• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pengertian Bisnis dan Jual Beli

Bisnis merupakan salah satu kegiatan yang bersifat ekonomi yang di mana terjadinya transaksi jual beli,tukar menukar,ataupun memproduksi/ memasarkan,mempekerjakan dan interaksi manusia lainnya dengan maksud memperoleh untung mungkin bisnis dapat dilukiskan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan untung. Dalam bisnis modern untung itu dideskripsikan dalam bentuk uang tetapi hal itu tidak hakiki dalam bisnis yang penting ialah kegiatan antara manusia ini mencari untung dan karena itu menjadi kegiatan ekonomis tetapi perlu segera di tambahkan pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak tetapi diadakan dalam interaksi bisnis berlangsung sebagai komunikasi sosial yang menguntungkan kedua belah pihak.

Jual beli atau perniagaan dalam istilah fiqih disebut al-bai yang Menurut etimologi berarti menjual atau mengganti. Wahbah al-Zuhaily mengartikan secara Bahasa dengan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al bai dalam Bahasa arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya yaitu kata Syira (beli). Dengan demikian kata al-bai‟a berarti jual tetapi sekaligus berarti beli.

Secara terminologi terdapat beberapa definisi jual beli yang masing masing definisi sama sayyid sabiq memberi pengertian bahwa jual beli ialah penukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan milik dangan ganti yang dapat dibenarkan dalam definisi tersebut harta milik dengan ganti dan dapat dibenarkan. Yang dimaksud harta dalam definisi di atas yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat, maka dikecualikan yang bukan milik dan tidak bermanfaat.

Yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah ( pemberian) sedangkan yang dimaksud dapat dibenarkan(Ma‟dzun Fih) agar dapat dibedakan dengan jual beli terlarang.

Ulama hanafiyah mendefinisikan bahwa jual beli adalah saling tukar harta dengan harta lain melalui cara yang khusus. Yang dimaksud ulama hanafiyah dengan cara yang khusus adalah melalui ijab qabul atau juga boleh melalui saling memberikan barang dan harta dari penjual dan pembeli.

Ibnu Qudamah, memberikan definisi bahwa jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilik.

Dalam definisi ini ditekankan kata milik dan pemilikan, dan ada juga tukar menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki seperti sewa menyewa.

Dari beberapa definisi diatas dapat dipahami bahwa jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda ( barang ) dan mempunyai nilai secara ridaha di antara kedua belah pihak yang satu menerima benda ( barang ) yang dijual dan pihak lain menerimanya sesuai dengan

perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara dan disepakati inti dari beberapa pengertian tersebut mempunyai kesamaan mengandung hal-hal antara lain :

a. Jual beli dilakukan oleh dua orang yang saling melakukan tukar menukar.

b. Tukar menukar tersebut atas suatu barang atau sesuatu yang dihukum seperti barang, yakni kemanfaatan dari kedua belah pihak.

c. Sesuatu yang tidak berupa barang/ harta atau dihukumi sepertinya tidak sah untuk diperjual belikan.

d. Tukar menukar tersebut hukumnya tetap berlaku yakni kedua belah pihak memiliki sesuatu yang diserahkan kepadanya dengan adanya ketetapan jual beli dengan kepemilikan abadi.

2. Etika Jual Beli dalam islam

Etika adalah sebuah gambaran sebuah moral yang aplikasikan oleh sebuah manusia dalam kehidupan sehari hari, dan adapun etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dan biasanya menyoroti perilaku baik buruknya seseorang. Begitupun dalam hal bisnis dan jual beli.

Etika jual beli yang harus diperhatikan dalam transaksi (akad) jual beli tidak hanya capital (modal) dan secara fisik lainnya, tetapi yang tidak

kalah pentingnya adalah norma dan akhlak (etika jual beli) dan faktor mental spiritual yang tidak layak diabaikan dalam proses transaksi jual beli. Sebagaimana hal hal di bawah ini:

a. Taqwa, taqwa adalah menjadi barometer dan jaminan keberhasilan dalam transaksi (akad) jual beli.

b. Tawakal, Islam mengajarkan tawakal yaitu resna & renop (rencana strategi dan rencana operasional) membuat perhitungan dan rencana yang matang kemudian melaksanakannya dengan sebaik-baiknya seraya tawakal kepada Allah SWT.

c. Menghindari sumpah makruh hukumnya seorang pedagang yang banyak bersumpah walaupun keberadaanya benar seharusnya pedagang sedapat mungkin menghindari terjadinya sumpah atas nama allah dalam hal akad karena hal itu merupakan sebuah bentuk hinaan terhadap namanya sedangkan kalau terjadi sumpah bohong dan sengaja maka hukumnya haram dan bolehnya bersumpah hanya bisa dikatakan dengan nama Allah sebagaimana hadits Nabi.

