D. Penghentian Penuntutan
1. Pengesampingan Perkara Demi Kepentingan Umum
Sebagaimana telah disinggung di anak sub-bab sebelumnya bahwa, Jaksa Agung mempunyai kewenangan untuk tidak menuntut tanpa syarat seseorang yang telah melakukan tindak pidana.94 Hal ini juga menandakan pelaksanaan asas oportunitas hanya dapat dipakai oleh Jaksa Agung, sehingga berhak mengintervensi proses hukum pada tahapan penuntutan perkara pidana.95 Pengesampingan perkara demi Kepentingan Umum termasuk hak prerogatif Jaksa Agung menjalankan wewenangnya sebagaimana telah diatur pasal 35C Undang Nomor. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia.96
Penguatan eksistensi pengesampingan perkara demi kepentingan umum sebagai wewenang Jaksa Agung juga dapat kita jumpai didalam pasal 77 KUHAP menyatakan: “Yang dimaksud dengan penghentian penuntutan tidak termasuk penyampingan perkara demi kepentingan umum yang menjadi kewenangan Jaksa
93 Alfitra, Op.Cit., hlm. 100.
94 Muhamad Yodi Nugraha, Op.Cit., hlm. 219.
95 Kiki Astuti Wulandary Sutin, Kewenangan Jaksa Agung Dalam Mengesampingkan Perkara Demi Kepentingan Umum, Kalabirang Law Journal, Vol .3, Nomor: 1, April 2021, Universitas Ahmad Cendekia Indonesia, Talakar, hlm. 21.
96 Aldian Dwi Juliansyah, Implementasi Mengesampingkan Perkara Atau Deponering Demi Kepentingan Umum Oleh Jaksa Agung Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Skripsi, Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2020, hlm. 42.
41 Agung.”.97 Jelaslah disini bahwa KUHAP pun masih mengakui eksistensi asas oportunitas.98 Pasal 77 KUHAP diatas, juga menyinggung bahwa, pengesampingan perkara bukan termasuk lingkup Praperadilan mengingat,99 ketentuan pasal 1 nomor 10 KUHAP dijelaskan bahwa: “Lingkup praperadilan dalam konteks penuntutan hanya berfokus dalam memeriksa dan memutus penghentian penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum”.100
Selanjutnya pasti kita semua bertanya-tanya soal kenapa hanya jaksa agung saja yang boleh mengesampingkan perkara ?. berdasarkan pendapat penulis, maksud undang-undang membekali kewenangan pengesampingan perkara hanya kepada Jaksa Agung adalah:
a. Kejaksaan merupakan bagian dari Lembaga eksekutif
Secara struktural kedudukan Kejaksaan memang berada di bawah eksekutif sebagai akibatnya, Kejaksaan bekerja melaksanakan kekuasaan negara pada bidang penuntutan harus sejalan dengan politik hukum yang pemerintah.101
97 M. Yahya Harahap S.H, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Op.Cit., hlm.470.
98 Alfitra, Op.Cit., hlm. 92.
99 Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Hakim Putuskan Tidak Menerima Praperadilan Deponering Abraham Samad dan Budi Gunawan, http://kejari-
jakbar.go.id/index.php/arsip/berita/item/206-hakim-putuskan-tidak-terima-praperadilan-deponering-as-dan-bw, access: 30 November 2021
100 Pengadilan Negeri Banyuwangi, Konsep dan Ruang Lingkup Praperadilan Berdasarkan
ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana,https://pnbanyuwangi.go.id/praperadilan#:~:text=Pra%20peradilan%20adalah%20wewena ng%20Pengadilan%20Negeri%20untuk%20memeriksa%20dan%20memutus%3A&text=Perminta an%20ganti%20rugi%20atau%20rehabilitasi,perkaranya%20tidak%20diajukan%20ke%20pengadi lan, access: 30 November 2021.
101 Dio Ashar Wicaksana, Kedudukan Kejaksaan RI dalam Sistem Hukum Tata Negara Indonesia, Jurnal Fiat Justicia Vol. 1. Nomor. 1. 2013, Universitas Indonesia, Depok, hlm. 6.
42 Buktinya adalah berdasarkaan ketentuan Pasal 19 ayat (20) jo Pasal 22 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang kejaksaan bahwa: “Seorang jaksa Agung diangkat dan diberhentikan serta bertanggungjawab langsung kepada Presiden”.102 Meskipun jika kita melihat kembali ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU No. 16 Tahun 2004 yang menegaskan bahwa: “Kejaksaan dalam melakukan penuntutan harus dilaksanakan secara merdeka”.103 Arti merdeka disini hanya bersifat fungsional maksudnya, Kejaksaan merupakan bagian dari eksekutif secara kelembagaan, sementara dari sisi kewenangan dalam melaksanakan kekuasaan negara di bidang yudikatif harus independent (merdeka);104
b. Sebagai upaya untuk menghindarkan tidak timbulnya penyalagunaan kekuasaan dalam hal pelaksanaan asas oportunitas.
