A. Exploring
Exploring adalah menjelajah atau mengidentifikasi dari produk wisata, yang perlu dilakukan terlebih dahulu kenali kualitas produk. Dimensi kualitas produk yang terdiri dari dimensi core product, actual product dan augmeted product adalah salah satu dimensi kualitas produk yang perlu dikem-bangkan secara terus menerus dan berkesinambungan yang disampaikan oleh Kotler dan Amstrong (2001). Kualitas Pro-duk (Product Quality) Pelanggan yang merasa puas akan kembali membeli, dan mereka akan memberi tahu yang lain tentang pengalaman baik mereka dengan produk tersebut.
Sepeti yang terlihat dalam gambar. Adapun dimensi kualitas produk menurut Kotler & Armstrong (2001) adalah sebagai berikut:
1. Produk Inti (Core Product).
Produk inti terdiri dari manfaat inti untuk pemecahan masalah yang dicari konsumen ketika mereka membeli produk atau jasa. Man-faat intinya adalah se-bagai daerah tujuan wisata yang dipilih konsumen. Produk inti memberikan manfaat yang utama bagi kon-sumen.
Produk inti merupakan hal yang paling utama dicari oleh konsumen dalam melakukan pembelian terhadap suatu produk. Kualitas produk inti sangat penting dalam me-narik konsumen untuk pembelian, karena alasan utama seorang melakukan pembelian berdasarkan pada produk inti dari suatu produk. Fungsi produk inti memberikan gambaran utama dari kegunaan produk tersebut. Sehing-ga konsumen akan sanSehing-gat mempertimbangkan produk inti dalam setiap penggunaannya. Oleh karena itu set-iap pemasar harus memahami keutamaan yang ada pada sebuah produk dalam melakukan pemasaran. Sehingga mampu memahami tentang apa yang dibutuhkan oleh konsumen terhadap suatu produk.
2. Produk Aktual (Actual Product)
Seorang perencana produk harus menciptakan produk aktual (actual product) di sekitar produk inti. Kar-akteristik dari produk aktual diantaranya, tingkat kuali-tas, nama merek, kemasan yang dikombinasikan dengan cermat untuk menyampaikan manfaat inti. Produk ak-tual bagi seorang konsumen merupakan pertimbangan kedua dalam melakukan keputusan pembelian. Produk aktual sangat penting dalam sebuah pemasaran. Produk aktual merupakan produk pendamping, apabila produk aktual ini tidak ada pada sebuah produk maka daya tarik konsumen pada produk tersebut akan berkurang. Adan-ya produk aktual ini memberikan banAdan-yak ragam hal Adan-yang mampu dijadikan pertimbangan oleh konsumen, artinya produk aktual merupakan hal yang menjadi daya tarik konsumen selain produk inti. Seorang pemasar diharap-kan memahami secara jelas tentang produk aktual. Pema-haman yang mendalam mengenai produk aktual ini akan memberikan tambahan pengetahuan bagi konsumen un-tuk memahami fungsi lain dari sebuah produk.
Adanya fungsi yang lebih banyak dalam suatu produk akan menjadi perhatian penting dari seorang konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.
3. Produk Tambahan (Augmented Product)
Produk tambahan harus diwujudkan dengan mena-warkan jasa pelayanan tambahan untuk memuaskan konsumen dengan menanggapi dengan baik claim dari konsumen dan melayani konsumen lewat telepon jika konsumen mempunyai masalah atau pertanyaan. Produk tambahan merupakan produk yang ditawarkan oleh dusen di luar dari produk inti yang ada. Pemberian pro-duk-produk tambahan ini akan sangat bermanfaat bagi konsumen penggunanya, karena selain memanfaatkan produk inti yang ada pada suatu produk, adanya produk tambahan ini akan menjadi variasi pilihan konsumen da-lam menentukan pembelian. Sehingga dengan adanya ragam produk tambahan ini akan semakin memberikan daya tarik pada konsumen. Bagi seorang pemasar produk tambahan merupakan hal yang cukup penting untuk di-pahami. Adanya produk tambahan akan memberikan nilai tambah pada sebuah produk. Suatu produk yang mempu-nyai nilai tambah akan menjadi daya tarik bagi para kon-sumen untuk memberi harga yang lebih dari suatu pro-duk. Sehingga adanya produk tambahan akan membuat suatu produk menjadi lebih bermutu dan berkualitas.
