HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum
1. Pengembangan Ranah Psikis Siswa a. Pengembangan Ranah Kognitif
Para guru di RA memiliki tugas untuk mengembangkan ranah kognitif anak yaitu pada pengambangan keterampilan mengingat, menandai, mengkategorisasikan, berfantasi, menciptakan dan memecahkan masalah sederhana sesuai problem anak-anak usia RA. Beberapa kompetensi pada ranah kognitif yang menjadi fokus pengembangan pada para siswa RA di Kota Metro yaitu kompotensi yang dikembangkan di TK.
Purwanida yaitu pada aspek menghafal, praktek dam teori.
Adapun beberapa kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan yaitu pengajaran tentang rukun islam dan rukun iman bagi umat Islam. Kemampuan menghafal dan praktek menyebutkannya dipada dalam bentuk pembelajaran yang menyenangkan seperti bernyanyi, bertepuk tangan, dan kegiatan-kegiatan yang relevan bagi anak usia dini dalam rangka pengenalan awal tentang keagamaan Islam sejak dini, sehingganya sejak awal para siswa RA dibimbing, dibina dan diarahkan menuju ke arah kehidupan islami yang ideal.
Ibu Kustantinah menjelaskan bahwa:
“Kompetensi kognitif para siswa RA Purwanida dikembangkan melalui berbagai metode pendidikan Islam seperti mencontohkan pola menghafal pada hafalan do’a-doa harian, hafalan surat-surat pendek, dan dan asmaul husna.
Para guru RA idealnya memahami cara-cara menghafal yang mudah dikuti oleh para siswa diselingi dengan kegiatan menyanyi, berkisah dan perpaduan antara berbagai metode, tekhnik dan pendekatan pembelajaran yang releven bagi siswa usia RA”.
Pada pengembangan ranah kognitif ini, kemampuan guru menyajikan metode pembelajaran yang cocok akan dapat lebih bisa mengembangkan ranah kognitif anak RA secara maksimal.
Sebagaimana diterapkan di RA Nurul Huda, bahwa dalam mengembangkan ranah kognitif siswa RA, dilaksanakannya penyajian materi pembelajaran dengan bentuk nyanyian-nyanyian, seperti nyanyian huruf hijaiyah, dan juga menggunakan berbagai kisah-kisah.
23 Ibu Yulianingsih, dari RA Nurul Huda menjelaskan bahwa:
“Ketika kisah dapat disajikan dengan menarik dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna dan dipahami oleh para anak usia dini, ditambahkan dengan uswatun hasanah serta metode lain yang cocok untuk diimplementasikan. Metode bernyanyi dalam berbagai materi ini diyakini oleh para guru RA Nurul Huda akan lebih mudah bagi siswa untuk mengingat-mengingat materi, menghafalkannya serta mengkategorikan berbagai macam dalam materi belajarnya”.
Pada RA Nurul Huda dapat dideskripsikan bahwa pengembangan ranah kognitif melalui metode pendidikan Islam yan dipraktekkan dan dianggap oleh para guru RA Nurul Huda sebagai metode yang mempermudah anak mengingat, menandai serta mengkategorikan yaitu salah satunya dengan praktek langsung dan hafalan, dan ditambahkan dengan metode perumpamaan.
Pada RA Al Akbar, pengembangan ranah Kognitif ditekankan pada pemahaman awal dan mendasar untuk mengingat huruf, baik huruf latin maupun huruf-huruf hijaiyah. Pengenalan terhadap huruf-huruf-huruf-huruf latin dimaksudkan untuk membekali dasar-dasar kemampuan dan keterampilan baca tulis narasi berbahasa Indonesia atau bahasa lainnya.
Ibu Ida Rahmawati, Guru RA Al Akbar menjelaskan bahwa:
“Pengenalan awal terhadap huruf-huruf hujaiyah dimaksudkan untuk memberikan pengenalan awal dari proses membaca Al qur’an maupun narasi yang dituliskan dengan huruf Arab atau hujaiyah. Metode pembiasaan menjadi salah satu metode yang digunakan dengan pembiasaan di awal waktu mulai belajar, dengan cara bersama-sama menyebutkan alfabetis dan huruf hijaiyah. Pada ranah kognitif ini, para guru RA Al Akbar berupaya melatih ingatan dan kekuatan hafalan dari dasar-dasar calistung (membaca, menulis dan berhitung).”
