• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Pengertian Biaya Standar

Biaya standar adalah biaya yang ditetapkan di muka menurut norma-norma efisiensi yang berlaku di dalam suatu perusahaan, yang mencerminkan biaya yang seharusnya diperlukan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa. Biaya standar merupakan alat ukur yang obyektif untuk mengukur pelaksanaan suatu proses produksi.

Biaya standar merupakan biaya ditentukan di muka untuk suatu produk yang bersifat homogin dan relatif stabil. Kalkulasi biaya standar mempunyai dua elemen, yaitu standar fisik (standar input untuk satu unit output) dan standar harga (biaya standar atau tarif perunit input).

Standar merupakan perkiraan atau suatu kebiasaan yang dianggap baku untuk menetapkan atau mengukur suatu hasil. Dengan perkataan lain, standar merupakan patokan yang menjadi dasar acuan untuk membuat suatu produk dengan unit bahan, tenaga kerja dan fasilitas yang telah ditentukan besaran volume dan biayanya.

Standar biasa disebut sebagai aturan atau regulasi. Standar ditetapkan

secara internal oleh suatu organisasi untuk dipenuhi atau dicapai. Contoh standar adalah standar pengendalian mutu produk dan biaya standar untuk produk barang dan jasa.

Menurut Imanina, Dian (2007:1), ”Standard Cost adalah biaya perunit produk yang telah ditetapkan sebelumnya (predetermined).” sedangkan menurut Hansen, Mowen (2004:418), ”Standard Cost adalah syarat fundamenal bagi sistem anggaran fleksibel, yang merupakan kunci bagi sistem perencanaan dan pengendalian yang baik.”

Hal yang sama dikemukakan Bustani, Nurlela (2003:77), ”biaya standar adalah standar biaya yang ditentukan secara ilmiah dengan estimasi rancangan tenik sebagai pengendalian biaya untuk mengukur kinerja.”

Dari ketiga pengertian diatas maka menurut penulis, Standar Cost adalah biaya yang telah ditentukan dimuka berdasarkan perunitnya untuk memudahkan mengetahui besar varians yang terjadi antara standar dengan aktual.”

D. Biaya Standar dan Kegunaannya

Untuk menentukan harga pokok suatu produk dapat dipergunakan sistem biaya sesungguhnya (actual cost system) dan sistem biaya standar

(standard cost system). Kedua sistem ini bisa dipergunakan baik untuk job order cost atau process cost accumulation.

Kalkulasi biaya standar pada umumnya dipergunakan di mana teknologi proses produksi relatif stabil, dan jenis produk bersifat homogin.

Penerapan sistem biaya stndar akan mengalami hambatan apabila teknologi proses selalu berubah-ubah dan produk yang dihasilkan bersifat spesifik dan unik sesuai dengan pesanan, dan setiap pemesan mengharapkan jenis, model dan kualitas harga yang berbeda-beda.

Pengalaman historis, studi teknis dan input dari personil operasional adalah tiga sumber potensial untuk standar kuantitatif. Meski pengalaman historis dapat memberikan petunjuk awal dalam menyiapkan standar, hal ini seharusnya digunakan dengan hati-hati. Seringkali, proses berjalan secara tidak efisien maka, menggunakan hubungan input-output dimasa yang lalu akan meneruskan ketidakefisienan. Studi teknis dapat menentukan cara paling efisien untuk beroperasi, dan dapat menyediakan petunjuk yang sangat rinci tetapi, standar yang ditetapkan sering kali terlalu rinci. Mereka bisa jadi tidak dapat tercapai oleh personil operasional. Oleh karena tenaga operasional bertanggung jawab untuk memenuhi standar, mereka seharusnya memiliki input yang signifikan dalam pembuatan standar. Prinsip-prinsip yang sama yang mengatur anggaran, berlaku dalam penetapan standar unit.

Standar harga merupakan tanggung jawab gabungan dari operasional, pembelian, personalia, dan akuntansi. Operasional menentukan kualitas input yang membutuhkan, personalia dan pembelian memiliki tanggung jawab memperoleh kualitas input sebagaimana diminta dengan harga terendah. Tekanan pasar, kelompok dagang, dan tekanan eksternal lainnya membatasi ragam pilihan standar harga. Dalam pembuatan standar harga, pembelian harus mempertimbangkan diskon, biaya pengiriman, dan kualitas. Personalia di lain pihak, harus mempertimbangkan pembayaran pajak pendapatan, fasilitas tambahan dan kualifikasi. Akuntansi bertanggung jawab atas pencatatan standar harga dan mempersiapkan laporan yang membandingkan kinerja aktual terhadap standar.

