• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORITIS

A. Akhlakul Karimah

1. Pengertian Akhlakul Karimah

Akhlakul karimah terdiri dari dua kata yaitu, akhlak dan karimah. Secara etimologi, akhlak berasal dari bahasa Arab, dari kata khuluq (khuluqun), yang berarti budi pekerti, tingk ah laku, dan perangai.15 Dalam kamus bahasa Indonesia juga kata “akhlak” diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat.16

M. Syatori dalam bukunya Ilmu Akhlak mengartikan akhlak sebagai, kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik, jalan yang sesuai menuju Allah, dan pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan.17

Secara terminologi atau istilah, akhlak adalah ilmu yang menetukan batas antara yang baik dan yang buruk tentang perbuatan manusia baik lahir maupun batin. Untuk memahami akhlak lebih komprehensip, berikut dikemukakan beberapa definisi oleh para tokoh dan ulama, sebagai berikut:

15 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer; Edisi Lengkap, (Surabaya: Gitamedia Press, 2006), h. 18.

16 WJS, Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), h. 25.

17 M. Syatroni, Ilmu Akhlak, (Bandung: Lisan, 1987), h. 1.

16

a. Dr. Ahmad Amin, akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya.18

b. Imam al-Gazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.19

c. Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.20

d. Hamzah Ya’kub, akhlak adalah: (1) Ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. (2) Ilmu pengetahuan yang memberikan tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.21

e. Muhyiddin Ibnu Arabi (1165-1240M), akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut seseorang boleh jadi merupakan

18 Ahmad Amin, Kitab Akhlak, (Kairo, Dar al-Kutub al- Mishiriyah, tt), h. 13.

19 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h. 3.

20 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, h. 4.

21 Hamzah Ya’kub, Etika Islam; Pembinaan Akhlakul Karimah, (Bandung: Diponegoro, 1996), h. 12.

i

tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan-latihan dan perjuangan.22

f. Ibnu Maskawaih (941-1030 M), akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat asalnya, adapula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus-menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.

g. Al-Faidh Al-Kasyani, akhlak adalah ungkapan untuk menunjukkan kondisi yang mandiri dalam jiwa, darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran.23

Karimah dalam bahasa Arab artinya terpuji, baik, atau mulia. Imam al-Qurtubi berkata:

“Akhlak adalah sifat-sifat yang dimiliki seseorang sehingga ia dapat berhubungan dengan oranglain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela.

Secara global makna akhlak yang terpuji adalah engkau berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berhubungan dengan sesama, dimana engkau bersikap adil dengan sikap-sikap terpuji dan tidak lain karenanya. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan penderitaan, berkasih sayang, menutupi jahat-jahat orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu.”24

22M. Syatroni, Ilmu Akhlak, h. 1.

23 H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), h. 3-4.

24 Ahmad Mu’adz Haqqiy, Berhias dengan 40 Akhlakul Karimah, (Malang: Cahaya Tauhid Press, 2003), h. 20.

Dari beberapa definisi di atas, menjadi jelas bahwa akhlak sesungguhnya berasal dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, ia telah menjadi kebiasaan, sehingga ketika akan melakukan perbuatan tersebut, seseorang tidak perlu lagi memikirkannya. Bahkan seolah perbuatan tersebut telah menjadi gerak refleks.

Adapun jenis-jenis akhlakul karimah yaitu:

a. Akhlak Terhadap Allah

Berakhlak mulia terhadap Allah adalah berserah diri hanya kepada-Nya, bersabar, ridha terhadap hukum-Nya baik dalam masalah syariat maupun takdir, dan tidak berkeluh kesah terhadap hukum syariat dan takdir-Nya.25 Diantara yang termasuk akhlak kepada Allah swt adalah bertakwa kepada Allah, ikhlas, tawakal, syukur, mencintai dan mematuhi Allah swt.

b. Akhlak Terhadap Rasulullah

Rasulullah saw adalah sebagai uswatun hasanah yang bisa diteladani oleh seluruh umat. Beliau telah mendapat kepercayaan Allah swt sehingga diberi gelar Al-Amin. Demikian lahirnya budi pekerti beliau sehingga berhak mendapat peng ‘iktirafan Allah hingga disebutkan dalam al-Qur’an bahwa beliau berakhlak mulia, yang terukir dalam surat Al-Qalam ayat 4.26 Akhlak terhadap Rasulullah saw diantara lain, mengucapkan shalawat dan salam, mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya,

25 Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), h. 65.