Sedangkan menurut Kotler (2002), masing-mas-ing tmasing-mas-ingkatan dalam produk tersebut adalah: (a) tmasing-mas-ingkat paling dasar adalah manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat dasar yang sesungguhnya dibeli pelanggan;
(b) tingkat kedua, pemasar harus mengubah manfaat inti itu menjadi produk dasar (basic product); (c) tingkat ket-iga, pemasar menyiapkan suatu produk yang diharapkan
Adanya fungsi yang lebih banyak dalam suatu produk akan menjadi perhatian penting dari seorang konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.
3. Produk Tambahan (Augmented Product)
Produk tambahan harus diwujudkan dengan mena-warkan jasa pelayanan tambahan untuk memuaskan konsumen dengan menanggapi dengan baik claim dari konsumen dan melayani konsumen lewat telepon jika konsumen mempunyai masalah atau pertanyaan. Produk tambahan merupakan produk yang ditawarkan oleh dusen di luar dari produk inti yang ada. Pemberian pro-duk-produk tambahan ini akan sangat bermanfaat bagi konsumen penggunanya, karena selain memanfaatkan produk inti yang ada pada suatu produk, adanya produk tambahan ini akan menjadi variasi pilihan konsumen da-lam menentukan pembelian. Sehingga dengan adanya ragam produk tambahan ini akan semakin memberikan daya tarik pada konsumen. Bagi seorang pemasar produk tambahan merupakan hal yang cukup penting untuk di-pahami. Adanya produk tambahan akan memberikan nilai tambah pada sebuah produk. Suatu produk yang mempu-nyai nilai tambah akan menjadi daya tarik bagi para kon-sumen untuk memberi harga yang lebih dari suatu pro-duk. Sehingga adanya produk tambahan akan membuat suatu produk menjadi lebih bermutu dan berkualitas.
Sedangkan menurut Kotler (2002), masing-mas-ing tmasing-mas-ingkatan dalam produk tersebut adalah: (a) tmasing-mas-ingkat paling dasar adalah manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat dasar yang sesungguhnya dibeli pelanggan;
(b) tingkat kedua, pemasar harus mengubah manfaat inti itu menjadi produk dasar (basic product); (c) tingkat ket-iga, pemasar menyiapkan suatu produk yang diharapkan (expected product);
(d) tingkat keempat, pemasar menyiapkan produk yang ditingkatkan (augmented product) yang memenuhi ke-inginan pelanggan itu melampaui harapan mereka; dan (e) tingkat kelima terdapat produk potensial (potential prod-uct) yang mencangkup semua peningkatan dan transfor-masi yang akhirnya akan dialami produk tersebut di masa depan.
DESA WISATA SEBAGAI EKOSISTEM
Desa wisata sebagai satu kesatuan Ekosistem memerlukan satu pemahaman yang terintegrasi mengenai bagaimana desa mengeksplorasi keunikan, kelebihan serta melihat kekurangan untuk menjadi kekuatan atraksi sebagai desa wisata ?
Identifikasi kelemahan kekurangan serta menetapkan produk unggulan desa sebagai desa wisata dengan potensi pilihan uta-ma sebagai prioritas penting untuk dilakukan. Hal tersebut
dap-Gambar 7.2 Desa Wisata sebagai Ekosistem
1. Peningkatan skill dan pengetahuan masyarakat desa/
komunitas penggerak desa sebagai peran utama yang memiliki desa sebagai host atau tuan rumah terkait desa wisata sebagai satu kesatuan ekosistem.
2. Atraksi atau potensi atraksi sebagai suatu penawaran
“experience” dengan kata lain pengalaman berwisata bagi wisatawan atau tamu yang berkunjung menikmati alam, budaya serta kreatifitas proses berkarya dari mas-yarakat desa.
3. Amenitas sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan wisatawan untuk dapat menikmati atraksi dengan pen-galaman yang maksimal.
