• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian internal penggajian dan pengupahan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 32-40)

Adapun yang perlu diperhatikan dalam pengendalian internal atas penggajian dan pengupahan adalah sebagai berikut:

1) Organisasi

a) Fungsi pembuatan daftar gaji dan upah harus terpisah dari fungsi pembayaran gaji dan upah.

Dalam sistem akuntansi penggajian dan pengupahan, fungsi personalia bertanggung jawab atas tersedianya berbagai informasi operasi, seperti nama karyawan, jumlah karyawan, pangkat, jumlah tanggungan keluarga, tarif upah, dan berbagai tarif kesejahteraan karyawan. Informasi operasi ini dipakai sebagai dasar untuk menghasilkan informasi akuntansi berupa gaji dan upah yang disajikan dalam daftar gaji dan upah, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar pembayaran gaji dan upah kepada karyawan. Fungsi personalia dapat dikategorikan sebagai pemegang fungsi akuntansi.

Untuk menciptakan sistem pengendalian internal, fungsi akuntansi harus dipisahkan dari fungsi penyimpanan. Fungsi keuangan merupakan fungsi penyimpanan. Hasil dari perhitungan penghasilan yang diterima karyawan didasarkan pada berbagai surat keputusan yang diterbitkan oleh fungsi kepegawaian dan dicantumkan dalam daftar gaji dan upah. Dengan dipisahkannya kedua fungsi tersebut, maka sebelum gaji dan upah dibayarkan kepada karyawan yang berhak, fungsi keuangan bertugas untuk

melakukan pemeriksaan atau pengecekan ketelitian dan keandalan dari hasil perhitungan gaji dan upah yang telah dilakukan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah.

b) Fungsi pencatatan waktu hadir harus dipisahkan dari fungsi operasi.

Waktu hadir merupakan salah satu dasar yang digunakan dalam perhitungan gaji dan upah. Dengan demikian, ketelitian dan keandalan data waktu hadir karyawan sangat menentukan ketelitian dan keandalan data gaji dan upah setiap karyawan. Untuk menjamin keandalan data waktu hadir karyawan maka pencatatan waktu hadir tidak boleh dilakukan oleh fungsi operasi (seperti fungsi teknik dan fungsi produksi).

2) Prosedur pencatatan dan sistem otorisasi

a) Setiap orang yang namanya tercantum di dalam daftar gaji dan upah diharuskan untuk memiliki surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan perusahaan yang ditandatangani oleh direktur.

Hal ini dikarenakan dalam pembayaran gaji dan upah didasarkan pada dokumen daftar gaji dan upah, sehingga perlu untuk dilakukan pengawasan terhadap nama-nama karyawan yang telah dimasukkan ke dalam daftar gaji dan upah, setiap pencantuman nama karyawan dalam daftar gaji dan upah harus mendapat otorisasi oleh pihak yang berwenang. Setiap orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah harus ditandatangani oleh

manajemen puncak (misalnya Direktur Utama). Dengan unsur sistem pengendalian ini dapat menghindari terjadinya pembayaran gaji dan upah kepada pihak yang tidak berhak.

b) Setiap perubahan atas gaji dan upah karyawan yang disebabkan oleh adanya perubahan pangkat atau jabatan, perubahan tarif gaji dan upah dan adanya tambahan keluarga maka harus didasarkan atas surat keputusan direktur keuangan. Untuk menjamin keandalan data gaji dan upah karyawan, setiap perubahan unsur yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung penghasilan karyawan harus diotorisasi oleh pihak yang berwenang.

c) Setiap potongan atas gaji dan upah karyawan selain dari pajak penghasilan karyawan harus didasarkan surat potongan gaji dan upah yang diotorisasi oleh fungsi kepegawaian. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa setiap data yang dipakai sebagai dasar penambahan gaji dan upah karyawan harus diotorisasi oleh pihak yang berwenang ( Direktur Utama dan Direktur Keuangan), hal ini dilakukan agar data gaji dan upah karyawan yang tercantum dalam daftar gaji dan upah dapat diandalkan. Di lain pihak, setiap pengurangan terhadap penghasilan karyawan juga harus mendapat otorisasi dari yang berwenang. Oleh karena itu tidak setiap fungsi dapat melakukan pemotongan atas gaji dan upah yang menjadi hak karyawan, tanpa mendapatkan otorisasi dari fungsi kepegawaian.