Untuk menghindarkan tidak timbulnya penyalagunaan kekuasaan, hanya seorang Jaksa Agung lah yang diberikan dan dapat mengesampingkan perkara selaku Penuntut Umum Tertinggi sebab,105 pengesampingan perkara
‘Deponering’ hanya boleh digunakan untuk memperjuangkan kepentingan umum yang termasuk kepentingan bangsa dan negara dan kepentingan
102Kejaksaan Republik Indinesia, Tentang Jaksa Agung Republik Indonesia, https://www.kejaksaan.go.id/unit_kejaksaan.php?idu=1, access: 30 November 2021.
103 Pasal 19 ayat (20) jo Pasal 22 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang kejaksaan
104 Marwan Effendy, Op.Cit., hlm. 31.
105 Djoko Prakoso, Tugas Dan Peranan Jaksa Dalam Pembangunan, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983, hlm 40.
43 masyarakat luas terlindungi secara adil.106 Menurut Andi Hamzah: “Sebab Jaksa Agung yang diberikan power deponering karena Jaksa Agung diangkat, diberhentikan dan bertanggungjawab langsung kepada presiden, dan presiden juga akan mempertanggungjawabkan kinerjanya selama 5 tahun kepada rakyat”.107
Pemaparan diatas bisa kita tarik makna bahwa, dari sudut kedudukan ketatanegaraan Kejaksaan memang benar berada pada posisi kelembagaan eksekutif tetapi, soal menjalankan tugas penuntutan kejaksaan harus bebas intervensi pihak manapun bahkan pemerintah sekalipun.108 Selanjutntya, tujuan adanya penyampingan perkara yang menjadi wewenang jaksa agung ialah kepentingan umum yaitu kepentingan negara dan masyarakat sebagaimana dikonsepkan pembukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.109 Sementara itu, jika melihat dari sudut pandang doktrin maka, kepentingan umum diartikan:
Andi Hamzah:
“Kepentingan umum diartikan sebagai kepentingan negara dan kepentingan masyarakat yang harus dilindungi dalam hubungannya dengan pelaksanaan asas oportunitas yaitu:
a. Apabila tindak pidana itu menimbulkan kerugian bagi negara dan tidak terhadap kepentingan masyarakat, sedangkan kerugian dari akibat tersebut dirasakan tidak mempengaruhi jalanya pemerintahannya, maka dapat perkara itu dikesampingkan;
106 Intan Sangiang Permatasari Malagani, Alasan Untuk Kepentingan Umum Pemberhentian Suatu Perkara, Jurnal Lex Crimen Vol.II. No.1.2013, Universitas Sam Ratulangi, Manado, hlm. 163.
107 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia. Op.Cit., hlm. 20.
108 Marwan Effendy, Loc.Cit.
109 M. Herja, Pengaturan Penyampingan Perkara Pidana Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia, Tesis,Universitas Brawijaya, Malang, 2013, hlm. 13.
44 b. Apabila tindak tindak pidana tersebut tidak merugikan bagi kepentingan penyelenggara negara namun berakibat terganggunya kehidupan masyarakat atau timbulnya ketidakadilan dalam masyarakat, maka perkara tersebut tidak dapat dikesampingkan”.110
Sudikno:
“Kepentingan umum adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi dan pada hakekatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam melaksanakannya”.111 Prof. J.M.Van Bemmelen:
“Terdapat tiga alasan untuk dapat tidak melakukan penuntutan demi kepentingan umum, yaitu:
a. Demi Kepentingan Negara (Straatsbelang)
Kepentingan negara tidak menghendaki suatu penuntutan jika terdapat kemungkinan bahwa aspek-aspek tertentu dari suatu perkara akan memperoleh tekanan yang tidak seimbang;
b. Demi kepentingan masyarakat (maatschapelijk belang)
Tidak dituntutnya perbuatan pidana karena secara sosial tidak dapat dipertanggung jawabkan. Termaksud dalam kategori ini tidak menuntut atas dasar pemikiran-pemikiran yang telah atau sedang berubah dalam masyarakat;
c. Demi kepentingan pribadi (particular belang)
Termasuk didalam kategori-kategori bila kepentingan pribadi menghendaki tidak dilakukannya penuntutan ialah dalam persoalan-persoalan hanya perkara kecil, dan atau yang jika yang melakukan tindak pidana telah membayar kerugian dan dalam keadaan ini masyarakat tidak mempunyai cukup kepentingan dengan penuntutan atau penghukuman”.112