• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. PENGENDALIAN PENYALIT MENULAR LANGSUNG

1. Tuberkulosis

1.

1.1. Tuberkulosis

a. Angka prevalensi, insidensi dan mortalitas Tabel 2.B.1.1

Estimasi Insidensi, Prevalensi dan Mortalitas TB Tahun 1990, 2011 dan 2012

Kasus TB Tahun 1990 Tahun 2011 2012

Insiden Tuberkulosis 343 189 N.A

Prevalensi Tuberkulosis 423 214 213

Mortalitas 51 27 N.A

Sumber : Global Tuberculosis Control WHO Report 2011

Tabel 2.B.1.1 di atas memperlihatkan estimasi prevalensi, insidens, dan mortalitas TB yang dinyatakan dalam 100.000 penduduk tahun 1990 dan 2011 berdasarkan hasil perhitungan WHO dalam WHO Report 2011 Global Tuberculosis Control.Sedangkan prevalensi TB 2012, menggunakan perhitungan Pemodelan Matematika untuk Estimasi Epidemi TB di Indonesia, sedangkan insidens dan mortalitas TB belum dapat dikeluarkan menunggu hasil perhitungan WHO.

Angka insidens semua tipe TB tahun 2011 dan 2012 sebesar 189 per 100.000 penduduk mengalami penurunan dibanding tahun 1990 (343 per 100.000 penduduk), angka prevalensi berhasil diturunkan hampir setengahnya pada tahun 2011 (214 per 100.000 penduduk) dan 213 per 100.000 penduduk pada tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 1990 (423 per 100.000 penduduk). Sama halnya dengan angka Mortalitas yang berhasil diturunkan lebih dari separuhnya pada tahun 2012 (27 per 100.000 penduduk) dibandingkan tahun 1990 (51 per 100.000 penduduk).Hal tersebut membuktikan bahwa Program pengendalian TB berhasil menurunkan insidens, prevalensi dan mortalitas akibat penyakit TB.

b. Angka penjaringan suspek (suspect evaluation rate)

Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya di antara 100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam satu tahun. Angka penjaringan suspek ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu (triwulan/tahunan).

57 Grafik 2.B.1.1

Angka Penjaringan Suspek Tahun 2005 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.1, angka penjaringan suspek secara umum menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, meskipun pada tahun 2009 terjadi penurunan.

Pada tahun 2009 angka penjaringan suspek menurun sebesar 7 per 100.000 penduduk dibandingkan dengan tahun 2008. Peningkatan penjaringan suspek kembali terjadi pada tahun 2010 dan 2011 angka ini terjadi peningkatan sebesar 57 per 100.000 penduduk (2010) dan 63 per 100.000 penduduk (2011), untuk tahun 2012 terjadi penurunan sebesar 1 per 100.000 penduduk yang diakibatkan masih ada provinsi yang belum mengirimkan data secara lengkap dan diharapkan pada akhir Maret 2013 akan meningkat.Peningkatan penjaringan suspek terjadi karenameningkatnya jumlah rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain yang terlibat DOTS berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kasus yang ternotiifikasi termasuk juga jumlah suspek.

Berdasarkan grafik 2.B.1.2 dibawah ini, angka penjaringan suspek per provinsi pada tahun 2012 menunjukkan capaian 430 sampai dengan 2.277 per 100.000 penduduk, tertinggi Sulawesi Utara dan terendah Riau. Provinsi yang mempunyai kontribusi peningkatan penjaringan suspekyang signifikan di tahun 2012 adalah Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, NTT, NTT, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, NAD, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Maluku Utara dan Papua.

58 Grafik 2.B.1.2

Angka Penjaringan Suspek per Provinsi Tahun 2011 sd 2012

c. Proporsi pasien baru BTA positif diantara suspek yang diperiksa (positivity rate)

Adalah presentase pasien baru BTA positif yang ditemukan di antara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.

Angka proporsi pasien baru TB paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa ini sekitar 5 sd 15%. Angka ini bila terlalu kecil (<5%) kemungkinan disebabkan antara lain karena penjaringan suspek terlalu longgar, banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek, atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Sedangkan bila angka ini terlalu besar (>15%) kemungkinan disebabkan antara lain karena penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).

