C. PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG (PPBB)
4. Pengendalian Vektor
4.4. Pengendalian Vektor
Penyakit tular vektor masih menjadi masalah utama di Indonesia. Salah satu upaya preventif pengendalian penyakit tular vektor yaitu dengan melakukan pengendalian vektor. Subdit Pengendalian Vektor sebagai pengatur dan pelaksana regulasi pengendalian vektor di Dirjen PPPL, tahun 2012 mempunyai 12 orang tenaga, terdiri dari 1 orang doktor entomolog kesehatan, 4 orang magister entomolog kesehatan, 4 orang sajana kesehatan dan 3 orang pendidikan SMU sederajat. Selain ruang administrasi kantor, Subdit Pengendalian Vektor juga mempunyai ruang laboratorium entomolog kesehatan yang digunakan untuk menyimpan spesimen, membiakan nyamuk serta menganalisis bahan dan peralatan pengendalian vektor.
Selama tahun 2012, Subdit Pengendalian Vektor telah berbagai kegiatan, yang terbagi menjadi kegiatan peningkatan SDM entomolog kesehatan, pemetaan vektor dan survei entomologi.
a. Pemetaan Vektor (Mapping Vektor)
Data pemetaan vektor diperoleh dari laporan konfirmasi hasil survei vektor yang dilaksanakan oleh Tingkat Pusat dan Tingkat Provinsi serta Kabupaten/Kota dengan sumber dana dari APBN, Bantuan Luar Negeri, APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Target indikator pada rencana aksi kegiatan Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang sampai dengan tahun 2012 adalah 50%, indikator dan telah mencapai 52% atau mencapai target.
Tabel 2.C.4.1
Realisasi Pemetaan Vektor di Indonesia Tahun 2010 sd 2012
133
Grafik 2.C.4.1
Persentase Pemetaan Vektor pada Kabupaten/Kota per Provinsi Tahun 2012
Gambar 2.C.4.1
Peta Sebaran Vektor Malaria di Indonesia
134
Gambar 2.C.4.2
Peta Resistensi Ae. Aegypti di Indonesia Tahun 2004 sd 2012
Gambar 2.C.4.3
Peta Resistensi Vektor Malaria di Indonesia Tahun 2007 sd 2012
b. Survei Entomologi Kesehatan
Kegiatan survei entomologi kesehatan yang dilaksanakan pada tahun 2012 dengan sumber dana APBN kegiatan survei cepat pada situasi khusus KLB pada 4 Provinsi (Jawa Barat, Sumatera Barat, Maluku Utara, NAD, DKI Jakarta) dan kegiatan Longitudinal Survei pada 10 Provinsi dari sumber dana Bantuan Luar Negeri.
Tabel 2.C.4.2
Beberapa Kegiatan Survai Cepat, Longitudinal Survei
Kegiatan Tahun Lokasi Sumber biaya
Survai cepat pada situasi khusus (KLB)
2012 Cirebon-Jabar, Pesisir Selatan-Sumbar, Morotai-Maluku Utara, Bireun-Aceh, Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta (4 Provinsi)
APBN
Longitudinal Survai Vektor Malaria
2010-2012
Kalimantan-Sulawesi (10 Provinsi), tiap bulan sekali
GF R 8
135
Kegiatan survei cepat yang bersumber biaya APBN 2012 dilakukan di 5 (lima) lokasi/Provinsi yaitu Jawa Barat(Kota Cirebon), Sumatera Barat (Kabupaten Pesisir Selatan), Maluku Utara(Kabupaten Morotai) dan Provinsi NAD (Kabupaten Bireun).
Kegiatan survei cepat vektor tahun 2012 dilaksanakan pada situasi khusus yaitu:
1) Pada saat KLB penyakit Chikungunya di kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun Provinsi NAD
2) KLB DBD di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat 3) Persiapan sail morotai di Kabupaten Morotai Provinsi Maluku Utara 4) Terjadinya peningkatan kepadatan populasi nyamuk di Kota Cirebon 5) Dalam rangka mendukung eliminasi malaria di Kepulauan Seribu, Provinsi
DKI Jakarta.
Tujuan dari kegiatan survei cepat adalah : untuk mengetahui gambaran faktor resiko kemungkinan terjadinya penyakit tular vektor sebagai upaya pencegahan atau pengendalian vektor yang tepat di lokasi khusus.
