• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.2. Pengembangan Pariwisata

Pariwisata diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi, pelancongan dan turisme. Dalam kamus besar bahasa Indonesia wisata didefinisikan sebagai kegiatan bepergian bersama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang dan sebagainya. Hilyana (2001) menyatakan bahwa pariwisata adalah industri yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh baik buruknya lingkungan dan selanjutnya di sebutkan bahwa tujuan pariwisata pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan rekreasi.

10

Untuk menciptakan kondisi wisata yang baik maka diperlukan kegiatan pengelolaan yang dikembangkan secara professional. Mackinnon et al (1986) dalam Hilyana (2001) menyatakan bahwa faktor – faktor yang membuat kawasan menarik bagi pengunjung adalah :

1. Letaknya dekat, cukup dekat atau jauh terhadap bandara internasional atau pusat wisata.

2. Perjalanan ke kawasan tersebut mudah dan nyaman, perlu sedikit usaha, sulit atau berbahaya.

3. Kawasan tersebut memiliki atraksi yang menonjol misalnya satwa liar yang menarik atau khas tempat tertentu

4. Kemudahan untuk melihar atraksi atau satwa terjamin 5. Memiliki beberapa keistimewaan yang berbeda 6. Memiliki budaya yang menarik

7. Unik dalam penampilannya

8. Mempunyai objek rekreasi pantai, danau, sungai, air terjun, kolam renang atau rekreasi lainnya

9. Cukup dekat dengan lokasi lain yang menarik bagi wisatawan sehingga dapat menjadi bagian dari kegiatan wisata lain

10.Sekitar kawasan memiliki pemandangan sangat indah 11.Keadaan makanan dan akomodasi tersedia.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang pariwisata, tujuan pengembangan pariwisata tidak lain adalah untuk menciptakan multiplier effect , diantaranya adalah :

1) Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja 2) Meningkatkan Pendapatan Nasional dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

3) Mendorong Pendayagunaan produksi nasional.

Dengan kata lain, pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata selalu akan diperhitungkan keuntungan dan manfaat bagi rakyat banyak (Yoeti, 1997).

Melihat begitu banyaknya unsur yang berinteraksi dalam suatu kegiatan pariwisata serta beratnya misi yang diembannya, maka dalam pengembangan

11

pariwisata diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya berbagai dampak negatif dari mekanisme pasar terhadap pembangunan daerah serta menjaga agar pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang bermukim di wilayah objek pariwisata dan tentunya melalui pengambangan pariwisata kesejahteraan masyarakat disekitar lokasi wisata dapat ditingkatkan.

Dari segi peluang usaha dan kesempatan kerja, pengembangan pariwisata berpengaruh positif. Peluang usaha atau kesempatan kerja tersebut lahir karena adanya permintaan wisatawan. Dengan demikian kedatangan wisatawan ke suatu daerah akan membuka peluang bagi masyarakat daerah tersebut untuk menjadi pengusaha hotel, wisma, homestay, restoran, cafe, warung, angkutan, perdagangan, sarana olahraga, dan jasa lainnya. Peluang usaha tersebut akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerja sekaligus dapat meningkatkan pendapatan untuk menunjang kehidupan rumah tangganya.

Sosial budaya juga merupakan satu aspek penunjang karakteristik suatu kawasan wisata sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sosial budaya dapat memberikan ruang bagi kelestarian sumberdaya alam, sehingga hubungan antar sosial budaya masyarakat dan konservasi sumber daya alam memiliki keterkaitan yang erat. Oleh karena itu, kemampuan melestarikan dan mengembangkan budaya yang ada harus menjadi perhatian pemerintah dan lapisan sosial masyarakat.

2.1.2.1. Ekowisata

Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi Ecotourism Society (1990) sebagai berikut: Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.

Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dalam Winarno (2004), ekowisata adalah perjalanan dan kunjungan yang bertanggungjawab terhadap lingkungan yang relatif tidak

12

mengganggu kawasan alami dalam hal menikmati alam, studi dan apresiasi alam termasuk aspek budayanya, untuk menunjang konservasi yang semua aktivitas pengunjung berdampak negatif rendah dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar (Ceballos-Lascurain, 1996)

The Ecotourism Society (Eplerwood, 1999) dalam Fandeli (2000) menyebutkan ada delapan prinsip ekowisata yaitu :

1. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat.

2. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam.

3. Pendapatan langsung untuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conservation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam.

4. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan, peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif.

5. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam.

6. Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Hindarkan sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat. 7. Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya

dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, tetapi daya dukunglah yang membatasi.

13

8. Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.

2.1.2.2. Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply) Pariwisata

Untuk merencanakan suatu pengelolaan areal rekreasi atau pariwisata dapat dilakukan dengan analisis terhadap permintaan dan penawaran pariwisata (Gold, 1980 dalam Hilyana, 2004). Sediaan rekreasi atau penawaran rekreasi merupakan gambaran tentang ruang, fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan, sedangkan permintaan rekreasi merupakan gambaran tentang permintaan akan kegiatan dan perilaku rekreasi.

Konsep perencanaan wisata adalah sistem hubungan interaksi antara faktor permintaan (demand) dan penawaran (supply). Faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan wisatawan domestik dan internasional serta penduduk lokal diantaranya adalah atraksi wisatawan, fasilitas dan pelayanan. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi penawaran pariwisata diantaranya atraksi dan aktivitasnya, akomodasi, pelayanan dan aktivitas lain. Atraksi wisata termasuk atraksi alam, budaya dan pemandangan spesial serta aktivitas yang berhubungan dengan atraksi tersebut.

Adapun bentuk – bentuk akomodasi pariwisata diantaranya adalah tempat wisatawan bermalam seperti hotel, motel, guest house dan tipe penginapan lainnya. Fasilitas dan pelayanan wisata di antaranya operasional tour dan travel, restoran, tempat perbelanjaan, money changer, bank, fasilitas kesehatan dan pelayanan. Elemen lain yang berhubungan dengan faktor penawaran termasuk infrastruktur seperti transportasi (udara, air, darat), jaringan air, energi listrik, telekomunikasi dan pembuangan limbah. Elemen lainnya adalah institusi, legislasi dan regulasi, ketersediaan dana, pemasaran dan promosi ( WTO, 1995 dalam Winarno 2004)

14

Dokumen terkait