24 Pada RA Maarif para guru beserta kepala RA mengembangkan ranah kognitif siswa pada upaya penguatan hafalan surat-surat pendek, terutama pada Juz Amma dengan standar yang ingin dicapai yaitu pada anak kurang lebih 10 sampai 15 surat. Juga ditekankannya pada hafalan do’a do’a harian, dengan harapan bagi anak sudah terbiasakan dengan membaca Alqur’an sedari dini, serta terbiasa dalam kesehariannya dengan memulai aktifitas yang diawali dengan Bismillah dan doa, demikian pula dalam mengakhiri aktivitas keseharian mereka diakhiri dengan Hamdalah dan doa.
Ibu Sulistyowati, Guru RA Al Maarif menjelaskan bahwa:
“Para siswa RA Al Ma’arif dilatih untuk mengenali sedari dini akan arti sebuah ikhtiar dan usaha serta bersyukur akan nikmat Allah Swt serta bertawakkal atas hasil yang diterimanya. Pengembangan ranah kognitif dengan membekali materi-materi dasar ini diharapkan nantinya, anak-anak RA Ma’arif dapat dengan cepat beradaptasi dan mengikuti secara baik atas beragam mata pelajaran pada jenjang pendidikan di atasnya yaitu di Sekolah Dasar atau di Madrasah Ibtidaiyah (MI).”
Para Guru RA Ma’aarif menerapkan metode pendidikan Islam terkait dengan pengembangan ranah kognitif anak, yaitu secara integratif berupaya menggabungkan semua metode-metode seperti bercerita, Uswatun Hasanah, Hiwar (Percakapan/timbal balik), perumpamaan, dengan tujuan materi-materi ke RA an dan mudah dipahami dan dapat dilaksanakan oleh para siswa sesuai dengan tingkat perkembangan usia dan kemampuan mereka.
Pada RA Maharani para gurunya dalam mengembangkan kompetensi anak pada ranah kognitif memfokuskan metode Pendidikan Islam berupa pembiasaan-pembiasaan. Pembisaan sedari kecil diyakini akan lebih membekas dan melekat pada diri anak. Ibu Rahmadani Matondang menjelaskan bahwa:
“Pembiasaan yang dimaksudkan bagi para siswa RA Maharani yaitu menghafal dan memahami berbagai hal sesuai silabus dan materi ajar yang sifatnya berupa pengenalan awal dan pendasaran pada materi-materi keilmuan, baik keilmuan secara umum maupun spesifikasi pada keilmuan Keislaman, serta akhlakul karimah mereka. Pembiasaan yang dilakukan
25 seperti mengawali belajar dengan berdoa dan sekaligus memaknai doa tersebut. Demikian juga mengakhiri pelajaran.”
Secara kognitif, ketika anak terbiasa dengan berdoa dan menyebutkan arti harfiah dari doa tersebut, maka anak akan semakin hafal atas doa tersebut sekaligus makna dari do’a tersebut. Demikian pula diberikan pembiasaan-pembiasaan menghafal doa’ dan bacaan laiinya sesuai dengan aktivitas keseharian mereka, seperti hendak makan dan minum, berangkat ke sekolah, mendoakan orangtua dan seterusnya.
b. Pengembangan Ranah Afektif
Pada pengembangan ranah afeksi pada anak-anak usia RA ini, para guru RA mempunyai kewajiban untuk secara maksimal mengembangkan ranah keterampilan anak untuk memiliki rasa empati, simpati, rasa cinta, kasih sayang dan lainnya. Berikut deskripsi yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu pada TK Purwanida, pada pengembangan ranah afeksi ini, para siswa mereka dilatih untuk beriteraksi yang ideal penuh kesopanan, penghargaan dan penghormatan kepada para guru merek, orangtua serta teman-teman mereka. Sebagai contohnya, para siswa dilatih dan dibiasakan untuk mengucapkan salam kepada guru, menjaga ketertiban kelas dan tidak boleh berteriak-teriak di dalam kelas, tidak membuang sampah sembarangan, keluar kelas dengan pamit, masuk kelas mengucap salam, dan budaya hidup jujur, bersih, sehat dan berakhlakul karimah.