Dalam perusahaan manufaktur, biaya standar dikembangkan untuk bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

Dengan menggunakan biaya-biaya ini, biaya standar per unit dihitung.

Lembar biaya standar memberikan rincian yang menggarisbawahi biaya standar per unit.

Imanina, Dian berpendapat (2007:3), bahwa ”menentukan standar biaya, ada dua jenis standar yaitu standar ideal/teoritik dan standar normal/praktek.” Standar ideal adalah tingkat optimal kinerja dapat dicapai dalam kondisi operasi yang sempurna. Sedangkan standar normal adalah tingkat efisiensi kinerja yang dapat dicapai dalam kondisi operasi yang diharapkan. Standar ideal sangat sulit dicapai karena tidak

mempertimbangkan kendala-kendala praktis. Oleh karena itu, perusahaan kebanyakan menerapkan kendala normal, yaitu menetapkan standar dengan mempertimbangkan kendala-kendala praktis.

Sistem biaya standar dapat digunakan dalam perhitungan biaya proses maupun berdasarkan biaya pesanan. Sistem biaya standar umumnya lebih dapat beradaptasi dalam lingkungan dengan teknologi yang stabil dan menghasilkan produk yang homogen.

Menurut Bustani, Nurlela (2003:77), bahwa biaya standar membantu perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan dalam:

1. Penetapan anggaran, dengan adanya biaya standar, anggaran untuk volume dan bauran produk dapat disusun dengan cepat dan andal.

2. Mengendalikan biaya dengan cara memotivasi karyawan dan mengukur efisiensi operasi. Pengendalian biaya yang efektif tergantung pemahaman manajemen atas proses yang memicu biaya dan motivasi karyawan yang mengendalikan proses tersebut. Dalam hal ini standar menyediakan informasi sebagai dasar untuk mengevaluasi hasil operasi aktual.

3. Dapat menyederhanakan prosedur perhitungan biaya dan mempercepat penyusunan laporan biaya. Biaya standar menyederhanakan perhitungan biaya dengan cara mengurangi pekerjaan klerikal, karena dalam standar yang lengkap mencakup semua elemen biaya produksi.

4. Membebankan biaya ke persediaan, produk dalam proses, dan produk jadi.

Beberapa perusahaan tidak menggunakan biaya standar untuk perencanaan dan pengendalian persediaan. Tetapi memasukkan biaya standar dalam catatan akuntansi untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan dalam pekerjaan klerikal.

5. Menetapkan tawaran kontrak.

Menghitung biaya yang terjadi untuk suatu kontrak akan lebih mudah menggunakan biaya standar, atau jika akan memproduksi suatu produk yang spesifik. Standar sangat berguna dalam menetapkan harga jual bila standar tersebut standar yang terbaru.

Sedangkan menurut Imanina, Dian (2007:2) bahwa manfaat penggunaan Standard Costs adalah:

1. Memfasilitasi perencanaan manajemen,

2. Meningkatkan kondisi ekonomi perusahaan dengan cara Costt-Conscious,

3. Bermanfaat dalam penetapan harga jual produk,

4. Membantu manajemen dalam pengendalian karena menjadi dasar untuk mengevaluasi pengendalian biaya,

5. Membantu manajemen melihat varian-varian yang memerlukan perhatian khusus,

6. Menyederhanakan perhitungan persediaan dan mengurangi biaya- biaya klerikal.

Hal yang sama dijelaskan, menurut Hansen, Mowen (2004:419), bahwa ”dua alasan untuk penerapan sistem biaya standar seringkali disebutkan adalah untuk memperbaiki perencanaan dan pengendalian, serta untuk memfasilitasi perhitungan biaya produk.”

Perencanaan dan pengendalian, sistem biaya standar memperbaiki perencanaan dan pengendalian serta memperbaiki pengukuran kinerja.