d) Kartu jam hadir karyawan harus ditandatangani dan diotorisasi oleh fungsi pencatatan waktu jam hadir. Karena kartu jam hadir merupakan salah satu dasar dalam menentukan penghasilan karyawan, maka data waktu hadir setiap karyawan harus ditandatangani atau diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu hadir agar dapat dikatakan benar sebagai dasar perhitungan gaji dan upah dan untuk keperluan yang lain.

e) Perintah lembur yang dilakukan oleh karyawan harus ditandatangani oleh kepala departemen karyawan yang bersangkutan. Upah lembur dibayarkan kepada karyawan yang bekerja di luar jam kerja reguler, dengan tarif upah yang lebih tinggi dari tarif upah yang reguler. Untuk menjamin bahwa pekerjaan lembur memang diperlukan oleh perusahaan, maka setiap kerja lembur harus diotorisasi oleh kepala departemen karyawan yang bersangkutan. Dengan adanya sistem otorisasi ini, perusahaan dijamin bahwa hanya akan membayarkan upah lembur bagi pekerjaan yang memang tidak dapat dikerjakan dalam jam kerja reguler.

f) Daftar gaji dan upah harus diotorisasi oleh fungsi personalia.

Daftar gaji dan upah merupakan dokumen yang digunakan sebagai dasar pembayaran gaji dan upah kepada karyawan yang berhak.

Agar dokumen tersebut terbukti kebenarannya maka daftar gaji dan upah harus ditandatangani oleh kepala fungsi personalia yang dimana dokumen tersebut akan menunjukkan bahwa:

a. Karyawan yang tercantum dalam daftar gaji dan upah merupakan karyawan yang diangkat menurut surat keputusan pejabat yang berwenang.

b. Tarif gaji dan upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan gaji dan upah merupakan tarif yang berlaku sesuai dengan surat keputusan pejabat yang berwenang.

c. Data yang digunakan untuk dasar perhitungan gaji dan upah karyawan telah diotorisasi oleh pihak yang berwenang.

d. Perkalian dan penjumlahan yang tercantum dalam daftar gaji dan upah karyawan telah dicek atau diperiksa ketelitiannya.

g) Bukti kas keluar yang digunakan untuk pembayaran gaji dan upah karyawan harus diotorisasi oleh fungsi akuntansi.

Bukti kas keluar merupakan perintah kepada fungsi keuangan untuk mengeluarkan sejumlah uang, pada tanggal, dan untuk keperluan seperti yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Kemudian dokumen bukti kas keluar ini akan diisi oleh fungsi akuntansi ( Bagian Utang) setelah fungsi ini melakukan verifikasi atas informasi yang tercantum dalam daftar gaji dan upah. Bukti kas keluar harus diotorisasi oleh kepala departemen akuntansi keuangan atau pejabat yang lebih tinggi.

h) Perubahan dalam catatan penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan daftar gaji dan upah karyawan. Kartu penghasilan karyawan diadakan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah untuk

mengumpulkan semua penghasilan yang didapatkan oleh setiap karyawan selama jangka waktu setahun. Informasi yang dicantumkan dalam kartu penghasilan karyawan ini digunakan sebagai dasar perhitungan pajak penghasilan yang menjadi kewajiban setiap karyawan. Dokumen merupakan sumber pencatatan ke dalam kartu penghasilan karyawan adalah daftar gaji dan upah. Oleh karena itu, untuk mengecek ketelitian data yang tercantum dalam kartu penghasilan karyawan, sistem pengendalian internal mewajibkan melakukan rekonsiliasi antara perubahan data yang tercantum dalam kartu penghasilan karyawan dengan daftar gaji dan upah.

i) Tarif upah yang dicantumkan dalam kartu jam kerja diverifikasi ketelitiannya oleh fungsi akuntansi biaya. Fungsi akuntansi biaya bertanggung jawab atas distribusi upah langsung ke dalam kartu harga pokok produk pesanan yang menggunakan tenaga kerja langsung yang bersangkutan. Distribusi upah langsung tersebut dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan dalam kartu jam kerja. Sebelum upah yang tercantum dalam kartu jam kerja dipakai sebagai dasar pencatatan upah langsung ke dalam kartu harga pokok produk yang bersangkutan, data tarif upah yang digunakan sebagai pengali dalam perhitungan upah harus diverifikasi oleh fungsi akuntansi biaya.