Para Guru RA Purwanida menekankan aspek afeksi berupa pengajaran dan pembiasaan kasih sayang antar teman.
Para guru diberikan tugas untuk melakukan pengamatan dan observasi harian, baik ketika para siswa berada di kelas maupun ketika mereka berada di luar kelas pada saat istirahat dan bermain. Pengamatan dan obervasi ini tercatat dengan baik, sehingga guru memiliki data akurat tentang perkembangan perilaku anak dan hal-hal lain yang merupakan wujud dan cerminan ranah afeksi yang dimiliki anak. Semakin ranah afeksi anak baik, maka akan tercerminkan pada aspek perilakunya yang menunjukkan kasih sayang kepada teman, hormat kepada
26 guru dan perilaku baik lainnya. Pun sebaliknya. Guru dapat melakukan proses pembinaan secara lanjut sesuai dengan catatan perilaku yang ada guna treatmen kedepannya agar lebih terkembangkan ranah afeksinya secara maksimal sesuai kondisi usia dininya. Ibu Ishayati menjelaskan bahwa:
“Pada proses pengamatan dan observasi perilaku harian siswa RA Purwanida, bahwa sering terjadinya selisih antar anak, yang kemudian para guru secara asah asih asuh berupaya melerai antar siswa yang berselisih, dan melatih mereka untuk memecahkan masalah yang terjadi secara baik, yang sehingganya para siswa tersebut dapat saling memaafkan dan menyadari akan kesalahannya serta berjanji untuk tidak mengulanginya pada hari-hari selanjutnya.
Walaupun demikian, terkadang terjadi perselisihan kembali pada antar anak yang sama ataupun antar anak yang berbeda.”
Melihat dan menyadari akan dinamika perkembangan ranah afeksi yang demikian, maka para guru harus selalu sabar, telaten dan penuh tanggungjawab untuk selalu membimbing para siswanya untuk lebih baik dalam setiap perkembangan psikisnya dengan implementasi berbagai varian dan integratifnya metode, pendekatan, model dan upaya pendidikan lainnya.
Pada RA Nurul Huda menekankan pada ranah afeksi yaitu rasa simpati, empati dan kasih sayang antar siswa dan orang-orang di sekitar mereka. Ibu Dwi menjelaskan bahwa:
“Para siswa RA Nurul Huda diberikan pemahaman bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu yang berarti setiap anak akan berupaya memenuhi keinginan dan kebutuhan dirinya. Namun demikian, mereka dipahamkan bahwa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan individu maka diperlukan bantuan teman dan orang lainnya. Untuk memenuhi keinginan individu, sang anak harus memperhatikan keinginan dan kebutuhan orang lain, sehingga sang anak diajarkan untuk untuk tidak merugikan temannya. Menjaga pertemanan serta saling menolong antar
27 teman menjadi hal penting yang ditanamkan kepada para siswa RA. Pada sisi lain, para anak dikembangkan ranah afeksi pada aspek religiusitas yaitu pemahaman akan Allah Swt sebagai Sang pencipta dan ajaran Islam yang telah dianut oleh para orangtua mereka adalah sebagai agama yang akan membimbing mereka menjadi anak yang soleh dan solehah, membimbing mereka untuk hidup tenteram dalam kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga serta kehidupan mereka dalam komunitas sekolah dan teman sebaya serta sepermainan.”
Para guru RA Nurul Huda menerapkan berbagai metode dalam pengembangan ranah afaeksi para siswanya, antara lain dengan metode bercerita atau Qishah. Melalui metode cerita dan Qishah para guru memilih berbagai bahan cerita atau qishah, baik dari buku cerita dan sumber cetak lainnya, ataupun dari sumber online seperti youtobe, dan sumber lainnya. Para guru harus dapat menampilkan secara selektif sumber dan isi cerita yang benar-benar relevan dengan tingkat perkembangan anak usia RA, baik dalam gambar atau visualnya maupun narasi dan percakapannya. Guru RA harus dapat mengidentifikasi sisi baik dan sisi buruk, sisi teladan dan sisi larangan, sisi positif dan sisi negatif dari isi dan perilaku tokoh dalam cerita tersebut untuk kemudian bersama-sama para siswa RA memahaminya serta memberikan pesan moral agar mereka menauladani aspek-aspek kebaikan dan tidak menirukan hal-hal buruk yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Cerita dongeng dan jenaka serta kisah-kisah para nabi menjadi andalan bagi para guru RA untuk dijadikan bahan materi pembelajaran terkait pengembangan ranah afeksi pada anak.