Standar unit merupakan syarat untuk sistem anggaran, yang merupakan alat perencanaan dan pengendalian. Sistem pengendalian anggaran membandingkan biaya aktual dengan biaya yang dianggarkan, dengan menghitung varians, yaitu perbedaan antara biaya aktual dan yang direncanakan untuk tingkat aktivitas aktual. Dengan pengembangan standar harga per unit dan standar kuantitas, varians keseluruhan dapat dipisahkan menjadi varians harga dan varians efisiensi atau penggunaan.

E. Penetapan Biaya Standar dan Varians E.1 Tipe-tipe Standar

Standar umumnya diklasifikasikan baik sebagai suatu yang ideal, maupun yang saat ini dapat tercapai. Standar ideal, membutuhkan efisiensi maksimum dan hanya dapat dicapai jika segala sesuatu beroperasi secara sempurna. Tidak ada mesin yang rusak, menganggur atau kurangnya keterampilan (bahkan jika hanya sementara) yang dapat

ditoleransi. Standar yang saat ini dapat tercapai apabila beroperasi secara efisien. Kelonggaran diberikan untuk kerusakan normal, gangguan, keterampilan yang lebih rendah dari sempurna dan lainnya. Standar-standar ini sangat menantang tetapi dapat tercapai.

Dari kedua tipe standar, standar yang saat ini dapat tercapai menawarkan keunggulan dalam hal perilaku pekerja. Jika standar terlalu ketat dan tidak pernah dapat tercapai, para pekerja menjadi frustasi dan tingkat kinerja menurun. Akan tetapi, standar yang menantang dan dapat dicapai cenderung menghasilkan tingkat kinerja yang lebih tinggi, khususnya ketika para individu yang bertanggung jawab mencapai standar tersebut telah berpartisipasi dalam pembuatan standar tersebut.

E.2 Penetapan Biaya Standar Bahan Baku

Dalam penetapan standar bahan baku menurut Bustani, Nurlela (2003:78), bahwa ”ada dua jenis standar yang digunakan yaitu standar harga bahan baku dan standar kuantitas pemakaian bahan baku”.

Harga standar memungkinkan untuk :

a. Memantau kinerja bagian pembelian dan mendeteksi pengaruhnya terhadap biaya bahan baku

b. Mengukur dampak dari kenaikan dan penurunan harga bahan baku terhadap laba

Standar biaya bahan memungkinkan untuk :

a. Adanya berbagai jenis harga dari vendor yang berbeda untuk bahan yang sejenis

b. Kondisi pasar yang tidak dapat dipastikan

c. Kebijakan menekan biaya persediaan dengan filosof just in time (JIT) melalui zero inventories

Menentukan harga beli yang digunakan sebagai penetapan standar seringkali mengalami kesulitan, harga beli bahan baku lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal perusahaan dari pada faktor internal perusahaan. Harga yang dipilih sebagai harga standar sebaiknya digunakan harga yang mencerminkan harga saat ini, kalau terjadi perubahan harga baik secara berkala sebaiknya dilakukan awal periode.

Untuk penentuan penetapan biaya standar bahan baku ini perlu diperhatikan antara lain :

1. Penyusunan anggaran bahan baku 2. Penyimpanan bahan baku yang baik 3. Pembelian yang terjadwal

4. Pengiriman dan pengawasan bahan baku

E.3 Penetapan Biaya Standar Tenaga Kerja

Dalam penetapan standar biaya tenaga kerja yang digunakan yaitu standar tarif upah dan standar waktu atau efisiensi. Standar tarif lebih didasarkan pada perjanjian tawar menawar kolektif antara serikat pekerja dan perusahaan atau berdasarkan ketetapan pemerintah berdasarkan

tingkat upah minimum.Untuk memastikan tingkat keadilan upah diberikan untuk setiap operasi diperlukan ranting pekerjaan.Apabila terjadi perubahan tarif upah baik secara berkala sebaiknya dilakukan pada awal periode.

Untuk penentuan standar biaya tenaga kerja ini perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:

1. Perencanaan menyeluruh dari sistem pengupahan 2. Lingkungan perusahaan

3. Studi gerak dan waktu

4. Petunjuk yang jelas untuk setiap bidang tugas

Laporan varians masing-masing department mendorong manajer pusat biaya untuk lebih fokus hanya pada peningkatan kinerja mereka.

