NO TIPE LOKASI TERMINAL ARAHAN
B. Pengembangan Sub Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman
• Persampahan
Penanganan terhadap sampah memerlukan perhatian yang cukup besar mengingat jumlah sampah yang akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk perkotaan, serta dampak yang ditimbulkannya apabila tidak ditangani secara tepat terhadap kota itu sendiri. Selain pengangkutan dan pengelolaan sampah, penyediaan dan lokasi pembuangan sampah merupakan kebutuhan bagi wilayah kabupaten.
Dari hasil penilaian strategi pengelolaan sampah Kota Muaro Sijunjung maka diperoleh strategi yang lebih berpengaruh, yaitu : 1. Meningkatkan peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah 2. Meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan aparatur
3. Kerjasama dengan stake holder dengan prinsip saling menguntungkan
4. Meningkatkan kinerja manajemen, teknis dan finansial pengelolaan sampah
Dari keempat strategi tersebut dijabarkan strategi tersebut untuk tiap aspek yaitu :
1. Aspek Teknis; meningkatkan kinerja teknis pengelolaan sampah untuk mencapai tingkat pelayanan 80% penduduk tahun 2031 dan prestasi dalam Kota Bangun Praja serta Program Kota bersih
• Pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah seperti truk sampah 22 unit, gerobak sampah 157 unit, TPS 54 unit, dan lokasi TPA 2 unit.
• Menggunakan sistem individual tidak langsung dan komunal tidak langsung untuk sistem pengumpulan, sistem SCS untuk sistem pengangkutan dan pengelolaan LPA dengan sistem controll landfill.
• Melakukan pengumpulan dan pengangkutan sampah terpisah antara sampah organik dengan anorganik.
• Memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan kompos sekaligus sebagai reduksi sampah di sumber.
• Memanfaatkan sampah anorganik untuk dimanfaatkan kembali sekaligus sebagai reduksi sampah di LPA untuk memperpanjang umur LPA.
2. Aspek Kelembagaan; Meningkatkan bentuk, kapasitas dan kinerja institusi serta aparatur pengelola sampah
• Membentuk institusi pengelolaan sampah yang mandiri seperti UPTD, Kantor Kebersihan atau minimal seksi yang tergabung dalam institusi lain seperti Dinas PU.
• Mengikuti pelatihan atau workshop manajemen dan teknis pengelolaan sampah bagi aparatur serta memberikan sanksi dan reward kepada personil pengelolaan sampah terutama personil dengan status pekerja harian lepas.
• Penambahan jumlah personil pengelolaan sampah sesuai tingkat pelayanan dan rasio ideal pelanggan dengan personil yaitu sebesar 1: 500.
• Melakukan koordinasi dengan pemerintahan nagari untuk pembagian tanggung jawab pengelolaan sampah, dimana pengumpulan dan retribusi sampah menjadi tanggung jawab pemerintahan nagari dan pengangkutan serta pengelolaan LPA menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
• Bekerjasama dengan swasta untuk pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah.
• Bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk mencari teknologi tepat guna pengolahan sampah.
3. Aspek Finansial; Meningkatkan anggaran dan mencari alternatif pendapatan dari kegiatan pengelolaan sampah.
• Meningkatkan anggaran pengelolaan sampah dari APBD sebesar 20% dari biaya operasinal dan pemeliharaan.
• Memanfaatkan potensi sampah organik dan anorganik sebagai sumber pendapatan alternatif bagi pemerintah daerah dan masyarakat dan memaksimalkan potensi retribusi.
• Menetapkan tarif retribusi berdasarkan biaya operasional dan pemeliharaan dan kemampuan masyarakat sehingga mampu mencapai 80% dari biaya operasional dan pemeliharaan
4. Aspek Peranserta Masyarakat; Meningkatkan peranserta
masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui:
• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat atau kelompok masyarakat tentang peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah termasuk penggunaan wadah yang sesuai dengan standar SNI.