4. Aksesibilitas atau kemudahan yang diberikan kepada wisatawan untuk dapat menikmati desa sebagai desti-nasi wisata yang ramah dan mudah bagi wisatawan un-tuk melakukan kegiatan wisatanya dengan nyaman dan aman.
5. Aktivitas keseharian sebagai suatu proses interaksi bu-daya dan pengalaman pertukaran bubu-daya yang menjadi-kan kegiatan berwisata membuahmenjadi-kanpengalaman ber-wisata yang tidak terlupakan
Pengembangan desa wisata tidak bisa lepas dari manusia sebagai subjek yang memiliki desa , pelaku utama serta pen-gelola harian dari desa wisata.
Untuk dapat mengembangkan desa sebagai desa wisa-ta yang mumpuni, maka sebelum melakukan explorasi pro-duk desa wisata sebagai destinasi untuk ditawarkan kepada wisatawan maka perlu adanya penigkatan masyarakat dan komunitas lokal sebagai pribadi yang kuat dan unggul.
Pengembangan pribadi unggul dapat dilakukan dengan konsep “self exploration” atau eksplorasi diri yang melihat secara dalam dari nilai nilai apa yang ada dalam diri kita,
ketertarikan diri yang sebenarnya kita punyai yang akan menjadi satu kekuatan diri untuk dikembangkan menjasi suatu skill atau keahlian dalam diri yang akhirnya menjadi-kan kita sebagai ahli di bidang tersebut dan menjadi bagian dari personaliti diri.
Untuk melakukan eksplorasi diri dapat dilakukan dengan cara:
1. Memahami diri sendiri sebagai individu dan manusia yang merupakan bagian dari ekosistem kesatuan alam, budaya dan manusia atau mahluk hidup lainnya.
2. Setelah kita dapat memahami diri sendiri sebagai indi-vidu maka secara langsung kita akan maju melangkah untuk mulai belajar mamahami orang lain dengan segala kelebihan serta kekurangan dan latar belakang yang be-ragam.
3. Membangun komunikasi yang efektif baik secara inter-personal dan intrainter-personal sebagai bentuk toleransi dan membentuk satu bentuk hubungan yang harmonis, saling pengertian dan berkelanjutan.
4. Hidup dalam dunia yang melengkapi dan terintegrasi dengan keterkaitan satu sama lain dalam hal membangun pribadi unggul, menghargai keberagaman serta gun dunia yang nyaman untuk menjadi tempat memban-gun hal baik bersama.
5. Mejaga kesehatan batin dan fisik menjadi hal penting da-lam mebangun individu dengan pribadi yang unggul, den-gan “new normal” yang menjadi kebaruan dalam menjala-ni hidup era pasca covid-19, maka isu kesehatan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
6. Membentuk Pribadi yang sukses dan unggul sebagai agen perubah untuk dapat ditularkan kepada individu lainnya.
7. Menjadi pribadi yang bahagia sebagai center untuk menu-larkan energi prositif kepada yang lainnya.
Desa wisata yang unggul menjadi kunci dari pemahaman awal eksplorasi diri masyarakat desa sebagai pemilik, pelaku dan pengelola desa wisata. Hal ini penting Karena Desa wisa-ta adalah:
1. Sebuah destinasi wisata yang mempunyai kekhasan his-toris, konstitusional dan budaya dari yurisdiksi terkecil dari suatu negara sebagai suatu lokus untuk memperkuat identitas dengan kearifan lokal budaya dan adat istiadat-nya.” (Bartmann dan Baum, 1998: 696).
2. Secara khusus, desa wisata dan masyarakat serta komu-nitas penggerak membangun nilai lingkungan alami dan hasil kreatifitas sebagai atraksi dan produk desa wisata bagi wisatawan dengan mengembangkan kapasitas diri oleh masyarakat/komunitas penggerak di desa wisata sebagai tuan rumah.
