i Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Agama Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Pada Fakultas Ushuluddin
Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar Oleh:
Andi Irwanto 30100116024
FAKULTAS USHULUDDIN FILSAFAT DAN POLITIK UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin segala puji hanya milik Allah swt skripsi ini dapat terselesaikan walaupun dalam bentuk yang sederhana. Pernyataan rasa syukur kepada sang khalik atas hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Implementasi Akhlakul Karimah Di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Kab. Kep. Selayar”
Penulis panjatkan shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita umat manusia Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan yang merupakan sumber inspirasi dan motivasi dari berbagai aspek kehidupan setiap insan termasuk penulis amin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak ak Kan terselesaikan tanpa adanya bantuan bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, tulisan ini tidak dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Melalui tulisan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan teristimewa kepada Kedua orang tua tercinta Ibunda Ami Daeng dan Ayahanda Patta Raja Abu, yang senantiasa mencurahkan cinta dan kasih sayangnya serta keikhlasannya dalam membesarkan, mendidik dan membiayai penulis serta doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis.
Penulis memanjatkan doa semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada mereka. Aamiin.
Selain itu tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada
1. Prof. Drs. Hamdan Juhannis M.A, Ph.D, selaku Rektor UIN Alauddin Makassar beserta Wakil Rektor I, II III, dan IV.
2. Dr. Muhsin, S.Ag., M.Th.I, Dekan beserta Wakil Dekan I, II, dan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar beserta
3. Dr. Muhaemin, M Th.I. M. Ed selaku Ketua Prodi dan Muh. Abdi Goncing, S.Fil. I.
M. Phil selaku Sekretaris Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.
4. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag, selaku Dosen Pembimbing I dan Dr. H. Andi Aderus, Lc, MA selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahan, pengetahuan baru dan koreksi dalam penyusunan skripsi ini, serta membimbing penulis sampai tahap penyelesaian.
5. Para dosen, karyawan dan karyawati Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang secara konkrit memberikan bantuannya baik langsung maupun tak langsung.
6. Bapak/Ibu TU Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran, serta dengan sabar melayani saya mengurus administrasi akademik.
7. Ustad, Santri dan Santriwati Pesantern Babussalam Kab. Kep. Selayar yang telah bersedia memberikan informasi kepada penulis untuk melengkapi penelitian.
8. Terkhusus kepada Sepupu saya A. Rahmayani Samfirna, S.Hum yang sangat banyak membantu dalam penyusunan Skripsi saya. Saudara perempuan saya Irna Yanti, S.Pdi yang telah membantu dalam proses penelitian saya.
9. Kepada keluarga besar saya yang telah mendukung dan memberikan motivasi sehingga saya bisa menyelesaikan penelitian dengan baik.
10. Teman-teman yang senantiasa memberikan semangat dan bantuan kepada saya.
Tiada sesuatu yang bisa penulis berikan kecuali apa yang kita lakukan selama ini bernilai ibadah disisi Allah swt, serta semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua orang khususnya bagi penulis sendiri. Amin.
Samata, 16 Agustus 2021 Peneliti
Andi Irwanto 30100116024
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ...i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...ii
PENGESAHAN SKRIPSI ...iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ...vii
DAFTAR LAMPIRAN ...viii
ABSTRAK ...x
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ...8
C. Rumusan Masalah ...9
D. Kajian Pustaka ...10
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...14
BAB II TINJAUAN TEORITIS ...16
A. Akhlakul Karimah... 16
B. Bentuk Pembinaan Akhlak...26
BAB III METODE PENELITIAN ...35
A. Jenis dan Lokasi Penelitian ...35
B. Pendekatan Penelitian ...35
C. Sumber Data ...36
D. Metode Pengumpulan Data ...37
E. Instrumen Penelitian ...38
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ...39
BAB IV HASIL PENELITIAN ...40
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...40
B. Bentuk Implementasi Akhlak di Pesantren Al-Qr’an Babussalam Al- Mukhtariyah Selayar...50
C. Cara Implementasi Akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al- Mukhtariyah Selayar...54
D. Hasil Implementasi Akhlak tehadap Santri di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Selayar ...63
BAB V PENUTUP ...68
A. Kesimpulan ...68
B. Implikasi Penelitian...69
DAFTAR PUSTAKA ...71
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...74
RIWAYAT HIDUP ...83
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar Data Informan...74 2. Instrumen Pedoman Wawancara...75 3. Foto Dokumentasi Wawancara...78
ABSTRAK
Nama : Andi Irwanto
Nim : 30100116024
Judul : Implementasi Akhlakul Karimah di Pesantren Al- Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Kab. Kep. Selayar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi akhlakul karimah di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Selayar. Masalah yang diteliti dalam tulisan ini difokuskan pada beberapa hal yaitu: 1) Bagaimana bentuk implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah? 2) Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengimplementasikan akhlakul karimah di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah? 3) Bagaimana hasil yang dicapai dalam implementasi akhlak terhadap santri di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah?
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan akhlak dan pendekatan fenomenologi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi partisipatif atau observasi terlibat, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pengolahan analisis data dilakukan dengan empat tahap yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Bentuk implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Selayar dilakukan dengan memberikan berbagai macam metode seperti melalui pembiasaan, disiplin, keteladanan, dakwah, kemandirian, hidup sederhana, dan dakwah. (2) Cara-cara yang dilakukan dalam implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al- Mukhtariyah Selayar, yaitu dengan memberikan model pendidikan karakter sehingga membentuk kepribadian santri, kemudian melahirkan akhlakul karimah yang baik. Selain itu juga memberikan pengajaran melalui metode pembiasaan, seperti pembiasaan shalat tahajjud berjamaah pada malam tertentu, pembiasaan mengaji setelah shalat subuh berjamaah, pembiasaan membaca do’a dan menghafal Al-Qur’an, pembiasaan melaksanakan shalat dhuha, pembiasaan kegiatan muballigh hijrah dan kegiatan ekstrakurikuler. (3) Hasli implementasi akhlak terhadap santri berdasarkan hasil wawancara terhadap santri dan orangtua santri yakni, 1) perubahan akhlak terhadap Allah Swt, santri merasakan perubahan dalam segi ibadah. 2) perubahan akhlak terhadap orangtua, guru, dan sesama santri yang membuat mereka menjadi anak yang sopan dan santun terhadap orangtua dan guru.
Serta saling menghormati terhadap sesama santri. 3) perubahan akhlak terhadap lingkungan, mereka menyadari bahwa perilaku kecil terhadap lingkungan sangat berpengaruh terhadap diri mereka sendiri.
1 A. Latar Belakang Masalah
Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu Allah, Al-Qur’an dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad saw.1 Dalam persoalan akhlak tersebut sudah menjadi kewajiban utama dalam kehidupan manusia. Masalah akhlak dalam Islam mendapatkan perhatian yang sangat besar sebab akhlak yang menjadi cerminan terhadap nilai seseorang untuk masa depan.
Berdasarkan bahasa, akhlak berarti sifat atau tabi’at. Dalam Bahasa Indonesia istilah akhlak berarti meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang.2 Itulah kemudian yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari manusia sehingga melahirkan sifat-sifat dan perbuatan baik dan buruk.
