• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Restorative Justice

1. Pengertian Dan Konsep Restorative Justice

Istilah Restoratif sendiri, pertama kali popular di amerika serikat pada tahun 1977 sebagai mekanisme penyelesaian perkara pidana berbasis mediasi antara pelaku dengan korban.133 Program ini awalnya didesain menjadi tindakan alternatif

133 Tony F. Marshall, Restorative Justice an Overview: A Report by The Home Office Research Development and Statistics Directorate, London: Information & Publication Grub, Research Development and Statistics Directorate, 1999, hlm. 5.

51 dalam menghukum pelaku anak-anak dimana, pelaku dan korban dipertemukan untuk menyusun usulan hukum yang nantinya menjadi pertimbangan Hakim dalam memutus.134

Secara umum Restorative Justice adalah konsep pemidanaan yang tidak terbatas pada ketentuan hukum pidana (formal dan materil).135 Karakteristik menonjol Restorative Justice ialah adanya penggunaan prinsip “Just Peace Principles” sebagai penerapan konsep pemulihan kerusakan oleh pelaku terhadap korban yang mengalami kerugian dampak kejahatan.136 Untuk dapat memahami soal pengertian ‘Restorative Justice’ secara lebih objektif maka, ayo mengkaji pengertian ‘Restoratif Justice’ menurut pendapat para sarjana antara:

Howard zehr

“Restorative justice” is process to involve, to the extent possible, those who have a stake in a specific offense and to collectively identify and address harms, needs, and obligation in order to heal and put things as right as possible. (Keadilan restoratif adalah proses untuk melibatkan dengan menggunakan segala kemungkinan, seluruh pihak terkait dan pelanggaran dan untuk mengidentifikasi serta menjelaskan ancaman, kebutuhan, dan kewajiban dalam rangka menyembuhkan serta menempatkan hal tersebut sedapat mungkin sesuai tempatnya)”.137

Tony Marshall “

134 Lidya Rahmadani Hasibuan dkk, Restorative Justice Sebagai Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Berdasarkan Uu No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, USU Law Journal, Vol.3, No.3 (November 2015), Universitas Sumatera Utara, Medan, hlm. 66.

135 Prima Anggara dan Mukhlis, Penerapan Keadilan Restoratif Pada Tindak Pidana Pencurian Ringan, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana: Vol.3, No.3 Agustus 2019, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, hlm. 471.

136 Sefriani, Urgensi Rekonseptualisasi dan Legislasi Keadilan Restoratif di Indonesia, Jurnal Rechtsvinding Volume 2. Nomor 2, Agustus. 2013, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, hlm. 279

137 M.Taufik Makarao, Pengkajian Hukum Tentang Penerapan Restorative Justice Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak-Anak, Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan Ham RI, Jakarta, 2013, hlm. 28

52 “Restorative justice is a process whereby all the parties with a stake in a particular offense come together to resolve collectively how to deal with the offermath of the offense and its implications for the future. (Keadilan restoratif adalah proses dimana semua pihak yang terlibat dalam suatu pelanggaran tertentu datang bersama-sama untuk menyelesaikan secara kolektif bagaimana menghadapi akibat dari pelanggaran dan implikasinya untuk masa depan)”.138

Muladi:

“Keadilan restoratif merupakan suatu pendekatan terhadap keadilan atas dasar falsafah dan nilai-nilai tanggungjawab, keterbukaan, kepercayaan, harapan, penyembuhan, dan “Inclusivenes” dan berdampak terhadap pengambilan keputusan kebijakan sistem peradilan pidana dan praktisi hukum di seluruh dunia dan menjanjikan hal positif ke depan berupa sistem keadilan untuk mengatasi konflik akibat kejahatan dan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan serta keadilan restoratif dapat terlaksana apabila fokus perhatian diarahkan pada kerugian akibat tindak pidana, keprihatinan yang sama dan komitmen untuk melibatkan pelaku dan korban, mendorong pelaku untuk bertanggungjawab, kesempatan untuk dialog antara pelaku dan korban, melibatkan masyarakat terdampak kejahatan dalam proses retroaktif, mendorong kerjasama dan reintegrasi”.139