Berdasarkan grafik 1.3, proporsi pasien baru BTA positif di antara suspek yang diperiksa dahak tahun 2007 sd 2011 masih dalam range target yang diharapkan yaitu (5-15%). Pada tahun 2007 sd 2011, proporsi pasien baru BTA positif diantara suspek yang terendah tahun 2012 (10%) sedangkan yangtertinggi tahun 2007 (12%).

59 Grafik 2.B.1.3

Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di Antara

Suspek yang Diperiksa (Positivity Rate) Tahun 2005 sd 2012

Grafik 2.B.1.4

Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di Antara Suspek yang Diperiksa (Positivity Rate) per Provinsi

Tahun 2011 sd 2012

Meskipun proporsi nasional pasien baru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya mencapai hasil yang diharapkan berkisar yaitu 5 sd 15%, namun beberapa provinsi memiliki angka yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagaimana terlihat pada grafik 2.B.1.4, provinsi yang angkanya melebihi angka proporsi 15% di tahun 2012 dan 2011 adalah Maluku Utara. Hal ini menunjukan bahwa penjaringan kasus di provinsi tersebut terlalu ketat atau

60 ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu). Hasil pemeriksaan laboratorium dapat dilihat dari hasil pemantapan mutu eksternal (error rate).

d. Proporsi pasien baru BTA positif di antara semua kasus

Adalah presentase pasien baru BTA positif diantara semua pasien TB paru tercatat. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien TB yang menular diantara seluruh pasien TB paru yang diobati. Angka ini diharapkan tidak lebih rendah dari 65%. Karena akan menunjukan mutu diagnosis yang rendah, dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif).

Grafik 2.B.1.5

Proporsi BTA positif di antara seluruh kasus tahun 2005 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.5 diatas, proporsi pasien baru BTA positif di antara seluruh kasus dari tahun 2007 sd 2012, yang terendah pada tahun 2009 (57%) sedangkan tertinggi pada tahun 2007 dan 2011 (62%). Sejak tahun 2007 sampai dengan 2012, angka ini masih berada di bawah target yang diharapkan meskipun tidak terlalu jauh berada di bawah target. Hal ini mengindikasikan bahwa kurang memberikan prioritas menemukan kasus BTA positif.

61 Grafik 2.B.1.6

Proporsi pasien TB paru BTA positif di antara seluruh kasus Tahun 2011 sd 2012

Grafik 2.B.1.6 diatas menggambarkan capaian proporsi pasien baru TB paru BTA positif diantara seluruh kasus dari tahun 2010 sd 2012, pada tahun 2012 capaian yang tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Tenggara (94%) dan terendah Provinsi DKI Jakarta (33%). Provinsi yang memiliki pencapaian di bawah target (<65%) adalah Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Banten, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, D.I. Yogyakarta, Papua, dan Papua Barat.

e. Angka notifikasi kasus atau case notification rate (CNR)

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Angka ini berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.

62 Grafik 2.B.1.7

Angka Notifikasi Kasus BTA Positif dan Seluruh Kasus per 100.000 Penduduk

Tahun 2005 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.7, angka notifikasi kasus baru TB paru BTA positif dan semua kasus dari tahun 2007 sd 2012 mengalami peningkatan. Angka notifikasi kasus baruBTA positif dan semua kasus tertinggi pada tahun 2011 dan terendah pada tahun 2007 (untuk kasus baru BTA positif), tahun 2012 tercatat masih 135 per 100.000 penduduk diharapkan akan menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Grafik 2.B.1.8

Angka Notifikasi Kasus (case notification) Kasus Baru TB Paru BTA Positif

Tahun 2011 sd 2012

63 Berdasarkan grafik 2.B.1.8, angka notifikasi atau case notification (CNR) kasus baru BTA positif per provinsi tahun 2012 secara nasional terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun2011. Berdasarkan angka capaian tahun 2012, bervariasi antara 34 per 100.00 penduduk dan 251 per 100.000 penduduk.

Provinsi dengan angka capaian tertinggi adalah Sulawesi Utara sedangkan yang terendah D.I.Yogyakarta. Beberapa provinsi ada yang mengalami penurunan yaitu D.I. Yogyakarta, Sumatera Selatan, Papua Barat, NAD, Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Utara.

