kemahasiswaan;

Tanggap Darurat dan Emergensi (Team of Emergency and Disaster) dan dan kegiatan lain yang sejenis.

e. Pengembangan Karakter (Character Building)

Program pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi daripada pendidikan moral. Pendidikan karakter bukan hanya mengajarkan benar dan salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik. Melalui cara seperti itu

(16)

BAB-I: Pola Pengembangan Kemahasiswaan Nasional

8

mahasiswa mampu membedakan benar dan salah (ranah kognitif), mampu merasakan nilai yang baik (rana afektif), dan mampu mempraktekkan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan kesehariannya (ranah konatif atau psikomotorik). Melalui program ini diharapkan mahasiswa mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan kesehariannya dan dalam kehidupan bermasyarakat.. Melalui pendidikan karakter diharapkan terjadi pembelajaran yang menghasilkan moral knowing dan moral feeling, sehingga pada akhirnya akan tercipta moral behavior.

1.8 Kegiatan Penunjang Kemahasiswaan

1.8.1 Program yang bertujuan untuk meningkatkan sikap dan kemampuan dosen dalam keterlibatannya membimbing kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan ini dapat berbentuk: Pelatihan Pelatih Orientasi Pengembangan Pembimbing Kemahasiswaan (PP-OPPEK); Pelatihan Pelatih Keterampilan Manajemen Mahasiswa (PP-LKMM); Pelatihan Pembimbing dan Pendamping Penalaran Mahasiswa (PPPM); dan kegiatan lain yang sejenis.

1.8.2 Program yang bertujuan untuk meningkatkan sarana dan prasarana kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan ini dapat berbentuk: pengembangan sistem informasi kemahasiswaan dan alumni; pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kegiatan kemahasiswaan; dan kegiatan lain yang sejenis.

(17)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

9

BAB-II

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2.1 Visi dan Misi Bidang Kemahasiswaan

2.1.1 Visi

Adapun visi yang hendak dicapai melalui kebijakan pengembangan kemahasiswaaan di Universitas Brawijaya adalah “MAHASISWA UNIVERSITAS BRAWIJAYA YANG UNGGUL DALAM PENGUASAAN ILMU DAN TEKNOLOGI SERTA BERDAYA SAING GLOBAL”.

2.1.2 Misi

Visi tersebut dijabarkan dalam misi sebagai berikut:

(1) mengembangkan jiwa dan semangat kebangsaan;

(2) meningkatkan dedikasi dan kepeloporan dalam pembangunan;

(3) meningkatkan semangat belajar untuk menguasai ilmu dan teknologi;

(4) mengembangkan kemampuan soft skills melalui proses belajar mengajar dan kegiatan organisasi kemahasiswaan;

(5) mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial; serta (6) mengembangkan jiwa dan sikap kewirausahaan.

2.1.3 Motto

Motto di bidang kemahasiswaan adalah: “berakhlak mulia, unggul dalam kepemimpinan, dan berjiwa kewirausahaan”.

2.2 Rencana Strategis Bidang Kemahasiswaan

Sebagaimana termaktub dalam isu utama Rencana Strategis Universitas Brawijaya tahun 2011-2016, salah satunya adalah peningkatan daya saing nasional yaitu melalui peningkatan kualitas dari seluruh sumberdaya yang dimiliki universitas khususnya mahasiswa sebagai unsur penting dalam proses regenerasi kepemimpinan bangsa, maka untuk mewujudkan hal tersebut Universitas Brawijaya menjabarkan isu strategis tersebut ke dalam enam bidang kebijakan yang salah satunya adalah bidang pengembangan pendidikan dan kemahasiswaan. Dalam penjabarannya, untuk meningkatkan daya saing lulusan di masyarakat, diperlukan pengembangan soft skills bagi mahasiswa Universitas Brawijaya. Hal ini juga dijelaskan dalam kebijakan dasar nomor 3 dan nomor 4 pada rencana program 2006-2011 bidang pengembangan pendidikan dan kemahasiwaan yang menyatakan bahwa Universitas Brawijaya memberikan kesempatan dan keterampilan kepada mahasiswa untuk belajar dan berkembangan dengan optimal; dan memberikan ruang yang cukup bagi pengembangan kepribadian, bakat, minat dan pembinaan diri.