َِّاللّاِب َّلاِا ْفِلْحٌَ َلاَفاًفِلاَح َنَاك ْنَم )عس ّنا هور(

Artinya Barang siapa yang bersumpah, janganlah ia bersumpah kecuali atas nama Allah (diriwayatkan oleh nasa‟i hadits nomor 481)

d. Melakukan pembukuan seorang pedagang seharusnya mencatat dan menuliskan waktu tempat jumlah uang dan barang yang

diberikan (diterima) ketika terjadinya akad karena hal itu bertujuan untuk memelihara dari lupa.

e. Mengeluarkan zakat, infaq,dan sedekah pedagang yang baik dan bersyukur akan mengeluarkan zakat sehingga akan memperoleh kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT firman dalam surah Ali Imran ayat 92

( ٌمٌِْلَع ِهِب َ َّاللّ َّنِاَفٍءًَْش ْنِما ْوُقِفْنُتاَم َو َن ْوُّب ِحُت اَّمِما ْوُقِفْنُت ىَّتَح ِّرِبْلااوُل اَنَت ْنَل هٌعلا : نرمعٌلع

99

)

yang artinya “ kamu sekali kali tidak sampai kepada kebajikan ( yang sempurna ) sebagaimana kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…”

f. Mempunyai niat baik g. Jujur dan amanah h. Qanaah

i. Silaturahmi adalaha sebuah hubungan yang dapat mempererat tali persaudaraan yang baik saling tolong menolong dalam kebaikan.

3. Syarat-syarat sah jual beli

Kondisi umat saat memang menyedihkan, dalam praktek jual beli mereka menyepelehkan batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman.

Melalaikan ajaran agama tidak adanya rasa takut sama sekali terhadap Allah merupakan wujud yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut tidak tangung-tanggung berbagai upaya tempuh agar keuntungan dapat diraih bahkan dengan melekatkan label syar’i

pada praktek perniagaan yang sedang mereka belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu transaksi ribawi.

Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan pada pedagang saat ini mungkin kita dapat menarik satu konklusi bahwa sebagian besar pedagang dengan “ringan tangan” menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya.

Oleh karena itu seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat sah jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syariat dan tidak terjerumus dalam tindakan haram, adapun sebagai berikut :

a. Pertama persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun pembeli :

1) Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela.

2) Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli yakni dia adalah seorang mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang) sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang di paksa.

b. Kedua yang berkaitan dengan objek barang yang diperjual belikan syarat syaratnya

Objek jual beli baik berupa barang jual atau harganya/uang merupakan barang yang suci dan bermanfaat bukan barang najis

atau barang yang haram, karena barang secara zatnya haram terlarang untuk di perjual belikan

1) Objek jual beli merupakan hak milik penuh, seseorang bias menjual barang yang bukan miliknya apabila mendapat izin dari pemiliknya.

2) Objek jual beli dapat diserah terimakan sehingga tidak sah menjual bagi objek yang mengandung gharar (spekulasi)

3) Objek jual beli diketahui jumlah pembayarannya kedua belah pihak.

4. Etika jual beli dalam alquran dan Assunah

Dalam jual beli haruslah senantiasa berlandaskan ayat dan hadits agar supaya mendapat berkah dan rahmat oleh Allah SWT dan dapat bernilai pahala baik di dunia dan di akhirat.

Dan adapun landasan beretika jual beli yang baik berlandaskan Al Qur‟an dan Hadits Nabi sebagai berikut :

a. Menurut al quran

Artinya :Celakalah bagi orang-orang yang curang(dalam menakar dan menimbang yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan dan apabila mereka menakar dan menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi. Tidaklah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,pada suatu hari besar yaitu pada hari(ketika) semua orang bangkit menghadap tuhan seluruh alam.”(QS. Muthaffifin Ayat 1-6).

