VI. STRATEGI DAN PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS
6.3. Formulasi Program Pengembangan
6.3.6. Pengembangan Sumberdaya Manusia
a) Pemberdayaan petani dan organisasi petani, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas kebun sawit
b) Pengembangan program pendidikan, pelatihan, dan magang petani dan petugas. Dalam mempersiapkan tenaga yang siap pakai untuk industri kelapa sawit, maka perlu pendidikan dan latihan bagi calon para pekerja dan petugas yang terkait dengan produksi dan industri kelapa sawit. Untuk itu, maka perlu program- program pendidikan dan latihan yang dilakukan di Balai Latihan Kerja (BLK) berbasis penguasaan teknologi agroindustri bio-enerji berskala internasional di Kota Dumai.
VII.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
7.1 Kesimpulan
Provinsi Riau mengalami gejala paradoks pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.
Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan bukan bersumber dari
sektor-sektor utama yang memiliki pengaruh yang kuat ke masyarakat, yakni sektor
pertanian, dan sektor industri pengolahan hasil-hasil pertanian; yang memiliki kontribusi
tinggi terhadap pendapatan maupun penyerapan tenaga kerja. Pengembangan industri
minyak dan gas bumi telah meningkatkan kesenjangan sosial-ekonomi antar
kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Motor penggerak ekonomi dalam Kawasan Strategis Nasional adalah sub-sektor
perkebunan berbasis kelapa sawit. Industri kelapa sawit merupakan komoditas unggul,
dan terbukti memiliki dayasaing di pasar internasional. Pengembangan kelapa sawit di
KSN diarahkan untuk mendukung kebijakan nasional dalam pengembangan bio-enerji,
disamping pengembangan produk-produk hilir kelapa sawit lainnya. Dukungan sektor
perdagangan dan jasa perlu ditingkatkan dalam pengembangan klaster industri kelapa
sawit ini.
Kota Dumai dapat berperan sebagai pusat dalam pengembangan KSN yang
didukung oleh wilayah penyangga, mulai dari kawasan di Rokan Hilir, Bengkalis, Siak,
Pekanbaru, Pelalawan, hingga Indragiri Hilir. Keterkaitan antar wilayah di dalam
Kawasan Strategis Nasional perlu dikembangkan secara fungsional, sehingga terjalin
kerjasama yang saling mendukung dan saling menguntungkan antar wilayah terlkait.
Enam strategi dihasilkan dari analisis SWOT: (1) pembenahan aspek hukum, (2)
pengembangan infrastruktur, (3) realokasi dan optimisasi pemanfaatan aset lahan untuk
penanggulangan kemiskinan, (4) pengembangan kerjasama multipihak, (5)
pengembangan investasi bagi diversifikasi produk sawit dan pengembangan industri hilir
kelapa sawit, dan (6) pengembangan sumberdaya manusia.
Pola-pola kerjasama kemitraan yang diperlukan dalam pengembangan KSN
adalah yang melibatkan kerjasama multipihak (pemerintah-swasta-masyarakat), juga
didukung oleh kerjasama internasional dengan pihak-pihak luar negeri.
7.2 Implikasi Kebijakan
Pembangunan Kawasan Strateghik Nasional Provinsi Riau merupakan langkah
strategis bagi Provinsi Riau dalam rangka penciptaan sumber-sumber pertumbuhan
ekonomi baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan,
dan meningkatkan perekonomian daerah. Akan tetapi, program tersebut membutuhkan
dana dalam jumlah besar untuk pengembangan infrastruktur, kepastian sistem hukum dan
tata ruang, dan kerjasama kemitraan diantara berbagai pihak yang terkait, juga kerjasama
antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi, serta nasional.
Pengembangan kawasan perkebunan tidak terlepas dari penyediaan lahan.
Berdasarkan Rencana tata Ruang dan Wilayah Provinsi Riau, sekitar 3,1 juta hektar lahan
telah dicadangkan untuk pengembangan kawasan perkebunan ini. Pada pelaksanaannya,
pengembangan kawasan perkebunan ini perlu disesuaikan dengan kondisi-kondisi
wilayah dan masyarakat, tidak bisa digeneralisasikan. Pola-pola pengembangan yang
bisa digunakan antara lain pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR), Kredit Koperasi Primer
untuk Anggota (KKPA) – yang telah diatur dalam Surat Keputusan Gubernur Riau
Nomor 7 tahun 2001, swadaya masyarakat, maupun program bantuan pinjaman modal
ekonomi kerakyatan.