Pada RA Ma’arif, terkait pengembangan ranah afeksi yang dikembangkan yaitu aspek bersimpati dan berempati antar teman. Hal ini dilakukan sebagai wujud kasih sayang antar sesama. Ibu Ana Rosita menjelaskan bahwa:
“Pada saat terdapat anak RA Al Ma’arif yang mengalami sakit atau mengalami sesuatu hal yang menyebabkan si anak tidak dapat masuk sekolah dan
28 beraktivitas lainnya dengan baik, maka para guru RA Ma’arif mengkondisikan para siswa dalam waktu beberapa saat untuk menginformasikan kondisi anak tersebut dan mengajak mereka untuk bersama-sama berdo’a untuk kesembuhan teman mereka ataupun segera memperoleh kelapangan atas musibah yang dialami teman mereka. Dan jika diperlukan dan memungkinkan situasinya, maka mereka diajak menjenguk teman mereka yang sakit atau mengalami musibah.”
Pada konteks ini, praktek langsung menjadi metode yang ditekankan oleh para guru RA Ma’arif. Melalui praktek langsung inilah para siswa memperoleh informasi riil, dan mereka dapat membayangkan jika diri mereka mengalami hal-hal sebagaimana yang mereka lihat seperti teman yang sakit atau terkena musibah. Penanaman nilai simpati dan empati menjadi hal pokok yang para guru tanamkan kepada mereka, dan pada sisi lain para siswa diajarkan untuk waspada dan hati-hati agar tidak mengalami hal-hal buruk yang dapat menimpa mereka, seperti sakit karena kecelakan sepeda, memanjat pohon, bermain dengan menggunakan senjata tajam dan peristiwa-peristiwa lainnya yang memiliki akibat negatif karena kecerobohan anak.
Para guru juga menggunakan metode hiwar, yaitu dengan meminta beberapa anak untuk berdialog dengan tema-tema yang erat kaitannya dengan kehidupan mereka sebagai anak, sebagai contoh yang disampaikan Ibu Nayuk Kusnaini bahwa:
“Ketika terdapat teman mereka pada RA Al Maarif yang mengalami musibah sakit karena kecelakaan, dan topik lainnya. Para anak diajarkan untuk mengidentifikasi hal-hal penyebab dan kesalahan yang ada pada orang atau teman mereka yang terkait dengan peristiwa tersebut. Hasil identifikasi bisa berupa aspek kecerobohan, ketidak hati-hatian, melanggar aturan lalu lintas, kebut-kebutan atau melanggar pesan orangtua, yang terkadang mengalami lepas pengawasan atas aktivitas anak dan permainan mereka.”
29 Melatih kewaspadaan, hati-hati, taat aturan bermain, berkendara, patuh dengan nasehat serta rambu-rambu aktivitas dari orangtua serta hal-hal lainnya menjadi sesuatu yang penting untuk ditanamkan pada anak sedari dini, sehingga mereka menjadi anak yang tertib, disiplin, waspada dan selalu merasa nyaman di bawah pengawasan orangtua mereka. Pamit dan menginformasikan segala hal yang terkait dengan aktivitas mereka dalam berteman dan bermain kepada orangtua dan seseorang yang diberikan tanggungjawab untuk mengawasi mereka adalah hal yang mereka perhatikan dan biasakan sedari dini dalam keseharian mereka.
c. Pengembangan Ranah Psikomotorik
Pengembangan ranah psikomotorik pada siswa RA dimaksudkan yaitu keterampilan gerak mereka seperti menggambar, mewarnai, bersenam dan berolahraga, melakukan gerakan terkait ibadah seperti berwudhu, sholat dan aktivitas gerak mereka. Pada implementasinya di RA Kota Metro dapat dideskripsikan antara lain, pada TK Purwanida TK Purwanida, pengembangan ranah psikomotorik dilakukan dengan metode praktek, seperti olahraga, latihan kebersihan kelas dan lingkungan sekolah, gerakan pungut sampah, dan kegiatan latihan motorik lainnya.
