• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Bermain Peran Prososial

1. Pengertian Bermain Peran

Bermain peran merupakan salah satu bentuk psikodrama (J.L. Moreno, 1953 dalam Pfeiffer & Ballew, 1988). Tujuan psikodrama ini adalah memberikan klien pemahaman dalam hubungan mereka dengan orang lain dengan cara melibatkan klien untuk memainkan peran-peran orang lain. Menurut Pfeiffer & Ballew (1988), bermain peran merupakan interaksi spontan manusia yang melibatkan perilaku yang realistik berdasarkan kondisi tiruan atau imajinasi. Peran yang telah diperankan kemudian di diskusikan dan tindakan-tindakan yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan lagi.

Bermain peran biasanya digunakan untuk beberapa tujuan antara lain : a. Untuk mempraktekkan perilaku dalam suatu persiapan untuk suatu peran

baru atau mengantisipasi situasi masalah.

b. Untuk memeriksa suatu situasi masalah atau kejadian masa lalu untuk mempelajari bagaimana hal tersebut dapat ditangani lebih baik.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

c. Untuk menciptakan pemahaman dalam motivasi dan peran orang lain atau dirinya sendiri.

Nilai-nilai yang dapat diperoleh partisipan dalam bermain peran antara lain :

a. Menuntut individu untuk berfikir atau menentukan keputusan.

b. Dapat mempraktekkan suatu perilaku dalam kepura-puraan dan mendapat umpan balik dari orang lain.

c. Memperjelas fakta bahwa hubungan antar manusia yang baik membutuhkan

suatu ketrampilan.

d. Mengajarkan perubahan sikap secara efektif dengan menempatkan

seseorang dalam peran tertentu.

e. Melatih seseorang untuk lebih peduli dan sensitif terhadap perasaan orang lain.

f. Mengembangkan apresiasi yang lebih dalam pada saat bermain peran serta dalam menentukan perilaku dalam situasi sosial.

g. Mampu membuat individu menemukan kesalahan personalnya.

h. Melatih kontrol perasaan dan emosi.

Menurut Sadali (2000) ada empat asumsi bahwa bermain peran dapat mengajarkan hal baru pada anak, yaitu:

a. Secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menekankan dimensi “di sini dan kini” (here and now) sebagai isi pengajaran. Model ini dipercaya adalah mungkin sekelompok anak menciptakan analogi-analogi mengenai situasi-situasi kehidupan

commit to user

nyata. Terhadap analogi-analogi tersebut yang diwujudkan dalam bermain peran para siswa dapat menampilkan respon-respon emosional secara khas dan sejati sambil belajar dari respon-respon orang lain.

b. Bermain peran memberikan kemungkinan kepada anak untuk

mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain.

c. Model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selamanya datang dari orang tertentu melainkan dapat saja muncul dari reaksi orang lain terhadap masalah yang tengah diperankan.

d. Model mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi berupa sikap-sikap, nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya. Dengan cara itu individu dapat menguji sejauh mana sikap-sikapnya relevan dengan sikap orang lain apakah sikap itu perlu dipertahankan atau diubah.

Bermain peran disebut juga bermain simbolik, pura-pura, fantasi, imajinasi, atau bermain drama. Bermain peran ini sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak. Bermain peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan spasial, afeksi, dan keterampilan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

kognisi. Bermain peran memungkinkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu (Amirudin, 2008).

Hurlock (1978) mengungkapakan bahwa bermain peran atau “permainan pura-pura” adalah bentuk permainan aktif dimana anak melalui perilaku dan bahasa yang jelas, berhubungan dengan materi atau situasi seolah-olah hal itu mempunyai atribut yang lain daripada yang sebenarnya. Jenis bermain ini dapat bersifat reproduktif atau produktif. Dalam permainan drama reproduktif, anak berusaha memproduksi situasi yang telah diamatinya dalam kehidupan sebenarnya atau media massa dalam permainannya. Sebaliknya, dalam permainan drama produktif, anak menggunakan situasi, tindakan dan bicara dari situasi kehidupan nyata ke dalam bentuk yang baru dan berbeda. Permainan drama reproduktif biasanya mendahului permainan drama produktif. Menurut Hadi (2008) pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini, meliputi: kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi

hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan

mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan

hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang

commit to user

merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi.

Goodwin & Coates (1976) berpendapat bahwa bermain peran merupakan metode yang didasarkan pada fakta bahwa individu belajar dengan melihat orang lain, mencoba bertingkah laku seperti yang dilakukan orang lain dan menerima umpan balik dari tindakan tersebut. Bermain peran merupakan salah satu teknik untuk mengajarkan perilaku baru.

Menurut Erikson (dalam Amirudin, 2008) terdapat dua jenis bermain peran, yaitu bermain peran mikro dan makro. Bermain peran mikro dimaksudkan bahwa anak memainkan peran dengan menggunakan alat bermain berukuran kecil, misalnya orang-orangan kecil yang sedang berjual beli. Sedangkan bermain peran makro, anak secara langsung bermain menjadi tokoh untuk memainkan peran-peran tertentu sesuai dengan tema. Misalnya peran sebagai ayah, ibu, dan anak dalam sebuah rumah tangga.

Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain peran merupakan interaksi spontan manusia yang melibatkan perilaku yang realistik berdasarkan kondisi tiruan atau imajinasi yang telah dirancang dengan tujuan dan melalui tahapan tertentu.

Dokumen terkait