Untuk itu pola pembinaan kemahasiswaan di Universitas Brawijaya diarahkan pada pengembangan budaya kampus yang mengintegrasikan antara pembinaan intrakurikuler melalui kegiatan proses belajar mengajar dengan pembinaan ekstra kurikuler yang menyangkut pembinaan penalaran, minat bakat dan kesejahteraan mahasiswa. Pengembangan secara sinergi semacam ini memungkinkan terjadinya pembentukan jati diri mahasiswa seutuhnya serta memadukan pengembangan kemampuan intelektual dengan soft-skills. Program pengembangan kemahasiswaan semacam ini akan mendukung pencapaian kompetensi lulusan secara utuh untuk mampu berperan dalam masyarakat secara cerdas, bermartabat dan bertanggungjawab menurut profesinya masing-masing.

(18)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

10

2.2.1 Program Peningkatan Penalaran Ilmiah, Minat Bakat dan Kesejahteraan Mahasiswa

Tujuan program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa yang secara langsung berdampak pada terciptanya lingkungan akademik yang kondusif bagi pendidikan, melalui:

(1) Peningkatan daya nalar ilmiah mahasiswa melalui: mengadakan pelatihan metodologi penelitian bagi mahasiswa; mengadakan konsultasi pembuatan proposal bersama kelompok kerja; mengadakan evaluasi terhadap proposal yang disusun oleh mahasiswa; mengadakan lomba penalaran ilmiah bagi mahasiswa baru dan mahasiswa lama; serta mengikuti lomba tingkat nasional dan internasional;

(2) Peningkatan pengembangan minat (kesenian, olahraga, keorganisasian, keagamaan, dll) dan bakat melalui kegiatan minat dan bakat yang relevan, baik di tingkat regional, nasional dan internasional;

(3) Peningkatan kesejahteraan mahasiswa dengan cara; meningkatkan jumlah penerima beasiswa, meningkatkan jumlah sumber pemberi beasiswa, meningkatkan pelayanan kesehatan bagi mahasiswa, meningkatkan pelayanan kerohanian, pelayanan bimbingan dan konseling mahasiswa, membekali mahasiswa memasuki dunia kerja;

(4) Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi kemahasiswaan tingkat nasional dan internasional, serta meningkatkan motivasi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan internasional secara selektif, bermutu dan berkesinambungan;

(5) Pengembangan karakter mahasiswa melalui kegiatan penyusunan kode etik dan sosialisasi kode etik, penyusnan SOP pengembangan karakter, pembentukan sikap dan perilaku anti-korupsi, serta seminar dan lokakarya pengembangan karakter.

2.2.2 Program Pengembangan Kelembagaan Kemahasiswaan

Tujuan dari program ini adalah mengembangkan organisasi dan manajemen kemahasiswaan dalam struktur organisasi universitas yang otonom dan manajemen yang sehat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melalui:

(1) Penataan struktur dan fungsi lembaga-lembaga kemahasiswaan dilakukan dengan menyelesaikan persoalan kelembagaan internal mahasiswa;

(2) Peningkatan fungsi, peran dan pemberdayaan kelembagaan mahasiswa;

(3) Pengembangan jaringan komunikasi kelembagaan dengan perguruan tinggi nasional dan internasional;

(4) Penataan kembali AD dan ART lembaga kemahasiswaan Universitas Brawijaya.

2.2.3 Program Pengembangan Sarana Kemahasiswaan

Tujuan dari program ini adalah memfasilitasi sarana olahraga dan seni yang dibutuhkan mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, melalui program penambahan dan pemeliharaan sarana bagi kegiatan kemahasiswaan di bidang minat, bakat dan kegiatan organisasi.