Pengembangan klaster industri kelapa sawit (integrasi vertikal agribisnis kelapa
sawit) membutuhkan terobosan teknologi aplikatif, baik dalam hal penyiapan bibit
berkualitas tinggi, maupun teknologi pengolahan produk-produk hilir kelapa sawit,
termasuk di dalamnya untuk bio-fuel. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dengan
lembaga-lembaga penelitian atau perguruan tinggi mengenai aspek ini.
Upaya penanganan kemiskinan dan keterbelakangan merupakan bagian integral
dari program pengembangan ekonomi daerah dan masyarakat. Oleh karena itu, dimensi
pemberdayaan masyarakat ini harus dilakukan secara integral dengan program
pertumbuhan ekonomi, dan dibarengi dengan program peningkatan kualitas sumberdaya
manusia melalui pendidikan dan latihan. Mengingat kepemilikan/penguasaan lahan
perkebunan masih relatif rendah, program redistribusi aset lahan menjadi penting untuk
dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kondisi-kondisi daerah dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Piter et al., 2002, Daya Saing Daerah, BPFE Yogyakarta.
Bappenas,. 2004a. Kajian Strategi Pengembangan Kawasan dalam Rangka Mendukung Akselerasi Peningkatan Dayasaing Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal - Bappenas, Jakarta. Bappenas,. 2004b. Tata Cara Perencanaan Pengembangan Kawasan untuk
Percepatan Pembangunan Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal – Bappenas, Jakarta.
BPS Provinsi Riau. 2006. Riau dalam Angka Tahun 2006. BPS Provinsi Riau, Pekanbaru
Budiharsono, Sugeng. 2002. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. PT. Pradnya Paramita. Jakarta
Dong-Sung Cho Dan Hwy-Chang Moon, 2003, From Adam Smith To Michael Porter, Evolusi Teori Daya Saing. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Hanafiah, T. 1993. Kebijakan dan Perencanaan Pembangunan Wilayah. Makalah pada pelatihan Pengembangan Sumberdaya Manusia bagi staf Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri di Cipayung 25-29 Januari 1993.
Pahan, Iyung. 2006. Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pemerintah Provinsi Riau. 2006. Informasi Eksekutif 2006. Pemerintah Provinsi Riau, Pekanbaru.
Porter, Michael E. 1990. The Competitive Advantage of the Nations. Free Press, New York.
Porter, Michael E. 1993/1994, Keunggulan Bersaing, Menciptakan dan Mempertahankan Kinerja Unggul, Harvard Business Review.
Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. 2002. Penyusunan Strategic Development Regions (SDR). Tim P4W IPB, Bogor.
Siregar, Hermanto. 2006. Perspektif Model Agro-based Cluster Menuju Peningkatan Dayasaing Industri. Agrimedia Vol 11 (Desember) : 17-68. Soesilo, Nining I. 2002. Manajemen Strategik di Sektor Publik: Pendekatan
Universitas Indonesia, Jakarta.
Syaukat, Yusman. 2006. Strategi Pembangunan Agribisnis dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Kapuas. Paper disampaikan dalam Seminar Sehari ”Peringataan Hari Jadi Kota Kuala Kapuas ke-200 dan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Kapuas ke-55” di Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, 16 Maret 2006
Tambunan, Tulus. 2006. Iklim Investasi di Indonesia: Masalah, Tantangan, dan Potensi. Bisnis & Ekonomi Politik. Vol. 7(April): 5-45.
Tonny, Fredian. 1998. The Use of Focus Groups Method: An Experience of Study in The Rural Communities of Java. Paper Presented at the Seminar of Graduate Students, Faculty of Human Ecology, UPM.
Zainal, Rusli. 2006a. Dumai Menuju Kawasan Ekonomi Khusus. Bahan Presentasi Gubernur Provinsi Riau.
Zainal, Rusli. 2006b. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Kota Dumai Sebagai Lokomotif Ekonomi Propinsi Riau Ke Depan. Bahan Presentasi Gubernur Provinsi Riau.
Zainal, Rusli. 2006c. Potensi dan Kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Pengolahannya di Provinsi Riau. Bahan Presentasi Gubernur Provinsi Riau.