26 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2007), h. 89.

i

menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan berkehidupan, dan menjalankan apa yang diperintahkan dan tidak melakukan apa yang dilarangnya.27

c. Akhlak Terhadap diri Sendiri

Akhlak terhadap diri sendiri yaitu, shiddiq (jujur), memelihara amanah, bersifat sabar, tawadhu (merendahkan hati terhadap sesama), bersifat pemaaf, ta’awun (saling menolong), hormat kepada teman dan sahabat.

d. Akhlak Terhadap Orangtua

Birul Walidin atau berbakti kepada orangtua merupakan amal shaleh yang paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim, juga merupakan faktor utama diterimanya do’a seseorang.28 Beberapa hal yang perlu dilakukan terhadap orangtua meliputi, selalu taat kepada kedua orangtua selama tidak bermaksiat kepada Allah swt, berbicara dengan kedua orangtua dengan penuh sopan santun, dan usahakan selalu meminta izin ketika berpergian dan mencium tangannya.29

e. Akhlak Terhadap Guru

Akhlak antara guru dan murid sangat penting apalagi ketika masih dalam proses pendidikan berlangsung. Menghormati guru adalah sikap terima kasih dan perbuatan ini telah pula dilakukan oleh ulama terdahulu kepada guru-guru mereka adalah patut dicontoh. Salah satu contoh adalah Imam Syafi’I

27 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h. 89-90.

28 H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, h. 221-223.

29 Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, h. 139-140.

bagaimana model penghormatannya terhadap guru dan bagaimana sopannya Imam Syafi’I terhadap gurunya, beliau berkata: “saya tidak dapat membolak-balik lembaran kitab dengan suara keras dihadapan guru saya, supaya guru saya jangan sampai terganggu. Sayapun tidak bisa meminum air dihadapan guru saya, sebagai rasa hormat dan takzim kepadanya.”30

Sebagai contoh, akhlak seorang muslim yang terpuji setiap akan tidur. Ia selalu menggosok gigi, berwudhu, dan berdo’a. Rutinitas tersebut dilakukan secara terus-menerus, hingga menjadi kebiasaan. Hal ini seolah menjadi perbauatan yang bersifat refleks, dan tidak perlu lagi berpikir panjang untuk melakukannya. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa itulah akhlak orang muslim tersebut setiap kali akan tidur.

Istilah akhlak sebenarnya merupakan istilah yang netral, yaitu mencakup pengertian perilaku baik dan buruk seseorang. Jika perbuatan yang dilakukan seseorang itu baik, disebut dengan istilah al-akhlaq al-karimah (akhlak yang mulia). Namun jika perbuatan yang muncul dari seseorang itu buruk, disebut dengan al-akhlaq al-madzmumah (akhlak tercela).

Ketika akhlak dipahami sebagai suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu perbuatan baru bisa disebut akhlak jika memenuhi beberapa syarat berikut. Pertama, perbuatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Artinya, jika suatu perbuatan hanya dilakukan sesekali, tidak dapat disebut akhlak. Kedua, perbuatan tersebut muncul dengan mudah, tanpa dipikirkan

30Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, h. 187-188.

i

terlebih dahulu, sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Artinya, jika perbuatan tersebut timbul karena terpaksa, sebab beberapa pertimbangan atau berbagai motif yang lain, tidak bisa dikatakan akhlak.

Akhlak tidak dapat terlepas dari kehendak dan adat (kebiasaan), yang merupakan faktor penentu dari akhlak. Dari kedua faktor tersebut, kehendak menjadi faktor utama yang menjadi motor penggerak, sehingga timbul sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan manusia.