Dari ayat diatas menerangakan bahwa Allah telah menegaskan bahwa celaka bagai orang orang yang berdagang dengan menggunakan sistem kecurangan yang di mana dalam cara berdagang itu Allah tidak memberkahi dunia dan akhiratnya.

2) ُعٌَْبْلااَمَّنِاا ْوُلاَق ْمُهَّنَاِب َكِلَذ ِّسَمْلا َن ِم ُنَطٌَّْشلا ُهُطَّبَخَتٌَ ْيِذَّلا ُمُقٌاَمَكَّلاِا َن ْوُم ُقٌََلااوَب ِّرلا َن ْوُلُكْاٌَ َنٌْذَّلَا berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantara( tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba padahal allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba orang orang yang telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya lalu trus berhenti( dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu ( sebelum larangan) dan urusannya ( terserah ) kepada Allah. Orang kembali yang kembali ( Mengambil riba) maka orang itu penghuni-penghuni neraka mereka kekal didalamnya (QS. Al Baqarah ayat 275).

Makna ayat diatas kita sebagai muslim sekiranya menghindari yang namanya riba sebab itu dilarang oleh Allah SWT sebab dosa riba tetap akan di pertanggung jawabkan kelak di hari akhir.

3) 99: ءاسنلا....ْمُكْن ِم ٍض اَرَت ْنَع ًة َر اَجِت َن ْوُكَت ْنَا َّلاا ِل ِط اَبْل اِب ْمُكَنٌَْب ْمُكَلا َوْما ْوُلُكْؤَت َلا....

“…. Janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kamu…” (QS. An-Nisaa : 29)

b. Menurut hadits

1) )ًهبلا هاإر( ٍضا َرَت ْنَع َعٌَْبْلااَمَّنِا Artinya :“jual beli itu didasarkan suka sama suka.(HR Baihaqi) 2) ٌروُرُبُم ٌعٌُُب ُّلُك ُو ُهُد ٌُُب ٌلٌجَّرلا ُلُمُع: ُلُق ؟ ٌفٌبٌطا ٌبُسُكْلا ٌّيَا : َمَّلَس َو ِهٌَلَع ُ َّاللّ ىَّلَص ًُّبنلا ُل ُئُس

Artinya :” rasulullah SAW ditanya oleh sahabat ditanya mengenai profesi yang baik rasulullah pun menjawab usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati.”( HR. Al Hakim ).

3) Hadits yang diriwayatkan at Tirmidzi Rasullah SAW bersabda:

)ي ذم رتلا هاإر( ِءاَدَهُّشلا َو َنٌِْقٌِّد ِّصلا َو َنٌَِّبَّنلا َعَم ُنٌْ ِمُلأا ُق ْوُدَّصلاٌر ِج اَّتل أ Artinya : “pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya di surga) dengan para nabi, shidiqqin dan syuhada”.

5. Pengertian Pertanian

Sektor pertanian adalah sektor yang sangat penting yang dapat berperan dalam perekonomian daerah dan nasiona, kelangsungan hidup masyarakat terutama sumber pendapatan dalam PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang di mana petani berperan dalam segi pendapatan daerah atau dalam negeri itu sendiri, penyediaan lapangan kerja dan bersifat penyediaan pangan sehingga dapat menstabilkan baik lapangan kerja maupun pangan. Sektor pertanian lebih mengedepankan kegiatan pengembangan sumber daya hayati yang mana lebih kepada menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi serta mengelola lingkungan hidup oleh karenanya sektor pertanian adalah sektor paling dasar dalam perekonomian yang merupakan penopang kehidupan produksi dan lainnya.

Pembangunan bidang pertanian adalah suatu hal yang sangatlah penting dan tidak bisa ditawar lagi karena sebagian besar warga Indonesia tergabung dalam pertanian seperti halnya konsumsi beras dan bekerja di sektor perairan dan sektor pertanian itu sendiri adalah

membenuk kesempatan kerja dan berkontribusi dalam penyedianan dan expor.

Menurut monsher pertanian adalah suatu bentuk aktivitas yang khas di dasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan petani mengelola dan merancang pertumbuhan tanaman dalam suatu usaha tani, yang mana proses memproduksi adalah kegiatan usaha sehingga pendapatan dan pengeluaran cukup penting bagi kegiatan usaha.