Dari hasil kegiatan survai cepat yang telah dilaksanakan di masing-masing Provinsi dapat diketahui bahwa :
1. Kota CirebonProvinsi Jawa Barat
Dari informasi masyarakat dilaporkan bahwa kota Cirebon mengalami peningkatan kepadatan populasi nyamuk yang aktif menggigit malam hari.
Untuk itu dilakukan survei cepat di 5 kecamatan, masing-masing kecamatan 1 kelurahan dan masing-masing kelurahan 1 RW.
Lokasi yang disurvei adalah :
- Kecamatan Pekalipan, kelurahan jakasatru, RW 04, 1 kasus - Kecamatan Harja Muhti, kelurahan Larangan, RW 01, 23 kasus - Kecamatan Kesambi, kelurahan Karya mulia, RW 17, 13 kasus - Kecamatan Kejaksan, kelurahan Sukapura, RW 04, 1 kasus - Kecamatan Wungkuk, kelurahan pengambiran, RW 14, 1 kasus
Dari hasil survei cepat (entomologi) yang dilakukan di 5 kecamatan dan 6 kelurahan di kota cirebon didapatkan bahwa tempat perkembangbiakan potensial Ae aegypti yang ditemukan adalah bak mandi, ember, drum, bak WC dan tempayan dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) rata-rata 94 %.
Sebagian besar jentik Ae. aegypti dominan ditemukan di bak mandi.
Selain itu ditemukan pula tempat perkembangbiakan potensial nyamuk culex di Parit/anak sungai yang ada di 5 kecamatan dan 6 kelurahan tersebut dengan kepadatan tinggi yaitu 40 ekor/cidukan. Kondisi lingkungan di parit tersebut banyak sampah sehingga air tidak mengalir.
Hal itu yang menyebabkan terjadinya peningkatan kepadatan nyamuk Culex sp. Dari hasil penangkapan nyamuk pada malam hari ditemukan nyamuk Culex sp. dengan jumlah yang cukup tinggi 10 ekor/menit.
136
Kegiatan pengendalian vektor antara lain larvasidasi sudah dilaksanakan dengan menggunakan insektisida vectobac WG dengan pelarut air lalu disemprotkan ke tempat saluran-saluran air yang terdapat jentik Culex sp.Disamping itu melakukan pembersihan sampah di saluran air secara gotong royong.Kegiatan Fogging tidak perlu dilakukan di lokasi karena dari hasil pengamatan vektor dan kasus DBD di 5 (lima) wilayah kecamatan cukup rendah sehinggakurang efektif terhadap nyamuk Culex sp. Fogging hanya efektif kurang lebih 30-60 menit. Nyamuk Culex sp. aktif menggigit pada malam hari.
2. Kabupaten Pesisir Selatan- Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan survei cepat vektor dilaksanakan di Desa Nagari Pasir Ganting Kecamatan Pancung soal wilayah kerja Puskesmas Indrapura, kabupaten pesisir selatan, Provinsi Sumatera Barat dalam rangka investigasi KLB.
Tujuankegiatan survei cepat vektor adalah untuk memastikan terjadinya KLB dan penyakit yang menyebabkan KLB,mengidentifikasi wilayah penyebaran kasus dan;mempelajari faktor risiko terjadinya KLB dan identifikasi vektor di daerah KLB.
Dari hasil survei cepat vektor diketahui KLB DBD di Desa Pasir Ganting terjadi karena ditemukan vektor dan agen penular penyakit di daerah tersebut yaitu ditemukannya jentik Aedes sp. (Ae.aegypti dan Ae.albopictus) dengan nilai ABJ (Angka Bebas Jentik) yang rendah (ABJ PE69,6%) dan (ABJ Survei93,02%). Disamping itu Kabupaten Pesisir Selatan merupakan daerah endemis DBD, sehingga dengan mobilitas penduduk resiko penularan dan penyebaran kasus sangat memungkinkan.
Sampai dengan bulan April 2012, Desa Pasir Ganting tidak dilaporkan adanya kasus malaria, meskipun sebagai daerah endemis malaria.Hal ini bisa disebabkan karena tidak ditemukan jentik Anopheles sp. pada saat dilakukan survei pada breeding places yang berupa lagoon dan kobakan yang disebabkan kondisi breeding places telah mengalami perubahan, sehingga tidak menjamin survival dari jentik Anopheles sp, oleh karena itu sebaiknya perlu dilakukan Human Landing Collection (HLC) untuk mengetahui kepadatan nyamuk dewasa Anopheles sp.Di lokasi juga masih ditemukan penderita baru suspek DBD di Pasir Ganting maka periode KLB Demam Berdarah Dengue belum berakhir sehingga masih perlu dilakukan upaya monitoring.