Perbuatan baik dan buruk tersebut terlihat pada diri seseorang sesuai dengan tingkah laku mereka. Tindakan yang dilakukan baik berupa tingkah laku maupun perkataan seseorang itu dapat dinilai dari segi aspek implementasi nilai- nilai aqidah Islam. Semua gerak-gerik yang dilakukan oleh manusia dapat bernilai baik atau buruk di hadapan Allah kelak. Sebab apa yang dilakukan oleh manusia itu tidak lepas dari pantauan Allah swt sehingga sebagian besar yang berkaitan dengan akhlak tercantum dalam al-Qur’an maupun hadis. Hal ini dijelaskan dalam
1Abdul Kholik, Akhlak Mahmudah dan Mazmumah, (Artikel), h. 1.
2Rosihon Anwar, Aqidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 205.
al-Qur’an mengenai tingkah laku manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam QS.
al-Qalam: 68/4:
َﻚﱠﻧِﺍ ٍﻖُﻠُﺧ ﻰٰﻠَﻌَﻟ َﻮٍﻤۡﻴِﻈَﻋ
Terjemahnya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.3
Demikian pula dalam hadis Nabi saw disebutkan bahwa:
“aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia”.4 Kemudian ditegaskan lagi dalam hadis Nabi bahwa baginda Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dengan kata lain bahwa Rasulullah saw menjadi suritauladan (contoh/panutan) bagi umat manusia.
Ajaran wahyu yang berisi pedoman dan kerangka acuan bagi terciptanya perikehidupan yang aman, selamat, sejahtera dan berkualitas. Gambaran mengenai kondisi yang demikian itu terangkum dalam makna “Islam”. Kehidupan Islami mengindikasikan suatu tata kehidupan yang harmonis antar makhluk berdasarkan ridha khaliq, sebagai pengejawantahan dan realisasi dari konsep akhlaq al- karimah. Adapun upaya yang paling efektif untuk membentuk nilai-nilai akhlaq al-karimah tersebut adalah melalui pendidikan baik pendidikan yang besifat formal maupun nonformal. Dari sudut pandang individu, pendidikan diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi fitra manusia sebagai makhluk
3 Kementrian Agama Republik Indonesi, Mushaf AT-Tauhid (Al-Qur’an Terjemahan &
Tajwid Warna), (Jakarta: Cahaya Press, 2017).
4HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Murfad no. 207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu dishahikan oleh Syaikh al- Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 45).
i
ciptaan Allah. Sedangkan dari sudut pandang sosial, pendidikan diartikan sebaagai upaya pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut dapat dilestarikan. Mengacu kepada kondisi actual pendidikan Islam maka pokok permasalahan yang menjadi penting untuk dikaji adalah bagaimana pendidikan Islam yang ideal yang didasarkan pada implementasi akhlaq al-karimah dengan mengacu kepada misi utama Rasulullah saw. Dengan demikian setelah melalui pendidikan akhlaq al-karimah, maka yang penting adalah bagaimana kemudian manusia mampu mengimplementasikan ilmu akhlak tersebut dan itulah merupakan tujuan akhir (ultimate goal) dari pendidikan Islam.5
Pesantren merupakan salah satu sarana pendidikan yang fokus pengajarannya tidak hanya untuk mencerdaskan santri dari segi intelektual, tetapi juga pendidikan secara spiritual menggunakan pembinaan akhlaqul karimah pada santri. Hal ini dapat dilihat dari kurikulum atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Seperti dalam kegiatan pengajian biasanya kiai duduk di tempat yang sedikit lebih tinggi dari para santri. Kiai tersebut duduk di atas kursi yang dilandasi bantal dan para santri duduk mengelilinginya. Dari sini terlihat bahwa para santri diharapkan bersikap hormat dan sopan ketika mendengarkan uraian- uraian yang disampaikan kiainya.6
Tujuan pesantren adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam bersifat menyeluruh. Selain itu pesantren ini diharapkan mampu memberikan produk yang memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan
5Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h.7
6 Nurcholish madjid, Bilik-Bilik Pesantren, (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 30.
response terhadap tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu yang ada (Indonesia dan dunia abad sekarang).7
Menurut H.M. Arifin, tujuan umum pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmunya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.8
Berdasarkan tujuan pada pesantren, sangat mendukung adanya pembinaan dan implementasi akhlak dan nilai-nilai moral sebagai wujud akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh yang terletak pada diri Nabi Muhammad saw yang patut kita contoh dalam membentuk akhlaqul al-karimah. Dengan demikian, maka sistem pendidikan Islam harus mengacu kepada apa yang di contoh oleh Nabi Muhammad saw yang bukan hanya mengetahui tapi beliau mengaplikasikan dan mengajarkan nilai-nilai moral tersebut.9
Seperti yang terdapat dalam QS. al-Ahzab/33: 21:
ô‰s)©9 tβ%x.
öΝä3s9 ÉΑθß™u‘’Îû îοuθó™é&«!$#
×πuΖ|¡ym
yϑÏj9 tβ%x.
(#θã_ötƒ
©!$#
tΠöθu‹ø9$#uρ tÅzFψ$#
tx.sŒuρ
#ZÏVx.©!$#
∩⊄⊇∪
Terjemahnya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
7 Nurcholish madjid, Bilik-Bilik Pesantren, h. 17-18.
8 H.M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 148.
9Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h.5
i
Terkait dengan penjelasan ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw yang menjadi contoh dalam semua tingkah laku kita baik perbuatan maupun perkataan dan yang lainnya. Begitu juga yang dijelaskan oleh Quraish Syihab dalam kitabnya Tafsir Al-Mishbah menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam surah al- Ahzab ayat 21 mengatakan bahwa meliputi beberapa pernyataan yaitu; pertama, siddiq merupakan sebuah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan yang ada pada diri Rasul. Kedua, Amanah adalah sebuah kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan kompoten, kerja keras, dan konsisten, dengan penuh komitmen. Ketiga, Fhatanah adalah sebuah kecerdasan, kemahiran atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Dan keempat tabligh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Dari keempat nilai pendidikan tersebut dapat berperan penting dalam pembentukan pendidikan karakter dalam lembaga- lembaga pendidikan Islam. Baik secara formal maupun nonformal, pendidikan karakter harus diajarkan pada setiap generasi yang akan menyongsong kemajuan anak bangsa. Terutama para santri/santriwati yang ada pada pondok pesantren Babussalam Al-Mukhtaria Kepulauan Selayar tersebut.
Bahkan dalam al-Qur’an pun dikatakan bahwa Rasulullah saw adalah sosok pribadi pemilik akhlak yang agung (wainnaka la’ala bulq aal-adbim).