Guna mengatasi kejenuhan dalam latihan-latihan motorik tersebut, diupayakan pendekatan bermain sambil belajar, perlombaan kebersihan serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berupaya penanaman pola hidup bersih dan pola hidup sehat serta mencintai lingkungan dan keindahan. Ditanamkan kepada para siswa bahwa untuk hidup bahagia diperlukan badan yang sehat, badan yang sehat diperoleh dari pola hidup bersih dan sehat. Pun dalam ajaran Islam, Allah Swt menyukai keindahan, dan dijelaskan bahwa pola hidup bersih dan sehat adalah wujud dari jiwa yang bersih serta jiwa yang beriman kepada Allah Swt.
Ibu Sri Rahayu Ningsih menjelaskan bahwa:
“Pada aspek pengembangan motorik terkait kompetensi keterampilan akademik para siswa, RA Purwanida tidak
30 menentukan target yang membebani anak, namun secara bertahap dan mulai dari pengenalan dan pemberian pemahaman mendasar terkait pengembangan keterampilan motorik anak secara akademik, para siswa diberikan dasar-dasar menggambar dan mewarnai, bersenam anak-anak, seni gerak dan tari Islami, etika membawa Al qur’an dan membacanya, etika membawa buku dan membacanya, dan latihan dasar gerakan-gerakan terkait ibadah seperti berwudhu dan bersholat. Tingkat perkembangan motorik anak sangat ditentukan pula oleh faktor internal dan eksternal pada siswa.”
Selain melakukan latihan dan praktek, dalam pengembangan ranah psikomotorik siswa RA sangatlah penting peran dan metode pemodelan atau Uswatun hasanah, perumpamaan serta pemberian contoh yang riil dalam kehidupan anak. Hal yang demikian dilakukan oleh para guru di RA Nurul Huda. Sebagaimana penjelasan Ibu Rifa Oktarida bahwa:
“Ketika para siswa RA Nurul Huda mewarnai sesuatu terkadang sang anak mewarnainya sesuai selera dan keinginan dan hayalan semata. Ketika anak diberikan tugas untuk mewarnai sesuatu, maka sang anak mulai dikenalkan akan warna-warna asli dari sebuah benda atau obyek yang diwarnai. Sebagai contoh, secara umum pisang jika masih muda akan berwarna hijau sedangkan jika sudah matang akan berwarna kuning. Pun ada juga pisang yang berwarna merah.
Pada konteks ini, anak diajarkan untuk menentukan warna dari objek gambar dengan kesepakatan warna asli atau warna imajinasi atau hayalan. Hadirnya contoh sesuatu barang berikut warnanya menjadi penting untuk dilakukan, sebagai bentuk perumpamaan dan pemodelan serta mencontohkan cara mewarnai yang benar.”
Ketika pemberian keterampilan psikomotorik atas keterampilan menggambar, mewarnai, seni tari dan lainnya, para siswa mulai diberikan makna yang terkandung pada suatu objek gambar atau sebuah gerakan tari dan lainnya. Sebagai contoh, warna pada bendera Negara Indonesia, yaitu warna merah yang
31 berarti berani dan warna putih yang berarti suci. Berikut penjelasan Ibu Fadila Azhari:
“Para siswa diajarkan untuk secara dini cinta tanah airnya yang diwujudkan dengan berperilaku berani untuk kebenaran serta berupaya menjaga kesucian yaitu dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Persamaan dan perbedan persepsi mereka atas bentuk keberanian dan kebenaran dan kesucian harus menjadi perhatian bagi para guru RA, sehingga mereka dapat memahami dan memiliki persamaan persepsi atas keberanian atas kebenaran dan menjaga kesucian. Sebagai contoh, ketika mereka belum memahami suatu materi belajar, maka diberikan motivasi kepada mereka untuk berani bertanya kepada guru mereka.
Ketika mereka melakukan kesalahan, maka dilatihkan kepada mereka untuk mengakui berani mengakuinya dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Demikian dengan warna putih, maka para siswa RA diberikan latihan untuk menjaga kesucian diri dengan tidak berkata kotor, jorok, menghina teman, marah-marah, dan tidak sopan kepada guru dan orangtua.”
