• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

4. Pengembangan Tes Hasil Belajar

Menurut Djaali (dalam Sudaryono dkk 2013: 65) penyusunan dan pengembangan tes dimaksudkan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Langkah-langkah konstruksi tes yang di tempuh adalah sebagai berikut :

a) Menetapkan tujuan tes. Tes prestasi belajar dapat dibuat untuk bermacam-macam tujuan, seperti: (1) tes yang bertujuan untuk mengadakan ujian nasional atau ujian lain yang sejenis, (2) tes yang bertujuan untuk mengadakan seleksi, (3) tes yang bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa yang dikenal dengan tes diagnosis.

b) Analisis kurikulum. Analisis kurikulum bertujuan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan dasar dalam menentukan jumlah item atau butir soal untuk setiap pokok bahasan soal objektif atau bobot soal untuk untuk uraian, dalam membuat kisi-kisi tes.

c) Analisis buku pelajaran sumber materi belajar lainnya. Analisis ini mempunyai tujuan yang sama dengan analisis kurikulum, yaitu menentukan bobot setiap pokok bahasan. Namun dalam analisis buku pelajaran menentukan bobot setiap pokok bahasan

berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar lainnya.

d) Membuat kisi-kisi. Manfaat kisi-kisi adalah untuk menjamin sampel soal yang baik, dalam arti mencangkup semua pokok bahasan secara proporsional. Agar item-item atau butir-butir tes mencangkup keseluruhan materi (pokok bahasan atau sub pokok bahasan) secara proporsional, maka sebelum menulis butir-butir tes terlebih dahulu membuat kisi-kisi sebagai pedoman.

e) Penulisan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Penulisan TIK harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. TIK harus mencerminkan tingkah laku siswa, oleh karena itu harus dirumuskan secara operasional, dan secara teknis menggunakan kata-kata operasional.

f) Penulisan soal. Setelah kisi-kisi dalam bentuk tabel spesifikasi telah tersedia, maka yang kemudian dibuat adalah butir-butir soal. Petunjuk yang perlu diperhatikan dalam membuat butir-butir soal adalah:

a) Soal yang dibuat harus valid (validitas konstruk) dalam arti mampu mengukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

b) Soal yang dibuat harus dapat dikerjakan dengan menggunakan satu kemampuan spesifik, tanpa dipengaruhi kemampuan lain yang tidak relevan.

c) Soal yang dibuat harus terlebih dahulu dikerjakan atau diselesaikan dengan langkah-langkah lengkap sebelum digunakan pada tes yang sesungguhnya.

d) Menetapkan sejak awal aspek kemampuan yang hendak diukur untuk setiap soal matematika yang dibuat.

e) Dalam membuat soal matematika, hindari sejauh mungkin kesalahan-kesalahan ketik, kerena hal itu akan mempengaruhi validitas soal.

f) Memberikan petunjuk mengerjakan soal secara lengkap dan jelas untuk setiap bentuk soal metematika dalam suatu tes. g) Telaah soal (face validity). Soal-soal yang dibuat masih

mungkin terjadi kekuranagan atau kekeliruan yang menyangkut aspek kemampuan spesifik yang diukur, bahasa yang digunakan, kesalahan ketik dan lain sebagainya. Untuk itu sebelum diperbanyak maka soal terlebih dahulu harus ditelaah oleh teman sejawat yang mendalami materi tes maupun teknik penulisan soal untuk meneliti validitas permukaan dari soal yang dibuat.

h) Produksi soal terbatas. Tes yang sudah diperbanyak dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sampel uji coba atau jumlah peserta yang akan mengerjakan tes tersebut dalam suatu kegiatan uji coba tes.

i) Uji coba tes. Tes yang sudah diperbanyak itu akan diuji-cobakan pada sejumlah sampel yang telah ditentukan. Sampel uji coba harus mempunyai karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakteristik peserta tes yang sesungguhnya.

j) Analisis hasil uji coba. Berdasarkan data hasil ujicoba dilakukan analisis, terutama analisis butir soal yang meliputi validitas butir, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan fungsi pengecoh. Berdasarkan validitas butir soal tersebut dilakukan seleksi soal menggunakan kriteria validitas tertentu.

k) Revisi soal. Soal-soal yang valid berdasarkan kriteria validitas empirik dikonfirmasikan dengan kisi-kisi. Apabila soal-soal tersebut sudah memenuhi syarat dan telah mewakili semua materi semua materi yang akan diujikan, soal-soal tersebut selanjutnya dirakit menjadi sebuah tes, namun jika masih ada soal-soal yang valid belum memenuhi syarat berdasarkan hasil konfirmasi dengan

kisi-kisi, dapat dilakukan perbaikan terhadap soal yang diperlukan.

l) Merakit soal menjadi tes. Urutan soal dalam suatu tes dilakukan dengan mengurutkan tingkat kesukaran soal, yaitu dari soal yang mudah sampai dengan soal yang sulit. Sedangkan menurut Widoyoko (2009: 88) menyatakan bahwa ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil belajar, di antaranya adalah :

1. Menyusun spesifikasi tes

Langkah awal dalam mengembangkan tes adalah menetapkan spesifikasi tes, yaitu yang berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu tes. Spesifikasi yang jelas akan mempermudah dalam menulis soal. Penyusunan spesifikasi tes mencangkup kegiatan: (1) menentukan tujuan tes, (2) menyusun kisi-kisi tes, (3) memilih bentuk tes, (4) menentukan panjang tes.

a) Menentukan tujuan tes

Ditinjau dari segi tujuan ada empat macam tes yang banyak digunakan di lembaga pendidikan, yaitu

1. Tes penempatan dilaksanakan pada awal pelajaran, untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dimiliki peserta didik.