Beliau menegaskan bahwa tugas utama yang diamanatkan kepada dirinya, adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia (Innama bu’itstu liutammima makarima
al-akhlaq). Membentuk suatu kehidupan masyarakat manusia yang warganya terdiri dari individu yang berakhlak mulia. Berangkat dari kedua pernyataan itu, maka filsafat pendidikan Islam memandang pembinaan akhlak merupakaan faktor penting dalam pendidikan. Keutamaan akhlak dinilai sebagai sasaran puncak dalam pendidikan Islam.10
Sebagaimana yang diketahui bahwa generasi pada zaman sekarang banyak yang rusak akhlak maupun moralnya. Dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya baik pengaruh dari lingkungan yang kurang sehat maupun pengaruh sosmed yang selalu di tonton di berbagai media seperti televisi, laptop, handphone, internet dan lainnya. Semua ini akan membawa dampak positif atau negatif terhadap generasi muda. Tapi semua itu dikembalikan kepada individu masing-masing, bagaimana mereka menanggapi hal tersebut. Ketika ia menanggapi hal tersebut dengan mengambil segi baiknya saja maka akan membawa akhlak yang lebih baik, tapi ketika ia terpengaruh dengan hal yang buruk maka ia akan terbawa kepada akhlak yang lebih buruk pula. Oleh karena itu, sebagai pendidik harus ikut andil dan berkonstribusi dalam memberi pendidikan kepada anak bangsa terutama pendidikan moral pada generasi pondok pesantren Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar. Serta bagaimana para pendidik dan yang di didik mampu mengimplementasikan pembelajaran akhlak yang telah diperoleh tersebut. Bukan hanya sekedar mengetahui ilmunya akan tetapi yang lebih penting adalah merealisasikan nilai-nilai akhlak tersebut. Sebab tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia yang berakhlak, bermoral,
10Jalaluddin, Teologi Pendidikan ,h.87-88
i
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena tujuan utama pendidikan dan pengajaran agama Islam adalah menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dapat dikatakan manusia yang sempurna dan berkepribadian Muslim sejati.11
Maka dari itu perlu adanya pembelajaran atau pembentukan serta pengimplementasian nilai-nilai akhlak, moral pada generasi pondok pesantren Babussalam al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar. Oleh karena itu, penulis mengambil judul, “Implentasi Akhlakul Karimah di Pesantren Babussalam Al-Mukhtaria Kabupaten Kepulauan Selayar”.
Kemudian penulis melihat dari motto pendidikan di Pesantren Babussalam al-Muchtariyah Selayar yaitu, “Intelektualisme, Spriritualisme, dan Akhlakul Karimah” Aklakul karimah menjadi salah satu tujuan pesantren tersebut sehingga penulis tertarik untuk meneliti secara langsung bagaimana penerapan akhlakul karimah di Pesantren Babussalam al-Muchtariyah Selayar. Selain itu, pondok Pesantren Babussalam al-Muchtariyah Selayar belum terpublikasikan dengan baik sehingga penelitian ini dilakukan untuk kemudian diharapkan dapat membantu memperkenalkan Pesantren Babussalam al-Muchtariyah Selayar.
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus 1. Fokus Penelitian
11Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001), h.77.
Penelitian yang dilakukan ini memfokuskan pada penelitian Implementasi Akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab.
Kep. Selayar yang dalam hal ini dideskripsikan pengertian judul ini yang menjadi kata-kata kunci dalam penelitian ini.
2. Deskripsi Fokus
Berdasarkan pada fokus penelitian di atas, dapat dideskripsikan berdasarkan substansi permasalahan dan subtansi pendekatan penelitian ini, yaitu implemetasi Akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab.Kep. Selayar. Maka penulis dapat memberikan deskripsi fokus sebagai berikut:
No Fokus Penelitian Deskripsi Fokus 1.
Bentuk implementasi akhlak
1. Ceramah 2. Bakti Sosial 2. Cara yang dilakukan dalam
implementasi akhlak
1. Pengajian 2. Tadarrus 3.
Hasil Implementasi akhlak
terhadap santri Perubahan santri
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah?
i
2. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengimplementasikan akhlakul karimah di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah?
3. Bagaimana hasil yang dicapai dalam implementasi akhlak terhadap santri di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah?
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menunjukkan integritas (kejujuran) peneliti dalam menyusun sebuah karya ilmiah.
Hal ini dimaksudkan juga untuk menghindari duplikasi bahwa topik yang diambil oleh peneliti belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya serta menjelaskan posisi peneliti yang bersangkutan.
Untuk mendukung penelaahaan yang lebih komprehensif, peneliti berusaha melakukan peninjauan terhadap karya-karya ilmiah yang relevan secara umum dengan topik pembahasan, lebih khusus lagi yang berkaitan dengan Impelementasi Akhlak di Pesantren Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.
Adapun karya-karya ilmiah tersebut diantaranya yaitu:
1. Terkait dengan penelitian yang akan dilaksanakan penulis, Tema-tema yang berkaitan dengan apa yang akan diteliti penulis sudah amat bervariasi misalnya saja pada salah satu jurnal yang telah membahas mengenai Model Pendidikan Akhlaq Santri di Pesantren dalam Meningkatkan Akhlaq Siswa Di Kabupaten Bireuen oleh Muhammad Rizal Universitas Almuslim Bireuen Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang berlaku di pesantren semuanya mengacu kepada kurikulum dayah salafi di Aceh dengan menjadikan kitab sebagai sumber utama dalam proses belajar mengajar. Media yang digunakan pada proses pembelajaran adalah kitab-kitab Arab, tayangan vidio, pemutaran ceramah agama dan pemanfaatan madding. Sedangkan metode yang digunakan meliputi metode nasihat, keteladanan guru, bimbingan dan pendampingan, praktek dan pembiasaan amalan ibadah, pelurusan motivasi, koordinasi dengan
i
wali santri, koordinasi dengan stakeholder dayah, out put pembinaan akhlak dan reward serta punisment. Perbedaan mendasar dengan apa yang akan dikaji oleh penulis dalam peneliatian ini ialah lebih kepada bentuk kurikulum yang diterapkan, peneliti mengkaji kurikulum yang ada di Pesantren Babussalam Al- Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.12
2. Jurnal Akhlak dan Etika dalam Islam oleh Syarifah Habibah. Dalam tulisan ini penulis membahas tentang pengertian akhlak dan etika, hu peneliti gunakan bungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Pembagian akhlak dalam tulisan ini menyangkut:
1) Akhlak terhadap Allah swt.
2) Akhlak terhadap Rasulullah.
3) Akhlak terhadap diri sendiri.
4) Akhlak terhadap keluarga.
5) Akhlak terhadap masyarakat.
6) Akhlak terhadap tetangga.
Metode penulisan ini adalah dengan metode Lebrary Riseach. Dapat dilihat perbedaan dimana selain dari segi metode penelitian yang peneliti gunakan yaitu dengan metode observasi, wawancara, serta objeknya yang berbeda
12 Muhammad Rizal, ”Model Pendidikan Akhlaq Santri di Pesantren dalam Meningkatkan Akhlaq Siswa Di Kabupaten Bireuen”,Jurnal Pendidikan Islam 12, no.1(2018):h.1
peneliti melakukan observasi di Pesantren Babussalam Al-Mukhtaria Kab.
Kep. Selayar.13
3. Skripsi Hamsina yang berjudul Dampak Media Sosial Terhadap Akhlak Remaja di Desa Lantang Kec. Polong Bangkeng Selatang Kab. Takalar, tahun 2017. Yang dimana dalam skripsinya dijelaskan tentang pengaruh positif dan negative dari media sosial dalam membentuk akhlak remaja di Desa Lantang.
Peneliti mengambil Penelitian ini sebagai rujukan karena penelitian tersebut membahas mengenai akhlak remaja, namun berbeda dari segi media penelitian, peneliti tersebut menggunakan Media Sosial sebagai ukuran. Sedangkan, peneliti sekarang menggunakan Media Strategi dan konsep pembinaan.