Upaya pengendalian telah dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan melalui penyuluhan/sosialisasi, larvasidasi dan fogging, namun perlu upaya yang lebih cepat dalam deteksi dini kasus dan upaya preventif lainnya.
Diagnosa kasus DBD di Puskesmas berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik sehingga perlu ditunjang dengan pemeriksaan penunjang lain (laboratorium).
3. Kabupaten Morotai – Provinsi Maluku Utara.
Kegiatan survei cepat di kabupaten morotai dilakukan dalam rangka persiapan sail morotai yang dilakukan untuk mengetahui faktor resiko
137
terjadinya penyakit tular vektor di Kabupaten Morotai dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor.Lokasi kegiatan Sail Morotai direncanakan dilakukan di Desa Daruba, Bere-bere, Sofi, Pulau Dodola dan pulau Sumsum. Dari hasil survei jentik nyamuk ditemukan tempat perkembangbiakan potensial positif jentik Aedessp. berupa tempurung kelapa, perahu nelayan, ember, drum, bak mandi. Selain itu ditemukan pula tempat perkembangbiakan jentik positif Anopheles sp.
dirawa, sekitar permukiman penduduk dan bandara, parit, kubangan bekas hewan dan bekas kendaran serta parit(galian) yang belum selesai dikerjakan.Dari survei nyamuk malam hari di pulau Dodala dan pulau Sumsum ditemukan nyamuk Culex sp dan Aedes sp dan agas. Di lokasi (wilayah) dilakukan pula survei lalat yang banyak ditemukan atau berpusat di pasar disebabkan pengelolaan sampahnya kurang baik.
4. Kabupaten Bireun- Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Menurut Dinkes Kabupaten Bireun, NAD, Di Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireun, Provinsi NAD terjadi peningkatan kasus tersangka Chikungunya, di tahun 2010 ditemukan 33 suspect chikungunya, pada bulan Desember 2011 ditemukan22 suspect chikungunya, dan pada tanggal 24 Januari 2012 ditemukan 58 suspect chikungunya. Total suspectChikungunya dari tanggal 27 Desember 2011 sampai dengan 24 Januari 2012 sebanyak 80 orang suspect.Berdasarkan laporan KLB (W1) di Kecamatan Gandapura telah terjadi KLB Cikungunya di 5 desa yaitu Desa Cot Jabet, Lingka Kuta, Lapang Timu, Alumangki, Teupin Siron.
Dari hasil kegiatan survei cepat vektor cikungunya diketahui bahwa wilayah kerja Puskesmas Gandapura, Kabupaten Bireun, Provinsi NAD ditemukan beberapa jenis tempat perkembangbiakan positif jentik Aedes sp. berupa bak mandi, ember, vas bunga, dispenser, drum, ban bekas, tempurung kelapa, botol bekas.Sebagian besar ditemukan di ban bekas.
Dari 830 container yang diperiksa, 87 container positif jentik Aedes (CI 10,5%), Dari 163 rumah yang diperiksa, 46 rumah positif jentik (HI 28,2%), dan Angka Bebas jentik (ABJ: 71,8%). Meningkatnya kasus Chikungunya di kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun- NAD kemungkinan karena kurangnya penyuluhan kepada masyarakat, serta peran serta masyarakat dalam pemantauan jentik berkala dan PSN, kurangnya SDM di puskesmas dalam pengendalian vektor.Dari hasil survai cepat vektor dapat disimpulkan bahwa dalam intervensi nyamuk tempat-tempat perkembangbiakan potensial nyamuk Aedes sp yang sulit dikuras atau yang terbengkalai supaya diberikan larvasida. Dalam fogging /pengasapan nyamuk dewasa perlu diperhatikan dosis, waktu, cuaca dan tenaga.
5. Kabupaten Kepulauan Seribu- Provinsi DKI Jakarta.
Survei cepat (rapid survei) monitoring eliminasi malaria di kepulauan seribu, Provinsi DKI Jakarta, dilakukan di Pulau Pramuka, Pulau Untung Jawa.Dari hasil survei cepat didapatkan bahwa dalam metodologi mapping vector perlu mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut,
138
larva tiap cidukan, salinitas, pH dan suhu. Sehingga parameter-parameter tersebut saling melengkapi.