Grafik 2.B.1.9

Angka Notifikasi Kasus (case notification) Seluruh Kasus Tahun 2011 sd 2012

Grafik 2.B.1.9 memperlihatkan, angka notifikasi semua kasus secara nasional pada tahun 2011 (133 per 100.000 penduduk) meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 (129 per 100.000 penduduk) sedangkan pada tingkat provinsi beberapa provinsi mengalami penurunan yaitu Provinsi Maluku, Jawa Barat, Riau, Papua Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah.Berdasarkan angka capaian tahun 2012, bervariasi antara 74 per 100.000 penduduk ( D.I. Yogyakarta) dan 303 per 100.000 penduduk (Papua)

f. Proporsi kasus TB anak di antara seluruh kasus

Adalah persentase pasien TB anak (0-14 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 8-12% pada angka maksimal 15%. Bila angka ini terlalu besar dari 15%, kemungkinan terjadi overdiagnosis.

Pada tahun 2007, pencatatan dan pelaporan program TB belum mempunyai format yang memuat variabel anak secara rinci sehingga kasus TB anak pada tahun tersebut tidak terlaporkan.

64 Berdasarkan grafik 2.B.1.10, proporsi TB Anak diantara semua kasus dari tahun 2008 sd 2012 berada dalam batas normal, namun apabila dilihat pada tingkat provinsi (grafik 2.B.1.10), menunjukkan proporsi yang sangat bervariasi dari 1,6%

sampai 15%.

Grafik 2.B.1.10

Proporsi Kasus TB Anak di Antara Seluruh Kasus Tahun 2011 sd 2012

Grafik 2.B.1.10 diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2012 terdapat variasi proporsi TB anak dibanding semua kasus yang diobati baik pada tahun 2011 maupun tahun 2012. Perbedaan proporsi TB anak antara tahun 2011 dengan 2012 tidak begitu berbeda jauh kecuali beberapa provinsi seperti Banten, Kepri, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan. Provinsi-provinsi tersebut menujukan penurunan proporsi kasus TB anak.Pada tahun 2012, provinsi dengan proporsi lebih dari 15% adalah Papua.Hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan over-diagnosis. Provinsi dengan proporsi <5% adalah Sulawesi Tenggara, Aceh, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Kepri, Kalimantan Barat, NTB dan Jawa Timur. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya diagnosis dan under-reporting terutama kasus TB anak yang diterapi di rumah sakit.

g. Angka penemuan kasus atau case detection rate (CDR)

Adalah presentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibandingkan dengan jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh berdasarkan perhitungan angka insidens kasus TB paru BTA positif dikalikan dengan jumlah penduduk. Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasionaldalam RPJMN tahun 2012 adalah minimal 80%.

Target sekitar 15%

65 Grafik 2.B.1.11

Angka Penemuan Kasus atau case detection rate (CDR) Tahun 2005 sd 2012

Grafik 2.B.1.11, menggambarkan angka penemuan kasus TB tahun 2007-2012meningkat secara signifikan dengan pencapaian sebesar 83,48% pada tahun 2011 sedangkan untuk tahun 2012 capaian penemuan kasus TB paru BTA positif masih lebih rendah dibandingkan tahun 2011 (82,4%) namun angka tersebut sudah memenuhi target RPJMN (80%).

h. Angka konversi atau convertion rate

Angka konversi adalah presentase pasien baru BTA positif yang mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif.

Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat hasil pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar.

Angka ini dihitung dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA positif yang mulai berobat dalam 3 sd 6 bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif, setelah pengobatan intensif (2 bulan). Angka minimal yang harus dicapai adalah 80%.

67,7%

75,7%

69,8% 72,8% 73,1%

78,3%

83,5% 82,4%

0%

20%

40%

60%

80%

100%

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Target RPJMN : minimal 80%

66 Grafik 2.B.1.12

Angka Konversi atau Convertion Rate di Indonesia Tahun 2005 sd 2012

Grafik 2.B.1.12 menunjukan bahwa angka konversi tahun 2007 sd 2012 memperlihatkan angka konversi yang tidak jauh berbeda, terjadi penurunan tetapi angka ini masih di atas target yang diharapkan (80%).

Grafik 2.B.1.13

Angka Konversi atau Convertion Rate per Provinsi di Indonesia Tahun 2011 sd 2012

Target: minimal 80%

67 Berdasarkan grafik 2.B.1.13, angka konversi per provinsi tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 2011 terlihat tidak berbeda jauh, beberapa provinsi terlihat mengalami peningkatan dan sebagian lain mengalami penurunan yang cukup besar yaitu Provinsi Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Bengkulu, Babel, Jambi, Lampung, Kepri, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyakarta, NTT, NTB, Bali, Maluku, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Kalimantan Barat.

i. Angka kesembuhan atau cure rate dan angka keberhasilan pengobatan atau success rate

Angka kesembuhan (CR) adalah angka yang menunjukkan presentase pasien baru TB paru BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien baru BTA positif yang tercatat. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui hasil pengobatan.

