• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEDAULATAN SUATU NEGARA ATAS SUATU ZONA

C. Pengertian Dan Batas-Batas Terapan Zona Larangan Terbang

15

Ibid. Hl 158

C. PENGERTIAN DAN BATAS-BATAS TERAPAN ZONA LARANGAN

TERBANG

Berdasarkan prinsip hukum udara internasional, masalah penetapan zona

larangan terbang merupakan upaya negara-negara untuk mempertahankan

kedaulatannya di ruang uadara. Sejak sebelum pecahnya Perang Dunia Pertama,

sejalan dengan perkembangan teknologi penerbangan, negara-negara di dunia ini

berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang mendorong mereka untuk

menetapkan zona larangan terbang. Pengalaman selama Perang Dunia Pertama

tersebut telah membuktikan kebenaran konsep bahwa kedaulatan negara kolong

terhadap ruang udara nasional di atas teritorial negaranya perlu ditegaskan.

Keselamatan dan keamanan wilayah udara nasional sesuatu negara perlu

dipertimbangkan dan diregaskan. Di sisi lain perlu diperketat sistem pengamanan

dan pengawasan kawasan udara. Padahal dari sudut pandang lain, negara-negara

menyadari pula bahwa teknologi serta alat transportasi baru yang memanfaatkan

ruang udara sebagai sarana lalu lintasnya, sesungguhnya bersifat internasional dan

mempinyai karakteristik khusus. Berbeda dengan alat pengangkut lain di darat

dan di laut, maka pengankutan melalui udara ini bersifat lintas batas geografis, di

mana kemampuan melewati dan menembus batas-batas wilayah udara nasional

Pada dasarnya wilayah udara sesuatu negara adalah tertutup bagi aktivitas

penerbangan negara lain. Oleh karena itu setiap penerbangan yang melintasi

wilayah udara suatu negara oleh negara pesawat asing negara lain tanpa izin

negara kolong, merupakan pelanggaran wilayah udara. Begitu lepas landas,

pesawat terbang akan mempunyai kemampuan dan kecepatan dan kebebasan yang

sangat luas, sehingga alat transportasi yang ditemukan oleh Wright bersaudara

pada awal abad kedua puluh tersebut mempunyai potensi penggunaan secara

militer yang sangat luar biasa. Merupakan kenyataan yang tidak dapat dibantah

bahwa ruang udara sebagai sarana lalu lintas pesawat terbang merupakan pula

media yang berpotensi untuk melancarkan serangan udara oleh pesawat musuh

negara kolong.

Dengan demikian, sejalan dengan prinsip bahwa wilayah udara nasional

sesuatu negara tertutup bagi penerbangan asing, maka setiap warga negara yang

memiliki kemampuan serta kekuasaan udara kemudian menetapkan bagian-bagian

wilayah udaranya yang tertentu dan khusus yang berdasarkan pertimbangan

kemamanan dan pertahanan perlu dilindungi. Pada bagian wilayah udara tertentu

tersebutlah yang dinamakan Zona udara terlaran atau Zona larangan terbang, di

mana dinyatakan secara tegas bahwa kawasan tersebut terlarang bagi penerbangan

asing. Kesadaran untuk menetapkan bahwa sesuatu negara kolong mempunyai

kedaulatan yang penuh terhadap ruang udara di atasnya, adalah sebagai akibat

pesatnya kemajuan perkembangan teknologi transportasi udara. Kesadaran

negara-negara telah mendahului suatu kaidah hukum internasional yang baru

Zona larangan terbang yang diciptakan oleh negara-negara maju untuk

melindungi kawasan ruang udara dari penerbangan asing, mempunyai batas-batas

yang ditetapkan secara sepihak oleh negara pencipta tersebut. Menurut prinsip

Hukum Udara Internasional, luas dan lokasi zona harus didasarkan pada prinsip

yang wajar, sehingga tidak menimbulkan konflik yang sesungguhnya pada

navigasi udara.

Zona larangan terbang diatur dalam Konvensi Paris 1919 yang kemudian

diperbaiki dengan Protokol Paris 1929. Pada pasal 3 Protokol Paris 1929 diatur

mengenai bentuk zona larangan terbang, yaitu terdiri dari dua bentuk :

1) Zona larangan terbang yang ditetapkan atas dasar alasan pertahanan dan

keamanan atau militer. Zona dengan bentuk semacam ini bersifat permanen,

kecuali jika ada perubahan mengenai kepentingan militer atau pertahanan dan

keamanan dari negara yang bersangkutan.

2) Zona larangan terbang yang dinyatakan untuk seluruh atau sebagian udara

nasional negara kolong tertutup sama sekali bagi pesawat asing, karena

keadaan darurat. Zona dengan bentuk penutupan wilayah udara hanya akan

dilakukan sampai situasi dan kondisi pulih kembali.