2.2.4 Program Pengembangan Struktur Pendanaan Kemahasiswaan

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kemampuan revenue generating kemahasiswaan yang dapat digunakan untuk menunjang seluruh kegiatan kemahasiswaan, melalui:

(19)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

11

(1) Penyusunan konsep, pengalokasian dan penambahan sumber-sumber dana untuk kegiatan kemahasiswaan;

(2) Meningkatkan jumlah sponsor kegiatan kemahasiswaan dan beasiswa.

2.3 Kebijakan Bidang Kemahasiswaan

2.3.1 Bidang Kelembagaan

Adapun kebijakan dalam bidang kelembagaan ini mencakup:

(1) Memantapkan lembaga kemahasiswaan tingkat universitas;

(2) Penyediaan sarana dan prasarana organisasi kemahasiswaan yang lengkap dan memadai;

(3) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan pengabdian untuk memimpin organisasi kemahasiswaan guna bertanggung jawab ikut mengantarkan mahasiswa lainnya sesuai dengan arah dan sasaran pengembangan kemahasiswaan;

(4) Peningkatan pelaksanaan pemilihan mahasiswa (Pemilwa) secara tertib sesuai dengan jadwal waktunya;

(5) Penyediaan dana yang memadai untuk kegiatan organisasi dan pembimbingan mahasiswa;

(6) Peningkatan hubungan dan kerjasama antara pejabat bidang kemahasiswaan dengan pejabat bidang lainnya di dalam dan di luar kampus;

(7) Peningkatan peran bagian bimbingan dan konseling di tingkat universitas dan fakultas untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi mahasiswa;

(8) Pembuatan program dan perencanaan kerja dan keuangan organisasi kemahasiswaaan yang menfokuskan pada arah dan sasaran pengembangan kemahasiswaan yang meliputi:

 Program Unggulan di Universitas, yang terdiri dari:

a. Program Mahasiswa Kewirausahaan;

b. Diklat kepemimpinan;

c. Job on Campus;

d. Pelatihan Pelatih Keterampilan Manajemen Mahasiswa tingkat dasar, tingkat menengah, dan tingkat lanjut;

e. Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Universitas Brawijaya.

 Program Nasional Dikti, yang terdiri dari:

a. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS);

b. Pesta Paduan Suara Tingkat Nasional;

c. Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional);

d. POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional);

e. Gemastik (Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi)

f. Olimpiade nasional bidang MIPA (ON-MIPA);

g. Kontes Robot Indonesia (KRI);

h. Kontes Jembatan Indonesia (KJI);

i. KOMURINDO (Kontes Muatan Roket Indonesia);

j. MTQ Nasional;

k. Mahasiswa Berpretasi Tingkat Nasional (Mawapres);

l. Debat Bahasa Inggris.

2.3.2 Bidang Penalaran

Adapun kebijakan pengembangan kemahasiswaan dalam bidang penalaran mencakup:

(20)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

12

a. meningkatkan budaya membaca, menulis, dan meneliti di kalangan mahasiswa;

b. meningkatkan kegiatan Diklat Metodologi Penelitian, Kewirausahaan, Kepemimpinan, wawasan kebangsaan, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Keagamaan, dll.;

c. meningkatkan kegiatan ilmiah yang diikuti mahasiswa;

d. meningkatkan peran serta mahasiswa dalam forum ilmiah dan atau profesi di dalam dan di luar kampus;

e. meningkatkan publikasi karya tulis ilmiah mahasiswa di dalam jurnal ilmiah;

f. memberikan reward kepada mahasiswa yang berprestasi tingkat regional, nasional dan internasional dan dosen pembimbing;

g. Pembentukan dan pembinaan TIM Adhoc tingkat fakultas.

2.3.3 Bidang Minat dan Kesejahteraan

Adapun kebijakan pengembangan kemahasiswaan dalam bidang minat dan kesejahteraan mahasiswa mencakup:

a. meningkatkan kegiatan minat di kalangan mahasiswa;

b. meningkatkan kegiatan penataran dan ceramah di bidang agama, kebudayaan, minat dll.;

c. meningkatkan kegiatan pameran atau festival di bidang minat;

d. meningkatkan kegiatan penghayatan dan pengamalan agama, Pancasila, etika, dll.;

e. meningkatkan peran mahasiswa dalam kegiatan bakti sosial lingkungan hidup, mengatasi bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang dan kejahatan pemuda dan remaja;

f. meningkatkan kegiatan bimbingan dan konseling mahasiswa;

g. meningkatkan hubungan dengan pihak pemberi beasiswa dan penyediaan lapangan kerja alumni;

h. meningkatkan pelayanan kesejahteraan mahasiswa melalui dana sosial mahasiswa.