Jika dalam organisasi yang terpisah berusaha untuk meningkatkan efisiensi mereka masing-masing dengan mencari varians biaya standar yang menguntungkan tanpa memperhatikan pengaruh selanjutnya, maka produksi akan menurun dan tujuan memperoleh laba akan terganggu.

Selanjutnya para akuntan biaya menyadari bahwa jika mereka hanya menghitung varians dan melampirkan ke dalam laporan biaya yang diberikan pada manajemen, hal ini merupakan pemborosan waktu.

Penghitungan varians tidak sepenting mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi varians yang signifikan. Manfaat sistem biaya standar

diperoleh dari penentuan penyebab terjadinya varians dan memperbaikinya.

Standar Jam Kerja. Jam kerja sebagai salah satu dasar penetapan standar efisiensi tenaga kerja dalam mencapai produktifitas sebagai kinerjanya. Penetapan jam tenaga kerja sebagai standar dapat didasarkan dari pengalaman atau hasil studi banding dengan kegiatan sejenis atau berdasarkan penelitian yang seksama. Ini semua tetap dalam batas peraturan tentang ketenagakerjaan yang berlaku. Penetapan jam kerja standar dapat dilakukan dengan metode time and motion study, di mana penelitian dilakukan terhadap waktu yang dimanfaatkan oleh tenaga kerja setiap hari sesuai dengan kondisi nyata. Hasil penelitian diolah (rata-ratanya) untuk dapat ditentukan tingkat efisiensi dan dengan metode test runs, yaitu pendekatan untuk menentukan standar kuantitas tenaga kerja yang didasarkan pada kondisi yang sedang berlangsung, karena kegiatan tidak bersifat statis dan pada kegiatan yang sejenis belum tentu dapat menghabiskan jumlah jam yang sama. Oleh karena itu manajemen dianjurkan untuk melakukan kombinasi terhadap kedua metode tersebut untuk menentukan standar jam tenaga kerja.

Standar Tarif Tenaga Kerja. Perusahaan sering menetapkan tarif tetap untuk tenaga kerja, padahal tarif tenaga kerja langsung untuk setiap pusat biaya dapat berbeda, sehingga perlu ditetapkan standar tarif yang sesuai dengan tujuan, kinerja, keahlian dan posisi tenaga kerja yang bersangkutan. Tarif dapat ditetapkan berdasarkan pengalaman yang lalu,

kondisi saat ini dan tarif yang dipergunakan oleh perusahaan yang sejenis.

Ada tiga istilah dalam masalah tarif tenaga kerja, yaitu : Group Piece rotes, dimana manajemen menetapkan tarif tenaga kerja per department karena mengalami kesulitan untuk menetapkan tarif perjam individu. Tarif ini dapat diketahui setelah pekerjaan selesai. Tarif ini termasuk biaya tenaga kerja untuk pengerjaan kembali produk yang cacat, supervisi, biaya training pegawai baru dan juga biaya tenaga kerja akibat dari kerugian waktu (penambahan waktu kerja) dalam rangka menangani produk tertentu; incentive wages, dimana pemberian imbalan kepada tenaga kerja yang memiliki kinerja di atas standar atau tenaga kerja yang produktif; dan salaries direct labor workers, di mana tenaga kerja mengerjakan berbagai varitas pekerjaan dan varitas produk sehingga tarif ditentukan secara tetap dan mencakup tunjangan pajak, asuransi, liburan dan pensiun.

F. Analisis Varians

Menurut Bustani, Nurlela (2003:80), bahwa ”Varians adalah selisih antara biaya aktual dengan standar yang ditetapkan sebelum kegiatan operasi perusahaan dilakukan.” Hal yang sama diungkapkan oleh Imanina, Dian (2007:8), bahwa ”Varians adalah perbedaan antara actual costs dengan standard costs.” Jika actual costs lebih tinggi dari pada standard costs maka varians ini adalah unfavorable. Sebaliknya jika actual cost lebih dari standar cost maka varians ini adalah favorable.

