BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
Tujuan pengembangan sektor pariwisata adalah agar sektor ini dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakatnya seperti perluasan kesempatan kerja di bidang pariwisata melalui pembangunan objek wisata dan industri pariwisata, meningkatkan PAD, meningkatkan kunjungan wisatawan asing dan wisatawan nusantara.
Jumlah wisatawan yang datang terlihat dari jumlah kunjungan tamu yang menginap di hotel. Meskipun jumlah tamu hotel tidak selalu identik dengan wisatawan. Pada gambar 1 dapat dilihat perkembangan jumlah wisatawan yang datang ke Provinsi Bengkulu, pada tahun 2000 total wisatawan yang ke Bengkulu adalah sebanyak 44.289 orang dan karena adanya gempa di tahun 2000 jumlah wisatawan menurun pada tahun 2002 menjadi sebanyak 30.688 orang dan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2006 menjadi sebanyak 91.513orang.
Kunjungan wisatawan ke Bengkulu setiap tahun paling banyak terjadi pada bulan Muharram dalam kalender Islam karena setiap tanggal 1 – 10 Muharram itu dilaksanakan perayaan ritual budaya daerah Bengkulu yaitu perayaan Tabut yakni perayaan untuk memperingati kematian Husein cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala. Akhir dari perayaan adalah Tabut yang berbentuk bangunan kerucut yang berhiaskan bunga - bunga dan telah disucikan oleh keluarga Tabut dibuang di daerah Karbala yang jaraknya hanya 3,5 km dari pusat kota, wisatawan yang datang pada saat pembuangan Tabut terdiri dari masyarakat Provinsi Bengkulu, dari Sumatera Selatan, Padang dan Lampung. Puncak perayaan Tabut mampu menyerap wisatawan yang jumlahnya cukup tinggi dikerenakan daerah pembuangan Tabut berada di pusat kota, maka pada saat-saat ini lokasi wisata yang berada di dalam kota juga mengalami peningkatan terutama Pantai Panjang dan juga Tapak Paderi.
Tabel 2 Perkembangan Jumlah Wisatawan Ke Bengkulu Tahun 2000-2006
Tahun Wisman Wisnus Total
2000 531 43.758 44.289 2001 542 40.548 41.090 2002 195 30.493 30.688 2003 292 42.026 42.318 2004 313 43.710 44.023 2005 295 63.313 63.608 2006 419 91.094 91.513
5
Aksesibilitas menuju Bengkulu saat ini masih terganjal oleh terbatasnya transportasi. Oleh karena itu, transportasi, terutama jasa penerbangan, menjadi prioritas pembangunan industri pariwisata di Provinsi/Kota Bengkulu. Selain sulitnya transportasi ke Bengkulu, kurang dikenalnya Bengkulu di daerah atau di negara lain juga disebabkan kurang gencarnya promosi. Adapun sarana dan prasarana penunjang industri pariwisata di Kota Bengkulu yakni terdapat 4 hotel berbintang dan 34 hotel kelas melati dengan jumlah kamar sebanyak 907 kamar.
Banyaknya jumlah wisatawan dari luar ke Kota Bengkulu akan berakibat pada tinggi rendahnya PAD dari komponen pajak dan retribusi. Melalui pembangunan sektor pariwisata diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap PAD. Adapun kontribusi sektor pariwisata yang di dapatkan dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, retribusi tempat rekreasi, retribusi penginapan serta retribusi biro wisata yang kesemuanya merupakan unsur pendapatan sektor pariwisata masih relatif kecil dimana kontribusi sektor pariwisata masih kurang dari 6 persen.