2.3.4 Bidang Khusus

Kebijakan pengembangan kemahasiswaan dalam bidang khusus meliputi:

a. meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan Pengurus Pusat, Pengurus Komisariat dan Pengurus Cabang Ikatan Alumni dan segenap Alumni Universitas Brawijaya;

b. peningkatan publikasi dan dokumentasi kegiatan kemahasiswaan (SIMAWA);

c. meningkatkan peran serta mahasiswa dalam rangka terwujudnya reformasi di Indonesia dalam segala bidang.

2.4 Pengembangan Kemahasiswaan Berbasis Soft Skills

Dalam rangka pengembangan dan pembinaan kemahasiswaan sebagaimana dimaksud dalam rencana strategis Universitas Brawijaya beserta issu utamanya, maka seluruh program pengembangan kemahasiswaan dibangun di atas basis pengembangan soft skills mahasiswa dengan tahapan sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut ini.

TAHAP PERTAMA: Tahap Pembentukan Jati Diri (Self Image Stage) (Semester I – II)

Tujuan tahap ini adalah untuk mengantarkan mahasiswa menemukan jati dirinya sebagai manusia seutuhnya yang memiliki beragam potensi sekaligus kelemahan yang patut dikelola untuk peningkatan kualitas serta mempersiapkan mereka untuk dapat

(21)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

13

menjadi bagian dari masyarakat intelektual yang ingin dibangun melalui perguruan tinggi.

Target pencapaian:

(a) Terjadi perubahan mind-set mahasiswa baru khususnya dalam budaya belajar dan bersikap di lingkungan kehidupan kampus;

(b) Mahasiswa mampu mengetahui dengan baik analisa SWOT atas dirinya dan mampu membangun konsep diri bagi pengembangan dirinya ke depan;

(c) Mahasiswa mengenal talenta dirinya dengan baik;

(d) Mahasiswa semenjak awal dapat merancang pencapaian target/tujuan dirinya (life mapping – blue print) di masa yang akan datang.

Fokus peningkatan soft skills pada tahap ini adalah:

Terjadinya perubahan cara pandang/berpikir (mind-set paradigm), pembentukan konsep diri mahasiswa (self-concept), pembangunan kesadaran diri mahasiswa (self- awareness), kemampuan identifikasi diri (self-identification), memiliki keterampilan motivasi pengembangan diri (motivation achievement), memiliki kemampuan pemetaan hidup (life mapping).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skill Tahap Pertama:

(1) Mind-Set Paradigm, yang mencakup:

(a) mengetahui cara berpikir/belajar bagi orang dewasa (andragogi); dan

(b) pengenalan budaya baru di perguruan tinggi dan mengetahui etika kehidupan kampus.

(2) Self-Concept/Awareness/Identification, yang mencakup:

(a) mampu mengetahui talenta, kelebihan/keunggulan dan kekurangan dirinya;

(b) mampu menemukan jati dirinya dalam menatap masa depan.

(3) Motivation achievement, yang mencakup:

(a) mampu menilai tingkat kebutuhan pengembangan diri; dan

(b) memiliki semangat untuk mengembangkan diri dan menjadi seorang pembelajar yang baik.

(4) Life Mapping, yang mencakup:

(a) mampu membuat perencanaan pencapaian hidup/cita-cita dalam bentuk peta hidup (life mapping)

(b) mampu membuat rencana agenda tahunan, bulanan dan harian.

Program Kerja Tahap Pertama:

(a) Pemetaan potensi dan kemampuan mahasiswa baru melalui berbagai kegiatan sejak penerimaan dan orientasi mahasiswa baru.

(b) Pengenalan budaya kehidupan akademis dan budaya kemahasiswaan melalui kegiatan Student Day.