Berdasarkan pandangan-pandangan mengenai definisi dari Restorative Justice yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas maka, dapat kita sepakati bahwa, “Konsep keadilan restoratif atau keadilan pemulihan (restorative justice) merupakan suatu model pendekatan baru dalam upaya penyelesaian perkara pidana yang mentitik beratkan pada adanya partisipasi langsung dari pelaku, korban dan masyarakat dalam proses penyelesaian perkara pidana”.140

138 Ibid, hlm. 29.

139 Ibid, hlm. 30.

140 Eva Achjani, Restorative Justice, http://evacentre.blogspot.com/2009/11/restorative-justice.html, diakses: 30 November 2021.

53 2. Variasi Model Restoratif Justice

Penerapan prinsiip-prinsip dan nilai-nilai yang terkandung dalam pendekatan restorative justice memiliki aneka macam mekanisme penyelesaian di beberapa negara yaitu:141

a. Victim-Offender Mediation (Mediasi Penal)

Model ini dilaksanakan pertama kali sekitar Tahun 1970 di Amerika bagian Utara dan Eropa seperti Norwegia dan Finlandia. Di dalam model ini, penerapan pendekatan restorative justice dilakukan dengan cara membentuk suatu forum yang mendorong pertemuan antara korban dan pelaku serta pihak ketiga yang bertindak sebagai mediator yang netral dan imparsial”.142

b. Restorative Conference (Conferencing)

Restorative Conference atau Conferencing merupakan model penyelesaian perkara pidana dengan menggunakan sistem Conferencing, di mana penyelesaian perkara tidak hanya melibatkan pelaku dan korban langsung (primary victim), tetapi juga melibatkan korban tidak langsung (secondary victim), seperti: keluarga, kawan dekat korban serta kerabat dari pelaku”.143 c. Family and Community Group Conferences

Model Family and Community Group Conferences telah dikembangkan di Australia dan Selandia Baru untuk tidak pidana yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku. Model ini tidak hanya melibatkan korban dan pelaku tindak pidana, tetapi juga keluarga pelaku dan korban serta warga masyarakat lainnya, pejabat tertentu (seperti: polisi, jaksa dan hakim anak) dan para pendukung korban”.144

d. Informal Mediation: Model Informal Mediation

Model ini, pada umumnya dilakukan oleh jaksa dengan mengundang para pihak untuk melakukan penyelesaian informal dengan tujuan tidak melanjutkan penuntutan apabila tercapai kesepakatan. Model Informal Mediation sudah biasa dilakukan dalam seluruh sistem hukum, dan sering kali adanya perdamaian di antara para pihak dapat dijadikan sebagai alasan gugurnya hak mengajukan penuntutan”.145

141 Bambang Waluyo, Op.Cit., hlm. 168.

142 Barda Nawawi Arief, Mediasi penal (Penyelesaian perkara pidana diluar pengadilan), Semarang: Pustaka Magister, 2012, hlm. 5.

143 I Made Agus Mahendra Iswara, Mediasi Penal Penerapan Nilai-Nilai Restoratif Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Adat Di Bali, Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta, 2013, hlm. 46.

144 Barda Nawawi Arief, Mediasi penal (Penyelesaian perkara pidana diluar pengadilan), 2012, Op.Cit., hlm. 10.

145 Ibid, hlm. 6.

54 e. Reparatiom Negotiatiom Programmes

Model Reparation Negotiation Programmes digunakan semata-mata unruk menaksir/menilai kompensasi atau perbaikan yang harus dibayar oleh pelaku tindak pidana kepada korban kejahatan. Dalam model ini, pelaku tìndak pidana dapat dikenakan program kerja agar dapat menyimpan uang yang nantinya akan digunakan untuk membayar ganti rugi atau kompensasi.,146

f. Traditional village or Tribal Moots:

Model ini lebih memilih keuntungan bagi masyarakat luas, sedangkan model informal mediation bertujuan menghalangi sengketa untuk kepentingan pelaku dan korban sehingga yang diundang oleh jaksa atau mediator lainnya adalah pihak korban dan pelaku saja, tanpa melibatkan seluruh masyarakat”.147

Dokumen terkait