Dari survei vektor di Pulau Pari ditemukan Larva Anopheles sundaicus denganbreeding places berupa empang, salinitas 25‰. Larva Ae.aegyptiditemukan pada sumur yang berada diluar rumah, Larva Culex spp. ditemukan di empang dengan salinitas 5-30‰.
Di lokasi kegiatan perlu dilakukan uji kerentanan vektor malaria (monitoring insektisida), karena data ini yang belum dimiliki oleh Dinkes Provinsi DKI Jakarta dan Dinkes Kabupaten Pulau Seribu.
Dalam upaya pengendalian vektor malaria perlu peningkatan kerjasama lintas sektoral , perlu SDM dibidang entomologi/pengendalian vektor malaria.
Tabel 2.C.4.3
Hasil Uji Kerentanan Vektor Malaria dan Demam Berdarah Dengue
c. Monitoring dan Evaluasi Kerentanan Vektor
Monitoring dan evaluasi kerentanan vektor dilakukan untuk mengetahui ketahanan nyamuk terhadap insektisida yang telah digunakan. Monitoring dan evaluasi kerentanan dilakukan terhadap vektor DBD dan vektor malaria.
Hasil evaluasi kerentanan terhadap vektor DBD (Aedes aegypti) menunjukan bahwa di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur telah resisten terhadap insektisida malathion 0,8% dan cypermethrin 0,025 %, serta toleran di Jambi, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara Monitoring evaluasi pemetaan kerentanan vektor DBD dilakukan di 8 lokasi Provinsi: 1) Sumatera Utara (Kabupaten Langkat), 2)Jawa Barat (Kabupaten Cirebon), 3) Jawa Tengah (Kabupaten Demak), 4) Jawa Timur (Kabupaten Bangkalan), 5) Jambi (Kabupaten Batang Hari), 6) Kalimantan Barat (Kabupaten Ketapang), 7) Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan), 8) Sulawesi Utara (Kabupaten Bitung).
Latar belakang pemilihan lokasi dengan kriteria : - Lokasi tersebut merupakan daerah endemis DBD
- Pernah dilakukan penyemprotan ( Indoor Residual Spraying) vektor DBD dengan menggunakan insektisida yang telah digunakan di lokasi.
- Belum pernah dilakukan uji kerentanan vektor DBD.
No Kegiatan Tahun Lokasi Sumber biaya
1. Uji kerentanan
vektor malaria 2010-2012 Kalimantan-Sulawesi (10
provinsi) GF R 8
2012 (Mei) Belu-NTT APBN
2012 (Agustus) Paser-Kaltim APBN
2012 (September) Sorong-Papua Barat APBN 2. Uji kerentanan
vektor DBD 2012 (Bulan Mei ) Langkat-Sumut APBN
(Bulan Juni) DKI Jakarta APBD-DKI Jakarta (Pelaksana BBTKL-Jakarta)
139
Tujuan monitoring evaluasi pemetaan kerentanan vektor DBD untuk mengetahui gambaran keberadaan vektor DBD dan faktor resiko serta permasalahan lainnya, status kerentanan dan sejarah penggunaan insektisida terhadap vektor DBD yang digunakan di lokasi survei.
Hasil kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pemetaan Kerentanan Vektor DBD di 8 (delapan) Provinsi dapat dilihat pada lampiran 6.
Hasil evaluasi kerentanan terhadap vektor malaria menunjukan bahwa An.
subpictus di Nusa Tenggara Timur masih rentan terhadap insektisida bendiocarb 0,1 % dan lamda sihalotrin 0,05 %, An.punctulatusdi Papua Barat masih rentan terhadap bendiocarb 0,1%, di Bengkulu An. kochi rentan terhadap bendiocarb 0,1 % dan lamdasihalotrin 0,05%, di Kalimantan Tengah An.
tesselatustoleran terhadap lamdasihalotrin 0,05 % d. Monitoring dan Evaluasi Efikasi Insektisida
Monitoring dan evaluasi efikasi insektisida bertujuan untuk mengetahui kemampuan insektisida dalam membunuh vektor. Monitoring dan evaluasi efikasi dilakukan terhadap kelambu insektisida pengendali vektor malaria.