Unfavorable memiliki konotasi yang negatif karena menunjukkan bahwa harga atau pembayaran terlalu mahal atau dapat juga

menunjukkan bahwa terjadi inefisiensi dalam proses produksi. Sebaliknya, favorable memiliki konotasi yang positif karena menunjukkan efisiensi dalam proses produksi baik dalam biaya maupun kuantitas.

Menurut Mulyadi, (2001:45) ”Analisis varians adalah analisis yang digunakan untuk menginterprestasikan dengan tepat signifikansi dari suatu varians. ”Analisis digunakan untuk mengetahui elemen-elemen biaya mana yang mengalami penyimpangan.

G. Konsep Pengendalian

G.1 Pengertian dan Manfaat Pengendalian

Pengendalian secara umum dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan manajemen agar pelaksanaan tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Pengendalian adalah tugas untuk mencocokkan sampai dimana program atau rencana yang telah digariskan itu dilaksanakan dan salah satu fungsi manajemen yang merupakan pengukuran dan koreksi semua kegiatan dalam rangka memastikan bahwa tujuan-tujuan dan rencanarencana organisasi dapat terlaksana dengan baik. Pengendalian dapat pula diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur kebijakan finansial dan operasional dari suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan perusahaan tersebut. Adapun manfaat dari pengendalian yaitu menjaga kekayaan perusahaan, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

G.2 Prosedur pengendalian

Prosedur utama sistem pengendalian antara lain meliputi :

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.

2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya.

3. Praktek yang sehat dan fungsi setiap unit organisasi.

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

G.3 Pengendalian Biaya

Pengendalian biaya adalah pengurangan biaya dari jumlah biaya besar yang terjadi yang merupakan pengorbanan yang dapat diukur dengan satuan uang atas kepemilikan barang atau jasa untuk suatu tujuan tertentu.

Menurut Mulyadi (2001:501), untuk melakukan pengendalian biaya di dalam perusahaan tergantung besar kecilnya perusahaan tersebut, dan telah berkembang melalui lima tahapan yaitu :

a. Pengendalian dengan pengawasan fisik

Dalam perusahaan kecil, biasanya pimpinan sekaligus pemilik perusahaan, perencanaan dan pengendalian terhadap pelaksana rencana dilakukan secara langsung oleh pimpinan perusahaan.

Pimpinan perusahaan memiliki kemampuan yang memadai untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya.

b. Pengendalian biaya dengan menggunakan akuntansi historis

Jika perusahaan berkembang, maka pimpinan perusahaan tidak lagi dapat mengamati secara fisik, tetapi memerlukan catatan historis untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya dari periode ke periode. Untuk tingkat perkembangan tertentu, pimpinan perusahaan cukup melakukan perencanaan dan pengendalian dengan membandingkan catatan dari tahun ke tahun.

c. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran statis dan biaya standar

Jika perusahaan semakin berkembang, pimpinan perusahaan tidak lagi menghadapi masalah bagaimana pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan dengan apa yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya, tetapi bagaimana pelaksanaan pada tahun berjalan jika dibandingkan dengan yang seharusnya dilaksanakan pada tahun tersebut. Pada tingkat perkembangan ini, pimpinan memerlukan anggaran dan standar sebagai alat untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya. Pimpinan perusahaan mulai memperbaiki sistem perencanaan dan pengendalian kegiatannya dengan membuat anggaran statis dan biaya yang sederhana.

d. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran fleksibel dengan biaya standar

Dalam kenyataanya, kapasitas yang direalisasikan seringkali menyimpang dari kapasitas yang direncanakan. Maka, cara perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan kemudian diperbaiki dengan mengembangkan anggaran fleksibel dengan biaya standar. Anggaran fleksibel disusun untuk berbagai tingkat kapasitas yang direncanakan, sehingga anggaran ini menyediakan tolak ukur prestasi yang mendekati kapasitas sesungguhnya yang dicapai.

e. Pengendalian biaya dengan pembuatan pusat-pusat pertanggungjawaban dan penerapan sistem akuntansi pertanggungjawaban

Dalam perusahaan besar, kegiatannya telah dibagi menjadi pusat-pusat pertanggungjawaban. Perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan dilaksanakan dengan mengembangkan anggaran untuk setiap pusat pertanggungjawaban. Manajer pusat pertanggungjawaban dinilai prestasinya dengan cara membandingkan anggaran yang disusun dengan realisasinya. Setiap manajer pusat pertanggungjawaban hanya dinilai berdasarkan hal-hal yang mereka kendalikan.

