BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Pengendalian Biaya Produksi melalui Analisis
melalui analisis penyimpangan anggaran biaya produksi. Pengendalian yang dilakukan oleh PT Royal Standard adalah dengan membandingkan realisasi dengan anggaran yang telah ditetapkan, sehingga dapat diketahui apabila realisasi biaya yang lebih kecil dari standar maka selisihnya disebut selisih menguntungkan (favorable) dan sebaliknya apabila realisasi biayanya lebih besar dari anggaran maka disebut selisih rugi (unfavorable).
Berdasarkan data anggaran dan realisasi biaya produksi pada saat sebelum sesudah penerapan manajemen mutu ISO 9001:2000 untuk produk continuous form yaitu untuk tahun 2005 dan tahun 2007, dapat dilihat seberapa besar penyimpangan yang terjadi antara anggaran dengan realisasi biaya produksi.
Berikut adalah analisis penyimpangan biaya produksi PT Royal Standard Medan untuk produksi continuous form.
Tahun 2005
a. Jumlah Produksi
Seperti yang terlihat dalam laporan produksi, perusahaan menganggarkan jumlah produksi continous form sebanyak 140.000 kotak sedangkan realisasi yang terjadi hanya 126.199 kotak. Ini berarti terjadi penyimpangan negatif atas jumlah produksi yang dihasilkan sebesar 9,8% .
b. Anggaran Biaya Bahan Baku
Berkurangnya volume produksi juga menurunkan biaya bahan baku yaitu sebesar Rp 703.851.000,- dari yang dianggarkan sebesar Rp 7.170.000.000,- ternyata realisasi yang terjadi hanya sebesar Rp 6.436.149.000,- Ini menunjukkan penyimpangan yang menguntungkan (favourable) sebesar 10%.
c. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung juga mengalami penurunan sebesar Rp 117.308.500,- dari yang dianggarkan sebesar Rp 1.190.000.000,- sementara realisasi yang terjadi Rp 1.072.691.500,- Penurunan ini terjadi karena turunnya volume produksi, sehingga jam kerja tenaga kerja juga menjadi lebih singkat. Dengan demikian biaya tenaga kerja mengalami penurunan. Ini menunjukkan penyimpangan yang menguntungkan (favourable) sebesar 10%.
d. Anggaran Biaya Overhead
Sebagian besar biaya overhead juga mengalami penurunan. Analisis anggaran overhead pada PT Royal Standard Medan tahun 2005 terdiri dari:
53
1) Gaji tenaga kerja tidak langsung
Gaji tenaga kerja langsung yang dianggarkan sebesar Rp 744.190.000,- disini tidak terjadi penyimpangan karena gaji tenaga kerja tidak langsung merupakan biaya tetap bagi perusahaan.
2) Biaya bahan bakar
Biaya bahan bakar yang dianggarkan sebesar Rp 400.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 389.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 3% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya penurunan volume produksi.
3) Biaya Bahan Penolong
Biaya bahan penolong yang dianggarkan sebesar Rp 230.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 205.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 11% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya penurunan volume produksi.
4) Perbaikan Mesin dan Peralatan Pabrik
Biaya perbaikan mesin dan peralatan pabrik yang dianggarkan sebesar Rp 172.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 161.760.000,- Dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 6% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena ada peralatan pabrik yang dinilai masih baik dan tidak memerlukan perbaikan.
5) Biaya Utility
Biaya utility yang dianggarkan sebesar Rp 150.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 135.840.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 9% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya penurunan volume produksi.
6) Biaya Asuransi
Biaya asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk karyawan dianggarkan sama dengan realisasi yang ada yaitu sebesar Rp 270.000.000,- Biaya asuransi merupakan biaya tetap yang dikeluarkan oleh perusahaan. 7) Operasional dan perbaikan kendaraan
Biaya operasional dan biaya perbaikan kendaraan yang dianggarkan sebesar Rp 40.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 51.230.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 28% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi karena ada kerusakan berat yang terjadi terhadap kendaraan perusahaan.
8) Perbaikan dan Pemeliharaan Gedung Pabrik
Perbaikan dan pemeliharaan gedung pabrik yang dianggarkan sebesar Rp 110.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 98.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 11% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena ada
55
bagian dari gedung pabrik tersebut yang dinilai masih baik dan tidak memerlukan perbaikan.
9) THR
THR (Tunjangan Hari Raya) merupakan tunjangan yang diberikan kepada karyawan pada saat hari besar keagamaan. Pada tahun 2005 anggaran untuk THR dan realisasinya tidak mengalami penyimpangan yaitu sebesar Rp 430.000.000,-
10) Pengiriman
Biaya pengiriman yang dianggarkan sebesar Rp 250.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 211.600.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 15% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya penurunan biaya pengiriman sebanding dengan penurunan jumlah produksi.
11) Tunjangan Makan, Kesehatan, dan Transportasi
Tunjangan makan, kesehatan, dan transportasi yang dianggarkan sebesar Rp 300.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 212.534.500,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 29% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya ketidakhadiran karyawan (adanya karyawan cuti, izin, dsb) sehingga tunjangan yang dikeluarkan juga berkurang. Karena kebijakan perusahaan bahwa karyawan yang tidak hadir tidak diberikan tunjangan makanan dan transportasi.