Hasil uji efikasi terhadap kelambu insektisida (olyset) di Kalimantan Timur masih efektif membunuh An. sundaicus dan tidak efektif membunuh An. vagus, di Gorontalo masih efektif membunuh An.vagus, di Kalimantan Barat tidak efektif terhadap An. peditaeniatus, di Sulawesi Utara tidak efektif terhadap An.
parangensis, di Sulawesi Selatan tidak efektif terhadap An. vagus, di Kalimantan Selatan efektif terhadap An.tesselatusdan di Sulawesi Barat efektif terhadap An.
Subpictus pada lampiran 8.
Pelatihan yang diselenggaran oleh pusat adalah :
1. Pelatihan TOT Jabatan Fungsional Entomologi Kesehatan ini dilakukan oleh Subdit Pengendalian Vektor dan dilaksanakan di Bekasi dan Bogor, sebanyak 30 orang peserta selama 6 hari.
2. Pelatihan di Jakarta oleh Subdit Karkes, pelatihan ini ada 3 kelas dan masing-masing kelas 30 orang.
3. Pelatihan oleh Subdit Malaria, pelatihan ini dilaksanakan di Jakarta dan Sukabumi dengan peserta sebanyak 20 orang per angkatan dan ada sebanyak 2 angkatan.
4. Pelatihan Jabfung Entokes di BBPK Ciloto, pelatihan ini diselenggarakan oleh BBPK Ciloto sebanyak 2 angkatan dan masing-masing angkatan dengan 30 peserta, angkatan pertama untuk Jabatan Fungsional Entomologi Kesehatan Terampil dan angkatan kedua untuk Jabatan Fungsional Entomologi Kesehatan Ahli
5. Pelatihan Pengendalian Vektor Malaria, pelatihan ini diselenggarakan oleh BBPK Ciloto dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang
140
6. Pelatihan Pengendalian Vektor dan Pemantauan Air Bersih, Pelatihan ini diselenggarakan oleh pertamina bekerjasama dengan P2B2 dalam hal ini Subdit Pengendalian Vektor dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.
Sumber dana yang dipakai dalam pelatihan ini dari Pertamina.
Gambar 2.C.4.4
Pelatihan Pengendalian Vektor di Bapelkes Cikarang Bekasi
Gambar 2.C.4.5
Pelatihan Pengendalian Vektor di Situ Burung Bogor
141
Tabel 2.C.4.4
Beberapa Kegiatan Fasilitasi/Sosialisasi/Narasumber di Subdit Pengendalian Vektor
No Kegiatan Tahun Output Sumber biaya
Pelatihan yang diselenggarakan oleh daerah:
1. Pelatihan Pengendalian Vektor di Pelabuhan, yang diselenggaraka oleh KKP Kementerian Kesehatan Tanjung Balai Karimun dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.
2. Pelatihan Pengendalian Vektor di Pelabuhan yang diselenggarakan oleh BTKL Kementerian Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan di Makasar dengan peserta sebanyak 30 orang.
3. Pelatihan Pengendalian Vektor di Pelabuhan yang diselenggarakan oleh KKP Kementerian Kesehatan Provinsi Bangka Belitung di Pangkal Pinang dengan jumlah peserta sebanyak 25 orang.
4. Pelatihan Pengendalian Vektor di Pelabuhan yang diselenggarakan oleh di KKP Lhokseumawe dengan jumlah peserta sebanyak 28 orang .
5. Pelatihan Pengendalian Vektor di Pelabuhan yang diselenggarakan oleh KKP Kementerian Kesehatan Kabupaten Tarakan dengan peserta sebanyak 9 orang, sebagai Nara Sumber dari Subdit Pengendalian Vektor dan Subdit Pengendalian Arbovirosis.
Tabel 2.C.4.5
Beberapa Jenis Pelatihan (Jabatan Fungsional, TOT Entokes, Pelatihan Teknis Pengendalian Vektor)
No. Kegiatan Tahun Frekwensi Jumlah peserta
Sumber biaya 1. Pelatihan Jabfung Entokes
di BBPK Ciloto 2012 2 kali
142
Grafik 2.C.4.2
Pelatihan Entomologi Kesehatan
yang diselenggarakan di Pusat dan di Daerah Tahun 2012
5.
5.
5.5. Pengendalian Penyakit Zoonosis