(c) Pelaksanaan berbagai kegiatan pengembangan diri tingkat dasar bagi mahasiswa baru antara lain: Pelatihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Achievement Motivation Training;

(d) Peningkatan kesadaran dan spiritualitas mahasiswa melalui kegiatan mentoring, ESQ.

(e) Pelaksanaan Lomba Program Kreativitas Mahasiswa Baru (PKM-Maba).

(22)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

14

TAHAP KEDUA: Tahap Penciptaan Kondisi (Conditioning Stage) (Semester III –IV)

Tujuan pada tahap ini adalah mempersiapkan dan menciptakan suatu kondisi bagi mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Target pencapaian:

(a) Setiap mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungannya (baik di tingkat fakultas maupun universitas).

(b) Mahasiswa memiliki keterampilan dasar dalam berorganisasi di lembaga kemahasiswaan (fakultas maupun universitas)

(c) Mahasiswa memiliki motivasi untuk aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Fokus peningkatan soft skill pada tahap ini adalah:

Kemampuan mahasiswa dalam berorganisasi (organizational capabilities), kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim (team work), mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi (adaptability), kemampuan dalam menjalin hubungan antarpribadi (interpersonal relationship), mahasiswa memiliki dasar-dasar kreativitas (creativity).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills:

(1) Organizational capabilities, yang mencakup:

(a) mengenal lembaga/organisasi mahasiswa (tingkat fakultas/universitas);

(b) mengenal budaya organisasi di dunia kemahasiswaan UB.

(2) Team work, yang mencakup:

(a) mampu bekerja sama dengan orang lain;

(b) bersedia memahami, empati dan peduli terhadap orang lain.

(3) Adaptability, yang mencakup:

(a) mampu menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain (tingkat fakultas/universitas) dan mampu beradaptasi dengan keragaman/perbedaan;

(b) bersedia menghargai pendapat orang lain yang berbeda.

(4) Creativity, yang mencakup:

(a) berpikir komprehensif dari sudut pandang multi dimensi;

(b) memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif.

Program Kerja Tahap Kedua:

(a) Pelaksanaan orientasi kemahasiswaan dan pengenalan budaya keorganisasian mahasiswa.

(b) Pembinaan kemampuan mahasiswaan dalam berorganisasi melalui pelaksanaan program magang pada organisasi kemahasiswaan (baik tingkat fakultas dan universitas)

(c) Peningkatan kemampuan berpikir kreatif melalui program pengembangan kreativitas mahasiswa dibidang penalaran.

(d) Optimalisasi program interaksi bersama mahasiswa baik tingkat fakultas maupun universitas.

TAHAP KETIGA: Tahap Pelibatan Organisasi (Organizational Stage) (Semester V –VI)

Tujuan pada tahap ini adalah mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif baik sebagai pengurus atau anggota dalam berbagai kegiatan dan organisasi

(23)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

15

kemahasiswaan baik ditingkat fakultas maupun universitas sehingga mahasiswa terlatih untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan keterampilan interaksi antapersonal lainnya.

Target pencapaian:

(a) Mahasiswa terlibat dalam organisasi kemahasiswaan yang ada sesuai dengan kemampuan dan minat bakat.

(b) Mahasiswa memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan segala aspek (verbal, presentasi, protokoler)

Fokus peningkatan soft skill pada tahap ini adalah:

Peningkatan kemampuan kepemimpinan mahasiswa (leadership), peningkatan kemampuan keterampilan komunikasi mahasiswa (communications).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills Tahap Ketiga:

(1) Leadership, yang mencakup:

(a) mampu memimpin organisasi kemahasiswaan;

(b) mengetahui teknik mempengaruhi orang lain (influence to others);

(c) mampu menemukan berbagai solusi atas persoalan organisasi (problem solving).

(2) Communication, yang mencakup:

(a) memiliki kemampuan public speaking yang baik dan memiliki kemampuan meyakinkan orang lain;

(b) mampu melakukan presentasi yang efektif; dan (c) memahami mekanisme keprotokoleran di UB.