Gambar 7.3 Self Exploration
A framework for community leadership in rural tourism development, Keshuai Xu, Jin Zhang and Fengjun Tian , 2017
Peningkatan kapasitas di bidang pariwisata dalam hal membangun diri, membangun kepribadian unggul dan mengeksplorasi diri secara lebih utuh untuk memahami keterampilan tradisional, dengan cara hidup pedesaan yang membumi dan berkearifan lokal yang menjadi kom-pon penting bagi identitas masyarakat (DOT, 1995b;WTO, 1993; WTO, 1996, WTO, 1997b; Long et al, 1994; EC-AEIDL, 1997; NSWTC, 1991).
Gambar 7.4 Framework for Community Leadership
Ketika masyarakat dan komunitas di desa terlibat, maka pengembangan desa wisata dapat disebut sebagai salah satu alat untuk menjaga budaya tradisional dan penguatan masyarakat untuk merasa bangga dengan kapasitas diri mereke sebagai pengelola dan penggeraki wisata berbasis komunitas/masyarakat (ATSIC, 1996).
Eksplorasi diri bagi masyarakat desa mendorong pen-ingkatan kemampuan soft skill dan kepercayaan diri serta membangun citra ideal masyarakat desa yang dapat meng-hasilkan tumbuhnya ikatan pribadi dan solidaritas masyar-akat yang menghasilkan masyaratkat desa wisata dengan kapasitas diri yang unggul. Pengembaangan eksplorasi diri ini harus didukung oleh fasilitas dan kesiapan diri untuk mau melalkuakn dan membuat perubahan untuk tujuan kedepan yang lebih baik dan membuat desa wisata yang berkarakter dan mandiri.
Fasilitas memainkan peran mendasar dalam memben-tuk identitas dan kebanggaan masyarakat sehingga poten-si pariwisata untuk pengembangan fapoten-silitas dan penamba-han aktivitas sebagai atraksi menjadi sebuah entitas yang memiliki implikasi positif bagi kebanggaan masyarakat, khususnya desa wisata sebagai museum pedesaan sebagai gudang penting budaya pedesaan (Betz, 1993; Prideaux et al, 1997). Produk pariwisata gastronomi memperkuat citra pro-duk lokal dalammelestarikan keanekaragaman tradisional produksi makanan dan minuman (Swarbrooke, 1996) yang menjadi penting sebagai salah satu komponenen yang harus menjadi perhatian dari eksplorasi diri dan mengambangkan potensi desa sebagai desa wisata.
Explorasi desa wisata dapat dilakukan dengan memper-hatikan desain konsep pengembangan yang akan dilakukan seperti apa dengan melihat potensi dan produk unggulan desa yang akan ditawarkan sebagai atraksi desa wisata.
Mengapa perlu memperhatiakan desain pengembangan dari eksplorasi desa menjadi desa wisata karena hal itu ter-kait dengan jenis ragam produk pariwisata dan proses dalam pengembangannya.
Hal yang penting diperhatikan adalah:
1. Penyediaan produk pariwisata. Penyediaan produk wisa-ta dilihat dari atribut sosial budaya, fisik alam dan atribut kearifan lokal diadalamnya. Penentuan pengembangan bisnis yang akan dilakukan untuk produk wisata di desa yang akan dikembangkan menjadi desa wisata. peran serta komunitas lokal dan Penanganan dampakmnya.
Perhatian pemerintah dalam hal pembuatan peraturan dan perencaaan terkait produk pariwisata di desa yang akan dikembangkan menjadi desa wisata secara kompre-hensif.
2. Jenis ragam serta proses Pengembangan produk desa wisata erat kaitannya dengan diversifikasi dan fokus pada Pengembangan produk yang menjadi unggulan dimana harus memperhatikan “niche and mass tourism product” dalam artian produk mana yang dapat dikem-bankan secara massal dan produk mana saja yang harus dikemabangkan secara esklusif. Proses tersebut akan sangat erat kaitannya dengan pengembangan produk wisata di desa wisata secara parsial dan thematik yang dapat dikambangkan baik secara parapel atau terinte-grasi satu dengan yang lainnya.