Walaupun angka kesembuhan telah mencapai 85%, hasil pengobatan lainnya tetap perlu diperhatikan, yaitu berapa pasien dengan hasil pengobatan lengkap, meninggal, gagal, default, dan pindah.

• Angka default tidak boleh lebih dari 5%, karena akan menghasilkan proporsi pasien pengobatan ulang yang tinggi di masa yang akan datang yang disebabkan karena penanggulangan TB yang tidak efektif.

• Peningkatan kualitas penanggulangan TB akan menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang antara 10 sd 20 % dalam beberapa tahun.

Sedangkan angka pengobatan gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh

≥ 2% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat, dan tidak boleh ≥ 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat.

Angka keberhasilan pengobatan (SR) menunjukkan presentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap)diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat.

Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Angka ini berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Angka ini dapat dihitung dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA positif yang mulaiberobat dalam 9 sd 12 bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh setelah selesai pengobatan.Oleh karena itu, pasien yang mendapatkan pengobatan di tahun 2011 baru dapat dilaporkan di tahun 2012. Data yang disajikan masih belum lengkap karena belum semua provinsi melaporkan data hasil akhir pengobatan secara tepat waktu.

68 Grafik 2.B.1.14

Angka Keberhasilan Pengobatan (success rate /SR) Tahun 2005 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.14, angka keberhasilan pengobatan mencapai lebih dari 85%, bahkan sejak tahun 2007 angka ini mencapai >90%.

Target RPJMN untuk angka keberhasilan pengobatan di tahun 2012 adalah sebesar 87%.Jika dibandingkan antara pencapaian dengan target maka pada tahun 2012 angka keberhasilan pengobatan tercapai. Meskipun angka keberhasilan pengobatan dapat dikatakan cukup baik tetapi angka kesembuhan dari tahun 2007 sd 2012 masih berada di bawah target yang diharapkan (>85%).

Grafik 2.B.1.15

Angka Kesembuhan atau Cure Rate Tahun 2010 sd 2012

Targetprogram : minimal 85%

Target RPJMN: minimal 86%

Target RPJMN: SR minimal 87%

69 Berdasarkan grafik 2.B.1.15, provinsi dengan angka kesembuhan < 85% di tahun 2012 sebanyak 17 provinsi dan 16 provinsi berhasil mencapai minimal 85% yaitu Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Tengah, Banten, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Jawa Barat, NTTdan Sulawesi Utara. Provinsi dengan angka kesembuhan di tahun 2012 tertinggi adalah Kalimantan Barat (93,3%) dan terendah adalah Papua Barat (49,6%).

Grafik 2.B.1.16

Angka Keberhasilan Pengobatan (success rate/SR) per Provinsi di Indonesia

Tahun 2011 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.16, menunjukan angka keberhasilan pengobatan per provinsi tahun 2011 sd 2012 terdapat beberapa provinsi dengan angka keberhasilan pengobatan yang lebih rendah di tahun 2012 jika dibandingkan dengan tahun 2011. Provinsi yang menunjukan penurunan angka keberhasilan pengobatan yang cukup signifikan adalah Provinsi Banten, Lampung, Kalsel, DKI Jakarta, Sulteng, Sulbar, Babel, NTB dan Bali.. Provinsi dengan angka keberhasilan pengobatan di tahun 2012 tertinggi adalah Gorontalo (96,6%) dan terendah adalah Papua Barat (71%).

j. Angka kesalahan laboratorium

Angka kesalahan laboratorium yang menyatakan presentase kesalahan pembacaan slide/ sediaan yang dilakukan oleh laboratorium pemeriksa pertama setelah di uji silang (cross check) oleh BLK atau laboratorium rujukan lain.

Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung oleh laboratorium pemeriksa pertama. Untuk 8 provinsi (Bali, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Selatan) sudah melakukan untuk penerapan uji silang pemeriksaan dahak (cross

Target RPJMN: SR minimal 87%

70 check) dengan metode Lot Sampling Quality ssessment (LQAS). Untuk masa yang akan datang akan diterapkan metode LQAS di seluruh UPK.