Kehendak mempunyai dua macam perbuatan, pada saat tertentu ia menjadi pendorong, namun pada saat yang lain ia menjadi penolak. Misalnya, terkadang kehendak mendorong kekuatan manusia untuk membaca, menulis, atau berpidato. Namun, pada saat yang lain mencegah kekuatan manusia, misalnya melarang berkata atau berbuat sesuatu.31

Meskipun seringkali akhlak dengan etika atau moral dianggap sama, sesungguhnya kata akhlak lebih luas cakupannya disbanding etika atau moral, yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku seseorang, secaralahiriah dan batiniah.

Perumusan pengertian akhlak menjadi media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan

31 Ahmad Amin, Al-Akhlak, terj. K. H. Farid Ma’ruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h.

61.

makhluq.32 Istilah dipetik dari kalimat yang tercantum dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw:

ٍﻢﻴِﻈَﻋ ٍﻖُﻠُﺧ ٰﻰَﻠَﻌَﻟ َﻚﱠﻧِﺇ َﻭ Artinya:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS.

Al-Qalam (68):4)

Demikian juga hadis Nabi saw., Artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” (HR. Ahmad).

2. Dasar Akhlakul Karimah

Apabila diperhatikan dalam kehidupan umat manusia, maka akan dijumpai tingkah laku manusia yang beraneka ragam. Bahkan dalam penilaian tentang tingkah laku itu sendiri yang bergantung pada batasan pengertian baik dan buruk dalam suatu masyarakat atau lebih dikenal dengan sebutan norma. Sehingga normalah yang menjadi sumber hukum akhlak seseorang. Namun yang dimaksud dengan sumber akhlak disini, yaitu berdasarkan pada norma-norma yang datangnya dari Allah swt dan Rasul-Nya dalam bentuk ayat-ayat al-Qur’an serta pelaksanaannya dilakukan oleh Rasulullah. Sumber itu adalah hukum ajaran Islam.

32H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, h. 2.

i

Dalam Islam, dasar atau pengukur yang menyatakan akhlak baik dan buruknya sifat seseorang itu adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Apa yang menurut al-Qur’an dan Sunnah Nabi baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya apa yang buruk menurut al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw itulah yang tidak baik dan harus dijauhi.33

Secara subtantif, nilai-nilai akhlak Rasulullah saw bersifat abadi dan sekaligus fleksibel (bisa diterapkan disemua masa), sebab itu nilai-nilai akhlak yang dibangun dan diabadikan ialah menyangkut nilai-nilai dasar yang universal terutama sifat shiddiq (benar), amanat (terpercaya), tabliqh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas). Keempat akhlak inilah yang dijadikan pembinaan akhlak Islam pada umumnya karena menjunjung tinggi kebenaran.34

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dasar hukum dari akhlakul karimah diambil dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw karena kandungan akhlakul karimah yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim sudah terdapat didalam ajaran al-Qur’an al-karim dan sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

3. Tujuan Akhlak

Tujuan akhlak adalah agar setiap muslim dapat berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai baik sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut dapat dilihat bahwa, semua ibadah sebagaimana disebutkan arkanul Islam, mulai dari syahadat,

33 Roshidin Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 208.

34 M. Amin Suma, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h. 103.

shalat lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan zakat dan menunaikan haji, semua ibadah-ibadah tersebut apabila dilakukan secara benar sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah, maka terbentuklah kepribadian muslim yang berakhlakul karimah baik lahir maupun batin.

Adapun definisi akhlak dalam pandangan penulis, adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa seseorang yang kemudian lahir perbuatan-perbuatan secara spontan tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian.

Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang terpuji menurut pandangan akal dan syariat Islam, ia adalah akhlak yang baik. Namun, jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang buruk dan tercela, ia adalah akhlak yang buruk.

Akhlak dapat pula terbentuk karena kebiasaan atau melalui latihan-latihan yang dilakukan secara kontinu dan dengan ada niat agar kebiasaan atau sesuatu yang dilakukan melalui latihan-latihan itu pada akhirnya menjadi suatu karakter yang permanen yang sama sekali tidak mengandung unsur pujian dan pertimbangan pemikiran. Dengan demikian akhlak pada awalnya dapat pula di bentuk melalui kebiasaan dan pelatihan. Contoh, membiasakan diri dan melatih bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, maka pada akhirnya akan menjadi karakter akhlak terpuji yang permanen, sehingga setiap tengah malam akan terbangun secara spontan.