12) Penyusutan
Biaya penyusutan dianggarkan sama dengan realisasi yang ada yaitu sebesar Rp 208.920.000,- Biaya penyusutan merupakan biaya tetap yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Tahun 2007
a. Jumlah Produksi
Seperti yang terlihat dalam laporan produksi, perusahaan menganggarkan jumlah produksi continous form sebanyak 150.000 kotak sedangkan realisasi yang terjadi hanya 156.503 kotak. Ini berarti terjadi penyimpangan atas jumlah produksi yang dihasilkan sebesar 4,3% .
b. Anggaran Biaya Bahan Baku
Bertambahnya volume produksi juga menambah biaya bahan baku yaitu sebesar Rp 390.180.000,- dari yang dianggarkan sebesar Rp 9.000.000.000,- ternyata realisasi yang terjadi sebesar Rp 9.390.180.000,- Ini menunjukkan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable) sebesar 4%.
c. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung juga mengalami peningkatan sebesar Rp 65.030.000,- dari yang dianggarkan sebesar Rp 1.500.000.000,- sementara realisasi yang terjadi Rp 1.565.030.500,- Kenaikan ini terjadi karena meningkatnya volume produksi, sehingga jam kerja tenaga kerja juga menjadi lebih panjang. Dengan demikian biaya tenaga kerja mengalami peningkatan. Ini
57
menunjukkan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable) yaitu sebesar 4%.
d. Anggaran Biaya Overhead
Demikian pula terhadap biaya overhead. Sebagian besar biaya overhead juga mengalami peningkatan. Analisis anggaran overhead pada PT Royal Standard Medan tahun 2007 terdiri dari:
1) Gaji tenaga kerja tidak langsung
Gaji tenaga kerja langsung yang dianggarkan sebesar Rp 992.250.000,- disini tidak terjadi penyimpangan karena gaji tenaga kerja tidak langsung merupakan biaya tetap bagi perusahaan.
2) Biaya bahan bakar
Biaya bahan bakar yang dianggarkan sebesar Rp 525.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 696.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 33% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi selain dikarenakan adanya peningkatan jumlah produksi, juga disebabkan adanya kenaikan harga bahan bakar hingga mencapai lebih dari 50%.
3) Biaya Bahan Penolong
Biaya bahan penolong yang dianggarkan sebesar Rp 420.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 485.860.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 16% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi karena adanya peningkatan volume produksi.
4) Perbaikan Mesin dan Peralatan Pabrik
Biaya perbaikan mesin dan peralatan pabrik yang dianggarkan sebesar Rp 216.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 223.560.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 4% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena ada peralatan pabrik yang dinilai perlu dilakukan perbaikan. 5) Biaya Utility
Biaya utility yang dianggarkan sebesar Rp 360.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 376.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 4% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi karena pemakaian listrik yang lebih besar sebanding dengan jumlah produksi yang semakin meningkat. 6) Biaya Asuransi
Biaya asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk karyawan dianggarkan sama dengan realisasi yang ada yaitu sebesar Rp 270.000.000,- Biaya asuransi merupakan biaya tetap yang dikeluarkan oleh perusahaan. 7) Operasional dan perbaikan kendaraan
Biaya operasional dan biaya perbaikan kendaraan yang dianggarkan sebesar Rp 60.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 56.000.000,- Dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 7% yang merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena tidak ada kerusakan berat yang terjadi terhadap kendaraan perusahaan.
59
8) Perbaikan dan Pemeliharaan Gedung Pabrik
Perbaikan dan pemeliharaan gedung pabrik yang dianggarkan sebesar Rp 130.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 146.500.000,- Dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 13% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi karena terdapat kerusakan pada gedung pabrik tersebut yang memerlukan perbaikan.
9) THR
THR (Tunjangan Hari Raya) merupakan tunjangan yang diberikan kepada karyawan pada saat hari besar keagamaan. Pada tahun 2007 anggaran untuk THR dan realisasinya tidak mengalami penyimpangan yaitu sebesar Rp 480.000.000,-
10) Pengiriman
Biaya pengiriman yang dianggarkan sebesar Rp 470.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 498.000.000,- dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 6% yang merupakan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavourable). Hal ini terjadi karena adanya biaya pengiriman yang tidak diperhitungkan sebelumnya sebanding dengan peningkatan jumlah produksi.
11) Tunjangan Makan, Kesehatan, dan Transportasi
Tunjangan makan, kesehatan, dan transportasi yang dianggarkan sebesar Rp 360.000.000,- sedangkan realisasi yang terjadi adalah sebesar Rp 262.000.000,- Dari data tersebut terdapat penyimpangan sebesar 27% yang
merupakan penyimpangan yang menguntungkan (favourable). Hal ini terjadi karena adanya ketidakhadiran karyawan (adanya karyawan cuti, izin, dsb) meningkat, sehingga tunjangan yang dikeluarkan juga berkurang. Karena kebijakan perusahaan bahwa karyawan yang tidak hadir tidak diberikan tunjangan makanan dan transportasi.
12) Penyusutan
Biaya penyusutan dianggarkan sama dengan realisasi yang ada yaitu sebesar Rp 208.920.000,- Biaya penyusutan merupakan biaya tetap yang dikeluarkan oleh perusahaan.