Menurut Van Aarsten pertanian adalah digunakan kegiatan manusia memperoleh hasil yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan pada mulanya dicapai dengan jalan sengaja menyempurnakan segala kemungkinan yang telah diberikan oleh alam guna mengembangkan tumbuhan dan hewan tersebut.

6. Pertanian dalam pandangan Islam.

Selain nikmat kesehatan dan umur Allah juga memberikan nikmat kepada manusia adalah nikmat yang ada dalam muka bumi yaitu hewan dan tumbuhan. Pada zaman Islam sektor pertanian yang paling maju dan berkembang dalam segi teknologi dan ilmu pengetahuan dalam sektor pengairan,cocok tanam, dan penyimpanan hasil panen serta alat pertanian lainnya. Jika dilihat dari kondisi sekarang seharusnya pengelolaan pertanian di Indonesia penduduknya yang mayoritas muslim bisa meniru perkembangan pertanian pada masa keemasan Islam.

Dalam pandangan Islam bilamana pertanian merupakan satu satunya bidang yang seseorang yang boleh mencari nafkah bagi diri

sendiri dan keluarganya maka hukum bertani itu adalah Farduh’Ain baginya, sebaliknya menjadi fardhu kifayah pula kepada siapa yang melakukannya bagi kepentingan semua orang untuk menyediakan pangan dan makanan yang cukup bagi semua. Dalam hal ini pertanian memiliki peran penting dan utama guna mendukung sektor kehidupan.

Sedangkan dari aspek kepercayaan kegiatan pertanian dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat ditinjau dari proses kejadian tumbuh-tumbuhan atau tanaman bila seseorang itu melakukan usaha pertanian akan membuat seseorang itu memahami makna sebenarnya konsep tawakal dan beriman kepada kekuasaan yang memberikan hasil yaitu Allah SWT.

Namun itu pada dasarnya hanya 3 profesi sebagaimana disebutkan oleh imam Al Mawardi beliau berkata “ keutamaan mata pencahariaan itu adalah bercocok tanam (Pertanian),pedagang, dan pembuat suatu barang ”.

Para ulama berbeda pandangan tentang manakah yang paling mulia dari ketiga profesi tersebut. Mazhab As-Syafi‟i berpendapat bahwa pertanian adalah yang paling baik. Sedangkan Imam Al-Mawardi dan Imam An-Nawawi berpendapat bercocok tanaman yang baik dan berkah karena beberapa alasan :

1) Bercocok..tanam adalah merupakan hasil usaha tangan sendiri.

2) Bercocok tanam memberikan manfaat bagi kalangan umum baik itu muslim maupun non muslim karena secara garis besar manusia adalah makhluk sosial bahkan dipandang dari segi adat manusia dan hewan haruslah makan.

3) Bercocok tanam lebih dekat dengan tawakal,sebab manusia akan lebih dekat tidak mempunyai hak atas tanaman itu walau sebiji pun.

Rasulullah SAW pun bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, “ tidaklah seorang muslim yang bertani atau berladang lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia maupun binatang melainkan bagi dirinya dari tanaman itu pahala dan sedekah “.

a. Pertanian dalam peradaban islam

Pada sekitar abad 7-8 agama Islam berkembang sangat pesat mulai dari Asia, Afrika dan Eropa pengenalan tanaman baru diikuti dengan cara teknik teknologi bercocok tanamnya, sebelumnya petani di kawasan arab dan afrika memulai musim tanam ketika musim dingin tiba sedangkan pada musim panas sawah mereka dibiarkan kosong dan mereka pun menganggur model bercocok tanam ini tidak boleh dipertahankan setelah revolusi pertanian terjadi pada era Islam keran padi,kapas, tebu hanya dapat tumbuh dan berubah pada musim panas.

Menurut sejarah Islam setelah Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah Rasulullah telah menginformasikan dan menggerakan usaha

pertanian agar ditingkatkan, di wilayah Madinah waktu itu sangatlah subur perlu diusahakan lebih giat Nabi Muhammad SAW bersabda “ barang siapa yang mempunyai tanah hendaklah mengerjakannya dengan bertani atau jika ia tidak berupaya melakukannya hendaklah menyerahkan kepada saudaranya supaya diusahakan dan janganlah ia menyewakan, sekalipun hanya sepertiga atau seperempat ” hadits riwayat Abu Daud.