4. Buku yang berjudul Pembinaan Generasi Muda, ahun 2011, ditulis Muzakkir, yang membahas masalah-masalah yang di hadapi generasi muda dan upaya untuk membina jiwa dan mental dalam menghadapi tantangan zaman. Di dalam buku ini juga di bahas mengenai cara-cara pembinaan remaja baik dari segi agama, budaya, dan sosial-ekonomi. Penulis dalam penelitian ini berusaha membina remaja dari bidang agama yaitu Akhlak, sehingga penulis berusaha menghasilkan temuan baru dalam penelitian ini yang dapat dijadikan sebagai kontribusi penting dalam mangantisipasi kenakalan remaja di tengah-tengah masyarakat.
5. Skripsi Pembinaan Akhlak dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Kel.
Bontolerung Kec. Tinggimoncong Kab. Gowa oleh Haidir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk kenakalan remaja yang terjadi di Kel.
13Syarifah Habibah, “Akhlak Dan Etika Dalam Islam”, (Jurnal Pesona Dasar 1, no.4, 2015), h.1.
i
Bontolerung, yaitu: pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas (mengendarai motor tanpa menggunakan helm dan SIM dan ikut balapan liar) dan, minum-minuman keras. Adapun faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja di Kel. Bontolerung, yaitu: faktor keluarga, faktor lingkungan sosial dan, faktor media sosial. Guna meminalisir kenakalan remaja di Kel.
Bontolerung dilakukan beberapa upaya pembinaan akhlak, yaitu:
Pembinaan/penataan Lingkungan pergaulan, Peranan pengawasan Orang Tua, penanaman nilai-nilai agama dan, upaya dari pihak pemerintah dan kepolisian.
6. Skripsi yang berjudul pembentukan Akhlaqul Karimah melalui Metode Habitusi pada Santri (Studi di Pondok Pesantren Babussalam Cimone Kota Tangerang) yang ditulis oleh Fajar Pradana. Dalam skripsi membahas tentang pembentukan akhlaqul karimah dan metode habituasi yang diterapkan di Pondok Pesantren Babussalam Cimone Kota Tangerang dalam upaya pembentukan akhlaqul karimah pada santri, serta faktor yang mendukung dan menghambat pembentukan akhlak di Pondok Pesantren Babussalam Cimone Kota Tangerang. Peneliti mengambil penelitian ini sebagai rujukan karena penelitian tersebut membahas tentang pembentukan akhlaqul karimah pada santri, namun berbeda dari segi fokus penelitian. Penelitian tersebut hanya terfokus pada metode habituasi dalam pembentukan akhlaqul karimah pada santri. Sedangkan, penelitian ini berfokus pada startegi dan konsep implementasi akhlaqul karimah pada santri.14
14 Fajar Pradana, Pembentukan Akhlaqul Karimah melalui Metode Habituasi pada Santri (Studi di Pondok Pesantren Babussalam Cimone Kota Tangerang), (Tangerang: Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2019).
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
a. Bentuk implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.
b. Cara yang dilakukan dalam mengimplementasikan akhlak di Pesantren Al- Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.
c. Hasil implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam kepulauan Selayar.
2. Manfaat Penelitian
a. Secara praktis penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai bentuk konsep implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al- Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.
b. Secara teoritis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca agar dapat mempertahankan akhlak yang mulai terkikis oleh perkembangan zaman agar sesuai dengan implementasi akhlak dalam Islam.
c. Secara akademis penelitian ini dilakukan untuk menambah referensi dan kajian yang terdapat pada .universitas.
i BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Akhlakul Karimah
1. Pengertian Akhlakul Karimah
Akhlakul karimah terdiri dari dua kata yaitu, akhlak dan karimah. Secara etimologi, akhlak berasal dari bahasa Arab, dari kata khuluq (khuluqun), yang berarti budi pekerti, tingk ah laku, dan perangai.15 Dalam kamus bahasa Indonesia juga kata “akhlak” diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat.16
M. Syatori dalam bukunya Ilmu Akhlak mengartikan akhlak sebagai, kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik, jalan yang sesuai menuju Allah, dan pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan.17
Secara terminologi atau istilah, akhlak adalah ilmu yang menetukan batas antara yang baik dan yang buruk tentang perbuatan manusia baik lahir maupun batin. Untuk memahami akhlak lebih komprehensip, berikut dikemukakan beberapa definisi oleh para tokoh dan ulama, sebagai berikut:
15 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer; Edisi Lengkap, (Surabaya: Gitamedia Press, 2006), h. 18.
16 WJS, Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), h. 25.
17 M. Syatroni, Ilmu Akhlak, (Bandung: Lisan, 1987), h. 1.
16
a. Dr. Ahmad Amin, akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya.18
b. Imam al-Gazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.19
c. Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.20
d. Hamzah Ya’kub, akhlak adalah: (1) Ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. (2) Ilmu pengetahuan yang memberikan tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.21
e. Muhyiddin Ibnu Arabi (1165-1240M), akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut seseorang boleh jadi merupakan
18 Ahmad Amin, Kitab Akhlak, (Kairo, Dar al-Kutub al- Mishiriyah, tt), h. 13.
19 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h. 3.
20 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, h. 4.
21 Hamzah Ya’kub, Etika Islam; Pembinaan Akhlakul Karimah, (Bandung: Diponegoro, 1996), h. 12.
i
tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan- latihan dan perjuangan.22
f. Ibnu Maskawaih (941-1030 M), akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat asalnya, adapula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus-menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
g. Al-Faidh Al-Kasyani, akhlak adalah ungkapan untuk menunjukkan kondisi yang mandiri dalam jiwa, darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran.23
Karimah dalam bahasa Arab artinya terpuji, baik, atau mulia. Imam al- Qurtubi berkata:
“Akhlak adalah sifat-sifat yang dimiliki seseorang sehingga ia dapat berhubungan dengan oranglain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela.
Secara global makna akhlak yang terpuji adalah engkau berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berhubungan dengan sesama, dimana engkau bersikap adil dengan sikap-sikap terpuji dan tidak lain karenanya. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan penderitaan, berkasih sayang, menutupi jahat-jahat orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu.”24
22M. Syatroni, Ilmu Akhlak, h. 1.
23 H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), h. 3-4.
24 Ahmad Mu’adz Haqqiy, Berhias dengan 40 Akhlakul Karimah, (Malang: Cahaya Tauhid Press, 2003), h. 20.
Dari beberapa definisi di atas, menjadi jelas bahwa akhlak sesungguhnya berasal dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, ia telah menjadi kebiasaan, sehingga ketika akan melakukan perbuatan tersebut, seseorang tidak perlu lagi memikirkannya. Bahkan seolah perbuatan tersebut telah menjadi gerak refleks.
Adapun jenis-jenis akhlakul karimah yaitu:
a. Akhlak Terhadap Allah
Berakhlak mulia terhadap Allah adalah berserah diri hanya kepada-Nya, bersabar, ridha terhadap hukum-Nya baik dalam masalah syariat maupun takdir, dan tidak berkeluh kesah terhadap hukum syariat dan takdir-Nya.25 Diantara yang termasuk akhlak kepada Allah swt adalah bertakwa kepada Allah, ikhlas, tawakal, syukur, mencintai dan mematuhi Allah swt.
b. Akhlak Terhadap Rasulullah
Rasulullah saw adalah sebagai uswatun hasanah yang bisa diteladani oleh seluruh umat. Beliau telah mendapat kepercayaan Allah swt sehingga diberi gelar Al-Amin. Demikian lahirnya budi pekerti beliau sehingga berhak mendapat peng ‘iktirafan Allah hingga disebutkan dalam al-Qur’an bahwa beliau berakhlak mulia, yang terukir dalam surat Al-Qalam ayat 4.26 Akhlak terhadap Rasulullah saw diantara lain, mengucapkan shalawat dan salam, mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya,
25 Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), h. 65.