Program Kerja Tahap Ketiga:

(a) Pelibatan dalam keorganisasian mahasiswa baik tingkat fakultas maupun universitas.

(b) Interaksi bersama pengurus organisasi melalui orientasi keorganisasian (visioning)tingkat universitas bagi seluruh pengurus organisasi kemahasiswaan.

(c) Pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa tingkat lanjut.

(d) Pelaksanaan berbagai pelatihan peningkatan soft skills mahasiswa yang berfokus pada leadership dan keterampilan komunikasi seperti: public relations, public opinion.

TAHAP KEEMPAT: Tahap Kepemimpinan Komunitas (Community Leader Stage) (Semester VII –VIII)

Tujuan pada tahap ini yang merupakan tahap terakhir dari proses pembinaan mahasiswa adalah mewujudkan kepemimpinan mahasiswa secara nyata melalui kepemimpinan pada kelompok-kelompok mahasiswa berdasarkan minat bakatnya.

Target Pencapaian:

(e) Setiap mahasiswa (kelompok mahasiswa) mampu menjadi leader / mampu membentuk kelompok-kelompok pengembangan minat, profesi berdasarkan kemampuannya masing-masing (internal community) ataupun melakukan pendampingan dalam kelompok masyarakat (external community)

(24)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

16

(f) Mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai kelompok masyarakat diberbagai bidang kegiatan (bisnis, politik, LSM, profesional dll).

(g) Mahasiswa memiliki keterampilan membangun hubungan (jaringan) dengan berbagai pihak baik lokal/internasional untuk beragam bidang (bisnis, politik, pengembangan masyarakat, profesional, dll.).

(h) Mahasiswa mampu menjadi seorang enterpreneur muda saat masih menjadi mahasiswa.

Fokus peningkatan soft skills pada tahap ini adalah:

Kemampuan keterampilan sosial (social skills), peningkatan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship), kemampuan membangun dan mengoptimalkan jaringan (networking skills), peningkatan derajat kesadaran berpolitik (political awareness).

Indikator Pencapaian Peningkatan Soft Skills:

(1) Social skills, yang mencakup:

(a) kepedulian pada sosial (beragam kelompok masyarakat bawah);

(b) keterlibatan dalam beragam kelompok/organisasi/komunitas masyarakat (bisnis, politik, LSM, profesional, dll).;

(c) memiliki kemampuan untuk mengembangkan kelompok/komunitas dalam masyarakat (internal / eksternal UB); dan

(d) mampu menjadi katalisator sebuah perubahan.

(2) Enterpreneurship, yang mencakup:

(a) kemampuan membaca peluang dan merespon perubahan eksternal;

(b) berani mengambil risiko;

(c) kemampuan menghimpun dan mengerahkan sumberdaya sosial dan ekonomi untuk mencapai tujuan;

(d) mampu merancang berbagai alternatif usaha.

(3) Networking Skills, yang mencakup:

(a) kemampuan membentuk jaringan berdasarkan kompetensi keilmuan, profesi dan bakat minatnya masing-masing (baik tingkat nasional maupun internasional);

(b) mampu menunjukkan eksistensinya dalam setiap jaringan tersebut dan

(c) kemampuan mengoptimalkan jaringan bagi kepentingan pengembangan kemahasiswaan.

(4) Political awareness, yang mencakup:

(a) berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengambilan keputusan organisasi;

(b) memiliki tingkat responsitas yang baik terhadap berbagai isu politik (mahasiswa maupun realitas sosial lainnya).

Program Kerja Tahap Keempat:

(a) Peningkatan kemampuan mahasiswa dalam program pengembangan masyarakat melalui kemampuan pendampingan masyarakat, manajemen

(25)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

17

dinamika kelompok, dan kemampuan kepemimpinan kelompok (community leader).

(b) Peningkatan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship) mahasiswa dalam berbagai bentuk kegiatan kewirausahaan praktis.

(c) Pengembangan kemampuan membangun jaringan dengan mengoptimalkan berbagai potensi melalui pemanfaatan jaringan internet.