Waktu penghitungan angka ini berdasarkan sediaan dahak yang dikirim laboratorium pemeriksa pertama dan BLK yang melakukan uji silang sekitar 3-6 bulan sebelumnya.

Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung oleh laboratorium pemeriksa pertama. Beberapa provinsi (Bali, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jawa Barat, Lampung,Sumatra Selatan, Riau dan Kalimantan Selatan saat ini sudah menggunakan uji silang dengan metode Lot Sampling Quality Assessment (LQAS) sedangkan provinsi yang lain masih menggunakan metode konvensional yaitu memerisa ulang 100% sediaan positif dan 10% sediaan negative.

Grafik 2.B.1.17 menunjukkan presentase kabupaten/ kota yang melaksanakan uji silang tahun 2010 sd 2011. Data tahun 2011 diperoleh sampai dengan triwulan 3 tahun 2011.

Grafik 2.B.1.17

Persentase Kabupaten/Kota yang Melaksanakan Uji Silang Tahun 2009 sd 2011

Sedangkan presentase fasyankes melaksanakan Uji Silang dan fasyankes dengan kualitas baik pada tahun 2010 sd 2011 dapat dilihat di bawah ini :

71 Grafik 2.B.1.18

Presentase Fasyankes melaksanakan Uji Silang dan Fasyankes dengan Kualitas Baik

Tahun 2010 sd 2011

Dari grafik 2.B.1.18 menunjukkan masih banyak fasyankes yang belum melaksanakan uji silang. Presentase fasyankes dengan kualitas baik dari fasyankes yang melaksanakan uji silang menunjukkan angka yang stabil. Fasyankes dengan kualitas baik pada daerah yang melaksanakan uji silang secara konvensional merupakan fasyankes dengan Error Rate ≤ 5%, sedangkan pada LQAS merupakan fasyankes tanpa KB (Kesalahan Besar) dan atau KK (Kesalahan Kecil) ≤ 3.

Grafik 2.B.1.19

Hasil Uji Silang Tahun 2012

Berdasarkan grafik Hasil Uji Silang Tahun 2012, sampai dengan Triwulan 3 menunjukkan masih banyak fasyankes yang belum melaksanakan uji silang hanya

43,0 39,6 40,7

32,4

48,9

41,9

30,3

75,3 74,7

70,7 70,9 68,9

75,5 76,5

0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0

Tw 1 2010 Tw 2 2010 Tw 3 2010 Tw 4 2010 Tw 1 2011 Tw 2 2011 Tw3 2011

% Fasyankes melaks Uji silang %Fasyankes kualitas baik diantara Fasyankes melaks Uji Silang

72 18% sedangkan persentase fasyankes dengan kualitas baik dari fasyankes yang melaksanakan uji silang menunjukkan kenaikan per triwulan pada 2012.

Fasyankes dengan kualitas baik pada daerah yang melaksanakan uji silang secara konvensional merupakan fasyankes dengan Error Rate ≤ 5%, sedangkan pada LQAS merupakan fasyankes tanpa KB (Kesalahan Besar) dan atau KK (Kesalahan Kecil) ≤ 3.

k. Kontribusi fasilitas pelayanan kesehatan lain dalam penemuan dan pengobatan kasus

Grafik 2.B.1.20

Penemuan Kasus TB di Beberapa Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Tahun 2008 sd 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.20, trend penemuan kasus dan penggobatan di setiap tipe fasilitas pelayanan kesehatan dari tahun 2008-2012 berbeda-beda.

Puskesmas masih menjadi fasyankes yang paling besar kontribusinya dalam menemukan dan mengobati kasus. Sebelum tahun 2008 data kasus yang dilaporkan dari puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya digabung. Namun saat ini semakin banyak provinsi yang telah memisahkan data kasus dari beberapa tipe fasilitas pelayanan kesehatan.

Dari pemisahan tersebut terlihat bahwa kontribusi penemuan kasus TB di rumah sakit terlihat semakin meningkat. Selain jumlah kasus dari rumah sakit jumlah rumah sakit yang telah melaksanakan DOTS.

Penemuan dan pengobatan kasus oleh Balai Besar Pengobatan Paru Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) dari tahun 2008-2012 tampak mengalami penurunan.