26 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2007), h. 89.
i
menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan berkehidupan, dan menjalankan apa yang diperintahkan dan tidak melakukan apa yang dilarangnya.27
c. Akhlak Terhadap diri Sendiri
Akhlak terhadap diri sendiri yaitu, shiddiq (jujur), memelihara amanah, bersifat sabar, tawadhu (merendahkan hati terhadap sesama), bersifat pemaaf, ta’awun (saling menolong), hormat kepada teman dan sahabat.
d. Akhlak Terhadap Orangtua
Birul Walidin atau berbakti kepada orangtua merupakan amal shaleh yang paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim, juga merupakan faktor utama diterimanya do’a seseorang.28 Beberapa hal yang perlu dilakukan terhadap orangtua meliputi, selalu taat kepada kedua orangtua selama tidak bermaksiat kepada Allah swt, berbicara dengan kedua orangtua dengan penuh sopan santun, dan usahakan selalu meminta izin ketika berpergian dan mencium tangannya.29
e. Akhlak Terhadap Guru
Akhlak antara guru dan murid sangat penting apalagi ketika masih dalam proses pendidikan berlangsung. Menghormati guru adalah sikap terima kasih dan perbuatan ini telah pula dilakukan oleh ulama terdahulu kepada guru- guru mereka adalah patut dicontoh. Salah satu contoh adalah Imam Syafi’I
27 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h. 89-90.
28 H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, h. 221-223.
29 Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, h. 139- 140.
bagaimana model penghormatannya terhadap guru dan bagaimana sopannya Imam Syafi’I terhadap gurunya, beliau berkata: “saya tidak dapat membolak- balik lembaran kitab dengan suara keras dihadapan guru saya, supaya guru saya jangan sampai terganggu. Sayapun tidak bisa meminum air dihadapan guru saya, sebagai rasa hormat dan takzim kepadanya.”30
Sebagai contoh, akhlak seorang muslim yang terpuji setiap akan tidur. Ia selalu menggosok gigi, berwudhu, dan berdo’a. Rutinitas tersebut dilakukan secara terus-menerus, hingga menjadi kebiasaan. Hal ini seolah menjadi perbauatan yang bersifat refleks, dan tidak perlu lagi berpikir panjang untuk melakukannya. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa itulah akhlak orang muslim tersebut setiap kali akan tidur.
Istilah akhlak sebenarnya merupakan istilah yang netral, yaitu mencakup pengertian perilaku baik dan buruk seseorang. Jika perbuatan yang dilakukan seseorang itu baik, disebut dengan istilah al-akhlaq al-karimah (akhlak yang mulia). Namun jika perbuatan yang muncul dari seseorang itu buruk, disebut dengan al-akhlaq al-madzmumah (akhlak tercela).
Ketika akhlak dipahami sebagai suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu perbuatan baru bisa disebut akhlak jika memenuhi beberapa syarat berikut. Pertama, perbuatan tersebut dilakukan secara berulang- ulang. Artinya, jika suatu perbuatan hanya dilakukan sesekali, tidak dapat disebut akhlak. Kedua, perbuatan tersebut muncul dengan mudah, tanpa dipikirkan
30Muhammad Abdurrahman, Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, h. 187- 188.
i
terlebih dahulu, sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Artinya, jika perbuatan tersebut timbul karena terpaksa, sebab beberapa pertimbangan atau berbagai motif yang lain, tidak bisa dikatakan akhlak.
Akhlak tidak dapat terlepas dari kehendak dan adat (kebiasaan), yang merupakan faktor penentu dari akhlak. Dari kedua faktor tersebut, kehendak menjadi faktor utama yang menjadi motor penggerak, sehingga timbul sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan manusia.
Kehendak mempunyai dua macam perbuatan, pada saat tertentu ia menjadi pendorong, namun pada saat yang lain ia menjadi penolak. Misalnya, terkadang kehendak mendorong kekuatan manusia untuk membaca, menulis, atau berpidato. Namun, pada saat yang lain mencegah kekuatan manusia, misalnya melarang berkata atau berbuat sesuatu.31
Meskipun seringkali akhlak dengan etika atau moral dianggap sama, sesungguhnya kata akhlak lebih luas cakupannya disbanding etika atau moral, yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku seseorang, secaralahiriah dan batiniah.
Perumusan pengertian akhlak menjadi media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan
31 Ahmad Amin, Al-Akhlak, terj. K. H. Farid Ma’ruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h.
61.
makhluq.32 Istilah dipetik dari kalimat yang tercantum dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw:
ٍﻢﻴِﻈَﻋ ٍﻖُﻠُﺧ ٰﻰَﻠَﻌَﻟ َﻚﱠﻧِﺇ َﻭ Artinya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS.
Al-Qalam (68):4)
Demikian juga hadis Nabi saw., Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” (HR. Ahmad).
2. Dasar Akhlakul Karimah
Apabila diperhatikan dalam kehidupan umat manusia, maka akan dijumpai tingkah laku manusia yang beraneka ragam. Bahkan dalam penilaian tentang tingkah laku itu sendiri yang bergantung pada batasan pengertian baik dan buruk dalam suatu masyarakat atau lebih dikenal dengan sebutan norma. Sehingga normalah yang menjadi sumber hukum akhlak seseorang. Namun yang dimaksud dengan sumber akhlak disini, yaitu berdasarkan pada norma-norma yang datangnya dari Allah swt dan Rasul-Nya dalam bentuk ayat-ayat al-Qur’an serta pelaksanaannya dilakukan oleh Rasulullah. Sumber itu adalah hukum ajaran Islam.
32H. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Akhlak, h. 2.
i
Dalam Islam, dasar atau pengukur yang menyatakan akhlak baik dan buruknya sifat seseorang itu adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.
Apa yang menurut al-Qur’an dan Sunnah Nabi baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya apa yang buruk menurut al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw itulah yang tidak baik dan harus dijauhi.33
Secara subtantif, nilai-nilai akhlak Rasulullah saw bersifat abadi dan sekaligus fleksibel (bisa diterapkan disemua masa), sebab itu nilai-nilai akhlak yang dibangun dan diabadikan ialah menyangkut nilai-nilai dasar yang universal terutama sifat shiddiq (benar), amanat (terpercaya), tabliqh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas). Keempat akhlak inilah yang dijadikan pembinaan akhlak Islam pada umumnya karena menjunjung tinggi kebenaran.34
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dasar hukum dari akhlakul karimah diambil dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw karena kandungan akhlakul karimah yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim sudah terdapat didalam ajaran al-Qur’an al-karim dan sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.
3. Tujuan Akhlak
Tujuan akhlak adalah agar setiap muslim dapat berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai baik sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut dapat dilihat bahwa, semua ibadah sebagaimana disebutkan arkanul Islam, mulai dari syahadat,
33 Roshidin Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 208.
34 M. Amin Suma, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h. 103.
shalat lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan zakat dan menunaikan haji, semua ibadah-ibadah tersebut apabila dilakukan secara benar sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah, maka terbentuklah kepribadian muslim yang berakhlakul karimah baik lahir maupun batin.