b. Pertanian sebagai pelajaran bagi orang beriman

Ukuran sebuah keimanan seseorang diuji dan dilihat dari sebagaimana ia mengelola usaha pertaniannya jika sewaktu waktu diperlihatkan musibah maka kita selalu beriman kepadanya , begitu pula dalam hal Allah menurunkan rezeki pada kita sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an surat Al Baqarah ayat 155 sebagai berikut :

َوْمَلاا َن ِّم ٍصْقَن َو ِع ْوُجْلا َو ٍف ْوَخْلا َنِم ٍء ًَْشِب ْمُكَّن َوُلُبَّنَل َو َنٌْ ِرِبَّصلا ِرِّشَب َو ِتَرَمَّثلا َو ِسُفْنَلاا َوِل

Artinya : dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan,harta,jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Al-Baqarah ayat 155)

c. Pertanian sebagai pekerjaan yang mulia

Pertanian adalah seseorang yang mengelola pertanian guna mendapat hasil tanaman. Dari hasil pertanian tersebut digunakan untuk memenuhi kehidupan makhluk hidup khususnya manusia terutama dalam segi pangan. Dikatakan bagi semua makhluk hidup karena hewan dan

serangga pun juga menikmati hasil pertanian sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 22

ِهِب َجَرْخآَف َءآَم ِءآَمَّسلا َن ِم َلَزْنا َوَءآَنِب َءآَمَّسلا َو اًش َرِف َض ْرَلاا ْمُكَل َلَعَج ْيِذَّلا ْوُلَعْجَت َلاَف َن ِم ْمُكَّل اًق ْز ِرِت َرَمَّثلا

َن ْوُمَلْعَت ْمُتْنَا َّواَداَدْنَا ِ َّ ِاللّ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan menurunkan air hujan dari langit lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui

7. Definisi Pengepul/Pedagang

Perdagangan atau perniagaan pada umumnya adalah pekerjaan membeli barang dari suatu tempat dan suatu waktu dan menjual barang tersebut ke tempat dan waktu lainnya untuk memperoleh keuntungan dengan arti bahwa pedagang atau pengepul merupakan perantara antara masyarakat dengan perusahaan.

Perdagangan adalah suatu aktivitas jual beli yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan, usaha perdagangan dapat dimulai pada unit kecil hingga unit besar semisal negara dan lainnya. Perdagangan skala unit kecil misal warung ,kelontong dan lainnya sedangkan skala besar misal negara semacam expor impor bahan mentah minyak nilam,kelapa sawit, batu bara yang berskala perusahaan.

Pengertian perdagangan Menurut para ahli menunjuk kepada proses jual beli baik barang ataupun jasa dimana penjual dan pembeli merasa saling diuntungkan, penjual memperoleh nilai laba sedangkan pembeli memperoleh yang dibutuhkan. Menurut Marwati Djoened

perdagangan ialah suatu kegiatan ekonomi yang menghubungkan produsen dan konsumen dan sebagai kegiatan distribusi, maka perdagangan menjamin terhadap penyebaran, peredaran dan penyediaan barang dengan melalui mekanisme pasar yang ada.

Pengertian dagang (dalam arti ekonomi), yaitu segala perbuatan perantara antara produsen dan konsumen. Pada pokok perdagangan mempunyai tugas untuk :

a. Membawa dan memindahkan barang-barang dari tempat- tempat yang berlebihan ke tempat-tempat yang kekurangan b. Memindahkan barang-barang dari produsen ke konsumen.

c. Menimbun dan menyimpan barang-barang itu dalam masa yang berlebihan sampai mengancam bahaya dan kekurangan.

8. Pengertian Perdagangan dalam Islam

Agama Islam memang menghalalkan usaha perdagangan perniagaan dan jual beli. Namun tentu saja untuk orang yang menjalankan usaha perdagangan secara Islam, dituntut menggunakan tata cara khusus, atau mainya mengatur bagaimana seharusnya yang sesuai dengan sistem jual Islam itu sendiri, seorang muslim berusaha atau berniaga biasanya hanya mencari berkah dan ridho Allah SWT semata.

Secara etimologi perdagangan yang intinya jual beli, berarti saling menukar Al Ba’I artinya menjual, mengganti dan menukar ( sesuatu dengan sesuatu yang lainnya ) dan Asy-syira’ artinya beli adalah dua

kata yang dipergunakan dalam pengertian yang sama akan tetapi berbeda sedangkan Al bai secara terminology para ahli fiqih menyampaikan definisi perdagangan yang berbeda-beda Menurut Madzhab hanafiyah perdagangan adalah “ menukar harta dengan harta melalui tata cara tertentu atau mempertukarkan Sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tata cara tertentu dapat dipahami secara Al- Bai seperti melakukan ijab dan Ta‟athi ( saling menyerahkan).