Tabel 3 Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap PAD Kota Bengkulu Tahun 2003-2006 Tahun
Sektor Pariwisata PAD Bengkulu % Pariwisata thd PAD Rp(Juta) % Naik-turun Rp(Juta) % Naik-turun
2003 485,797 - 9.685,850 - 5,02
2004 547,058 0,13 15.495,500 0,60 3,53
2005 619,666 0,13 13.920,330 -0,10 4,45
2006 752,482 0,21 18.326,770 0,32 4,11
Sumber : Dispenda Kota Bengkulu ( data di olah )
Pengembangan pariwisata di Bengkulu saat ini tertuang dalam program pengembangan pariwisata Bengkulu menuju kawasan wisata internasional yang meliputi pembangunan infrastruktur seperti sarana transportasi, pengembangan daya tarik kawasan atau objek wisata unggulan seperti pengembangan kawasan pantai panjang dan pantai tapak paderi, penyiapan sosial, penyiapan kelembagaan serta promosi yang di lakukan sejak tahun 2006 hingga sekarang. Dalam proses perencanaannya pengembangan kawasan wisata dilakukan oleh pemerintah Provinsi Bengkulu melalui dinas instansi terkait.
Dukungan dari pemerintah daerah Provinsi Bengkulu sebagai upaya meningkatkan peluang berusaha bagi masyarakat di sektor pariwisata dapat di lihat dari biaya pengembangan sektor pariwisata Biaya pembangunan di sektor
6
pariwisata dan telekomunikasi daerah, pada tahun 2000 adalah Rp. 533,66 juta atau sebesar 0,09 persen dari total dana pembangunan dan tahun 2001 meningkat menjadi sebesar Rp. 637,88 juta atau sebesar 1,74 persen dari total dana pembangunan yaitu sebesar Rp. 36,595,74 juta. Begitu juga dengan sektor transportasi pada tahun 2000 sebesar Rp. 4,743,89 juta menjadi Rp. 6,103,62 juta pada tahun 2002 atau sebesar 11,8 persen dari total dana pembangunan.
Industri pariwisata akan berkembang jika didukung oleh keadaan eksternal yang baik. Masyarakat disekitar kawasan wisata merupakan lingkungan eksternal yang berpengaruh besar. Masyarakat sekitar/masyarakat lokal merasakan dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan pengembangan kawasan objek wisata secara sosial, ekonomi dan budaya. Meskipun pembangunan kawasan wisata Pantai Panjang dan Tapak Paderi masih sedang dilaksanakan namun keluhan – keluhan dari masyarakat sekitar mulai timbul. Dari segi ekonomi dengan adanya pembangunan Mega Mall di kawasan wisata akan berdampak pada pendapatan pedagang kecil. Dari sudut sosial budaya terdapat kalangan masyarakat yang mempersepsikan pengembangan kawasan wisata hanya akan meningkatkan pergaulan bebas dan kehidupan malam dengan menjamurnya diskotik dan tempat karaoke di kawasan wisata tersebut serta masih adanya tindakan premanisme di pantai panjang dan pantai tapak paderi (Pascal, 2007). Pendapat dari kalangan akademisi (mahasiswa) menyatakan bahwa sikap masyarakat terkesan acuh tak acuh dengan program pengembangan pariwisata karena mereka berpendapat hasil pembangunan ini hanya akan dinikmati golongan menengah ke atas.
Upaya pemerintah Provinsi dan Kota Bengkulu untuk mengangkat perekonomian rakyat melalui sektor pariwisata dan menjadikan Bengkulu menjadi kawasan wisata internasional sangatlah bagus, namun berhasil atau tidaknya upaya mewujudkan Bengkulu menjadi kawasan wisata internasional tergantung pada keseriusan pemerintah daerah bekerja sama dengan instansi lainnya dan dibantu oleh masyarakat dalam mengembangkan bisnis pariwisata di kota Bengkulu, juga diperlukan partisipasi dari berbagai unsur untuk dapat mencapainya. Bertolak dari keadaan dan permasalahan yang diketahui
7
sehubungan dengan pengembangan sektor pariwisata di Kota Bengkulu yang telah dikemukakan, maka masalah yang hendak diteliti adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi dan partisipasi masyarakat lokal terhadap pengembangan wisata Pantai Panjang dan Tapak Paderi Kota Bengkulu secara ekonomi, sosial, dan lingkungan ?
2. Bagaimana pengaruh pengembangan pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat yang memanfaatkan potensi wisata maupun yang tidak memanfaatkan?
3. Bagaimana kebijakan pemerintah daerah Bengkulu dalam pengembangan pariwisata dan kawasan mana yang menjadi prioritas untuk dikembangkan dimasa yang akan datang ?