Dari kedua bentuk zona larangan terbang yang diatur di dalam Pasal 3 Konvensi

Paris 1919 tersebut, pembentukan zona larangan terbang harus memenuhi

persyaratan secara internasional.

Persyaratan untuk zona larangan terbang bentuk 1) adalah bahwa larangan

terhadap pesawat sipil asing juga berlaku bagi pesawat negara awak. Pada syarat

ditetakan bersifat permanen dan bertujuan untuk melindungi pertahanan dan

keamanan negara yang bersangkutan. Persyaratan lain dari zona bentuk pertama

ini adalah bahwa pengumuman mengenai penetapan zona harus dilakukan lebih

dahulu untuk diketahui oleh negara-negara yang berkepentingan. Hal ini juga

termasuk ketetapan mengenai luas dan letak zona larangan tersebut.

Persyaratan untuk zona larangan terbang bentu 2) yang menetapkan

penutupan seluruh atau sebagian wilayah negara kolong, disyaratkan bahwa

penutupan harus berlaku dengan setara dan benar-benar bersifat sementara dan

berlaku untuk semua pesawat asing dengan prinsip tidak ada perbedaan.

Penetapan syarat pada zona bentuk kedua ini juga diwajibkan untuk

memberitahukan kepada semua negara peserta atau anggota Konvensi atau

Komisi Internasional untuk Navigasi Udara.

Ketentuan mengenai kedua persyaratan itu yang mewajibkan seluruh

pesawat sipil asing maupun pesawat sipil nasional negara awak dilarang melintasi

zona larangan terbang yang telah ditetapkan, dirubah menjadi ketentuan bahwa

pesawat sipil nasional negara kolong diizinkan terbang di zona larangan tersebut.

Hal ini diatur dalam Protokol Paris 1929 sebagai perbaikan dari Konvensi Paris

1919. Pada pasal 4 Konvensi Paris 1919 ini mewajibkan agar setiap pesawat yang

menyadari telah melanggar zona larangan terbang yang telah ditetapkan, harus

segera memberitahukan kepada pangkalan udara negara kolong bahwa ia berada

dalam kesulitan dan terpaksa harus mendarat di lapangan terdekat di luar zona

Seiring dengan kemajuan teknologi penerbangan dan semakin banyaknya

negara-negara maju yang menyatakan kawasan ruang udaranya sebagai zona

udara terlarang, maka peraturan yang ditetapkan melalui Konvensi Paris 1919 dan

Protokol Paris 1929 tidaklah dapat menampung semua kondisi di atas. Maka

Konvensi Paris 1919 dan Protokol Paris 1929 yang mempunyai kekuatan hukum

sebagai kaidah Hukum Internasional digantikan oleh Konvensi Chicago 1944,

yaitu Konvensi mengenai Penerbangan sipil internasional. Kenyataan ini ditandai

sebagai akibat dari perubahan dan perkembangan teknologi penerbangan

internasional sekitar Perang Dunia Kedua baik penerbangan sipil maupun

penerbangan militer. Meskipun beberapa prinsip telah tetap berlaku tetapi bnayak

terdapat perubahan dan penciptaan kaidah hukum udara, yang baru sesuai dengan

tuntutan dunia penerbangan internasional di akhir Perang Dunia Kedua.

Pasal 9 Konvensi Chicago 1944 yang mnegatur tentang area terlarang,

merupakan modifikasi dari Protokol Paris 1929. Prinsip tidak ada perbedaan pada

Konvensi Chicago 1944 diteguhkan kembali dan ada keistimewaan bagi pesawat

terbang sipil negara awak yang diterima pada Protokol Paris 1929 kini ditegakkan

kembali. Jadi, Konvensi Chicago kembali mutlak menetapkan bahwa tidak ada

perbedaan lagi pesawat mana yang boleh memasuki kawasan zona larangan

terbang.

Pada perkembangan selanjutnya mengenai penetapan zona larangan

terbang yang diatur dalam Konvensi Chicago adalah bahwa justeru negara

awaklah yang memerintahkan kepada pesawat yang melanggar zona untuk

Konvensi Paris 1919 di mana ditentukan bahwa pesawat yang melanggar zona

larangan diwajibkan untuk segera mendarat di lapangan udara terdekat di luar

zona, setelah pelaku pelanggaran zona melapor kepada pejabat penerbangan

negara kolong. Ketentuan yang menetapkan bahwa negara awak yang

memerintahkan pelaku pelanggaran zona larangan untuk mendarat dan diperiksa,

sangat memungkinkan mengingat kondisi semacam ini sebagai akibat dari

perkembangan teknologi penerbangan, termasuk peralatan pendeteksi yang

dimiliki negara yang menetapkan zona laragan terbang tersebut.

Dokumen terkait