Demikian pula, dengan latihan seni tari Islami, maka di samping mereka dikembangkan keterampilan motorik dalam memahami warna-warna dari kostum penari, dan juga gerakan tariannya,. Dijelaskan oleh Ibu Yulianingsih:
“Upaya-upaya pengenalan akan makna warna kostum penari dan gerakan tarian maka pada diri anak tersebut, sedari dini akan belajar memahami warna-warna objek, bentuk-bentuk gerakan suatu seni dan lainya serta makna-makna dalam objek-objek tersebut. Ketika mereka memiliki keterampilan dan kepekaan atas warna, gerakan serta variasi suatu objek, maka mereka akan berupaya menebak dan menemukan makna serta maksud dari warna, gerak maupun bentuk sebuah benda. Demikian pula ketika mereka melihat sikap dan mimik seseorang, maka anak RA dilatih untuk menebak suasana hati teman mereka, apakah sedang senang, ataukah sedih, sedang dakam kondisi lainnya.”
32 Demikian pula yang diterapkan pada RA Nurul Huda, bahwa beberapa bentuk kegiatan dalam pengembangan kompetensi pada ranah psiomotorik pada siswa RA yaitu kegiatan senam anak shaleh, mewarnai gambar tempat ibadah dan mewarnai huruf-huruf hijaiyah. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk perpaduan antara ketiga ranah dalam psikis siswa, dimana sembari mewarnai, mereka mengingat dan menghafal huruf hijaiyah, tempat ibadah. Hal ini bentuk dari pengembangan ranah kognitif. Pada ranah afeksi, mereka juga terbina akan sifat cinta keindahan. Mereka mengingat makna anak sholeh pada nama senam mereka, sehingganya mereka dapat memahami karakateristik anak sholeh yang santun, baik, sayang teman dan keterampilan afeksi lainnya.
Pada RA Al Akbar, di samping juga menerapkan berbagai hal yang sama dengan RA-RA lainnya, ada hal lain yang perlu diajarkan pada diri siswa RA sedari dini, yaitu aspek kreatiftas dan kreasi. Pada diri anak sedari dini dikenalkan untuk menjadi diri yang memiliki kreasi dalam kehidupan mereka, dengan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dan ajaran Islam. Ibu Hulasoh mencontohkan:
“Sebagai contoh, berbagai bentuk seni seperti senam, nyanyian dan hal-hal yang familier pada diri anak RA Al Akbar,untuk kemudian diadopsi dan dikreasi menjadi senam dan nyanyian yang Islami dan relevan dengan dunia anak RA. Karakteristik Islami yang dimaksudkan yaitu dengan berpenampilan busana Islami ketika senam atau menari, kosakata dan lirik Islami pada lagu-lagu kreasi mereka.
Artinya, ayo berkreasi namun tetap Islami.”
Pada RA Maharani, pada pengembangan ranah afeksi lebih menekankan sifat kebersamaan dan berbagi. Sering kali dilakukan kegiatan dan acara yang membangun rasa kebersamaan dan berbagi. Memupuk rasa tanggung jawab bersama pada siswa, diantaranya menanamkan rasa tanggungjawab bersama atas keberrsihan kelas dan kerapiannya.
Ibu Nurul Syamsidar menjelaskan:
33
“Di bawah bimbingan guru, siswa diajak melakukan gotongroyong membersihkan dan merapikan kelasnya, walaupun sebelumnya telah dibersihkan oleh petugas yang ada. Coretan-coretan di dinding, kursi, meja dan tempat-tempat yang semestinya dikotori, secara bersama-sama dibersihkan sambil mengingatkan mereka arti penting kebersihan dan kerapian. Pada sisi lain, para siswa dipupuk rasa berbagi, baik dari sisi tanggung jawab maupun berbagi
“Di bawah bimbingan guru, siswa diajak melakukan gotongroyong membersihkan dan merapikan kelasnya, walaupun sebelumnya telah dibersihkan oleh petugas yang ada. Coretan-coretan di dinding, kursi, meja dan tempat-tempat yang semestinya dikotori, secara bersama-sama dibersihkan sambil mengingatkan mereka arti penting kebersihan dan kerapian. Pada sisi lain, para siswa dipupuk rasa berbagi, baik dari sisi tanggung jawab maupun berbagi