Menurut Imam Nawawi definisi perdagangan yaitu mempertukarkan harta dengan harta bertujuan untuk kepemilikan, Ibnu Qodamah adalah “ Mempertukarkan harta dengan harta untuk tujuan pemilikan dan menyerahkan milik ” .

Sedangkan Menurut Al –Qurtubi suatu kegiatan tukar menukar barang yang didalamnya mencakup bentuk jual beli yang dibolehkan dan memiliki tujuan.

Dalam perdagangan dalam Islam perlu kiranya memiliki etika dan dalam aturan Islam dalam berdagang sebab tujuan besar dalam berdagang dalam islam mencari rahmat dan ridho Allah SWT semata.

Dalam berdagang dalam islam hanya perlu memperhatikan kejujuran,amanah,menepati janji, tidak mengurangi takaran dan timbangan,tidak mempermainkan harga,dan keterbukaan guna mencari ridho Allah SWT semata

Dalam perdagangan yang perlu ditekankan dengan baik sebagai berikut :

a. Jujur

Seorang pedagang wajib memiliki sifat jujur dalam melakukan usaha jual beli , jujur dalam arti luas tidak berbohong, tidak menipu,tidak mengada-ngada fakta,tidak berkhianat, serta tidak pernah ingkar janji dan lainnya. Dalam Al-Quran keharusan sikap jujur dalam berdagang berniaga atau jual beli sudah diterangkan sangat jelas dengan tegas dalam surah Al- Isra ayat 35 sebagai berikut :

ًلاٌِو ْؤَت ُنَسْحًأ َو ٌرٌَْخ َكِلَذ ِمٌِقَتْسُمْلُا ِس اَطْسِقْل ُاِب ْا ْوُن ِز َو ْمُتْلِك اَذِإ َلٌَْكلُا اوُف ْوَأ َو

“ Dan sempurnakan takaran ketika kamu menakar dan timbangan dengan neraca yang benar ”.(Q.S. Al-Isra/17 :35)

Inilah ayat yang menegaskan bahwa perlu adanya kejujuran yang baik dengan takaran yang baik.

b. Amanah (tanggung jawab)

Setiap perdagangan bertanggung jawab atau usaha dan pekerjaan atau jabatan sebagai pedagang yang dipilihnya tersebut. tanggung jawab di sini artinya mau dan mampu menjaga amanah masyarakat yang memang secara otomatis terbeban di pundak, pandangan Islam setiap pekerjaan manusia ialah mulia berdagang berniaga atau jual beli juga merupakan suatu pekerjaan yang mulia tugasnya untuk memenuhi kebutuhan seluruh atau setiap anggota masyarakat antara barang dan jasa sesuai kebutuhan masyarakat kepentingan hidup dan kehidupannya.

c. Menepati Janji

Seorang pedagang dituntut untuk selalu menepati janjinya baik kepada konsumen maupun antara sesama pedagang, terlebih terkhusus menepati janji kepada Allah SWT janji yang harus ditepati oleh pedagang kepada konsumen misalnya tepat waktu pengiriman,menyerahakan barang dengan kualitas yang baik, warna,ukuran dan spesifikasinya sesuai dengan perjanjian semula antara pedagang dan konsumen itu sendiri dan memberikan pelayanan yang baik serta garansi jika dibutuhkan dan lain sebagainya juga menjaga kepercayaan dan menyempurnakan masalah janji.

Seorang pedagang dituntut untuk selalu menepati janjinya baik kepada konsumen maupun antara sesama pedagang, terlebih terkhusus menepati janji kepada Allah SWT janji yang harus ditepati oleh pedagang kepada konsumen misalnya tepat waktu pengiriman,menyerahakan barang dengan kualitas yang baik, warna,ukuran dan spesifikasinya sesuai dengan perjanjian semula antara pedagang dan konsumen itu sendiri dan memberikan pelayanan yang baik serta garansi jika dibutuhkan dan lain sebagainya juga menjaga kepercayaan dan menyempurnakan masalah janji.