Selain puskesmas, rumah sakit, dan BP, klinikdi tempat kerja (workplace), dokter praktek swasta (DPS), dan klinik di lapas/rutan mulai terlihat kontribusinya. Dari tipe fasilitas pelayanan kesehatan yang terlibat DOTS, Puskesmas memberikan kontribusi terbanyak dalam menemukan dan mengobati kasus.

73 Grafik 2.B.1.21

Hasil Akhir Pengobatan di Beberapa Tipe Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2012

Berdasarkan grafik 2.B.1.20 dan 2.B.1.21, proporsi hasil akhir pengobatan dari masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan dari tahun 2009 sd 2012 terlihat tidak terlalu berbeda. Angka pengobatan dan keberhasilan pengobatan tertinggi dan memenuhi target (>85%) adalah di puskesmas. selain itu hasil akhir pengobatan di Rumah sakit, BP4, workplacedan DPS juga terlihat cukup menggembirakan. Yang masih harus menjadi perhatian saat ini adalah proporsi pasien yang pindah di lapas terlihat cukup besar (20-40%) hal ini menunjukan pemantauan setelah penggobatan di klinik lapas belum berjalan dengan baik.

l. Hasil kegiatan kolaborasi TB HIV

Dari tabel 2.B.1.2 di bawah terlihat bahwa dari tahun 2009 sampai dengan 2012 terjadi peningkatan jumlah kasus TB baik yang dites HIV, TB dengan HIV positif, dan TB HIV yang mendapatkan ARV. Hal ini menunjukan kegiatan kolaborasi TB HIV yang semakin baik atau semakin banyak jumlah provinsi yang mengirimkan laporan. Proporsi TB dengan HIV positif tahun 2008-2012 terlihat mengalami penurunan.Hal ini disebabkan karena jumlah kasus TB yang ada dari tahun ke tahun meningkat.Meskipun demikian, jika dilihat jumlah absolute maka jumlah pasien TB dengan HIV positif mengalami peningkatan.

74 Tabel 2.B.1.2

Hasil Kegiatan Kolaborasi TB HIV dari Unit TB Tahun 2009 sd 2012 terjadi peningkatan jumlah kasus TB baik yang dites HIV, TB dengan HIV positif, dan TB HIV yang mendapatkan ARV. Hal ini menunjukan kegiatan kolaborasi TB HIV yang semakin baik atau semakin banyak jumlah provinsi yang mengirimkan laporan.

Proporsi TB dengan HIV positif tahun 2008-2012 terlihat mengalami penurunan.Hal ini disebabkan karena jumlah kasus TB yang ada dari tahun ke tahun meningkat.Meskipun demikian, jika dilihat jumlah absolute maka jumlah pasien TB dengan HIV positif mengalami peningkatan.

m. Hasil kegiatan PMDT (Programmatic Management of Drug Resistant TB) Berdasarkan WHO global report 2012, Indonesia berada diperingkat 9 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak di dunia dengan perkiraan pasien TB MDR di Indonesia sebesar 6620, yaitu 1,9% (1,4 sd 2,5%) TB MDR diantara TB kasus baru (5700 kasus) dan 12% (8,1 sd 17%) TB MDR diantara kasus TB yang pernah mendapatkan pengobatan (920 kasus).

Kondisi yang ada saat ini banyak rumah sakit, B/BKPM, klinik swasta, praktisi swasta melakukan pengobatan terhadap pasien yang “diduga” TB MDR dengan menggunakan paduan yang tidak standar yaitu yang dijual bebas di pasaran.

Hasil DRS di Jawa Tengah yang dilaksanakan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 1,8% TB MDR ditemukan diantara TB kasusbaru dan 17,1% TB MDR ditemukan pada kasus TB yang pernah mendapatkan pengobatan sedangkan hasil DRS di Jawa Timur yang dilaksanakan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa 2%

TB MDR ditemukan diantara TB kasus baru dan 9,7% TB MDR ditemukan pada kasus TB yang pernah mendapatkan pengobatan.

Sampai dengantahun 2012 telah ada 9 RS Rujukan untuk pelayanan TB MDR di 8 Provinsi yaitu RS Persahabatan, RS dr. Soetomo, RS. dr. Syaiful Anwar, RS. dr.

Sampai dengantahun 2012 telah ada 9 RS Rujukan untuk pelayanan TB MDR di 8 Provinsi yaitu RS Persahabatan, RS dr. Soetomo, RS. dr. Syaiful Anwar, RS. dr.