2.5 Lembaga Kewirausahaan Mahasiswa

2.5.1. Pendahuluan

Kondisi akhir-akhir ini sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih dari pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini bisa jadi disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana penyiapan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan. Di samping itu, aktivitas kewirausahaan (Enterpreneurial Activity) yang relatif masih rendah.

Enterpreneurial Activity diterjemahkan sebagai individu aktif dalam memulai bisnis baru dan dinyatakan dalam persen total penduduk aktif bekerja. Semakin tinggi indek Enterpreneurial Activity maka semakin tinggi enterpreneurship suatu negara (Boulton dan Turner, 2005).

Untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan menciptakan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja dari pada pencari kerja, maka diperlukan suatu usaha nyata. Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Coopertive Education (Co-op) telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil karya inovasi mahasiswa melalui PKM potensial untuk ditinjaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks). Kebijakan dan program penguatan kelembagaan yang mendorong peningkatan aktivitas berwirausaha dan percepatan pertumbuhan wirausaha-wirausaha baru dengan basis IPTEKS sangat diperlukan.

Dengan latar belakang tersebut di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengembangkan sebuah Program Mahasiswa Wirausaha (Student Enterpreneur Program) yang merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya (PKM, Co-op, KKU) untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis riil melalui fasilitas star-up business. Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), sebagai bagian dari strategi pendidikan di Perguruan Tinggi, dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan umtuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang dipelajarinya.

Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausaaan magang, penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Program ini diharapkan mampu mendukung visi-misi pemerintah dalam mewujudkan kemandiriian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UKM.

2.5.2. Landasan Program

Pengertian Kewirausahaan adalah semangat, sikap, prilaku kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatana yang mengarah pada

(26)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

18

upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Kewirausahaan adalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai risiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan.

Kewirausahaan itu dapat dipelajari walaupun ada juga orang-orang tertentu yang mempunyai bakat dalam hal kewirausahaan.

Inti kewirausahaan adalah adanya cara berpikir kreatif dan inovatif. Cara tersebut dapat dituangkan dalam berbagai hal termasuk pemilihan jenis usaha, mengelola produksi, mengembangkan pemasaran, meningkatkan pengelolaan keuangan dan permodalan, pengorganisasian dan pengelolaan kelompok usaha, pengembangan jalinan kemitraan usaha.

2.5.3. Tujuan

a. Meningkatkan kecakapan dan keterampilan para mahasiswa khususnya sense of businesssehingga akan tercipta wirausaha-wirausaha muda potensial

b. Menumbuh-kembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi

c. Menciptakan unit bisnis baru berbasis IPTEKS

d. Membangun jejaring bisnis antara pelaku bisnis antara wirausaha pemula dengan para pengusaha yang sudah mapan

2.5.4. Manfaat

a. Bagi mahasiswa:

 Memberikan kesempatan untuk peningkatan kemampuan soft skill mahasiswa dengan terlibat langsung pada kondisi dunia kerja.

 Memberikan kesempatan langsung untuk terlibat dalam UKM dan mengasah jiwa wirausaha.

 Menumbuhkan jiwa bisnis sehingga memiliki keberanian dengan untuk memulai usaha didukung dengan modal yang diberikan dan pendampingan secara terpadu.

b. Bagi Perguruan Tinggi

 Penguatan kelembagaan Perguruan Tinggi dalam pengembangan program pendidikan kewirausahaan.

 Membuka kesempatan untuk melaksanakanTri Dharma Perguruan Tinggi.

 Mempererat hubungan antara dunia akademis dengan dunia usaha

 Memungkinkan untuk penyesuaian kurikulum yang dapat lebih aplikatif pada dunia usaha.

 Menghasilan wirausaha-wirausaha muda pencipta lapangan kerja dan calon pengusaha sukses masa depan.