Adapun definisi akhlak dalam pandangan penulis, adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa seseorang yang kemudian lahir perbuatan-perbuatan secara spontan tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian.
Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang terpuji menurut pandangan akal dan syariat Islam, ia adalah akhlak yang baik. Namun, jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang buruk dan tercela, ia adalah akhlak yang buruk.
Akhlak dapat pula terbentuk karena kebiasaan atau melalui latihan-latihan yang dilakukan secara kontinu dan dengan ada niat agar kebiasaan atau sesuatu yang dilakukan melalui latihan-latihan itu pada akhirnya menjadi suatu karakter yang permanen yang sama sekali tidak mengandung unsur pujian dan pertimbangan pemikiran. Dengan demikian akhlak pada awalnya dapat pula di bentuk melalui kebiasaan dan pelatihan. Contoh, membiasakan diri dan melatih bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, maka pada akhirnya akan menjadi karakter akhlak terpuji yang permanen, sehingga setiap tengah malam akan terbangun secara spontan.
B. Bentuk-bentuk Pembinaan Akhlak
Berbicara masalah pembinaan atau pembentukan akhlak sama dengan berbicara pada tujuan pendidikan Islam. Para ahli pendidikan Islam berpendapat
i
bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah Al-Abrasy mengatakan pembinaan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk orang-orang yang bermoral baik, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku, bersifat bijaksana, sopan dan beradab.
Tujuan pembinaan akhlak yaitu terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati dan sempurna dalam arti yang sempurna. Adapun bentuk-bentuk pembinaan akhlak baik secara formal maupun non formal adalah sebagai berikut:
1. Secara Formal
Bentuk pembinaan akhlak secara formal yaitu dengan memberikan mata pelajaran yang berkaitan dengan pembentukan akhlak, seperti:
a. Aqidah akhlak
Pendidikan aqidah akhlak sebagai bagian integral dari pendidikan agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam membentuk watak dan kepribadian anak tapi secara subtansial mata pelajaran aqidah akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi pada anak untuk mempraktekkan nilai-nilai keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.35
35 Habullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, cet. 4 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 18.
Komponen pertama yang berpengaruh dalam pembentukan akhlak anak adalah orangtua. Sebagai orangtua harus bertanggung jawab atas kemajuan dan pertumbuhan jasmani, rohani dan kecerdasannya. Yaitu dengan mengasuh dan mendidik agar terhindar dari kerusakan jasmani, rohani dan akhlaknya.36
Aqidah akhlak merupakan salah satu materi pendidikan agama Islam.
Dalam materi aqidah akhlak di sana dijelaskan tentang dasar-dasar keimanan terhadap Allah swt, juga nilai-nilai tauhid lainnya. Kemudian dalam materi akhlak di sana dikaji dan dijelaskan tentang konsep akhlak serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembahasan atas aqidah dan akhlak ini menjadi penting agar siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang utuh atas keimanan, dan pada saat yang sama dia juga mampu mewujudkan nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dalam bentuk akhlak yang baik. Inilah salah satu urgensi pendidikan aqidah akhlak yang tujuannya adalah untuk memadukan antara konsep dan implementasi habluminallah dan habluminannas dengan baik dan seimbang.37
Pada mata pelajaran aqidah akhlak mempunyai peran yang sangat urgen dalam mngembangkan kesadaran agama. Hal ini karena proses pembelajaran lebih mengedepankan internalisasi nilai-nilai akhlak yang terdapat dalam setiap materi-materi yang diajarkan. Nilai-nilai akhlak yang ada pada siswa memang
36 D. Fajar Ahwa, Implikasi Pendidikan Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Santri Madrasah Aliyah Ashari Di Pondok Pesantren Ar Shiddiqi Putera, (Jember: Institut Agama Islam Negeri, vol. 14, no. 1, 2015), h. 101.
37 Nurul Hidayati Rofiah, Desain Pengembangan Pembelajaran Akhlak Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan, vol. 8, no. 1, 2016), h. 56.
i
sudah mendalam, tetapi hanya berdampak pada keberhasilan pengetahuan saja atau proses pembelajaran, untuk itu perlu diadakan kegiatan keagamaan, budaya, pembiasaan dan pengawasan pembiasaan perilaku positif peserta didik.
Program-program pesantren yang dijadikan sebagai suatu budaya positif merupakan langkah dalam mengembangkan nilai-nilai akhlak atau menuju pendidikan yang berkarakter.
Merosotnya pendidikan akhlak dan moral disebabkan oleh pengaruh globalisasi yang penuh dengan kebebasan dan melahirkan kemajuan dari sisi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Globalisasi berdampak pada pergeseran nilai yang mempengaruhi tatanan nilai kehidupan dalam jiwa anak.
Oleh karena itu, apabila anak didik tidak dibekali dengan ajaran agama yang kuat berakibat fatal terahadap kematangan jiwa dan mental dalam mengambil keputusan di kemudian hari. Aqidah akhlak yang mempunyai peran sebagai pengembangan nilai-nilai akhlak anak. Jika anak tidak diajarkan akhlak sejak dini ditakutkan kelas dewasa akan menjadi orang yang tidak berakhlak, berkarakter dan bermoral.38
b. Fiqih Ibadah
Pendidikan agama Islam dalam kegiatan belajar mengajar berperan penting sebagai penegah atau penyeimbangan antara pembelajaran mengenai dunia dan akhirat. Islam mewajibkan umat manusia baik perempuan maupun laki-laki
38 Ahmad Rifa’I & Rosita Hayati, Peran Pebelajaran Akidah Akhlak Dalam Pengembangan Nilai-nilai Akhlak Siswa di MN 13 Hulu Sungai Utara, (Kalimantan: Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an, vol. 1, no. 2, 2019), h. 89.
untuk belajar dan mendalami ilmu pengetahuan sejak masih dalam kandungan hingga menjalani kegidupan. Oleh karena itu, seorang pendidik wajib mengenalkan pembelajaran mengenai agama Islam kepada siswa. Metode yang tepat dalam pembelajaran mengenai pendidikan agama Islam adalah pembelajaran Fiqih yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan pembelajaran fiqih sangat penting, hal ini dikarenakan pembentukan karakter dalam diri siswa dapat terbangun dan menjadi pondasi kuat dalam beragama.39
Fiqih adalah norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan makhluk lainnya. Fiqih sendiri adalah ilmu mengenai hukum amall (hukum positif) dalam Islam yang bersumber dari dalil-dalil tafshill atau terurai. Fiqih dapat memberikan tekanan-tekanan yang baik dan benar terhadap manusia dalam pelaksanaan ibadah dan muamalah. Pembekalan fiqih yang diberikan tenaga pendidik terhadap peserta didik dapat memberi pengaruh atas berhasilnya penerapan ibadah di kehidupan sehari-hari para siswa. Materi yang disampaikan akan membentuk peserta didik menjadi mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki budi pekerti yang luhur.40
39 Casoni, Skripsi Pembelajaran Fiqih Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Disiplin Ibadah di Mts Negeri Salatiga Tahun Pembelajaran 2018/2019, (Salatiga: Institut Agama Islam Negeri, 2019), h. 15.