H. Kerangka Pikir

Hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus. Dalam organisasi usaha hotel pada umumnya terdapat berbagai departemen seperti Housekeeping, Food & Beverage, Human Resource, Engineering, Security, Sales &

Marketing, Front Office dan Accounting departement tergantung besar kecil aktivitas operasional hotel.

Berkembangnya bisnis perhotelan dan semakin luas scope usaha dan perusahaan, maka semakin mendesak kebutuhan manajemen akan alat yang dapat membantu manajemen untuk perencanaan dan pengendalian sumber daya yang dimilikinya. Dengan adanya beberapa departemen, masing-masing individu harus mempunyai kesadaran yang tinggi tentang pentingnya saving cost agar perusahaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan demi tercapainya penghematan biaya dalam artian pengendalian biaya

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini berlangsung mulai dari bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan Desember 2011. Penelitian ini dilaksanakan pada Hotel Horison Makassar di Jl. Jend. Sudirman No.24 Makassar, Sulawesi Selatan.

B. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Metode observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian kepada pimpinan perusahaan dan bagian yang terkait.

2. Metode Interview, yaitu wawancara dengan beberapa responden terkait dengan penelitian.

3. Telaah Dokumen, yaitu pengambilan data yang relevan sehubungan dengan penyiapan informasi yang diperlukan, berupa laporan tahunan tentang kegiatan volume penjualan dan penetapan harga kamar, gambaran umum perusahaan termasuk pengelolaan personil, struktur organisasi dan kegiatan operasional lainnya.

C. Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer, yaitu data yang bersumber dari dalam perusahaan berupa hasil pengamatan, wawancara dengan pimpinan dan beberapa staff yang terkait seperti data harga kamar dan penjualan kamar, termasuk sejumlah informasi yang diperlukan.

2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari bahan tertulis melalui dokumen-dokumen seperti sejarah berdirinya perusahaan dan laporan lainnya.

Sedangkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Data Kualitatif , yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa dokumen atau data tertulis seperti sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi perusahaan dengan masing-masing pembagian tugas dan tanggung jawabnya.

2. Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa angka-angka, seperti laporan keuangan, bukti penerimaan kas, buku besar, kartu piutang, jurnal umum, dan dokumen-dokumen lain yang terkait dengan pencatatan pendapatan.

3. Data Regresi, yaitu model peramalan, penaksiran atau pendugaan, dengan tujuan untuk meramalkan atau menduga nilai dari suatu variabel dalam hubungannya dengan variabel yang lain yang diketahui melalui persamaan garis regresinya.

D. Metode Analisa

Adapun metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah Descriptive Analisis, yaitu dengan menerapkan elemen prosedur sebagai proses pengendalian biaya untuk meningkatkan efisiensi operasi perusahaan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat Berdirinya Hotel Horison Makassar

Hotel Horison Makassar adalah Hotel yang terletak di Jl.

Jend. Sudirman No. 24 Makassar, pada awalnya Hotel ini bernama Hotel Victoria Makassar yang kemudian direnovasi dan mengganti namanya menjadi Hotel Horison Makassar. Hotel Horison Makassar beroperasi dan mulai diresmikan pada bulan Agustus tahun 2006.

Hotel Horison Makassar adalah salah satu Hotel Group yang dikelola secara professional oleh PT. MGM (Metropolitan Golden Management) yang berkantor pusat di Jakarta, Horison Hotel sampai saat ini sudah ada di beberapa wilayah Indonesia yaitu Bekasi, Palembang, Semarang, Bandung, Dago Pakar, Makassar, Kendari, Pekan Baru, Ubud Bali dan Mamuju. Horison

Hotel Horison Makassar adalah salah satu Hotel Group yang dikelola secara professional oleh PT. MGM (Metropolitan Golden Management) yang berkantor pusat di Jakarta, Horison Hotel sampai saat ini sudah ada di beberapa wilayah Indonesia yaitu Bekasi, Palembang, Semarang, Bandung, Dago Pakar, Makassar, Kendari, Pekan Baru, Ubud Bali dan Mamuju. Horison

Dokumen terkait