2.5.5. Konsep Program

Untuk mendorong pertumbuhan usaha berbasis IPTEKS, maka hasil- hasil kegiatan mahasiswa seperti hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), program Co-op atau program kewirausahaan lain (KKU) yang telah dilakukan/dikembangkan di Perguruan Tinggi akan diprioritaskan sebagai input

(27)

BAB-III: Program Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Brawijaya

19

dalam Program Mahasiswa Wirausaha ini. Kriteria mahasiswa yang dapat mengikuti program ini adalah mereka yang telah menyelesaikan kuliah 4 semester (duduk di semester 5) atau minimal telah menempuh 80 sks untuk para mahasiswa dari Universitas, sedangkan mahasiswa dari Akademi atau Politeknik telah menyelesaikan kuliah 3 semester (duduk di semester 4) atau minimal telah menempuh 60 SKS. Di samping itu, mereka mempunyai minat dan bakat kewirausahaan yang dapat dibuktikan dengan pengalaman berwirausaha yang pernah dilakukan sebelumnya.

Perguruan Tinggi pelaksana program melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa dan UKM mitra sebagai calon pendamping dan lokasi magang, melakukan indentifikasi dan seleksi mahasiswa, pembekalan kewirausahaan, penyusunan rencana bisnis dan penempatan magang ke UKM bagi yang lolos seleksi. Salah satu kriteria seleksi untuk mendapatkan dukungan permodalan adalah kelayakan usaha bisnis yang diajukan.

Dalam implementasi program, perguruan tinggi bekerjasama dengan para pengusaha (UKM). Pengusaha dilibatkan secara aktif untuk memberikan praktis wirausaha, mulai dari pendidikan dan pelatihan, magang maupun penyusuna rencana bisnis (Business Plan) dan pendampingan terpadu. Untuk menghin dari kompetisi UKM sebagai pendamping dengan calon Mahasiswa Wirausaha, jenis usaha yang dikembangkan oleh Mahasiswa harus bersifat komplementer dengan usaha yang sudah ada di UKM (misalnya membuka usaha dibidang pemasokan bahan baku, keagenan, pemasaran, franchise).

Skema program terangkum dalam gambar dibawah ini:

Setelah perserta program menjalankan kegiatan magang di UKM, kecuali mahasiswa alumni program Coop, peserta mendirikan unit bisnis baru sesuai dengan rencana bisnisnya dan mendapatkan bimbingan usaha. Khusus untuk mahasiswa alumni program Coop karena pernah magang di UKM selama 3 bulan sehingga tidak diwajibkan melalui tahapan magang. Pendirian usaha baru dapat dilakukan secara individual maupun secara berkelompok. Apabila berkelompok, jumlah anggota kelompok maksimal 5 orang per kelompok.

Jumlah modal kerja yang disediakan untuk pendirian usaha maksimal 8 juta/mahasiswa. Pelaksanaan pendampingan pasca magang dilakukan baik oleh UKM pendamping maupun Perguruan Tinggi pelaksana selama kurang

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran fisika sering disajikan dalam bentuk langsung dan masih bersifat satu arah dari pendidik ke peserta didik (teacher oriented). Hal ini adalah salah

Alarm management lifecycle (AMLC) atau siklus manajemen alarm, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan demi

Belum adanya penugasan dari Pemegang Saham (Kementerian BUMN) kepada PTPN III untuk membangun pabrik pengolahan minyak sawit (refinery/ pabrik minyak goreng di

Kenyamanan pejalan kaki pada jalur pedestrian kampus Unsrat merupakan kebutuhan dasar guna menunjang aktivitas perkuliahan dimana jalur pedestrian berfungsi

Untuk menunjukkan peubahan persona dan jender digunakan prefiks, sedangkan untuk perubahan pada jumlah digunakan sufiks.dapat disimpulkan bahwa dalam verba Imperfect 3

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model Pembelajaran biologi berbasis Praktikum Virtual untuk membangun karakter bangsa. Karakter bangsa yang diukur meliputi komponen

Bertugas untuk melakukan pembelian barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan, mulai dari bahan baku, spareparts mesin, ATK, dan jasa-jasa dari pihak

Kadang mereka mengajarkan kehendak telah demikian dirusak oleh dosa, sehingga manusia sepenuhnya bergantung kepada anugerah Allah, tetapi di lain kesempatan mereka menjelaskan