3) Praktik yang sehat

Adapun cara-cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan praktik yang sehat adalah sebagai berikut:

a) Melakukan perbandingan pada kartu jam hadir dengan kartu jam kerja sebelum kartu yang terakhir ini digunakan sebagai dasar distribusi biaya tenaga kerja langsung. Kartu jam hadir merupakan jumlah jam kerja setiap karyawan yang berada di perusahaan, sedangkan kartu jam kerja merupakan rincian penggunaan jam hadir setiap karyawan di perusahaan. Dengan kata lain kartu jam kerja digunakan untuk mempertanggungjawabkan penggunaan kartu jam hadir setiap karyawan. Kartu jam kerja ini merupakan dasar untuk melakukan distribusi biaya tenaga kerja langsung kepada pesanan tenaga kerja langsung. Untuk mengecek ketelitian data yang tercantum dalam kartu jam kerja, fungsi pembuat daftar gaji dan upah harus membandingkan data jam yang tercantum dalam kartu jam hadir dengan data jam yang tercantum dalam kartu jam kerja.

b) Pemasukan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu harus diawasi oleh fungsi pencatat waktu. Pengawasan terhadap pemasukan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu ini dilakukan untuk menjamin keandalan data jam hadir yang direkam dalam kartu jam hadir. Dengan diawasinya perekaman jam hadir karyawan oleh fungsi pencatat waktu dapat dihindari kecurang perekaman jam hadir oleh karyawan yang tidak benar-benar hadir di perusahaan.

c) Pembuat daftar gaji dan upah harus diverifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungannya oleh fungsi akuntansi keuangan sebelum dilakukan pembayaran. Sebelum membuat bukti kas keluar sebagai perintah untuk pembuatan cek pembayaran gaji dan upah, fungsi akuntansi keuangan berada di tangan Bagian Utang, di bawah Departemen Akuntansi. Fungsi akuntansi keuangan harus melakukan verifikasi atas kebenaran dan ketelitian perhitungan gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah yang telah dibuat oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah. Dengan demikian unsur sistem pengendalian internal ini dapat menjamin bukti kas keluar dibuat dengan dasar dokumen pendukung yang andal.

d) Perhitungan pajak penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan catatan penghasilan karyawan. Dalam sistem pemungutan pajak penghasilan atas gaji dan upah karyawan, perusahaan ditunjuk oleh pemerintah sebagai wajib pungut pajak penghasilan yang menjadi kewajiban karyawan atau yang dikenal dengan PPh pasal 21. PPh pasal 21 ini dihitung oleh perusahaan berdasarkan data penghasilan karyawan setahun yang dikumpulkan dalam kartu penghasilan karyawan. Ketelitian dan keandalan data pajak penghasilan karyawan yang harus dipotong dari gaji dan upah karyawan dan besarnya utang pajak penghasilan karyawan yang harus disetor oleh perusahaan ke kas Negara dapat diverifikasi dengan melakukan rekonsiliasi perhitungan pajak penghasilan setiap

karyawan dengan catatan penghasilan karyawan yang tercantum dalam kartu penghasilan karyawan yang bersangkutan.

e) Catatan penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah. Selain berfungsi sebagai catatan penghasilan yang diterima karyawan selama satu tahun, kartu penghasilan karyawan juga berfungsi sebagai tanda telah diterimanya gaji dan upah oleh karyawan yang berhak. Setelah diisi data gaji dan upah karyawan oleh fungsi pembuat daftar gaji kemudian dikirimkan ke fungsi keuangan untuk dimintakan tanda tangan karyawan yang bersangkutan sebagai tanda terima gaji dan upah. Setelah ditandatangani oleh karyawan yang bersangkutan, kartu penghasilan karyawan ini disimpan kembali oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah ke dalam arsip menurut abjad nama karyawan.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 32-40)

Dokumen terkait