3. Permintaan atau keingian Pasar terhadap produk wisata di desa wisata sangat perlu memperhatikan pemenuhan kebutuhan pengalaman berwisata pasar/wisatawan yang datang ke desa wisata, Pengembangan produk wisata yang beragaram serta pemuasan pengalaman beriwisa-ta yang diberiwisa-tawarkan kepada wisaberiwisa-tawan aberiwisa-tau pengunjung
Uraian implementasi dari pengembangan produk wisata un-tuk desa wisata di Indonesia dapat mengadaptasi konsep pengembangan terintegrasi dan hoslitisk dari keseluruhan komponen di desa wisata seperti terlihat dalam bagan dari Travis dibawah ini:
1. People menjadi hal penting karena desa wisata sebagai roh masyarakat yang sangat mengedepankan karakter-isitk kearifan lokal dan Budaya dari masyarakat yang Kan menjadi Kunci dari aktivitas wisata yang akan ditawar-kan, pemenuhan permintaan kebutuhan wisatawan yang mencari hal otentik di desa wisata, serta pola Budaya yang menjadi keunikan desa sebagai desa wisata secara konstan ataupun yang musiman.
Gambar 7.5 Product Exploration
2. Tampat sebagai naungan roh fisik di desa menjadi satu
bagian kesatuan di desa yang harus mengedepankan cer-ita dari struktur hercer-itage yang ada di desa baik secara cu-lutral mauapun alam yang dibalut dengan “storytelling”
yang membumi dan menyatu dengan filosofi serta bu-daya lokal desa.
3. Fasilitas wisata menjadi bagian penting disaat desa su-dah berani menyiapkan diri sebagai desa wisata. Peny-iaapam akomodasi berupa homestay yang berkearifam lokal tetapi berstandar global, penyediaan makan dan Minum yang berbalut kuliner atau gastronomy lokal desa serta penyediaan souvenir dari produk dan sumebr daya
Gambar 7.6 Model Travis
4. Atraksi sebagai hal utama bagi wisatawan untuk berkun-jung ke desa wisata dapat ditawarkan sebagai suatu ke-giatan berkonsep “things to see, things to do and things to explore” yang berujung kepada pemuasan pengalaman beriwsata melalui explorasi produk atraksi di desa wisa-ta.
5. Trasnportasi dan peranan komunikasi dua arah dari desa wisata kepada wisatawan menjadikan pemenuhan akse-sibilitas beriwsata di desa wisata menjadi sempurna.
6. Kesiapan SDM sebagai penyedia service yang akan mem-bawa pengalaman bagi wisatawan menjadi penting utnuk diperhatikan agar desa sebagai desa wisata dapat diakui secara global dengan adanya kemampuan skill dalam hal vokasi (seperti kemampuan mengolah bahan baku lokal sebagai kuliner asli desa, kemampuan dalam hal melayani) maupun pengetahuan yang dapat menunjang pengembangan desa wisata seperti penguasaan bahasa asing, manajemen, IT dan marketing.
B. Packaging
Packaging (kemasan) menurut Klimchuk dan Krasovec (2006) adalah desain kreatif yang menghubungkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasar-kan. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2009), Penge-masan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk.
Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membangun ekuitas merek dan mendorong penjualan. Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi pembeli dan mampu menarik atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh produsen untuk dapat
Produsen berusaha memberikan kesan yang baik pada ke-masan produknya dan menciptakan model keke-masan baru yang berbeda dengan produsen lain yang memproduksi pro-duk-produk sejenis dalam pasar yang sama. Sehingga saat ini menurut Hermawan Kertajaya (1996) fungsi kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah, tetapi juga sebagai alat promosi dari produk yang dikemasnya. Perkembangan fung-sional kemasan saat ini semakin luas, kemasan juga sudah berfungsi sebagai media komunikasi, seperti dicantumkan-nya nomor telepon. Selain itu, kemasan juga dapat berfung-si untuk mengkomunikaberfung-sikan suatu citra tertentu, misalkan produk-produk makanan Jepang.