40 Mahjuddin, Dirasah Islamiyah Bagian Ilmu Fiqh, (Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah, 1995), h. 1-2
i
Tujuan pembelajaran Fiqih adalah untuk membekali santri agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh. 41
2. Secara Non Formal
Ada beberapa metode-metode yang efektif dalam pembinaan akhlak yaitu, diantaranya:
a. Metode uswah (teladan)
Teladan atau keteladanan adalah pembiasaan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti berpakaian rapi, berbahasa yang baik dan sebagainya.
Teladan adalah sesuatu yang pantas untuk diikuti, karena mengandung nilai- nilai kemanusiaan. Manusia teladan yang harus dicontoh dan diteladani adalah Rasulullah saw, seagaimana firman Allah swt dalam surah Al-ahzab ayat 21 yaitu:
Artinya: “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Dalam metode teladan ini dapat diterapkan kedalam tiga aspek, yaitu pembinaan akidah, pembinaan ibadah dan pembinaan akhlak. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang didirinya memiliki keteladanan yang baik karena merupakan salah satu faktor terpenting yang akan mempengaruhi hati dan jiwa
41 Nurhayani, Jurnal Penerapan Mrtode Simulasi dalam Pembelajaran Fiqh Ibadah bagi Siswa di Mts YMPI sel Tualang Raso Tanjung Balai, vol 1. No. 1, 2001, h. 89.
santri. Sehingga sejak dini santri dididik dengan akidah, ibadah, berakhlak dan bertingkah laku berdasarkan ajaran Islam.
Dengan demikian pemimpin berkewajiban mencurahkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari kepada santri juga berkewajiban berdakwah dan memberikan da’ian yang baik agar mad’u dapat tumbuh dan berkembang diatas aturan ajaran Islam, beraqidah yang tanpa disertai syirik, beribadah hanya karena Allah dan berakhlakul karimah.42
b. Metode Ta’widiyah (pembiasaan)
Diantara masalah-masalah yang diakui dan diterapkan dalam syariat Islam adalah bahwa pada awal penciptaan-Nya seorang anak itu dalam keadaan suci dan bertauhid murni, beragama lurus dan beriman kepada Allah. Dari sinilah peran pembiasaan, pengajaran, pemimpin, dalam menumbuhkan dan mengiringi santri ke dalam tauhid murni, akhlak mulia, keutamaan jiwa, dan untuk melakukan syariat yang hanif (lurus).
Aplikasi metode pembiasaan tersebut, diantaranya adalah terbiasa dengan keadaan berwudhu, terbiasa tidur tidak terlalu malam dan bangun tidak kesiangan, harus membaca al-Qur’an setelah shalat dan Asmaul Husna, sholat berjamaah di masjid, terbiasa berpuasa, terbiasa makan dengan tangan kanan dan lain-lain. Pembiasaan yang baik adalah metode yang ampuh untuk meningkatkan dan merubah akhlak santri.43
c. Metode Mau’izhah (Nasehat)
42 Nasih Ulwan, Kaidah-kaidah Dasar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), h. 1.
43 Mukyas, Metode Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 166.
i
Kata mau’izhah berasal dari kata wa’zhu yang berarti nasehat yang terpuji, memotivasi untuk melaksanakannya dengan perkataan yang lembut. Aplikasi metode nasehat, diantaranya adalah nasihat dengan argumen logika, nasihat tentang amarma’ruf nahi mungkar, masehat tentang amal ibadah dan lain sebagainya.
d. Metode pengawasan
Maksud pembinaan yang disertai dengan pengawasan yaitu mendampingi santri dalam upaya membentuk aqidah dan moral serta mengawasinya dalam melaksanakan ibadah, dan mempersiapkan secara psikis dan sosial, menanyakan secara terus menerus tentang keadaannya.
Metode ini termasuk dasar terkuat dalam mewujudkan manusia seimbang, yang dapat menjalankan kewajiban-kewajibannya didalam kehidupan ini. Dari sinilah ia akan menjadi seorang muslim yang hakiki, akan menjadi pondasi dan pembinaan perarturan Islam. Sebagai persyaratan terwujudnya kejayaan Islam dan untuk tegaknya dakwah Islamiyah sehingga umat Islam akan loyal terhadap kebudayaan, kedudukan dan peranannya.
e. Metode ganjaran dan hukuman
Maksud dari ganjaran ini adalah sebagai pendorong dan penghargaan kepada santri, bukan sesuatu yang diharap-harapkan kepada mereka. Karena jika terjadi hal ini yang demikian maka tujuan pemimpin akan mengalami kegagalan. Aplikasi metode ganjaran yang berbentuk hukuman, diantaranya pandangan yang sinis, memuji orang lain dihadapannya, tidak
memperdulikannya, memberikan ancaman yang positif dan menjewernya sebagai alternatif terakhir.44
Disamping pembalasan terhadap tingkah laku atau perilaku santri berbentuk ganjaran perlu juga adanya hukuman atau sanksi. Karena setiap manusia diciptakan dalam sifat dan watak yang berbeda-beda. Maka dari itu perlu adanya sanksi ketika santri melakukan pelanggaran aturan-aturan yang ada. Jadi, secara mutlak metode hukuman tidak dapat semena-mena dilakukan sesuai dengan sejauh mana sikap dan tingkah laku santri. Lebih tepatnya metode ini diterapkan dalam pembinaan ibadah dan akhlak.
f. Metode hafalan
Metode hafalan ini menurut Imam Ghozali dapat digunakan dalam pembinaan aqidah Islam. Imam Ghozali menjelaskan secara khusus cara menanamkan aqidah pada santri. Beliau berpendapat bahwa langkah pertama yang sebaiknya diberikan kepada mereka dalam menanamkan aqidah adalah menekankan pada hafalan. Karena metode hafalan merupakan proses awal untuk menapaki pada proses berikutnya, yaitu proses pemahaman. Santri yang hafal terhadap sesuatu kemudian berusaha memahaminya, akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan kukuh yang pada akhirnya akan membenarkan apa yang telah diyakini sebelumnya. Ini merupakan proses pembenaran dalam sebuah aqidah yang dialami santri pada umumnya.45
44 https://zahratussada. Wordpress.com/2014/10/09/metode-pembinaan-akhlak/html
45 Ismail Ya’kub, Ihyaa ‘Ulum ad-Din Imam Al Ghozali, Jilid 1, (Jakarta: Faizan, 1994), h. 336.
i BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif.
Menurut Creswell penelitian kualitatif ialah suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral.
Untuk mengerti gejala sentral itu peneliti mewawancarai peserta penelitian atau partisipan dengan mengajukan pertanyaan yang umum dan agak luas.46
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitisan merupakan unsur yang sangat penting untuk penulis dapat mengumpulkan data sebagai bukti penelitian dilaksanakan.
Adapun dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi penelitian di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar karena merupakan daerah tempat tinggal peneliti sehingga strategis dan mudah.
B. Pendekatan Penelitian
Metode pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini antara lain:
1. Pendekatan Akhlak, Secara etimologi merupakan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang telah melekat pada diri seseorang. Akhlak
46J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif, jenis karakteristik dan keunggulan (Jakarta:
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010), h. 7.
35
menyangkut hal yang berhubungan dengan perbuatan baik, buruk, benar dan salah dalam tindakan seseorang manusia yang panutannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw.