• Memberikan pelatihan dan bantuan alat untuk melakukan komposting
• Membentuk kelompok-kelompok pendampingan sebagai motivator dan pembimbing kepada kelompok masyarakat.
• Memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat seperti dasawisma, RT, dan RW untuk melakukan komposting skala rumah tangga dan komunal
Beberapa asumsi dan pendekatan yang digunakan untuk menghitung timbunan sampah dan kebutuhan TPS serta TPA (TPST):
a. Timbunan sampah domestik: 2 liter/orang/hari Domestik; b. Setiap kab./kota membutuhkan minimal 1 TPA (TPST) c. Setiap kecamatan membutuhkan minimal 1 TPS (25 m³)
Berdasarkan analisa, prakiraan timbulan sampah di Kabupaten Sijunjung tahun 2030 mencapai ± 588 M3/Hari, dari prediksi timbulan sampah dapat diprediksi kebutuhan prasarana dan sarana pelayanan persampahan seperti berikut :
- Truk Sampah : 22 unit - Gerobak Sampah : 157 unit
- TPS : 54 unit
Terkait dengan efisiensi transportasi dan karakteristik kawasan cukup berbeda, pembangunan TPA di Kabupaten Sijunjung dapat dilakukan dengan sistem kerjasama regional dengan daerah/kabupaten tetangga. Rencana pengelolaan sampah untuk wilayah Kabupaten Sijunjung dapat dibedakan menjadi 2 kawasan penanganan, yaitu:
1. Kawasan Utara yang meliputi lingkungan Perkotaan Muaro Sijunjung, IV Nagari, Kupitan, Lubuk Tarok, dan Koto VII disatukan penanganan persampahannya dalam satu TPA yaitu di Nagari Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari.
2. Kawasan Selatan yang meliputi Kawasan Kamang Baru dan sekitarnya, yaitu TPA di Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru.
• Pengembangan Sub Bidang Air Limbah
Pengembangan pengelolaan air limbah bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari air limbah permukiman. Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman yang terdiri dari air limbah domestik yang berasal dari air sisa mandi, cuci, dapur dan tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah industri rumah tangga yang tidak mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Air limbah permukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti mencemari air permukaan dan air tanah.
Salah satu pengelolaan air limbah yang dilakukan adalah membangun MCK komunal yang dilengjapi dengan sistim pengolahan air limbah, mendorong masyarakat membangun MCK personal yang sehat dan berwawasan lingkungan serta melakukan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat.
• Pengembangan Sub Bidang Drainase
Tujuan dari rencana pengembangan saluran drainase pada penataan ruang kabupaten Sijunjung adalah mengalirkan air permukaan ke badan air penerima atau bendungan resapan buatan yang dapat berupa embung/telaga dalam upay mencapai hidup sehat dan produktif.
Sistem drainase di Kabupaten Sijunjung masih menggunakan sistem drainase gabungan yaitu sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran
pembuangan air yang sama baiknya untuk air permukaan maupun air limbah yang diolah.
Penanganan sistem drainase ini dapat dibedakan menjadi:
3. Saluran Primer; melalui program normalisasi sungai dan perawatan lainnya.
4. Saluran Sekunder; merupakan jaringan sistem drainase tersier dengan berbagai dimensi yang mengikuti jaringan jalan.
Pada sisi yang lain, berdasarkan data kejadian banjir yang menimpa Kabupaten Sijunjung pada areal dimana akan dijadikan pusat perkotaan seperti Kota Sungai Tambang dan Kota Tanjung Ampalu sering terjadi genangan air yang disebabkan oleh kurang berfungsinya sistem drainase pada saluran sekundernya. Luas genangan air yang berakibat banjir ini akan makin bertambah tatkala lahan pertanian berubah menjadi lahan terbangun/pemukiman. Oleh sebab itu diperlukan penanganan yang lebih serius dalam hal pembangunan jaringan drainase untuk pengembangan perkotaan, pemukiman perkotaan, dan prasarana jalan.