2. Tes diagnostik berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, termasuk kesalahan pemahaman konsep. Tes ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran. Tes ini memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami. Tes ini berisi materi yang dirasa sulit oleh peserta didik, namun tingkat kesulitan tes ini cenderung rendah.

3. Tes formatif bertujuan untuk memperoleh masukkan tentang tingkat keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini berguna untuk memperbaiki strategi mengajar. Tes ini dilakukan secara periodik sepanjang semester.

4. Tes sumatif diberikan di akhir suatu pelajaran, atau akhir semester, untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik untuk mata pelajaran tertentu. Tingkat keberhasilan tersebut dinyatakan dengan skor atau nilai, pemberian sertifikat, dan sejenisnya. Tingkat kesukaran soal pada tes sumatif bervariasi.

b) Menyusun kisi-kisi

Kisi-kisi atau biasa juga disebut sebagai tabel spesifikasi tes merupakan tabel matrik yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi ini merupakan acuan

bagi penulis soal, sehingga menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama.

Empat langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes, yaitu: (1) menulis standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) menentukan indikator, (3) membuat daftar pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan diujikan, (4) menentukan jumlah butir soal tiap pokok bahasan dan sub pokok bahasan.

c) Memilih bentuk tes

Pemilihan bentuk tes yang tepat ditentukan oleh tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cangkupan materi, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Bentuk soal tes objektif pilihan ganda sangat tepat digunakan bila jumlah peserta banyak, waktu koreksi singkat, dan cangkupan materi yang diujikan banyak. Kelebihan tes objektif bentuk pilihan adalah lembar jawaban dapat diperiksa dengan komputer sehingga objektivitas penskoran dapat dijamin.

d) Menentukan panjang tes

Penentuan panjang tes didasarkan pada cangkupan materi ujian dan kelelahan peserta tes.

2. Menulis soal tes

Penulisan soal merupakan langkah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perincian pada kisi-kisi yang telah dibuat. Pertanyaan perlu dikembangkan dan dibuat dengan jelas dan simpel.

3. Menelaah soal tes

Menelaah soal perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembuatan soal masih ditemukan kekurangan dan kesalahan. Sering kali kelemahan dan kekurangan terjadi baik dari segi tata bahasa maupun dari substansi yang tidak terlihat oleh pembuat soal. Menelaah soal dilakukan oleh sejumlah orang yang terdiri dari para ahli yang secara bersama-sama dalam tim menelaah atau mengkoreksi soal.

4. Melakukan uji coba tes

Sebelum soal digunakan maka uji coba dilakukan untuk memperbaiki kualitas soal. Uji coba ini dilakukan sebagai sarana untuk memperbaiki data empirik tentang tingkat kebaikan soal yang telah disusun. Melalui uji coba dapat diperoleh data tentang reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektifitas pengecoh, daya beda, dan lain-lain

5. Menganalisis butir soal

Berdasarkan hasil uji coba perlu dilakukan analisis butir soal yang telah disusun. Melalui analisis butir soal dapat diketahui tingkat kesulitan butir soal, daya pembeda, dan juga efektifitas pengecoh.

6. Memperbaiki tes

Melakukan perbaikan-perbaikan tentang bagian soal yang masih kurang sesuai dengan yang diharapkan, dengan cara memperbaiki butir-butir soal yang ternyata masih belum baik. 7. Merakit tes

Setelah semua butir soal dianalisis dan diperbaiki langkah berikutnya adalah merakit butir-butir soal menjadi satu kesatuan tes. Dalam merakit soal, hal-hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti nomor urut soal, pengelompokan, bentuk soal, lay out, dan sebagainya harus diperhatikan.

8. Melaksanakan tes

Langkah berikutnya adalah dengan memberikan tes tersebut kepada peserta tes untuk diselesaikan. Pelaksanaan tes dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

9. Menafsirkan hasil tes

Hasil tes menghasilkan data kuantitatif yang berupa skor. Skor kemudian ditafsirkan sehingga menjadi nilai, yaitu nilai rendah,

menengah, atau tinggi. Tinggi rendahnya nilai ini selalu dikaitkan dengan acuan penilaian.

Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa ada sembilan langkah yang perlu dilaksanakan dalam mengembangkan tes hasil belajar, yaitu: 1) menyusun spesifikasi tes dengan menentukan tujuan tes, menyusun kisi-kisi tes, memilih bentuk tes, dan menentukan panjang tes, 2) menulis soal tes, 3) menelaah soal tes dengan dibantu sejumlah orang yang terdiri dari para ahli, 4) melakukan uji coba tes, 5) menganalisis soal tes berdasarkan tingkat kesukaran, validitas, reliabilitas, daya beda, dan efektifitas pengecoh, 6) memperbaiki tes, 7) merakit tes, 8) melaksanakan tes dengan mengujikan kepada siswa, 9) menafsirkan hasil tes.

Dokumen terkait