Kemasan dalam pariwisata salah satunya merupakan pa-ket produk wisata, yaitu suatu rencana kegiatan wisata yang telah disusun secara tetap dengan harga tertentu yang men-cakup transportasi, sarana pariwisata, dan DTW serta fasili-tas penunjang lainnya termasuk dalam program pendampin-gan terhadap desa wisata yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Dan dalam penyusunan paket wisata ini diperlukan identifikasi 3A (Atraksi Wisata, Aksesibitas, dan Amenitas) sehingga paket wisata ini akan tepat sasaran sesuai dengan segmen pasarnya
Tujuan packaging dalam program pendampingan ini ada-lah untuk mengedukasi masyarakat di Desa Wisata agar memiliki pemikiran terbuka dalam pengembangan Desa Wisata dan mampu mengeksplor potensi Desa Wisata mel-alui packaging sehingga menjadi daya tarik wisata bagi para wisatawan. Hal ini dapat dilakukan melalui ahli-ahlinya dari Perguruan Tinggi baik dosen maupun mahasiswa yang men-dampingi Desa Wisata tersebut dengan memberikan pembe-rian materi baik teori maupun praktek untuk pengemasan produknya yang salah satunya melalui paket wisata.
Sedangkan menurut Kotler (1999) terdapat 4 (empat) fungsi kemasan, yaitu:
a. Self Service, sebagai Identitas Produk
Kemasan semakin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, sehingga kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk.
Packaging di Desa Wisata harus menunjukkan ciri khas dari suatu produk yang dijual, sehingga SDM/masyarakat harus mampu menyediakan paket wisat yang berbeda dan unik dari desa wisata atau tempat/destinasi lainnya.
Berikut adalah contoh kemasan produk yang kreatif dan menunjukan identitas produk yaitu dodol yang diberikan kemasan luar dari bahan ketrtas dengan pencetakan dan disain yang menarik serta menunjukan identitas produk dari pembuatnya.
Sedangkan contoh lain adalah dengan membuat paket wisata untuk para wisatawan dengan konten paketnya yang unik dan bernilai kearifan lokal termasuk paket un-tuk akomodasi/homestay, atraksi wisata, kuliner,
kunjun-Gambar 7.7 Kemasan Produk Dodol
2. Consumer Affluence, sebagai Cerminan Perusahaan Packaging yang menarik dapat mempengaruhi konsumen untuk bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
Masyarakat di desa wisata harus harus membuat package yang menarik/atraktif sesuai kearifan lokal setiap daer-ah karena kemasan itu menggambarkan desa wisatanya.
Desa Wisata yang mengemas produknya dengan baik, maka dapat dikatakan desa wisata tersebut aware den-gan kualitas produk dan tingkat penerimaan wisatawan.
Sudah sifat dasar manusia bahwa saat membeli produk dalam kemasanpun, wisatawan akan memastikan bah-wa tidak ada kerusakan pada kemasan, apalagi ini mer-upakan kemasan yang unik, langka dan memiliki prestise tersendiri bagi wisatawan. Berikut contoh kemasannya adalah Pia Legong, orang akan berani bayar mahal untuk mendapatkannya dan prestise jika sudah memilikinya, apalagi diawal-awal kemunculannya.
Disamping contoh produk, juga pengelola desa wisata membuat paket wisata yang memiliki nilai lebih sehing-ga orang mau membelinya dan tidak mempermasalahkan
Gambar 7.8 Pia Legong, Bali
c. Company and Brand Image, sebagai Pencipta Citra Perusahaan
Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mem-percepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk.
Packaging seperti ini merupakan brand image pengelo-la destinasi sehingga bisa menjadi sapengelo-lah satu identitas destinasi untuk dikenal wisatawan. Siapa yang tak ke-nal Yogyakarta dan Malang ? oleh karenanya setiap Desa Wisata yang ada di wilayah Yogyakarta dan Malang, akan selalu mencantumkan nama Yogyakarta dan malang di belakangnya karena itu sebagai kekuatan, contohnya pada saat awal berdiri seperti Desa Wisata Penting Sari, Yogyakarta (dalam kemasannya tidak hanya menyebut-kan Desa Wisata Penting Sari, Sleman) dan Desa Wisata Pujon Kidul, Malang.
Hal tersebut dilakukan untuk menjual produk tert-entu maupun untuk paket wisata yang dijual kepada para wisatawan.
Gambar 7.9 Desa Wisata Pujon Kidul, Malang