2. Pendekatan fenomenologi, yaitu salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang diaplikasikan untuk mengungkap kesamaan makna yang menjadi esensi dari suatu konsep atau fenomena yang secara sadar dan individual dialami oleh sekelompok individu dalam hidupnya.47
C. Sumber Data a. Data Primer
Data primer atau data tangan pertama adalah semua bahan- bahan informasi dari tangan pertama atau sumber yang diperoleh data asli atau data pokok.48
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah kesaksian atau data yang tidak berkaitan langsung dengan sumbernya yang asli. Sumber data sekunder bertujuan untuk melengkapi data-data primer.49
47Helaluddin, Mengenal lebih dekat dengan pendekatan fenomenologi: Sebuah penelitian kualitatif.
48Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), h. 89.
49Chalid Narbuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h.
42.
i D. Metode Pengumpulan Data
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat ulasan, gagasan terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Dalam penelitian kualitatif seorang peneliti untuk memperoleh informasi maka ia melakukan teknik pengumpulan data diantaranya:
a. Metode Observasi
Obsevasi merupakan pengamatan langsung terhadap objek, untuk mengetahui kebenarannya, situasi, kondisi, konteks, serta maknanya dalam upaya pengumpulan data suatu penelitian50. Peneliti melakukan observasi langsung untuk mengetahui dengan pasti bagaimana implementasi akhlak di Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtaria Kab. Kep. Selayar.
b. Metode wawancara
Wawancara yaitu suatu kegiatan dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkap pertanyaan-pertanyaan pada para responden. Wawancara bermakna berhadapan langsung antara interview dengan responden, dan kegiatannya dilakukan secara lisan.
Posisi sebagai responden dalam wawancara dapat berbentuk satu orang tunggal atau dua orang lebih yang disebut kelompok wawancara yang dilakukan terhadap satu orang responden akan lebih bersifat objektif bila dibanding dengan responden lebih dari dua orang atau kelompok.
50 Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Cet I; Bandung: Alfabeta, 2015), h. 83.
c. Dokumentasi
Dokumen sebagai sumber data dapat didefinisikan sebagai record dan dokumen. Record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting. Sedangkan dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.51
E. Instrumen penelitian
Instrumen atau alat peneliti adalah peneliti itu sendiri. Untuk menjadi Instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya dan menganalisis situasi yang diteliti menjadi lebih luas dan bermakna. Adapun alat yang digunakan yaitu:
a. Kamera, berfungsi untuk mengambil gambar dan merekam berbentuk video sesuai fakta yang terjadi dilapangan
b. Pedoman wawancara, dalam hal ini peneliti membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada informan atau narasumber untuk memperoleh informasi.
c. Buku dan alat tulis yaitu mencatat semua informasi dan informan
d. Studi pustaka, yaitu membaca buku-buku yang terkait dengan judul yang diteliti.52
51 Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Cet I; Bandung: Alfabeta, 2015), h. 95.
52 Saifuddin Anwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 120.
i F. Teknik pengolahan dan analisis
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah sesuai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Miles dan Huberman mengemukakan bahwa:
Aktifitas dalam analisis kualitatif secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sampai datanya sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing verification.53
Adapun pengolahan data yang digunakan sebagai berikut:
a. Reduksi data yaitu merangkum data-data yang di anggap penting lalu membagikannya dalam beberapa kelompok sehingga penelitian ini hanya akan fokus pada data-data yang di anggap penting.
b. Display Data (Penyajian Data), setelah melakukan reduksi data selanjutnya yang akan dilakukan adalah menyajikan databaik dalam bentuk table, grafis, narasi dan sebagainya agar memudahkan peneliti untuk menarik kesimpulan ataupun melakukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
53 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D, (Cet. I; Bandung: Alfabeta, 2012), h. 246.
c. Verifikasi (Penarikan Kesimpulan), penarikan kesimpulan dalam penelitian ini dilakukan tahap demi tahap hingga menghasilkan kesimpulan akhir yang sudah tidak mengambang lagi.54
54http://www.ssbelajar.net/2012/11/pengolahan-data-kualitatif.html?m=I, (18 Desember 2020).
i BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pesantren Al-Qur’an Babussalam adalah sebuah pondok pesantren di kawasan Bandung Utara di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ponpes Al-Qur’an Babussalam ini mengimplementasikan kurikulum integral. Kurikulum integral Ponpes Al-Qur’an Babussalam adalah suatu kurikulum berisikan uraian bidang studi terdiri atas kelompok “ilmu akal” (Kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional) dan “ilmu wahyu” (kurikulum kepesantrenan) yang disajikan secara kait-berkait menjadi satu kesatuan secara utuh dan menganut sistem “long life education”. Disebut “ilmu akal” karena manusia dalam memperoleh ilmu-ilmu tersebut melalui potensi daya pikir dan menggunakan metode tertentu terhadap objek kajiannya.
Dinamakan “ilmu wahyu” karena, cara memperolehnya hanya bersandar kepada informasi berdasarkan otoritas syariat yang diberikan berdasarkan al- Qur’an dan As-Sunnah.55 Implementasi kurikulum integral Ponpes al-Qur’an Babussalam disampaikan pada peserta didik dengan landasan ma’rifatullah.
Artinya setiap ilmu yang diberikan kepada peserta didik selalu membuat peserta didik semakin bertakwa kepada Allah swt, salah satu caranya adalah dengan mengaitkan setiap ilmu dengan Allah, manusia dan alam.
55 Muhammad ESA, Mengukuhkan Struktur Keilmuan Pesantren dalam Kurikulum Integral Pesantren Al-Qur’an Babussalam, 2009. From
http://rumahsantri.multiply.com/journal/item/10, 5 Juni 2021.
1. Sejarah Pesantren Al-Qur’an Babussalam Al-Mukhtariyah Selayar
Pondok Pesantren Al-Qur’an Babussalam berdiri pada tahun 1995 inspirasi awal berdirinya Peantren Al-Qur’an Babussalam di Kabupaten Selayar, kota Yastrib yang menjadi kota tujuan Rasulullah saw ketika meninggalkan kota Mekkah, selain merupakan bagian dari ekspansi dakwah juga merupakan strategi untuk membangun kekuatan yang nantinya digunakan untuk menaklukkan Kota Mekkah. Hal tersebut terbukti dengan terjadinya Fathu Mekkah pada tahun ke 13 H. hal inilah yang mengilhami Bapak K.H. Mukhtar Adam sehingga beliau berkenan kembali ke Selayar, tempat kelahirannya dan mendirikan Pesantren Al-Qur’an Babussalam ini setelah beliau berhasil membangun Pesantren Al-Qur’an Babussalam di Bandung Jawa Barat.56
Pada awalnya ide pendirian Pesantren Al-Qur’an Babussalam hanyalah sebuah wacana yang senantiasa beliau lontarkan disetiap pengajian terutama di masjid Nurul Hidayah Muhammadiyah yang terletak di Bua-bua. H.
Mahmuddin Kebo, salah seorang muhsinin dan tokoh pendidik, menangkap ide itu dan menanggapinya secara serius. Diajaklah K. H. Mukhtar Adam untuk mendiskusikannya lebih lanjut sambil menyusun langkah-langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita mulia ini.
56 Yuliastira, Model Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren Al-Qur’an Babussalam Kecamatan Bontoharu Kabupaten Selayar, (Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar, 2019), h. 54.
40